Dari Lem'a Ketujuh Belas
CATATAN KEDUA BELAS
Wahai Sang Rabb-ku Yang Rahîm dan wahai Sang Khâliq-ku Yang Karîm!
Karena pilihan burukku, umur dan masa mudaku telah terbuang dan berlalu. Dari buah umur dan masa muda itu, yang tersisa di tanganku ialah dosa-dosa yang menyakitkan, kepedihan yang menghinakan, serta bisikan yang menyesatkan. Dengan beban berat, hati yang sakit, dan wajah yang malu ini, aku mendekati kubur. Aku melihat dengan mata kepala sendiri bahwa, dengan sangat cepat, tanpa melenceng ke kanan atau kiri dan tanpa dapat memilih, aku mendekati pintu kubur seperti kawan-kawan, teman sebaya, dan kerabatku yang telah wafat. Kubur itu merupakan tempat singgah awal dan pintu pertama yang telah didirikan dan dibuka di jalan menuju hidup yang kekal selama-lamanya, dengan perpisahan untuk selamanya dari negeri yang tidak kekal ini. Aku telah memahami dengan keyakinan yang pasti bahwa dunia tempat aku terikat dan terpikat ini akan binasa dan berlalu, tidak kekal dan mati. Aku juga menyaksikan bahwa segala yang ada di dalamnya berpindah dan pergi satu demi satu, rombongan demi rombongan, lalu hilang. Terutama bagi orang-orang seperti aku yang membawa nafsu
ammarah, dunia ini sangat kejam dan penuh tipu daya. Jika memberikan satu kenikmatan, ia menimpakan seribu kepedihan dan membuat orang menanggungnya. Jika memberikan satu buah anggur untuk dimakan, ia memukul dengan seratus tamparan.
Wahai Sang Rabb-ku Yang Rahîm dan wahai Sang Khâliq-ku Yang Karîm!
Melalui rahasia ﻛُﻞُّ ﺍٰﺕٍ ﻗَﺮ۪ﻳﺐٌ, sejak sekarang aku melihat bahwa dalam waktu dekat aku telah mengenakan kafanku, naik ke kerandaku, dan berpamitan kepada kawan-kawanku. Ketika berjalan menuju kuburku, di hadirat Rahmat-Mu aku berseru dengan bahasa keadaan jenazahku dan bahasa lisan jiwaku: El-Aman el-Aman! Yâ Hannan! Yâ Mennan! Selamatkanlah aku dari rasa malu karena dosa-dosaku!
Kini aku telah sampai di tepi kuburku, memasang kafanku pada leherku, dan berdiri di atas tubuhku yang terbaring di tepi kubur. Aku mengangkat kepala ke hadirat Rahmat-Mu, lalu dengan seluruh kekuatanku menjerit dan berseru: El-Aman el-Aman! Yâ Hannan! Yâ Mennan! Bebaskanlah aku dari beban berat dosa-dosaku!
Kini aku telah masuk ke kuburku dan terbungkus kafanku. Orang-orang yang mengantarkanku meninggalkan aku dan pergi. Aku menantikan Ampunan dan Rahmat-Mu. Aku telah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa selain Engkau tidak ada tempat berlindung dan jalan selamat. Karena wajah dosa yang buruk, bentuk maksiat yang liar, dan sempitnya tempat itu, dengan seluruh kekuatanku aku berseru: El-Aman, el-Aman! Yâ Rahman! Yâ Hannan! Yâ Mennan! Yâ Deyyan! Selamatkanlah aku dari kebersamaan dengan dosa-dosaku yang buruk, dan lapangkanlah tempatku.
İlahî! Rahmat-Mu adalah tempat perlindunganku, dan Kekasih-Mu ﷺ yang merupakan Rahmeten lil-Âlemîn adalah saranaku untuk mencapai Rahmat-Mu. Aku tidak mengeluhkan Engkau; aku mengeluhkan nafsu dan keadaanku kepada-Mu.
Wahai Sang Khâliq-ku Yang Karîm dan wahai Sang Rabb-ku Yang Rahîm!
