Risalah Nur — Bahasa Indonesia

LAMPIRAN KATRE

Mesnevî Cahaya · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

LAMPIRAN KATRE

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ﻋَﻠٰﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪ۪ ﺍَﺟْﻤَﻌ۪ﻴﻦَ

Isyarat

Saudaraku! Pada awal waktu, dianjurkan salat dengan menghadirkan Ka'bah dalam pandangan khayal. Dengan melihat saf-saf yang terbentuk di sekeliling Baitullah seperti lingkaran-lingkaran yang saling masuk, hendaknya ia melihat dalam khayal bahwa sebagaimana saf-saf dekat meliputi Baitullah, saf-saf terjauh pun meliputi alam Islam. Dengan masuk ke dalam saf-saf itu, hendaknya ia bergabung dengan jamaah agung tersebut, agar kesepakatan serta tawatur jamaah itu menjadi hujah dan bukti bagi setiap pernyataan serta kata yang diucapkannya dalam salat.

Misalnya, ketika orang salat mengucapkan ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ, seolah-olah seluruh orang beriman yang membentuk jamaah agung itu membenarkan perkataannya dengan berkata, ‘Ya, engkau berkata benar.’ Pembenaran-pembenaran ini menjalankan tugas perisai maknawi menghadapi bayangan serta waswas yang menyerang. Pada saat yang sama, seluruh daya, latifah, serta rasanya mengambil kenikmatan dan bagian dari salat tersebut. Namun, pandangan khayal orang salat kepada Ka'bah ini hanya boleh berupa kesadaran yang mengikuti, bukan disengaja sebagai tujuan.

Peringatan:

Untuk menjaga pemandangan indah saf-saf seperti baris dari jamaah agung yang menghias masjid permukaan bumi melalui gerak yang beragam serta teratur itu, tidak tertutup kemungkinan serta peluang bahwa pemandangan tersebut digambar dan dicatat pada halaman alam mitsal dengan pena takdir, melalui foto Ilahi.

Isyarat

Saudaraku! Saat berjalan dalam gelap waswas serta bayangan, kulihat sunah-sunah Rasul Yang Paling Mulia ﷺ menjalankan tugas bintang serta lampu. Setiap sunah atau batas syariat bersinar seperti matahari pada jalan-jalan kesesatan yang gelap. Jika pada jalan-jalan itu manusia menyimpang serta menjauh dari sunah-sunah tersebut seberat zarah, ia akan menjadi tempat bermain setan, tunggangan bayangan, tempat terkena kegentaran serta rasa takut, dan kendaraan bagi beban seberat gunung-gunung.

Demikian pula, kulihat sunah-sunah itu seperti tali-tali yang menjulur serta turun dari langit. Orang yang memegangnya naik dan memperoleh bahagia. Adapun orang yang melawan dan bersandar kepada akal menjadi Firaun seperti Firaun yang melakukan kebodohan mencoba naik ke langit dengan menara panjang.

Isyarat

Saudaraku! Dalam nafsu terdapat titik demikian mengerikan serta simpul yang tidak terbuka, yang melahirkan hal-hal bertentangan dari satu sama lain dan menganggap setiap sesuatu yang merugikan sebagai sesuatu yang menguntungkan. Misalnya, tangan matahari sampai kepadamu serta membelai kepalamu dengan sinarnya. Namun, tanganmu tidak sampai kepadanya dan ia tidak bergerak menurut seleramu. Maka, matahari memiliki dua segi terhadapmu: satu dekat, yang lain jauh. Jika karena engkau jauh darinya engkau berkata, ‘Ia tidak dapat memengaruhiku,’ dan karena ia dekat kepadamu engkau berkata, ‘Aku dapat memengaruhinya,’ engkau telah mengumumkan kebodohanmu.

Demikian pula, di antara Khâliq serta nafsu terdapat dekat dan jauh. Dekat milik Khâliq; jauh milik nafsu. Jika dari segi jauhnya, nafsu memandang Khâliq melalui keakuan dan melakukan kebodohan dengan berkata, ‘Dia tidak dapat Memengaruhiku,’ ia jatuh dalam kesesatan. Demikian pula, ketika melihat pahala, nafsu berkata, ‘Andai aku juga melakukan demikian, menjadi seperti itu.’ Ketika melihat kerasnya hukuman, ia menghibur diri dengan berpura-pura buta serta mengingkari.

Wahai titik hitam yang bodoh! Tindakan-Tindakan Khâliq tidak memandangmu, melainkan memandang⁠-⁠Nya. Dia tidak Membuat kainat menurut ukuranmu, dan tidak Menjadikanmu saksi dalam penciptaan alam. Sebagaimana dikatakan İmam-ı Rabbanî (ra), ‘Pemberian raja hanya dapat dipikul tunggangannya.’

