Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Kata Penghargaan

Mesnevî Cahaya · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

Kata Penghargaan

(Kata penghargaan dari ulama terhormat Şeyh Safvet Efendi, Ketua Luhur Majelis Mushaf dan Pemeriksaan Karya-Karya Syariat.)

Segala puji bagi Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq; salawat serta salam bagi Nabi kita ﷺ yang kepadanya Al-Qur'an diturunkan, serta keluarga dan sahabatnya yang menguatkan serta menegakkan bangunan agama!

Risalah bernama ‘Tevhid Denizinden Bir Katre’ (Titik Air dari Lautan Tauhid) tampak di hadapanku. Aku tidak dapat melihat perbedaan antara lautan itu dan tetes ini. Sebab, tetes itu dalam hakikatnya datang dari lautan tersebut dan mengalir ke dalamnya. Syukur tak terbatas kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq atas usaha saudara kita, allamah Bediüzzaman Said Nursî, yang bersama kita minum air dengan telapak tangan dari lautan tauhid dan menyusu dari dada Islam!

El-fakir, türabu akdâmi'l-ulema

Safvet

(rahmetullahi aleyh)

PENUTUP

Penutup ini menjelaskan empat jenis penyakit serta menunjukkan cara pengobatannya.

Penyakit Pertama:

‘Putus asa’.

Saudaraku! Orang yang tidak berhasil beramal serta taat takut kepada azab dan jatuh dalam putus asa. Dalam mata orang yang putus asa seperti ini, suatu tanda paling kecil serta lemah yang berlawanan dengan perkara agama tampak sebagai bukti amat besar. Begitu memperoleh beberapa tanda seperti itu, dengan dorongan tanda-tanda lain ia menyatakan pembangkangan, keluar dari lingkaran Islam, dan bergabung dengan pasukan setan.

Karena itu, agar tidak jatuh dalam putus asa, orang-orang yang tidak berhasil beramal hendaknya merujuk kepada ayat ini:

ﻗُﻞْ ﻳَﺎ ﻋِﺒَﺎﺩِﻯَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍَﺳْﺮَﻓُﻮﺍ ﻋَﻠٰٓﻰ ﺍَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ لَا ﺗَﻘْﻨَﻄُﻮﺍ ﻣِﻦْ ﺭَﺣْﻤَﺔِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻳَﻐْﻔِﺮُ ﺍﻟﺬُّﻧُﻮﺏَ ﺟَﻤ۪ﻴﻌًﺎ ﺍِﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻐَﻔُﻮﺭُ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢُ

Penyakit Kedua:

‘Ujub’ (kagum pada diri sendiri).

Saudaraku! Orang yang jatuh dalam putus asa mulai mencari suatu titik tempat bersandar agar selamat dari azab. Ia melihat bahwa dirinya memiliki beberapa kebaikan serta kesempurnaan, lalu segera menggantungkan harapan kepada kesempurnaan itu. Dengan percaya, ia berkata, ‘Kesempurnaan ini akan menyelamatkanku, sudah cukup,’ dan hingga suatu tingkat merasa lega. Padahal, mempercayai amal merupakan ujub. Ia menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan. Sebab, manusia tidak memiliki hak atas kesempurnaan serta kebaikan yang dilakukannya; semuanya bukan miliknya dan ia tidak dapat bersandar padanya.

Bahkan, wujud serta tubuh manusia pun bukan miliknya, sebab keduanya bukan karya seninya. Ia pun tidak menemukan wujud itu di jalan lalu memilikinya sebagai barang temuan. Wujud tersebut bukan sesuatu tak bernilai yang dibuang ke tanah, lalu diambil manusia. Sebaliknya, menurut kesaksian seni luar biasa serta ukiran menakjubkan yang dimuatnya, wujud itu merupakan rumah berharga yang keluar dari Tangan Kudrat Sang Pembuat Yang Hakîm. Manusia tinggal di rumah itu sebagai amanah. Dari ribuan pengelolaan yang dilakukan dalam wujud tersebut, hanya satu menjadi milik manusia.

