Risalah Nur — Bahasa Indonesia

PEMBAHASAN KEDUA POKOK KEDUA

Panduan Pemuda · Bahasa Indonesia

PEMBAHASAN KEDUA POKOK KEDUA

Ketika wakil ahli kesesatan tidak menemukan apa pun untuk dipegang dan dijadikan dasar kesesatannya, serta terikat oleh hujah, ia berkata:

"Menurut pandanganku, aku melihat kebahagiaan dunia, nikmat hidup, kemajuan peradaban serta kesempurnaan seni dalam tidak memikirkan akhirat, tidak mengenal Allah سُبْحَانَهُ, cinta dunia, kebebasan dan percaya kepada diri sendiri. Karena itu, dengan bantuan setan, aku telah dan terus mengarahkan sebagian besar manusia ke jalan ini."

Jawaban:

Kami pun berkata atas nama Al-Qur'an: Wahai manusia malang! Gunakan akalmu! Jangan dengarkan wakil ahli kesesatan! Jika engkau mendengarkannya, kerugianmu begitu besar sehingga ruh, akal serta kalbu gemetar membayangkannya. Di hadapanmu ada dua jalan.

Pertama: Jalan celaka yang ditunjukkan wakil ahli kesesatan.

Kedua: Jalan bahagia yang diterangkan Al-Qur'an Al-Hakîm.

Dalam banyak Kalimat, terutama Küçük Sözler (Kalimat-Kalimat Kecil), engkau telah melihat serta memahami banyak perbandingan kedua jalan itu. Kini, sesuai bagian pembahasan ini, lihat dan pahami kembali satu dari seribu perbandingannya. Demikianlah:

Jalan syirik, kesesatan, kefasikan serta hidup melampaui batas membuat manusia jatuh pada tingkat terendah. Di tengah sakit yang tak terbatas, ia memikulkan beban yang teramat berat tanpa batas pada pinggangnya yang lemah dan tak berdaya. Sebab, jika manusia tidak mengenal Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq dan tidak bertawakal kepada-Nya, ia menjadi seperti hewan fana yang amat tak berdaya serta lemah, sangat membutuhkan dan serba kurang, terpapar musibah tak terbatas, menderita serta berduka; dengan terus-menerus menanggung sakit berpisah dari seluruh sesuatu yang ia cintai dan terikat dengannya, pada akhirnya ia meninggalkan seluruh sahabatnya yang tetap ada dalam perpisahan menyakitkan, lalu pergi sendirian ke gelap kubur.

Selama hidupnya pun, dengan pilihan yang juz'i dan amat kecil, daya yang kecil, hidup yang amat pendek, umur yang sedikit dan pikiran yang redup, ia bertarung tanpa guna melawan sakit serta harapan tak berhingga; ia berusaha tanpa hasil dan sia-sia memperoleh keinginan serta tujuan tak terbatas. Meski tidak dapat memikul wujudnya sendiri, ia memikulkan beban dunia yang besar pada pinggang serta kepalanya yang malang. Sebelum pergi ke neraka, ia menanggung azab neraka.

Ya, agar tidak merasakan sakit yang pedih dan azab rohani yang dahsyat ini, ahli kesesatan untuk sementara tidak merasakannya melalui mabuk kelengahan, yang seperti meniadakan rasa. Namun, saat ia akan merasakannya, yakni ketika dekat dengan kubur, tiba-tiba ia merasakannya. Sebab, jika ia tidak menjadi hamba sejati Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, ia akan menyangka memiliki dirinya sendiri. Padahal, dengan pilihan yang juz'i dan daya kecil itu, ia tidak dapat mengelola wujudnya dalam dunia yang berbadai ini. Dari mikroba yang membahayakan hidupnya hingga gempa bumi, ia melihat ribuan golongan musuh siap menyerang hidupnya.

Di tengah dahsyatnya ketakutan yang menyakitkan, ia setiap saat memandang pintu kubur yang tampak mengerikan baginya.

