HUBAB (GELEMBUNG)
Dari samudra Al-Qur'an yang penuh Hikmah
ﺧُﺪَﺍﻯِ ﭘُﺮْ ﻛَﺮَﻡْ ﺧُﻮﺩْ ﻣُﻠْﻚِ ﺧُﻮﺩْ ﺭَﺍ ﻣ۪ﻰ ﺧَﺮَﺩْ ﺍَﺯْ ﺗُﻮ ﺑَﺮَﺍﻯِ ﺗُﻮ ﻧِﮕَﻪْ ﺩَﺍﺭَﺩْ ﺑَﻬَﺎﻯِ ﺑ۪ﻰ ﮔِﺮَﺍﻥْ ﺩَﺍﺩَﻩ
Said Nursî
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ﻋَﻠٰﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪ۪ ﺍَﺟْﻤَﻌ۪ﻴﻦَ
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang berzikir serta salat!
Suatu hukum yang engkau umumkan, pernyataan yang engkau ajukan, serta keyakinan yang engkau minta kesaksian baginya melalui kata-kata diberkahi seperti
ﺍَﺷْﻬَﺪُ ﺍَﻥْ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ,
ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ,
dan ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ, begitu keluar dari lisanmu, bergabung dengan pembenaran serta kesaksian jutaan orang beriman.
Demikian pula, seluruh dalil, saksi, serta bukti yang menunjukkan bahwa Islam adalah haq dan hakikat, serta bahwa hukum-hukumnya tepat dan benar, menunjukkan bahwa pernyataan serta keyakinanmu itu haq.
Demikian pula, karunia, limpahan, serta berkah Ilahi yang amat besar mengikuti perkataan-perkataan diberkahi dan suci yang engkau ucapkan itu.
Demikian pula, air kehidupan serta minuman surga yang dinikmati dalam hati oleh seluruh orang beriman dan bertauhid dari kata-kata diberkahi tersebut, engkau pun meminumnya dari bejana-bejana suci itu.
Ketahuilah! Di antara kaidah-kaidah usul ialah bahwa mengenai suatu perkara, perkataan orang yang membuktikan lebih kuat daripada perkataan orang yang menyangkal. Sebab, yang membuktikan memiliki pembantu, sehingga perkataannya memiliki daya. Yang menyangkal tidak memiliki pembantu dan tinggal sendiri, sehingga perkataannya tidak memiliki daya. Bahkan, jika seribu orang menyangkal sesuatu, mereka seperti satu orang. Jika seribu orang membuktikan, setiap yang membuktikan menjadi seribu. Sebab, semuanya memandang satu hal dan, karena menunjuk satu titik, saling menguatkan. Pada orang-orang yang menyangkal tiada saling menguatkan; masing-masing tinggal sendiri.
Misalnya, setiap dari seribu orang yang melihat serta membuktikan satu bintang melalui seribu jendela membantu yang lain dan menguatkan perkataannya. Sebab, seribu orang itu membuktikan sesuatu seolah-olah menunjukkannya dengan jari. Yang menyangkal tidak demikian, sebab penyangkalan memerlukan sebab, dan sebab-sebab berbeda. Misalnya, yang satu berkata, ‘Mataku lemah, aku tidak melihatnya’; yang lain, ‘Rumah kami tidak memiliki jendela’; yang lainnya, ‘Aku tidak dapat mengangkat kepala dan melihat karena dingin.’ Demikian seterusnya. Karena masing-masing memperlihatkan sebab berbeda bagi penyangkalan serta pengakuannya, tiadanya bintang menurut dirinya tidak menunjukkan tiadanya bintang dalam nafsul-amr, sehingga mereka tidak dapat saling membantu.
Karena itu, kesepakatan orang-orang sesat dalam menyangkal suatu perkara iman seperti berita satu orang; tiada pengaruhnya. Adapun perkataan orang-orang yang mendapat hidayah dalam perkara-perkara iman, masing-masing membantu serta menguatkan yang lain.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! (Wahai saudaraku yang aziz, ketahuilah!) Apa pun yang diperlukan keseluruhan, bagian pun memerlukannya. Misalnya, apa yang diperlukan bagi terwujudnya suatu pohon juga diperlukan bagi wujud satu buah. Maka, Khâliq buah merupakan Khâliq pohon pula. Bahkan, Khâliq bumi serta pohon penciptaan juga Khâliq itu.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Terdapat perkara yang kedua sisinya amat jauh satu sama lain. Setiap sisi, seperti biji, telah bertunas, menjadi pohon, serta mengembangkan cabang dan ranting. Ragu serta bayangan tidak sepatutnya hinggap pada perkara demikian. Sebab, suatu biji dapat tercampur dengan biji lain selama keduanya tetap di bawah tanah sebagai biji. Namun, jika engkau ragu setelah ia menjadi pohon serta berbuah, seluruh buahnya bersaksi melawanmu. Jika engkau membayangkan bahwa ini biji lain, seluruh buah pohon itu mendustakanmu. Tidak mungkin bagimu menganggap biji yang telah berubah menjadi pohon apel sebagai biji pohon hanzal itu. Hal ini hanya mungkin melalui bayangan, atau dengan berubahnya seluruh apel menjadi hanzal; ini pun mustahil.
Karena itu, kenabian merupakan biji yang darinya pohon Islam keluar bersama seluruh buah serta bunganya. Al-Qur'an pun, seperti matahari yang menghasilkan planet-planet sebagai buah, menghasilkan sebelas rukun Islam. Setelah memandang serta melihat buah-buah yang bernilai seisi dunia ini, adakah tempat bagi ragu serta bimbang dalam bijinya? Hâşâ...
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Burung amat indah seperti merak keluar dari telur, berkembang sempurna, dan mulai terbang di langit. Setelah menjadi terkenal di penjuru alam, tiada keraguan bahwa orang yang ingin mencari serta menemukan keindahan, kesempurnaan, dan kemajuan burung itu dalam kulit telurnya yang tertinggal di tanah adalah bodoh.
Karena itu, orang yang memandang awal hidup Nabi kita ﷺ yang diriwayatkan sejarah dengan pandangan materi, dangkal, serta lahiriah tidak dapat memahami pribadi maknawinya dan tidak dapat mencapai tingkat nilainya. Awal hidup, kebutuhan-kebutuhan manusianya, serta keadaan lahiriahnya hanya harus dipandang sebagai kulit tipis serta cangkang halus, yang dari dalamnya keluar matahari dua alam serta pohon Muhammad ﷺ seperti Tuba. Ia disirami limpahan Ilahi dan berkembang sempurna melalui karunia Rabbani.
