Risalah Nur — Bahasa Indonesia

REŞHALAR (TETESAN-TETESAN)

Mesnevî Cahaya · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

REŞHALAR (TETESAN-TETESAN)

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ

Peringatan

Dalil-dalil serta hujah-hujah yang memperkenalkan dan mengumumkan Sang Khâliq alam kepada kita tidak dapat dihitung serta tidak terbilang. Yang terbesar dari dalil-dalil itu ada tiga:

Pertama:

Kitab besar kainat ini, yang sebagian ayatnya telah engkau lihat dan dengar.

Kedua:

Muhammad ﷺ, ayat terbesar kitab ini, meterai kumpulan kenabian, dan kunci khazanah-khazanah tersembunyi.

Ketiga:

Al-Qur'an, tafsir kitab alam dan hujah Allah سُبْحَانَهُ terhadap makhluk.

Kini, setelah memperkenalkan hujah kedua melalui beberapa tetesan, kita akan mendengarkan perkataannya.

TETESAN PERTAMA

Saudaraku! Sebagai jawaban atas pertanyaan, ‘Siapakah Muhammad ﷺ, yang memperkenalkan Khâliq kita, memiliki pribadi maknawi yang amat besar, dan kita sebut hujah yang berbicara?’, kami berkata:

Muhammad ﷺ ialah pribadi yang, karena kebesaran maknawinya, permukaan bumi menjadi Masjid Al-Aqsa baginya. Makkah Al-Mukarramah merupakan mihrabnya, dan Madinah Al-Munawwarah merupakan mimbar keutamaan serta kesempurnaannya.

Beliau ialah imam terakhir dan paling luhur bagi jemaah orang beriman, serta khatib terkenal umat manusia; beliau menjelaskan kaidah-kaidah kebahagiaan. Beliau ialah pemimpin seluruh nabi; beliau menyatakan mereka suci dan membenarkan mereka. Sebab, agamanya mencakup dasar-dasar seluruh agama. Beliau juga kepala seluruh wali. Dengan matahari kerasulannya, beliau mendidik serta menerangi mereka.

Pribadi itu ﷺ merupakan poros dan titik pusat sedemikian rupa, sehingga seluruh nabi serta orang pilihan, orang baik serta orang yang benar, yang berada dalam lingkaran zikirnya, sepakat atas perkataannya dan berbicara melalui perkataan yang beliau ucapkan. Beliau merupakan pohon bercahaya sedemikian rupa, sehingga urat serta akarnya ialah dasar-dasar samawi para nabi. Cabang serta rantingnya ialah makrifat para wali melalui ilham.

Dari segi ini, pernyataan apa pun yang beliau sampaikan, seluruh nabi bersaksi atasnya dengan bersandar kepada mukjizat mereka, dan seluruh wali dengan bersandar kepada karamah mereka. Ya, terdapat cap serta meterai seluruh orang yang sempurna yang menyatakan bahwa mereka membenarkan seluruh pernyataannya.

Di antaranya:

Salah satu pernyataan pribadi itu ﷺ ialah ‘Tauhid’. Kalimat yang diberkahi

لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ

menyatakan serta mengungkapkan pernyataan ini. Seluruh manusia masa lalu dan masa depan yang masuk dalam lingkaran agama serta zikir beliau menjadikan kalimat suci itu rukun iman dan wirid lisan. Berarti, mereka telah memperoleh keyakinan, ketenteraman, serta pengakuan yang yakin bahwa pernyataan itu haq dan hakikat, sehingga kalimat yang diberkahi itu berputar serta beredar secara samawi seperti para Mevlevi, meliputi waktu dan tempat, pada lisan manusia yang kecenderungan, jalan, serta tradisinya berbeda-beda dan berlainan.

Maka, tidak ada sangkaan yang berhak mengulurkan tangan keberatan terhadap suatu pernyataan yang haq serta benarnya telah terbukti melalui pembenaran saksi-saksi tak terbatas!

TETESAN KEDUA

Saudaraku! Hujah bercahaya yang membuktikan tauhid serta membimbing umat manusia itu dilengkapi kenabian dan kewalian, yang satu di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri, yang satu mutawatir (diriwayatkan oleh banyak orang) dan yang lain disepakati. Pada saat yang sama, ia dibenarkan melalui isyarat keadaan-keadaan luar biasa yang muncul dari dirinya sebelum kenabian, yang disebut irhasat; melalui kabar-kabar gembira kitab-kitab samawi; serta melalui banyak kabar gembira yang disebut hewatif—yang diberikan dari alam gaib.

Selain itu, beliau ﷺ merupakan pribadi yang dibenarkan melalui dalil serta kesaksian mukjizat-mukjizat yang muncul dari hujah bercahaya itu, seperti terbelahnya bulan, air yang memancar dari jari-jarinya, pohon-pohon yang memenuhi panggilannya, turunnya hujan sesudah doanya, banyak orang yang makan serta kenyang dari makanan yang sangat sedikit, dan berbicaranya serigala, kijang, unta, batu, serta lainnya.