Demikian pula, meskipun manusia memiliki pilihan paling mulia serta paling kuat di antara sebab-sebab, dalam terwujudnya tindakan paling biasa seperti makan dan minum dari tindakan-tindakan yang dianggapnya milik sendiri dengan nama tindakan pilihan, hanya satu dari seratus bagian menjadi milik manusia.

Demikian pula, pilihan dalam tangan manusia amat sempit. Meskipun khayal merupakan daya paling luas yang dimilikinya, khayal itu tidak dapat meliputi akal serta buah-buah akal. Bagaimana engkau memasukkan semuanya yang demikian besar ke dalam lingkaran pilihanmu dan membanggakannya?

Demikian pula, banyak tindakan berlangsung bagi manfaatmu maupun kerugianmu tanpa kesadaranmu. Meskipun tindakan-tindakan itu dilakukan dengan kesadaran, karena kesadaranmu tidak berkaitan dengannya, terbukti bahwa Pelakunya adalah Sang Pembuat Pemilik Kesadaran. Bukan engkau pelakunya dan bukan pula sebab-sebabmu.

Karena itu, tinggalkan pengakuan memiliki. Jangan menyangka dirimu sumber keindahan serta kesempurnaan. Ketahuilah secara pasti bahwa dari dirimu bagi dirimu hanyalah kurang serta cacat, sebab dengan buruknya pilihanmu, engkau mengubah bahkan kesempurnaan yang diberikan kepadamu. Tubuhmu yang seperti rumahmu pun merupakan amanah. Seluruh kebaikanmu adalah pemberian; keburukanmu merupakan hasil usahamu. Karena itu, ucapkanlah

ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚُ ﻭَﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ وَلَا ﺣَﻮْﻝَ وَلَا ﻗُﻮَّﺓَ اِلَّا ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ.

Penyakit Ketiga:

‘Sombong’.

Ya, melalui sombong, manusia kehilangan kesempurnaan serta kebaikan materi dan maknawi. Apabila dengan dorongan sombong ia tidak sudi menerima kesempurnaan orang lain dan memandang kesempurnaannya sendiri cukup serta tinggi, manusia itu kurang. Orang-orang seperti ini, dengan memandang pengetahuan serta penemuan mereka lebih tinggi, kehilangan bimbingan serta penyingkapan para pendahulu agung. Dengan terkena bayangan-bayangan, mereka keluar sepenuhnya dari jalan. Padahal, penyingkapan yang dilakukan para pendahulu agung dalam empat puluh hari tidak dapat mereka temukan dalam empat puluh tahun.

Penyakit Keempat:

‘Prasangka buruk’.

Ya, manusia diperintah berprasangka baik. Manusia harus menganggap setiap orang lebih tinggi daripada dirinya. Janganlah ia, dengan dorongan prasangka buruk, mengenakan akhlak buruk yang terdapat pada dirinya kepada orang lain. Jangan pula ia mencela sebagian gerak orang lain karena tidak mengetahui hikmahnya. Karena itu, tidak menyukai beberapa keadaan para pendahulu agung yang hikmahnya tidak kita ketahui merupakan prasangka buruk. Prasangka buruk merusak pergaulan materi serta maknawi.

Saudaraku! Akan kusebutkan beberapa hakikat yang kulihat dalam suatu perjalanan khayal yang kulakukan di bawah bumi:

Hakikat Pertama:

Saudaraku! Lalai dari Pemilik Hakiki menyebabkan nafsu menjadi seperti Firaun. Ya, orang yang melupakan Pemilik Hakiki segala sesuatu yang berada di bawah pengelolaannya menyangka dirinya memiliki dirinya sendiri, lalu membayangkan kuasa. Ia pun mencatat orang lain, terutama sebab-sebab, dalam daftar penguasa serta pemilik dengan membandingkannya kepada diri sendiri. Melalui ini, ia membagi kerajaan serta harta Allah سُبْحَانَهُ kepada mereka, lalu mulai melawan serta bertempur menghadapi Hukum-Hukum Ilahi.

Padahal, keakuan serta kebebasan yang Diberikan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq kepada manusia menjalankan tugas sebagai satuan pembanding untuk memahami Sifat-Sifat Keilahian. Sayangnya, dengan pilihan buruk, manusia menjadikannya alat bagi kuasa serta berdiri sendiri, lalu menjadi Firaun sepenuhnya.

