Risalah Nur — Bahasa Indonesia

HABBE (BIJI)

Mesnevî Cahaya · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

HABBE (BIJI)

ﺣَﺒَّﻪ ﻣ۪ﻰ ﮔُﻮﻳَﺪْ ﻣَﻦْ ﺷَﺎﺥِ ﺩِﺭَﺧْﺘَﻢْ ﭘُﺮْ ﺍَﺯْ ﻣَﻴْﻮَﻩِ ﺗَﻮْﺣ۪ﻴﺪْ ﻳَﻚْ ﺷَﺒْﻨَﻤَﻢْ ﺍَﺯْ ﻳَﻢْ ﭘُﺮْ ﺍَﺯْ ﻟُﺆْﻟُﺆِ ﺗَﻤْﺠ۪ﻴﺪْ ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻋَﻠٰﻰ ﺩ۪ﻳﻦِ الْاِسْلَامِ ﻭَ ﻛَﻤَﺎﻝِ الْا۪يمَانِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ﻋَﻠٰﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻫُﻮَ ﻣَﺮْﻛَﺰُ ﺩَﺍﺋِﺮَﺓِ الْاِسْلَامِ ﻭَ ﻣَﻨْﺒَﻊُ ﺍَﻧْﻮَﺍﺭِ الْا۪يمَانِ ﻭَﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺻَﺤْﺒِﻪ۪ ﺍَﺟْﻤَﻌ۪ﻴﻦَ ﻣَﺎ ﺩَﺍﻡَ ﺍﻟْﻤَﻠَﻮَﺍﻥِ ﻭَﻣَﺎ ﺩَﺍﺭَ ﺍﻟْﻘَﻤَﺮَﺍﻥِ

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Jika alam besar yang engkau lihat ini dipandang sebagai kitab besar, Cahaya Muhammad ﷺ merupakan tinta pena Penulis kitab tersebut.

Jika alam besar itu dibayangkan sebagai pohon, Cahaya Muhammad ﷺ menjadi biji serta buahnya.

Jika dunia dianggap makhluk hidup berjasad, cahaya itu menjadi ruhnya.

Jika dibayangkan sebagai manusia besar, cahaya itu menjadi akalnya.

Jika dibayangkan sebagai kebun surga yang amat indah serta gemilang, Cahaya Muhammad ﷺ menjadi burung bulbulnya.

Jika dianggap istana amat besar, Cahaya Muhammad ﷺ menjadi pengawas, penyeru, serta penyambut dalam istana tinggi yang memuat pusat kerajaan dan kemegahan Sultan Azali serta tajalli Jamal⁠-⁠Nya dan karya-karya seni⁠-⁠Nya itu. Beliau mengundang seluruh manusia dan memperkenalkan seluruh seni istimewa, keajaiban, serta mukjizat yang terdapat dalam istana tersebut. Beliau mengundang orang-orang secara memikat dan membuat terpana untuk beriman kepada Pemilik serta Pembuat istana itu.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Buah pohon penciptaan ialah manusia. Diketahui bahwa karena buah paling sempurna di antara seluruh bagian dan paling jauh dari akar, ia memuat ciri khas serta keunggulan seluruh bagian. Demikian pula, biji yang seperti sebab tujuan penciptaan alam ialah manusia lagi.

Kemudian, Dia Menjadikan satu dari manusia yang merupakan buah pohon itu sebagai biji bagi pohon Islam. Maka, biji itu merupakan pembangun, dasar, serta matahari alam Islam. Namun, biji bagi biji tersebut ialah hati. Dengan dorongan kebutuhan, hati memiliki banyak sekali hubungan dengan jenis-jenis serta bagian-bagian alam. Ia membutuhkan seluruh cahaya Asmaul Husna. Hati itu memiliki harapan serta musuh sebanyak yang dapat memenuhi dunia. Ia hanya dapat menjadi tenteram melalui Ghaniyy Yang Mutlak serta Hâfizh Yang Hakiki.

Demikian pula, hati itu memiliki kemampuan yang mewakili seluruh alam seperti peta atau daftar isi. Dalam pusatnya, ia tidak menerima sesuatu selain Wâhid lagi Ahad. Ia tidak rela dengan sesuatu selain terus ada secara abadi serta tetap.

Jika hati, yang merupakan biji manusia, disirami Islam di bawah ubudiyah serta ikhlas dan terbangun melalui iman, dengan perintah yang datang dari alam perintah yang bercahaya serta bersifat gambaran, ia menghijau menjadi pohon bercahaya yang menjadi ruh bagi alam jasmaninya. Jika biji hati tersebut tidak memperoleh pemeliharaan seperti ini, ia tetap menjadi biji kering dan harus dibakar dengan api hingga berubah menjadi cahaya.