Karena itu, ketika terdengar sesuatu yang lemah tentang keadaan lahiriah awal hidup Nabi Yang Agung ﷺ, hendaknya tidak berhenti di atasnya, melainkan segera mengangkat kepala dan memandang cahaya-cahaya yang beliau sebarkan ke seluruh penjuru alam.
Selain itu, orang yang memandang awal hidupnya dengan ragu serta sangsi tentu tidak dapat membedakan sumber dan tempat tampak, mata air dan tempat pantulan, serta yang melekat pada zat dan tajalli. Karena itu ia jatuh dalam ragu. Ya, Nabi Yang Agung ﷺ merupakan tempat tampak serta pantulan tajalli Ilahi; beliau bukan sumber serta mata air. Sebab, pribadi itu ﷺ hanyalah hamba dan dalam ibadah lebih maju daripada setiap orang. Maka, kemajuan serta kesempurnaan yang demikian banyak terlihat bukan milik yang melekat pada dirinya. Semuanya hanyalah tajalli Rahmân Yang Rahîm yang diberikan dari luar.
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, tiada sesuatu pun dapat menjadi sumber bahkan bagi satu zarah melalui makna ismi. Namun, suatu zarah melalui makna harfi menjadi tempat tampak bagi bintang-bintang langit. Hanya karena dipandang dengan lalai dalam anggapan bahwa zarah itu merupakan sumber, seni Ilahi diserahkan kepada tabiat yang dijadikan tagut.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Doa-doa merupakan contoh bagi rahasia tauhid serta ibadah. Sebagaimana diperlukan dalam tauhid serta ibadah, orang yang berdoa pun harus berkata bahwa Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Mendengar keinginan serta permohonan yang beredar dalam hatinya, dan harus meyakini bahwa Dia Berdaya. Keyakinan ini mengharuskan bahwa Allah سُبْحَانَهُ Mengetahui segala sesuatu serta Berdaya atas segala sesuatu.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Matahari yang menerangi alam ini dapat masuk melalui pancaran ke dalam mata lalat dan meneranginya. Namun, percikan api tidak mungkin masuk ke dalam matanya dan meneranginya, sebab ia memecahkan mata itu.
Demikian pula, suatu zarah menjadi tempat tampak tajalli Matahari Azali, tetapi tidak dapat menjadi wadah bagi Pemberi Pengaruh Hakiki.
Ketahuilah, wahai nafsu yang sombong, tinggi hati, serta keras kepala! Engkau merupakan tempat keadaan seperti lemah, tak berdaya, fakir, serta miskin, sehingga engkau tidak dapat melawan mikroba yang melekat pada paru-parumu dan hanya dapat terlihat setelah diperbesar berkali-kali; ia menjatuhkan serta membunuhmu.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Ketika berkeliling dalam medan yang diliputi daya ingat, yang disebut biji sesawi dan seperti sebutir jawawut, medan itu berubah menjadi padang demikian besar hingga tidak habis dijelajahi. Bagaimana orang yang tidak dapat menghabiskan medan di dalam biji sesawi itu akan menghabiskan lingkaran biji sesawi tersebut? Jika keadaan biji sesawi dalam pandangan akal seperti ini, bagaimana lingkaran yang dijelajahi akal? Akal pun menelan dunia.
Fesübhanallah! Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq telah Menjadikan biji sesawi sebagai dunia bagi akal, dan dunia sebagai biji sesawi bagi akal.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Salah satu kezaliman terbesar manusia ialah menyandarkan serta menyerahkan kepada satu pribadi kebaikan dan buah-buah yang dihasilkan usaha suatu jamaah besar. Dalam kezaliman ini terdapat syirik tersembunyi. Sebab, menghubungkan kepada satu pribadi hasil-hasil yang diperoleh suatu jamaah melalui kehendak bebas mereka sebagai manusia menunjukkan bahwa pribadi itu memiliki daya luar biasa pada tingkat menciptakan. Bahkan, ilah-ilah orang Yunani kuno serta penyembah berhala merupakan hasil bayangan-bayangan setani yang zalim seperti ini.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Orang yang berzikir memiliki beragam latifah yang menarik limpahan Ilahi. Sebagian terikat kepada kesadaran hati serta akal.
Sebagian lainnya tanpa kesadaran, yakni tidak mengikuti kesadaran-kesadaran.
ﻣِﻦْ ﺣَﻴْﺚُ لَا ﻳَﺸْﻌُﺮُ
terjadi. Karena itu, bahkan zikir-zikir yang dilakukan dengan lalai tidak kosong dari limpahan.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq telah Menciptakan manusia dalam susunan amat menakjubkan. Ia memiliki kesatuan di antara yang banyak, sifat sederhana dalam susunan, serta sifat individual di dalam jamaah. Sebagaimana setiap anggota, daya, serta latifah yang dimuatnya memiliki hal-hal lezat dan sakit sendiri, masing-masing juga mengambil bagian dari lezat, sakit, serta rasa terpengaruh teman-temannya, sebagaimana dipahami dari cepatnya saling membantu dan menolong di antara mereka.
Berkat penciptaan ini, jika manusia menempuh jalan ubudiyah, ia layak memperoleh beberapa bagian dari seluruh jenis hal lezat, nikmat, serta kesempurnaan. Demikian pula, jika mengikuti jalan keakuan, ia layak menjadi tempat berbagai sakit serta azab.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Terus mengulang zikir kalimat tauhid adalah untuk memutus ikatan serta tali yang mengikat hati kepada banyak hal, dan memalingkan wajah nafsu dari kekasih-kekasih yang dijadikannya berhala hingga tingkat menyembah. Selain itu, sebagaimana mengisyaratkan bahwa daya serta latifah dalam pribadi yang berzikir memiliki tauhid masing-masing, hal itu juga untuk memutus hubungan mereka dengan sekutu-sekutu yang sesuai bagi masing-masing.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Dalam mengambil manfaat dari pahala yang muncul, misalnya, dari satu Al-Fatihah yang dibaca seseorang bagi kerabatnya, satu serta seribu sama. Sebagaimana dalam mendengar suatu lafaz yang keluar dari mulut, jamaah serta satu individu sama. Sebab, hal-hal halus seperti percetakan; dari satu kata yang dicetak keluar seribu kata.
