Risalah Nur — Bahasa Indonesia

KATRE (TITIK AIR)

Mesnevî Cahaya · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

KATRE (TITIK AIR)

Dari Lautan Tauhid

Penyampaian Maksud

Diketahui bahwa menurut takdir, manusia menempuh banyak jalan dan di jalan itu menjumpai banyak musibah serta musuh. Kadang ia selamat, kadang ia tenggelam. Aku pun, dengan dorongan Takdir Ilahi, telah masuk ke suatu jalan yang amat menakjubkan, dan berjumpa banyak bencana serta musuh. Namun, dengan menjadikan lemah serta fakirku sebagai jalan, aku berlindung kepada Rabbku. Pertolongan Azali menyerahkan aku kepada Al-Qur'an dan menjadikan Al-Qur'an guru bagiku.

Melalui pelajaran-pelajaran yang kuambil dari Al-Qur'an, sebagaimana aku selamat dari bencana-bencana tersebut, aku juga keluar sebagai pemenang dari peperanganku melawan nafsu serta setan. Bentrokan pertama dengan nafsu serta setan, yang mewakili seluruh orang sesat, terjadi pada kata-kata

ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻭَ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻭَ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﻛْﺒَﺮُ ﻭَ لَا ﺣَﻮْﻝَ ﻭَ لَا ﻗُﻮَّﺓَ اِلَّا ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ.

Dengan berlindung dalam benteng kata-kata ini, aku mulai berbantah dengan musuh-musuh itu. Pada setiap kata terjadi tiga puluh kali pertempuran terbuka. Setiap kata serta setiap batasan yang tertulis dalam risalah ini merupakan isyarat kepada suatu kemenangan yang kuperoleh.

Hakikat-hakikat yang tertulis dalam risalah ini ditulis sedemikian rupa sehingga tidak tersisa kemungkinan dalam bayangan bagi kebalikannya. Suatu hakikat panjang, bersama dalilnya, diisyaratkan dengan satu batasan atau sifat.

Peringatan:

Arus zaman ini telah menjerumuskan banyak orang sepertiku ke dalam bahaya-bahaya dalam bayangan. İnşâallah, aku berharap karya ini akan menyelamatkan mereka dengan izin Allah سُبْحَانَهُ.

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻭَ الصَّلَاةُ ﻋَﻠٰﻰ ﻧَﺒِﻴِّﻪ۪

(Risalah ini disusun atas empat bab, satu penutup, dan satu

pendahuluan.)

PENDAHULUAN

Dalam empat puluh tahun usiaku dan tiga puluh tahun belajarku, aku hanya mempelajari empat kata serta empat pernyataan. Semuanya akan dijelaskan secara rinci. Di sini hanya akan diisyaratkan secara ringkas.

Yang dimaksud dengan kata-kata itu ialah: makna harfi, makna ismi, niat, dan pandangan. Demikianlah:

Segala sesuatu selain Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, yakni kainat, harus dipandang dengan makna harfi dan atas nama⁠-⁠Nya. Memandangnya dengan makna ismi dan atas nama sebab-sebab adalah keliru.

Ya, segala sesuatu memiliki dua segi. Satu segi menghadap Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, sedangkan segi lainnya menghadap makhluk. Segi yang menghadap makhluk harus seperti tirai berenda atau sepotong kaca bening, yakni tirai yang memperlihatkan di bawahnya segi penyandaran yang menghadap Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Karena itu, ketika nikmat dipandang, Mun'im harus hadir dalam benak serta pikiran; ketika seni dipandang, Sang Pembuat; dan ketika sebab-sebab dipandang, Pemberi Pengaruh Hakiki.

Demikian pula, pandangan serta niat mengubah hakikat segala sesuatu. Keduanya mengubah dosa menjadi pahala dan pahala menjadi dosa. Ya, niat mengubah gerak biasa menjadi ibadah, dan mengubah ibadah yang dilakukan untuk pamer menjadi dosa. Memandang hal-hal materi atas nama sebab-sebab adalah bodoh; jika atas nama Allah سُبْحَانَهُ, itu adalah makrifat Ilahi.

Pernyataan Pertama:

ﺍِﻧّ۪ﻰ ﻟَﺴْﺖُ ﻣَﺎﻟِﻜ۪ﻰ

Aku bukan pemilik diriku. Pemilikku hanyalah Pemilik kainat. Namun, aku memandang diriku sebagai pemilik agar mengetahui Sifat-Sifat Pemilik Hakiki serta, hingga suatu tingkat, hakikat dan batas Sifat-Sifat tersebut. Ya, melalui batas-batasku yang dibayangkan serta terbatas itu, aku mengetahui batas-batas tak berujung dari Sifat-Sifat Pemilik Hakiki dalam satu segi.

