TAMBAHAN HABBE
Saudaraku! Melalui karya-karyaku yang kacau ini, aku menggali sekeliling sesuatu yang besar. Namun, aku tidak tahu apakah telah dapat menyingkapnya, atau ia akan berkembang kemudian, atau muncul sesudahnya. Aku membuka serta menunjukkan jalan menuju tersingkapnya.
لَا ﺣَﻮْﻝَ وَلَا ﻗُﻮَّﺓَ اِلَّا ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻮَﻛ۪ﻴﻞُ ٭ ﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻤَﻮْﻟٰﻰ ﻭَ ﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟﻨَّﺼ۪ﻴﺮُ ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻋَﻠٰﻰ ﻧِﻌْﻤَﺔِ الْا۪يمَانِ وَالْاِسْلَامِ ﺑِﻌَﺪَﺩِ ﻗَﻄَﺮَﺍﺕِ الْاَمْطَارِ ﻭَﺍَﻣْﻮَﺍﺝِ ﺍﻟْﺒِﺤَﺎﺭِ ﻭَﺛَﻤَﺮَﺍﺕِ الْاَشْجَارِ ﻭَﻧُﻘُﻮﺵِ الْاَزْهَارِ ﻭَﻧَﻐَﻤَﺎﺕِ الْاَطْيَارِ ﻭَﻟَﻤَﻌَﺎﺕِ الْاَنْوَارِ ﻭَﺍﻟﺸُّﻜْﺮُ ﻟَﻪُ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﻣِﻦْ ﻧِﻌَﻤِﻪ۪ ﻓِﻰ الْاَطْوَارِ ﺑِﻌَﺪَﺩِ ﻛُﻞِّ ﻧِﻌَﻤِﻪ۪ ﻓِﻰ الْاَدْوَارِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ﻋَﻠٰﻰ ﺳَﻴِّﺪِ الْاَبْرَارِ وَالْاَخْيَارِ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺍﻟْﻤُﺨْﺘَﺎﺭِ ﻭَﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪِ الْاَطْهَارِ ﻭَﺍَﺻْﺤَﺎﺑِﻪ۪ ﻧُﺠُﻮﻡِ ﺍﻟْﻬِﺪَﺍﻳَﺔِ ﺫَﻭِﻯ الْاَنْوَارِ ﻣَﺎﺩَﺍﻡَ ﺍﻟَّﻴْﻞُ ﻭَﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭُ
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Seorang musafir dalam perjalanannya singgah pada banyak tempat serta tempat tinggal. Adat dan syarat setiap tempat yang disinggahinya berbeda.
Demikian pula, pribadi yang menempuh jalan Allah سُبْحَانَهُ menjumpai banyak kedudukan, tingkat, keadaan, serta tirai, yang setiapnya memiliki syarat dan suasana sendiri. Orang yang mencampurkan syarat-syarat serta tirai-tirai ini satu sama lain keliru dan bergerak salah.
Misalnya, seseorang yang mendengar ringkik kuda dalam kandang mendengar senandung serta suara indah bulbul dalam istana tinggi. Jika tidak membedakan senandung itu dari ringkik kuda dan meminta ringkik dari bulbul, ia telah menipu nafsunya sendiri melalui penalaran.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Salah satu sebab yang memperindah hidup dunia ialah cahaya-cahaya hidayah serta gambaran orang-orang besar yang dicintai dan menyenangkan, yang bersinar melalui gambaran dalam cermin dunia.
Ya, masa depan merupakan cermin masa lampau. Ketika masa lampau berpindah serta berubah ke barzakh, yakni alam yang lain, ia menitipkan rupa, bentuk, serta dunianya kepada cermin masa depan, sejarah, dan benak manusia. Melalui cinta maknawi serta khayal kepada mereka, cinta dunia menjadi manis.