Demikian pula, terdapat banyak pelayan bagi butir hati itu. Jika para pelayan tersebut memperoleh hidup melalui hidup hati serta berkembang, kainat yang besar menjadi tempat berjalan-jalan serta melihat bagi mereka. Bahkan, khayal, misalnya, salah satu pelayan hati yang paling lemah serta paling tak berharga, di dalam penjara serta kurungan membawa pemiliknya yang terikat di sana berkeliling seluruh dunia dan menggembirakannya. Ia membuat orang yang salat di timur meletakkan kepalanya di bawah Hajar Aswad, serta menitipkan kesaksian-kesaksiannya kepada Hajar Aswad untuk dijaga.

Karena anak Adam merupakan buah kainat, sebagaimana bulir-bulir dipukul di tempat mengirik dan setelah dibersihkan buah-buah dipertahankan serta disimpan, medan kebangkitan pun merupakan tempat mengirik. Ia menantikan anak Adam, bulir serta buah kainat.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Dalam alam umum yang terlihat ini, setiap manusia memiliki alam khusus. Alam-alam khusus ini sama dengan alam umum. Hanya saja, pusat alam umum ialah matahari, sedangkan pusat alam-alam khusus ialah pribadi. Kunci setiap alam khusus berada pada pemilik alam itu serta terikat kepada latifah-latifahnya. Jernih, indah, buruk, terang, serta gelap alam-alam pribadi tersebut mengikuti pribadi-pribadi yang menjadi pusatnya. Ya, sebagaimana kebun yang tergambar dalam cermin mengikuti cermin dalam gerak, perubahan, serta keadaan lainnya, alam setiap pribadi pun mengikuti pribadi yang menjadi pusatnya, seperti bayangan serta gambaran.

Karena itu, jangan memandang kecilnya tubuhmu lalu menyangka dosa-dosamu kecil. Sebab, satu zarah dari kerasnya hatimu membuat seluruh bintang dalam alam pribadimu terkena gerhana.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Selama tiga puluh tahun aku berjuang melawan dua tagut. Yang satu berada dalam manusia, yang lain dalam alam. Yang satu ‘ene’ (aku), yang lain ‘tabiat’.

Tagut pertama kulihat seperti cermin berbentuk bayangan yang bukan tujuan itu sendiri. Namun, orang-orang yang memandang tagut itu dengan sengaja atau sebagai tujuan itu sendiri dalam pandangan penting menjadi Namrud serta Firaun.

Adapun tagut kedua, kulihat sebagai seni Ilahi serta warna Rahmani, yakni cat berukir. Namun, jika dipandang dengan pandangan lalai, ia dianggap tabiat dan menjadi ilah bagi kaum materialis. Padahal, yang dianggap tabiat itu merupakan seni Ilahi.

Segala puji serta syukur bagi Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq bahwa melalui limpahan Al-Qur'an, perjuanganku tersebut berakhir dengan matinya kedua tagut dan pecahnya kedua berhala.

Ya, sebagaimana dibuktikan serta dijelaskan dalam risalah-risalahku Nokta, Katre, Zerre, Şemme, Habbe, dan Hubab, tirai tabiat yang dibayangkan telah terkoyak, dan di bawahnya syariat fitri Ilahi serta seni Rahmani yang penuh Kesadaran muncul seperti matahari. Demikian pula, dari ‘ene’ yang menunjukkan sikap Firaun, tampak ‘Hüve’ yang kembali kepada Sang Pembuat Dzul-Jalâl.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Di dunia terdapat banyak urusan yang berkaitan denganmu, tetapi engkau tidak mengetahui hakikat maupun akibatnya.

Yang satu ialah tubuh. Ya, meskipun ketika muda tubuhmu menyerupai bunga mawar yang halus, elok, serta indah, pada masa tua ia berubah dan menyerupai bunga musim dingin yang kering serta kaku.

Yang satu lagi ialah hidup serta sifat hewani. Akhir keduanya pun mati serta sirna.

Yang satu lagi ialah sifat manusia. Ini bimbang antara sirna dan terus ada. Ia harus dijaga dengan zikir Zat Yang Tetap dan Bâqî.

Yang satu lagi ialah usia serta hidup. Batasnya pun telah ditentukan. Tiada satu langkah pun dapat diambil ke depan atau ke belakang. Karena itu, jangan merasa sakit atau bersedih. Jangan memikul beban harapan panjang yang tidak mampu engkau tanggung dan di luar dayamu!