Pernyataan Kedua:

ﺍَﻟْﻤَﻮْﺕُ ﺣَﻖٌّ Mati adalah haq. Ya, hidup serta tubuh ini tidak mampu menjadi tiang bagi dunia besar ini. Sebab, keduanya bukan besi serta batu, melainkan tersusun dari hal-hal berbeda seperti daging, darah, serta tulang. Meskipun dalam waktu singkat terdapat kesesuaian serta pertemuan di antara semuanya, perpisahan serta buyarnya senantiasa dapat diperkirakan.

Pernyataan Ketiga:

ﺭَﺑّ۪ﻰ ﻭَﺍﺣِﺪٌ Rabbku satu. Ya, seluruh bahagia setiap orang bergantung pada penyerahan diri kepada satu Rabb Yang Rahîm. Jika tidak, ia membutuhkan banyak rabb, sebab dari segi cakupannya yang luas, manusia memiliki kebutuhan serta hubungan dengan segala sesuatu. Terhadap segala sesuatu, ia memiliki rasa terpengaruh serta sakit, disadarinya ataupun tidak. Ini merupakan keadaan tepat seperti neraka. Namun, menyerahkan diri kepada Rabb Yang Wâhid, Yang sebab-sebab yang dibayangkan sebagai para rabb hanyalah tirai bagi Tangan Kudrat⁠-⁠Nya, merupakan keadaan surgawi.

Pernyataan Keempat:

Keakuan yang diungkapkan dengan ﺍَﻧَﺎ, yakni memberi suatu wujud serta nilai kepada diri sendiri. Aku ini merupakan pusat dan satuan pembanding untuk mengetahui Sifat-Sifat serta Syuunat Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq.

BAB PERTAMA

Merupakan penjelasan

لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ.

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ﻋَﻠٰﻰ ﺳَﻴِّﺪِ ﺍﻟْﻤُﺮْﺳَﻠ۪ﻴﻦَ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪ۪ ﺍَﺟْﻤَﻌ۪ﻴﻦَ

Aku menjadikan segala sesuatu yang melihat serta terlihat sebagai saksi bahwa aku membenarkan dengan hati dan mengakui dengan lisan bahwa tidak terdapat Allah سُبْحَانَهُ yang haq selain Allah سُبْحَانَهُ.

Allah سُبْحَانَهُ Yang Hazret-i Muhammad ﷺ merupakan saksi benar serta bukti yang berbicara atas Wujud⁠-⁠Nya yang Wajib dan bahwa Dia adalah Wâhid, Ahad, Fard, serta Shamad.

Muhammad ﷺ yang, dengan memperoleh kesepakatan serta pembenaran para nabi dan rasul, mendapat gelar pemimpin mereka; dan dengan memperoleh persetujuan serta peneguhan mereka, mendapat sebutan imam para wali serta ulama.

Muhammad ﷺ yang memiliki ayat-ayat gemilang, mukjizat-mukjizat pasti, tabiat-tabiat luhur, serta akhlak mulia, sehingga menjadi tempat turunnya Wahyu Ilahi.

Muhammad ﷺ yang, dengan melihat serta mengunjungi alam gaib dan malakut, menyaksikan ruh-ruh serta berbicara dengan malaikat, memperoleh tugas membimbing jin dan manusia.

Muhammad ﷺ yang dengan pribadi maknawinya merupakan daftar isi bagi kesempurnaan kainat, serta memiliki syariat yang memuat kaidah-kaidah segala bahagia dan peradaban.

Muhammad ﷺ yang, selagi berada dalam alam yang terlihat, memberitakan hal-hal gaib sebagai pembawa kabar gembira serta pemberi peringatan. Dengan seluruh dayanya, kesungguhan sempurna, kepercayaan, tenteram, serta iman luhur, beliau mengumumkan dan memberitahukan ‘agama tauhid’ kepada umat manusia dengan

لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ.

Demikian pula, Allah سُبْحَانَهُ Yang salah satu saksi atas Wajib Ada serta Wujud⁠-⁠Nya, Jalal serta Jamal⁠-⁠Nya, dan bahwa Dia Wâhid serta Ahad, ialah ‘Furqan yang penuh Hikmah’.

Furqan yang penuh Hikmah, yang memperoleh pembenaran seluruh kitab para nabi.

Furqan yang penuh Hikmah, kitab yang memancarkan cahaya dari keenam sisinya, yang seluruh akal serta hati sepakat menerima dan membenarkan hukum-hukumnya.

Furqan yang penuh Hikmah, yang bagi para rasul penerima wahyu merupakan wahyu murni, dan bagi ahli kasyaf serta ilham merupakan hidayah itu sendiri. Ia merupakan sumber iman serta tempat berkumpulnya hakikat. Hukum-hukumnya dikuatkan dengan dalil-dalil akal dan dibenarkan melalui kesaksian fitrah sehat. Ia adalah lisan gaib, yang dalam alam yang terlihat memerintahkan serta mengajak umat manusia kepada tauhid dengan

ﻓَﺎﻋْﻠَﻢْ ﺍَﻧَّﻪُ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ.

