SALINAN SUATU KHOTBAH YANG KUTULIS PADA TAHUN 1339 KEPADA MAJELIS PERWAKILAN
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺍِﻥَّ ﺍﻟﺼَّﻠٰﻮﺓَ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨ۪ﻴﻦَ ﻛِﺘَﺎﺑًﺎ ﻣَﻮْﻗُﻮﺗًﺎ
Wahai para pejuang Islam! Wahai ahli keputusan serta penetapan! Orang fakir ini memohon kalian mendengarkan sepuluh perkataannya serta beberapa nasihatnya mengenai suatu perkara.
Pertama:
Nikmat Ilahi luar biasa dalam kemenangan ini menghendaki syukur agar terus ada serta bertambah. Jika nikmat tidak melihat syukur, ia pergi. Karena kalian, dengan pertolongan Allah سُبْحَانَهُ, telah menyelamatkan Al-Qur'an dari serangan musuh, kalian harus mematuhi kewajiban-kewajiban seperti ‘salat’, yang merupakan perintah Al-Qur'an paling jelas serta paling pasti, agar limpahannya terus mengikuti dan tetap berada pada kalian dalam bentuk luar biasa seperti ini.
Kedua:
Kalian telah menggembirakan alam Islam dan memperoleh cinta serta perhatiannya. Namun, melanjutkan perhatian serta cinta itu hanya terjadi dengan memegang syiar-syiar Islam, sebab kaum Muslim mencintai kalian atas nama Islam.
Ketiga:
Kalian telah memimpin para pejuang serta syuhada yang di alam ini seperti para wali Allah سُبْحَانَهُ. Berusaha menjadi teman kelompok bercahaya itu di alam yang lain pula dengan mematuhi perintah-perintah pasti Al-Qur'an merupakan tabiat orang-orang bersemangat seperti kalian. Jika tidak, meskipun menjadi panglima di sini, di sana kalian akan terpaksa meminta pertolongan cahaya dari seorang prajurit. Dunia rendah ini, dengan kemuliaan serta kehormatannya, bukan barang yang dapat mengenyangkan, memuaskan, serta menjadi tujuan itu sendiri bagi manusia seperti kalian.
Keempat:
Di antara jamaah-jamaah umat Islam ini, meskipun suatu jamaah tidak salat serta fasik, tetap ia ingin melihat pemimpinnya taat beragama. Bahkan, di seluruh Kurdistan, pertanyaan pertama yang mereka ajukan mengenai seluruh pejabat konon ialah, ‘Apakah ia salat?’ Jika salat, mereka percaya sepenuhnya; jika tidak, seberapa pun mampunya ia, dalam pandangan mereka ia tertuduh.
Suatu waktu terdapat pemberontakan pada suku-suku Beytüşşebab. Aku pergi serta bertanya, ‘Apakah sebabnya?’ Mereka berkata, ‘Kaymakam kami tidak salat dan minum rakı. Bagaimana kami akan mematuhi orang tanpa agama seperti itu?’ Orang-orang yang mengatakan ini pun tidak salat dan merupakan perampok.
Kelima:
Datangnya kebanyakan nabi di Timur dan kebanyakan ahli hikmah di Barat merupakan petunjuk tersirat Takdir Azali bahwa yang akan membangkitkan Timur ialah agama serta hati, bukan akal dan filsafat. Kalian telah menyadarkan Timur; berikan arus yang sesuai dengan fitrahnya. Jika tidak, usaha kalian terbuang sia-sia, atau tinggal sementara serta dangkal.
Keenam:
Orang-orang Eropa, musuh kalian serta musuh Islam, telah dan terus mengambil manfaat amat besar dari sikap tak peduli kalian dalam agama. Bahkan, dapat kukatakan bahwa orang-orang yang merugikan Islam sebesar musuh kalian ialah mereka yang mengambil manfaat dari kelalaian kalian dalam agama. Atas nama manfaat Islam serta keselamatan bangsa, kalian harus mengubah kelalaian ini menjadi amal.