Saudaraku! Hakikat halus ini menjadi sepenuhnya jelas dan nyata kepadaku sebagai berikut: Keakuan yang tumbuh melalui air lalai merupakan satuan pembanding untuk memahami Sifat-Sifat Khâliq. Sebab, manusia mengetahui hal-hal yang tidak mereka lihat melalui perbandingan serta perumpamaan.

Misalnya, untuk memahami Kudrat Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, seseorang membuat pembagian. Dengan menggambar garis dalam bayangan, ia berkata, ‘Dari sini hingga sini berada dalam dayaku, dan dari sini ke sisi lain berada dalam Kudrat⁠-⁠Nya,’ lalu memahami perkara. Setelah itu, ia menghapus batas yang dibayangkan serta menyerahkan seluruhnya kepada⁠-⁠Nya. Sebab, sebagaimana nafsu tidak memiliki dirinya, ia juga tidak memiliki tubuhnya. Tubuhnya hanyalah mesin Ilahi yang menakjubkan. Dengan pena qada serta takdir, satu manifestasi kecil Kudrat Azali bekerja dalam mesin itu.

Karena itu, dengan meninggalkan pengakuan menjadi seperti Firaun itu, hendaknya manusia menyerahkan milik kepada Pemiliknya dan tidak mengkhianati amanah! Apabila dengan khianat ia menyandarkan satu zarah kepada nafsunya, ia telah membagi kerajaan Allah سُبْحَانَهُ kepada sebab-sebab tak bernyawa.

Hakikat Kedua:

Wahai nafsu ammarah! Ketahuilah secara pasti bahwa engkau memiliki dunia khusus yang amat luas, dibangun di atas harapan, angan-angan, hubungan, serta kebutuhan. Batu dasarnya yang terbesar dan satu-satunya tiang ialah wujud serta hidupmu. Padahal, tiang itu dimakan ulat dan batu dasar itu lapuk. Kesimpulannya, dasarnya rusak serta lemah, senantiasa siap runtuh.

Ya, tubuh ini tidak abadi, bukan besi, bukan batu, melainkan sesuatu yang terdiri dari daging serta tulang. Seketika ia runtuh di atas kepalamu dan engkau tertimbun di bawahnya. Lihatlah, sebagaimana masa lampau merupakan kuburan luas bagi orang-orang yang telah berlalu sepertimu, masa depan pun akan menjadi pemakaman luas. Hari ini engkau berada di antara dua kuburan; kini terserah kepadamu.

Saudaraku! Dunia yang kita ketahui serta lihat, meskipun satu, memuat dunia-dunia sebanyak manusia. Sebab, setiap manusia memiliki dunia khayal dalam arti penuh. Namun, ketika ia mati, dunianya runtuh dan kiamatnya terjadi.

Hakikat Ketiga:

Dunia yang engkau lihat ini, bersama seluruh hal lezat, hidup sia-sia, serta kesenangannya, kulihat sebagai beban amat berat dan besar. Tiada yang dapat masuk ke bawah beban berat tersebut selain orang-orang yang ruhnya rusak serta hatinya sakit. Sebab, daripada berhubungan dengan seluruh kainat, berutang budi kepada segala sesuatu, dan menadahkan tangan kepada seluruh sebab serta perantara untuk menyampaikan kebutuhan, bukankah lebih lega serta lebih menguntungkan berlindung kepada satu Rabb Yang Wâhid, Samî' dan Basîr?