Allah سُبْحَانَهُ Yang alam, yang disebut kitab besar ini, bersaksi atas Wujud⁠-⁠Nya yang Wajib serta keesaan⁠-⁠Nya dengan seluruh tulisan, bab, halaman, baris, kalimat, serta hurufnya. Kainat, yang disebut manusia besar ini, pun menunjukkan⁠-⁠Nya dengan seluruh anggota, bagian tubuh, sel, zarah, sifat, serta keadaannya.

Yakni, kainat ini, dengan seluruh jenis yang dimuatnya,

لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ

dan dengan unsur-unsur utama alam-alam itu,

لَا ﺧَﺎﻟِﻖَ اِلَّا ﻫُﻮَ

dan dengan anggota-anggota unsur-unsur utama itu,

لَا ﺻَﺎﻧِﻊَ اِلَّا ﻫُﻮَ

dan dengan bagian-bagian anggota itu,

لَا ﻣُﺪَﺑِّﺮَ اِلَّا ﻫُﻮَ

dan dengan unsur-unsur juz'i dari bagian-bagian itu,

لَا ﻣُﺮَﺑِّﻰَ اِلَّا ﻫُﻮَ

dan dengan sel-sel unsur-unsur juz'i itu,

لَا ﻣُﺘَﺼَﺮِّﻑَ اِلَّا ﻫُﻮَ

dan dengan zarah-zarah sel-sel itu,

لَا ﺧَﺎﻟِﻖَ اِلَّا ﻫُﻮَ

dan dengan eter yang merupakan ladang zarah-zarah itu, mengucapkan

لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ.

Dengan seluruh jenis, unsur utama, anggota, bagian, sel, zarah, serta eternya, melalui lima puluh lima bahasa, ia bersaksi serta menunjukkan Wujud⁠-⁠Nya yang Wajib dan keesaan⁠-⁠Nya. Rincian bahasa-bahasa ini akan datang. Kini akan kusebutkan secara ringkas. Demikianlah:

Keteraturan dalam susunan kainat, aturan dalam berlangsungnya keadaan, hal luar biasa dalam rupa, hiasan dalam ukiran, hikmah-hikmah luhur, perbedaan serta kemiripan dalam segala sesuatu, saling membantu dalam benda tak bernyawa, saling mendukung di antara hal-hal yang berjauhan, Hikmah umum, pertolongan sempurna, Rahmat luas, rezeki umum, hidup, pengelolaan, pengalihan, perubahan, pengaturan, kemungkinan, munculnya wujud dari tiada, kebutuhan, lemah, mati, bodoh, ibadah, tasbih, doa, dan banyak sifat lainnya, melalui bahasa-bahasanya bersaksi atas Wajib Ada dan Wujud serta Sifat-Sifat Sempurna Khâliq Yang Qadîm dan Qadîr. Semuanya juga membaca Asmaul Husna, bertasbih kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, menafsirkan Al-Qur'an yang penuh Hikmah, dan membenarkan berita Rasul Yang Paling Mulia ﷺ.

Kita beralih kepada rincian bahasa-bahasa terdahulu. Demikianlah:

Pengaturan, aturan, serta keseimbangan yang terlihat dalam kainat, dengan menunjukkan Wujud yang Wajib dari Khâliq Yang ukuran serta aturan berada dalam Genggaman Kuasa⁠-⁠Nya, membaca kalimat

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ.

Demikian pula, keteraturan serta kesinambungan berkuasa dalam kainat. Kedua sifat ini, dengan bersaksi atas keesaan Pengelola dan bahwa Dia satu, mengumumkan hakikat

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ.

Demikian pula, Kudrat Yang Menulis halaman langit dengan matahari serta bintang-bintang adalah satu dengan Kudrat Yang Menulis halaman lebah serta semut dengan sel-sel dan zarah. Karena itu, dengan mengumumkan perkara melalui

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ,

keduanya menunjukkan serta bersaksi bahwa Khâliq satu.

Demikian pula, misalnya, saling menjawab serta membantu pada hal-hal yang tak bernyawa dan berbeda seperti awan serta bumi, yakni menjawab kebutuhan satu sama lain, dan saling mendukungnya benda-benda langit yang amat jauh dari matahari, seperti planet-planet, dengan matahari atau satu sama lain, bersaksi bahwa segala sesuatu berada dalam pengelolaan satu Pengatur, lalu mengumumkannya dengan

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ.