Misalnya, seseorang menemukan di jalannya cermin besar yang memuat gambaran serta foto sahabat dan kerabatnya. Ia tidak berusaha pergi ke negeri orang-orang yang menuju timur dan bergabung dengan mereka, tetapi sibuk serta mencintai gambaran-gambaran dalam cermin tersebut. Ketika bangun dari lalai, orang ini berkata, ‘Aduhai, apakah yang kulakukan! Ini bukan “şarap” (minuman), melainkan “serap” (fatamorgana). Sibuk dengannya bukan “azb” (manis), melainkan “azap” (siksa).’ Ia mulai bersiap bagi perjalanan timur untuk menyusul sahabat-sahabatnya.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Dalil-dalil paling benar bahwa Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya merupakan haq serta hakikat ialah:
1-
Ia menjaga seluruh tuntutan serta hal-hal yang diperlukan tauhid bersama tingkat-tingkatnya.
2-
Ia memperhatikan keseimbangan dalam hakikat-hakikat Ilahi yang luhur menurut kesesuaian serta tuntutan Asmaul Husna.
3-
Ia menghimpun Syuunat yang berkaitan dengan Rububiyah serta Keilahian dengan keseimbangan sempurna.
Ciri khas Al-Qur'an ini, sebagaimana tidak terdapat dalam karya manusia, juga tidak ditemukan dalam hasil-hasil pikiran para wali serta orang-orang besar lainnya yang telah berpindah ke segi malakut. Kaum iluminasi yang menyelam dalam batin segala sesuatu dan kaum ruhani yang menembus alam gaib pun tidak menemukan ciri khas Al-Qur'an ini. Sebab, pandangan mereka terbatas sehingga tidak dapat meliputi hakikat mutlak. Mereka hanya menemukan satu sisi hakikat lalu mulai mengelola dengan berlebihan atau kurang. Karena itu, mereka merusak kesesuaian serta mengganggu keseimbangan.
Misalnya, beberapa orang menyelam ke dasar laut untuk menemukan perbendaharaan berhias serta berharga yang memuat beragam permata. Saat mencari di dasar laut, seseorang memperoleh potongan berlian panjang. Ia memutuskan bahwa seluruh isi perbendaharaan hanya berupa berlian seperti ini. Ketika mendengar sahabat-sahabatnya berbicara tentang permata jenis lain, ia membayangkan bahwa permata yang mereka temukan merupakan ukiran berlian yang ditemukannya. Yang lain menemukan batu yakut bulat, dan sahabat lainnya menemukan jenis lain lagi. Demikian seterusnya, setiap orang meyakini bahwa isi pokok perbendaharaan hanya berupa jenis yang ditemukannya, sedangkan jenis-jenis yang ditemukan sahabatnya merupakan tambahan serta rincian perbendaharaan. Ketika perkara mengambil bentuk ini, keseimbangan hilang dan kesesuaian sirna. Kemudian mereka mulai melakukan takwil-takwil serta memaksakan pemahaman untuk menyingkap dan menjelaskan hakikat perkara. Bahkan, ada yang menuju pengingkaran perbendaharaan.
Ya, orang-orang yang merenungkan karya kaum iluminasi serta kaum sufi yang segera mempercayai hal-hal yang disaksikannya sebelum melakukan perbandingan melalui sunah mulia akan membenarkan yang kukatakan ini serta menerimanya tanpa bimbang.
Saudaraku! Al-Qur'an pun menyelam ke dalam laut tersebut untuk menyingkap perbendaharaan itu. Namun, karena mata Al-Qur'an terbuka, ia telah melihat perbendaharaan dengan meliputinya seluruhnya. Dengan memperhatikan kesesuaian serta keseimbangan melalui cara yang cocok dengan hakikat, ia menampakkan hakikat dengan keteraturan serta kesinambungan sempurna.
