Risalah Nur — Bahasa Indonesia

SEGI KEEMPAT

Penawar Rahmat dan Kasih Sayang · Bahasa Indonesia

SEGI KEEMPAT

Dari segi kehidupan pribadi pun ia merupakan kezaliman.

Dengarkan beberapa kaidah sebagai dasar segi keempat ini:

Pertama: Ketika engkau mengetahui jalan serta pemikiranmu benar, engkau berhak berkata, "Jalanku benar atau lebih baik." Namun, engkau tidak berhak berkata, "Hanya jalanku yang benar." Menurut rahasia

ﻭَﻋَﻴْﻦُ ﺍﻟﺮِّﺿَﺎ ﻋَﻦْ ﻛُﻞِّ ﻋَﻴْﺐٍ ﻛَﻠ۪ﻴﻠَﺔٌ ﻭَﻟٰﻜِﻦَّ ﻋَﻴْﻦَ ﺍﻟﺴُّﺨْﻂِ ﺗُﺒْﺪِﻯ ﺍﻟْﻤَﺴَﺎﻭِﻳَﺎ

, pandanganmu yang tidak adil serta pikiranmu yang rendah tidak dapat menjadi hakim. Ia tidak dapat memutuskan bahwa jalan orang lain batil.

Kaidah Kedua: Engkau wajib memastikan setiap perkataanmu sesuai kebenaran. Namun, engkau tidak berhak mengatakan setiap kebenaran. Setiap yang engkau ucapkan harus benar. Namun, mengucapkan setiap yang benar tidaklah benar. Sebab, nasihat orang yang niatnya tidak tulus sepertimu kadang menyentuh titik peka dan menghasilkan reaksi sebaliknya.

Kaidah Ketiga: Jika engkau ingin memusuhi, musuhilah permusuhan dalam hatimu dan berusahalah menghilangkannya. Musuhilah pula nafsu ammarah serta hawa nafsumu yang paling merugikanmu, dan berusahalah memperbaikinya. Jangan memusuhi mukmin demi nafsu yang merugikan itu. Jika engkau ingin bermusuhan, orang kafir serta zindik banyak; musuhilah mereka. Ya, sebagaimana sifat cinta layak dicintai, sifat permusuhan sebelum segala sesuatu layak dimusuhi sendiri.

Jika engkau ingin mengalahkan lawanmu, balaslah keburukannya dengan kebaikan. Sebab, jika engkau membalas dengan keburukan, permusuhan bertambah. Sekalipun ia kalah secara lahiriah, ia menyimpan dendam dalam hati serta meneruskan permusuhan.

Jika engkau membalas dengan kebaikan, ia menyesal dan menjadi sahabatmu. Menurut ketentuan

ﺍِﺫَٓﺍ ﺍَﻧْﺖَ ﺍَﻛْﺮَﻣْﺖَ ﺍﻟْﻜَﺮ۪ﻳﻢَ ﻣَﻠَﻜْﺘَﻪُ ٭ ﻭَ ﺍِﻥْ ﺍَﻧْﺖَ ﺍَﻛْﺮَﻣْﺖَ ﺍﻟﻠَّﺌ۪ﻴﻢَ ﺗَﻤَﺮَّﺩًﺍ

, sifat mukmin ialah bermurah hati. Melalui kebaikanmu, ia akan tunduk kepadamu. Sekalipun secara lahiriah ia rendah budi, dari segi iman ia mulia.

Ya, sering terjadi bahwa jika engkau berkata kepada orang buruk, "Engkau baik, engkau baik," ia menjadi baik; dan jika engkau berkata kepada orang baik, "Engkau buruk, engkau buruk," ia menjadi buruk. Karena itu, dengarkan kaidah-kaidah suci Al-Qur'an seperti

ﻭَﺍِﺫَﺍ ﻣَﺮُّﻭﺍ ﺑِﺎﻟﻠَّﻐْﻮِ ﻣَﺮُّﻭﺍ ﻛِﺮَﺍﻣًﺎ ٭ ﻭَﺍِﻥْ ﺗَﻌْﻔُﻮﺍ ﻭَﺗَﺼْﻔَﺤُﻮﺍ ﻭَﺗَﻐْﻔِﺮُﻭﺍ ﻓَﺎِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻏَﻔُﻮﺭٌ ﺭَﺣ۪ﻴﻢٌ

; kebahagiaan serta keselamatan terdapat di dalamnya.

Kaidah Keempat: Orang yang menyimpan dendam serta permusuhan berlaku zalim dan melanggar terhadap dirinya sendiri, saudara mukminnya, serta Rahmat Ilahi. Sebab, melalui dendam serta permusuhan, ia membiarkan dirinya dalam siksa pedih. Ia membuat dirinya menanggung siksaan karena nikmat yang datang kepada lawannya serta kepedihan karena rasa takutnya, lalu menzalimi dirinya. Jika permusuhan berasal dari iri hati, ia sepenuhnya merupakan siksaan. Sebab, iri hati pertama-tama meremukkan, menghancurkan, serta membakar orang yang iri. Kerugiannya bagi orang yang diirikan sedikit atau tidak ada.