Demikian pula, kemiripan pada karya-karya teratur di langit seperti bintang-bintang, serta hubungan pada bunga-bunga dan hewan-hewan bumi yang saling menyerupai, dengan menunjukkan bahwa Khâliq satu, mengumumkan kesaksiannya dengan

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ.

Demikian pula, setiap makhluk hidup merupakan tempat tampak tajalli banyak Asma serta Sifat. Misalnya, ketika suatu makhluk hidup diwujudkan, ia menjadi tempat tampak manifestasi Asma Bâri'; ketika dibentuk, manifestasi Sifat Musawwir; ketika diberi makanan, manifestasi Asma Razzâq; ketika sembuh dari penyakit, tajalli Asma Syâfî; dan demikian seterusnya, banyak Asma serta Sifat yang saling mendukung dalam pengaruh, tetapi berbeda dalam karya. Karena sasaran Asma serta Sifat ini satu, tentu Zat Yang menyandang Asma itu pun satu.

Setiap makhluk hidup, dengan menjadi tempat tampak ini, mengumumkan kesaksiannya bahwa Khâliq satu dengan

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ.

Demikian pula, hubungan antara tata surya serta mata lebah dan hubungan di antara keduanya dari segi keadaan mengumumkan petunjuk keduanya bahwa mereka merupakan ukiran satu Pengukir dengan

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ.

Demikian pula, daya tarik di antara zarah-zarah merupakan saudara daya tarik di antara matahari serta bintang-bintang; keduanya menampakkan bahwa kedua kelompok itu merupakan tulisan satu pena dengan

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ.

Demikian pula, keteraturan yang terlihat dalam susunan serta benda-benda tersusun terjadi dengan penempatan setiap zarah dalam benda-benda itu pada tempat yang layak. Karena itu, menempatkan zarah-zarah tersebut pada tempat layaknya dengan syarat hubungan di antara mereka tidak rusak, hanya khusus bagi Pemilik Kudrat Yang dapat Menciptakan seluruh benda tersusun itu.

Dengan bahasa keteraturan dalam zarah-zarah serta keadaan ini, kainat mengucapkan Allahu ekber dan membaca

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ.

Demikian pula, penulisan ciri pribadi serta bentuk khas satu individu dari suatu jenis dengan pena Kudrat, yang memastikan perbedaannya dari seluruh individu, mengharuskan seluruh individu, misalnya dari umat manusia, terlihat dan diperhatikan dalam Pandangan Kudrat. Sebab, satu individu akan berbeda dari seluruh individu melalui tanda pembeda dirinya. Jika seluruh individu tidak hadir, terdapat kemungkinan tidak ada perbedaan dalam bentuk khas serta tanda-tanda mereka. Kemungkinan ini batil. Maka, Khâliq satu individu merupakan Khâliq suatu jenis.

Demikian pula, menjadi Khâliq suatu jenis bergantung pada menjadi Khâliq suatu kelompok jenis pula. Pada akhirnya, perkara berakhir pada

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ.

Demikian pula, orang-orang yang pandangannya amat pendek menganggap penyandaran penciptaan kepada Wâjibul Wujûd sebagai sesuatu yang jauh, aneh, serta berat, lalu menuju pengingkarannya. Padahal, apabila disandarkan kepada sebab-sebab, jauh, aneh, serta berat yang mereka bayangkan berubah menjadi hakikat berlipat-lipat. Sebab, bagi Wâjibul Wujûd hal itu lebih mudah. Misalnya, munculnya beberapa hal dari satu orang lebih mudah daripada munculnya satu hal dari beberapa orang. Misalnya, apabila penciptaan lebah tidak disandarkan kepada Kudrat Ilahi, kesulitan tak berujung akan terjadi.

Selain itu, keadaan serta manfaat yang dibuat satu bagi banyak hanya dapat dilakukan banyak setelah banyak kesukaran. Misalnya, keadaan teratur yang diberikan seorang panglima kepada sangat banyak prajurit, apabila diserahkan kepada prajurit-prajurit itu, tidak dapat mereka lakukan dengan mudah. Maka, meskipun dalam penyandaran kepada Khâliq Yang Wâhid secara lahiriah terdapat jauh serta aneh, dalam penyandaran kepada sebab-sebab serta banyak, terdapat rangkaian hal-hal mustahil yang berlipat. Demikianlah:

Pada setiap zarah harus dibayangkan Sifat-Sifat Wâjibul Wujûd, sebab sempurnanya ukiran serta indahnya seni menuntut Sifat-Sifat itu. Dalam Wujud yang Wajib, yang tidak menerima persekutuan, harus pula dibayangkan sekutu-sekutu tak berujung. Setiap zarah pun harus menjadi penguasa mutlak dan sekaligus yang dikuasai secara mutlak bagi seluruh zarah, sebab aturan serta keteraturan menuntut demikian. Pada setiap zarah harus pula terdapat kesadaran yang meliputi serta ilmu sempurna, sebab di antara zarah-zarah terdapat saling mendukung serta seimbang, dan saling mendukung serta seimbang ini hanya terjadi dengan ilmu.