Hakikat Keempat:

Wahai nafsu! {(): Penulis terhormat berbicara secara jelas kepada nafsunya sendiri, dan secara tidak langsung kepada orang lain.} Tidak perlu pergi ke gurun-gurun jauh kainat untuk mengumpulkan dalil yang membuktikan Sang Pembuat. Lihatlah sangkar tubuh tempat engkau tinggal, yang seperti gubuk kecil! Dari rangkaian penciptaan, mukjizat penciptaan, serta seni luar biasa yang tergantung pada dinding gubukmu; tangan-tangan kebutuhan yang terulur dari gubuk ke luar; dan pertolongan yang diminta melalui bahasa keadaan berupa ‘Âh! Oh!’ serta rintihan yang naik dari jendela-jendelanya, dipahami bahwa Khâliq Yang Menciptakan gubuk itu bersama isinya Mendengar ah serta rintihan itu, Memberi kasih dan belas kasih, serta Menjamin segala kebutuhan dan harapanmu. Sebab, Sang Pembuat Yang Samî' serta Basîr, Yang Mengucapkan ‘Lebbeyk’ kepada seruan sel-sel kecil dalam kepala lalat—adakah kemungkinan atau peluang Dia tidak Mendengar doa-doamu dan tidak Memberi jawaban baik bagi doa-doa itu?

Karena itu, wahai sel terbesar yang tersusun dari sel-sel kecil ini dan diungkapkan dengan ‘ene’ (aku)! Lihatlah penciptaan-penciptaan luar biasa yang memenuhi gubuk itu meskipun kecil, lalu berimanlah! Ucapkanlah, ‘Yâ İlahî! Yâ Rabbî! Yâ Hâlıkî! Yâ Musavvirî! Yâ Mâlikî ve yâ men lehü'l-mülkü ve'l-hamd! Aku adalah tamu dalam gubuk kecil ini, yang merupakan milik, amanah, serta titipan⁠-⁠Mu, bukan pemilik.’ Tinggalkan pengakuan memiliki yang batil itu! Sebab, pengakuan memiliki tersebut membuat manusia terkena sakit yang amat pedih. {(): (Suatu permohonan maaf dari penerjemah) Aku tidak menerjemahkan suatu bagian yang amat bernilai serta penting tentang Sübhanallah, Elhamdülillah, dan Allahu ekber, yang terdapat dalam naskah asli berbahasa Arab Mesnevî-i Nuriye dan tempatnya berada di sini, karena tidak dapat menjaga gaya serta kefasihannya, dan karena khawatir merusak nilai aslinya dengan menerjemahkan ke bahasa Turki hakikat-hakikat yang dapat dibaca sebagai wirid itu. Aku meminta maaf kepada para pembaca dan menantikan doa mereka untuk rahmat serta kebaikan.

Penerjemah Abdülmecid}

Butir Halus

Saudaraku! Iman menegakkan persaudaraan, hubungan, sambungan, serta ikatan persatuan hakiki di antara segala sesuatu. Kufur, seperti dingin, memperlihatkan segala sesuatu terpisah satu sama lain dan membuatnya saling memandang sebagai orang asing.

Karena itu, dalam ruh orang beriman tiada permusuhan, dendam, atau rasa asing. Dengan musuh terbesarnya pun ia memiliki suatu jenis persaudaraan. Dalam ruh orang kafir, sebagaimana terdapat tamak serta permusuhan, juga terdapat sikap membela dan mempercayai nafsunya. Berdasarkan rahasia ini, dalam hidup dunia kadang kemenangan berada pada orang-orang kafir.

Demikian pula, orang kafir melihat pahala kebaikannya di dunia hingga suatu tingkat, sedangkan orang beriman melihat hukuman keburukannya.

Karena itu dikatakan bahwa dunia merupakan surga bagi orang kafir, yakni dibanding dengan akhirat, dan neraka bagi orang beriman, yakni dibanding dengan kebahagiaan abadinya. Jika tidak, bahkan di dunia pun orang beriman seratus tingkat lebih bahagia.

Demikian pula, iman mengubah manusia menjadi permata yang layak bagi hidup abadi serta surga. Kufur memadamkan ruh dan hati serta meninggalkannya dalam gelap. Sebab, iman memperlihatkan inti dalam kulit, sedangkan kufur tidak membedakan inti dan kulit. Ia menganggap kulit tepat sebagai inti dan menurunkan manusia dari tingkat permata ke tingkat batu bara.

Titik

Saudaraku! Sesuai tingkat sakit hati serta ruh, kecenderungan dan cinta kepada ilmu-ilmu filsafat bertambah. Sakit itu pun sebanding dengan mendalami ilmu-ilmu akal. Maka, penyakit-penyakit maknawi mendorong serta mengarahkan manusia kepada ilmu-ilmu akal, dan orang yang sibuk dengan perkara akal terkena penyakit-penyakit hati.