Dalam keadaan ini, sebagai manusia ia terikat pada jenis manusia serta dunia. Namun, karena ia tidak membayangkan dunia dan manusia di bawah pengelolaan Zat Yang Hakîm, Alîm, Qadîr, Rahîm dan Karîm, serta menyerahkan mereka kepada kebetulan dan tabiat, keadaan dunia serta manusia senantiasa mengusiknya. Bersama sakitnya sendiri, ia menanggung sakit manusia lainnya. Gempa, wabah, banjir besar, paceklik, harga mahal, fana serta lenyapnya dunia menyiksanya sebagai musibah-musibah yang amat mengusik dan gelap.

Manusia dalam keadaan ini tidak layak menerima belas kasih serta kasih sayang. Sebab, ia sendiri memberi dirinya keadaan yang dahsyat ini. Sebagaimana dikatakan dalam perbandingan keadaan dua saudara yang masuk ke dalam sumur pada Kalimat Kedelapan: seorang manusia di taman indah, dalam jamuan indah dan di tengah sahabat-sahabat indah, tidak puas dengan nikmat serta hiburan yang bersih, manis, terhormat, menyenangkan dan halal; demi nikmat yang haram serta kotor, ia meminum minuman keras yang buruk dan najis, lalu mabuk dan membayangkan dirinya berada di tempat kotor pada tengah musim dingin, bahkan di tengah binatang buas; ia menggigil, berteriak dan menjerit. Ia tidak layak menerima belas kasih. Sebab, ia membayangkan sahabat-sahabatnya yang terhormat serta baik sebagai binatang buas, lalu menghina mereka. Ia membayangkan makanan lezat serta wadah bersih dalam jamuan sebagai batu-batu kotor dan najis, lalu mulai memecahkannya. Ia membayangkan kitab-kitab terhormat serta surat-surat bermakna di pertemuan itu sebagai corak-corak tanpa makna dan biasa, lalu merobek serta melemparkannya ke bawah kaki, dan seterusnya. Sosok semacam ini tidak layak menerima belas kasih, melainkan layak menerima tamparan.

Demikian pula, melalui mabuk kekufuran serta kegilaan kesesatan yang timbul dari buruknya pilihan, ia menyangka rumah tamu dunia Sang Pembuat yang Hakîm ini mainan kebetulan dan tabiat; ia membayangkan sebagai keadaan tidak ada dan pemusnahan perginya karya-karya ciptaan, yang memperbarui manifestasi Asma Ilahi, ke alam gaib setelah tugas mereka selesai seiring berlalunya waktu; ia membayangkan suara-suara tasbih sebagai jeritan karena lenyap serta berpisah selama-lamanya; ia membayangkan lembaran-lembaran yang ada, surat-surat Allah سُبْحَانَهُ Yang Shamad ini, tanpa makna dan kacau; ia membayangkan pintu kubur, yang membuka jalan ke alam Rahmat, sebagai mulut gelapnya keadaan tidak ada; dan ia membayangkan ajal, yang merupakan undangan pertemuan kembali dengan sahabat-sahabat sejati, sebagai giliran berpisah dari seluruh sahabat. Dengan demikian, ia menempatkan dirinya dalam azab pedih yang dahsyat. Selain itu, karena mengingkari, merendahkan nilai serta menghina segala yang ada, Asma Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq dan surat-surat-Nya, ia tidak layak menerima belas kasih ataupun kasih sayang, dan layak menerima azab yang keras. Dari segi apa pun ia tidak layak menerima belas kasih.

Wahai ahli kesesatan dan hidup melampaui batas yang celaka! Kemajuan kalian yang mana, ilmu kalian yang mana, kesempurnaan kalian yang mana, peradaban kalian yang mana dan perkembangan kalian yang mana dapat menghadapi kejatuhan dahsyat serta putus asa yang menghancurkan ini? Di mana kalian dapat menemukan hiburan sejati yang amat dibutuhkan ruh manusia?