Yang satu lagi ialah wujud. Wujud memang bukan milikmu. Pemiliknya hanyalah Mâlik al-Mulk. Dia lebih Mengasihi wujudmu daripada dirimu. Karena itu, ketika engkau mencampuri wujud tersebut di luar lingkaran Perintah Pemilik Hakiki, engkau telah merugikannya, seperti tamak yang menghasilkan putus asa.

Yang satu lagi ialah bencana serta musibah. Semuanya sirna dan tidak terus ada. Jika sirnanya dipikirkan, kebalikannya hadir dalam benak serta memberi lezat.

Yang satu lagi ialah bahwa di sini engkau merupakan tamu dan dari sini akan pergi ke tempat lain. Seorang tamu tidak mengikat hatinya kepada sesuatu yang tidak dapat dibawanya. Sebagaimana meninggalkan tempat tinggal ini, engkau pun akan keluar dari kota ini dan dari dunia fana ini. Maka, berusahalah keluar sebagai yang mulia.

Persembahkan wujudmu kepada Yang Menciptakannya. Sebagai balasan, engkau akan memperoleh harga besar. Sebab, jika tidak mempersembahkannya, ia sirna serta pergi tanpa hasil, atau karena merupakan milik⁠-⁠Nya, kembali pula kepada⁠-⁠Nya.

Jika mempercayai wujudmu, engkau jatuh ke dalam tidak ada, sebab wujud hanya dapat ditemukan dengan meninggalkan wujud. Demikian pula, jika berniat memberi nilai kepada wujudmu, hanya satu titik dari wujud itu dapat tinggal dalam tanganmu. Seluruh wujudmu dengan keempat arahnya tinggal dalam hal-hal tidak ada. Namun, jika titik itu pun engkau lepaskan dari tanganmu, wujudmu tinggal sepenuhnya dalam cahaya.

Yang satu lagi ialah hal-hal lezat dunia. Ini terikat kepada bagian yang ditentukan. Orang jatuh dalam gelisah saat mencarinya. Karena cepat sirna, orang berakal sehat tidak memasukkannya ke dalam hati serta memberinya nilai.

Apa pun akhir dunia, meninggalkan hal-hal lezat lebih utama. Sebab, akibatmu ialah bahagia, dan bahagia terjadi dengan meninggalkan hal-hal lezat fana ini; atau ialah celaka. Dapatkah orang yang menanti mati serta dihukum mati memperoleh nikmat dan lezat dari dihias serta dipercantiknya tempat penggantungan?

Bagi orang yang dengan dorongan kufur membayangkan akibat dunianya sebagai tidak ada mutlak, meninggalkan hal-hal lezat pun lebih utama. Sebab, melalui hal-hal tidak ada yang khusus serta terbatas, yang terjadi ketika hal-hal lezat itu sirna, sakit pedih dari tidak ada mutlak dirasakan setiap menit. Hal-hal lezat seperti ini tidak dapat mengalahkan sakit tersebut.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Seekor domba yang terkena batu yang dilempar gembala untuk mengembalikan kawanan yang melampaui padang penggembalaan berkata melalui bahasa keadaan, ‘Kita berada di bawah perintah gembala. Ia memikirkan manfaat kita lebih daripada kita. Karena ia tidak meridai, marilah kita kembali.’ Ia sendiri kembali, dan kawanan pun kembali.

Wahai nafsu! Engkau tidak lebih membangkang serta lebih sesat daripada domba itu. Ketika terkena batu musibah yang dilempar takdir kepadamu, ucapkan

ﺍِﻧَّﺎ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻭَ ﺍِﻧَّٓﺎ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺭَﺍﺟِﻌُﻮﻥَ

dan kembalilah kepada Tempat Kembali Hakiki. Berimanlah dan jangan bersedih. Dia Memperhatikanmu lebih daripada dirimu.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Bahwa hati tidak diciptakan untuk sengaja sibuk dengan urusan dunia dapat dijelaskan sebagai berikut:

Kita melihat bahwa apa pun yang diraih hati, ia melekat padanya dengan seluruh daya serta kerasnya. Dengan perhatian besar, ia mengambil dan memeluknya. Ia ingin tetap bersama sesuatu itu secara abadi dan terus ada, serta dalam arti penuh lenyap dalamnya. Ia mengejar serta meminta hal-hal yang paling besar dan paling tetap. Padahal, urusan apa pun dari urusan dunia sebesar rambut dibanding dengan keinginan serta harapan hati.

Maka, hati merupakan jendela yang terbuka menghadap hidup abadi selamanya. Ia tidak rela dengan dunia fana ini.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Al-Qur'an turun dari langit. Bersama turunnya, suatu hidangan samawi serta jamuan Ilahi pun turun. Hidangan ini, menurut selera serta manfaat lapisan-lapisan manusia, memiliki beragam lapisan. Lapisan pertama yang terdapat pada permukaan serta wajah hidangan itu milik lapisan awam.