Demikianlah banyaknya hal mustahil dalam menyandarkan segala sesuatu kepada sebab-sebab.

Namun, ketika disandarkan kepada Wâjibul Wujûd, Pemilik Hakiki, zarah-zarah itu mengambil keadaan sebagai berikut:

Seperti tetes-tetes air yang menjadi tempat tampak pancaran, pantulan, serta kilau matahari, zarah-zarah itu juga menjadi tempat tampak tajalli bercahaya, manifestasi, serta kilau Kudrat Azali. Dengan Izin Pemilik Kudrat, melalui Ilmu serta Kehendak⁠-⁠Nya yang tak berujung, bentuk-bentuk serta susunan-susunan dibuat dalam zarah-zarah tersebut. Karena itu, satu kilau Kudrat Azali, karena memiliki ciri Kudrat, lebih berpengaruh daripada ribuan kilau sebab-sebab serta penguasa sebab-sebab. Sebab, pada yang terakhir ini terdapat pemecahan serta pembagian, sedangkan pada Kudrat Azali tidak.

Demikian pula, tidak terdapat beban serta usaha keras, sebab Kudrat melekat pada Zat Sang Pembuat, bukan datang dari luar. Lemah tidak dapat menyusup ke dalam Kudrat⁠-⁠Nya. Bagi satu kilau Kudrat, zarah serta matahari sama. Yang besar tidak lebih berat serta sukar daripada yang kecil.

Demikian pula, karena sisi lahir serta batin hal-hal seperti hidup, wujud, dan cahaya adalah bening, ketika semuanya diciptakan, pengelolaan Kudrat terlihat di bawah perantara sebab-sebab. Ya, apabila keadaan serta tingkat-tingkat hidup diperhatikan, pengelolaan Kudrat terlihat.

Misalnya, suatu tangkai tipis serta tak bernyawa menjadi perantara bagi pembuatan setandan anggur; lewatnya sinar melalui suatu lubang kecil menjadi perantara bagi penggambaran pantulan matahari pada sepotong kaca; dan suatu korek api menjadi perantara bagi penerangan suatu rumah. Jelas bahwa dalam pekerjaan besar serta menakjubkan yang dilakukan di bawah sebab-sebab sederhana seperti ini, pengelolaan Kudrat tampak seperti siang hari.

Demikian pula, penderitaan yang dihasilkan kesesatan yang muncul dari pengingkaran, yang timbul dari anggapan jauh serta aneh dalam penyandaran segala sesuatu kepada sebab-sebab, memaksa seluruh akal serta ruh berlari dan berlindung kepada Wâjibul Wujûd. Sebab, hanya dengan Kudrat serta Kehendak⁠-⁠Nya setiap kesulitan terselesaikan dan pintu-pintu tertutup terbuka. Dengan mengingat⁠-⁠Nya, hati menjadi tenteram. Karena itu, selamat serta bebas dari bahaya hanya melalui berlindung kepada Allah سُبْحَانَهُ.

ﻓَﻔِﺮُّٓﻭﺍ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ٭ اَلَا ﺑِﺬِﻛْﺮِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺗَﻄْﻤَﺌِﻦُّ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮﺏُ

Dengan bahasa hakikat ini, kainat mengucapkan

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ.

Demikian pula, sebab-sebab lahiriah amat sederhana, terbatas, fakir, tak bernyawa, tanpa kesadaran, serta tanpa kehendak; bagian yang berupa hukum pun merupakan hal-hal yang ditetapkan dalam pikiran serta dibayangkan. Ukiran dan hiasan luar biasa, serta seni aneh dan menakjubkan yang terdapat pada hasil-hasil, sama sekali tidak memiliki kesesuaian dengan sebab-sebab tak bernilai seperti itu. Karena itu, misalnya, menyandarkan bentuk-bentuk teratur serta tertib dalam sel-sel tubuh kepada makan roti; ukiran-ukiran teratur tak terbatas yang tertulis dalam daya ingat kepada lipatan-lipatan pada telinga serta kepala; dan terbentuknya huruf serta munculnya rupa pikiran dalam berbicara dan berpikir kepada sebab-sebab seperti gerak lidah serta pikiran, merupakan putusan yang bodoh. Hasil-hasil seperti itu hanya menghendaki Kudrat, Ilmu, serta Kehendak yang tak berujung.

Berdasarkan hakikat ini, terbukti bahwa dalam alam serta wujud, Pemberi Pengaruh Hakiki hanyalah Khâliq Yang Qadîr, Pemilik Kudrat tak berujung. Sebab-sebab hanyalah alasan, dan perantara-perantara hanyalah tirai. Ciri serta sifat khas pun merupakan nama dan sebutan bagi tajalli serta kilau Kudrat.

