Risalah Nur — Bahasa Indonesia

TAMBAHAN HUBAB

Mesnevî Cahaya · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

TAMBAHAN HUBAB

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ

Kita memuji, menyanjung, serta memuliakan Allah سُبْحَانَهُ Yang alam besar ini merupakan ciptaan⁠-⁠Nya, dan alam kecil yang disebut manusia pun merupakan karya baru⁠-⁠Nya. Yang satu merupakan pembangunan⁠-⁠Nya, yang lain bangunan⁠-⁠Nya. Yang satu seni⁠-⁠Nya, yang lain warna⁠-⁠Nya. Yang satu ukiran⁠-⁠Nya, yang lain hiasan⁠-⁠Nya. Yang satu Rahmat⁠-⁠Nya, yang lain nikmat⁠-⁠Nya. Yang satu Kudrat⁠-⁠Nya, yang lain Hikmah⁠-⁠Nya. Yang satu Keagungan⁠-⁠Nya, yang lain Rububiyah⁠-⁠Nya. Yang satu makhluk⁠-⁠Nya, yang lain buatan⁠-⁠Nya. Yang satu kerajaan⁠-⁠Nya, yang lain milik⁠-⁠Nya. Yang satu masjid⁠-⁠Nya, yang lain hamba⁠-⁠Nya. Ya, bahwa seluruh hal ini bersama bagian-bagiannya merupakan milik serta harta Allah سُبْحَانَهُ terbukti melalui cap dan meterainya yang seperti mukjizat.

ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﻳَﺎ ﻗَﻴُّﻮﻡَ الْاَرْضِ ﻭَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﺍِﻧَّﺎ ﻧُﺸْﻬِﺪُﻙَ ﻭَ ﻧُﺸْﻬِﺪُ ﺟَﻤ۪ﻴﻊَ ﻣَﺼْﻨُﻮﻋَﺎﺗِﻚَ ﻭَ ﺟَﻤ۪ﻴﻊَ ﺧَﻠْﻘِﻚَ ﺑِﺎَﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍَﻧْﺖَ ﻭَﺣْﺪَﻙَ لَا ﺷَﺮ۪ﻳﻚَ ﻟَﻚَ ﻭَ ﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَ ﻧَﺘُﻮﺏُ ﺍِﻟَﻴْﻚَ ﻭَ ﻧَﺸْﻬَﺪُ ﺍَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻙَ ﻭَ ﺭَﺳُﻮﻟُﻚَ ﺍَﺭْﺳَﻠْﺘَﻪُ ﺭَﺣْﻤَﺔً ﻟِﻠْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻛَﻤَﺎ ﻳُﻨَﺎﺳِﺐُ ﺣُﺮْﻣَﺘَﻪُ ﻭَ ﻛَﻤَﺎ ﻳَﻠ۪ﻴﻖُ ﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻚَ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺻَﺤْﺒِﻪ۪ ﺍَﺟْﻤَﻌ۪ﻴﻦَ

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Siapa yang menyerahkan dirinya sebagai milik Allah سُبْحَانَهُ, segala sesuatu berada di pihaknya. Siapa yang tidak menjadi milik Allah سُبْحَانَهُ, segala sesuatu melawannya. Menjadi milik Allah سُبْحَانَهُ ialah meninggalkan segala sesuatu serta mengetahui bahwa segala sesuatu berasal dari⁠-⁠Nya dan kembali kepada⁠-⁠Nya.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Wujud serta hal-hal yang diperlukan wujud, yang Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Karuniakan kepadamu, bukan dalam bentuk menyerahkan hak milik. Yakni, semuanya tidak diberikan agar menjadi milik serta hartamu dan engkau mengelolanya sesuka hati. Nikmat-nikmat seperti itu hanya dapat dikelola sesuai Rida Allah سُبْحَانَهُ.