Tabiat kalian yang mana, sebab kalian yang mana, sekutu kalian yang mana, penemuan kalian yang mana, bangsa kalian yang mana dan ma'bûd palsu kalian yang mana, yang kalian percayai serta jadikan sandaran, yang kalian anggap sebagai sumber hasil-hasil karya Ilahi dan Karunia Rabb, dapat menyelamatkan kalian dari gelap kematian, yang menurut kalian pemusnahan abadi; membawa kalian dengan kuasa melewati batas kubur, batas barzakh, batas mahsyar dan jembatan sirat; lalu membuat kalian memperoleh kebahagiaan abadi?

Padahal, karena kalian tidak dapat menutup pintu kubur, kalian pasti penempuh jalan ini. Penempuh jalan demikian bersandar kepada Zat yang seluruh lingkup besar serta batas-batas luas ini berada di bawah Perintah dan pengelolaan-Nya.

Wahai ahli kesesatan dan kelengahan yang celaka! Menurut rahasia kaidah, "Hasil cinta yang tidak dibenarkan ialah menanggung azab tanpa belas kasih," kalian secara patut menanggung hukumannya, karena kalian mengarahkan kepada nafsu serta dunia, dengan cara yang tidak dibenarkan, bakat cinta serta makrifat dalam fitrah kalian—yang semestinya ditujukan kepada Zat, Sifat dan Asma Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq—serta perangkat syukur dan ibadah kalian.

Sebab, kalian memberi kepada nafsu kalian cinta yang milik Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Kalian menanggung bencana tak terbatas dari nafsu yang menjadi kekasih kalian itu. Sebab, kalian tidak memberi ketenteraman sejati kepada kekasih tersebut. Kalian pun tidak menyerahkannya dengan tawakal kepada Sang Qadîr Mutlak, Kekasih Sejati; kalian senantiasa menanggung sakit.

Kalian memberi kepada dunia cinta yang milik Asma serta Sifat Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, dan membagi hasil-hasil Seni-Nya kepada sebab-sebab alam; kalian menanggung bencananya. Sebab, sebagian kekasih kalian yang tak terbatas itu, tanpa berkata, "Semoga Allah سُبْحَانَهُ menjagamu," memalingkan punggung, meninggalkan kalian dan pergi. Sebagian sama sekali tidak mengenal kalian; sekalipun mengenal, mereka tidak mencintai kalian. Sekalipun mencintai, mereka tidak memberi manfaat kepada kalian. Kalian senantiasa menanggung azab akibat perpisahan tak terbatas serta lenyap tanpa harapan kembali.

Inilah sisi dalam serta hakikat hal-hal yang ahli kesesatan sebut kebahagiaan hidup, kesempurnaan manusia, keindahan peradaban dan nikmat kebebasan. Hidup melampaui batas serta mabuk ialah tabir yang membuatnya tidak terasa untuk sementara. Katakan, "Celakalah akal mereka!"

Adapun jalan bercahaya Al-Qur'an mengobati seluruh luka yang ditanggung ahli kesesatan melalui hakikat-hakikat iman. Ia mengusir seluruh gelap jalan sebelumnya. Ia menutup seluruh pintu kesesatan serta kebinasaan. Demikianlah:

Ia mengobati kelemahan, keadaan tak berdaya, keadaan serba kurang serta kebutuhan manusia melalui tawakal kepada Sang Qadîr yang Rahîm. Dengan menyerahkan beban hidup serta wujud kepada Kudrat dan Rahmat-Nya, tidak memikulnya sendiri, manusia menemukan maqam yang tenteram, seolah ia sendiri menaiki hidup serta nafsunya. Ia memberitahukan bahwa manusia bukan "hewan berakal", melainkan manusia sejati dan tamu Sang Rahmân yang diterima. Dengan memperlihatkan dunia sebagai rumah tamu Sang Rahmân, memberitahukan bahwa yang ada di dunia ialah cermin-cermin Asma Ilahi dan karya-karya ciptaannya ialah surat-surat Allah سُبْحَانَهُ Yang Shamad yang senantiasa diperbarui, ia mengobati dengan baik luka manusia yang datang dari fananya dunia, lenyapnya benda-benda serta cinta kepada yang fana, dan menyelamatkannya dari gelap sangkaan.

