Risalah Nur — Bahasa Indonesia

LÂSİYYEMALAR (TERUTAMA)

Mesnevî Cahaya · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

LÂSİYYEMALAR (TERUTAMA)

Dalam satu segi merupakan dasar Kalimat Kesepuluh dan

kedudukan kedua berbahasa Arab dari Kalimat Kedua Puluh Delapan.

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ

Segala puji, sanjungan, serta syukur bagi Sang Pembuat Yang Hakîm, Yang seluruh zarah kainat, bersama-sama maupun sendiri-sendiri, bersaksi atas Wujud⁠-⁠Nya yang Wajib serta keesaan⁠-⁠Nya dengan bahasa lemah dan fakir. Salawat serta salam bagi Rasul ﷺ⁠-⁠Nya yang membuka rahasia tersembunyi kainat, menyingkap serta menjelaskan tanda-tandanya; bagi keluarga serta sahabatnya; bagi saudara-saudaranya, para nabi serta rasul lainnya; dan bagi hamba-hamba yang saleh.

Saudaraku! Alam serta sebab-sebab telah menutup pintu syukur dan membuka pintu syirik serta kufur bagi sebagian manusia. Padahal, mereka tidak tahu bahwa dasar syirik dibangun dari hal-hal mustahil tak terhitung. Akan kujelaskan satu di antara hal-hal mustahil itu agar dengan mata mereka yang buta, mereka melihat betapa buruknya syirik. Demikianlah:

Ketika pelaku syirik meninggalkan mabuk kebodohan dan memandang kufurnya dengan mata ilmu, untuk dapat mempercayai serta meyakini kufur tersebut, ia terpaksa membebankan beban seberat satu ton pada satu zarah, menciptakan percetakan-percetakan tak terhitung dalam setiap zarah lalu menyerahkannya ke tangan alam serta sebab-sebab, dan mengajarkan kepada alam segala kehalusan seni pada seluruh ciptaan. Sebab, misalnya, setiap zarah unsur udara mampu hinggap pada seluruh tumbuhan, bunga, serta buah, dan menjalankan tugasnya dalam tubuh mereka. Jika secara kufur diingkari bahwa zarah-zarah ini merupakan petugas dalam tugas yang mereka lakukan dan tunduk kepada Perintah serta Kehendak Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, zarah itu harus mengetahui seluruh perangkat dan cara terbentuknya setiap tubuh yang dimasukinya. Hanya orang kafir itu yang dapat percaya bahwa ilmu ini terdapat dalam zarah tersebut.

Selain itu, satu buah merupakan contoh kecil suatu pohon, dan biji dalam buah itu merupakan buku catatan amal pohon tersebut. Riwayat hidup pohon itu tertulis dalam bijinya. Dari segi ini, satu buah memandang seluruh pohon, bahkan jenis pohon itu, bahkan bola bumi. Maka, keagungan maknawi dalam seni satu buah sebanding dengan besarnya bumi. Yang Membentuk zarah itu dengan keagungan maknawi yang dikandungnya dari segi seni tentu tidak akan tak berdaya untuk Memikul serta Membentuk bumi. Adakah kebodohan sebesar orang kafir yang mengingkari itu, yang mengaku berakal serta cerdas sambil membawa kufur seperti ini dalam hatinya?

Saudaraku! Bagi setiap sesuatu terdapat dua rupa serta bentuk:

Yang pertama:

Bersifat materi, yakni rupa-rupa yang terlihat ini, yang seakan-akan dipotong seperti baju menurut ukuran wujud segala sesuatu dengan penentuan takdir.

Yang lainnya:

Dapat dipahami oleh akal, yakni rupa dalam bayangan yang dibayangkan dari himpunan beragam rupa materi yang berubah pada sesuatu sepanjang perjalanan waktu dalam usia hidupnya. Seperti lingkaran dalam bayangan yang muncul ketika api diputar dengan cepat, rupa kedua ini, yang memberitakan riwayat hidup segala sesuatu, menjadi dasar bagi takdir, dan disebut hal-hal yang ditakdirkan bagi segala sesuatu, dapat dipahami oleh akal.

Sebagaimana segala sesuatu memiliki batas akhir serta tujuan dari segi rupa materinya, ia juga memiliki batas akhir serta tujuan bagi beberapa Hikmah tersembunyi dari segi rupa maknawinya. Karena itu, dalam rupa materi segala sesuatu, Kudrat Rabbani adalah ahli pembuat, dan takdir adalah insinyur. Adapun dalam rupa maknawinya, takdir merupakan penggaris, yakni menggambar garis-garis terbentuknya rupa; Kudrat merupakan sumber, yakni bentuk-bentuk yang dibuat di atas garis-garis itu berasal dari Kudrat.