Selain itu, syariatnya, yang menjamin serta mencukupi kebahagiaan dunia dan akhirat, cukup untuk membenarkan serta membuktikan kenabiannya. Pada pelajaran-pelajaran terdahulu, kita telah melihat beberapa sinar dari matahari syariatnya. Pengulangan yang memperpanjang pembicaraan tidak diperlukan.

TETESAN KETIGA

Saudaraku! Sebagaimana pribadi itu ﷺ dibenarkan melalui dalil-dalil di luar diri yang disebut dalil afaki, beliau juga dibenarkan melalui dalil-dalil serta tanda-tanda yang tetap ada dalam diri serta jiwanya, yang disebut dalil anfusi. Sebab, pribadi itu seperti matahari; beliau memperlihatkan dirinya dengan menerangi dirinya melalui dirinya sendiri.

Misalnya, seluruh alam bersaksi bahwa tingkatan tertinggi seluruh akhlak terpuji terkumpul pada pribadi itu.

Selain itu, terdapat kesepakatan bahwa beliau memiliki pribadi maknawi yang menghimpun sifat-sifat serta watak paling bersih dan budi pekerti paling luhur.

Selain itu, beliau dibenarkan melalui kekuatan iman yang dimilikinya, dengan kesaksian zuhud, takwa, serta ubudiyahnya yang berada pada tingkat tertinggi.

Selain itu, menurut kesaksian riwayat hidup Nabi ﷺ, tingkat kepercayaannya, kesungguhan serta keteguhannya yang sempurna, dan keyakinannya yang kuat dalam seluruh pekerjaan serta geraknya merupakan dalil-dalil pasti yang membenarkan bahwa beliau berpegang kepada haq dan menempuh hakikat. Ya, hijaunya daun, segar serta indahnya bunga, dan segarnya buah merupakan saksi yang benar bahwa pohon itu hidup, memiliki kehidupan, dan bernyawa.

TETESAN KEEMPAT

Saudaraku! Panjangnya rentang waktu dan jauhnya jarak tempat amat memengaruhi pertimbangan akal. Namun, dengan mengikuti kaidah

ﻟَﻴْﺲَ ﺍﻟْﺨَﺒَﺮُ ﻛَﺎﻟْﻌَﻴَﺎﻥِ,

marilah kita keluar dari bayangan zaman serta lingkungan ini, melipat waktu dan tempat dalam khayal, lalu pergi ke Jazirah Arab. Kita harus melihat sendiri pribadi luhur itu, yang telah naik ke mimbar kebahagiaannya yang tinggi serta bercahaya di Madinah al-Munawwarah, membimbing umat manusia, dan mendengarkan perkataannya.

Kini kita telah pergi ke sana dalam khayal. Lihatlah, Pembimbing bagi Semua, Khatib Suci itu, yang memadukan rupa indah dengan budi pekerti indah secara luar biasa, memegang kitab yang penuh permata dan memiliki ungkapan mukjizat, lalu membacakan kepada seluruh manusia suatu khotbah azali yang turun dari Majelis Tertinggi. Beliau membuat seluruh anak Adam, jin, dan segala yang ada mendengarkannya.

Ya, beliau memberitakan suatu perkara yang amat besar. Beliau membuka teka-teki menakjubkan tentang penciptaan alam. Beliau menyingkap rahasia tersembunyi tentang Hikmah kainat. Beliau menjawab tiga pertanyaan yang diajukan filsafat serta ilmu hikmah kepada umat manusia, yang membuat akal tak berdaya dan terpana: ‘Siapakah kalian? Dari mana kalian datang? Ke mana kalian pergi?’

TETESAN KELIMA

Saudaraku! Lihatlah, pribadi bercahaya itu ﷺ, pembimbing dalam iman, Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, dengan cahaya hakikat serta sinar haq yang disebarkannya, telah mengubah malam umat manusia menjadi siang, musim dinginnya menjadi musim semi. Melalui perubahan besar yang dilakukannya di alam, beliau mengubah rupa alam dan menjadikannya bercahaya.

Ya, jika kainat tidak dipandang melalui kacamata bercahaya pribadi itu, kainat akan tampak berada dalam perkabungan menyeluruh. Segala yang ada akan berada dalam keadaan asing serta bermusuhan satu sama lain. Benda-benda tak bernyawa akan memperlihatkan rupa jenazah. Hewan serta manusia, seperti anak-anak yatim, akan meratap ketakutan menghadapi sirna dan perpisahan. Kainat, dengan gerak, ragam, perubahan, serta ukirannya, akan dipandang sebagai mainan yang bergantung pada kebetulan. Terutama manusia akan menjadi lebih rendah daripada hewan, hina dan tak berharga.