Ya, seorang tamu tidak dapat memboroskan makanan serta hal-hal lain hingga tingkat yang tidak sesuai dengan izin serta rida pemilik rumah.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Bagaimana sebagian orang yang matanya terkena gerhana menganggap aneh kiamat terbesar serta kebangkitan umum, meskipun dengan mata butanya melihat kebangkitan serta hidup kembali khusus yang tak terbatas dan terjadi di hadapan mata mereka? Setelah melihat kebangkitan serta hidup kembali buah-buah yang diciptakan setiap tahun pada pohon-pohon yang berbunga dan berbuah, tidakkah orang yang menganggap jauh kebangkitan umum merasa malu?

Jika ingin melihat kebangkitan umum dengan yakin melalui melihat langsung, hendaknya mereka masuk ke kebun bola bumi pada musim panas, dengan syarat membawa akal mereka juga. Bukankah mukjizat-mukjizat Kudrat yang manis, bermadu, bersih, serta halus, makhluk-makhluk halus yang bergantung pada cabang pohon itu, sama atau serupa dengan buah-buah terdahulu yang telah mati dan pergi?

Jika pada buah-buah itu terdapat kesatuan ruh seperti pada manusia, tidakkah buah terdahulu serta buah baru yang datang menjadi sama persis? Namun, karena tidak memiliki ruh, terdapat kemiripan di antara mereka yang demikian dekat dengan sama persis sehingga memperlihatkan keadaan bukan persis yang sama dan bukan pula yang lain. Dapatkah orang yang melihat keadaan buah-buah ini menganggap jauh kebangkitan?

Apakah kebangkitan umum berat bagi Kudrat Azali Yang, dengan mengangkat bahan pangan serta makanan yang diperlukan ke cabang-cabang pohon tinggi melalui lift-lift maknawi, mengeluarkan serta menciptakan buah-buah seperti murbei dan aprikot yang memperlihatkan wajah dengan senyum dari pohon kering serta tak bernyawa, dan menjadikan pohon kering itu berada dalam keadaan menakjubkan serta berbentuk karya istimewa yang hidup? Hâşâ! Tiada sesuatu pun berat bagi Kudrat Yang Mengeluarkan ciptaan-ciptaan halus serta lembut ini dari pohon-pohon kering tersebut. Ini perkara yang jelas. Namun, orang-orang bermata buta tidak dapat melihat.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Sebagaimana setiap surah Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya memuat secara ringkas isi seluruh Al-Qur'an, ia juga memuat tujuan-tujuan serta kisah-kisah penting yang disebutkan dalam surah-surah lain. Hikmah di sini ialah agar manusia yang tidak memiliki waktu cukup untuk membaca seluruh Al-Qur'an, atau hanya dapat membaca sebagian atau satu surahnya, tidak kehilangan pahala yang dihasilkan membaca seluruh Al-Qur'an.

Ya, orang-orang yang tidak dapat membaca di antara yang dibebani kewajiban hanya dapat membaca satu surah. Agar tidak menghilangkan kesempatan mereka memperoleh pahala penuh, i'jaz Al-Qur'an, dengan mengikuti butir hikmah i'jaz ini, menjadikan satu surah seperti seluruh Al-Qur'an.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Suatu pribadi yang mengelola banyak hal yang bukan materi, terutama yang hakikatnya berbeda satu sama lain, tidak harus berhubungan langsung serta mengerjakan setiap hal itu sendiri.

Ya, pengelolaan serta pengaturan seorang panglima di antara para prajurit hanya terjadi melalui perintah dan kehendaknya. Jika tugas serta pekerjaan kepanglimaan tersebut diserahkan kepada para prajurit, semuanya akan terwujud melalui hubungan langsung serta pelayanan setiap prajurit, atau dengan setiap prajurit menjadi panglima.

Karena itu, Pengelolaan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq atas makhluk⁠-⁠Nya hanya terjadi melalui satu Perintah serta Kehendak. Tiada hubungan langsung, seperti matahari menerangi kainat.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! {(): Penting.} Dari segi keadaan hidup, manusia seperti pribadi yang terlepas dari gunung lalu jatuh ke dalam banjir, atau jatuh dan berguling dari gedung apartemen tinggi.