Misalnya, ayat mulia

ﺍَﻥَّ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضَ ﻛَﺎﻧَﺘَﺎ ﺭَﺗْﻘًﺎ ﻓَﻔَﺘَﻘْﻨَﺎﻫُﻤَﺎ

memberi pemahaman kepada lapisan pertama manusia serta menyatakan makna ini:

Langit cerah, tanpa awan, dan tidak dalam keadaan mampu menurunkan hujan; bumi pun amat kering, tidak dalam bentuk menumbuhkan tumbuhan. Kemudian Kami Menghilangkan keadaan ratq keduanya, yakni melekatnya, dan Membelahnya. Dari yang satu air mulai turun, dan dari yang lain tumbuhan mulai keluar.

Ayat mulia yang menunjukkan makna yang dinyatakan ayat tersebut ialah

ﻭَ ﺟَﻌَﻠْﻨَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَٓﺎﺀِ ﻛُﻞَّ ﺷَﻰْﺀٍ ﺣَﻰٍّ.

Sebab, makanan yang menjaga hidup hewan serta tumbuhan hanya dapat lahir dari pernikahan bumi dan langit.

Di belakang lapisan ayat tersebut yang berkaitan dengan orang awam terdapat pula lapisan yang mengisyaratkan dipisahkannya planet-planet serta matahari dari paduan dan adonan cahaya itu, dari materi adonan yang diciptakan dari Cahaya Muhammad ﷺ. Hadis mulia

ﺍَﻭَّﻝُ ﻣَﺎ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻧُﻮﺭ۪ﻯ

membenarkan lapisan ini melalui petunjuknya.

Contoh kedua:

Pada lapisan ayat mulia

ﺍَﻓَﻌَﻴ۪ﻴﻨَﺎ ﺑِﺎﻟْﺨَﻠْﻖِ الْاَوَّلِ ﺑَﻞْ ﻫُﻢْ ﻓ۪ﻰ ﻟَﺒْﺲٍ ﻣِﻦْ ﺧَﻠْﻖٍ ﺟَﺪ۪ﻳﺪٍ

yang berkaitan dengan orang awam terdapat makna ini:

‘Meskipun mengakui melalui kesaksian penciptaan pertama mereka yang lebih menakjubkan, mereka menganggap jauh penciptaan kedua mereka yang lebih ringan serta lebih mudah.’ Di belakang lapisan ini terdapat bukti besar yang menerangi amat mudahnya kebangkitan serta hidup kembali.

Wahai yang tanpa akal, yang mengingkari kebangkitan serta hidup kembali! Berapa kali engkau mengganti tubuhmu sepanjang usia? Tahukah engkau bahwa sebagaimana mengganti pakaian pagi serta petang, setiap tahun sekali engkau mengganti dan memperbarui seluruh tubuhmu? Bahkan, setiap tahun, setiap hari, sebagian hal dari tubuhmu mati dan yang serupa datang menggantikannya. Engkau tidak dapat memikirkan ini sama sekali, sebab kepalamu kosong. Jika dapat memikirkannya, engkau tidak akan mengingkari kebangkitan serta hidup kembali yang ribuan contohnya terjadi di alam setiap waktu. Pergilah ke dokter dan mintalah kepalamu diobati.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Lihatlah bodoh serta dungunya nafsu! Ia mengetahui bahwa dirinya dipelihara oleh Rabb Yang Memilih dan Hakîm, dan bahwa ia merupakan milik serta ciptaan Rabb Yang Hakîm itu. Karena hak milik serta pemeliharaan ini berlaku pada seluruh individu, jenis, serta kelompok jenis, perkara mengambil bentuk kaidah menyeluruh. Karena limpahan ini meliputi, ia memperoleh suatu jenis kesepakatan serta pembenaran melalui tindakan. Karena itu, nafsu harus puas serta tenteram dengan memandang peristiwa yang berbentuk hukum dan kaidah serta kaidah yang telah menjadi menyeluruh. Namun, tajalli Asma yang memberi manifestasi kepada seluruh penjuru, yang dirinya pun memiliki bagian dalam manifestasi itu, dianggapnya sebagai perantara untuk bersembunyi dan tanda diabaikan. Seolah-olah tiada siapa pun di atas nafsu yang mengawasi seluruh keadaannya. Ia memandang dirinya dalam perbuatan yang dilakukannya seperti ﻫُﻮَ yang tersembunyi dalam kata kerja. Dengan menganggap luasnya tajalli sebagai mustahil dan besarnya sebagai tidak ada, ia membuat setan pun malu atas penalaran menipu yang dilakukannya.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Dalam penderitaan serta gelisah terus-menerus, nafsu tidak melepaskan diri dari bayangan dan mendekat kepada tawakal. Ia tidak rela kepada hukum takdir. Padahal, sebagaimana terbit serta terbenamnya matahari tertentu dan ditakdirkan, terbit, terbenam, serta ketentuan manusia lainnya dalam dunia ini pun tertulis pada dahinya dengan pena takdir. Jika ingin, pukulkan kepalanya kepada batu untuk menghapus tulisan-tulisan itu. Namun, kepalanya pecah dan tulisan-tulisan tidak terkena apa pun, ketahuilah!

