Bagian Pertama dari Tambahan Penting serta Lahikah
Kalimat Kesepuluh
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻓَﺴُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺣ۪ﻴﻦَ ﺗُﻤْﺴُﻮﻥَ ﻭَﺣ۪ﻴﻦَ ﺗُﺼْﺒِﺤُﻮﻥَ ٭ ﻭَﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ ﻭَﻋَﺸِﻴًّﺎ ﻭَﺣ۪ﻴﻦَ ﺗُﻈْﻬِﺮُﻭﻥَ ٭ ﻳُﺨْﺮِﺝُ ﺍﻟْﺤَﻰَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻭَﻳُﺨْﺮِﺝُ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺤَﻰِّ ﻭَ ﻳُﺤْﻴِﻰ الْاَرْضَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ ﻭَﻛَﺬٰﻟِﻚَ ﺗُﺨْﺮَﺟُﻮﻥَ ٭ ﻭَ ﻣِﻦْ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻪ۪ٓ ﺍَﻥْ ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺗُﺮَﺍﺏٍ ﺛُﻢَّ ﺍِﺫَٓﺍ ﺍَﻧْﺘُﻢْ ﺑَﺸَﺮٌ ﺗَﻨْﺘَﺸِﺮُﻭﻥَ ٭ ﻭَ ﻣِﻦْ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻪ۪ٓ ﺍَﻥْ ﺧَﻠَﻖَ ﻟَﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺍَﻧْﻔُﺴِﻜُﻢْ ﺍَﺯْﻭَﺍﺟًﺎ ﻟِﺘَﺴْﻜُﻨُٓﻮﺍ ﺍِﻟَﻴْﻬَﺎ ﻭَ ﺟَﻌَﻞَ ﺑَﻴْﻨَﻜُﻢْ ﻣَﻮَﺩَّﺓً ﻭَ ﺭَﺣْﻤَﺔً ﺍِﻥَّ ﻓ۪ﻰ ﺫٰﻟِﻚَ لَاٰيَاتٍ ﻟِﻘَﻮْﻡٍ ﻳَﺘَﻔَﻜَّﺮُﻭﻥَ ٭ ﻭَﻣِﻦْ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻪ۪ ﺧَﻠْﻖُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافُ ﺍَﻟْﺴِﻨَﺘِﻜُﻢْ ﻭَ ﺍَﻟْﻮَﺍﻧِﻜُﻢْ ﺍِﻥَّ ﻓ۪ﻰ ﺫٰﻟِﻚَ لَاٰيَاتٍ ﻟِﻠْﻌَﺎﻟِﻤ۪ﻴﻦَ ٭ ﻭَ ﻣِﻦْ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻪ۪ ﻣَﻨَﺎﻣُﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟَّﻴْﻞِ ﻭَ ﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ ﻭَﺍﺑْﺘِﻐَٓﺎﺅُ۬ﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﻓَﻀْﻠِﻪ۪ ﺍِﻥَّ ﻓ۪ﻰ ﺫٰﻟِﻚَ لَاٰيَاتٍ ﻟِﻘَﻮْﻡٍ ﻳَﺴْﻤَﻌُﻮﻥَ ٭ ﻭَ ﻣِﻦْ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻪ۪ ﻳُﺮ۪ﻳﻜُﻢُ ﺍﻟْﺒَﺮْﻕَ ﺧَﻮْﻓًﺎ ﻭَ ﻃَﻤَﻌًﺎ ﻭَ ﻳُﻨَﺰِّﻝُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ ﻣَٓﺎﺀً ﻓَﻴُﺤْﻴ۪ﻰ ﺑِﻪِ الْاَرْضَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ ﺍِﻥَّ ﻓ۪ﻰ ﺫٰﻟِﻚَ لَاٰيَاتٍ ﻟِﻘَﻮْﻡٍ ﻳَﻌْﻘِﻠُﻮﻥَ ٭ ﻭَﻣِﻦْ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻪ۪ٓ ﺍَﻥْ ﺗَﻘُﻮﻡَ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀُ وَالْاَرْضُ ﺑِﺎَﻣْﺮِﻩ۪ ﺛُﻢَّ ﺍِﺫَﺍ ﺩَﻋَﺎﻛُﻢْ ﺩَﻋْﻮَﺓً ﻣِﻦَ الْاَرْضِ ﺍِﺫَٓﺍ ﺍَﻧْﺘُﻢْ ﺗَﺨْﺮُﺟُﻮﻥَ ٭ ﻭَ ﻟَﻪُ ﻣَﻦْ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ ﻭَ الْاَرْضِ ﻛُﻞٌّ ﻟَﻪُ ﻗَﺎﻧِﺘُﻮﻥَ ٭ ﻭَ ﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻳَﺒْﺪَﺅُ ﺍﻟْﺨَﻠْﻖَ ﺛُﻢَّ ﻳُﻌ۪ﻴﺪُﻩُ ﻭَ ﻫُﻮَ ﺍَﻫْﻮَﻥُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞُ الْاَعْلَى ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﺰ۪ﻳﺰُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ
Dalam Sinar Kesembilan ini, akan dijelaskan suatu butir hikmah terbesar serta bukti paling agung dari ayat-ayat besar samawi ini, yang memperlihatkan satu poros iman, dan dari dalil-dalil besar yang suci ini, yang membuktikan kebangkitan.