Wahai orang kafir! Setelah mendengar ini, pikirkanlah baik-baik! Apakah engkau berdaya mengajarkan seni menjahit kepada satu zarah? Apakah alam serta sebab-sebab, yang engkau jadikan pencipta bagi dirimu, berdaya memotong serta menjahit rupa segala sesuatu yang beragam dan bermacam-macam?

Lihatlah, wahai orang kafir yang kehilangan penglihatan! Manusia, buah pohon penciptaan yang melebihi sebab-sebab dalam daya serta pilihan, sekalipun menghimpun seluruh kemampuan serta ilmu menjahit, tidak dapat menjahit baju yang sesuai dengan anggota-anggota pohon berduri. Padahal, Sang Pembuat Yang Hakîm, pada masa tumbuhnya segala sesuatu, Membuat dan Mengenakan baju-baju baru, segar, amat teratur, serta pakaian-pakaian hijau dengan kecepatan dan kemudahan sempurna. Fesübhanallah!

Ya, Mahasuci, Allah سُبْحَانَهُ Yang wujud segala sesuatu bergantung pada Perintah⁠-⁠Nya adalah Mahasuci. Sang Pembuat Yang sisi dalam segala sesuatu berada dalam Tangan⁠-⁠Nya adalah Mahasuci. Sang Pembuat Yang menjadi tempat kembali seluruh makhluk adalah Mahasuci.

Saudaraku! Pada setiap yang ada terdapat cap serta meterai Sang Pembuat Yang Ahad lagi Shamad, yang bersaksi bahwa sesuatu itu merupakan milik serta karya seni Sang Pembuat Yang Ahad lagi Shamad. Ya, di antara cap-cap ahadiyah serta meterai-meterai Shamadaniyah yang tak berujung, lihatlah hanya cap yang dicetak pada halaman bumi pada musim semi. Rangkaian bagian serta kalimat berikut memperlihatkan dan menampakkan cap itu seperti matahari.

Ya, suatu penciptaan yang amat menakjubkan serta penuh Hikmah terlihat pada halaman bumi. Jika engkau ingin melihat daya serta kegiatan yang ditunjukkan oleh penciptaan yang tampak ini, perhatikan bagian-bagian berikut:

1-

Tindakan penciptaan itu berasal dari Kemurahan mutlak yang amat besar serta luas.

2-

Ia muncul dari Daya mutlak dengan kemudahan mutlak.

3-

Ia terwujud dengan keteraturan mutlak dan kecepatan mutlak.

4-

Ia berada dalam keluasan mutlak dengan seimbang serta terukur.

5-

Selain merupakan karya seni indah, ia tampak dengan harga murah yang mutlak.

6-

Meskipun hal-hal yang berkaitan dengannya amat bercampur, ia dibuat dengan pembedaan mutlak yang besar dan tanpa kekeliruan.

7-

Meskipun tempat-tempat yang berkaitan dengannya tak berujung, tidak tampak buruk pada karya-karyanya; ia terwujud dalam bentuk terbaik.

8-

Di antara individu serta jenis-jenis, bersama jarak yang mutlak, terdapat kesesuaian mutlak.

Saudaraku! Masing-masing bagian ini, sendiri-sendiri, cukup untuk menampakkan cap itu. Lihatlah, Kemurahan paling luar biasa bersama seni indah paling luar biasa merupakan ciri Kudrat yang meliputi segala sesuatu.

Kemudahan luar biasa bersama keteraturan adalah khusus bagi Pemilik Ilmu yang meliputi segala sesuatu, Yang tidak Pernah Lemah menghadapi apa pun.

Kecepatan mutlak yang bersifat mukjizat, bersama ukuran yang amat seimbang seolah-olah ditimbang, adalah khusus bagi Zat Yang Menundukkan segala sesuatu kepada Perintah serta Kudrat⁠-⁠Nya.

Kuasa yang amat luas atas jenis-jenis yang sangat tersebar, bersama seni indah yang luar biasa, adalah khusus bagi Zat Yang Berada di sisi segala sesuatu dengan Ilmu serta Kudrat⁠-⁠Nya.

Bernilainya setiap individu dari segi seni, bersama jumlah banyak serta berlimpah, adalah khusus bagi Zat Pemilik kekayaan tanpa batas serta perbendaharaan tak berujung.

Setiap individu memperoleh perbedaan serta ciri khas luar biasa tanpa kekeliruan, meskipun amat bercampur satu sama lain; hal ini khusus bagi Zat Yang Basîr atas segala sesuatu, Yang Syahîd atas segala sesuatu, dan tiada suatu Tindakan⁠-⁠Nya yang Menghalangi⁠-⁠Nya dari Tindakan lainnya.

Demikian pula, kesesuaian dalam rupa, wujud, serta susunan yang terwujud di antara individu-individu yang tersebar di bumi, meskipun jarak mereka jauh, adalah khusus bagi Zat Yang bola bumi berada dalam Tangan Kuasa⁠-⁠Nya, Ilmu⁠-⁠Nya, Hukum⁠-⁠Nya, serta Hikmah⁠-⁠Nya.