Jika tidak, hendaknya ia mengetahui secara pasti bahwa manusia yang tidak dapat lari ke luar langit serta bumi dan selamat harus rela dengan cinta kepada Rububiyah Khâliq segala sesuatu.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Jika pembuat sesuatu berada dalam sesuatu itu, harus terdapat hubungan penuh di antara mereka. Pembuat-pembuat pun harus bertambah sebanyak ciptaan. Ini mustahil. Maka, pembuat tidak dapat berada dalam ciptaan.

Misalnya, kitab yang diperbanyak melalui percetakan tetap ditulis oleh pena seseorang. Ukiran serta huruf kitab itu tidak bertunas dari dirinya sendiri. Penulis pun tidak berada dalam seni tulis tersebut. Jika tidak, ia keluar dari keteraturan. Maka, ukiran ciptaan bukan dari dirinya sendiri. Semuanya hanya ditulis dengan pena Kudrat menurut penentuan takdir.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Akal memiliki keadaan amat aneh. Ia memiliki jangkauan begitu panjang sehingga kadang meliputi serta memeluk kainat. Kadang ia keluar dari lingkaran kemungkinan dan berusaha mencampuri lingkaran-lingkaran paling luhur itu. Kadang ia tenggelam dalam setetes air, tiada dalam satu zarah, serta hilang dalam sehelai rambut. Selain itu, pada sesuatu apa pun ia lenyap serta hilang, ia menganggap seluruh wujud terbatas pada sesuatu tersebut. Ke titik mana pun ia masuk, ia ingin membawa seluruh alam bersama-sama.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Jika hak milik serta bayangan dunia atau wujud berada padamu, engkau tidak dapat menikmati nikmat-nikmat karena beban menjamin, menjaga, serta takut; engkau senantiasa tidak tenteram. Sebab, dengan memenuhi yang kurang serta menjaga yang ada dari binasa, engkau senantiasa menjadi tempat bayangan, takut, serta kesukaran. Padahal, nikmat-nikmat tersebut berada di bawah Jaminan Sang Pemberi Nikmat Yang Karîm. Pekerjaanmu ialah bersyukur dengan makan serta minum dari jamuan karunia⁠-⁠Nya. Tiada kesukaran dalam syukur. Sebaliknya, ia menambah lezat nikmat.

Sebab, syukur berarti melihat pemberian nikmat dalam nikmat. Melihat pemberian nikmat menolak sakit yang muncul dari sirnanya nikmat. Sebab, ketika nikmat sirna, Sang Pemberi Nikmat Yang Hakiki tidak Membiarkan tempatnya kosong; Dia Mengisinya dengan yang serupa dan engkau memperoleh lezat dari pembaruannya.

