Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Kesimpulannya:

Mesnevî Cahaya · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

Kesimpulannya:

Perusakan yang dilakukan pada setiap musim gugur merupakan penyediaan tempat bagi tamu-tamu baru yang datang pada musim-musim semi berikutnya, dan semacam pembebasan dari tugas serta izin.

Demikian pula, Sang Pembuat Yang Mengelola alam ini memiliki kitab yang jelas, yang tiada sesuatu pun, kecil ataupun besar, tidak tertulis serta tersimpan di dalamnya. Dari bagian-bagian kitab itu, lihatlah hanya bagian keteraturan serta ukuran yang terlihat di alam! Ya, kita melihat bahwa apabila sesuatu yang bertugas keluar dari lingkaran wujud dengan dibebaskan dari tugasnya, Fâthir Yang Hakîm Mencatat banyak rupanya dalam ‘Lauh Mahfuz’, Mengukir riwayat hidupnya dalam benih serta hasilnya, dan Menjaganya tetap ada dalam banyak cermin gaib.

Misalnya, sebagaimana suatu pohon mengandung buahnya, benihnya pun mengandung buah. Maka, sebagaimana buah terdapat dalam tubuh pohon, buah pun terdapat dalam benihnya. Demikian pula, banyak sesuatu yang telah keluar dari wujud tetap ada dalam daya ingat manusia.

Dari contoh-contoh ini dipahami betapa meliputinya hukum penyimpanan serta penjagaan. Ya, dengan perhatian amat besar, Pemilik segala yang ada ini telah Menempatkan segala sesuatu yang berlangsung dalam kerajaan⁠-⁠Nya di bawah penyimpanan serta penjagaan⁠-⁠Nya. Dia memiliki perhatian tak berujung untuk Menjaga Kuasa⁠-⁠Nya. Dalam Rububiyah⁠-⁠Nya terdapat keteraturan serta kerajaan sempurna, sehingga Dia Menulis dan Menyuruh menulis peristiwa paling kecil serta khidmah biasa. Hukum penyimpanan yang demikian meliputi serta penuh perhatian ini tentu menghadap suatu majelis perhitungan yang akan diadakan di alam akhirat.

Hukum penjagaan ini, sebagaimana berlaku pada segala sesuatu, juga meliputi manusia yang merupakan makhluk paling mulia. Sebab, manusia merupakan saksi atas Syuunat serta Keadaan yang berkaitan dengan Rububiyah Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Di tengah jamaah-jamaah makhluk, ia menyerukan keesaan Allah سُبْحَانَهُ. Ia menyaksikan tasbih segala yang ada, serta diberi karunia dan dimuliakan dengan khilafah terbesar. Meskipun memperoleh karunia serta kemuliaan ini, hendaknya manusia tidak menyangka dirinya bebas tanpa aturan dan tanpa tanggung jawab. Ia pun memiliki perhitungan-perhitungan yang amat rumit dalam majelis perhitungan. Setelah lolos darinya, ia akan pergi ke tempat yang layak baginya.

Ya, bagi Kudrat Azali, datangnya kebangkitan sesudah mati seperti datangnya musim semi sesudah musim gugur. Ya, sebagaimana tumbuhan, manusia pun memiliki satu musim gugur serta satu musim semi. Ya, mukjizat-mukjizat Kudrat yang terjadi pada masa lampau merupakan saksi serta bukti pasti bahwa Sang Pembuat Berdaya atas seluruh kemungkinan masa depan.

Demikian pula, Pemilik alam ini telah berulang kali Menjanjikan kebangkitan yang amat mudah serta sangat ringan bagi Kudrat⁠-⁠Nya, dan luar biasa penting serta amat dibutuhkan oleh hamba-hamba⁠-⁠Nya. Diketahui bahwa mengingkari janji bertentangan dengan Kemuliaan Kudrat serta Rahmat Rububiyah. Sebab, melanggar janji merupakan tanda bodoh atau tak berdaya. Hal ini mustahil bagi Zat Yang Qadîr Mutlak serta Hakîm Mutlak.