Demikian pula, setiap individu memiliki indahnya penciptaan yang luar biasa, meskipun jumlah individu dalam jenis itu banyak; hal ini khusus bagi Qadîr Yang Mutlak, Yang bagi⁠-⁠Nya segala sesuatu—sedikit atau banyak, kecil atau besar—sama.

Dalam setiap bagian terdahulu terdapat tanda lainnya yang menunjukkan bahwa segala sesuatu merupakan buatan serta seni satu Sang Pembuat. Ya, terdapat pertentangan antara kemurahan dan daya menghemat, antara cepat dan terukur, antara murah dan berharga, serta antara bercampur dan berbeda secara khas. Menghimpun hal-hal yang saling bertentangan ini dalam satu tindakan hanya khusus bagi Sang Pembuat Yang Qadîr, Pemilik Kudrat tak terbatas.

Kesimpulannya:

Apabila setiap bagian sendiri-sendiri cukup untuk menampakkan meterai ahadiyah, himpunan seluruh bagian memperlihatkan meterai ahadiyah melalui alasan yang jauh lebih kuat dan amat jelas. Dari penjelasan ini, tampaklah rahasia ayat mulia

ﻭَﻟَﺌِﻦْ ﺳَﺎَﻟْﺘَﻬُﻢْ ﻣَﻦْ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضَ ﻟَﻴَﻘُﻮﻟُﻦَّ ﺍﻟﻠّٰﻪُ.

Yakni, ketika pengingkar keras kepala itu ditanya, ‘Siapakah Khâliq langit serta bumi?’ mau tidak mau ia akan berkata, ‘Allah سُبْحَانَهُ.’

Saudaraku! Dalam hakikatnya terdapat hubungan yang saling mengharuskan antara Keilahian, tugas kerasulan, akhirat, serta kainat. Yakni, wujud serta terbuktinya salah satunya mengharuskan wujud serta terbuktinya yang lain. Iman kepada salah satunya menuntut iman kepada yang lain.

Ya, misalnya, suatu kitab yang setiap katanya memuat satu kitab dan setiap hurufnya memuat satu baris tidak mungkin ada tanpa penulis. Kitab kainat pun bergantung pada Wujud yang Wajib dari Pengukir Azali. Orang-orang yang tidak mabuk hanya dapat menyaksikan kitab kainat dengan beriman kepada Pengukir Azali.

Demikian pula, sebagaimana suatu bangunan yang memuat banyak keajaiban seni serta ukiran dan hiasan menakjubkan tidak mungkin ada tanpa pembangun serta pembuat, wujud alam ini pun bergantung pada Wujud Sang Pembuat. Orang-orang yang tidak mabuk oleh kesesatan tidak dapat membenarkan yang satu tanpa yang lain.

Demikian pula, sebagaimana kilau matahari dalam gelembung-gelembung di permukaan laut serta sungai yang memperlihatkan pantulan matahari tidak mungkin ada dengan mengingkari wujud matahari, bagi orang yang akalnya tidak rusak, menyaksikan kainat yang berubah serta diperbarui dengan keteraturan sempurna ini hanya mungkin dengan membenarkan Wujud yang Wajib dari Pembangun serta Sang Pembuat. Sebab, hanya Pembangun serta Sang Pembuat Yang Mendirikan kainat megah ini dengan Masyîah (kehendak Allah سُبْحَانَهُ) serta Hikmah⁠-⁠Nya, Merincinya dengan kaidah qada serta takdir⁠-⁠Nya, Mengaturnya dengan hukum adat⁠-⁠Nya, Menghiasnya dengan hukum pertolongan serta Rahmat⁠-⁠Nya, dan Meneranginya dengan manifestasi Asma serta Sifat-Sifat⁠-⁠Nya. Ya, apabila Khâliq Yang Wâhid tidak diterima, orang terpaksa menerima ilah-ilah tak berujung sebanyak zarah serta susunan dalam kainat. Pada saat yang sama, setiap ilah harus berdaya menciptakan kainat ini. Sebab, setiap makhluk hidup yang juz'i merupakan daftar isi bagi yang menyeluruh, yakni seluruh makhluk hidup. Yang menciptakan yang juz'i harus berdaya menciptakan yang menyeluruh pula.

Demikian pula, sebagaimana matahari tidak mungkin ada tanpa sinar, Keilahian pun tidak mungkin ada tanpa tampak. Hal itu tampak melalui pengutusan para rasul. Selain itu, untuk mengenal, melihat, serta memperlihatkan keindahan tertinggi yang telah mencapai batas sempurna, diperlukan pengenalan oleh para rasul.

Demikian pula, sempurnanya seni indah yang telah mencapai puncak keindahan terjadi melalui petunjuk para rasul.

Demikian pula, Rububiyah yang umum menghendaki ubudiyah yang menyeluruh. Hal ini hanya mungkin dengan para rasul yang memiliki dua sayap mengumumkan Keesaan Ilahi kepada manusia.