Isyarat

Saudaraku! Doa-doa orang yang terdesak terutama memiliki pengaruh besar. Kadang, demi hormat kepada doa seperti itu, sesuatu paling besar tunduk serta patuh kepada sesuatu paling kecil itu. Ya, demi hormat kepada doa orang tak berdosa yang fakir serta patah hati di atas potongan papan pecah, badai, keras, serta amarah laut mulai mereda. Maka, Zat Yang Menjawab doa-doa Menguasai seluruh makhluk. Maka, Dia juga Khâliq seluruh makhluk.

Isyarat

Saudara-saudaraku! Salah satu penyakit terpenting nafsu ialah ingin melihat keseluruhan dalam bagian dan yang besar dalam yang kecil. Jika tidak melihatnya, ia menolak serta mengingkari. Misalnya, ia menghendaki seluruh pancaran matahari dalam gelembung kecil. Karena tidak melihatnya, ia mengingkari bahwa pancaran dalam gelembung itu berasal dari matahari. Padahal, satunya matahari tidak mengharuskan pancaran-pancarannya pun satu.

Demikian pula, menunjukkan tidak menghendaki memuat. Misalnya, pancaran matahari dalam gelembung menunjukkan wujud matahari, tetapi tidak dapat memuat matahari, yakni memasukkannya ke dalam dirinya.

Demikian pula, yang menggambarkan sesuatu dengan suatu sifat tidak harus memiliki sifat tersebut. Misalnya, suatu zarah bening menggambarkan matahari, tetapi tidak dapat menjadi matahari. Lebah menggambarkan Sang Pembuat Yang Hakîm, tetapi tidak dapat menjadi Sang Pembuat.

Isyarat

Saudaraku! Berjalan di jalan kufur lebih sukar serta lebih berbahaya daripada berjalan di atas es. Adapun jalan iman amat mudah dan tanpa kesukaran, seperti berjalan serta berenang dalam air, udara, dan sinar. Misalnya, ketika seseorang ingin menyinari keenam sisi tubuhnya dengan matahari, ia berputar seperti seorang Mevlevi agar setiap sisi tubuhnya menghadap matahari, atau menarik matahari dari jarak jauh itu lalu memutarkannya di sekeliling tubuhnya. Pilihan pertama merupakan contoh mudahnya tauhid. Yang kedua merupakan contoh kesukaran kufur.

Pertanyaan:

Meskipun syirik demikian sukar, mengapa orang-orang kafir menerimanya?

Jawaban:

Tiada seorang pun menerima kufur dengan sengaja dan sebagai tujuan itu sendiri. Hanya saja, syirik melekat kepada hawa nafsu mereka. Mereka pun jatuh ke dalamnya, menjadi tercemar serta kotor. Keluar darinya menjadi sukar. Adapun iman ditempatkan dalam hati dengan diikuti dan diterima secara sengaja serta sebagai tujuan itu sendiri.

Isyarat

Saudaraku! Dalam mendengar satu kata, satu orang serta seribu orang sama. Dalam penciptaan pun, bagi Kudrat Azali, satu hal serta seribu hal sama. Tiada perbedaan antara jenis dan individu.

Isyarat

Saudaraku! Al-Qur'an, yang turun untuk memenuhi kebutuhan materi serta maknawi seluruh manusia pada seluruh zaman, memiliki cakupan serta keluasan luar biasa. Bersama itu, perhatian serta belaian yang diberikannya kepada perasaan lapisan-lapisan manusia, terutama penyesuaian yang dilakukannya ketika mengarahkan seruan dengan membelai pemahaman orang awam yang membentuk lapisan terbesar, meskipun merupakan dalil serta bukti gemilang bagi balaghah sempurna Al-Qur'an, telah menjadi sebab kesesatan nafsu-nafsu yang sakit.

Sebab, kebutuhan zaman-zaman berbeda. Manusia tidak sama dalam pikiran, rasa, kecerdasan, serta lambannya pemahaman. Al-Qur'an merupakan pembimbing; bimbingannya bersifat umum. Karena itu, ungkapan Al-Qur'an berbeda-beda menurut kebutuhan zaman, tuntutan kedudukan, serta keadaan orang yang diseru.

Ketika keadaan hakiki demikian, mencari jenis ungkapan paling luhur serta paling indah pada setiap ungkapan Al-Qur'an adalah keliru. Demikian pula, orang yang memandang Yang Berfirman melalui ukuran serta teropong suatu gaya yang sesuai dengan rasa dan pemahaman orang yang diseru tentu jatuh dalam kesesatan.

Isyarat

Saudaraku! Dunia memiliki tiga wajah:

Yang satu:

Memandang akhirat, sebab ia merupakan ladangnya.

Yang kedua:

Memandang Asmaul Husna, sebab ia merupakan sekolah serta tempat kerja mereka.

