DALIL KEDUA:
Orang-orang lanjut usia yang, dari satu segi, merupakan separuh umat manusia hanya dapat bertahan menghadapi kubur yang berada dekat mereka melalui kehidupan akhirat. Mereka dapat menemukan penghiburan terhadap segera padamnya kehidupan yang sangat mereka cintai serta
tertutupnya dunia mereka yang indah. Dalam ruh serta watak mereka yang kembali seperti anak-anak dan mudah tersentuh, hanya dengan harapan kehidupan yang kekal mereka dapat menghadapi keputusasaan menyakitkan dan dahsyat yang timbul dari kematian serta berlalunya kehidupan.
Jika tidak, orang-orang terhormat yang layak dikasihi itu, ayah serta ibu yang cemas dan sangat membutuhkan ketenangan serta kedamaian hati, akan merasakan jeritan ruh serta keguncangan hati sedemikian rupa, sehingga dunia ini menjadi penjara gelap bagi mereka, dan hidup menjadi azab yang menyedihkan.
DALIL KETIGA:
Pemuda serta remaja, yang menjadi penopang kehidupan bermasyarakat manusia, memiliki perasaan yang bergolak hebat serta nafsu dan keinginan yang berlebihan. Hanya pemikiran tentang neraka yang menahan mereka dari pelanggaran, kezaliman, serta perusakan, dan menjamin berjalannya kehidupan bermasyarakat dengan baik.
Jika tidak ada rasa takut terhadap neraka, berdasarkan kaidah "El-hükmü lil-galib", para pemuda yang mabuk oleh keinginan itu akan mengejar hawa nafsunya, mengubah dunia menjadi neraka bagi orang-orang malang, lemah, serta tidak berdaya; dan mengubah kemanusiaan yang tinggi menjadi sifat hewani yang sangat rendah.
DALIL KEEMPAT:
Dalam kehidupan dunia umat manusia, pusat yang paling mencakup banyak segi, pegas penggerak yang paling mendasar, serta surga, tempat bernaung, dan benteng perlindungan bagi kebahagiaan dunia ialah kehidupan keluarga. Rumah setiap orang merupakan dunianya yang kecil. Kehidupan serta kebahagiaan rumah dan keluarga itu hanya dapat terwujud melalui penghormatan yang tulus, sungguh-sungguh, serta setia, dan kasih sejati, penuh kelembutan, serta pengorbanan. Penghormatan sejati serta kasih tulus ini dapat terwujud melalui pemikiran dan keyakinan mengenai persahabatan abadi, pergaulan yang tetap, kebersamaan yang kekal, serta adanya hubungan sebagai ayah, anak, saudara, dan sahabat satu sama lain dalam waktu tak terbatas serta kehidupan tanpa batas.
Misalnya, seseorang berkata, "Istriku ini adalah pendamping hidupku yang tetap, dalam alam abadi serta kehidupan abadi. Tidak mengapa jika sekarang ia telah tua dan tidak cantik. Sebab, ia memiliki keindahan abadi yang akan datang. Demi persahabatan yang tetap seperti ini, aku akan melakukan segala pengorbanan serta kasih." Dengan mengatakan demikian, ia dapat memperlakukan istrinya yang lanjut usia itu seperti bidadari yang cantik, dengan cinta, kelembutan, serta kasih.
Jika tidak, persahabatan yang setelah kebersamaan lahiriah selama satu atau dua jam yang singkat akan mengalami perpisahan serta keterpisahan abadi, tentu hanya dapat memberikan sesuatu yang sangat lahiriah, sementara,
dan tanpa dasar, berupa kelembutan naluri terhadap pasangan seperti pada hewan, kasih kiasan, serta penghormatan buatan. Sebagaimana pada hewan, kepentingan lain serta perasaan lain yang lebih kuat akan mengalahkan penghormatan dan kasih itu, lalu mengubah surga dunia tersebut menjadi neraka.