Demikian pula, apabila tidak ada kehendak pemilik suatu keindahan, tidak ada cermin, serta tidak ada pribadi yang menjadi perantara untuk memperkenalkannya, keindahannya tidak mungkin terlihat serta diperlihatkan. Hal ini hanya terjadi melalui para rasul. Sebab, rasul merupakan cermin bagi Keindahan Khâliq melalui ubudiyahnya, sedangkan dari segi tugas kerasulannya ia menampakkan serta mengumumkannya kepada manusia.

Demikian pula, untuk membuka perbendaharaan suatu pribadi yang penuh permata serta benda-benda berharga, memperlihatkan serta menyajikannya kepada manusia, lalu mengumumkan daya, kekayaan, serta kerajaannya, diperlukan petugas yang hanya diperintah serta ditunjuk dengan izin dan kehendak pribadi itu. Petugas itulah rasul.

Saudaraku! Di alam ini tiada pribadi selain Hazret-i Muhammad ﷺ yang memiliki sifat-sifat ini dan dapat menjalankan tugas-tugas ini dengan paling sempurna. Beliaulah pribadi paling menyeluruh, paling sempurna, serta paling utama. Beliaulah yang tepat sepenuhnya memperlihatkan, menyampaikan, memperkenalkan, menggambarkan, menampakkan, serta mengumumkan.

Saudaraku yang Aziz! Kita telah sampai pada hubungan yang saling mengharuskan antara ‘iman kepada Allah’ سُبْحَانَهُ dan ‘iman kepada akhirat’. Bersiaplah, dengarkan!

Apabila seorang sultan tidak memberi pahala kepada yang taat dan tidak menghukum yang membangkang, kerajaannya akan menuju runtuh. Demikian pula, di sisi kanan seorang sultan diperlukan karunia serta belas kasih, dan di sisi kirinya diperlukan penundukan serta pendidikan. Pahala merupakan tuntutan belas kasih. Pendidikan pun menuntut hukuman. Tempat-tempat pahala serta hukuman adalah akhirat.

Demikian pula, seorang sultan yang memiliki hikmah serta keadilan yang luhur memberi penghargaan kepada orang-orang yang berlindung kepadanya untuk menjaga kemuliaan kerajaannya dari cacat, dan menjaga hak-hak rakyatnya untuk memperlihatkan keagungan kuasanya. Sebagian penting dari segi-segi ini terjadi di akhirat.

Demikian pula, seorang sultan yang memiliki perbendaharaan penuh berlimpah serta kemurahan mutlak memerlukan rumah perjamuan yang umum dan tetap. Ia menghendaki orang-orang dengan kebutuhan yang berbeda-beda terus ada serta tetap hidup. Hal ini hanya terjadi di akhirat.

Demikian pula, pemilik keindahan senantiasa ingin melihat serta memperlihatkan indah dan eloknya. Hal ini menuntut adanya akhirat. Sebab, keindahan yang tetap tidak rela dengan perindu yang akan sirna serta sementara. Ia menghendaki perindu itu pun tetap ada. Hal ini juga menuntut akhirat.

Demikian pula, seorang sultan yang memiliki kasih amat penuh belas kasih dalam membantu yang meminta pertolongan serta menjawab yang berdoa—yang segera melakukan serta memberi apa yang diminta oleh makhluk paling rendah, sekecil apa pun permintaannya—tentu akan memenuhi kebutuhan terbesar seluruh makhluk dengan kemudahan sempurna. Kebutuhan yang demikian umum serta paling penting ini hanyalah akhirat.

Demikian pula, meskipun seorang sultan memiliki kerajaan dengan kemegahan amat luar biasa yang dipahami dari pekerjaan serta kegiatannya, hanya rumah tamu sempit yang dibuat bagi pertemuan rakyatnya. Rumah ini tidak dapat terus-menerus menampung rakyatnya; senantiasa penuh lalu kosong. Terdapat pula medan ujian yang selalu berubah serta berganti. Untuk memperlihatkan beberapa contoh karya seni serta karunianya, terdapat ruang-ruang pertemuan yang berubah dari waktu ke waktu.

Keadaan ini dengan nyata menunjukkan bahwa sesudah tempat tinggal, medan, serta tempat pameran yang sempit ini, terdapat tempat tinggal tetap, istana-istana yang kokoh, serta perbendaharaan terbuka, dan para penghuninya akan tetap tinggal serta terus ada.

Demikian pula, apabila seorang sultan yang penuh perhatian menulis serta menyuruh menulis seluruh amal, perbuatan, pelayanan, serta kebutuhan rakyatnya secara lengkap, dan mengambil gambar serta foto setiap peristiwa dan kejadian dalam kerajaannya, lalu mencatat serta menyimpannya, tentu keadaan ini secara pasti menunjukkan bahwa akan terjadi perhitungan, pengadilan, serta pemberian pahala dan hukuman.