Demikian pula, kulihat dua wajah dunia:

Satu wajah:

Meskipun kurang lebih memiliki keakraban serta indah lahiriah, batin serta dalamnya penuh rasa asing yang tetap.

Wajah kedua:

Meskipun hingga suatu tingkat secara lahiriah menakutkan, secara batin penuh keakraban yang tetap.

Al-Qur'an yang Agung mengarahkan pandangan kepada wajah kedua yang tersambung dengan akhirat. Adapun wajah pertama merupakan kebalikan akhirat serta tersambung dengan tiada.

Demikian pula, makhluk-makhluk yang mungkin ada memiliki dua wajah:

Yang satu:

Wujud melalui keakuan. Ini menuju tiada serta berubah menjadi tiada.

Yang kedua:

Tiada melalui meninggalkan keakuan. Ini memperoleh wujud yang memandang Wâjibul Wujûd.

Karena itu, jika engkau menghendaki wujud, jadilah tiada agar engkau menemukan wujud.

Butir Halus

(Tentang niat, salah satu dari empat kata yang disebutkan dalam Pendahuluan.)

Saudaraku! Perkara niat ini merupakan buah empat puluh tahun usiaku. Ya, niat memiliki ciri khas yang menjadikannya ramuan serta sari amat menakjubkan, yang mengubah adat dan gerak menjadi ibadah.

Demikian pula, niat merupakan ruh yang menghidupkan keadaan-keadaan mati serta mengubahnya menjadi ibadah yang hidup dan bernyawa.

Demikian pula, dalam niat terdapat ciri khas yang mengubah keburukan menjadi kebaikan dan kebaikan menjadi keburukan.

Maka, niat merupakan ruh. Ruh bagi ruh itu adalah ikhlas. Maka, selamat serta bebas dari bahaya hanya melalui ikhlas.

Berdasarkan ciri khas ini, banyak amal terwujud dalam waktu singkat. Berdasarkan ini, dalam umur pendek surga diperoleh bersama seluruh hal lezat serta indahnya. Dengan niat, manusia menjadi orang yang senantiasa bersyukur dan memperoleh pahala syukur.

Demikian pula, hal-hal lezat serta nikmat dunia dipandang melalui dua segi:

Dalam satu segi, dipikirkan bahwa nikmat-nikmat itu diberikan oleh Sang Mun'im. Pandangan beralih dari lezat tersebut kepada Yang Memberi nikmat dan memikirkan⁠-⁠Nya. Lezat memikirkan Mun'im lebih lezat daripada memikirkan nikmat.

Segi kedua, begitu melihat nikmat, ia membatasi pandangan padanya, menganggap nikmat tersebut sebagai rampasan, lalu memakannya tanpa merasa berutang budi.

Padahal, dalam segi pertama, sekalipun lezat sirna ketika berlalu, ruhnya tetap ada, sebab ia memikirkan Mun'im. Ia berharap dengan berkata, ‘Mun'im penuh belas kasih; Dia senantiasa Memberiku nikmat-nikmat ini.’

Dalam segi kedua, sirnanya nikmat bukan kematian yang menyisakan ruhnya. Ruhnya pun padam, hanya asapnya tersisa. Adapun musibah-musibah, sesudah berlalu, asapnya padam dan cahayanya tetap ada. Asap yang tersisa sesudah hal-hal lezat berlalu merupakan dosa-dosanya.

Saudaraku! Jika hal-hal lezat serta nikmat di dunia dan akhirat dipandang dengan iman, dalam semuanya terlihat gerak berputar, yang contoh-contoh sejenisnya saling mengikuti. Yang satu pergi, yang serupa datang menggantikannya. Melalui ini, hakikat nikmat-nikmat tersebut tidak padam. Hanya dalam pribadi-pribadi khususnya terdapat perpisahan serta saling berpisah. Karena itu, hal-hal lezat dalam iman tidak terpengaruh serta bersedih oleh perpisahan dan saling berpisah.