Salah satu dari ratusan hasil iman kepada kebangkitan berhubungan dengan kehidupan bermasyarakat manusia. Jika ratusan segi serta manfaat lain dari satu hasil ini dibandingkan dengan empat dalil tersebut, akan dipahami bahwa kenyataan serta terjadinya hakikat kebangkitan pasti, setingkat hakikat luhur kemanusiaan dan kebutuhannya yang menyeluruh. Bahkan, hal ini lebih jelas dan lebih menunjukkan kepastian terjadinya daripada adanya kebutuhan dalam lambung manusia yang menunjukkan serta bersaksi atas adanya makanan.
Hal ini juga membuktikan bahwa jika hasil-hasil hakikat kebangkitan keluar dari kemanusiaan, hakikat kemanusiaan yang sangat penting, tinggi, serta hidup itu akan jatuh menjadi seperti bangkai kotor yang menjadi sarang kuman.
Semoga pembicaraan ini sampai kepada para ahli masyarakat, politik, serta akhlak yang sangat memperhatikan pengelolaan, moral, dan kehidupan bermasyarakat manusia! Hendaklah mereka datang: Dengan apa mereka dapat mengisi kekosongan ini dan dengan apa mereka dapat mengobati luka-luka dalam ini? POKOK KEDUA: Menjelaskan dengan sangat singkat satu bukti dari dalil-dalil hakikat kebangkitan yang tak terhitung, yang muncul dari ringkasan kesaksian rukun-rukun iman lainnya. Demikian:
Seluruh mukjizat yang menunjukkan kerasulan Nabi Muhammad ﷺ, semua dalil kenabian beliau, serta seluruh bukti kebenaran beliau, serentak bersaksi atas kenyataan hakikat kebangkitan dan membuktikannya. Sebab, seluruh ajaran beliau sepanjang hidup, setelah Wahdaniyah, terpusat pada kebangkitan. Seluruh mukjizat serta dalil yang membenarkan semua nabi dan membuat mereka diterima pun bersaksi atas hakikat yang sama. Kesaksian dari kalimat ﻭَ ﺑِﺮُﺳُﻠِﻪ۪ diangkat sampai tingkat sangat nyata oleh kesaksian ﻭَ ﻛُﺘُﺒِﻪ۪, yang juga bersaksi atas hakikat yang sama. Demikian:
Terutama, seluruh mukjizat, bukti, serta hakikat yang membuktikan kebenaran Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya, serentak bersaksi atas kenyataan serta terjadinya hakikat kebangkitan dan membuktikannya. Sebab, hampir sepertiga Al-Qur'an mengenai kebangkitan, dan pada awal sebagian besar surah pendeknya terdapat ayat-ayat kebangkitan yang sangat kuat. Dengan jelas
serta melalui isyarat, ribuan ayatnya memberitakan, membuktikan, dan menunjukkan hakikat yang sama. Misalnya, pada awal tiga puluh hingga empat puluh surah seperti
ﺍِﺫَﺍ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲُ ﻛُﻮِّﺭَﺕْ٭ ﻳَٓﺎ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺭَﺑَّﻜُﻢْ ﺍِﻥَّ ﺯَﻟْﺰَﻟَﺔَ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔِ ﺷَﻲْﺀٌ ﻋَﻈ۪ﻴﻢٌ٭ ﺍِﺫَﺍ ﺯُﻟْﺰِﻟَﺖِ الْاَرْضُ ﺯِﻟْﺰَﺍﻟَﻬَﺎ٭ ﺍِﺫَﺍ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀُ ﺍﻧْﻔَﻄَﺮَﺕْ٭ ﺍِﺫَﺍ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀُ ﺍﻧْﺸَﻘَّﺖْ٭ ﻋَﻢَّ ﻳَﺘَﺴَٓﺎﺀَﻟُﻮﻥَ٭ ﻫَﻞْ ﺍَﺗٰﻴﻚَ ﺣَﺪ۪ﻳﺚُ ﺍﻟْﻐَﺎﺷِﻴَﺔِ
, ia memperlihatkan dengan sepenuh kepastian bahwa hakikat kebangkitan merupakan hakikat kainat yang paling penting serta pasti diperlukan. Bersama itu, dalam ayat-ayat lainnya, ia juga menjelaskan berbagai dalil hakikat tersebut dan meyakinkan pembacanya.