Ya, apartemen hidup runtuh. Pesawat usia lewat seperti kilat. Waktu pun menjalankan roda-roda banjir dengan cepat. Kapal bumi, sambil pergi dengan cepat, membaca ayat

ﺗَﻤُﺮُّ ﻣَﺮَّ ﺍﻟﺴَّﺤَﺎﺏِ.

Ketika kapal bumi berjalan cepat, hendaknya dipikirkan bahwa duri-duri beracun akan menusuk tangan-tangan yang terulur kepada hal lezat dunia yang tidak sah. Karena itu, jangan memandang anak-anak panah dunia yang beracun itu dan mengulurkan tangan. Sakit perpisahan lebih berat daripada lezat pertemuan.

Wahai nafsu ammarahku! Aku tidak mengikutimu. Sembahlah yang engkau inginkan dan kejarlah yang engkau inginkan. Aku hanya menjadi hamba Sang Fâthir Yang Hakîm Dzul-Jalâl, Yang Menciptakanku serta Menundukkan matahari, bulan, dan bumi kepadaku.

Demikian pula, aku meminta pertolongan dari Sang Khâliq Yang Rahmân lagi Rahîm, Yang Menaikkanku ke pesawat usia yang terbang dalam lingkungan takdir, atau kereta waktu yang lewat seperti kilat melalui parit serta terowongan yang terbuka di antara gunung-gunung hidup, lalu Mengarahkanku ke pintu terowongan kubur yang seperti dermaga negeri abadi selamanya.

Demikian pula, aku tidak menjadikan sesuatu pun sasaran doa, permintaan pertolongan, serta munajatku. Aku hanya menyajikan dan mempersembahkan doa serta munajatku kepada Rabb Dzul-Jalâl, Pemilik Kudrat tak berujung, Yang Berdaya Menghentikan roda-roda langit yang menggerakkan bola bumi, Menghentikan gerak waktu dengan Menggabungkan matahari serta bulan, dan Menenangkan dunia yang berguling dari puncak-puncak wujud ini. Sebab, aku memiliki harapan serta tujuan yang berkaitan dengan segala sesuatu.

Demikian pula, aku tidak beribadah kepada siapa pun selain Zat Yang Mahasuci, Yang sebagaimana Mendengar lintasan pikiran paling halus serta paling tersembunyi dalam hatiku dan Memuaskan kecenderungan serta harapan hatiku, juga Berdaya Memberi kebahagiaan abadi yang diinginkan akal serta khayalku. Ya, Kudrat Yang Membangkitkan kiamat dengan Mengubah dunia menjadi akhirat Berdaya, tidak lemah. Satu zarah tidak dapat tersembunyi dalam Pandangan Kudrat itu. Matahari tidak dapat selamat dari Tangan Kudrat itu dengan mempercayai besarnya.

Ya, dengan mengenal⁠-⁠Nya, sakit berubah menjadi lezat. Ya, jika tidak terdapat makrifat kepada⁠-⁠Nya, ilmu-ilmu berubah menjadi bayangan. Hikmah-hikmah berubah menjadi penyakit serta bencana. Wujud berubah menjadi tidak ada. Hidup berubah menjadi mati, cahaya-cahaya menjadi gelap, dan hal-hal lezat menjadi dosa. Ya, jika tidak terdapat makrifat kepada⁠-⁠Nya, sahabat-sahabat, harta, serta milik manusia menjadi musuh bagi manusia. Terus ada menjadi bencana, sempurna menjadi sia-sia, usia menjadi hawa nafsu. Hidup menjadi azab, akal menjadi hukuman. Harapan-harapan berubah menjadi sakit.

Ya, segala sesuatu menjadi pelayan bagi orang yang menjadi hamba serta pelayan Allah سُبْحَانَهُ. Ini pun terjadi dengan iman dan yakin bahwa segala sesuatu merupakan milik serta harta Allah سُبْحَانَهُ.

Ya, Kudrat telah Menciptakan manusia dalam keadaan berkaitan dengan banyak lingkaran. Dalam lingkaran paling kecil serta paling rendah, Dia Memberi manusia pilihan serta kemampuan sebatas jangkauan tangannya. Dalam lingkaran-lingkaran paling luas, dari bumi ke Arasy, dari azali hingga abadi, tugas manusia hanyalah doa.