Ya, ayat mulia

ﻭَ ﺍٰﺧِﺮُ ﺩَﻋْﻮٰﻳﻬُﻢْ ﺍَﻥِ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ

menunjukkan bahwa pujian merupakan lezat itu sendiri. Sebab, pujian memperlihatkan pohon pemberian nikmat dalam buah nikmat. Melalui ini, sakit yang muncul dari membayangkan sirnanya nikmat hilang. Sebab, dalam pohon terdapat banyak buah; jika satu pergi, yang lain datang menggantikannya. Maka, pujian merupakan lezat itu sendiri.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Pengetahuan tentang dunia di luar diri, yakni pengetahuan yang diambil dari luar serta jauh, tidak bebas dari bayangan dan waswas. Adapun pengetahuan tentang diri sendiri serta dari dalam diri, yang langsung menjadi tempat kesadaran batin, bersih dari bayangan serta kemungkinan. Karena itu, harus memandang dari pusat ke lingkungan dan dari dalam ke luar.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Melalui peradaban yang hidup sia-sia ini, yang menjadikan bola bumi seperti desa, tirai lalai telah amat menebal. Memperbaikinya memerlukan perhatian besar. Ia pun telah membuka banyak celah dari ruh manusia menghadap dunia. Menutup semuanya hanya dimudahkan bagi orang yang memperoleh Karunia Allah سُبْحَانَهُ.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Satu zarah dapat memuat serta memasukkan matahari besar melalui pancaran, yakni dari segi pantulan. Namun, ia tidak dapat memasukkan dua zarah kecil itu sendiri ke dalamnya, yakni dari segi volumenya. Karena itu, seperti tetes-tetes hujan yang menjadi tempat pantulan matahari, zarah-zarah serta susunan-susunan kainat dapat menjadi tempat tampak kilau Kudrat Azali yang bercahaya, yang bersandar kepada Ilmu serta Kehendak, dari segi tajalli dan pantulan. Namun, zarah suatu sel dalam mata tidak dapat menjadi sumber bagi daya, kesadaran, serta kehendak yang pengaruhnya terlihat pada ‘saraf, vena, serta arteri’. Menurut tuntutan seni menakjubkan, ukiran teratur, serta Hikmah halus ini, setiap zarah dan setiap susunan kainat harus menjadi sumber serta mata air bagi Sifat-Sifat meliputi dan mutlak yang khusus bagi keilahian. Atau, semuanya harus menjadi tempat pantulan kilau tajalli Matahari Azali Pemilik Sifat-Sifat itu.

Dalam pilihan pertama terdapat hal-hal mustahil sebanyak zarah kainat. Karena itu, setiap zarah, dengan mengakui bahwa ia tak berdaya menanggung beban besar tersebut, mengumumkan kesaksiannya, ‘Mûjid (Yang Mengadakan), Khâliq, Rabb, Mâlik, serta Qayyûm hanyalah Allah سُبْحَانَهُ.’ Demikian pula, setiap zarah dan setiap susunan menyenandungkan bait berikut melalui beragam bahasa serta petunjuknya:

ﻋِﺒَﺎﺭَﺍﺗُﻨَﺎ ﺷَﺘّٰﻰ ﻭَ ﺣُﺴْﻨُﻚَ ﻭَﺍﺣِﺪٌ ﻭَ ﻛُﻞٌّ ﺍِﻟٰﻰ ﺫَﺍﻙَ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻝِ ﻳُﺸ۪ﻴﺮُ

Ya, setiap huruf menunjukkan wujudnya sendiri melalui satu segi. Namun, ia menunjukkan wujud penulis serta pembuatnya melalui banyak segi. Ya,

ﺗَﺎَﻣَّﻞْ ﺳُﻄُﻮﺭَ ﺍﻟْﻜَﺎﺋِﻨَﺎﺕِ ﻓَﺎِﻧَّﻬَﺎ ٭ ﻣِﻦَ الْمَلَاِ الْاَعْلٰى ﺍِﻟَﻴْﻚَ ﺭَﺳَﺎﺋِﻞُ

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Terdapat banyak hal seperti kaca, air, udara, alam mitsal, ruh, akal, khayal, waktu, serta lainnya yang menjadi tempat serta tempat tampak manifestasi, gambaran, dan pantulan. Gambaran hal-hal materi padat terpisah dan seperti mati. Sebab, sebagaimana berbeda dari aslinya, semuanya juga kehilangan ciri-ciri aslinya. Adapun gambaran hal-hal bercahaya tersambung dengan aslinya, memiliki ciri-ciri aslinya, serta tidak berbeda dari aslinya.

Karena itu, jika Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Menjadikan panas matahari seperti hidup, sinarnya seperti kesadaran, serta warna dalam sinar seperti rasa, pantulan matahari yang tergambar dalam cermin di tanganmu akan berbicara denganmu. Sebab, selama berada dalam pantulannya, ia memiliki panas, sinar, serta warna. Dengan panasnya ia memperoleh hidup, dengan sinarnya memiliki kesadaran, dan dengan warnanya memiliki rasa. Setelah demikian, ia dapat berbicara denganmu.

Berdasarkan rahasia ini, Rasul Yang Paling Mulia ﷺ mengetahui seluruh salawat mulia yang dibacakan kepadanya dalam satu saat.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Ungkapan Sübhanallah serta Elhamdülillah secara tersirat menggambarkan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq dengan Sifat Jalal serta Jamal. ‘Sübhanallah’ yang memuat Sifat Jalal memandang jauhnya hamba serta makhluk dari Allah سُبْحَانَهُ. ‘Elhamdülillah’ yang memuat Sifat Jamal mengisyaratkan bahwa Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Dekat kepada hamba serta makhluk melalui Rahmat⁠-⁠Nya.