Sebuah kitab yang satu isyarat dari satu ayatnya membuahkan berbagai hakikat ilmiah serta alam dalam ilmu-ilmu Islam di hadapan mata kita, memiliki ribuan kesaksian serta pernyataan seperti ini. Melaluinya, iman kepada kebangkitan tampak seperti matahari. Apakah ada kemungkinan dari segi mana pun bahwa iman ini tidak memiliki kenyataan, sebagaimana mengingkari matahari, bahkan seperti tidak adanya kainat? Bukankah hal itu seratus tingkat mustahil dan batil?
Kadang-kadang, agar satu isyarat sultan tidak menjadi dusta, sebuah pasukan bergerak serta bertempur. Jika demikian, apakah mungkin dari segi mana pun membuat ribuan perkataan, janji, serta ancaman sultan yang sangat sungguh-sungguh dan bermartabat itu menjadi dusta? Mungkinkah semuanya tidak memiliki kenyataan?
Satu isyarat dari sultan maknawi yang agung ini, yang selama tiga belas abad tanpa terputus memerintah, mendidik, serta mengelola ruh, akal, hati, dan nafsu yang tak terhitung dalam lingkup kebenaran serta hakikat, sudah cukup untuk membuktikan hakikat tersebut. Setelah Al-Qur'an menunjukkan dan membuktikan hakikat kebangkitan ini dengan ribuan pernyataan yang jelas, bukankah azab neraka diperlukan bagi orang yang sangat bodoh dan dungu yang tidak mengakui hakikat itu? Bukankah hal itu merupakan keadilan itu sendiri?
Seluruh suhuf samawi serta kitab suci yang masing-masing memerintah suatu masa dan zaman, juga menerima dengan pasti hakikat kebangkitan sesuai abad serta zaman mereka. Mereka menjelaskannya secara ringkas, terselubung, serta tanpa perincian, tetapi menyatakan dan membuktikannya dengan kuat. Dengan ribuan tanda tangan, mereka membenarkan pernyataan Al-Qur'an, yang memerintah seluruh masa depan serta segala zaman, dan berulang kali menjelaskan serta membuktikan hakikat kebangkitan dengan perincian dan penjelasan.
Berkaitan dengan pembahasan ini, sebuah bukti kebangkitan yang sangat kuat, ringkas, serta menghapus seluruh keraguan dimasukkan di sini sebagaimana adanya. Bukti itu disebutkan dalam bentuk munajat pada akhir Risale-i Münâcat, yaitu kesaksian rukun-rukun lainnya, khususnya "rasul-rasul" serta "kitab-kitab", terhadap rukun "imanü'n-bilyevmi'l-âhir" (iman kepada hari akhir). Dalam Münâcat, demikian dikatakan:
Wahai Sang Rabb-ku Yang Rahîm! Melalui pengajaran Rasul-Mu Yang Paling Mulia ﷺ serta pelajaran Al-Qur'an Al-Hakîm, aku memahami bahwa seluruh kitab suci dan nabi, terutama Al-Qur'an serta Rasul-Mu Yang Paling Mulia ﷺ, sepakat dan sejalan. Semuanya bersaksi, menunjukkan, serta mengisyaratkan: Tajalli (tampak nyata) Asma-Mu yang memiliki Jalâl dan Jamâl, yang contoh-contohnya terlihat di dunia ini serta di segala penjuru, akan berlanjut dengan lebih terang selama-lamanya. Anugerah-anugerah-Mu, yang manifestasi penuh Kasih serta contoh-contohnya disaksikan dalam alam fana ini, akan terus berlangsung dan tetap ada dengan lebih cemerlang di negeri kebahagiaan. Para perindu yang dalam kehidupan dunia yang singkat ini menyaksikan semuanya dengan kenikmatan serta menyertainya dengan cinta, juga akan menyertainya serta bersama dengannya selama-lamanya.