Ya, ayat mulia

ﻗُﻞْ ﻣَﺎ ﻳَﻌْﺒَﺆُﺍ ﺑِﻜُﻢْ ﺭَﺑّ۪ﻰ لَوْلَا ﺩُﻋَٓﺎﺅُﻛُﻢْ

cukup untuk menerangi serta membuktikan hakikat ini. Maka, sebagaimana anak meminta kepada ayah dan ibunya sesuatu yang tidak terjangkau tangannya, hamba pun berlindung kepada Rabbnya dengan lemah serta fakirnya, dan meminta kepada Khâliqnya.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Kesatuan-kesatuan pada jenis serta individu yang terlihat dalam segala sesuatu berasal dari rahasia keesaan dalam Sang Pembuat. Sebab, daya tidak tercerai. Dengan mengerahkan banyak kepada sebagian dan sedikit kepada sebagian lain, tiada pemecahan serta pembagian daya dalam Kudrat. Jika tiada keesaan, jika pengeluaran yang dilakukan Kudrat berbeda, pada ciptaan-ciptaan pun akan terdapat perbedaan serta tiadanya keteraturan. Maka, pengelolaan Kudrat atas ciptaan bersama keesaan seperti penerangan matahari. Sebagaimana satu matahari menerangi segala sesuatu, bagian serta keseluruhan, tanpa perbedaan, melalui pancarannya ia juga hadir di sisi segala sesuatu.

Karena itu, jika berkat rahasia satu terdapat begitu banyak pengelolaan teratur pada matahari yang miskin, tak bernyawa, mati, ditugaskan dari individu-individu lingkaran segala yang mungkin ada, serta menjadi tempat tampak Asma Nûr, bagaimanakah pengelolaan Matahari Azali, Sultan Kekal, Qayyûm Yang Abadi, Wâjibul Wujûd, Wâhid lagi Ahad atas ciptaan-ciptaan?

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Di antara saksi paling benar atas keesaan Sang Pembuat, yang pertama ialah kesatuan-kesatuan yang terlihat dalam hal-hal juz'i serta kulli. Sebab, sesuatu apa pun, dari zarah hingga alam, memiliki serta berkaitan dengan satu. Maka, pada Sang Pembuat pun terdapat keesaan. Maka, Sang Pembuat adalah Ahad.

Yang kedua:

Dalam segala sesuatu terdapat ketelitian sempurna sesuai kelayakan kemampuannya. Dalam sesuatu yang paling biasa serta kecil, tumbuhan maupun hewan, terdapat karya seni istimewa yang bahkan dilihat mata buta, yang membuat manusia terpana.

Yang ketiga:

Kemudahan dalam penciptaan serta pembangunan segala sesuatu. Kemudahan dalam seni yang terlihat dengan mata tidak memerlukan bukti ataupun dalil.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Kalian memenuhi makanan, minuman, pakaian, serta kebutuhan lainnya dari toko bola bumi. Jika barang-barang yang kalian ambil tanpa uang ini tidak diambil dari perbendaharaan Ilahi, melainkan kalian meminta sebab-sebab membuatnya satu per satu, berapa lamakah kalian akan memperoleh satu butir delima dan seberapa mahal membelinya? Sebab, delima itu berkaitan dengan segala sesuatu. Terwujudnya dalam waktu singkat serta dengan harga murah tidak mungkin. Pada saat yang sama, dari hal-hal halus seperti hiasan, keteraturan, seni, aroma, rasa, serta bau di dalamnya, dipahami bahwa butir delima itu merupakan ciptaan Sang Pembuat Yang dalam penciptaannya tiada beban serta hubungan langsung.