Saudaraku! Sebab sesatnya golongan-golongan yang jatuh dalam beragam kesesatan pada umat manusia ialah cacat imam-imam mereka. Ya, meskipun imam-imam itu berbicara tentang batin, mereka mempercayai serta mencukupkan diri dengan hal-hal yang disaksikannya, lalu kembali di tengah jalan. Mereka menjadi contoh bagi perkataan
ﺣَﻔَﻈْﺖَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻭَ ﻏَﺎﺑَﺖْ ﻋَﻨْﻚَ ﺍَﺷْﻴَﺎﺀُ.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq telah Membawamu dari tidak ada menuju wujud, dan dari banyak bentuk serta keadaan wujud menuju rupa manusia dengan sifat Muslim, yang paling tinggi. Setiap keadaan, tempat tinggal, tahap, serta suasanamu di antara awal gerak dan rupa terakhir yang engkau ambil telah dicatat dalam buku nikmat-nikmat yang berkaitan denganmu. Dari segi ini, nikmat-nikmat seperti berlian telah dirangkai pada pita waktu yang engkau lewati, memberi bentuk kalung sempurna atau daftar isi bagi jenis-jenis nikmat.
Karena itu, pada setiap tempat tinggal serta keadaan, tahap, dan suasana wujud yang telah engkau lewati, engkau akan ditanya, ‘Bagaimana engkau mencapai nikmat ini? Dengan apa engkau layak mendapatkannya? Sudahkah engkau bersyukur atasnya?’ Sebab, keadaan-keadaan yang terjadi harus ditanya, sedangkan hal-hal yang tetap dalam kemungkinan dan tidak terjadi tidak harus ditanya.
Keadaan-keadaan yang telah engkau lewati merupakan kejadian. Keadaan masa depanmu belum ada. Yang ada memiliki tanggung jawab; yang tidak ada tidak memiliki tanggung jawab. Maka, harus memenuhi syukur yang tertinggal atas nikmat-nikmat masa lampau yang belum engkau syukuri.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Terdapat keadaan berikut yang menerbangkan manusia lalu melemparkannya terbalik menuju bencana:
Tanpa memperhatikan kelayakan, penghargaan kepada yang haq dibuat terlalu kurang atau berlebihan. Keadaan tidak manusiawi seperti seseorang diletakkan di bawah beban kecil atau besar tanpa memandang daya serta nilainya menurunkan manusia dari sifat manusia, lalu menyeretnya menuju zalim atau dusta.
Misalnya, meminta seorang prajurit yang mewakili suatu pasukan untuk mengetahui seluruh urusan ketentaraan, atau meminta keagungan matahari diperlihatkan dari pantulannya dalam setetes air, merupakan sikap sangat tidak adil.
Sebab, terdapat perbedaan antara menggambarkan sifat dan memiliki sifat. Misalnya, pantulan dalam tetes memperlihatkan sifat-sifat matahari, tetapi tidak dapat memiliki sifat-sifat itu.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Dalam jenis wujud tiada saling berdesakan. Yakni, banyak alam serta keadaan berkumpul dan bergabung pada panggung wujud.
Misalnya, ketika pada waktu malam engkau masuk ke ruang berdinding kaca yang lampu listriknya menyala, engkau akan melihat banyak tempat tinggal serta ruang pada kaca-kaca yang seperti jendela menuju alam mitsal.
Kedua: Sambil duduk dalam ruang, engkau dapat melakukan segala macam pergantian, perubahan, serta pengelolaan dengan kemudahan sempurna dalam ruang-ruang gambaran tersebut.
Ketiga: Lampu listrik dalam ruang paling dekat kepada yang paling jauh di antara gambaran-gambaran lampu, sebab ialah penopang gambaran-gambaran tersebut.
Keempat: Satu butir serta satu bagian dari wujud materi ini dapat memuat satu alam dari wujud gambaran tersebut.
Keempat hukum ini juga berlaku antara Zat Yang Wajib serta alam segala yang mungkin ada. Sebab, karena wujud segala yang mungkin ada merupakan bayangan dari Cahaya Zat Yang Wajib, ia berada pada tingkat bayangan dalam pikiran. Melalui Perintah Zat Yang Wajib, ia masuk ke wujud di luar pikiran, lalu tetap serta kokoh.
Maka, sebagaimana wujud segala yang mungkin ada bukan pada dirinya sendiri wujud hakiki di luar pikiran, ia juga bukan bayangan dalam pikiran atau bayangan yang sirna. Ia hanyalah wujud melalui penciptaan Wâjibul Wujûd.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Sebagaimana mustahil alam indah ini tidak memiliki Pemilik, mustahil pula Dia tidak Memberitahukan serta Memperkenalkan Diri-Nya kepada manusia.