Berdasarkan ratusan mukjizat yang terang serta ayat yang tegas, dengan Rasul Yang Paling Mulia ﷺ dan Al-Qur’an Al-Hakîm sebagai yang terdepan, seluruh nabi yang memiliki ruh-ruh bercahaya, para wali yang menjadi poros hati-hati yang terang, serta para siddiq yang menjadi sumber akal-akal tajam dan bercahaya, menyampaikan kabar gembira mengenai kebahagiaan abadi kepada manusia. Mereka bersandar pada ribuan Janji serta Ancaman-Mu yang berulang kali Engkau sampaikan dalam seluruh suhuf samawi dan kitab suci; percaya pada Sifat-Sifat serta Syuun-Mu (urusan dan kehendak Allah سُبْحَانَهُ) yang suci, seperti Kudrat, Rahmat, Pertolongan, Hikmah, Jalâl, dan Jamâl, yang menuntut adanya akhirat, juga pada Martabat Jalâl-Mu serta Kekuasaan Rububiyah-Mu; dan bertolak dari penglihatan batin serta hal-hal yang mereka saksikan langsung, yang tak terhitung, yang memberitakan jejak dan pancaran akhirat, serta keyakinan dan iman mereka pada tingkat ilmulyaqin serta ainulyaqin. Mereka memberitakan dan menyatakan adanya neraka bagi orang-orang yang sesat, serta surga bagi orang-orang yang mendapat hidayah, beriman dengan kuat, dan bersaksi atasnya.
Wahai Sang Qadîr Yang Hakîm! Wahai Sang Rahmân Yang Rahîm! Wahai Sang Sâdiqul-Wa’d Yang Karîm! Wahai Sang Qahhâr Dzul-Jalâl, Pemilik Martabat, Keagungan, serta Jalâl! Engkau Mahasuci, ratusan ribu tingkat, dari menjadikan begitu banyak sahabat-Mu yang setia, Janji-Mu, serta Sifat dan Syuunat-Mu (keadaan dan kehendak Allah سُبْحَانَهُ) sebagai dusta; dari mendustakan dan tidak melaksanakan tuntutan pasti Kekuasaan Rububiyah-Mu; dari menolak serta tidak mendengarkan doa dan permohonan tak terhitung mengenai akhirat dari hamba-hamba-Mu yang diterima, yang Engkau cintai dan yang membuat diri mereka
dicintai-Mu dengan membenarkan serta menaati-Mu; dan dari membenarkan pengingkaran kebangkitan oleh orang-orang yang sesat serta kafir, yang melalui kekufuran, pembangkangan, dan pendustaan terhadap Janji-Mu, menentang Keagungan Kebesaran-Mu, mencederai Martabat Jalâl-Mu, mengusik Kemuliaan Keilahian-Mu, dan menyentuh Kasih Rububiyah-Mu. Engkau Mahasuci, bebas dari segala kekurangan, serta Mahatinggi pada tingkat tak terhingga dari semua ini. Pada tingkat tak terhingga, kami menyatakan bahwa Keadilan-Mu yang tak terbatas, Jamâl-Mu yang tak terbatas, serta Rahmat-Mu yang tak terhingga Mahasuci dari kezaliman tanpa batas dan keburukan tanpa batas seperti itu.
Dengan seluruh kekuatan, kami beriman: Kesaksian ratusan ribu utusan-Mu yang setia serta pemberita Kekuasaan-Mu yang benar dan tak terhitung, yakni para nabi, orang-orang suci pilihan, dan wali, pada tingkat haqqulyaqin, ainulyaqin, serta ilmulyaqin, mengenai khazanah Rahmat-Mu di akhirat, khazanah anugerah-Mu di alam yang kekal, serta manifestasi luar biasa dan indah dari Asma-Mu yang indah, yang tampak sepenuhnya di negeri kebahagiaan, merupakan kebenaran serta hakikat. Isyarat mereka benar dan sesuai kenyataan; kabar gembira mereka benar serta nyata. Dengan beriman bahwa salah satu pancaran terbesar Asma "Al-Haqq", tempat kembali, matahari, serta Pelindung seluruh hakikat, ialah hakikat kebangkitan yang paling besar ini, mereka mengajarkannya kepada hamba-hamba-Mu atas Perintah-Mu, dalam lingkup kebenaran, serta menyampaikannya sebagai hakikat itu sendiri.