Meskipun perkara demikian, Sang Pembuat barang-barang dalam toko bola bumi yang pada setiap titiknya terdapat seribu macam butir hikmah i'jaz, untuk memuaskan selera serta hasrat serangga, entah tidak memiliki kesadaran, rasa, kehendak, ilmu, pilihan, maupun kesempurnaan, sehingga membagikan begitu banyak barang istimewa berharga ini tanpa uang. Batilnya kemungkinan ini merupakan hakikat jelas yang tidak memerlukan bukti. Atau, Pemilik perbendaharaan tersebut, bagi manusia yang datang serta tinggal sementara untuk pergi ke akhirat, menjadikan perbendaharaan itu jamuan Ilahi serta Rahmani telah Menciptakannya demikian. Dalam perbendaharaan gaib itu, penciptaan segala sesuatu terikat kepada Perintah ‘Kün’. Sisi-sisi malakut seluruh sesuatu, seperti pusat, berada dalam Tangan Kudrat Wâjibul Wujûd Yang Hakîm, Qadîr, Murîd, serta 'Alîm.

Selain itu, barang-barang pada jamuan Ilahi itu bukan hanya untuk memuaskan selera serta nikmat manusia dan hewan. Dalam setiap individu yang dikonsumsi, selain manfaat juz'i bagi makhluk hidup, terdapat Hikmah serta tujuan tak berujung yang berkaitan dengan tajalli Asma Ilahi dan rahasia serta Syuunat dalam Kegiatan. Maka, mustahil perjamuan umum serta limpahan umum ini berasal dari daya buta, dan buah-buah barang tersebut mengalir seperti banjir lalu diserahkan ke tangan kejadian tanpa sengaja serta kebetulan.

Sebab, ciri pribadi teratur serta penuh Hikmah dan sifat khas penuh kesadaran serta kokoh pada barang-barang itu menolak kebetulan buta serta kejadian tanpa sengaja. Demikian pula, murah, mudah, serta banyak pada jamuan Rahmat itu merupakan saksi yang memperlihatkan bahwa barang-barang tersebut berasal dari Jawwâd Yang Mutlak, Hakîm Yang Mutlak, serta Sang Qadîr Mutlak.

Ketahuilah, wahai manusia yang terikat kepada sebab-sebab! Ketahuilah bahwa penciptaan sebab, penentuan sifat sebabnya, serta pelengkapannya dengan hal-hal yang diperlukan bagi wujud hasil tidak lebih mudah, lebih sempurna, ataupun lebih luhur daripada penciptaan hasil dengan Perintah ‘Kün’ oleh Zat Yang bagi Kudrat⁠-⁠Nya zarah-zarah serta matahari-matahari sama.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Hal-hal tidak ada serta pemusnahan yang terlihat di dunia, terutama yang disaksikan dalam hidup tumbuhan dan hewan, hanya berupa pergantian serta pembaruan contoh-contoh sejenis. Bagi orang beriman, yang terjadi bukan sakit sirna serta perpisahan, melainkan lezat pertemuan dengan contoh-contoh sejenis yang datang menggantikannya.

Maka, berimanlah agar engkau aman dari sakit. Berserahlah kepada takdir agar engkau tetap selamat.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Fanatisme jahiliah merupakan paduan dari lalai, sesat, riya, serta gelap yang saling mendukung dan membantu. Karena itu, para nasionalis menjadikan bangsa sebagai yang disembah. Adapun semangat Islam merupakan sinar yang memantul dari cahaya iman serta bergelombang.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Orang-orang yang sibuk berdebat dengan orang-orang yang menolak agama, terutama peniru Eropa, terkena bahaya besar. Sebab, dengan kemungkinan nafsu mereka belum dibersihkan serta tidak aman, secara bertahap mereka dikalahkan lawan. Dalam perdebatan adil yang disebut pertimbangan tanpa memihak, nafsu ammarah tidak dapat dipercaya.