Ia juga memperlihatkan kematian serta ajal sebagai pendahuluan pertemuan kembali serta pertemuan dengan sahabat-sahabat yang pergi ke alam barzakh dan berada di alam kekal. Dengan demikian ia mengobati luka kematian, yang dalam pandangan ahli kesesatan dianggap perpisahan abadi dari seluruh sahabat. Ia membuktikan bahwa perpisahan itu justru pertemuan itu sendiri.

Dengan membuktikan bahwa kubur ialah pintu yang terbuka ke alam Rahmat, tempat kebahagiaan, taman-taman surga dan tempat cahaya Sang Rahmân, ia menghilangkan ketakutan manusia yang paling dahsyat, lalu memperlihatkan perjalanan barzakh yang paling pedih, muram dan menyesakkan sebagai perjalanan paling nikmat, akrab dan lapang. Dengan kubur ia menutup mulut naga dan membuka pintu ke taman yang indah. Yakni, ia memperlihatkan bahwa kubur bukan mulut naga, melainkan pintu yang terbuka ke taman Rahmat.

Ia berkata pula kepada mukmin: Jika pilihanmu juz'i, serahkan urusanmu kepada Kehendak Menyeluruh Sang Pemilikmu. Jika dayamu kecil, percayalah kepada Kudrat Sang Qadîr Mutlak. Jika hidupmu sedikit, pikirkan hidup yang kekal. Jika umurmu pendek, engkau mempunyai umur abadi; jangan khawatir. Jika pikiranmu redup, masuklah di bawah matahari Al-Qur'an, pandanglah dengan cahaya iman, sehingga setiap ayat Al-Qur'an memberi cahaya kepadamu seperti bintang, menggantikan pikiranmu yang seperti kunang-kunang. Jika engkau mempunyai harapan serta sakit tak terbatas, pahala tak berhingga serta Rahmat tak terbatas menantimu. Jika engkau mempunyai keinginan serta tujuan tak terbatas, jangan menderita karena memikirkannya. Semuanya tidak muat di dunia ini. Tempat mereka ialah negeri lain, dan Yang memberinya pun lain.

Ia juga berkata: Wahai manusia! Engkau tidak memiliki dirimu sendiri. Engkau milik Zat Dzul-Jalâl yang Qadîr, Kudrat-Nya tak berhingga, dan Rahîm, Rahmat-Nya tak terbatas. Maka, jangan memikulkan hidupmu pada dirimu lalu bersusah payah; sebab, Yang memberi hidup ialah Dia, dan Yang mengelolanya pun Dia. Dunia juga bukan tanpa pemilik sehingga engkau memikulkan beban dunia pada kepalamu, memikirkan keadaannya dan khawatir; sebab, Sang Pemiliknya Hakîm dan Alîm. Engkau pun tamu; jangan ikut campur tanpa perlu dan mengacaukannya.

Yang ada seperti manusia serta hewan tidak dibiarkan bebas, melainkan petugas yang mempunyai tugas. Mereka berada dalam Pandangan Sang Hakîm yang Rahîm. Jangan menyakiti ruhmu dengan memikirkan sakit serta kesusahan mereka. Jangan mendorong kasih sayangmu melampaui Rahmat Sang Khâliq mereka yang Rahîm. Kendali seluruh sesuatu yang mengambil keadaan memusuhimu, dari mikroba hingga wabah, banjir besar, paceklik serta gempa, berada dalam Tangan Sang Rahîm yang Hakîm. Dia Hakîm, tidak berbuat sia-sia. Dia Rahîm, sifat Rahîm-Nya amat besar. Pada setiap pekerjaan-Nya terdapat suatu Kelembutan.