Hal-hal yang disebut hukum serta kaidah pun hanyalah nama bagi tajalli Ilmu, Kehendak, serta Perintah pada jenis-jenis. Ya, hukum berasal dari Perintah, kaidah berasal dari Kehendak.

Dengan bahasa hasil-hasil, kainat mengumumkan Khâliq Hakiki melalui

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ.

Demikian pula, karena ukiran-ukiran yang tertulis secara luar biasa pada halaman kainat dengan perhatian serta ketelitian amat besar, sendiri-sendiri maupun bersama-sama, menghendaki Kudrat tak berujung, kainat juga dengan niscaya menunjukkan Wujud Wâjibul Wujûd, Khâliq Yang Qadîr. Karena pengaruh Kudrat Khâliq itu tiada berakhir, dengan nyata Dia tidak Membutuhkan sekutu-sekutu; Dia tidak Membutuhkan sekutu.

Selain itu, sekutu pada dirinya sendiri mustahil. Tidak mungkin satu pun ada. Sebab, pengaruh Kudrat Sempurna tak berujung. Jika terdapat sekutu, pengaruh Kudrat menjadi terbatas. Meskipun tidak terbatas, ia menjadi terbatas serta terputus. Hal ini mustahil dari beberapa segi. Maka, berdiri sendiri serta tunggal merupakan ciri yang melekat pada Keilahian.

Selain itu, tiada tempat, kedudukan, atau kemungkinan pada dirinya sendiri bagi sekutu. Mengenai wujud sekutu, tiada dalil, kemungkinan yang berasal dari dalil, ataupun tanda; pada sisi mana pun dari kainat tidak terdapat tempat bagi sekutu. Sebaliknya, apa pun serta segi mana pun yang dipandang, cap tauhid terlihat. Maka, Pemberi Pengaruh Hakiki hanyalah Allah سُبْحَانَهُ.

Ya, meskipun manusia merupakan yang paling mulia dalam kainat dan memiliki pilihan paling luas di antara sebab-sebab, dalam tindakan pilihannya yang paling biasa seperti makan serta minum, hanya satu dari seratus bagian dapat menjadi milik manusia. Jika manusia yang merupakan penguasa sebab-sebab demikian terikat tangannya serta tanpa pengaruh, apa yang dapat dilakukan sebab-sebab tak bernyawa lainnya?

Dengan bahasa wujud serta keesaan yang muncul dari hakikat ini, kainat membaca

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ.

Demikian pula, saling mendukung di antara Asma Ilahi yang bertajalli pada seluruh bagian serta zarah kainat, yakni bertajalli dengan bersandar satu sama lain, dan percampuran, yakni memperlihatkan manifestasi pada segala sesuatu dengan berpadu seperti tujuh warna, bersaksi bahwa sebagaimana karya-karyanya satu, Zat Yang menyandang Asma itu pun Wâhid serta Ahad. Dengan bahasa kesaksian ini, kainat mengucapkan

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ

dan mengumumkannya.

Demikian pula, tampak suatu Hikmah umum yang meliputi seluruh bagian yang dimuat kainat, kulli maupun juz'i. Hikmah umum ini memuat Sifat-Sifat Maksud, Kesadaran, Kehendak, serta Pilihan. Sifat-Sifat ini menunjukkan Wujud yang Wajib dari Hakîm Yang Mutlak. Sebab, kainat merupakan yang dikenai tindakan serta menerima pengaruh. Sebagaimana yang dikenai tindakan tidak mungkin tanpa pelaku, satu bagian tak bernyawa dari yang dikenai tindakan pun tidak dapat menjadi pelaku.

Demikian pula, pertolongan sempurna bersinar pada halaman kainat. Pertolongan ini, dengan Sifat-Sifat Hikmah, Karunia, serta Memperindah yang dimuatnya, menunjukkan Wujud yang Wajib dari Khâliq Yang Karîm. Sebab, pemberian nikmat serta karunia tidak mungkin tanpa pemberi nikmat serta pemberi karunia.

Demikian pula, tampak belas kasih amat luas yang memuat kainat bersama seluruh isinya. Belas kasih ini memuat banyak Sifat seperti Rahmat, Hikmah, pertolongan, serta pemberian nikmat. Sifat-Sifat ini bersaksi atas Wujud yang Wajib dari Rahmân Yang Rahîm. Sebab, sifat tidak mungkin tanpa yang memiliki sifat.

Demikian pula, terdapat rezeki umum yang dibagikan kepada makhluk-makhluk hidup serta bernyawa. Sifat rezeki ini, dengan mengharuskan Sifat-Sifat terdahulu, menunjukkan Wujud Razzâq Yang Rahîm. Sebab, tindakan tidak mungkin tanpa pelaku.