Namun, dalam segi kedua, setiap lezat akan sirna. Sirna itu sendiri merupakan sakit, dan memikirkannya pun sakit. Sebab, dalam segi kedua ini, gerak bukan berputar melainkan lurus. Lezat dihukum dengan kematian abadi.

Titik

Saudaraku! Apabila manusia memeluk serta melekat pada sebab-sebab dan perantara-perantara, hal itu menyebabkan hina serta rendah. Misalnya, di antara seluruh hewan, anjing memiliki beberapa sifat terpuji dan terkenal melalui sifat-sifat tersebut. Bahkan, setia serta teguhnya telah menjadi peribahasa. Berdasarkan akhlak baiknya ini, meskipun layak dipandang sebagai hewan yang diberkahi di antara manusia, sayangnya ia dianggap najis pada dirinya, alih-alih diberkahi.

Hewan-hewan lain seperti ayam, sapi, serta kucing dianggap berharga dan diberkahi oleh manusia, meskipun tidak memiliki rasa syukur atas kebaikan yang manusia lakukan kepada mereka.

Sebabnya ialah penyakit tamak lebih besar pada anjing, sehingga ia melekat kepada sebab-sebab lahiriah dengan perhatian demikian tinggi hingga menyebabkan lalai sepenuhnya dari Mun'im Hakiki. Karena itu, sebagai hukuman atas lalainya dari Pemberi Pengaruh Hakiki dengan menganggap perantara sebagai pemberi pengaruh, ia memperoleh hukum najis agar menjadi suci. Sebab, hukum serta hukuman-hukuman had mengampuni dosa. Sebagai kafarat bagi lalainya, ia menerima pukulan direndahkan di antara manusia.

Adapun hewan-hewan lainnya tidak mengenal perantara dan tidak memberi nilai demikian besar kepada sebab-sebab. Misalnya, kucing mencintaimu serta mengiba hingga menerima pemberianmu. Setelah menerima pemberian, ia mengambil sikap seolah-olah tidak ada saling mengenal di antara kalian. Mereka pun tidak memiliki rasa syukur kepadamu, melainkan rasa syukur kepada Mun'im Hakiki. Sebab, fitrah mereka mengenal Sang Pembuat dan menjalankan ibadah kepada⁠-⁠Nya melalui bahasa keadaan mereka, dengan kesadaran ataupun tanpa kesadaran.

Ya, suara ‘mır mır’ kucing ialah ‘Yâ Rahîm! Yâ Rahîm! Yâ Rahîm!’

Butir Halus

Kulihat pula bahwa jika segala sesuatu tidak disandarkan kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, dalam satu saat harus dibuktikan ilah-ilah tak berujung. Setiap ilah ini, yang jumlahnya lebih banyak daripada seluruh zarah kainat, harus bertentangan dengan dan sekaligus serupa dengan seluruh ilah lainnya. Pada saat yang sama, setiap ilah harus mengambil keadaan seolah-olah mengulurkan tangan kepada seluruh kainat dan melakukan pengelolaan.

Misalnya, hukum suatu daya yang menciptakan satu individu lebah harus berlaku serta menembus seluruh kainat. Sebab, lebah tersebut merupakan contoh bagi unsur-unsur kainat dan mengambil bagian-bagiannya dari kainat. Padahal, tempat serta kedudukan dalam medan wujud hanya khusus bagi Zat Yang Wajib dan Ahad.

Apabila segala sesuatu disandarkan kepada dirinya sendiri, bagi setiap zarah diperlukan suatu keilahian. Misalnya, apabila pembangun Ayasofya diingkari, setiap batunya harus menjadi seorang Mimar Sinan.

Maka, petunjuk kainat kepada Sang Pembuat lebih jelas, lebih nyata, serta lebih kuat daripada petunjuknya kepada dirinya sendiri. Maka, sekalipun pengingkaran kainat mungkin, pengingkaran Sang Pembuat tidak mungkin.

Titik

Kesesatan yang berasal dari lalai amat aneh serta menakjubkan. Ia mengubah kebersamaan menjadi hubungan sebab. Jika di antara dua hal terdapat kebersamaan, yakni keduanya senantiasa terwujud bersama-sama, menunjukkan salah satunya sebagai sebab yang lain merupakan tabiat kesesatan itu. Padahal, kebersamaan terus-menerus tidak dapat menjadi dalil bagi hubungan sebab.