Demikianlah, jika kainat tidak dipandang dengan pandangan iman yang diajarkan pribadi itu, kainat akan tampak dalam rupa mengerikan serta gelap seperti ini. Namun, jika dipandang melalui mata pembimbing sempurna itu dan kacamata iman, segala penjuru akan menampakkan wajah yang bercahaya, terang, hidup, bernyawa, menyenangkan, dan dicintai.

Ya, melalui cahaya iman, kainat berubah dari tempat perkabungan menyeluruh menjadi masjid zikir serta syukur. Segala yang ada, yang dianggap saling bermusuhan, menjadi sahabat serta saudara satu sama lain. Benda-benda tak bernyawa, yang memperlihatkan rupa jenazah serta orang mati, berubah menjadi makhluk hidup yang akrab dan petugas yang tunduk, yang mengucapkan tanda-tanda Khâliq mereka melalui bahasa keadaan. Manusia, yang tampak menangis, mengeluh, dan berpakaian seperti anak yatim,

mengenakan sifat orang yang berzikir dalam ibadahnya dan bersyukur kepada Khâliqnya. Gerak, ragam, perubahan, serta ukiran kainat pun terbebas dari kesia-siaan. Semuanya berubah menjadi surat-surat Rabbani, halaman-halaman bagi tanda-tanda penciptaan, serta cermin-cermin bagi Asma Ilahi.

Kesimpulannya:

Melalui cahaya iman, alam berkembang sedemikian tinggi hingga memperoleh nama ‘kitab Hikmah Shamad’. Manusia keluar dari barisan hewan yang hina, miskin, serta tak berdaya. Dengan daya kelemahannya, kekuatan ketidakberdayaannya, wibawa ubudiyahnya, sinar hatinya, serta keagungan iman dalam akalnya, ia naik ke puncak khilafah dan kuasa. Bahkan, lemah, fakir, butuh, serta akal, yang semula menjadi sebab kejatuhannya, menjadi sebab ia naik dan menjulang. Masa lampau, yang tampak berupa kuburan terbesar yang gelap gulita, mulai terlihat terang serta bercahaya melalui sinar para nabi dan wali. Masa depan, yang berupa malam gelap, menjadi terang melalui sinar Al-Qur'an dan berubah menjadi kebun-kebun surga. Karena itu, seandainya pribadi bercahaya itu tiada, kainat, manusia, serta segala sesuatu akan tetap seolah-olah tiada; tidak memiliki nilai dan tidak menyisakan arti penting.

Oleh sebab itu, kainat yang begitu menakjubkan, luar biasa, dan indah ini memerlukan pembimbing istimewa yang memperkenalkan serta menyambut orang untuk mengenalnya. Hadis qudsi

لَوْلَاكَ لَوْلَاكَ ﻟَﻤَﺎ ﺧَﻠَﻘْﺖُ الْاَفْلَاكَ,

yang bermakna ‘Seandainya pribadi ini ﷺ tiada, kainat pun tidak akan ada,’ menerangi hakikat ini.

TETESAN KEENAM

Saudaraku! Pribadi yang membacakan khotbah azali itu merupakan matahari hidup yang menyingkap segala kesempurnaan kainat. Beliau memberitakan serta membawa kabar gembira tentang kebahagiaan abadi. Beliau telah menyingkap Rahmat tak berujung dan mengumumkannya. Beliau menyerukan segala keindahan Kerajaan Rububiyah dan menyingkap perbendaharaan tersembunyi Asma Ilahi.

Ya, dari segi tugasnya, pribadi itu ﷺ merupakan bukti haq, sinar hakikat, matahari hidayah, serta jalan menuju bahagia. Dari segi pribadi serta jati dirinya, beliau merupakan contoh Cinta Ar-Rahmân, lambang Rahmat Rabbani, kemuliaan hakikat manusia, dan buah pohon penciptaan yang paling bernilai, berharga, serta mahal. Agama yang beliau sampaikan pun, dengan kecepatan luar biasa, telah meliputi timur dan barat, dan diterima oleh seperlima umat manusia. Adakah ruang bagi nafsu serta setan untuk berbantah dan menyanggah pernyataan pribadi seperti ini?

TETESAN KETUJUH

Saudaraku! Hanya daya suci yang menggerakkan pribadi itu dan membuatnya melakukan perubahan-perubahan besar itu. Ya, lihatlah terutama perubahan besar serta pekerjaan yang beliau lakukan di Jazirah Arab!

Di padang-padang tandus dan gurun-gurun itu tinggal banyak kaum liar yang sangat fanatik dalam mempertahankan adat, amat keras kepala dalam rasa kesukuan, dan tiada banding dalam kerasnya hati serta tiadanya belas kasih. Bahkan, mereka sama sekali tidak tersentuh ketika mengubur hidup-hidup anak perempuan mereka hingga mati. Dalam waktu singkat, pribadi bercahaya itu menghapus akhlak buruk kaum-kaum tersebut dan menggantinya dengan akhlak terpuji. Bahkan, berkat cahaya iman yang diajarkan pembimbing itu ﷺ, manusia-manusia liar tersebut menjadi guru bagi manusia di alam manusia, dan menjadi pengajar bagi orang-orang beradab di dunia peradaban.