Tidakkah terlihat bahwa meskipun para anggota İttihat memiliki tekad, keteguhan, serta pengorbanan demikian luar biasa, bahkan menjadi salah satu sebab bangkitnya Islam ini, karena hingga suatu tingkat memperlihatkan sikap sembarangan dalam agama, mereka memperoleh benci serta cela dari rakyat dalam negeri? Kaum Muslim di luar negeri memberi hormat karena tidak melihat kelalaian mereka dalam agama.
Ketujuh:
Meskipun alam kufur menyerang alam Islam melalui seluruh perantara, peradaban, filsafat, ilmu, serta misionarisnya, dan sejak lama unggul secara materi, ia tidak mengalahkan alam Islam dalam agama. Pada masa ketika seluruh golongan sesat dalam Islam di dalam negeri pun tetap terhukum sebagai kelompok-kelompok kecil yang merugikan, dan Islam menjaga teguh serta kuatnya melalui sunah dan jamaah, arus yang mengada-adakan bidah, yang tersaring secara sembarangan dari bagian buruk peradaban Eropa, tidak dapat memperoleh tempat dalam dadanya.
Maka, melakukan pekerjaan penting serta seperti perubahan besar dalam alam Islam hanya dapat terjadi dengan tunduk kepada kaidah-kaidah Islam, bukan dengan cara lain. Dengan cara lain pun belum pernah terjadi; jika terjadi, cepat mati serta padam.
Kedelapan:
Pada masa ketika peradaban Eropa yang hidup sia-sia, yang menyebabkan lemahnya agama, mulai terkoyak, dan ketika peradaban Al-Qur'an hampir muncul, pekerjaan positif tidak dapat dilakukan dengan sikap tak peduli serta lalai. Adapun Islam yang telah terkena begitu banyak luka ini tidak membutuhkan pekerjaan negatif serta merusak.
Kesembilan:
Yang menghargai kemenangan serta khidmah luhur kalian dalam ‘Perang Kemerdekaan’ ini, dan mencintai kalian dengan seluruh jiwa serta hati, ialah seluruh orang beriman. Terutama lapisan awam yang merupakan kaum Muslim yang teguh. Mereka sungguh mencintai, mendukung, serta berutang budi kepada kalian, dan menghargai pengorbanan kalian. Mereka menyajikan kepada kalian daya paling besar serta dahsyat yang telah bangkit. Atas nama manfaat Islam, kalian pun harus berhubungan serta bersandar kepada mereka dengan mematuhi perintah-perintah Al-Qur'an.
Jika tidak, mengutamakan peniru Eropa yang malang, tanpa ikatan bangsa, terpikat Eropa, serta terlepas dari Islam, daripada kaum Muslim awam, bertentangan dengan manfaat Islam. Karena itu, alam Islam akan memalingkan pandangan ke sisi lain dan meminta pertolongan dari orang lain.
Kesepuluh:
Jika dalam suatu jalan terdapat sembilan kemungkinan binasa serta satu kemungkinan selamat, diperlukan orang berani yang gila dan telah melepaskan hidupnya untuk menempuh jalan itu. Kini, dalam pokok-pokok agama yang mutlak perlu, seperti salat fardu yang mengambil satu jam dari dua puluh empat jam, terdapat kemungkinan selamat sebesar sembilan puluh sembilan persen. Hanya dari segi lalai serta malas mungkin terdapat satu kemungkinan kerugian dunia. Padahal, dalam meninggalkan kewajiban-kewajiban, terdapat sembilan puluh sembilan kemungkinan rugi. Hanya bersandar kepada lalai serta sesat dapat menjadi satu kemungkinan selamat. Alasan apakah yang dapat ditemukan untuk lalai serta meninggalkan kewajiban-kewajiban yang merugikan agama dan dunia? Bagaimana semangat dapat membolehkannya?