Demikian pula, apabila terdapat banyak janji serta ancaman yang berulang-ulang tentang pahala dan hukuman, apabila hal-hal yang dijanjikan serta diancamkan itu tidak berat bagi dayanya, dan apabila hal-hal itu amat penting bagi rakyatnya, tentu tidak akan ada pelanggaran terhadap apa yang dijanjikannya. Sebab, mengingkari janji bertentangan dengan kemuliaan daya.

Demikian pula, menurut persetujuan serta kesepakatan para pembawa berita yang telah mencapai tingkat tawatur, pusat serta medan gerak kerajaan yang megah dan agung itu hanyalah negeri akhirat. Tempat-tempat tinggal serta medan-medan kecil ini tidak dapat menjadi tempat tetap bagi keagungan tersebut. Sebab, hal-hal yang akan sirna serta berubah seperti ini tidak dapat menjadi pusat kerajaan yang tetap itu.

Ya, sultan itu memperlihatkan banyak hal, pertemuan, serta perpisahan dalam tempat tinggal dan medan kecil ini. Namun, hal-hal tersebut bukan tujuan itu sendiri, melainkan hanya memperlihatkan contoh keadaan serta perkara yang akan terjadi pada medan terbesar akhirat. Sebab, urusan-urusan yang akan dilakukan pada mahsyar agung itu berlangsung sesuai contoh-contoh kecil ini. Maka, keadaan fana serta sirna yang diperlihatkan di tempat tinggal ini akan menghasilkan buah-buah kekal serta tetap di alam tersebut.

Ya, tidak mungkin dibayangkan suatu tingkat yang melampaui hikmah, pertolongan, keadilan, rahmat, serta kasih yang diperlihatkan sultan itu dalam tempat-tempat tinggal fana dan medan-medan mengerikan ini. Tentu seni-seni luar biasa yang demikian luhur serta luas menghendaki tempat-tempat tetap, rumah-rumah yang kokoh, serta penghuni yang tidak sirna, agar mereka menjadi tempat tampak bagi hakikat hikmah serta keadilan yang besar itu. Jika tidak, hikmah, pertolongan, serta belas kasih yang terlihat ini harus diingkari. Pada saat yang sama, Pemilik tindakan-tindakan yang muncul dari begitu banyak Hikmah serta pertolongan⁠-⁠Nya ini akan dianggap—hâşâ—zalim, kejam, serta bertindak sia-sia. Hal ini mengharuskan hakikat-hakikat berubah menjadi kebalikannya.

Demikian pula, terdapat banyak dalil serta bukti bahwa tempat-tempat sementara ini akan mengambil bentuk yang menjadi pusat kerajaan tetap. Selain itu, tidak mungkin Menciptakan alam ini tanpa Menciptakan alam yang lain, Mewujudkan kainat ini tanpa Mewujudkan kainat yang lain, dan Menciptakan dunia ini tanpa Menciptakan dunia yang lain. Sebab, kerajaan Rububiyah menghendaki pahala serta hukuman.

Demikian pula, Sang Pembuat seluruh alam memiliki Rahmat luas yang meliputi, menguasai, serta mencakup segala sesuatu. Kasih para ibu, bahkan dalam satu segi kasih tumbuhan kepada anak-anaknya, dan mudahnya rezeki anak-anak mereka yang kecil serta lemah, merupakan satu tetes dari lautan Rahmat itu. Tidak ada kesesuaian antara keagungan lautan Rahmat tersebut, nikmat-nikmat yang sirna serta tidak tetap dalam dunia fana dan umur singkat ini, yang bercampur dengan begitu banyak kesukaran serta bencana, dan manusia yang menghendaki hidup kekal abadi. Pada saat yang sama, sirna tanpa dihadirkan kembali mengubah nikmat menjadi hukuman, kasih menjadi kesukaran, cinta menjadi musibah, lezat menjadi sakit, serta Rahmat menjadi kebalikannya.

Demikian pula, dari pengelolaan yang terlihat di alam dipahami bahwa Sang Pembuat seluruh alam memiliki Martabat amat luhur, penuh Jalal, serta Mulia. Meskipun Dia Menunda dan Memberi tenggang dalam Mendidik orang-orang yang tidak memuliakan Sang Pembuat melalui ubudiyah, atau yang meremehkan⁠-⁠Nya, Dia tidak Mengabaikannya.

Demikian pula, bagi orang-orang yang menganggap tak bernilai perintah serta larangan sultan itu dan tidak mematuhinya dengan iman, yang tidak membuat dirinya dicintai melalui ibadah, dan yang tidak menunjukkan hormat melalui syukur, tentu akan terdapat negeri pahala serta hukuman dalam pusat abadi Rububiyah.