Kuasa pribadi itu ﷺ yang begitu luas serta besar bukan hanya kuasa lahiriah. Beliau memiliki kuasa batin di tempat yang lebih luas serta lebih dalam, yang telah menarik seluruh hati dan akal kepadanya. Beliau menundukkan seluruh ruh serta nafsu, sehingga telah menjadi dan terus menjadi kekasih bagi hati, guru serta penerang bagi akal, pendidik bagi nafsu, dan sultan bagi ruh.

TETESAN KEDELAPAN

Saudaraku! Engkau tahu bahwa menghapus suatu kebiasaan kecil seperti merokok dari orang yang telah kecanduan amatlah sukar. Bahkan, seorang penguasa besar dengan tekad besar menghadapi kesulitan besar saat menghapus suatu tabiat yang telah menjadi kebiasaan pada suatu kaum kecil. Namun, pribadi bercahaya ini, dengan daya yang sedikit dan dalam waktu singkat, menghapus banyak sekali adat dari banyak kaum yang penuh semangat kesukuan serta keras kepala, lalu mengisi tempatnya dengan akhlak dan adat yang luhur serta bersih.

Ya, keadaan Hazret-i Ömer İbnü'l-Hattab radıyallahu teâlâ anh sebelum dan sesudah Islam merupakan contoh yang baik bagi perkara ini. Seperti itu, terdapat ribuan hal luar biasa dalam pekerjaan-pekerjaan pokok beliau. Kita menyebut pekerjaan pribadi itu pada masa tersebut luar biasa. Seandainya ratusan filsuf zaman ini pergi pada masa itu ke jazirah yang dipenuhi kaum liar tersebut, lalu bekerja amat lama untuk memperbaiki mereka, mungkinkah dalam lima puluh tahun mereka berhasil sebesar yang berhasil dilakukan pembimbing itu dalam satu tahun? Hâşâ!

TETESAN KESEMBILAN

Saudaraku! Orang yang berakal sehat tidak dapat berdusta dalam perkara yang diperdebatkan, sebab ia takut dustanya kemudian terbongkar dan membuatnya malu. Demikian pula, apabila seseorang berdusta, ia tidak dapat mengatakannya dengan sikap tak peduli serta sembarangan. Ia pun tidak dapat mulai berbicara secara bebas dan penuh semangat, sekalipun mengenai perkara biasa, di tengah kelompok kecil, sebagai orang kecil yang memegang tugas kecil.

Mungkinkah seseorang yang memegang tugas besar, dalam perkara amat besar, yang memiliki kehormatan serta martabat amat tinggi, di tengah kelompok amat besar dan di hadapan musuh-musuh yang sangat keras, berdusta serta berbicara bertentangan dengan hakikat dalam pernyataan yang diajukannya?

Pribadi bercahaya itu membacakan khotbah azali tersebut dengan cara yang tidak mengandung keraguan ataupun rasa malu, rasa takut ataupun kegelisahan. Dengan hati tulus serta jernih dan kesungguhan murni, beliau menyentuh urat kepekaan musuh-musuhnya dengan mencela akal mereka, merendahkan nafsu mereka, serta mematahkan kebanggaan mereka. Dalam pernyataan seperti ini, pada kedudukan seperti ini, mungkinkah tipu daya seberat zarah dari pribadi seperti ini mencampuri perkara tersebut? Hâşâ

ﺍِﻥْ ﻫُﻮَ اِلَّا ﻭَﺣْﻰٌ ﻳُﻮﺣٰﻰ

Ya, haq tidak membutuhkan tipu daya. Dalam menyatakan haq, tidak ada kemungkinan menipu serta memperdaya. Pandangan yang melihat hakikat tidak memperdaya orang, tidak menyatakan sesuatu yang bertentangan dengan hakikat, dan membedakan khayal dari hakikat; keduanya tidak mungkin tercampur.

TETESAN KESEPULUH

Saudaraku! Pembimbing itu berbicara tentang hakikat-hakikat yang sangat dahsyat untuk memperingatkan umat manusia dengan rasa takut. Untuk membawa kabar gembira kepada manusia, beliau memberitakan perkara-perkara yang menarik hati serta akal.

Wahai kalian! Manusia memiliki hasrat serta rasa ingin tahu yang demikian besar untuk menyingkap hakikat dan hal-hal menakjubkan, sehingga mereka mengorbankan nyawa serta harta demi menyingkap hakikat yang luar biasa. Mengapa mereka tidak memberi arti penting kepada hakikat-hakikat yang disingkap serta diberitakan pribadi ini ﷺ? Padahal, orang-orang yang menyaksikan langsung serta ahli dalam bidangnya, seperti seluruh nabi, wali, dan shiddiqin, sepakat membenarkan pribadi itu, dahulu maupun kini.