Demikian pula, ini merupakan isyarat bahwa dalam hal-hal bercahaya, bersama satu terdapat berlipat banyak, yakni dalam satu hal bercahaya terdapat seribu pahala.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Maqam Mahmud (kedudukan terpuji) Nabi Yang Agung ﷺ seperti hidangan Ilahi serta jamuan Rabbani. Ya, karunia, limpahan, serta nikmat yang dibagikan mengalir dari jamuan tersebut. Salawat mulia yang dibaca kepada Rasul Yang Agung ﷺ merupakan jawaban atas undangan kepada jamuan itu.
Demikian pula, ketika orang yang mengucapkan salawat mulia menggambarkan Pribadi Nabi ﷺ dengan suatu sifat, hendaknya ia memikirkan ke mana sifat itu berkaitan agar menjadi pendorong baginya untuk berulang-ulang mengucapkan salawat.
Ketahuilah, wahai ulama agama! {(): Ini penting.} Jangan bersedih dengan berkata, ‘Upahku sedikit, ilmuku tidak diminati.’ Sebab, balasan dunia memandang kebutuhan, bukan nilai yang melekat pada diri. Adapun keunggulan yang melekat pada diri memandang balasan akhirat. Maka, simpanlah keunggulanmu yang melekat pada diri untuk balasan akhirat; jangan menjualnya kepada barang dunia senilai beberapa kuruş.
Ketahuilah, wahai penulis yang memberi ceramah melalui bahasa surat kabar dengan sifat khatib umum! Engkau berhak memperlihatkan nafsumu sendiri rendah dan mengumumkan cacatmu dengan menyesal. Namun, engkau sama sekali tidak berhak mencemarkan Islam dengan ocehan yang bertentangan serta berlawanan dengan syiar-syiar Islam.
Siapa yang menjadikanmu wakil? Dari mana engkau mengambil fatwa? Berdasarkan hak apa engkau menyebarkan serta mengumumkan kesesatanmu dengan melontarkan ocehan tentang Islam atas nama bangsa dan umat? Jangan menganggap bangsa serta umat sesat seperti dirimu. Kepada siapa engkau menjual kesesatanmu? Ini negeri Islam, bukan negeri Yahudi.
Mengumumkan melalui surat kabar sesuatu yang tidak diterima seluruh orang beriman merupakan ajakan bagi bangsa menuju sesat dan pelanggaran hak-hak umat. Meskipun secara hukum tidak boleh melanggar hak satu orang, berdasarkan keberanian apa engkau melanggar hak suatu bangsa besar, bahkan alam Islam? Tutup mulutmu!
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Orang-orang kafir menjadi musuh kaum Muslim serta ahli Al-Qur'an merupakan tuntutan kufur, sebab kufur bertentangan dengan iman. Selain itu, Al-Qur'an telah menghukum orang-orang kafir, ayah-ayah, serta leluhur mereka dengan pemusnahan abadi.
Karena itu, cinta kepada orang-orang kafir yang tidak mungkin memiliki keakraban serta cinta dengan kaum Muslim terbuang sia-sia. Cinta mereka tidak dapat diperoleh sebagai balasan. Pertolongan tidak dapat diharapkan dari mereka. Hanya dengan mengucapkan
ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻮَﻛ۪ﻴﻞُ,
harus berlindung kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Perbedaan antara peradaban orang kafir dan peradaban orang beriman:
Yang pertama merupakan keliaran mengerikan yang mengenakan pakaian peradaban. Lahiriahnya berkilau, batinnya membakar. Ia adalah setan yang luarannya berhias, dalamnya kotor, rupanya akrab, serta wataknya terbalik.
Yang kedua merupakan malaikat memikat, yang batinnya cahaya, lahiriahnya rahmat, dalamnya cinta, luarannya persaudaraan, rupanya saling membantu, serta wataknya kasih.
Ya, sebagaimana orang beriman, melalui tuntutan iman serta tauhid, memandang kainat sebagai buaian persaudaraan, tali yang mengikat seluruh makhluk, terutama manusia dan terutama kaum Muslim, satu sama lain hanyalah persaudaraan. Sebab, iman menganggap seluruh orang beriman sebagai saudara, seperti saudara-saudara yang hidup di bawah sayap kasih satu ayah.
Adapun kufur merupakan dingin yang bahkan mengeluarkan saudara-saudara dari persaudaraan. Ia menanam benih rasa asing dalam segala sesuatu dan menjadikan segala sesuatu musuh bagi segala sesuatu. Ya, meskipun terdapat persaudaraan dalam semangat bangsa mereka, itu sementara, tersambung serta terbatas dengan berpisah dan perpisahan azali serta abadi.
Adapun kebaikan serta kemajuan industri yang luhur yang terlihat dalam peradaban orang kafir, bahwa semuanya dipantulkan serta diambil dari peradaban Islam, bimbingan Al-Qur'an, dan agama-agama samawi, telah dijelaskan serta dibuktikan sebagaimana diperlukan dalam karya-karyaku ‘Lemaat’ dan ‘Sünuhat’ (Lintasan Pikiran).
ﺭَﺍﺟِﻌْﻬُﻤَﺎ ﺗَﺮٰﻯ ﺍَﻣْﺮًﺍ ﻋَﻈ۪ﻴﻤًﺎ ﻏَﻔَﻞَ ﻋَﻨْﻪُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Pintu ijtihad, yang merupakan perkara agama, terbuka. Namun, pada masa ini terdapat enam penghalang untuk memasukinya.
Yang pertama:
Sebagaimana ketika badai keras pada musim dingin, bahkan lubang-lubang sempit ditutup, membuka pintu-pintu baru sama sekali bukan pekerjaan berakal. Sebagaimana membuka lubang pada dinding untuk memperbaiki saat banjir besar menyerang merupakan jalan menuju tenggelam, demikian pula, pada masa kemungkaran, saat adat-adat asing menyerbu, ketika bidah banyak, dan saat kesesatan merusak ini, membuka pintu-pintu baru dalam istana Islam atas nama ijtihad, serta membuka lubang-lubang pada dindingnya yang akan menjadi jalan masuk bagi para perusak, merupakan kejahatan terhadap Islam.