Sebab, seorang pendebat adil kadang mengenakan pakaian lawannya pada medan perdebatan dalam khayal, lalu membela pihak lawannya sebagai wakil dalam perkara. Berulangnya keadaan ini merugikan, karena suatu noda kritik akan muncul dalam otaknya. Namun, jika niatnya ikhlas dan ia percaya kepada dayanya, tiada kerugian. Jalan selamat bagi orang yang jatuh dalam keadaan seperti ini ialah bahwa ia dapat menghapus noda itu melalui tunduk memohon serta istigfar.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Rumah tamu bola bumi ini bukan milik serta harta manusia. Manusia hanya bekerja seperti buruh dalam beragam pekerjaan serta hiasan rumah tamu itu. Jika orang asing datang dari luar bola bumi dan memperhatikan bahwa rumah tamu tersebut merupakan mukjizat serta keajaiban, dan manusia lemah, fakir, serta membutuhkan, ia pasti memutuskan bahwa manusia-manusia ini tidak memiliki daya untuk menjadi pemilik serta pembuat bangunan ini; Pembuat suatu ciptaan luar biasa seperti ini pun Memperlihatkan mukjizat. Ia juga akan kembali memutuskan bahwa manusia-manusia ini buruh yang bekerja bagi tujuan-tujuan Sang Sultan Azali, dan bahwa selain upah yang diterima, buruh-buruh ini tidak memiliki sesuatu pun dari bangunan tersebut.

Demikian pula, orang yang memperhatikan cinta, usaha membuat diri dicintai, serta senyum yang diperlihatkan bunga-bunga itu kepada makhluk hidup memahami bahwa semuanya merupakan hadiah serta pemberian yang ditugaskan Hakîm Yang Karîm untuk melayani para tamu⁠-⁠Nya, agar menjadi jalan saling mengenal serta mencintai antara Sang Pembuat dan ciptaan.

Wahai nafsu! Engkau ingin melihat keagungan pemberi pengaruh dalam setiap karya, tetapi mencari makna-makna di luar pikiran dalam makna-makna pikiran. Dalam setiap Asmaul Husna, engkau ingin melihat sinar seluruh Asma. Melalui nikmat setiap latifah, engkau ingin menikmati nikmat seluruh latifah. Ketika memenuhi pekerjaan serta kebutuhan yang mengikuti setiap rasa, engkau ingin melakukan pekerjaan seluruh rasamu bersama-sama. Karena itu, engkau terkena bayangan-bayangan.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Umum serta meliputinya suatu nikmat bagi setiap orang tidak menunjukkan rendahnya nilai atau tiadanya arti penting nikmat itu. Hal tersebut juga tidak dapat menjadi tanda bahwa nikmat itu tidak berasal dari Maksud serta Kehendak. Misalnya, terdapatnya nikmat mata pada seluruh hewan, sebagaimana tidak meringankan kebutuhanmu yang besar kepada mata, juga tidak dapat menyebabkan berkurangnya nilai mata.

Demikian pula, sekalipun suatu nikmat khusus serta tunggal mungkin kebetulan, nikmat umum pasti merupakan karya maksud serta kehendak suatu pemberi nikmat.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Dalam hidup setiap makhluk hidup terdapat tujuan-tujuan tak berujung. Dari tujuan-tujuan ini, yang menjadi milik makhluk hidup hanya satu dari seribu. Tujuan-tujuan lainnya milik Zat Yang Menciptakan hidup, menurut hak milik⁠-⁠Nya yang tak berujung. Maka, makhluk besar tidak berhak menyombongkan diri terhadap makhluk kecil.

Dalam pandangan hakikat pun tiada kesia-siaan. Sebab, seluruh manfaat suatu hidup bukan milik satu makhluk hidup sehingga menjadi sia-sia. Ya, perjamuan umum Ilahi yang diadakan setiap tahun pada permukaan bumi merupakan karunia kepada umat manusia karena menjadi khalifah, bukan karena seluruhnya demi manfaatnya.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Kadang waswas seperti ini datang ke pikiran manusia dan berkata, ‘Engkau pun hewan biasa seperti serangga. Nilai apakah yang engkau miliki melebihi hewan? Keunggulan serta khidmah seperti apakah yang engkau miliki di hadapan Sang Khâliq Dzul-Jalâl, Yang Memegang langit serta bumi dalam Tangan Kudrat⁠-⁠Nya, sehingga Dia Memperhatikanmu?’ Menghadapi waswas ini, hakikat berikut harus dipikirkan:

1-

Bersama lemah serta fakir tak berujungnya, melalui iman kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq manusia menjadi tempat tampak Kudrat, kekayaan, serta Kemuliaan⁠-⁠Nya. Dengan menjadi tempat tampak ini, manusia naik dari tingkat hewan dan menjadi khalifah bumi.