Makhluk, ciptaan, dan hamba-Mu yang bernama Said ini durhaka, tak berdaya, lalai, tidak tahu, sakit, hina, berbuat buruk, tua, celaka, dan merupakan budak yang melarikan diri dari Sang Pemiliknya. Namun, setelah empat puluh tahun, ia menyesal dan ingin kembali ke hadirat-Mu. Ia berlindung kepada Rahmat-Mu dan mengakui dosa serta kesalahannya yang tidak terbatas. Ia terkena berbagai kekhawatiran yang tidak berdasar dan penyakit, lalu memohon dengan rendah hati dan berdoa kepada-Mu.
Jika dengan Rahmat-Mu yang sempurna Engkau menerimanya, mengampuni, dan merahmatinya, memang itulah yang sesuai dengan Kemuliaan-Mu. Sebab, Engkau adalah Sang Arhamur Râhimîn. Jika Engkau tidak menerimanya, ke pintu mana aku dapat pergi selain Pintu-Mu?
Pintu manakah yang ada? Selain Engkau tidak ada Rabb yang dapat didatangi hadirat-Nya. Selain Engkau tidak ada Sang Ma'bûd Yang Benar untuk dijadikan tempat berlindung!
لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّٓا ﺍَﻧْﺖَ ﻭَﺣْﺪَﻙَ لَا ﺷَﺮ۪ﻳﻚَ ﻟَﻚَ ﺍٰﺧِﺮُ الْكَلَامِ ﻓِﻰ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَ ﺍَﻭَّﻝُ الْكَلَامِ ﻓِﻰ الْاٰخِرَةِ ﻭَ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻘَﺒْﺮِ ﺍَﺷْﻬَﺪُ ﺍَﻥْ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَ ﺍَﺷْﻬَﺪُ ﺍَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟٰﻰ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَ ﺳَﻠَّﻢَ
--
[Dua puluh lima tahun lalu, dalam Ramadan setelah salat Asar, aku membaca gubahan Asmaulhusna Syekh Jailani (K.S.). Timbul keinginan dalam diriku untuk menulis suatu munajat dengan Asmaulhusna. Namun, ketika itu hanya sebanyak ini yang tertulis. Aku ingin membuat gubahan yang sepadan dengan Münacat-ı Esmaiye (Munajat Asma) yang diberkahi dari guruku yang suci itu. Sayang! Aku tidak memiliki kemampuan menggubah puisi. Aku tidak dapat melakukannya; tetap tidak lengkap. Munajat ini sebelumnya dilampirkan pada Risalah Jendela-Jendela, Surat Ketiga Puluh Tiga dari Kalimat Ketiga Puluh Tiga. Karena sesuai dengan bagian ini, dipindahkan ke sini.]
ﻫُﻮَ ﺍﻟْﺒَﺎﻗ۪ﻰ ﺣَﻜ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﻘَﻀَﺎﻳَﺎ ﻧَﺤْﻦُ ﻓ۪ﻰ ﻗَﺒْﺾِ ﺣُﻜْﻤِﻪ۪ ٭ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﺤَﻜَﻢُ ﺍﻟْﻌَﺪْﻝُ ﻟَﻪُ الْاَرْضُ ﻭَ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀُ ﻋَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺨَﻔَﺎﻳَﺎ ﻭَ ﺍﻟْﻐُﻴُﻮﺏِ ﻓ۪ﻰ ﻣُﻠْﻜِﻪ۪ ٭ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻘَﺎﺩِﺭُ ﺍﻟْﻘَﻴُّﻮﻡُ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻌَﺮْﺵُ ﻭَ ﺍﻟﺜَّﺮَٓﺍﺀُ ﻟَﻄ۪ﻴﻒُ ﺍﻟْﻤَﺰَﺍﻳَﺎ ﻭَ ﺍﻟﻨُّﻘُﻮﺵِ ﻓ۪ﻰ ﺻُﻨْﻌِﻪ۪ ٭ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻔَﺎﻃِﺮُ ﺍﻟْﻮَﺩُﻭﺩُ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤُﺴْﻦُ ﻭَ ﺍﻟْﺒَﻬَٓﺎﺀُ ﺟَﻠ۪ﻴﻞُ ﺍﻟْﻤَﺮَﺍﻳَﺎ ﻭَ ﺍﻟﺸُّﺆُﻥِ ﻓ۪ﻰ ﺧَﻠْﻘِﻪ۪ ٭ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻤَﻠِﻚُ ﺍﻟْﻘُﺪُّﻭﺱُ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻌِﺰُّ ﻭَ ﺍﻟْﻜِﺒْﺮِﻳَٓﺎﺀُ ﺑَﺪ۪ﻳﻊُ ﺍﻟْﺒَﺮَﺍﻳَﺎ ﻧَﺤْﻦُ ﻣِﻦْ ﻧَﻘْﺶِ ﺻُﻨْﻌِﻪ۪ ٭ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺪَّٓﺍﺋِﻢُ ﺍﻟْﺒَﺎﻗ۪ﻰ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚُ ﻭَ ﺍﻟْﺒَﻘَٓﺎﺀُ ﻛَﺮ۪ﻳﻢُ ﺍﻟْﻌَﻄَﺎﻳَﺎ ﻧَﺤْﻦُ ﻣِﻦْ ﺭَﻛْﺐِ ﺿَﻴْﻔِﻪ۪ ٭ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺮَّﺯَّﺍﻕُ ﺍﻟْﻜَﺎﻓ۪ﻰ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻭَ ﺍﻟﺜَّﻨَٓﺎﺀُ ﺟَﻤ۪ﻴﻞُ ﺍﻟْﻬَﺪَﺍﻳَﺎ ﻧَﺤْﻦُ ﻣِﻦْ ﻧَﺴْﺞِ ﻋِﻠْﻤِﻪ۪ ٭ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﺨَﺎﻟِﻖُ ﺍﻟْﻮَﺍﻓ۪ﻰ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺠُﻮﺩُ ﻭَ ﺍﻟْﻌَﻄَٓﺎﺀُ ﺳَﻤ۪ﻴﻊُ ﺍﻟﺸَّﻜَﺎﻳَﺎ ﻭَ ﺍﻟﺪُّﻋَٓﺎﺀِ ﻟِﺨَﻠْﻘِﻪ۪ ٭ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺮَّﺍﺣِﻢُ ﺍﻟﺸَّﺎﻓ۪ﻰ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺸُّﻜْﺮُ ﻭَ ﺍﻟﺜَّﻨَٓﺎﺀُ ﻏَﻔُﻮﺭُ ﺍﻟْﺨَﻄَﺎﻳَﺎ ﻭَ ﺍﻟﺬُّﻧُﻮﺏِ ﻟِﻌَﺒْﺪِﻩ۪ ٭ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻐَﻔَّﺎﺭُ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢُ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻌَﻔْﻮُ ﻭَ ﺍﻟﺮِّﺿَٓﺎﺀُ
Wahai nafsuku! Menangislah serta berserulah seperti hatiku, dan katakan: "Aku tidak kekal, tidak menginginkan yang tidak kekal. Aku tidak berdaya, tidak menginginkan yang tidak berdaya.
Aku telah menyerahkan ruhku kepada Sang Rahmân, tidak menginginkan yang lain. Aku menginginkan, tetapi menginginkan Sang Sahabat Yang Kekal. Aku adalah zarah, tetapi menginginkan suatu Matahari Yang Mahakekal. Aku sama sekali bukan apa-apa, tetapi menginginkan seluruh yang ada ini."
Ya, segala yang ada ini merupakan cermin. Namun, sebagaimana gelap menjadi cermin bagi cahaya, dan semakin pekat gelap, semakin tampak sinar cahaya, dari banyak segi mereka menjadi cermin melalui hal yang berlawanan. Misalnya, sebagaimana segala yang ada menjadi cermin bagi Kudrat Sang Pembuat melalui keadaan tidak berdaya mereka, serta menjadi cermin bagi Kekayaan-Nya melalui rasa membutuhkan mereka, melalui musnahnya mereka juga menjadi cermin bagi Dia Yang Kekal. Ya, keadaan miskin muka bumi serta pohon-pohon di atasnya pada musim dingin, dan kekayaan serta kelimpahan mereka yang memancarkan kemilau pada musim semi, dengan amat pasti menjadi cermin bagi Kudrat serta Rahmat Sang Qadîr Mutlak dan Al-Ghaniyy Yang Mutlak.