Sebab, manusia melihat indahnya alam yang menunjukkan Kesempurnaan Pemilik, dan merupakan khalifah yang mengelola sesuka hati pada bola bumi yang diciptakan sebagai buaian baginya. Bahkan, dengan akalnya ia bekerja pada langit dunia pula. Bersama kecil serta lemahnya, melalui pengelolaan menakjubkan yang luar biasa, ia memperoleh sebutan makhluk paling mulia. Karena dalam tangannya terdapat kehendak bebas manusia, di antara seluruh sebab ia memiliki wewenang paling luas.
Karena itu, Pemilik Hakiki harus Memberitahukan serta Memperkenalkan Diri-Nya melalui para rasul kepada hamba-hamba-Nya yang luhur tetapi lalai seperti ini, agar mereka mengetahui Perintah-Perintah-Nya serta hal-hal yang Diridai Pemilik tersebut.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Kulihat bahwa seluruh daya manusia, hingga rasa membayangkan, mengandaikan, serta berkhayal, pada akhirnya kembali dan bersama-sama berlindung kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq; tiada kemungkinan serta peluang yang tersisa bagi batil; dan kainat hanya berada dalam bentuk yang dijelaskan Al-Qur'an.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! {(): Penting.} Di antara alam-alam seperti alam sinar, alam panas, alam udara, alam ambar, alam listrik, alam daya tarik, alam eter, alam mitsal, serta alam barzakh, tiada saling berdesakan ataupun sempitnya tempat itu. Seluruh alam ini berkumpul dalam suatu tempat kecil tanpa kekacauan serta benturan.
Demikian pula, alam-alam gaib yang amat luas juga mungkin berkumpul pada bumi kecil ini. Ya, tiada halangan bagi manusia berjalan dalam udara serta air; bagi sinar melewati kaca; bagi sinar melalui rontgen menembus bahkan benda padat; bagi cahaya akal dan ruh malaikat; bagi panas mengalir dalam besi; serta bagi listrik mengalir.
Demikian pula, dalam alam padat ini tiada halangan yang mencegah makhluk ruhani berputar, jin berkeliling, setan mengalir, serta malaikat berjalan.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Dalam cahaya serta hal-hal bercahaya seperti mata, lampu, dan matahari, juz'i serta kulli, bagian serta keseluruhan, satu serta seribu sama. Ya, lihatlah matahari! Seluruh hal bening seperti planet, laut, kolam, tetes, serta gelembung tergambar melalui pantulan-pantulannya dengan kemudahan sempurna.
Demikian pula, Matahari Azali Menulis seluruh bab, bagian, baris, kalimat, serta huruf dalam kitab kainat ini sekaligus tanpa beban. Dalam kebangkitan sesudah mati pun terdapat kemudahan yang sama. Al-Qur'an al-Karim memerintahkan, ‘Penciptaan serta kebangkitan kalian seperti penciptaan dan kebangkitan satu jiwa.’
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Orang yang memperhatikan berhenti serta diamnya zarah-zarah bergerak yang menggerakkan segala sesuatu sesudah bergerak hingga batas-batas tertentu memahami bahwa pada batas segala sesuatu terdapat penjaga batas yang menghentikan serta mengembalikan zarah-zarah yang terus bergerak. Ia mencegah zarah-zarah tersebut melampaui batas. Penjaga itu merupakan tajalli Ilmu yang meliputi; tajalli tersebut berubah menjadi takdir, takdir menjadi ukuran, serta ukuran menjadi cetakan. Maka, segala sesuatu merupakan cetakan bagi zarah-zarah di dalamnya.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Sebagaimana ayat-ayat Al-Qur'an saling menafsirkan, suatu bagian kitab alam ini pun menjelaskan bagian lainnya.