2-

Melalui cakupan Kudrat serta Keagungan⁠-⁠Nya, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Mendengar doa manusia dan Memenuhi kebutuhannya. Mengatur langit serta bumi tidak Menghalangi⁠-⁠Nya Memperhatikan manusia itu juga.

Pertanyaan:

Perhatian Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq kepada hal-hal juz'i serta urusan-urusan rendah bertentangan dengan Keagungan⁠-⁠Nya?

Jawaban:

Perhatian itu tidak bertentangan dengan Keagungan⁠-⁠Nya. Sebaliknya, tiadanya perhatian merupakan kekurangan bagi Keagungan Rububiyah⁠-⁠Nya. Misalnya, terhalang serta tersisihnya beberapa hal dari sinar matahari merupakan kekurangan bagi matahari. Selain itu, setiap pantulan matahari yang terlihat dalam seluruh hal bening dapat berkata, ‘Matahari milikku. Matahari di sisiku. Matahari dalam diriku.’ Tiada saling berdesakan antara zarah-zarah dan matahari.

Seluruh makhluk, terutama pada manusia, baik individu maupun jenis, mulia maupun rendah, dari segi Ilmu, Kehendak, serta Kudrat, menjadi tempat tampak Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq melalui tajalli⁠-⁠Nya. Setiap sesuatu serta setiap manusia dapat berkata, ‘Allah سُبْحَانَهُ di sisiku.’ Terutama, bersama Kedekatan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq menurut tingkat lemah, fakir, serta tak berdayanya manusia, dan hubungan segala sesuatu dengan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, manusia pun memiliki hubungan. Betapa halus hubungan manusia yang lemah serta fakir tak berujung dengan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Pemilik Kudrat, kekayaan, serta Keagungan tak berujung.

Kita menyatakan Mahasuci Zat Yang, sebagaimana Memasukkan Karunia terbesar ke dalam Keagungan terbesar serta Kasih tertinggi ke dalam Kuasa Penundukan tertinggi, Menghimpun Dekat tak berujung dengan Jauh tak berujung, dan Menegakkan persaudaraan antara zarah-zarah serta matahari-matahari. Dengan Menghimpun hal-hal yang bertentangan satu sama lain ini, Dia Memperlihatkan tingkat Keagungan⁠-⁠Nya hingga suatu tingkat.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Sesudah pengetahuan tentang iman, yang paling perlu serta paling penting ialah amal saleh. Amal saleh ialah tidak melanggar hak-hak hamba secara materi serta maknawi, dan memenuhi hak Allah سُبْحَانَهُ dengan semestinya.

Pengetahuan materi yang diambil dari orang asing, jika berkaitan dengan seni serta kemajuan, diperlukan. Jika berkaitan dengan hidup sia-sia, ia merugikan.

ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﻳَﺎ ﺍَﺭْﺣَﻢَ ﺍﻟﺮَّﺍﺣِﻤ۪ﻴﻦَ ﺍِﺭْﺣَﻢْ ﺍُﻣَّﺔَ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ الصَّلَاةُ ﻭَ السَّلَامُ ﻭَ ﻧَﻮِّﺭْ ﻗُﻠُﻮﺏَ ﺍُﻣَّﺔِ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ الصَّلَاةُ ﻭَ السَّلَامُ ﺑِﻨُﻮﺭِ الْا۪يمَانِ ﻭَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﻭَ ﻧَﻮِّﺭْ ﺑُﺮْﻫَﺎﻥَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﻭَ ﻋَﻈِّﻢْ ﺷَﺮ۪ﻳﻌَﺔَ الْاِسْلَامِ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ

Yang dimuat suatu buah dari buah-buah surga Al-Qur'an