Selain itu, kebangkitan manusia seperti kebangkitan tumbuhan. Bagaimana orang yang melihat ini mengingkari yang lain? Sebagaimana janji⁠-⁠Nya untuk menciptakan kebangkitan terbukti melalui tawatur seluruh nabi serta kesepakatan orang-orang besar, janji itu juga terbukti melalui bahasa Al-Qur'an al-Karim.

Di antaranya:

Ayat mulia

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ ﻟَﻴَﺠْﻤَﻌَﻨَّﻜُﻢْ ﺍِﻟٰﻰ ﻳَﻮْﻡِ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ لَا ﺭَﻳْﺐَ ﻓ۪ﻴﻪِ ﻭَ ﻣَﻦْ ﺍَﺻْﺪَﻕُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺣَﺪ۪ﻳﺜًﺎ

menjanjikan penciptaan kebangkitan dengan ketegasan serta daya yang besar itu. Namun, sebagian manusia amat tidak tahu bersyukur sehingga tidak membenarkan Firman Mâlik al-Mulk, yang kebenaran dan hakikatnya ditunjukkan oleh seluruh yang ada, dan justru mempercayai ocehan serta kebodohannya sendiri.

Demikian pula, dalam alam ini tampak karya-karya Rububiyah yang amat megah serta sinar-sinar kerajaan gemilang. Ya, kita melihat bahwa bumi yang besar, bersama para penghuninya, dipelihara di bawah Perintah Rububiyah itu seperti hewan jinak, rendah, serta patuh. Sebagaimana matinya pada musim gugur, hidupnya pada musim semi, tarian geraknya seperti seorang Mevlevi, dan seluruh pekerjaan lainnya tunduk kepada Perintah tersebut, pengaturan serta penundukan matahari bersama planet-planetnya dan segala keadaannya yang lain pun terikat kepada Perintah itu.

Padahal, Rububiyah abadi yang agung serta kerajaan kekal ini tidak dapat dibangun di atas landasan dan dasar yang lemah, sirna, serta sementara seperti ini. Keduanya tidak dapat berdiri di atas dunia yang berubah, penuh bencana, sedih, serta fana ini. Dunia ini hanyalah tempat tinggal sementara yang didirikan untuk mencoba serta menguji manusia, memperlihatkan serta mengumumkan mukjizat-mukjizat Kudrat, dalam lingkaran amat besar serta luas dari Rububiyah agung itu. Ia akan dihancurkan lalu diubah agar menjadi bagian dari alam yang amat agung, luas, abadi, serta kekal. Karena itu, bagi Sang Pembuat alam yang menjadi tempat perubahan ini, adanya alam lain yang tetap serta tidak berubah merupakan keniscayaan.

Selain itu, para pemilik ruh bercahaya yang berpindah dari lahir menuju hakikat, para kutub pemilik hati terang, para pemilik akal bercahaya, serta orang-orang yang masuk ke dalam kedekatan Hadirat Ilahi, memberitakan secara pasti bahwa Zat Dzul-Jalâl telah Menyiapkan negeri pahala bagi yang taat dan negeri hukuman bagi yang membangkang, serta memiliki Janji-Janji amat teguh dan Ancaman-Ancaman keras. Diketahui bahwa tidak memenuhi janji merupakan kehinaan. Khâliq alam adalah Mahasuci dari hina serta rendah. Pada saat yang sama, dengan seluruh ayat serta katanya, kainat mendukung jamaah ahli hakikat, nabi, wali, dan asfiya yang memberitakan hakikat itu, serta membenarkan dan menguatkan berita mereka. Wahai manusia! Adakah berita yang lebih benar daripada berita ini dan perkataan yang lebih benar daripada perkataan ini?