Ya Rab! Demi hak serta kehormatan pelajaran dan pengajaran mereka, berilah kami serta para murid Risale-i Nur iman yang paling sempurna dan husnul khatimah; jadikanlah kami penerima syafaat mereka, âmîn!
Sebagaimana seluruh dalil serta bukti yang membuktikan kebenaran Al-Qur’an, bahkan seluruh kitab samawi, dan seluruh mukjizat serta bukti yang membuktikan kenabian Habibullah ﷺ, bahkan seluruh nabi, secara tidak langsung menunjukkan kenyataan akhirat, ajaran terbesar mereka; demikian pula, sebagian besar dalil serta bukti yang bersaksi atas Wujud serta Keesaan Wâjibul Wujûd secara tidak langsung bersaksi atas adanya serta dibukanya negeri kebahagiaan dan alam yang kekal, yang menjadi sarana serta tempat Manifestasi terbesar Rububiyah dan Keilahian.
Sebab, sebagaimana akan dijelaskan serta dibuktikan dalam bagian-bagian berikutnya, Wujud Zat Wâjibul Wujûd, seluruh Sifat-Nya, sebagian besar Asma-Nya, serta Sifat dan Syuun-Nya seperti Rububiyah, Keilahian, Rahmat, Pertolongan, Hikmah, serta Keadilan, menuntut akhirat pada tingkat yang harus ada,
mengharuskan alam yang kekal pada tingkat wajib, dan menuntut kebangkitan serta hidupnya kembali makhluk untuk pahala dan hukuman pada tingkat mutlak diperlukan.
Ya, karena Allah سُبْحَانَهُ Yang Azali serta Abadi Ada, tentu akhirat, sarana kekal Kekuasaan Keilahian-Nya, ada. Karena dalam kainat serta makhluk hidup ini terdapat dan terlihat Rububiyah Mutlak yang sangat megah, penuh Hikmah, serta penuh Kasih; tentu negeri kebahagiaan yang abadi akan ada dan dimasuki. Negeri itu menyelamatkan kemegahan Rububiyah dari jatuh, Hikmah-Nya dari kesia-siaan, serta Kasih-Nya dari perlakuan zalim.
Karena pemberian nikmat, anugerah, kemurahan, kedermawanan, pertolongan, serta rahmat yang tak terhitung dan terlihat mata ini menunjukkan kepada akal yang belum padam serta hati yang belum mati, adanya Zat Yang Rahmân lagi Rahîm di balik tabir gaib; tentu kehidupan yang kekal dalam alam yang kekal ada dan akan ada. Kehidupan itu membebaskan Pemberian Nikmat dari olok-olok, Kebaikan dari penipuan, Pertolongan dari permusuhan, Rahmat dari azab, serta Kemurahan dan Kedermawanan dari pengkhianatan; menjadikan Kebaikan benar-benar Kebaikan serta nikmat benar-benar nikmat.
Karena sebuah Pena Kudrat bekerja tanpa lelah di hadapan mata kita, menuliskan seratus ribu kitab yang saling terjalin pada halaman sempit bumi di musim semi, tanpa salah; dan Pemilik pena itu seratus ribu kali berikrar serta berjanji, "Lebih mudah daripada kitab musim semi yang ditulis di tempat sempit ini, bercampur serta saling terjalin, Aku akan menulis sebuah kitab yang indah dan tidak mati di tempat luas, dan membuat kalian membacanya," serta menyebut kitab tersebut dalam seluruh Firman; tentu, dalam segala keadaan, naskah pokok kitab itu telah ditulis, catatan tambahannya akan ditulis melalui kebangkitan serta hidupnya kembali makhluk, dan buku catatan amal semua orang akan dicatat di dalamnya.
Karena bumi, dari segi banyaknya makhluk, serta sebagai tempat tinggal, asal, pabrik, tempat pameran, dan tempat berkumpul ratusan ribu jenis makhluk hidup serta berjiwa yang terus berubah, memiliki kedudukan sebagai hati, pusat, sari, hasil, serta tujuan penciptaan kainat, ia begitu penting, sehingga meskipun kecil, disandingkan dengan langit yang besar. Dalam Firman-firman samawi selalu dikatakan,
ﺭَﺏُّ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ ﻭَ الْاَرْضِ
.