Butir Halus

Saudaraku! Bentuk jamak serta jamaah yang diungkapkan oleh ‘nun’ dalam ﻧَﻌْﺒُﺪُ menjadikan permukaan bumi berbentuk masjid dalam pandangan orang salat yang pikiran serta hatinya terjaga. Ia mengingatkan bahwa orang itu salat dalam jamaah terbesar, yang terbentuk dari seluruh orang beriman dan memuat saf-saf yang berbaris dari timur ke barat.

Demikian pula, ketika seseorang menjadikan ungkapan zikir

لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ

sebagai wirid lisannya, hendaknya ia membayangkan waktu sebagai lingkaran zikir. Ia membayangkan para nabi duduk pada arah masa lampau, sisi kanan lingkaran itu, dan para wali pada arah masa depan, sisi kirinya, berzikir berjamaah; dirinya pun berada dalam jamaah agung tersebut dan ikut dalam suara mereka yang luhur, Ilahi, serta manis, yang memenuhi kubah biru ini. Orang-orang yang daya khayalnya lebih tajam hendaknya masuk ke dalam lingkaran-lingkaran zikir yang dibentuk seluruh ciptaan dalam masjid kainat, lalu mendengarkan suara-suara yang menggemuruhkan angkasa ini.

Titik

Cinta kepada segala sesuatu selain Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq terbagi dua jenis. Yang satu turun dari atas ke bawah. Yang lainnya naik dari bawah ke atas. Demikianlah:

Apabila seseorang pertama-tama memberikan cintanya kepada Allah سُبْحَانَهُ, karena cintanya kepada Allah سُبْحَانَهُ ia mencintai segala sesuatu yang Allah سُبْحَانَهُ Cintai. Cinta yang dibagikannya kepada makhluk tidak mengurangi cintanya kepada Allah سُبْحَانَهُ, melainkan menambahnya.

Adapun bagian kedua, ia pertama-tama mencintai sebab-sebab dan menjadikan cinta ini jalan untuk mencintai Allah سُبْحَانَهُ. Cinta bagian ini tidak dapat menjaga himpunannya; ia tercerai. Kadang ia berjumpa sebab yang kuat, yang menarik cintanya sepenuhnya melalui makna ismi, lalu menyebabkan binasa. Sekalipun ia sampai kepada Allah سُبْحَانَهُ, sampainya tidak sempurna.

Butir Halus

Dengan ayat mulia

ﻭَﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﺩَٓﺍﺑَّﺔٍ ﻓِﻰ الْاَرْضِ اِلَّا ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺭِﺯْﻗُﻬَﺎ,

rezeki telah dijamin. Namun, yang kita sebut rezeki terbagi dua: rezeki hakiki serta rezeki kiasan. Yakni, ada yang mutlak perlu dan ada yang tidak mutlak perlu.

Yang dijamin dengan ayat ialah bagian yang mutlak perlu. Ya, makanan diberikan pada tingkat yang menjaga hidup. Gemuk serta lemahnya tubuh tidak bergantung pada banyak serta sedikitnya rezeki. Ikan-ikan laut serta terong-terong darat merupakan saksi.

Adapun rezeki kiasan tidak berada di bawah jaminan ayat. Ia hanya terikat kepada usaha serta kerja memperoleh hasil.

Titik

Saudaraku! Dalam bencana serta musibah yang menimpa manusia tak berdosa atau hewan, terdapat beberapa sebab serta Hikmah yang tidak dapat dimengerti pemahaman manusia. Hukum-hukum syariat fitri yang memuat kaidah Masyîah Ilahi tidak bergantung pada adanya akal; karena itu, tidak adanya akal pada sesuatu tidak menghalangi penerapannya. Hikmah-hikmah syariat tersebut memandang hati, rasa, serta bakat. Hukum-hukum syariat itu diterapkan kepada perbuatan yang muncul darinya, lalu diberi hukuman.