Demikian pula, dari seni indah, keteraturan, serta perhatian yang terlihat pada seluruh makhluk, dan dari kegunaan serta manfaat yang diikuti dalam segala sesuatu, dipahami bahwa Sang Pembuat Dzul-Jalâl, Yang kainat berada di bawah Kuasa⁠-⁠Nya, memiliki Hikmah umum yang amat besar. Orang-orang yang berlindung dengan taat akan memperoleh penghargaan serta karunia besar; ini merupakan tuntutan Hikmah umum tersebut.

Demikian pula, tampak bahwa segala sesuatu ditempatkan pada kedudukan yang layak. Setiap hak diberikan kepada pemilik hak. Kebutuhan setiap yang membutuhkan dipenuhi sebagaimana yang dimintanya. Permohonan setiap yang memohon dijawab, terutama melalui bahasa bakat, bahasa kebutuhan fitri, atau bahasa terdesak serta keadaan darurat. Keadilan yang karya-karyanya tampak seperti ini memerlukan pengadilan terbesar agar hak-hak hamba dijaga melalui kuasa Rububiyah. Sebab, tempat tinggal dunia yang fana ini tidak dapat menjadi tempat tampak bagi Keadilan hakiki yang besar itu. Maka, bagi Sultan Yang Adil dan Agung tersebut diperlukan surga yang kekal serta neraka yang tetap.

Demikian pula, tampak bahwa Pemilik alam ini, sebagaimana ditunjukkan oleh begitu banyak Tindakan yang Dilakukan⁠-⁠Nya, memiliki Kemurahan luar biasa serta banyak perbendaharaan, seperti matahari-matahari yang penuh cahaya dan sinar, serta pohon-pohon yang mengandung buah. Karena itu, Kemurahan abadi dan kekayaan tak habis ini menghendaki tempat perjamuan abadi; dengan terus ada, keduanya menuntut pula agar yang membutuhkan terus hidup. Sebab, kemurahan yang tiada batas serta kedermawanan luar biasa menuntut senantiasa memberi karunia serta nikmat kepada manusia. Hal ini menghendaki terus hidupnya orang-orang yang bersyukur atas karunia serta nikmat itu dan membutuhkannya.

Demikian pula, dari tampaknya Tindakan-Tindakan Penuh Kemurahan yang bersifat mukjizat serta penuh Hikmah ini, dipahami bahwa Sang Pembuat Yang Bertindak memiliki Kesempurnaan-Kesempurnaan yang amat tersembunyi. Dia senantiasa Menghendaki untuk Menyajikan serta Memperlihatkan Kesempurnaan-Kesempurnaan itu kepada pandangan alam. Sebab, Kesempurnaan yang tetap menuntut agar terus tampak serta agar orang-orang yang menghargainya terus hidup. Sebab, manusia yang menanti tiada mutlak tidak memberi nilai kepada segala kesempurnaan; sebagai ganti kagum serta menghargai, ia merasa terbebani dan merendahkan.

Demikian pula, bagi Sang Pembuat dari ciptaan-ciptaan yang indah, berhias, serta bercahaya ini terdapat Keindahan maknawi yang bebas dari materi. Bagi indah serta Keindahan tersembunyi itu, Dia memiliki banyak keindahan serta kehalusan yang tidak dapat kita pahami dengan akal kita yang terbatas. Di antaranya, permukaan bumi merupakan salah satu cermin padat bagi Keindahan tersebut. Permukaan bumi ini memperlihatkan, menggambarkan, mengumumkan, serta menampakkan bayangan manifestasi-manifestasi yang senantiasa bertajalli pada setiap abad, setiap musim, dan setiap waktu.

Demikian pula, termasuk hakikat yang tetap bahwa pemilik keindahan luhur ingin melihat keindahannya serta kehalusan keindahannya langsung dengan matanya sendiri, dan melalui perantara dengan mata orang lain. Karena itu, apabila keindahan tersebut abadi serta tetap, cermin-cerminnya yang memperlihatkan kehalusan itu pun harus abadi serta tetap. Sebab, suatu keindahan kekal tidak dapat rela dengan perindu fana. Cinta seorang pencinta yang akan sirna serta fana kepada kekasihnya yang abadi serta kekal berubah menjadi permusuhan. Ya, manusia mencela sesuatu yang indah, yang tidak terjangkau tangan atau pemahamannya, untuk menghibur dirinya. Dari segi ini, sebagaimana alam ini mengharuskan Sang Pembuat, Sang Pembuat pun mengharuskan alam akhirat.

Demikian pula, pada Sang Pembuat alam ini terdapat Kasih yang amat penuh Rahmat. Sebab, kita melihat bahwa orang yang tertimpa musibah dan meminta pertolongan di alam ini ditolong dengan kecepatan sempurna. Orang yang berlindung ke hadirat Mulia selamat. Permohonan para pemohon diberikan. Suara makhluk hidup paling rendah didengar, dan kebutuhannya diterima.