Ia juga berkata: Alam ini memang fana, tetapi menyiapkan keperluan suatu alam abadi. Ia memang lenyap dan sementara, tetapi memberi buah-buah kekal serta memperlihatkan manifestasi Asma kekal dari Zat yang Kekal. Nikmatnya memang sedikit dan sakitnya banyak, tetapi Perhatian Ar-Rahmân Ar-Rahîm ialah nikmat sejati yang tidak lenyap. Sedangkan sakit, dari segi pahala, menghasilkan nikmat rohani. Karena lingkup yang halal cukup bagi seluruh nikmat, kesenangan serta kegembiraan ruh, kalbu dan nafsu, jangan memasuki lingkup yang haram. Sebab, kadang satu nikmat di dalamnya mempunyai seribu sakit. Ia juga menjadi sebab hilangnya Perhatian Sang Rahmân, nikmat sejati yang terus berlangsung.

Sebagaimana dijelaskan, jalan kesesatan membuat manusia jatuh ke asfala safilin, sehingga tidak ada peradaban ataupun filsafat yang dapat menemukan obatnya, dan tidak ada kemajuan manusia ataupun kesempurnaan ilmu yang dapat mengeluarkannya dari sumur gelap yang dalam itu. Namun, melalui iman serta amal saleh, Al-Qur'an Al-Hakîm mengangkat manusia dari kejatuhan ke asfala safilin menuju a'la illiyyin, serta membuktikan dengan dalil-dalil pasti bahwa ia mengangkatnya. Ia mengisi sumur dalam itu dengan anak-anak tangga kemajuan rohani serta perangkat penyempurnaan ruh.

Ia juga amat memudahkan perjalanan manusia menuju abadi, yang panjang, berbadai dan penuh keguncangan. Ia menunjukkan sarana yang dapat menempuh jarak seribu, bahkan lima puluh ribu tahun dalam sehari.

Dengan mengenalkan Zat Dzul-Jalâl, Sang Sultan Azali dan Abadi, ia memberi manusia kedudukan sebagai hamba yang bertugas dan tamu yang mempunyai tugas bagi-Nya. Ia menjamin perjalanan manusia dalam ketenteraman penuh, baik di rumah tamu dunia maupun di tempat-tempat barzakh serta akhirat. Sebagaimana seorang petugas yang lurus dari seorang raja berkeliling serta melewati negeri raja itu dan batas-batas setiap wilayah dengan mudah, melalui sarana perjalanan cepat seperti pesawat, kapal serta kereta api; demikian pula manusia yang terikat pada Sang Sultan Azali melalui iman dan taat melalui amal saleh melewati tempat-tempat rumah tamu dunia ini, lingkup alam barzakh serta alam mahsyar, dan seluruh batas luas alam-alam sesudah kubur, secepat kilat serta Burak, hingga menemukan kebahagiaan abadi. Ia membuktikan hakikat ini dengan pasti dan memperlihatkannya kepada orang-orang pilihan yang suci serta para wali.

Hakikat Al-Qur'an juga berkata: Wahai mukmin! Jangan berikan kemampuan cintamu yang tak berhingga kepada nafsu ammarahmu yang buruk, kurang, jahat dan membahayakanmu. Jangan menjadikannya kekasih dan menjadikan keinginannya ma'bûd bagi dirimu. Dengan kemampuan cintamu yang tak berhingga itu, jadikan Zat yang layak menerima cinta tak berhingga; yang dapat memberimu Karunia tak berhingga; yang membahagiakanmu tanpa batas pada masa depan; yang melalui Karunia-Nya membahagiakan seluruh sosok yang terikat denganmu dan yang engkau turut bahagia karena bahagianya mereka; yang mempunyai Kesempurnaan tak berhingga serta Keindahan yang pada tingkat tak berhingga suci, luhur, bebas dari cacat, tanpa cela, tanpa kekurangan dan tak lenyap; yang seluruh Asma-Nya amat indah dan pada setiap Nama terdapat banyak Cahaya Keelokan serta Keindahan; yang surga dengan seluruh keindahan dan nikmatnya memperlihatkan Keindahan Rahmat serta Rahmat Keindahan-Nya; dan yang seluruh keelokan, keindahan serta kesempurnaan yang disukai dan dicintai di segenap kainat menunjukkan, menandakan serta menjadi isyarat Keindahan serta Kesempurnaan-Nya sebagai Kekasih dan Ma'bûdmu.