Misalnya, matahari memiliki dua segi yang memandang kita, satu dekat dan yang lain jauh. Dari segi dekat, ia memberi panas serta sinar. Dari segi jauh, ia tetap suci serta bersih dari bahaya manusia. Dari segi ini, manusia di hadapan matahari hanya dapat menjadi penerima, bukan pelaku serta pemberi pengaruh.

Demikian pula, tanpa menyerupakan, kita memuji Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq dari segi Dia Dekat kepada kita melalui Rahmat⁠-⁠Nya. Kita bertasbih kepada⁠-⁠Nya dari segi kita jauh dari⁠-⁠Nya. Karena itu, ketika memandang Dekat⁠-⁠Nya melalui Rahmat⁠-⁠Nya, pujilah Dia. Ketika memandang jauhnya dirimu dari⁠-⁠Nya, bertasbihlah. Namun, jangan campurkan kedua kedudukan dan jangan gabungkan kedua pandangan agar haq serta lurus tidak tercampur. Akan tetapi, apabila tiada kekeliruan serta percampuran, engkau dapat mengganti maupun menghimpun kedua kedudukan dan kedua pandangan. Ya, ‘Sübhanallahi ve bihamdihî’ merupakan ungkapan yang menghimpun kedua kedudukan.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Karena empat hal, dunia harus ditinggalkan dengan hati, bukan dengan usaha bekerja:

1-

Usia dunia pendek dan dengan cepat menuju sirna serta terbenam. Melalui sakit sirna, lezat pertemuan berlalu.

2-

Hal-hal lezat dunia menyerupai madu beracun. Menurut tingkat lezatnya, terdapat pula sakitnya.

3-

Kubur yang menantimu dan yang engkau tuju dengan cepat tidak menerima hal-hal berhias serta lezat dunia sebagai hadiah. Sebab, yang dianggap indah oleh penghuni dunia buruk di sana.

4-

Perbandingan antara tinggal satu jam di antara musuh serta serangga berbahaya dan tinggal bertahun-tahun dalam majelis sahabat serta orang-orang besar merupakan perbandingan yang sama antara kubur dan dunia. Selain itu, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Mengajak meninggalkan lezat satu jam agar engkau tenteram bersama sahabat-sahabatmu selama bertahun-tahun. Maka, sebelum dibawa dalam ikatan serta belenggu, jawablah ajakan Allah سُبْحَانَهُ.

Fesübhanallah, Karunia serta Kemurahan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq kepada manusia demikian besar sehingga Dia Membeli dari manusia dengan harga besar harta yang Diberikan⁠-⁠Nya sebagai titipan, lalu Menjaganya tetap ada serta Melindunginya. Jika manusia memiliki harta tersebut dan tidak menjualnya kepada Allah سُبْحَانَهُ, ia jatuh dalam bencana besar, sebab ia telah mengambil tanggung jawab atas harta itu. Padahal, dayanya tidak cukup untuk menjamin. Jika memikulnya di punggung, punggungnya patah; jika memegangnya dengan tangan, ia lari dan tidak tertangkap. Akhirnya ia sirna serta pergi tanpa hasil; hanya dosa-dosanya tinggal sebagai warisan.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Aku termasuk dalam cakupan syair

ﻭَ ﻋَﻴْﻨ۪ﻰ ﻗَﺪْ ﻧَﺎﻣَﺖْ ﺑِﻠَﻴْﻞِ ﺷَﺒ۪ﻴﺒَﺘ۪ﻰ ٭ ﻭَ ﻟَﻢْ ﺗَﻨْﺘَﺒِﻪْ اِلَّا ﺑِﺼُﺒْﺢِ ﻣَﺸ۪ﻴﺐِ

yang bermakna, ‘Pada masa mudaku yang menyerupai malam, mataku tidur; aku hanya terbangun melalui pagi masa tua.’ Sebab, pada masa muda aku menyangka telah naik ke puncak kesadaran paling tinggi. Kini kupahami bahwa kesadaran itu bukan kesadaran, melainkan hanya berada dalam sumur tidur paling dalam. Karena itu, kesadaran terang yang dibanggakan orang-orang beradab agaknya termasuk golongan kesadaran masa mudaku.

Contoh mereka ialah orang tidur yang seolah-olah terbangun dalam mimpi dan menceritakan mimpinya kepada orang lain. Padahal, terbangunnya dalam mimpi merupakan isyarat bahwa ia berpindah dari tirai tidur tipis ke tirai yang dalam serta tebal. Orang tidur seperti ini seperti mati. Bagaimana ia dapat membangunkan manusia yang setengah tidur?