Karena ada umat keturunan Adam yang memerintah seluruh penjuru bumi dengan hakikat seperti ini; mengelola sebagian besar makhluknya; menundukkan serta menghimpun sebagian besar makhluk hidupnya di sekitar diri mereka; mengatur, memamerkan, serta menghiasi sebagian besar ciptaannya dengan begitu indah, mengikuti rancangan keinginan serta kaidah kebutuhan mereka; dan mengumpulkan serta menghiasi berbagai jenis benda antik pada tempat-tempat tertentu seperti sebuah daftar,
sehingga menarik perhatian serta penghargaan bukan hanya manusia dan jin, melainkan juga penghuni langit dan kainat, serta Pandangan yang Berkenan Pemilik kainat. Dengan demikian, mereka memperoleh kepentingan serta nilai yang sangat besar. Melalui ilmu dan seni mereka, mereka memperlihatkan bahwa mereka merupakan Hikmah penciptaan kainat, hasilnya yang besar, buahnya yang berharga, serta khalifah bumi. Karena mereka memamerkan serta mengatur dengan sangat baik seni yang bermukjizat dari Sang Pembuat seluruh alam dalam kehidupan dunia, meskipun membangkang serta kafir, mereka dibiarkan di dunia dan azab mereka ditangguhkan. Demi khidmah ini, mereka diberi waktu serta memperoleh keberhasilan.
Karena umat keturunan Adam dengan hakikat seperti ini, dari segi watak serta penciptaannya, sangat lemah dan tidak berdaya; bersama keadaan tak berdaya serta keadaan serba membutuhkan yang besar, ia memiliki kebutuhan dan penderitaan tak terhitung. Bersama itu, jauh di atas seluruh daya serta kemampuan memilihnya, Ada Sang Pengelola Yang sangat Kuat, penuh Hikmah, serta penuh Kasih, Yang menjadikan bola bumi yang besar gudang segala jenis mineral yang dibutuhkan manusia, lumbung segala jenis makanan, serta toko segala jenis barang yang menyenangkan manusia. Dia demikian merawat manusia, memberi mereka makan, serta memberi yang mereka minta.
Karena Sang Rabb dengan hakikat ini mencintai manusia serta membuat Diri-Nya dicintai manusia, Kekal serta memiliki alam-alam yang kekal, mengerjakan setiap pekerjaan dengan Keadilan, dan membuat segala sesuatu dengan Hikmah; sedangkan kemegahan Kekuasaan serta kekalnya Pemerintahan Sang Penguasa Yang Azali tidak dapat tertampung dalam kehidupan dunia yang singkat ini, umur manusia yang sangat pendek ini, serta bumi yang sementara dan fana ini.
Kezaliman serta pembangkangan yang sangat besar dalam umat manusia, yang bertentangan dan berlawanan dengan keteraturan kainat, Keadilan serta keseimbangannya, dan keelokan keindahannya; juga pengkhianatan, pengingkaran, serta kekufuran terhadap Pemberi Nikmat mereka, Yang memberi mereka makan dengan Kasih, dibiarkan tanpa hukuman di dunia ini. Orang zalim yang kejam menjalani hidup dengan nyaman, sedangkan orang teraniaya yang malang melewatkan umur dalam kesusahan. Hakikat Keadilan Mutlak, yang jejaknya terlihat dalam seluruh kainat, sepenuhnya berlawanan dengan kesamaan dalam kematian, tanpa kebangkitan, antara orang-orang zalim yang kejam serta orang-orang teraniaya yang putus asa itu. Keadilan itu tidak menerima serta tidak mengizinkannya!