Terutama, perbuatan kelompok pejuang ini serta majelis luhur ini ditiru. Bangsa akan meniru atau mengkritik cacat mereka; keduanya merugikan. Maka, pada mereka hak Allah سُبْحَانَهُ juga memuat hak hamba. Pekerjaan hakiki serta sungguh-sungguh tidak dapat dilakukan dengan orang-orang yang tidak mendengarkan berita-berita dan dalil-dalil tak terbatas yang memuat rahasia tawatur serta kesepakatan, tetapi menerima bayangan yang datang dari sesat pikir nafsu dan waswas setan.
Batu-batu dasar perubahan besar ini harus kokoh. Pribadi maknawi Majelis Luhur ini, dari segi daya yang dimilikinya, telah memikul makna kerajaan. Jika dengan sendiri mematuhi serta membuat orang mematuhi syiar-syiar Islam ia tidak pula memikul makna khilafah sebagai wakil, bangsa ini, yang memerlukan empat hal untuk hidup tetapi melalui adat terus-menerus membutuhkan agama setidaknya lima kali sehari, yang fitrahnya tidak rusak dan karena hiburan peradaban tidak melupakan kebutuhan ruhnya, jika Majelis tidak memenuhi kebutuhan agamanya, bangsa dengan terpaksa akan memberikan makna khilafah kepada nama serta lafaz yang telah kalian terima sepenuhnya. Untuk menjaga makna itu terus ada, bangsa pun akan memberikan daya. Padahal, daya seperti ini yang tidak berada di tangan Majelis serta tidak melalui Majelis akan menyebabkan pecahnya persatuan. Pecahnya persatuan bertentangan dengan ayat
ﻭَ ﺍﻋْﺘَﺼِﻤُﻮﺍ ﺑِﺤَﺒْﻞِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺟَﻤ۪ﻴﻌًﺎ.
Zaman ini zaman jamaah. Pribadi maknawi yang merupakan ruh jamaah lebih teguh serta lebih mampu melaksanakan hukum-hukum syariat. Khalifah sebagai pribadi hanya dapat memikul tugas-tugas dengan bersandar kepadanya. Jika pribadi maknawi yang merupakan ruh jamaah lurus, ia menjadi lebih gemilang serta sempurna. Jika buruk, ia menjadi amat buruk. Baik serta buruk individu terbatas, sedangkan jamaah tidak terbatas. Jangan rusak kebaikan yang kalian peroleh menghadapi luar negeri dengan keburukan di dalam negeri.
Kalian tahu bahwa musuh, lawan, serta penentang abadi kalian merusak syiar-syiar Islam. Maka, tugas kalian yang mutlak perlu ialah menghidupkan serta menjaga syiar-syiar. Jika tidak, itu membantu musuh yang sadar tanpa sadar. Meremehkan syiar memperlihatkan lemahnya ikatan bangsa. Lemah tidak menghentikan musuh, melainkan memberinya keberanian.
ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻮَﻛ۪ﻴﻞُ ٭ ﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻤَﻮْﻟٰﻰ ﻭَﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟﻨَّﺼ۪ﻴﺮُ
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz!
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Ketika meneliti bukti serta dalil yang diajukan untuk membuktikan hakikat-hakikat iman, jangan mengkritik dengan berkata bahwa hasil amat besar ini tidak dapat dihasilkan oleh dalil lemah serta kurus ini. Sebab, daya-daya serta pasukan penguat yang berada di kanan dan kiri dalil yang engkau tuduh lemah itu amat banyak.
Ya, setiap saksi, syuhada, bukti, dalil, serta tanda yang menunjukkan benarnya Islam melindungi temannya pada medan pertahanan tersebut, menandatangani laporan kesehatannya, lalu membenarkan bahwa ia sehat. Yang lain pun menjadi ahli penilai bagi surat keterangannya.
Sebab, dalam hakikat-hakikat iman, sasaran ialah memastikan, bukan menyangkal. Satu orang yang menunjukkan sesuatu yang telah pasti seperti seribu. Sebab, dalam memastikan, cara menunjukkan mereka sesuai serta cocok satu sama lain, sehingga masing-masing meneguhkan dan membenarkan yang lain.