Ia juga berkata: Wahai manusia! Jangan berikan bakat cintamu yang milik Asma serta Sifat-Nya kepada yang ada lainnya yang tidak bertahan; jangan sebarkan kepada makhluk-makhluk tanpa guna. Sebab, hasil-hasil karya serta makhluk fana. Namun, Asma yang indah, yang corak serta manifestasinya terlihat pada hasil-hasil karya dan ciptaan itu, kekal serta terus berlangsung. Pada setiap Asma dan Sifat terdapat ribuan tingkat Karunia serta Keindahan, dan ribuan lapisan Kesempurnaan serta Cinta. Pandanglah Nama Rahmân saja: surga satu manifestasinya, kebahagiaan abadi satu Kilauannya, dan seluruh rezeki serta nikmat di dunia satu tetesnya.

Perbandingan ini ditunjukkan oleh

ﻟَﻘَﺪْ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎ الْاِنْسَانَ ﻓ۪ٓﻰ ﺍَﺣْﺴَﻦِ ﺗَﻘْﻮ۪ﻳﻢٍ ﺛُﻢَّ ﺭَﺩَﺩْﻧَﺎﻩُ ﺍَﺳْﻔَﻞَ ﺳَﺎﻓِﻠ۪ﻴﻦَ اِلَّا ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍٰﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَ ﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ

, yang menunjuk hakikat ahli kesesatan serta ahli iman dari segi hidup dan tugas; perhatikan pula ayat

ﻓَﻤَﺎ ﺑَﻜَﺖْ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢُ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀُ ﻭَ الْاَرْضُ

, yang menunjuk hasil serta kesudahan mereka. Betapa luhur dan penuh mukjizat ayat-ayat itu menyatakan perbandingan yang telah kami jelaskan.

Hakikat yang dinyatakan ayat pertama dengan penuh mukjizat serta ringkas telah dijelaskan panjang lebar dalam Kalimat Kesebelas; maka kami merujuknya ke sana.

Sedangkan ayat kedua akan kami tunjukkan hanya dengan satu isyarat kecil, betapa luhur hakikat yang dinyatakannya.

Demikianlah:

Ayat ini, melalui makna yang sejalan, menyatakan, "Ketika ahli kesesatan mati, langit serta bumi tidak menangisi mereka." Melalui makna kebalikannya, ia menunjukkan, "Ketika ahli iman pergi dari dunia, langit serta bumi menangisi mereka." Yakni, karena ahli kesesatan mengingkari tugas-tugas langit serta bumi, tidak mengetahui makna mereka, merendahkan nilainya, tidak mengenal Sang Pembuat mereka, serta menghina dan memusuhi mereka, tentu langit serta bumi tidak menangisi mereka, melainkan mengutuk mereka dan puas ketika mereka mampus.

Melalui makna kebalikannya, ia berkata, "Langit serta bumi menangis ketika ahli iman meninggal." Sebab, ahli iman mengetahui tugas langit serta bumi, membenarkan hakikat sejati mereka, serta memahami melalui iman makna-makna yang mereka nyatakan. Mereka berkata, "Betapa indah mereka dibuat, betapa indah mereka melayani." Mereka memberi nilai yang layak serta menghormatinya. Demi Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, mereka mencintai langit serta bumi dan Asma yang dicerminkan keduanya. Karena rahasia inilah langit serta bumi bersedih, seolah menangis, saat ahli iman pergi.

Sebuah Pertanyaan Penting

Kalian berkata:

"Cinta bukan berdasarkan pilihan. Berdasarkan kebutuhan fitri, aku mencintai makanan lezat serta buah-buahan. Aku mencintai ayah, ibu dan anak-anakku. Aku mencintai istriku. Aku mencintai teman serta sahabatku. Aku mencintai para nabi serta wali. Aku mencintai hidup serta masa mudaku. Aku mencintai musim semi, hal-hal indah dan dunia. Bagaimana aku tidak mencintai semuanya? Bagaimana aku dapat memberikan seluruh cinta ini kepada Zat, Sifat serta Asma Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq? Apa artinya ini?"