Demikian pula, terdapat hidup yang tersebar dalam seluruh kainat. Sifat hidup ini pun, dengan menghendaki Sifat-Sifat terdahulu, menunjukkan Wujud yang Wajib dari Khâliq Yang Hayy dan Qayyûm, Muhyî serta Mumît.

Saudaraku! Lima hakikat yang berpadu seperti tujuh warna ini dengan nyata menunjukkan serta bersaksi bahwa bagi kainat harus ada Rabb Yang Qadîr, 'Alîm, Hakîm, Karîm, Rahîm, Rahmân, Razzâq, Hayy serta Qayyûm. Kainat mengumumkan kesaksian-kesaksiannya ini dengan

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ.

Demikian pula, pada wajah kainat terdapat keindahan yang datang dari luar, yang menunjukkan Keindahan melekat pada Zat; keindahan penuh pilu, yang menunjukkan Keindahan bebas dari materi; cinta tulus, yang mengisyaratkan Kekasih Hakiki; serta rasa tertarik dan terpikat, yang mengisyaratkan Hakikat Penarik yang Menarik seluruh rahasia. Kainat mengajarkan serta memberitahukan dengan

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ

bahwa hakikat-hakikat ini bersaksi bahwa bagi kainat harus dan niscaya ada Rabb Yang Wâjibul Wujûd.

Demikian pula, terdapat pengelolaan pada individu-individu seluruh jenis. Pengelolaan ini demi pekerjaan berguna serta manfaat. Pada tumbuhan serta hewan terdapat pergantian dan perubahan. Ini pun demi banyak manfaat. Pada bola bumi terdapat perubahan dari segi malam serta siang. Ini juga demi tujuan-tujuan besar. Bersama aturan serta keteraturan yang berkuasa dalam kainat, hakikat-hakikat yang muncul seperti tujuh warna dalam kegiatan ini dengan nyata menunjukkan Wujud yang Wajib dari Khâliq Pemilik seluruh Sifat Sempurna, seperti Pengelola Yang Hakîm, Qadîr, serta Pelaku Yang Memilih. Kainat menyampaikan petunjuk ini dengan

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ.

Demikian pula, munculnya wujud dari tiada yang meliputi seluruh jenis, bagian, serta zarah yang dimuat kainat menghendaki Yang Memunculkan serta Yang Menciptakan.

Demikian pula, meskipun kainat bersama seluruh bagiannya memiliki kemampuan, peluang, serta kemungkinan untuk bentuk dan keadaan tak berujung, ia mengambil bentuk saat ini. Tentu hal itu terjadi dengan Pilihan, Kehendak, serta Pengutamaan Khâliq Yang Wâjibul Wujûd.

Demikian pula, memenuhi serta menolong pekerjaan dan kebutuhan yang diperlukan jenis-jenis serta bagian-bagian kainat, yang berada dalam fakir dan kebutuhan besar, pada waktu-waktu yang sesuai

ﻣِﻦْ ﺣَﻴْﺚُ لَا ﻳَﺤْﺘَﺴِﺐُ,

menunjukkan Wujud yang Wajib dari Ar-Razzâq Yang Mahamulia.

Demikian pula, kainat berada dalam kebutuhan-kebutuhan amat besar, umum serta khusus, materi serta maknawi. Ia tak berdaya memenuhi hal serta pekerjaan yang diperlukan bagi wujud maupun terus adanya. Terpenuhinya permohonan seperti ini tanpa kesadarannya tentu berasal dari Sang Pembuat Yang Hakîm, Rahmân serta Rahîm, dan Wâjibul Wujûd.

Demikian pula, dalam alam serta wujud terdapat tingkat kemungkinan, banyak, serta menerima pengaruh. Tingkat kemungkinan memandang tingkat wajib dan mengharuskannya. Tingkat banyak memandang tingkat satu dan menghendakinya. Tingkat menerima pengaruh bergantung pada tingkat bertindak. Saling mengharuskan di antara tingkat-tingkat ini dengan niscaya menghendaki serta mengharuskan Khâliq Yang Wajib, Satu, serta Aktif Bertindak.

Demikian pula, kita melihat bahwa sesuatu dalam kainat tidak berhenti bergerak sebelum mencapai batas sempurna. Ketika mencapai sempurnanya, ia meninggalkan gerak dan tinggal dalam diam. Dari sini dipahami bahwa wujud menghendaki kesempurnaan, dan kesempurnaan menuntut tetap ada. Maka, terwujudnya wujud adalah melalui kesempurnaan, dan sempurnanya kesempurnaan terjadi melalui terus ada. Maka, terdapat Zat Yang Wajib dan Abadi, Sempurna Mutlak, Yang seluruh kesempurnaan makhluk yang mungkin ada merupakan bayangan bagi manifestasi Cahaya Kesempurnaan⁠-⁠Nya. Maka, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq adalah Sempurna Mutlak dalam Zat, Sifat-Sifat, serta Tindakan-Tindakan⁠-⁠Nya.