Pribadi ini ﷺ berbicara tentang Syuun (urusan dan Kehendak Allah سُبْحَانَهُ) suatu Sultan Yang dalam Kerajaan⁠-⁠Nya bulan seperti seekor lalat. Sebagaimana beliau berbicara tentang keajaiban yang menakjubkan, beliau juga memberitakan ledakan serta perubahan besar yang amat dahsyat. Lihatlah! Perhatikan ayat-ayat seperti

ﺍِﺫَﺍ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲُ ﻛُﻮِّﺭَﺕْ ٭ ﺍِﺫَﺍ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀُ ﺍﻧْﻔَﻄَﺮَﺕْ ٭ ﺍِﺫَﺍ ﺯُﻟْﺰِﻟَﺖِ الْاَرْضُ ﺯِﻟْﺰَﺍﻟَﻬَﺎ

yang beliau baca dalam khotbah azali itu!

Beliau memberitakan masa depan bagi manusia yang dibanding dengannya masa depan dunia hanyalah setetes air. Beliau membawa kabar gembira tentang bahagia yang dibanding dengannya segala bahagia dunia seperti mimpi. Ya, di balik tirai kainat ini terdapat banyak hal menakjubkan yang menunggu kita, dan kita pun menunggunya. Karena itu, untuk melihat hal-hal menakjubkan tersebut dan menceritakan kepada kita bagaimana keadaannya, diperlukan manusia luar biasa yang melihat keajaiban-keajaiban itu, lalu menyampaikannya kepada kita tepat sebagaimana ia melihatnya.

Selain itu, pribadi tersebut berbicara tentang hal-hal yang diminta Khâliq kita dari kita. Beliau memberitakan banyak hakikat serta perkara yang tidak mungkin kita hindari. Ah, mengapa kebanyakan manusia menutup mata terhadap hal-hal yang haq seperti ini dan menyumbat telinga terhadap hakikat?

TETESAN KESEBELAS

Saudaraku! Pribadi bercahaya itu ﷺ, yang membacakan khotbah azali pada mimbar luhur ini, yang kita saksikan melalui pribadi maknawinya, dan yang terkenal di alam melalui urusannya yang luhur, merupakan bukti yang benar serta berbicara tentang Wahdaniyah Ilahi, dalil yang haq bahwa tauhid merupakan hakikat, dan dalil pasti serta bukti nyata bagi terwujudnya kebahagiaan abadi.

Selain itu, sebagaimana pribadi tersebut menjadi sebab terwujudnya kebahagiaan abadi dengan mengajak manusia menuju hidayah, beliau juga menjadi sebab manusia mencapainya.

Selain itu, melalui doa serta ubudiyahnya, pribadi tersebut menjadi perantara bagi wujud dan penciptaan bahagia itu. Ya, lihatlah! Pribadi itu adalah imam bagi umat manusia. Masjidnya bukan hanya Jazirah Arab, melainkan bola bumi. Jamaahnya pun bukan hanya manusia pada masa itu. Bahkan, penduduk setiap abad, sejak masa Adam hingga kiamat, menjadi satu saf, dan saf-saf seluruh abad berada di belakangnya, mengucapkan ‘Âmin’ atas doanya.

Terutama, di tengah jamaah yang agung itu, pribadi tersebut berdoa bagi suatu kebutuhan amat besar yang sangat mendesak dan meliputi seluruh makhluk hidup. Atas doanya, bukan hanya jamaah itu, bahkan bumi, langit, serta segala yang ada mengucapkan ‘Âmin’. Yakni, ‘Yâ Rabbenâ! Kabulkanlah doanya. Kami pun memanjatkan doa itu. Kami pun memohon apa yang ia mohon.’

Terutama dalam salat yang diimaminya di hadapan jamaah agung tersebut, beliau bermunajat serta berdoa dengan tunduk memohon dan merendah, dengan rindu yang demikian besar serta sedih yang demikian dalam, sehingga kainat pun tergerak dan ikut dalam doanya. Ya, beliau bermunajat untuk suatu tujuan yang apabila tidak terwujud, bukan hanya makhluk, bahkan alam pun akan tiada bernilai dan jatuh ke tempat paling rendah. Sebab, melalui hal yang dimohon pribadi tersebut, segala yang ada mencapai kesempurnaan luhur. Dari siapakah pribadi itu memohon hal tersebut? Ya, beliau memohon dari Zat Yang Mendengar dan Mengabulkan doa yang disampaikan dengan bahasa keadaan oleh hewan paling tersembunyi serta paling kecil untuk kebutuhan kecilnya, lalu Memenuhi kebutuhannya.

Selain itu, Dia Melihat harapan paling kecil demi tujuan paling kecil pada makhluk hidup paling rendah, lalu dengan membuatnya mencapai tujuan itu, Dia Memberinya karunia serta belas kasih. Pemeliharaan serta pengaturan yang dilakukan sebagai hasil doa-doa ini berlangsung demikian teratur sehingga tidak menyisakan keraguan bahwa segala pemeliharaan itu hanya berasal dari Samî' dan Basîr, 'Alîm dan Hakîm.