Yang kedua:
Pokok-pokok agama yang mutlak perlu tidak dapat dimasuki ijtihad, sebab semuanya pasti serta tertentu. Pokok-pokok itu seperti makanan serta gizi; pada masa ini semuanya ditinggalkan dan terguncang. Padahal, seluruh perhatian serta usaha harus dikerahkan untuk menegakkan dan menghidupkannya. Dalam bagian teoretis Islam, terdapat pemikiran melalui ijtihad para pendahulu yang murni serta ikhlas, yang tidak sempit bagi kebutuhan seluruh zaman. Meninggalkan semuanya lalu membuat ijtihad-ijtihad baru menurut hawa hasrat merupakan pengkhianatan yang mengada-adakan bidah.
Yang ketiga:
Bagi manusia setiap zaman, suatu barang memikat yang dianggap berharga serta menarik pikiran diminati. Misalnya, pada masa ini yang paling diminati dan paling dibanggakan ialah sibuk dengan politik serta menjamin hidup dunia. Pada abad salaf saleh dan pasar masa itu, barang paling diminati ialah menarik dari Firman Khâliq langit serta bumi hal-hal yang Diridai-Nya dan Dikehendaki-Nya dari kita, serta memperoleh kebahagiaan abadi dalam alam akhirat yang telah terbuka melalui cahaya kenabian dan Al-Qur'an hingga tak dapat ditutup, dan mendapatkan jalan-jalan yang mengantarkan kepadanya.
Dari segi ini, pada masa-masa itu seluruh pikiran, hati, serta ruh menghadap kepada mengenal dan mempelajari hal-hal yang Diridai Allah سُبْحَانَهُ. Karena itu, pada masa-masa tersebut orang-orang yang memiliki bakat serta kemampuan memperoleh pelajaran dari seluruh keadaan, peristiwa, serta percakapan yang terjadi, sehingga bakat-bakat luhur yang membentuk dasar bagi ijtihad terwujud.
Adapun kini, karena tercerainya pikiran serta hati, lemahnya perhatian serta semangat, dan manusia terikat serta berminat kepada politik dan filsafat, seluruh bakat menghadap ilmu-ilmu masa kini dan hidup dunia. Tiada ijtihad lurus yang akan dikerahkan bagi hukum-hukum agama.
Yang keempat:
Jika tujuan orang yang cenderung masuk ke dalam Islam melalui pintu ijtihad serta memperluas perkara-perkaranya ialah memperoleh takwa serta kesempurnaan dengan mematuhi pokok-pokok yang mutlak perlu, itu baik. Namun, bagi orang yang meninggalkan pokok-pokok tersebut dan mengutamakan hidup dunia daripada hidup akhirat, kecenderungannya kepada ijtihad merupakan kecenderungan merusak, serta menemukan jalan untuk keluar dan melarikan diri dari kewajiban.
Yang kelima:
Sebagaimana terwujudnya setiap sesuatu serta setiap hukum berdasarkan suatu sebab penetapan, ia juga mengikuti manfaat. Namun, manfaat bukan sebab penetapan, melainkan Hikmah yang mengutamakan. Pikiran-pikiran masa ini menghadap bahagia dunia sebagai tujuan itu sendiri. Adapun pandangan syariat menghadap bahagia akhirat sebagai tujuan itu sendiri, dan dengan sendirinya juga memandang dunia, sebab dunia merupakan jalan menuju akhirat.
Terdapat banyak pekerjaan yang merupakan bencana umum dan manusia terikat padanya, sehingga menjadi hal-hal yang tak dapat dihindari. Karena pekerjaan seperti itu lahir dari kecenderungan tidak sah melalui pilihan buruk, semuanya bukan keadaan darurat yang membolehkan hal-hal terlarang. Semuanya tidak dapat masuk ke dalam cakupan keringanan serta izin syariat. Misalnya, jika seseorang dengan pilihan buruk membuat dirinya mabuk melalui cara haram, ia tidak dapat dimaafkan dalam tindakan yang dilakukannya saat mabuk.
Pada masa ini, ijtihad seperti itu bukan samawi, melainkan ijtihad duniawi. Pengelolaan yang dilakukan dalam Hukum-Hukum Khâliq langit serta bumi dengan ijtihad seperti ini ditolak.
Misalnya, sebagian orang lalai menganggap baik khotbah dibaca dalam bahasa Turki agar orang-orang terutama mengetahui keadaan politik. Padahal, keadaan politik seperti ini tidak bebas dari dusta, tipu daya, serta pikiran setani. Kedudukan khotbah merupakan kedudukan yang diadakan untuk menyampaikan Hukum-Hukum Ilahi.
Pertanyaan:
Orang awam tidak mengetahui bahasa Arab dan tidak dapat memahaminya?
Jawaban:
Orang awam memerlukan pokok-pokok agama yang mutlak perlu serta telah diterima. Kedudukan khotbah pun untuk menyampaikan hukum-hukum seperti ini. Sekalipun tidak secara rinci, hukum-hukum tersebut dalam pakaian bahasa Arab dikenal serta diketahui secara ringkas oleh orang awam. Selain itu, wibawa, sifat tinggi dan mulia, keunggulan, serta daya yang terdapat dalam bahasa Arab tidak terdapat dalam bahasa-bahasa lain.
Ketahuilah, wahai orang-orang bodoh yang lalai, tuli, serta buta, yang menyembah sebab-sebab dalam gelap! Akan kutulis satu segi dari kesaksian-kesaksian melalui lima puluh lima segi yang diberikan susunan-susunan serta zarah-zarah kainat atas Wujud yang Wajib dan keesaan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Demikianlah:
Menyandarkan penciptaan segala sesuatu kepada diri mereka atau sebab-sebab menimbulkan rasa heran serta aneh. Ini menuntut penolakan serta pengingkaran, yang menghasilkan kesesatan. Ini menyebabkan penderitaan ruh serta kekacauan akal, yang membuat ruh dan akal berlari, lalu memaksa mereka berlindung kepada Wâjibul Wujûd.
Sebab, setiap kesulitan diselesaikan dengan Kudrat-Nya, simpul-simpul yang tidak terbuka dibuka melalui Kehendak-Nya, dan hati menjadi tenteram dengan mengingat-Nya. Akan kujelaskan hakikat ini melalui suatu perbandingan sebagai berikut:
Pelaku bagi segala yang ada, yakni Yang Mewujudkan segala sesuatu, Wajib serta Satu, atau mungkin ada serta banyak. Apabila Pelaku itu Wajib serta Satu, tiada beban ataupun rasa aneh. Sekalipun ada, itu hanya dalam bayangan.