Demikian pula, sisi batin segala sesuatu lebih halus serta lebih bening daripada sisi lahirnya. Ini menunjukkan bahwa Sang Pembuat tidak di luar serta jauh dari sesuatu itu. Dari segi aturan serta keseimbangannya dengan hal-hal lainnya dipastikan oleh Sang Pembuat, hal itu juga mengharuskan Sang Pembuat tidak berada di dalam sesuatu tersebut. Maka, jika zat suatu ciptaan dipandang, Ilmu serta Hikmah Sang Pembuat terlihat. Jika dipandang bersama yang lain, terlihat bahwa Sang Pembuat memiliki Pendengaran serta Penglihatan yang melampaui seluruhnya. Dari hakikat ini dipahami bahwa Sang Pembuat seluruh alam, sebagaimana tidak berada di dalam alam, juga tidak berada di luar alam. Dengan Ilmu serta Kudrat⁠-⁠Nya, sebagaimana Dia berada di dalam segala sesuatu, Dia juga berada di atas segala sesuatu. Sebagaimana Dia Melihat satu hal, Dia juga Melihat seluruh hal bersama-sama.

Hakikat-hakikat ini merupakan beberapa ayat bercahaya yang berpadu seperti warna pelangi. Kainat menunjukkan serta bersaksi atas Wujud yang Wajib dan keesaan Khâliq Pemilik seluruh Sifat Sempurna. Ya, kainat merupakan bayangan Cahaya Khâliq itu, tajalli Asma⁠-⁠Nya, serta karya Tindakan-Tindakan⁠-⁠Nya.

Saudaraku! Dengan dalil-dalil

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ

yang diucapkannya melalui bahasa hakikat-hakikat terdahulu ini, kainat membuktikan

لَا ﺣَﻮْﻝَ وَلَا ﻗُﻮَّﺓَ اِلَّا ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ.

Demikian pula, hakikat

ﻓَﺎﻋْﻠَﻢْ ﺍَﻧَّﻪُ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ

mengharuskan

ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ.

Sebagaimana

ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ

memuat lima rukun iman, ia juga merupakan tempat tampak serta cermin Sifat Rububiyah. Berdasarkan rahasia ini,

ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ

menjadi sejajar dan seimbang dengan

لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ

dalam ukuran serta timbangan iman. Karena kenabian memandang dan menjadi tempat tampak Sifat Rububiyah, ia memiliki cakupan umum. Kewalian bersifat khusus serta juz'i. Perbandingan keduanya seperti perbandingan antara ﺭَﺏُّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ dan ﺭَﺑّ۪ﻰ: pada yang satu, penyandaran bersifat umum, sedangkan pada yang lain bersifat khusus. Atau, seperti perbandingan antara mi'raj dari bumi ke Arasy dan mi'raj dalam sujud, atau antara Arasy dan hati.

Saudaraku! Bukti-bukti yang kita sebutkan bagi hal luhur yang hendak dibuktikan ini merupakan lingkaran yang meliputinya. Wujud yang Wajib serta keesaan, sebagai hal yang hendak dibuktikan, berada di pusat lingkaran itu. Setiap bukti yang membentuk lingkaran mengulurkan jarinya dan menandatangani bahwa hal yang hendak dibuktikan itu haq serta benar. Di antara bukti-bukti yang lemah terdapat saling mendukung. Yakni, dengan membenarkan serta menguatkan satu sama lain, lemahnya bukti-bukti itu hilang. Sekalipun tidak hilang, nilainya tidak jatuh. Sekalipun nilainya jatuh, hal itu tidak merusak lingkaran, melainkan hanya memperkecilnya.

Selain itu, menuntut dari setiap bukti dan mencari pada setiap bukti daya serta kejelasan hal yang hendak dibuktikan, yang dihasilkan oleh himpunan seluruh bukti, merupakan isyarat kepada sakitnya akal serta terbatasnya pikiran, dan membentuk dasar untuk menolak serta mengingkari hal yang hendak dibuktikan. Karena itu, ketika suatu bukti dipandang dan bayangan-bayangan muncul karena kelemahannya, melalui daya yang tersaring dari bukti-bukti lain, tiada lemah tersisa di tengah dan bayangan-bayangan itu pun buyar.

Selain itu, sebagian bukti seperti air, sebagian seperti udara, dan sebagian seperti sinar. Karena itu, bukti-bukti seperti ini harus dicari serta ditangkap dengan pikiran amat halus, penuh perhatian, dan teliti, agar tidak tumpah, padam, ataupun terbang.