Dalam segi menyangkal, tiada kesesuaian pada kesaksian orang-orang yang menyangkal. Mereka menunjukkan sebab-sebab berbeda bagi penyangkalan mereka. Karena itu, kesaksian mereka tidak dapat menjadi dalil bagi benarnya satu sama lain, sebab tiada kesesuaian.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Kadang cinta amat besar kepada sesuatu menyebabkan pengingkaran terhadapnya. Demikian pula, besarnya takut, keagungan amat tinggi, serta akal yang tidak meliputi juga menyebabkan pengingkaran.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Sebagaimana pohon hanzal termuat serta berada dalam biji hanzal, kulihat langsung dengan keyakinan dari penglihatan bahwa neraka pun tersembunyi dalam benih kufur serta sesat. Demikian pula, sebagaimana biji kurma mengandung pohon kurma, dengan pemahaman intuitif yang pasti kulihat bahwa surga pun ada dalam butir iman.
Sebab, sebagaimana perubahan serta pergantian biji-biji itu menjadi pohon tidak aneh, tidak jauh bahwa makna kufur serta sesat menghasilkan neraka yang menyiksa, dan iman serta hidayah menghasilkan surga.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Ketika hati suatu butir yang akan menjadi benih, yakni bagian dalamnya, terlubangi, tentu ia tidak dapat bertunas serta tumbuh; ia mati lalu pergi. Demikian pula, jika hati keakuan yang diungkapkan dengan ene terbakar serta terlubangi melalui sinar dan panas zikir Allah Allah سُبْحَانَهُ, ia tidak dapat tumbuh serta menjadi seperti Firaun dengan lalai.
Ia pun tidak dapat membangkang kepada Khâliq langit serta bumi. Berkat zikir Ilahi itu, ene, yakni keakuan, musnah.
Melalui zikir tersembunyi yang mereka ambil dalam zikir, kaum Naqsyaband berhasil, dengan terbukanya hati, membunuh mikroba ene serta keakuan dan mematahkan kepala nafsu ammarah yang menjadi pelayan perintah setan. Demikian pula, kaum Qadiri melalui zikir bersuara menghancurkan tagut-tagut tabiat.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Sebagaimana karya Hikmah terlihat pada wajah segala sesuatu di alam, karya Hikmah serta perhatian juga terlihat pada lapisan-lapisan yang terdiri dari banyak hal yang paling jauh, paling luas, serta paling halus.
Ya, pada halaman wajah, dahi, kulit, serta bagian dalam tangan manusia, yang merupakan ujung dan hasil dari banyaknya makhluk serta pertambahannya, telah ditulis banyak garis, goresan, ukiran, serta penanda dengan pena takdir. Diketahui bahwa kata, huruf, titik, serta harakat yang tertulis pada halaman-halaman manusia ini, sebagaimana menunjukkan makna serta hal-hal maknawi dalam ruh manusia, juga memiliki isyarat kepada surat-surat yang ditulis takdir dalam fitrahnya.
Saudaraku, catatan pinggir yang ditulis takdir pada halaman-halaman manusia tersebut tidak menyisakan celah bagi masuknya kebetulan serta kejadian tanpa sengaja.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Sebagian manusia yang terikat oleh cinta kepada hidup dunia ini menyangka bahwa maksud serta tujuan terwujudnya hidup itu hanyalah melayani dan menjaga hidup tersebut terus ada, tanpa manfaat lain. Yakni, mereka menyangka bahwa seluruh perangkat menakjubkan serta perlengkapan luar biasa yang Diletakkan Sang Fâthir Yang Hakîm sebagai titipan dalam makhluk hidup dan permata manusia diberikan untuk menjaga serta melanjutkan hidup yang cepat sirna ini.
Padahal, jika perkaranya demikian, dalil serta bukti bagi Hikmah, pertolongan, keteraturan, serta tiadanya kesia-siaan yang terlihat pada permukaan alam dengan kesaksian aturan-aturan tak berujung dalam kainat harus menjadi, secara terbalik, dalil serta bukti bagi kesia-siaan, pemborosan, tiadanya keteraturan, serta tiadanya Hikmah.