Yang ketiga:

Dengan sengaja dan sebagai tujuan itu sendiri memandang dirinya. Melalui wajah ini, ia menjadi dasar bagi hasrat serta selera manusia dan beban-beban hidup fana ini.

Memandang dua wajah pertama dunia dengan cahaya iman menjadi seperti surga maknawi. Wajah ketiga merupakan wajah buruk dunia, yang tidak memiliki nilai melekat pada dirinya serta penting.

Isyarat

Saudaraku! Wujud serta tubuh manusia seperti hewan dari harta negara yang berada di tangan seorang prajurit. Sebagaimana prajurit itu wajib memberi makan serta melayani hewan tersebut, manusia pun wajib memberi makan wujud itu.

Saudara-saudaraku yang Aziz! Yang membuatku mengatakan perkataan ini di sini ialah suatu perdebatan dengan nafsuku. Demikianlah:

Kukatakan kepada nafsuku yang sombong dengan kebaikannya, ‘Engkau tidak memiliki sesuatu pun. Apakah kesombonganmu ini?’

Ia berkata, ‘Karena aku bukan pemilik, aku pun tidak akan melayaninya.’

Kukatakan, ‘Lihatlah lalat ini! Dengan tangan-tangannya yang amat kecil serta halus, ia mengusap dan membersihkan sayap serta matanya. Ia melakukan seluruh pekerjaannya. Engkau pun setidaknya harus merawat tubuhmu seperti ia merawat tubuhnya,’ lalu kuyakinkan nafsuku.

Kita menyatakan Mahasuci Zat Yang Mengajarkan kebersihan kepada lalat ini melalui ilham dan Menjadikannya guru bagiku. Aku pun dengannya meyakinkan serta membungkam nafsuku.

Isyarat

Salah satu segi yang menyeret manusia menuju kesesatan ialah bahwa hukum-hukum Asma Zhâhir serta Asma Bâthin berbeda. Mencampurkannya satu sama lain dan kehilangan tempat rujukannya mengandung bahaya.

Demikian pula, hal-hal yang diperlukan Kudrat tidak sama dengan hal-hal yang diperlukan Hikmah. Menuntut dari yang satu hal-hal yang diperlukan oleh yang lain adalah keliru.

Demikian pula, tuntutan lingkaran sebab-sebab tidak sama dengan tuntutan lingkaran keyakinan serta tauhid. Janganlah meminta yang satu dari yang lain.

Demikian pula, kaitan-kaitan Kudrat berbeda dari manifestasi wujud atau tajalli Sifat-Sifat lainnya. Jangan sampai keduanya tercampur. Misalnya, di dunia wujudmu bertahap. Dalam cermin-cermin barzakh, ia seketika serta sekaligus. Sebab, terdapat perbedaan antara penciptaan dan tajalli.

Isyarat

Saudaraku! Islam merupakan cahaya serta rahmat bagi seluruh manusia. Bahkan, orang-orang kafir telah mengambil manfaat dari rahmatnya. Sebab, melalui ajaran Islam, kufur mutlak serta pengingkaran mutlak berubah menjadi ragu serta bimbang itu. Berkat pantulan serta pengaruh yang dibuat ajaran itu bahkan pada orang kafir, mereka memiliki harapan tentang hidup abadi. Melalui ini, hal-hal lezat serta bahagia dunia tidak sepenuhnya menjadi racun bagi mereka. Hal-hal lezat itu tidak berubah seluruhnya menjadi sakit. Mereka hanya memiliki kebimbangan. Kebimbangan membuat mereka memandang kedua sisi. Seperti burung unta, dalam arti penuh ia tidak menjadi burung maupun unta. Dengan tetap di tengah, ia selamat dari kesukaran kedua sisi.

Isyarat

Saudaraku! Karena meninggalkan tugas ubudiyahnya dengan dorongan malas, nafsu ingin bersembunyi. Yakni, ia tidak ingin berada di bawah mata pengawas yang akan melihatnya. Karena itu, ia berharap tidak terdapat Khâliq serta Mâlik. Kemudian ia mempertimbangkannya, lalu membayangkannya. Pada akhirnya, dengan meyakini tiada⁠-⁠Nya, bahwa Dia tidak Ada, ia keluar dari agama. Padahal, jika ia mengetahui racun, ular, serta sakit pedih yang terdapat di bawah kebebasan dan bebas dari tanggung jawab yang diperolehnya itu, segera ia kembali kepada tugasnya dengan tobat.