Pemilik Kasih seperti ini akan Mewujudkan surga, kebahagiaan abadi, serta kebangkitan sesudah mati yang dimohon dalam doa atas nama seluruh manusia bagi kebutuhan umat manusia yang paling besar, paling perlu, paling mutlak, serta amat mendesak itu. Terutama, seluruh makhluk hidup serta seluruh makhluk mengucapkan ‘Âmin, âmin!’ atas doa umum pemimpin terhormat ﷺ tersebut.

Lihatlah, pribadi itu memohon bahagia serta berdoa bagi suatu tujuan dan maksud yang mengangkat manusia serta seluruh makhluk dari jatuh ke tiada mutlak yang paling rendah, dari tiada nilai, tiada manfaat, serta kesia-siaan, menuju nilai, hidup kekal, tugas luhur, serta tingkat menjadi surat-surat Shamad yang paling tinggi. Lihatlah pula, beliau memohon dengan jeritan meminta pertolongan yang demikian tinggi dan mengiba dengan munajat meminta belas kasih yang demikian manis, sehingga seolah-olah membuat seluruh yang ada, langit, serta Arasy mendengar, terpesona, dan mengucapkan ‘Âmin Allahümme âmin!’ atas doanya.

Marilah kita dengarkan apa yang dimohon Kebanggaan kainat ﷺ itu, kemuliaan umat manusia serta pribadi tiada banding dalam alam dan zaman, yang berdiri di atas bumi ini dengan seluruh anak Adam di belakangnya, mengangkat tangan menghadap Arasy Teragung, lalu berdoa dalam hakikat ubudiyah Ahmad ﷺ yang menghimpun inti ubudiyah umat manusia. Lihatlah, beliau memohon kebahagiaan abadi bagi diri serta umatnya, memohon hidup kekal, memohon surga. Engkau melihat bahwa beliau juga memohon bersama seluruh Asma Ilahi yang Suci, yang memperlihatkan Keindahan⁠-⁠Nya dalam cermin-cermin segala yang ada; beliau meminta syafaat dari Asma itu.

Seandainya tidak terdapat sebab-sebab tak terhitung yang mengharuskan akhirat serta dalil-dalil wujudnya, hanya satu doa pribadi ini akan menjadi sebab dibangunnya surga tersebut, yang ringan bagi Kudrat Khâliq Yang Rahîm seperti penciptaan musim semi kita. Maka, sebagaimana tugas kerasulan pribadi itu menjadi sebab dibukanya negeri ujian ini dan memperoleh rahasia

لَوْلَاكَ لَوْلَاكَ ﻟَﻤَﺎ ﺧَﻠَﻘْﺖُ الْاَفْلَاكَ,

demikian pula ubudiyahnya menjadi sebab dibukanya negeri bahagia yang lain.

ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠٰﻰ ﺫٰﻟِﻚَ ﺍﻟْﺤَﺒ۪ﻴﺐِ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻫُﻮَ ﺳَﻴِّﺪُ ﺍﻟْﻜَﻮْﻧَﻴْﻦِ ﻭَ ﻓَﺨْﺮُ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤَﻴْﻦِ ﻭَ ﺣَﻴَﺎﺕُ ﺍﻟﺪَّﺍﺭَﻳْﻦِ ﻭَ ﻭَﺳ۪ﻴﻠَﺔُ ﺍﻟﺴَّﻌَﺎﺩَﺗَﻴْﻦِ ﻭَ ﺫُﻭ ﺍﻟْﺠَﻨَﺎﺣَﻴْﻦِ ﻭَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﺜَّﻘَﻠَﻴْﻦِ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺻَﺤْﺒِﻪ۪ ﺍَﺟْﻤَﻌ۪ﻴﻦَ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍِﺧْﻮَﺍﻧِﻪ۪ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻴّ۪ﻴﻦَ ﻭَ ﺍﻟْﻤُﺮْﺳَﻠ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ

Demikian pula, dalam datang serta perginya alam ini, dalam pengarahan seluruh makhluk menuju satu sasaran, serta dalam terikat dan tunduknya seluruh benda langit maupun bumi kepada satu Kudrat, tampak karya kerajaan yang amat besar. Dari sini dipahami bahwa Sang Pembuat Yang Mengelola segala yang ada ini memiliki kerajaan luar biasa dalam Rububiyah⁠-⁠Nya yang agung. Padahal, tempat tinggal dunia ini terkena perubahan serta sirna. Seolah-olah ia suatu penginapan yang dibuat bagi para tamu, yang senantiasa penuh lalu kosong. Ia sendiri tidak memiliki bentuk tetap, dan para penghuninya pun tidak menetap. Ia merupakan tempat pameran yang tak pernah bebas dari perubahan untuk memperlihatkan serta mengumumkan contoh-contoh seni Sang Pembuat seluruh alam yang luar biasa serta menakjubkan. Dari segi ini, manusia yang berkumpul di penginapan serta tempat pameran itu tidak akan tetap tinggal, sebab tempat tinggal mereka tidak tetap.