Ini merupakan Pertolongan Rabb yang halus: Tiga puluh tahun lalu, pada akhir karya bernama Muhakemat (Penilaian-Penilaian), yang ditulisnya sebagai pengantar tafsir, Said Lama berkata, "Tujuan Kedua: Dua ayat yang mengisyaratkan kebangkitan dalam Al-Qur'an akan ditafsirkan serta dijelaskan.
ﻧَﺨُﻮ ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ
" Lalu beliau berhenti dan tidak dapat menulis lebih lanjut. Syukur serta pujian kepada Sang Khâliq-ku Yang Rahîm, sebanyak dalil serta tanda kebangkitan, karena tiga puluh tahun kemudian Dia menganugerahkan taufik.
Ya, sembilan atau sepuluh tahun lalu, Dia menganugerahkan Kalimat Kesepuluh serta Kalimat Kedua Puluh Sembilan, yang merupakan dua bukti serta tafsir yang terang dan sangat kuat dari Firman Ilahi
ﻓَﺎﻧْﻈُﺮْ ﺍِﻟٰٓﻰ ﺍٰﺛَﺎﺭِ ﺭَﺣْﻤَﺖِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻛَﻴْﻒَ ﻳُﺤْﻴِﻰ الْاَرْضَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ ﺍِﻥَّ ﺫٰﻟِﻚَ ﻟَﻤُﺤْﻴِﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﺗٰﻰ ﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ
, ayat pertama dari dua ayat itu. Dia membungkam para pengingkar.
Sembilan dan sepuluh tahun setelah dua benteng kukuh iman kepada kebangkitan yang tidak dapat diserang itu, Dia menganugerahkan melalui risale ini tafsir ayat kedua, yaitu ayat-ayat terbesar yang disebutkan pada awal. Sinar Kesembilan ini terdiri dari sembilan Bagian yang luhur yang diisyaratkan ayat-ayat tersebut serta sebuah pendahuluan penting.
PENDAHULUAN
Terdiri dari dua pokok: Menjelaskan secara singkat satu hasil yang mencakup banyak segi dari sekian banyak manfaat rohani serta hasil kehidupan dari keyakinan kepada kebangkitan; memperlihatkan betapa perlu dan mutlak dibutuhkannya keyakinan ini bagi kehidupan manusia, khususnya kehidupan bermasyarakat; menunjukkan secara ringkas satu bukti menyeluruh dari sekian banyak bukti keyakinan iman kepada kebangkitan; serta menyatakan betapa nyata dan tidak diragukannya keyakinan tersebut. POKOK PERTAMA: Dari ratusan dalil bahwa keyakinan kepada akhirat merupakan dasar paling utama kehidupan bermasyarakat serta kehidupan pribadi manusia, dan dasar kebahagiaan serta kesempurnaannya, kami hanya mengisyaratkan empat sebagai ukuran.
PERTAMA: Anak-anak yang, dari satu segi, membentuk hampir separuh umat manusia hanya dapat bertahan menghadapi kematian serta wafat yang tampak mengerikan dan membuat mereka menangis, melalui pemikiran tentang surga. Mereka dapat menemukan kekuatan maknawi dalam tubuh mereka yang sangat lemah serta rapuh. Dalam watak ruh mereka yang sangat tidak tahan dan cepat menangis karena segala sesuatu, melalui surga itu mereka memperoleh harapan dan dapat hidup dengan gembira. Misalnya, dengan memikirkan surga, seorang anak berkata, "Adik kecilku atau temanku telah meninggal dan menjadi burung surga. Ia berjalan-jalan di surga serta hidup lebih indah daripada kita."
Jika tidak, kematian anak-anak seperti mereka serta orang dewasa di sekitar mereka akan selalu terlihat oleh pandangan cemas makhluk kecil yang lemah dan malang itu. Hal ini akan menghancurkan ketahanan serta kekuatan maknawi mereka. Bersama mata mereka, seluruh latifah (daya batin yang halus) seperti ruh, hati, dan akal akan dibuat menangis sedemikian rupa, sehingga mereka akan binasa atau menjadi hewan malang yang kehilangan akal.