Isyarat

Saudaraku! Karena setiap manusia memiliki titik tempat bersandar, pekerjaan yang dapat dilakukan manusia pun berbeda menurut perbedaan titik sandarannya. Misalnya, seorang prajurit yang bersandar kepada sultan besar melakukan pekerjaan yang tidak dapat dilakukan seorang raja, sebab titik sandarannya lebih besar daripada raja tersebut. Ya, kemenangan baûda, yakni nyamuk yang ditugaskan Kudrat Azali, atas Namrud; dan suatu biji yang, berdasarkan izin serta daya yang diberikan oleh

ﻓَﺎﻟِﻖُ ﺍﻟْﺤَﺐِّ ﻭَ ﺍﻟﻨَّﻮٰﻯ,

memuat seluruh perangkat serta bahan pohon besar, yakni memasukkannya ke dalam dirinya, masing-masing merupakan hakikat yang menerangi hakikat ini.

Isyarat

Saudaraku! Perbedaan antara jalan yang kuikuti dengan ilham dari Al-Qur'an dalam karyaku bernama ‘Katre’ dan jalan yang diikuti ahli pemikiran serta filsafat adalah sebagai berikut:

Sebuah tongkat maknawi—seperti tongkat Musa—telah dikaruniakan, yang diilhami dari Al-Qur'an kepada keadaan hati. Jika dengan tongkat ini suatu zarah mana pun dalam kitab kainat dipukul, segera air kehidupan keluar. Sebab, pemberi pengaruh hanya dapat terlihat dalam karyanya.

Menemukan air kehidupan melalui murakabah-murakabah yang seperti lift maknawi amat sukar.

Adapun ahli pemikiran yang memerlukan perantara harus menjelajahi seluruh penjuru alam hingga Arasy. Agar tidak dikalahkan waswas, bayangan, serta setan yang menyerang dalam jarak panjang itu dan keluar dari jalan, diperlukan banyak bukti, tanda, serta penanda agar mereka tidak salah jalan.

Adapun Al-Qur'an telah memberi kita suatu hakikat seperti tongkat Musa. Di mana pun aku berada, bahkan sekalipun di atas batu, aku memukulkan tongkat dan air kehidupan memancar. Aku tidak membutuhkan perjalanan panjang dengan pergi ke luar alam, atau penjagaan agar pipa-pipa air tidak patah serta pecah. Ya, melalui bait

ﻭَ ﻓ۪ﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻟَﻪُ ﺍٰﻳَﺔٌ ﺗَﺪُﻝُّ ﻋَﻠٰﻰ ﺍَﻧَّﻪُ ﻭَﺍﺣِﺪٌ,

hakikat ini tampak dengan hakikatnya. {(): Peringatan: Bagi orang yang ingin menempuh jalan yang kutemukan melalui petunjuk Al-Qur'an, dan untuk memperkenalkan jalan itu kepadanya dengan baik, Kumpulan Risale-i Nur merupakan pengenal yang baik.}

Isyarat

Saudaraku! Dalam wujud nafsu terdapat kebutaan. Selama kebutaan itu tinggal dalam wujudnya seberat zarah, ia menjadi tirai yang menghalangi tampaknya matahari hakikat. Ya, dari apa yang kulihat langsung terbukti bahwa apabila terlihat kelemahan pada suatu batu kecil dalam benteng besar yang penuh bukti serta dalil pasti dan meyakinkan, nafsu yang sepatutnya buta itu mengingkari seluruh benteng dan menjungkirbalikkannya. Kebodohan serta dungunya nafsu dipahami dari perusakan tanpa adil seperti ini.

Isyarat

Wahai manusia! Dari tindakan serta pekerjaan yang dilakukan dalam medan wujudmu, yang berada dalam tangan pilihanmu hanya berbanding satu dari seribu. Sisanya milik Mâlik al-Mulk. Karena itu, ambillah beban menurut dayamu sendiri. Jika tidak, engkau tertindih di bawahnya. Jangan mencoba mengangkat batu-batu besar dengan kesadaran setipis rambut. Tanpa Izin Mâlikmu, jangan ulurkan tangan kepada kerajaan⁠-⁠Nya. Karena itu, ketika dengan lalai melakukan pekerjaan atas namamu sendiri, jangan melampaui batasmu. Jika atas nama Mâlikmu, ambil serta lakukan apa yang engkau inginkan, tetapi dengan syarat berada dalam lingkaran Izin, Masyîah, serta Perintah⁠-⁠Nya. Izin serta Masyîah⁠-⁠Nya pun engkau pelajari dari syariat⁠-⁠Nya.

Isyarat

Wahai orang yang menghendaki kemuliaan, kehormatan, nama, serta ketenaran! Marilah, ambil pelajaran itu dariku. Ketenaran merupakan ria itu sendiri dan madu beracun yang membunuh hati. Ia menjadikan manusia hamba serta budak bagi manusia. Jika engkau jatuh dalam bencana serta musibah itu, ucapkanlah

ﺍِﻧَّﺎ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻭَﺍِﻧَّٓﺎ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺭَﺍﺟِﻌُﻮﻥَ

dan selamatlah dari bencana tersebut!