Apabila disandarkan kepada sebab-sebab, beban serta rasa aneh keluar dari sifat bayangan dan terwujud secara pasti serta hakiki. Sebab, di antara sebab-sebab banyak yang tidak bebas dari cacat serta lemah, tiada satu sebab pun yang dapat mengangkat satu hasil di atas bahunya. Dalam penciptaan satu hal, sebab-sebab tak berujung harus ikut. Misalnya, karena lebah berkaitan dengan segala sesuatu itu, jika penciptaannya disandarkan kepada sebab-sebab, langit serta bumi harus ikut.
Selain itu, munculnya banyak dari satu tidak sesukar munculnya satu dari banyak; ia lebih mudah. Misalnya, keteraturan yang diberikan serta pekerjaan yang diperintahkan seorang panglima kepada banyak individu, hanya dapat mereka lakukan sendiri setelah menghadapi kesulitan besar.
Selain itu, bersama beban serta rasa aneh tak terhitung, penyandaran penciptaan kepada sebab-sebab membentuk dasar bagi banyak hal mustahil:
1-
Pada setiap zarah harus dibayangkan Sifat-Sifat Wâjibul Wujûd.
2-
Dalam keilahian, harus ikut sekutu-sekutu tak berujung.
3-
Setiap zarah harus menjadi penguasa serta yang dikuasai, seperti batu-batu dalam bangunan berkubah yang selamat dari jatuh dengan saling bersandar.
4-
Sifat-sifat seperti kesadaran, kehendak, serta daya harus terdapat pada setiap zarah, sebab seni indah menghendaki sifat-sifat itu.
Akan kita katakan beberapa contoh untuk menjelaskan hakikat ini:
Yang pertama:
Berdasarkan rahasia bening, matahari memancarkan pantulannya dengan sama pada zarah-zarah kaca, laut-laut bumi, serta planet-planet langit.
Yang kedua:
Berdasarkan rahasia saling berhadapan, perbandingan pantulan lampu di pusat kepada cermin-cermin yang membentuk lingkaran sama.
Yang ketiga:
Dalam menjadi terang serta memperoleh sinar dari cahaya atau sesuatu bercahaya, satu serta seribu sama. Tuntutan hal bercahaya demikian.
Yang keempat:
Berdasarkan rahasia keseimbangan, jika dalam kedua piring timbangan peka terdapat dua kenari atau dua matahari, piring mana pun yang ditambahi sesuatu akan turun dan yang lain naik ke udara.
Yang kelima:
Tiada perbedaan dalam mengarahkan serta menggerakkan kapal besar dan kapal amat kecil, baik kaptennya seorang anak maupun orang dewasa, sebab terdapat keteraturan.
Yang keenam:
Perbandingan suatu hakikat bebas dari materi, seperti hewan yang berbicara, kepada individu-individunya yang kecil serta besar sama.
Kesimpulannya:
Melalui contoh-contoh ini, telah jelas bahwa tidak terdapat perbedaan antara sedikit dan banyak, kecil dan besar, dalam penyandaran mereka kepada satu hal, dan hal ini berada dalam lingkaran kemungkinan itu. Karena rahasia-rahasia seperti keteraturan, keseimbangan, kepatuhan serta taat kepada perintah-perintah penciptaan yang terdapat dalam segala sesuatu, bercahayanya Kudrat Azali, serta beningnya sisi dalam segala sesuatu, menghidupkan lalat dan bumi, menciptakan pohon dan langit, serta menciptakan zarah dan matahari sama bagi Wâjibul Wujûd.
Ya, sama serta tiada berbeda ini terlihat dengan mata. Lihatlah! Jika ukiran serta seni Kudrat Azali, Yang hakikat-Nya tidak diketahui tetapi Dikenal melalui mukjizat-mukjizat-Nya, terutama pada buah serta sayur, diserahkan kepada sebab-sebab, ukiran serta seni itu akan tertindih di bawah sebab-sebab.
Kesimpulannya:
Dalam penciptaan hal-hal hidup, berwujud, serta bercahaya terdapat tiga pokok:
Pokok Pertama:
Sebab-sebab ditempatkan sebagai tirai agar secara lahiriah tidak tampak Kudrat berhubungan langsung dengan urusan-urusan rendah.
Pokok Kedua:
Karena sisi dalam hidup, wujud, serta cahaya bening seperti sisi luarnya, sebab-sebab yang seperti tirai padat tidak ditempatkan. Hanya ada perantara-perantara yang menyerupai tirai amat tipis serta halus, tetapi Kudrat Allah سُبْحَانَهُ terlihat di bawahnya.
Pokok Ketiga:
Tiada beban dalam pengaruh serta pembuatan oleh Kudrat Azali. Ya, tiada sesuatu pun berat bagi Kudrat Yang Mengeluarkan pohon ara besar dari satu biji ara serta mengikat dan mengeluarkan melon besar dengan suatu tangkai tipis. Wujud serta tampaknya Pemilik Kudrat yang Dikenal melalui mukjizat-mukjizat-Nya seperti ini lebih nyata daripada wujud serta tampaknya kainat. Sebab, setiap ciptaan menunjukkan dirinya melalui beberapa segi yang terlihat. Namun, ia memiliki banyak segi petunjuk kepada Sang Pembuatnya, melalui penglihatan maupun akal. Jika wujud ciptaan mana pun diminta dari sebab-sebab, sekalipun seluruh sebab berkumpul serta saling membantu, mereka tidak dapat membuat yang serupa dengan ciptaan tersebut.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Medan akal serta pikiran manusia demikian luas hingga tidak mungkin diliputi, dan demikian sempit hingga tidak ada tempat bagi jarum. Ya, kadang ia berputar dalam zarah, berenang dalam tetes, serta terkurung pada titik. Kadang ia mengambil alam dalam tangan seperti semangka dan membawa kainat sebagai tamu, lalu menjamunya dalam ruang akal. Kadang ia demikian melampaui batas dan naik hingga berusaha melihat Wâjibul Wujûd. Kadang ia mengecil dan menyerupai zarah. Kadang ia membesar sebesar langit. Kadang ia masuk dalam tetes. Kadang ia memuat fitrah serta penciptaan.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Nikmat-nikmat yang Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Berikan kepada manusia, baik dari luar dirinya maupun dalam dirinya, datang serta sampai kepada manusia dalam beberapa syarat. Misalnya, manusia dapat mengambil manfaat dari nikmat seperti sinar, udara, makanan, suara, serta bunyi hanya dengan terbukanya perantara-perantara seperti mata, telinga, mulut, serta hidung. Perantara-perantara ini ada melalui penciptaan Allah سُبْحَانَهُ. Dalam usaha serta pilihannya, tangan manusia hanya membuka perantara-perantara tersebut.