Apakah yang dimohon pribadi itu melalui doa yang dipanjatkannya di mimbar tersebut dengan mengangkat tangan menghadap Arasy, sehingga seluruh makhluk mengucapkan ‘Âmin’?

Ya, pribadi tersebut memohon Rida Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq serta kebahagiaan abadi dengan bertemu dan melihat⁠-⁠Nya di surga. Seandainya tidak terdapat sebab-sebab tak terhitung, seperti Rahmat, Hikmah, serta Keadilan, bagi penciptaan hal-hal yang dimohon ini, satu doa pribadi bercahaya tersebut dan munajatnya dengan tunduk memohon cukup bagi penciptaan serta pemberian surga. Oleh sebab itu, sebagaimana tugas kerasulan pribadi tersebut menjadi sebab didirikannya dunia ini untuk ujian serta ubudiyah, doa yang beliau panjatkan dalam ubudiyahnya menjadi sebab penciptaan negeri akhirat untuk pahala serta hukuman.

Ya, keteraturan luhur, Rahmat luas, seni indah, serta keindahan tanpa cacat ini bertentangan dengan zalim serta buruk. Keduanya tidak mungkin berhimpun.

Ya, mendengar serta menerima suara paling kecil dari orang paling rendah untuk pekerjaan biasa, tetapi tidak mendengar serta menerima suara paling tinggi bagi pekerjaan paling besar, merupakan cela, buruk, serta cacat yang tiada banding. Hal ini mustahil, sebab keindahan yang melekat pada zat akan berubah menjadi buruk yang melekat pada zat. Perubahan hakikat-hakikat menjadi kebalikannya itu mustahil.

TETESAN KEDUA BELAS

Saudaraku! Apa yang telah engkau lihat serta dengar dari khatib pembimbing itu sudah cukup, sebab tidak mungkin meliputi seluruh keadaannya. Maka, marilah kita kembali untuk memperhatikan limpahan yang diterima abad-abad sesudahnya dari pribadi tersebut.

Lihatlah, Saudaraku! Sepanjang abad-abad ini, ribuan bintang terang serta bercahaya seperti Ebu Hanife, Şafiî, Ebu Yezid, Cüneyd-i Bağdadî, Abdülkadir-i Geylanî, İmam-ı Gazalî, Muhyiddin-i Arabî, Ebu Hasen-i Şazelî, Şah-ı Nakşibend, dan İmam-ı Rabbanî (radıyallahu anhüm ecmaîn) memancar dari matahari masa bahagia tersebut dan menerangi alam manusia.

Dengan menunda rincian apa yang kita saksikan hingga waktu lain, marilah kita mengucapkan salawat serta salam kepada pribadi bercahaya pemilik mukjizat itu ﷺ.

ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠٰﻰ ﻫٰﺬَﺍ ﺍﻟﺬَّﺍﺕِ ﺍﻟﻨُّﻮﺭَﺍﻧِﻰِّ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺍُﻧْﺰِﻝَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻌَﺮْﺵِ ﺍﻟْﻌَﻈ۪ﻴﻢِ ﺍَﻋْﻨ۪ﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺍَﻟْﻒُ ﺍَﻟْﻒِ صَلَاةٍ ﻭَ ﺍَﻟْﻒُ ﺍَﻟْﻒِ سَلَامٍ ﺑِﻌَﺪَﺩِ ﺣَﺴَﻨَﺎﺕِ ﺍُﻣَّﺘِﻪ۪ ﻋَﻠٰﻰ ﻣَﻦْ ﺑَﺸَّﺮَ ﺑِﺮِﺳَﺎﻟَﺘِﻪِ ﺍﻟﺘَّﻮْﺭٰﻳﺔُ ﻭَ الْاِنْج۪يلُ ﻭَ ﺍﻟﺰَّﺑُﻮﺭُ ﻭَ ﺑَﺸَّﺮَ ﺑِﻨُﺒُﻮَّﺗِﻪِ الْاِرْهَاصَاتُ ﻭَ ﻫَﻮَﺍﺗِﻒُ ﺍﻟْﺠِﻦِّ ﻭَ ﺍَﻭْﻟِﻴَﺎﺀُ الْاِنْسِ ﻭَ ﻛَﻮَﺍﻫِﻦُ ﺍﻟْﺒَﺸَﺮِ ﻭَﺍﻧْﺸَﻖَّ ﺑِﺎِﺷَﺎﺭَﺗِﻪِ ﺍﻟْﻘَﻤَﺮُ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻭَ مَوْلَانَا ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺍَﻟْﻒُ ﺍَﻟْﻒِ صَلَاةٍ ﻭَ ﺍَﻟْﻒُ ﺍﻟْﻒِ سَلَامٍ ﺑِﻌَﺪَﺩِ ﺍَﻧْﻔَﺎﺱِ ﺍُﻣَّﺘِﻪ۪ ﻋَﻠٰﻰ ﻣَﻦْ ﺟَﺎﺋَﺖْ ﻟِﺪَﻋْﻮَﺗِﻪِ ﺍﻟﺸَّﺠَﺮُ ﻭَ ﻧَﺰَﻝَ ﺳُﺮْﻋَﺔً ﺑِﺪُﻋَﺎﺋِﻪِ ﺍﻟْﻤَﻄَﺮُ ﻭَ ﺍَﻇَﻠَّﺘْﻪُ ﺍﻟْﻐَﻤَﺎﻣَﺔُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺤَﺮِّ ﻭَ ﺷَﺒِﻊَ ﻣِﻦْ ﺻَﺎﻉٍ ﻣِﻦْ ﻃَﻌَﺎﻣِﻪ۪ ﻣِﺌَﺎﺕٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺒَﺸَﺮِ ﻭَ ﻧَﺒَﻊَ ﺍﻟْﻤَﺎﺀُ ﻣِﻦْ ﺑَﻴْﻦِ ﺍَﺻَﺎﺑِﻌِﻪ۪ ثَلَاثَ ﻣَﺮَّﺍﺕٍ ﻛَﺎﻟْﻜَﻮْﺛَﺮِ ﻭَ ﺳَﺒَّﺢَ ﻓ۪ﻰ ﻛَﻔَّﻴْﻪِ ﺍﻟْﺤَﺼَﺎﺓُ ﻭَ ﺍﻟْﻤَﺪَﺭُ ﻭَ ﺍَﻧْﻄَﻖَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻟَﻪُ ﺍﻟﻀَّﺐَّ ﻭَ ﺍﻟﻈَّﺒْﻰَ ﻭَ ﺍﻟﺬِّﺋْﺐَ ﻭَ ﺍﻟْﺠِﺬْﻉَ ﻭَ ﺍﻟﺬِّﺭَﺍﻉَ ﻭَ ﺍﻟْﺠَﻤَﻞَ ﻭَ ﺍﻟْﺠَﺒَﻞَ ﻭَ ﺍﻟْﺤَﺠَﺮَ ﻭَ ﺍﻟﺸَّﺠَﺮَ ﺻَﺎﺣِﺐُ ﺍﻟْﻤِﻌْﺮَﺍﺝِ ﻭَ ﻣَﺎ ﺯَﺍﻍَ ﺍﻟْﺒَﺼَﺮُ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻭَ مَوْلَانَا ﻭَ ﺷَﻔ۪ﻴﻌِﻨَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺍَﻟْﻒُ ﺍَﻟْﻒِ صَلَاةٍ ﻭَ ﺍَﻟْﻒُ ﺍَﻟْﻒِ سَلَامٍ ﺑِﻌَﺪَﺩِ ﻛُﻞِّ ﺍﻟْﺤُﺮُﻭﻑِ ﺍﻟْﻤُﺘَﺸَﻜِّﻠَﺔِ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻜَﻠِﻤَﺎﺕِ ﺍﻟْﻤُﺘَﻤَﺜِّﻠَﺔِ ﺑِﺎِﺫْﻥِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﻓ۪ﻰ ﻣَﺮَﺍﻳَﺎ ﺗَﻤَﻮُّﺟَﺎﺕِ ﺍﻟْﻬَﻮَﺍﺀِ ﻋِﻨْﺪَ ﻗِﺮَﺍﺋَﺔِ ﻛُﻞِّ ﻛَﻠِﻤَﺔٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﻣِﻦْ ﻛُﻞِّ ﻗَﺎﺭِﺀٍ ﻣِﻦْ ﺍَﻭَّﻝِ ﺍﻟﻨُّﺰُﻭﻝِ ﺍِﻟٰﻰ ﺍٰﺧِﺮِ ﺍﻟﺰَّﻣَﺎﻥِ ﻭَ ﺍﻏْﻔِﺮْﻟَﻨَﺎ ﻭَﺍﺭْﺣَﻤْﻨَﺎ ﻳَﺎ ﺍِﻟٰﻬَﻨَﺎ ﺑِﻜُﻞِّ صَلَاةٍ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ

Saudaraku! Dalil-dalil yang membuktikan tugas kerasulan Ahmad ﷺ berjumlah amat besar. Sebagian dalil tersebut telah disebutkan dalam risalahku yang bernama Kalimat Kesembilan Belas. Sebagaimana hampir seribu mukjizat yang ditampakkan pribadi itu dan Al-Qur'an, yang mencapai empat puluh segi i'jaz yang dirinci dalam karyaku bernama Kalimat Kedua Puluh Lima, bersaksi atas tugas kerasulan Ahmad ﷺ, kainat ini pun menunjukkan kenabian pribadi itu melalui tanda-tandanya.

Ya, sebagaimana ayat-ayat tak terhitung yang tertulis dalam kainat bersaksi atas Wahdaniyah Zat Ahad, semuanya juga menunjukkan serta bersaksi atas tugas kerasulan Ahmad ﷺ.