Misalnya, sebagaimana alam materi memerlukan matahari dengan kebutuhan hakiki untuk menarik cahaya nikmat Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, alam maknawi pun memerlukan matahari kenabian untuk mengambil sinar Rahmat Ilahi. Karena itu, kenabian Rasul Yang Paling Mulia ﷺ pasti serta jelas pada tingkat pasti dan jelasnya matahari.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Buah-buah yang mengikuti wujud makhluk hidup tidak hanya khusus bagi dirinya, manfaatnya, terus adanya, serta sempurnanya. Hanya satu bagian dari buah-buah tersebut miliknya. Bagian terbesar yang lain kembali kepada Khâliq.
Bagian yang menjadi milik makhluk hidup terjadi setelah waktu panjang, sedangkan bagian yang kembali kepada Khâliq terjadi dalam satu saat. Misalnya, dengan menjadi tempat tampak tajalli Asmaul Husna, makhluk hidup itu menggambarkan Khâliq melalui Sifat-Sifat Sempurna dan memuji-Nya melalui bahasa keadaan.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Satu individu manusia memperoleh suatu jenis sifat menyeluruh melalui cakupan pikiran, akal, serta luasnya hati. Demikian pula, karena satu individu manusia dalam khilafah berkaitan secara sadar dengan bagian-bagian alam dan memiliki pengelolaan atas banyak jenis, tumbuhan maupun hewan, ia seperti jenisnya. Dari segi ini, satu individu manusia masuk ke dalam barisan jenis-jenis.
Karena itu, kiamat-kiamat berulang yang terjadi pada jenis-jenis hewan serta buah, dan kebangkitan serta hidup kembali tahunan yang terjadi pada binatang kecil dan serangga, juga berlaku pada setiap individu manusia.
Kesimpulannya: Sebagaimana melalui ayat-ayat Al-Qur'an terdapat petunjuk-petunjuk pasti bahwa kiamat besar akan datang bagi anak-anak manusia, melalui ayat-ayat penciptaan dalam kitab alam pun terdapat petunjuk serta isyarat amat pasti kepada kiamat terbesar.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Ketika mendengarkan Al-Qur'an al-Karim dibaca, engkau dapat mendengarkan melalui beragam bentuk:
1-
Ketika Rasul Yang Paling Mulia ﷺ naik ke mimbar kenabian serta menyampaikan ayat-ayat Al-Qur'an kepada umat manusia, kirimlah telingamu ke masa itu untuk mendengarkan bacaannya dengan hati serta khayal. Engkau akan mendengarkan seolah-olah keluar dari mulutnya yang diberkahi.
2-
Atau, ketika Jibril (as) menyampaikan kepada Hazret-i Muhammad ﷺ, jadilah seperti mendengarkan keadaan menyampaikan dan menerima yang berlangsung antara kedua pribadi mulia itu.
3-
Atau, masuklah ke dalam keadaan khayal seolah-olah mendengarkan Firman Yang Berfirman secara Azali kepada Rasul Yang Paling Mulia ﷺ pada kedudukan Qab Qausain, di belakang tujuh puluh ribu tirai.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Hubungan kesadaran serta ilmumu kepadamu menurut keadaan serta hal-hal yang diperlukan kebutuhanmu. Sebab, di antara sebab dan hasil, serta daya dan amal, harus terdapat hubungan. Tidak boleh berlebih ataupun kurang. Perbandingan kesadaran serta ilmumu kepada dirimu seperti sehelai rambut dibanding dengan Pandangan serta Ilmu Khâliq kepadamu.
Karena itu, dengan ilmu serta kesadaranmu yang amat kecil, jangan menghadapi Ilmu serta Pandangan Matahari Azali dan menjadi seperti kunang-kunang yang pada tengah siang, di bawah matahari, keluar untuk bertempur dengan sinar matahari!
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Meskipun Tindakan-Tindakan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq saling sesuai, karya-karya-Nya saling menyerupai, Asma-Nya saling menjadi cermin serta tempat pantulan, Sifat-Sifat-Nya saling masuk, dan Syuunat-Nya berpadu, setiapnya memiliki cara serta keadaan khusus. Cara khusus itulah tujuan itu sendiri. Cara-cara lainnya mengikuti.