Wahai orang-orang yang menyangka dirinya terjaga ketika tidur! Jangan mendekat kepada orang-orang beradab melalui kelonggaran atau penyerupaan dalam urusan agama. Sebab, jurang di antara kita amat dalam. Kalian tidak dapat mengisinya serta memastikan jalan hubungan. Kalian akan bergabung dengan mereka, atau jatuh dalam kesesatan lalu tenggelam.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Dalam hakikat maksiat, terutama jika diteruskan, terdapat benih kufur. Sebab, yang meneruskan maksiat menjadi terbiasa, lalu mencintai dan terikat kepadanya. Ia mencapai tingkat tidak dapat menemukan peluang meninggalkannya. Kemudian ia mulai berharap bahwa maksiatnya tidak menyebabkan hukuman. Ketika keadaan ini terus demikian, benih kufur mulai menghijau. Akhirnya ia menyebabkan pengingkaran hukuman maupun negeri hukuman.

Demikian pula, karena malu yang mengikuti maksiat, dengan menyatakan maksiat itu bukan maksiat, ia bahkan mengingkari malaikat yang mengetahui maksiat tersebut. Bahkan, karena sangat malu, ia berharap hari perhitungan tidak akan datang.

Jika menemukan bayangan paling kecil yang menyangkal hari perhitungan, ia menganggapnya bukti amat besar. Akhirnya hati orang-orang yang tidak menyesal dan tidak meninggalkan maksiat terkena gerhana, musnah, lalu pergi. -El-iyazü billah- Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Engkau akan mendengarkan beberapa kilau yang dijelaskan dalam karyaku bernama ‘Lemaat’ mengenai i'jaz serta balagah Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya:

1-

Dalam pembacaan Al-Qur'an terdapat kelancaran luhur yang tidak memberatkan lisan.

2-

Terdapat keselamatan besar yang bebas dari salah dalam lafaz serta makna.

3-

Di antara ayat-ayat terdapat saling menopang yang besar. Seperti bangunan batu, ayat-ayatnya saling bersandar dan menjaga bangunan Al-Qur'an dari guncangan.

4-

Terdapat kesesuaian, saling menjawab, serta saling membantu yang besar. Sebagaimana ayat-ayatnya tidak asing satu sama lain, semuanya membantu jelasnya yang lain dan menjawab permintaan penjelasannya.

5-

Meskipun turun sebagian-sebagian pada waktu-waktu terpisah, karena besarnya kesesuaian seolah-olah turun sekali.

6-

Meskipun sebab-sebab turunnya berbeda serta berlainan, karena besarnya saling menopang seolah-olah sebabnya satu.

7-

Meskipun merupakan jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan berulang serta berbeda, karena besarnya paduan serta persatuan seolah-olah pertanyaannya satu.

8-

Meskipun merupakan penjelasan bagi peristiwa-peristiwa banyak serta berubah, karena sempurnanya keteraturan seolah-olah peristiwanya satu dan ia merupakan jawaban bagi satu peristiwa.

9-

Ia turun dengan gaya-gaya yang dekat serta sesuai dengan pemahaman orang yang diseru, yang diungkapkan sebagai ‘penyesuaian Ilahi’.

10-

Meskipun mengarahkan perkataan kepada manusia yang datang serta pergi pada seluruh waktu dan tempat, karena mudahnya penjelasan seolah-olah yang diseru satu.

11-

Untuk mengantarkan kepada tujuan-tujuan bimbingan, pengulangannya menyatakan peneguhan serta penetapan. Selain itu, pengulangannya tidak merusak. Diulangnya tidak menghapus nikmat. Semakin diulang, semakin beraroma seperti kesturi.

12-

Al-Qur'an merupakan daya serta makanan bagi hati, obat bagi ruh. Berulangnya makanan menambah daya. Dengan mengulang, karena menjadi lebih terbiasa serta akrab, nikmatnya bertambah.

13-

Dalam hidup materinya, manusia memerlukan udara setiap saat, air setiap waktu, makanan setiap masa serta setiap hari, dan sinar setiap minggu. Berulangnya semua itu pada hakikatnya bukan pengulangan itu sendiri, melainkan karena berulangnya kebutuhan.

Demikian pula, dari segi hidup ruhnya, manusia memerlukan seluruh jenis yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Sebagian jenis ia perlukan setiap saat, seperti ‘Hüvallah’, sebab ruh bernapas dengannya. Sebagian jenis ia perlukan setiap waktu, dan sebagian setiap masa.

Berdasarkan kebutuhan hidup hati, Al-Qur'an melakukan pengulangan. Misalnya, karena ‘Bismillah’ memuaskan hati serta ruh seperti udara sepoi-sepoi, ia banyak diulang dalam Al-Qur'an berdasarkan banyaknya kebutuhan.