Keadaan serta suasana ini bersaksi dengan petunjuk pasti bahwa sesudah tempat tinggal fana ini akan terdapat bahagia, surga, serta istana yang tetap, kekal, abadi, dan terus ada, sebagai pusat kerajaan abadi tersebut. Sebab, yang fana tidak dapat menjadi tempat serta pusat bagi yang kekal. Ya, ketika dilihat tempat tinggal yang dibuat seorang raja di jalan bagi para tamunya yang datang serta pergi, dan para tamu yang tinggal di sana, terlihat bahwa tempat tinggal yang dibuat dengan jutaan lira itu diperuntukkan bagi waktu amat singkat. Hiasan serta benda-benda berharga di dalamnya seluruhnya berupa gambar dan contoh. Para tamu hanya mencicipi makanan lezat itu, tanpa memakannya hingga kenyang. Setiap tamu mengambil gambar hiasan-hiasan di tempat tersebut dengan alatnya sendiri. Petugas-petugas rahasia raja pun menulis seluruh gerak, perbuatan, serta urusan mereka. Pada setiap musim, raja merusak serta memperbarui jutaan hiasan dan benda indah tersebut bagi tamu-tamu baru yang akan datang. Demikian pula, banyak hal luar biasa serta menakjubkan terlihat.

Keadaan ini menunjukkan bahwa pemilik tempat tinggal sementara itu memiliki tempat-tempat tinggal serta ruang-ruang yang bernilai amat tinggi, dan istana-istana abadi serta tetap. Hal-hal serta keadaan yang terlihat dalam tempat tinggal kecil ini merupakan contoh yang diperlihatkan untuk mendorong para tamu menuju hal-hal luhur dalam tempat-tempat tinggal abadi.

Demikian pula, apabila diperhatikan keadaan tempat tinggal dunia ini serta manusia yang tinggal di dalamnya, dipahami bahwa dunia ini bukan tempat tinggal yang diciptakan untuk tinggal selamanya. Ia hanya penginapan serta ruang tunggu bagi berkumpulnya makhluk yang menjadi tamu undangan ke tempat tinggal Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq yang abadi serta tetap, ‘Dârü's-selâm’. Hal-hal lezat yang terlihat di tempat tinggal dunia ini bukan demi lezat serta nikmat itu sendiri, sebab lezat saat bertemu tidak mengimbangi sakit saat berpisah.

Selain itu, tiada seorang pun mencapai keinginannya secara penuh melalui hal-hal lezat tersebut. Usia hal-hal lezat itu pendek, atau manusia tidak mencapai keinginannya karena umurnya pendek. Hal-hal lezat serta indah itu hanya untuk mendorong manusia mengambil pelajaran serta bersyukur, sebab semuanya merupakan contoh nikmat-nikmat hakiki yang Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Siapkan di surga-surga bagi orang beriman.

Ciptaan-ciptaan berhias yang fana itu bukan untuk musnah serta tiada. Rupa, contoh, makna, serta hasilnya diambil dan menjadi dasar bagi pembuatan pemandangan-pemandangan abadi di alam kekal untuk para penghuni yang kekal. Atau, di alam abadi, Sang Pembuat Yang Abadi Menjadikannya bentuk-bentuk yang Dia Kehendaki. Sebab, ciptaan-ciptaan tersebut diperuntukkan bagi hidup kekal. Mati serta musnah lahiriah mereka merupakan pembebasan dari tugas, bukan pemusnahan.

Ya, sekalipun kematian mereka berarti musnah, mereka hanya musnah dari satu segi dan tetap ada dari banyak segi. Misalnya, lihatlah bunga mawar ini yang Diciptakan Kudrat Azali! Ya, sebagaimana suatu kata, begitu keluar dari mulut, secara lahiriah menuju sirna, tetapi dengan izin Allah سُبْحَانَهُ jutaan contohnya tetap ada pada telinga, kertas, serta kitab, dan makna-maknanya tetap ada dalam akal sebanyak jumlah akal, demikian pula mawar itu, begitu tugasnya selesai dalam waktu singkat, layu, mati, lalu pergi. Namun, rupa serta maknanya tetap ada dalam daya ingat seluruh manusia yang melihatnya dan dalam benih-benihnya yang mengandung penerusnya. Maka, baik benih mawar itu maupun daya ingat seolah-olah masing-masing merupakan foto untuk menyimpan rupa, hiasan, serta tempat bunga mawar tersebut, dan tempat tinggal agar ia tetap ada.

Wahai Saudaraku! Manusia pun bukan hewan yang bebas tanpa aturan, berkeliaran, serta tanpa pemilik. Seluruh gerak serta perbuatannya juga ditulis dan dicatat, dan hasil amalnya disimpan agar ia memperoleh tingkat sesuai semuanya pada perhitungan terbesar.