Di antaranya:

Seni indah yang terlihat dalam kainat pun merupakan dalil pasti yang menunjukkan serta bersaksi atas tugas kerasulan Ahmad ﷺ. Sebab, indahnya ciptaan-ciptaan berhias ini memperlihatkan indahnya seni serta hiasan. Indahnya seni dan rupa menunjukkan adanya Kehendak pada Sang Pembuat untuk Memperindah serta Menghias. Sifat Memperindah serta Menghias menunjukkan Cinta Sang Pembuat kepada seni⁠-⁠Nya. Cinta ini merupakan dalil bahwa manusia adalah ciptaan paling sempurna, sebab manusia merupakan tempat tampak serta poros Cinta itu. Karena manusia merupakan ciptaan paling menyeluruh serta paling menakjubkan, ia adalah buah berkesadaran pada pohon penciptaan. Dari segi manusia merupakan buah, ia adalah bagian paling menyeluruh serta paling jauh di antara bagian-bagian kainat. Dari segi manusia memiliki kesadaran serta mencakup banyak hal, pandangannya umum dan kesadarannya menyeluruh. Karena pandangannya umum, ia melihat seluruh pohon penciptaan; karena kesadarannya menyeluruh, ia mengetahui tujuan-tujuan Sang Pembuat. Maka, manusia adalah pihak yang diajak berbicara secara khusus oleh Sang Pembuat.

Ya, seorang pribadi yang mengerahkan pandangan serta kesadarannya yang umum dan meliputi banyak hal untuk beribadah kepada Sang Pembuat serta mencintai⁠-⁠Nya, mengarahkannya untuk mengagumi, menghargai, serta memperlihatkan seni⁠-⁠Nya, dan menggunakannya untuk mensyukuri nikmat⁠-⁠Nya, merupakan pihak yang diajak berbicara secara khusus dan kekasih Sang Pembuat, Yang Meminta syukur atas nikmat yang Diberikan⁠-⁠Nya dan Mengajak makhluk yang Diciptakan⁠-⁠Nya untuk beribadah serta bersyukur.

Wahai manusia! Mungkinkah Hazret-i Muhammad ﷺ, yang memiliki keadaan serta urusan yang telah disebutkan, bukan pihak yang diajak berbicara secara khusus oleh Sang Pembuat, yang kita sebut pribadi tiada banding itu? Di antara manusia-manusia terbesar dalam umat manusia yang ditunjukkan sejarah kalian, adakah pribadi lain yang lebih layak bagi kedudukan ini?

Wahai manusia yang matanya sehat serta hatinya tidak buta! Lihatlah, di alam manusia terdapat dua lingkaran dan dua lembar:

Lingkaran pertama:

Lingkaran Rububiyah.

Lingkaran kedua:

Lingkaran ubudiyah.

Lembar pertama:

Seni indah.

Adapun lembar kedua:

Tafakur serta kagum.

Lihatlah hubungan antara dua lingkaran serta dua lembar ini: Lingkaran ubudiyah bekerja dengan seluruh dayanya demi lingkaran Rububiyah. Lembar tafakur, syukur, serta kagum pun menghadap lembar seni indah serta nikmat dengan seluruh isyaratnya.

Setelah engkau melihat hakikat ini dengan matamu sendiri, mungkinkah menurut akalmu tidak terdapat hubungan amat besar antara Pemimpin lingkaran Rububiyah dan pemimpin lingkaran ubudiyah? Mungkinkah pemimpin ubudiyah, yang berkhidmah bagi tujuan-tujuan Sang Pembuat dengan ikhlas sempurna, tidak memiliki hubungan besar serta ikatan kuat dengan Sang Pembuat, dan melalui ikatan tersebut, tidak ada saling mengenal, percakapan, serta pertukaran antara pemimpin kedua lingkaran? Maka, telah terbukti secara nyata bahwa pemimpin ubudiyah merupakan kekasih khusus serta pribadi yang diterima Rububiyah.

Wahai manusia! Sang Pembuat Yang Menghias ciptaan berhias ini dengan segala macam keindahan dan Menganugerahkan begitu banyak nikmat sesuai selera serta hasrat seluruh makhluk hidup—mungkinkah Dia tidak Memberi perhatian kepada makhluk serta karya⁠-⁠Nya yang indah ini, yang paling sempurna dan paling indah, yang menghadap ibadah kepada⁠-⁠Nya dengan rindu sempurna, yang membuat Arasy serta bumi bersukacita melalui penghargaan dan kekagumannya atas indahnya seni Sang Pembuat, dan yang membuat darat serta laut terpesona melalui syukur serta takbirnya atas karunia Sang Pembuat? Mungkinkah Dia tidak Memperhatikan perkataannya, tidak Membalas syukurnya, tidak Menghadap serta Berbicara dengannya, dan tidak Menjadikannya imam serta pembimbing bagi seluruh makhluk sesuai dayanya?