Karena itu, jangan menyangka nikmat-nikmat tersebut tanpa pemilik serta tanpa perhitungan, seolah-olah ditemukan di jalan. Semuanya datang melalui Maksud Sang Pemberi Nikmat Yang Hakiki, dan manusia mengambilnya dengan pilihan sendiri. Setelah itu, menurut kebutuhan, semuanya tersebar dalam tubuhnya dengan Kehendak Yang Memberi nikmat.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Sebagaimana akhir serta penghujung sesuatu tidak lebih rendah daripada awalnya dalam keteraturan serta keindahan, lahir serta rupanya pun tidak lebih indah daripada batinnya dalam seni dan Hikmah. Maka, jangan menyangka sisi dalam serta penghujung segala sesuatu tanpa pemilik dan menyerahkannya kepada kebetulan. Karya seni serta Hikmah pada bunga dan buah yang keluar dari bunga tidak lebih rendah daripada karya seni serta ukiran pada biji dan tunas yang keluar dari biji.
Karena itu, Sang Pembuat Dzul-Jalâl adalah Yang Awwal serta Yang Âkhir, Yang Zhâhir serta Yang Bâthin.
ﻭَ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺴَّﻤ۪ﻴﻊُ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! I'jaz (kemukjizatan) Al-Qur'an merupakan penghalang bagi pengubahan isinya. Ya, karena Al-Qur'an merupakan mukjizat, manusia tidak dapat membuat tiruannya. Tidak mungkin merusak serta mengubahnya dengan mengganti ayat-ayatnya dengan perkataan lain. Sebab, mufasir, penulis, penerjemah, serta pengubah isi tidak dapat membuat gaya dan pakaian mereka tercampur dengan pakaian ayat. Pada ayat-ayat terdapat cap i'jaz. Perkataan yang tidak berada di bawah cap itu tidak dapat dianggap ayat. Maka, i'jaz tidak menerima perusakan serta perubahan.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Karena ketika Al-Qur'an al-Karim menghitung nikmat, ayat, serta dalil, ayat agung
ﻓَﺒِﺎَﻯِّ اٰلَٓاءِ ﺭَﺑِّﻜُﻤَﺎ ﺗُﻜَﺬِّﺑَﺎﻥِ
disebutkan berulang-ulang, terdapat suatu petunjuk sebagai berikut:
Keadaan jin serta manusia yang melahirkan pembangkangan mereka yang paling banyak, pelampauan batas yang paling keras, serta tidak bersyukurnya mereka yang paling besar ialah bahwa dalam nikmat mereka tidak melihat pemberian nikmat. Karena tidak melihat pemberian nikmat, mereka lalai dari Sang Pemberi Nikmat Yang Hakiki. Dengan dorongan lalai dari Sang Pemberi Nikmat, mereka menyandarkan nikmat-nikmat itu kepada sebab-sebab atau kebetulan, lalu mendustakan bahwa nikmat-nikmat tersebut datang dari Allah سُبْحَانَهُ.
Karena itu, pada awal setiap nikmat, hendaknya orang beriman membaca basmalah. Dengan memaksudkan bahwa nikmat tersebut berasal dari Allah سُبْحَانَهُ, dan mengetahui bahwa ia mengambilnya hanya dengan Nama Allah سُبْحَانَهُ serta atas nama Allah سُبْحَانَهُ, hendaknya ia membalas Allah سُبْحَانَهُ dengan rasa berutang budi serta syukur.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Ketika manusia memandang serta memikirkan hakikat-hakikat Ilahi dengan hati dan pikiran, terutama saat salat serta ibadah, waswas dan lintasan pikiran yang amat buruk, kotor, serta jelek menyerang hati dan akal seperti lalat, baik dari setan maupun nafsunya. Orang yang sibuk menolak hal-hal kosong, dalam bayangan, serta buruk seperti ini dikalahkan waswas tersebut.
Cara mengalahkan serta mengusirnya hanyalah meninggalkan pertahanan dan tidak sibuk dengannya. Ya, semakin lebah diganggu, semakin mereka menambah serangannya. Apabila tidak diganggu, mereka meninggalkan manusia dan pergi.
Waswas seperti itu pun tidak merugikan hakikat-hakikat Ilahi maupun hatimu. Ya, jika matahari serta bintang-bintang langit, mawar serta bunga-bunga surga dipandang melalui lubang-lubang saputangan kotor, kotoran pada lubang itu tidak menempel kepada yang memandang maupun yang dipandang, dan tidak memberi pengaruh buruk. {(Catatan kaki): Perkataan buruk itu bukan perkataan hatimu, sebab hatimu terpengaruh serta bersedih olehnya. Ia berasal dari tempat bisikan setani yang dekat dengan hati. Misalnya, ketika engkau berada dalam salat, di hadapan Ka'bah, dalam rasa hadir di hadapan Allah سُبْحَانَهُ, dan memikirkan ayat-ayat, rangkaian pikiran ini menangkapmu serta menyeretmu kepada hal-hal hina tanpa guna yang paling jauh. Misalnya, pantulan ular dalam cermin tidak menggigit. Gambaran api tidak membakar. Tampaknya najis tidak mengotori cermin.}
Ketahuilah, wahai Said! Apakah kesombongan serta lalai ini? Apakah kemegahan, merasa tidak butuh, serta keagungan ini? Pilihan dalam tanganmu sebesar rambut dan kemampuanmu sebesar zarah. Hidupmu telah padam, hanya satu nyala tersisa. Usiamu telah berlalu, kesadaranmu padam, satu kilau tersisa.
Waktumu telah berlalu; adakah tempat bagimu selain kubur? Wahai yang malang! Adakah batas bagi lemah serta fakirmu? Harapanmu tak berujung, ajalmu dekat. Ya, bagaimanakah keadaan manusia yang tiada daya serta pilihan dengan lemah dan fakir seperti ini? Dengan lemah seperti itu, harus mempercayai Sang Khâliq Yang Rahmân lagi Rahîm, Pemilik khazanah Rahmat. Dialah titik sandaran bagi setiap orang. Dialah tempat meminta pertolongan bagi setiap yang lemah.