Karena, sebagaimana Sang Pemilik kainat memilih bumi dari kainat dan umat manusia dari bumi, lalu memberi mereka kedudukan serta kepentingan yang sangat besar; demikian pula, dari umat manusia, Dia memilih manusia-manusia sejati, yakni para nabi, wali, serta orang-orang suci pilihan, yang sesuai dengan Tujuan-Tujuan Rububiyah-Nya
dan membuat diri mereka dicintai-Nya melalui iman serta penyerahan diri. Dia menjadikan mereka sahabat serta penerima Sapaan-Nya, memuliakan mereka dengan mukjizat dan taufik, serta mengazab musuh-musuh mereka dengan tamparan samawi.
Dari sahabat-sahabat yang berharga serta dicintai ini, Dia juga memilih Muhammad ﷺ, imam serta kebanggaan mereka, dan selama abad-abad panjang menerangi separuh bola bumi yang penting serta seperlima umat manusia yang penting dengan cahaya beliau. Seakan-akan kainat ini diciptakan untuk beliau, seluruh tujuannya tampak melalui beliau, agama beliau, serta Al-Qur’an beliau.
Meskipun khidmah beliau sangat berharga dan tak terhitung, setara dengan khidmah yang diberikan seandainya beliau hidup jutaan tahun, serta beliau berhak dan layak menerima upahnya selama waktu tak terbatas, beliau diberi umur yang sangat singkat, enam puluh tiga tahun, dalam kesusahan serta perjuangan yang sangat besar. Apakah dari segi mana pun ada kemungkinan, peluang, atau kemampuan bahwa beliau bersama seluruh sesama serta sahabat beliau tidak dibangkitkan, dan sekarang pun tidak hidup dalam ruh? Apakah mereka akan binasa melalui pemusnahan abadi? Hâşâ, seratus ribu kali hâşâ ve kellâ! Ya, seluruh kainat serta hakikat alam menuntut kebangkitan beliau dan memohon kehidupan beliau kepada Sang Pemilik kainat.
Karena dalam Âyetü'l-Kübra, yakni Sinar Ketujuh, tiga puluh tiga kesepakatan besar, masing-masing sekuat gunung, telah membuktikan bahwa kainat ini dibuat oleh satu Zat serta hanya menjadi milik-Nya. Semuanya dengan jelas memperlihatkan Keesaan serta Ahadiyah-Nya, yang menjadi sarana Kesempurnaan Ilahi. Melalui Keesaan dan Ahadiyah, seluruh kainat menjadi seperti prajurit yang menunggu Perintah serta petugas yang ditundukkan kepada Zat Yang Wâhid itu. Dengan datangnya akhirat, Kesempurnaan-Nya terselamatkan dari jatuh, Keadilan Mutlak-Nya dari kezaliman mutlak yang memperolok, Hikmah-Nya yang meliputi semuanya dari kesia-siaan yang bodoh, Rahmat-Nya yang luas dari penyiksaan yang menjadi permainan, serta Martabat Kudrat-Nya dari kelemahan yang hina; semuanya tetap suci.
Tentu, tentu, dalam segala keadaan, berdasarkan tuntutan hakikat dalam enam alasan "karena" ini, dari ratusan butir hikmah iman kepada Allah سُبْحَانَهُ; kiamat akan terjadi, kebangkitan serta hidupnya kembali makhluk akan berlangsung, dan negeri hukuman serta pahala akan dibuka. Dengan demikian, kepentingan serta kedudukan bumi sebagai pusat, juga kepentingan dan nilai manusia yang disebutkan itu dapat terwujud. Keadilan, Hikmah, Rahmat, serta Kekuasaan Sang Pengelola Yang Hakîm, Khâliq dan Rabb bumi serta manusia, dapat menjadi nyata. Sahabat-sahabat sejati serta para perindu Sang Rabb Yang Bâqî itu
dapat terselamatkan dari pemusnahan abadi. Sahabat yang terbesar serta paling berharga di antara mereka dapat menerima pahala khidmah suci beliau yang membuat seluruh kainat puas dan berterima kasih. Kesempurnaan Sang Sultan Yang Kekal Selamanya dapat Bersih, Suci, serta Bebas dari kekurangan dan cacat, Kudrat-Nya dari kelemahan, Hikmah-Nya dari kebodohan, serta Keadilan-Nya dari kezaliman.