Saudaraku! Manfaat hidup dunia ini amat banyak. Setelah suatu bagian dari manfaat tersebut diberikan kepada pemilik hidup menurut pengelolaan serta khidmahnya, tujuan-tujuan dan buah-buah lainnya kembali kepada Sang Fâthir Yang Hakîm. Ya, manusia serta hidup manusia, bagi tajalli Asma Ilahi, merupakan ladang. Di surga, ia merupakan tempat tampak manifestasi jenis-jenis Rahmat Ilahi. Ia merupakan kebun bibit atau biji bagi buah-buah luar biasa serta tak berujung dari hidup akhirat.
Maka, manusia seperti kapten kapal. Dari manfaat kapal yang tak terbatas, ia diberi menurut hubungan serta pelayanannya, sedangkan bagian lainnya kembali kepada sultan. Manusia pun mengambil bagiannya dari buah-buah hidup wujud itu menurut tingkat hubungannya dengan kapal wujudnya. Sisanya milik Sang Sultan Azali.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Lezat, nikmat, serta hiasan dunia, jika kita tidak mengenal Khâliq, Mâlik, serta Maulâ kita, sekalipun surga, merupakan neraka. Ya, demikian kulihat serta kunikmati. Terutama, adakah sesuatu selain makrifatullah yang dapat memadamkan api kasih? Ya, setelah terdapat makrifatullah, sebagaimana tiada selera kepada hal-hal lezat dunia, bahkan rindu kepada surga pun tertinggal.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Segala sesuatu yang berlangsung serta terjadi di dunia memiliki dua wajah. Yang satu memandang akhirat; dalam nafsul-amr, wajah inilah yang paling tetap serta paling berbobot. Yang kedua memandang dunia, diri, serta hawa nafsu. Dalam rendah, ringan, serta sirna, wajah ini berada pada kedudukan yang tidak memiliki nilai untuk menyebabkan hati terpengaruh, sakit, menderita, serta memikirkannya.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Ada manusia demikian bodoh sehingga jika melihat pantulan matahari dalam zarah bening atau pancaran matahari pada warna bunga, mereka meminta serta menuntut dari pantulan dan pancaran itu seluruh hal yang diperlukan matahari hakiki, bahkan menjadi pusat alam dan daya tariknya kepada planet-planet. Selain itu, ketika pantulan serta pancaran yang dilihatnya dalam zarah atau bunga tersebut hilang karena suatu gangguan, akibat butanya mata serta pandangan batinnya, mereka menuju pengingkaran matahari hakiki.
Demikian pula, orang-orang bodoh itu tidak dapat membedakan wujud bayangan yang terjadi melalui pancaran dari wujud hakiki serta asli; mereka mencampurkannya. Karena itu, ketika melihat pantulan serta bayangan matahari dalam sesuatu, mereka mulai menghendaki pula panas, sinar, serta ciri-ciri matahari lainnya.
Demikian pula, ketika memandang lalat, serangga, serta hal-hal kecil dan rendah lainnya, orang-orang bodoh itu melihat karya seni serta Hikmah yang amat luhur di dalamnya, lalu berkata, ‘Sang Pembuat telah Memberi arti penting terlalu besar kepada semuanya. Apakah nilai seekor lalat sehingga menjadi tempat begitu banyak biaya serta beban?’
Saudaraku! Untuk meyakinkan orang-orang bodoh seperti ini dan menolak kesulitan pemahaman mereka, empat hal harus diketahui.
Yang pertama:
Segala sesuatu yang berkaitan dengan sempurnanya Rububiyah Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq menggambarkan-Nya. Namun, karena sesuatu itu menjadi tempat tampak Rububiyah-Nya, ia juga menjadi tempat tajalli Kesempurnaan-Nya. Akan tetapi, ia tidak dapat memiliki Kesempurnaan tersebut.
Yang kedua:
Dari segala sesuatu terbuka pintu menuju Cahaya Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Tertutupnya satu pintu ini tidak mengharuskan tertutupnya pintu-pintu lain yang tak berujung. Namun, seluruhnya mungkin terbuka dengan satu kunci.