Demikian pula, Pengelola alam ini senantiasa Memperlihatkan banyak contoh serta teladan dari medan besar alam akhirat dalam medan bumi yang sempit serta sementara ini.

Di antaranya:

Perlu diperhatikan kebangkitan-kebangkitan tumbuhan yang dilakukan pada permukaan bumi pada musim semi. Ya, dalam enam hari, tubuh-tubuh benih tumbuhan yang bercampur itu, yang telah mati, membusuk, serta hilang, dibangun dan dihadirkan kembali tanpa salah serta tanpa campur aduk, seperti semula. Kudrat Yang Melakukan kebangkitan tumbuhan pada medan bumi itu tidak Pernah Lemah untuk Menciptakan langit serta bumi dalam enam hari. Mungkinkah Dia tidak Melakukan kebangkitan manusia yang bagi Kudrat itu mudah seperti isyarat mata? Ya, apakah kebangkitan manusia yang hanya terdiri dari satu halaman berat bagi Kudrat Yang dalam kebangkitan tumbuhan Mengembalikan tulisan lama dari sekitar tiga ratus ribu halaman yang kata serta tulisannya telah terhapus seluruhnya, bersama-sama, tanpa campur aduk serta tanpa salah, dalam waktu singkat? Hâşâ!

Ayat mulia

ﻓَﺎﻧْﻈُﺮْ ﺍِﻟٰٓﻰ ﺍٰﺛَﺎﺭِ ﺭَﺣْﻤَﺖِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻛَﻴْﻒَ ﻳُﺤْﻴِﻰ الْاَرْضَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ ﺍِﻥَّ ﺫٰﻟِﻚَ ﻟَﻤُﺤْﻴِﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﺗٰﻰ ﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ

yang Diperintahkan Pemilik Kudrat itu melalui bahasa Al-Qur'an bersaksi dengan jelas bahwa perkara ini merupakan hakikat.

Wahai Saudaraku yang Aziz! Dari Pengelolaan serta Syuunat Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq ini dipahami bahwa kebangkitan serta hidup kembalinya tumbuhan, dan pertemuan serta perpisahan lainnya yang dilakukan pada medan bumi, bukan tujuan itu sendiri. Sebab, tidak ada kesesuaian antara perhelatan-perhelatan besar serta penting yang dilakukan pada medan besar alam yang lain dan buah-buah kecil serta tidak tetap yang dibuat dalam waktu singkat ini. Buah-buah kecil ini hanyalah beberapa contoh serta teladan, agar urusan-urusan diterapkan dan dilaksanakan menurut rupa serta hasilnya dalam pertemuan besar tersebut. Maka, rupa hal-hal fana ini akan menghasilkan buah-buah kekal di alam itu.

Demikian pula, kita melihat bahwa Sang Pembuat Yang Abadi, Sultan Yang Kekal, Menampakkan karya-karya Hikmah gemilang, pertolongan nyata, Keadilan luhur, serta Rahmat menyeluruh dalam tempat-tempat yang cenderung runtuh dan medan-medan yang dihukum sirna ini. Manusia yang hatinya belum berkarat dan matanya belum buta memahami dengan ainulyaqin (yakin melalui penglihatan) bahwa tidak mungkin ada Hikmah lebih sempurna daripada Hikmah itu. Tidak mungkin ada pertolongan lebih indah daripada pertolongan yang karya-karyanya terlihat itu. Tiada Keadilan lebih luhur daripada Keadilan yang tanda-tandanya tampak itu. Tidak dapat dibayangkan Rahmat lebih meliputi daripada Rahmat yang buah-buahnya terlihat itu.

Maka, apabila di negeri sultan itu tidak terdapat tempat-tempat tetap, rumah-rumah kokoh, serta penghuni yang tetap dan menetap, orang-orang yang memiliki hati serta pikiran harus mengingkari hikmah, pertolongan, belas kasih, serta keadilan yang terlihat ini. Pada saat yang sama, hal ini mengharuskan Pemilik Tindakan-Tindakan penuh Hikmah itu—hâşâ— bertindak sia-sia serta zalim. Hal ini mustahil, karena mengubah hakikat menjadi kebalikannya.

Wahai Saudaraku yang mendengarkan perkataanku! Jangan menyangka bahwa dalil-dalil tentang adanya serta terjadinya kebangkitan terbatas pada bagian dan tanda-tanda yang disebutkan ini. Hakikat yang ditarik dari tanda-tanda tak berujung yang ditunjukkan Al-Qur'an al-Karim adalah bahwa Khâliq kita akan Memindahkan kita dari tempat-tempat pameran dunia sementara ini ke pusat tetap Rububiyah⁠-⁠Nya yang abadi. Dia akan Mengubah negeri yang mengalir ini menjadi negeri yang abadi.

Jangan pula menyangka bahwa di antara Asmaul Husna, hanya Nama-Nama ‘Hakîm, Karîm, Rahîm, 'Adil, Hafîzh’ yang mengharuskan kebangkitan serta akhirat. Bahkan, setiap Nama yang berkaitan dengan pengaturan kainat mengharuskan akhirat serta kebangkitan.

Kesimpulannya:

Kebangkitan merupakan hakikat yang tentangnya Khâliq Yang Agung, dengan Jalal, Jamal, serta Asma⁠-⁠Nya; Al-Qur'an dengan ungkapan mukjizat, yang memuat kesepakatan seluruh kitab samawi, nabi, wali, serta asfiya; dan Kebanggaan kainat Hazret-i Muhammad ﷺ—makhluk paling sempurna dan manusia paling mulia—sepakat memutuskan bahwa kebangkitan akan datang. Kainat ini pun, dengan seluruh tanda serta katanya, bersaksi atas wujud serta penciptaan kebangkitan. Bahkan, setiap bagian, baik juz'i maupun kulli, bagian maupun keseluruhan, memiliki dua wajah. Dengan satu wajah ia menghadap Khâliq dan menunjukkan Wahdaniyah. Dengan wajah lainnya ia menghadap akhirat dan menghendaki wujud kebangkitan serta akhirat.

Misalnya, sebagaimana seorang manusia menunjukkan Wujud yang Wajib serta keesaan Sang Pembuat melalui wujud dan indahnya seni pada dirinya, kematian serta sirnanya yang amat cepat, padahal harapan serta bakatnya membentang hingga abadi, menunjukkan wujud akhirat. Keteraturan Hikmah, hiasan pertolongan, penghargaan Rahmat, serta ukuran Keadilan yang terlihat dalam seluruh yang ada, sebagaimana bersaksi atas Wujud serta keesaan Sang Pembuat Yang Hakîm, juga menunjukkan penciptaan serta wujud akhirat dan kebahagiaan abadi.

ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺍﺟْﻌَﻠْﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﺍَﻫْﻞِ ﺍﻟﺴَّﻌَﺎﺩَﺓِ ﻭَﺍﺣْﺸُﺮْﻧَﺎ ﻓ۪ﻰ ﺯُﻣْﺮَﺓِ ﺍﻟﺴُّﻌَﺪَﺍﺀِ ﻭَ ﺍَﺩْﺧِﻠْﻨَﺎ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﻣَﻊَ ﺍﻟﺴُّﻌَﺪَﺍﺀِ ﺑِﺸَﻔَﺎﻋَﺔِ ﻧَﺒِﻴِّﻚَ ﺍﻟْﻤُﺨْﺘَﺎﺭِ ﻓَﺼَﻞِّ ﻭَﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻛَﻤَﺎ ﻳَﻠ۪ﻴﻖُ ﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻚَ ﻭَ ﺑِﺤُﺮْﻣَﺘِﻪ۪ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