Kesimpulannya:
Karena Allah سُبْحَانَهُ Ada, tentu akhirat ada.
Sebagaimana tiga rukun iman tersebut, melalui seluruh dalil yang membuktikannya, bersaksi atas kebangkitan serta menunjukkannya; demikian pula, dua rukun iman
ﻭَ ﺑِﻤَﻠٰٓﺌِﻜَﺘِﻪ۪ ﻭَ ﺑِﺎﻟْﻘَﺪَﺭِ ﺧَﻴْﺮِﻩ۪ ﻭَ ﺷَﺮِّﻩ۪ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟٰﻰ
mengharuskan kebangkitan, dan dengan kuat bersaksi atas alam yang kekal serta menunjukkannya. Demikian:
Seluruh dalil yang membuktikan adanya malaikat serta tugas ubudiyah mereka, dan hal-hal yang disaksikan langsung serta percakapan yang tak terhitung, secara tidak langsung menunjukkan adanya alam ruh, alam gaib, alam yang kekal, alam akhirat, negeri kebahagiaan yang kelak akan diramaikan oleh jin dan manusia, serta surga dan neraka. Sebab, dengan Izin Ilahi, malaikat dapat melihat serta memasuki alam-alam ini. Seluruh malaikat yang dekat kepada Allah سُبْحَانَهُ dan berhubungan dengan manusia, seperti Jibril, bersama-sama memberitakan adanya alam-alam tersebut serta bahwa mereka berjalan-jalan di dalamnya. Sebagaimana kita mengetahui dengan jelas adanya benua Amerika yang tidak kita lihat, melalui berita orang-orang yang datang dari sana; demikian pula, melalui berita malaikat yang memiliki kekuatan seratus tawatur, kita harus beriman dengan kepastian yang sama kepada adanya alam yang kekal, negeri akhirat, surga, serta neraka. Demikian pula kita beriman.
Seluruh dalil yang membuktikan rukun "iman kepada Takdir" dalam Risalah Takdir, yakni Kalimat Kedua Puluh Enam, juga secara tidak langsung menunjukkan kebangkitan, dibukanya lembaran-lembaran catatan amal, serta penimbangan amal pada timbangan terbesar. Sebab, di hadapan mata kita, Takdir setiap hal dicatat pada lembaran keteraturan serta keseimbangan; riwayat hidup setiap makhluk hidup ditulis dalam daya ingat, benih, serta lembaran-lembaran alam rupa lainnya; dan buku catatan amal setiap makhluk berjiwa, khususnya manusia, ditetapkan serta dicatat dalam lembaran-lembaran yang terjaga. Tentu, Takdir yang meliputi semuanya, Penentuan yang penuh Hikmah, pencatatan yang sangat teliti, serta penulisan yang penuh Penjagaan seperti itu hanya dapat berlangsung untuk pahala serta hukuman yang tetap, sebagai hasil pengadilan umum pada mahkamah terbesar.
Jika tidak, pencatatan serta penjagaan yang meliputi semuanya dan sangat terperinci itu akan sama sekali tanpa makna dan manfaat, serta bertentangan dengan Hikmah dan hakikat.
Jika kebangkitan tidak datang, seluruh makna pasti dari kitab kainat yang ditulis dengan pena Takdir ini akan rusak. Hal itu tidak mungkin dari segi mana pun; kemungkinan tersebut menjadi sesuatu yang mustahil, bahkan igauan, seperti mengingkari adanya kainat.
Kesimpulannya:
Lima rukun iman, dengan seluruh dalilnya, menunjukkan serta mengharuskan adanya dan terjadinya kebangkitan serta hidupnya kembali makhluk, juga adanya dan dibukanya negeri akhirat; bersaksi atasnya serta menuntutnya. Karena hakikat kebangkitan memiliki tiang-tiang serta bukti-bukti yang begitu agung dan tidak terguncang, sepenuhnya sesuai keagungannya, hampir sepertiga Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya berisi kebangkitan serta akhirat. Ia menjadikannya batu dasar serta landasan paling utama bagi seluruh hakikatnya, dan membangun segala sesuatu di atasnya.
(Pendahuluan berakhir.)
--