Misalnya, apabila seorang anak membunuh burung atau lalat yang dipegangnya, ia telah melawan rasa kasih, salah satu hukum syariat fitri. Jika karena pelanggaran ini ia jatuh dan kepalanya terluka, ia layak mendapatkannya. Sebab, musibah ini merupakan hukuman atas pelanggaran tersebut.

Atau, seekor harimau betina, tanpa memperhatikan besarnya kasih serta perlindungan kepada anak-anaknya sendiri, mencabik anak kijang malang dan menjadikannya rezeki bagi anak-anaknya. Kemudian ia dibunuh seorang pemburu. Karena melawan rasa kasih serta perlindungan, ia terkena musibah yang sama dengan yang dilakukannya kepada kijang.

Peringatan:

Rezeki halal bagi hewan-hewan seperti harimau ialah hewan mati. Membunuh hewan hidup dan menjadikannya rezeki adalah haram menurut syariat fitri.

Permohonan Maaf

Saudaraku! Risalah ini merupakan suatu jenis tafsir yang menjelaskan beberapa ayat Al-Qur'an melalui cara melihat langsung. Perkara-perkara yang dimuatnya merupakan beberapa mawar serta bunga yang dipetik dari surga-surga Furqan yang penuh Hikmah. Namun, jangan merasa takut oleh sulit serta ringkasnya ungkapan dan meninggalkan membacanya. Apabila pembacaannya diteruskan berulang-ulang, ungkapannya menjadi terbiasa serta akrab.

Demikian pula, jangan takut kepada keras kepalanya nafsu. Sebab, sebagaimana nafsu ammarahku tidak dapat bertahan menghadapi daya risalah ini dan terpaksa tunduk, setanku pun berteriak ﺍَﻳْﻦَ ﺍﻟْﻤَﻔَﺮُّ. Nafsu serta setan kalian tidak lebih membangkang, lebih melampaui batas, atau lebih celaka daripada nafsu serta setanku.

Demikian pula, jangan menganggap pengulangan pada dalil-dalil yang disebutkan untuk menjelaskan tauhid dalam Bab Pertama sebagai sesuatu tanpa manfaat. Semuanya disebutkan berdasarkan kebutuhan pada kedudukan-kedudukan khusus. Ya, seorang prajurit yang duduk dalam parit pertahanan di garis perang, alih-alih pergi ke parit-parit kosong di sekitarnya, membuka jendela lain dalam parit tempatnya berada; tentu hal itu berdasarkan suatu kebutuhan.

Demikian pula, jangan menyangka bahwa sulit serta tertutupnya ungkapan risalah-risalah ini muncul dari pilihanku demi kesenangan. Sebab, risalah ini merupakan perdebatan mendadak serta spontan yang dilakukan menghadapi serangan nafsuku pada waktu mengerikan. Kata-katanya merupakan kata-kata berduri yang dapat ditangkap tangan pikiranku dalam perjuangan dahsyat tersebut. Dalam saat api serta cahaya bercampur itu, kepalaku mulai berputar. Kadang kulihat diriku di bumi, kadang di langit, kadang di dasar menara, kadang di balkon menara. Sebab, jalan yang kuikuti merupakan jalan perantara yang baru dibuka antara akal serta hati. Aku telah letih naik dan turun dari akal ke hati serta dari hati ke akal. Karena itu, ketika menemukan cahaya, segera kuletakkan kata di atasnya. Namun, batu-batu kata yang kuletakkan di atas cahaya itu bukan untuk menunjukkan makna; aku hanya meletakkannya sebagai tanda serta penanda agar tidak hilang. Kemudian kulihat bahwa cahaya-cahaya yang membantuku dalam gelap itu merupakan pelita serta lampu yang diilhami dari matahari Al-Qur'an.

ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺍﺟْﻌَﻞِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥَ ﻧُﻮﺭًﺍ ﻟِﻌُﻘُﻮﻟِﻨَﺎ ﻭَ ﻗُﻠُﻮﺑِﻨَﺎ ﻭَ ﺍَﺭْﻭَﺍﺣِﻨَﺎ ﻭَ ﻣُﺮْﺷِﺪًﺍ لِاَنْفُسِنَا ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