Ya, seluruh makhluk seakan-akan bermunajat melalui bahasa keadaan seperti Uwais Al-Qarani demikian, dan berkata:
Yâ İlahenâ! Engkaulah Rabb kami! Sebab, kami adalah hamba. Kami tidak mampu memelihara diri kami sendiri. Jadi, Engkaulah yang memelihara kami.
Engkau juga Sang Khâliq! Sebab, kami adalah makhluk; kami dibuat.
Engkau juga Ar-Razzâq! Sebab, kami membutuhkan rezeki, tetapi tangan kami tidak dapat mencapainya. Jadi, Engkaulah yang membuat kami serta memberikan rezeki kami.
Engkau juga Sang Mâlik! Sebab, kami adalah hamba yang dimiliki. Selain diri kami ada Dia yang mengelola kami. Jadi, Engkaulah Pemilik kami.
Engkau juga Al-Azîz, Pemilik Kemuliaan serta Keagungan! Kami memandang diri kami yang hina, tetapi di atas kami ada manifestasi kemuliaan. Jadi, kami adalah cermin Kemuliaan-Mu.
Engkau juga Al-Ghaniyy Yang Mutlak! Sebab, kami serba membutuhkan. Kelimpahan yang tidak dapat kami jangkau dalam keadaan serba membutuhkan ini diberikan kepada kami. Jadi, Engkaulah Al-Ghaniyy, Engkaulah yang memberi.
Engkau juga Sang Hayy lagi Bâqî! Sebab, kami mati. Dalam kematian serta hidup kembali kami, kami melihat manifestasi Dia yang terus memberikan kehidupan.
Engkau juga Bâqî! Sebab, dalam musnah serta sirna kami, kami melihat Engkau terus ada dan Kekal.
Engkau juga yang menjawab serta memberikan anugerah! Sebab, kami, seluruh makhluk, terus berseru serta meminta, berdoa serta memohon melalui bahasa perkataan dan keadaan kami. Keinginan kami dipenuhi, apa yang kami cari diberikan. Jadi, Engkaulah yang menjawab kami. Dan demikian seterusnya...
Setiap makhluk, baik yang bersifat menyeluruh maupun yang berupa bagian, menjadi cermin dalam bentuk munajat rohani seperti seorang Uwais Al-Qarani. Melalui keadaan tidak berdaya, rasa membutuhkan, serta kekurangan mereka, mereka mengumumkan Kudrat serta Kesempurnaan Ilahi.
Feyâ Rabbî, yâ Hâlıkî, yâ Mâlikî! Hujahku dalam menyeru-Mu ialah kebutuhanku. Bekalku dalam doa yang kupanjatkan kepada-Mu ialah miskinku. Jalanku ialah tiadanya daya upaya serta fakirku. Khazanahku ialah lemahku. Modalku ialah harapan-harapanku. Pemberi syafaat bagiku ialah Kekasih-Mu ﷺ dan Rahmat-Mu. Ampunilah, berilah magfirah, dan kasihanilah, yâ Allah yâ Rahman yâ Rahîm! Âmîn! سُبْحَانَهُ
"Wahai sultan kami yang memelihara kami dengan nikmat-nikmatmu! Perlihatkanlah kepada kami yang asli serta sumber dari contoh-contoh dan bayangan yang engkau tunjukkan. Tariklah kami ke pusat kerajaanmu. Jangan membuat kami binasa di gurun-gurun ini. Bawalah kami ke hadiratmu. Kasihanilah kami. Berilah kami makan di sana dari nikmat-nikmat lezat yang engkau cicipkan kepada kami di sini. Jangan menyiksa kami dengan lenyap dan dijauhkan. Jangan membiarkan rakyatmu yang taat, rindu kepadamu, serta berterima kasih ini tanpa arahan lalu membinasakannya."
Yâ Rab! Ampunilah kesalahan kami, terimalah kami sebagai hamba-Mu, jadikanlah kami orang-orang yang dapat dipercaya dalam menjaga amanah-Mu sampai saat Engkau mengambilnya kembali, Âmîn!