Karena itu, misalnya, ketika memandang benda-benda tak bernyawa dari karya-karya Khâliq, jadikan Keagungan serta Kudrat sasaran maksudmu. Pikirkan tajalli Asma lainnya sebagai yang mengikuti. Ketika memandang hewan, pandanglah dengan maksud belas kasih. Pandang tajalli-tajalli lainnya melalui pandangan yang mengikuti.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Al-Qur'an al-Karim merupakan rahmat bagi seluruh manusia. Sebagaimana setiap manusia memiliki alam khayal khusus dari alam hakiki ini, dalam daya ingat setiap orang terdapat Al-Qur'an khusus baginya yang ia pahami dan ambil dari Al-Qur'an menurut jalannya sendiri, yang memelihara ruh serta mengobati hatinya.
Demikian pula, salah satu keunggulan Al-Qur'an al-Karim ialah bahwa setiap orang, seperti seluruh ulama serta orang dengan jalan masing-masing, dapat mengambil ayat-ayat berbeda dari banyak surah untuk hidayah serta obatnya. Sebab, suatu ayat memiliki hubungan amat halus serta segi sambungan dengan ayat-ayat Al-Qur'an lainnya. Tiada rasa asing di antara mereka. Dari segi ini, ayat-ayat yang diambil dari banyak surah menjadi seperti Al-Qur'an kecil.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Ungkapan suci
لَا ﺣَﻮْﻝَ وَلَا ﻗُﻮَّﺓَ اِلَّا ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ
memandang tahap-tahap serta keadaan yang dilalui manusia, seperti tak bernyawa, tumbuhan, hewan, serta manusia, sejak keadaan zarah hingga mencapai rupa manusia beriman. Pada tempat-tempat ini, latifah-latifah manusia terkena banyak sakit serta harapan. Selain itu, hal-hal yang berkaitan dengan daya upaya serta kekuatan tidak disebutkan, sehingga keduanya dibiarkan mutlak. Karena itu, ungkapan ini menghibur dan ditafsirkan menurut kedudukan-kedudukan yang termasuk dalam cakupannya.
Misalnya:
1-
لَا ﺣَﻮْﻝَ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻌَﺪَﻡِ ﻭَ لَا ﻗُﻮَّﺓَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮﺩِ اِلَّا ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ
Keluar dari tidak ada dan mencapai wujud.
2-
لَا ﺣَﻮْﻝَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺰَّﻭَﺍﻝِ ﻭَ لَا ﻗُﻮَّﺓَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺒَﻘَﺎﺀِ اِلَّا ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ
Tidak menuju sirna dan tetap terus ada.
3-
لَا ﺣَﻮْﻝَ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤَﻀَﺮَّﺓِ ﻭَ لَا ﻗُﻮَّﺓَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﻔْﻊِ اِلَّا ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ
Menolak bahaya serta menarik manfaat.
4-
لَا ﺣَﻮْﻝَ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤَﺼَﺎﺋِﺐِ ﻭَ لَا ﻗُﻮَّﺓَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤَﻄَﺎﻟِﺐِ اِلَّا ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ
Jauh dari musibah serta memperoleh yang dimohon.
5-
لَا ﺣَﻮْﻝَ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤَﻌَﺎﺻ۪ﻰ ﻭَ لَا ﻗُﻮَّﺓَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻌِﺒَﺎﺩَﺓِ اِلَّا ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ
Tidak jatuh dalam maksiat serta terus beribadah.
6-
لَا ﺣَﻮْﻝَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨِّﻘَﻢِ ﻭَ لَا ﻗُﻮَّﺓَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨِّﻌْﻤَﺔِ اِلَّا ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ
Tidak terkena azab serta memperoleh nikmat.
7-
لَا ﺣَﻮْﻝَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻈُّﻠْﻤَﺔِ ﻭَ لَا ﻗُﻮَّﺓَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ اِلَّا ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ
Tidak jatuh dalam gelap serta terang melalui cahaya.
Demikian seterusnya, pada setiap kedudukan ia dapat dibatasi serta ditafsirkan menurut latifah-latifah manusia.