Yang ketiga:
Takdir yang dipantulkan dari Ilmu yang meliputi telah menggambar dalam segala sesuatu bagian dari Asma yang bercahaya.
Yang keempat:
ﺍِﻧَّﻤَٓﺎ ﺍَﻣْﺮُﻩُٓ ﺍِﺫَٓﺍ ﺍَﺭَﺍﺩَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺍَﻥْ ﻳَﻘُﻮﻝَ ﻟَﻪُ ﻛُﻦْ ﻓَﻴَﻜُﻮﻥُ ٭ ﻣَﺎ ﺧَﻠْﻘُﻜُﻢْ وَلَا ﺑَﻌْﺜُﻜُﻢْ اِلَّا ﻛَﻨَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ
Menurut kejelasan ayat-ayat ini, sebagaimana wujud segala sesuatu terikat kepada Perintah ‘Kün’, penciptaan serta penghidupan kemudian seluruh sesuatu seperti penciptaan serta penghidupan satu jiwa. Maka, jika penciptaan disandarkan kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, ia menjadi demikian ringan serta mudah. Namun, ketika disandarkan kepada sebab-sebab atau diri segala sesuatu, mereka harus menerima hal-hal mustahil yang berasal dari putusan seluruh orang berakal serta orang bodoh.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya menerangkan hakikat-hakikat melalui perumpamaan. Sebab, hakikat-hakikat bebas dari materi yang berkaitan dengan lingkaran keilahian hanya mengambil gambaran serta menjadi jelas melalui contoh dalam lingkaran segala yang mungkin ada. Manusia yang mungkin ada serta miskin pun, dengan memandang contoh dalam lingkaran kemungkinan, memikirkan Syuunat serta Keadaan lingkaran Wujud yang Wajib di atasnya.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Bagian dalam segala sesuatu disebut malakut, dan luarannya mulk. Dari segi ini, manusia serta hati saling menjadi wadah dan yang dimuat. Sebab, dari segi mulk, manusia menjadi wadah hati. Dari segi malakut, ia menjadi yang dimuat.
Kaidah ini juga diterapkan mengenai Arasy serta alam. Demikianlah:
Arasy merupakan paduan serta campuran Asma Zhâhir, Bâthin, Awwal, dan Âkhir. Dari segi Asma Zhâhir yang termasuk dalam paduan ini, Arasy menjadi mulk dan alam menjadi malakut. Dari segi Asma Bâthin, Arasy menjadi malakut dan alam menjadi mulk. Maka, jika Arasy dipandang melalui Asma Zhâhir, ia menjadi wadah dan alam menjadi yang dimuat. Jika dipandang melalui mata Asma Bâthin, ia menjadi yang dimuat dan alam menjadi wadah. Demikian pula, dari segi Asma Awwal, ia memuat awal alam yang diisyaratkan ayat
ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻋَﺮْﺷُﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤَٓﺎﺀِ;
dan dari segi Asma Âkhir, ia memuat akhir alam yang disiratkan hadis mulia
ﺳَﻘْﻒُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻋَﺮْﺵُ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ.
Maka, Arasy merupakan paduan yang, melalui bagian yang diambilnya dari empat Asma ini, meliputi kanan, kiri, atas, serta bawah alam dan wujud.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Lemah merupakan sumber seruan. Kebutuhan merupakan mata air doa.
Feyâ Rabbî yâ Hâlıkî yâ Mâlikî! Hujahku dalam menyeru-Mu ialah kebutuhanku. Bekalku dalam doa yang kupanjatkan kepada-Mu ialah miskinku. Jalanku ialah tiadanya daya upaya serta fakirku. Khazanahku ialah lemahku. Modalku ialah harapan-harapanku. Pemberi syafaat bagiku ialah Kekasih ﷺ-Mu dan Rahmat-Mu. Ampunilah, berilah magfirah, dan kasihanilah, yâ Allah yâ Rahman yâ Rahîm, âmin! سُبْحَانَهُ