ﻫٰﺬِﻩِ ﺍﻟْﻤُﻨَﺎﺟَﺎﺓُ ﺗَﺨَﻄَّﺮَﺕْ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻘَﻠْﺐِ ﻫٰﻜَﺬَﺍ ﺑِﺎﻟْﺒَﻴَﺎﻥِ ﺍﻟْﻔَﺎﺭِﺳ۪ﻰ ﻳَﺎﺭَﺏْ ﺑَﺸَﺶْ ﺟِﻬَﺖْ ﻧَﻈَﺮْ ﻣ۪ﻴﻜَﺮْﺩَﻡْ ﺩَﺭْﺩِ ﺧُﻮﺩْﺭَﺍ ﺩَﺭْﻣَﺎﻥْ ﻧَﻤ۪ﻰ ﺩ۪ﻳﺪَﻡْ ﺩَﺭْ ﺭَﺍﺳْﺖْ ﻣ۪ﻰ ﺩ۪ﻳﺪَﻡْ ﻛِﻪ ﺩ۪ﻯ ﺭُﻭﺯْ ﻣَﺰَﺍﺭِ ﭘَﺪَﺭِ ﻣَﻨَﺴْﺖْ ﻭَ ﺩَﺭْ ﭼَﭗْ ﺩ۪ﻳﺪَﻡْ ﻛِﻪ ﻓَﺮْﺩَﺍ ﻗَﺒْﺮِ ﻣَﻨَﺴْﺖْ ﻭَ ﺍ۪ﻳﻤْﺮُﻭﺯْ ﺗَﺎﺑُﻮﺕِ ﺟِﺴْﻢِ ﭘُﺮْ ﺍِﺿْﻄِﺮَﺍﺏِ ﻣَﻨَﺴْﺖْ ﺑَﺮْﺳَﺮِ ﻋُﻤْﺮْ ﺟَﻨَﺎﺯَﻩِ ﻣَﻦْ ﺍ۪ﻳﺴْﺘَﺎﺩَﻩ ﺍَﺳْﺖْ ﺩَﺭْ ﻗَﺪَﻡْ ﺍٰﺏِ ﺧَﺎﻙِ ﺧِﻠْﻘَﺖِ ﻣَﻦْ ﻭَ ﺧَﺎﻛِﺴْﺘَﺮِ ﻋِﻈَﺎﻡِ ﻣَﻨَﺴْﺖْ ﭼُﻮﻥْ ﺩَﺭْ ﭘَﺲْ ﻣ۪ﻴﻨِﮕَﺮَﻡْ ﺑ۪ﻴﻨَﻢْ ﺍ۪ﻳﻦْ ﺩُﻧْﻴَﺎﺀِ ﺑ۪ﻰ ﺑُﻨْﻴَﺎﺩْ ﻫ۪ﻴﭻْ ﺩَﺭْ ﻫ۪ﻴﭽَﺴْﺖْ ﻭَ ﺩَﺭْ ﭘ۪ﻴﺶْ ﺍَﻧْﺪَﺍﺯَﻩِ ﻧَﻈَﺮْ ﻣ۪ﻴﻜُﻨَﻢْ ﺩَﺭِ ﻗَﺒِﺮْ ﻛُﺸَﺎﺩَﻩ ﺍَﺳْﺖْ ﻭَ ﺭَﺍﻩِ ﺍَﺑَﺪْ ﺑَﺪُﻭﺭِ ﺩِﺭَﺍﺯْ ﺑَﺪ۪ﻳﺪَﺍﺭَﺳْﺖْ ﻣَﺮَﺍ ﺟُﺰْ ﺟُﺰْﺀِ ﺍِﺧْﺘِﻴَﺎﺭ۪ﻯ ﭼ۪ﻴﺰ۪ﻯ ﻧ۪ﻴﺴْﺖْ ﺩَﺭْ ﺩَﺳْﺖْ ﻛِﻪ ﺍُﻭ ﺟُﺰْﺀْ ﻫَﻢْ ﻋَﺎﺟِﺰْ ﻫَﻢْ ﻛُﻮﺗَﺎﻩُ ﻭ ﻫَﻢْ ﻛَﻢْ ﻋَﻴَﺎﺭَﺳْﺖْ ﻧَﻪ ﺩَﺭْ ﻣَﺎﺿ۪ﻰ ﻣَﺠَﺎﻝِ ﺣُﻠُﻮﻝْ ﻧَﻪ ﺩَﺭْ ﻣُﺴْﺘَﻘْﺒَﻞْ ﻣَﺪَﺍﺭِ ﻧُﻔُﻮﺫْ ﺍَﺳْﺖْ ﻣَﻴْﺪَﺍﻥِ ﺍُﻭ ﺍ۪ﻳﻦْ ﺯَﻣَﺎﻥِ ﺣَﺎﻝ ﻭ ﻳَﻚْ ﺍٰﻥِ ﺳَﻴَّﺎﻟَﺴْﺖْ ﺑَﺎ ﺍ۪ﻳﻦْ ﻫَﻤَﻪ ﻓَﻘْﺮْﻫَﺎ ﻭَ ﺿَﻌْﻔْﻬَﺎ ﻗَﻠَﻢِ ﻗُﺪْﺭَﺕِ ﺗُﻮ ﺍٰﺷِﻜَﺎﺭَﻩ ﻧُﻮِﺷْﺘَﻪ ﺍَﺳْﺖْ ﺩَﺭْ ﻓِﻄْﺮَﺕِ ﻣَﺎ ﻣَﻴْﻞِ ﺍَﺑَﺪْ ﻭَ ﺍَﻣَﻞِ ﺳَﺮْﻣَﺪْ ﺑَﻠْﻜِﻪ ﻫَﺮْ ﭼِﻪ ﻫَﺴْﺖْ ، ﻫَﺴْﺖْ ﺩَﺍﺋِﺮَﻩِ ﺍِﺣْﺘِﻴَﺎﺝْ ﻣَﺎﻧَﻨْﺪِ ﺩَﺍﺋِﺮَﻩِ ﻣَﺪِّ ﻧَﻈَﺮْ ﺑُﺰُﺭْﮔ۪ﻰ ﺩَﺍﺭَﺳْﺖْ ﺧَﻴَﺎﻝْ ﻛُﺪَﺍﻡْ ﺭَﺳَﺪْ ﺍِﺣْﺘِﻴَﺎﺝْ ﻧ۪ﻴﺰْ ﺭَﺳَﺪْ ﺩَﺭْ ﺩَﺳْﺖْ ﻫَﺮْﭼِﻪ ﻧ۪ﻴﺴْﺖْ ﺩَﺭْ ﺍِﺣْﺘِﻴَﺎﺝْ ﻫَﺴْﺖْ ﺩَﺍﺋِﺮَﻩِ ﺍِﻗْﺘِﺪَﺍﺭْ ﻫَﻤْﭽُﻮ ﺩَﺍﺋِﺮَﻩِ ﺩَﺳْﺖِ ﻛُﻮﺗَﺎﻩْ ﻛُﻮﺗَﺎﻫَﺴْﺖْ ﭘَﺲْ ﻓَﻘْﺮُ ﻭ ﺣَﺎﺟَﺎﺕِ ﻣَﺎ ﺑَﻘَﺪْﺭِ ﺟِﻬَﺎﻧَﺴْﺖْ ﻭَ ﺳَﺮْﻣَﺎﻳَﻪِ ﻣَﺎ ﻫَﻢْ ﭼُﻮ ﺟُﺰْﺀِ لَايَتَجَزَّا ﺍَﺳْﺖْ ﺍ۪ﻳﻦْ ﺟُﺰْﺀْ ﻛُﺪَﺍﻡْ ﻭَ ﺍ۪ﻳﻦْ ﻛَﺎﺋِﻨَﺎﺕِ ﺣَﺎﺟَﺎﺕْ ﻛُﺪَﺍﻣَﺴْﺖْ ﭘَﺲْ ﺩَﺭْ ﺭَﺍﻩِ ﺗُﻮ ﺍَﺯْ ﺍ۪ﻳﻦْ ﺟُﺰْﺀْ ﻧ۪ﻴﺰْ ﺑَﺎﺯْ ﻣ۪ﻰ ﮔُﺬَﺷْﺘَﻦْ ﭼَﺎﺭَﻩِ ﻣَﻦْ ﺍَﺳْﺖْ ﺗَﺎ ﻋِﻨَﺎﻳَﺖِ ﺗُﻮ ﺩَﺳْﺘْﮕ۪ﻴﺮِ ﻣَﻦْ ﺷَﻮَﺩْ ﺭَﺣْﻤَﺖِ ﺑ۪ﻰ ﻧِﻬَﺎﻳَﺖِ ﺗُﻮ ﭘَﻨَﺎﻩِ ﻣَﻦْ ﺍَﺳْﺖْ ﺍٰﻥْ ﻛَﺲْ ﻛِﻪ ﺑَﺤْﺮِ ﺑ۪ﻰ ﻧِﻬَﺎﻳَﺖِ ﺭَﺣْﻤَﺖْ ﻳَﺎﻓْﺖْ ﺍَﺳْﺖْ ﺗَﻜْﻴَﻪ ﻧَﻪ ﻛُﻨَﺪْ ﺑَﺮْ ﺍ۪ﻳﻦْ ﺟُﺰْﺀِ ﺍِﺧْﺘِﻴَﺎﺭ۪ﻯ ﻛِﻪ ﻳَﻚْ ﻗَﻄْﺮَﻩ ﺳَﺮَﺍﺑَﺴْﺖْ ﻳَﺎ ﺭَﺏْ ﺍ۪ﻳﻦْ ﺯِﻧْﺪِﮔَﺎﻧ۪ﻰ ﻫَﻢْ ﭼُﻮ ﺧَﺎﺑَﺴْﺖْ ﻭ۪ﻳﻦْ ﻋُﻤْﺮِ ﺑ۪ﻰ ﺑُﻨْﻴَﺎﺩْ ﻫَﻢْ ﭼُﻮ ﺑَﺎﺩَﺳْﺖْ ﺍِﻧْﺴَﺎﻥْ ﺑَﺰَﻭَﺍﻝْ ﺩُﻧْﻴَﺎ ﺑَﻔَﻨَﺎ ﺍَﺳْﺖْ ﺍٰﻣَﺎﻝْ ﺑ۪ﻰ ﺑَﻘَﺎ اٰلَامْ ﺑَﺒَﻘَﺎ ﺍَﺳْﺖْ ﺑِﻴَﺎ ﺍَﻯْ ﻧَﻔْﺲِ ﻧَﺎﻓَﺮْﺟَﺎﻡْ ﻭُﺟُﻮﺩِ ﻓَﺎﻧ۪ﻰ ﺧُﻮﺩْﺭَﺍ ﻓَﺪَﺍ ﻛُﻦْ ﺧَﺎﻟِﻖِ ﺧُﻮﺩْﺭَﺍ ﻛِﻪ ﺍ۪ﻳﻦْ ﻫَﺴْﺘ۪ﻰ ﻭَﺩ۪ﻳﻌَﻪ ﻫَﺴْﺖْ ﻭَ ﻣُﻠْﻚِ ﺍُﻭ ﻭَ ﺍُﻭ ﺩَﺍﺩَﻩ ﻓَﻨَﺎ ﻛُﻦْ ﺗَﺎ ﺑَﻘَﺎ ﻳَﺎﺑَﺪْ ﺍَﺯْ ﺍٰﻥْ ﺳِﺮّ۪ﻯ ﻛِﻪ ، ﻧَﻔْﻰِ ﻧَﻔْﻰْ ﺍِﺛْﺒَﺎﺕْ ﺍَﺳْﺖْ ﺧُﺪَﺍﻯِ ﭘُﺮْﻛَﺮَﻡْ ﺧُﻮﺩْ ﻣُﻠْﻚِ ﺧُﻮﺩْﺭَﺍ ﻣ۪ﻰ ﺧَﺮَﺩْ ﺍَﺯْ ﺗُﻮ ﺑَﻬَﺎﻯِ ﺑ۪ﻰ ﮔِﺮَﺍﻥْ ﺩَﺍﺩَﻩ ﺑَﺮَﺍﻯِ ﺗُﻮ ﻧِﮕَﺎﻩْ ﺩَﺍﺭَﺳْﺖْ
Catatan kaki: Munajat Persia ini, meskipun singkat, memuat hakikat-hakikat amat panjang. Ketika dicetak di Ankara tiga puluh lima tahun sebelumnya, Duta Afganistan Sultan Ahmed amat menyukainya dan mengirim satu salinan munajat ini sebagai hadiah kepada Syah Afganistan. Karena terjemahan Turkinya terdapat dalam İhtiyarlar Risalesi dan Kalimat Ketujuh Belas, ia tidak diterjemahkan.
(Bagian ini merupakan bahasa Turki penulis sendiri.)