Obat iri hati:

Orang yang iri hendaknya memikirkan akhir hal-hal yang diirikannya, agar memahami bahwa keelokan, kekuatan, kedudukan, serta kekayaan duniawi pada saingannya fana dan sementara. Manfaatnya sedikit, kesulitannya banyak. Jika yang diirikan ialah keutamaan akhirat, sebenarnya iri hati tidak mungkin ada di sana. Jika ia tetap iri terhadapnya, dirinya adalah orang yang berbuat riya, yang ingin menghancurkan harta akhirat di dunia; atau ia menganggap orang yang diirikannya berbuat riya, lalu berlaku tidak adil dan zalim.

Ia juga senang karena musibah yang datang kepada orang itu serta sedih karena nikmatnya, lalu merasa kesal kepada Takdir dan Rahmat Ilahi karena kebaikan yang diberikan kepada orang tersebut. Seakan-akan ia mengkritik Takdir serta menentang Rahmat. Orang yang mengkritik Takdir memukulkan kepalanya pada landasan besi dan memecahkannya. Orang yang menentang Rahmat terhalang dari Rahmat.

Keadilan mana yang membenarkan, hati nurani yang belum rusak mana yang dapat menampung, membalas sesuatu yang tidak layak dimusuhi selama satu hari dengan dendam serta permusuhan selama satu tahun? Padahal, engkau tidak dapat menisbatkan seluruh keburukan yang datang kepadamu dari saudara mukminmu hanya kepadanya lalu menghukumnya.

Sebab, pertama, Takdir mempunyai bagian di dalamnya. Bagian itu harus dikeluarkan dan bagian Takdir serta Qada tersebut harus dibalas dengan rida.

Kedua, pisahkan pula bagian nafsu serta setan; jangan memusuhi orang itu, tetapi kasihanilah karena ia kalah oleh nafsunya dan tunggulah ia menyesal.

Ketiga, lihatlah kekurangan dalam dirimu sendiri yang tidak engkau lihat atau tidak ingin engkau lihat; berikan satu bagian kepadanya juga.

Kemudian, jika terhadap bagian kecil yang tersisa engkau membalas dengan maaf, mengabaikan kesalahan, serta budi luhur, yang paling aman dan paling cepat mengalahkan lawanmu, engkau selamat dari kezaliman dan kerugian.

Kalau tidak, seperti pedagang permata Yahudi yang mabuk serta kehilangan akal, yang membeli botol dan potongan es dengan harga berlian, membalas urusan duniawi yang fana, segera sirna, sementara, serta remeh—yang tidak bernilai lima para—dengan keinginan keras, dendam tetap, serta permusuhan terus-menerus, seakan-akan engkau akan tinggal abadi di dunia dan selamanya tetap bersama, merupakan kezaliman yang amat besar, atau mabuk, serta semacam kehilangan akal.

Jika engkau mencintai dirimu sendiri, jangan membiarkan permusuhan serta pikiran membalas dendam yang demikian merugikan kehidupan pribadi masuk ke hatimu. Jika telah masuk ke hatimu, jangan dengarkan perkataannya. Lihatlah, dengarkan Hafiz Asy-Syirazi yang melihat hakikat:

ﺩُﻧْﻴَﺎ ﻧَﻪ ﻣَﺘَﺎﻋ۪ﻴﺴْﺘ۪ﻰ ﻛِﻪ ﺍَﺭْﺯَﺩْ ﺑَﻨِﺰَﺍﻋ۪ﻰ

Yakni, "Dunia bukan barang yang layak dipertengkarkan." Sebab, ia tidak berharga karena fana serta sementara. Jika dunia yang besar saja demikian, engkau memahami betapa remehnya urusan-urusan kecil dunia! Ia juga berkata:

ﺍٰﺳَﺎﻳ۪ﺶِ ﺩُﻭ ﮔ۪ﻴﺘ۪ﻰ ﺗَﻔْﺴ۪ﻴﺮِ ﺍ۪ﻳﻦْ ﺩُﻭ ﺣَﺮْﻓَﺴْﺖْ ٭ ﺑَﺎﺩُﻭﺳِﺘَﺎﻥْ ﻣُﺮُﻭَّﺕْ ﺑَﺎﺩُﺷْﻤَﻨَﺎﻥْ ﻣُﺪَﺍﺭَﺍ

Yakni, "Dua ungkapan menjelaskan serta menghasilkan ketenteraman dan keselamatan dua alam: Bergaul dengan budi luhur kepada sahabat-sahabatmu dan memperlakukan musuh-musuhmu dengan damai."

Jika engkau berkata:

"Pilihan tidak berada dalam tanganku; dalam fitrahku ada permusuhan. Mereka juga telah menyentuh titik pekaku; aku tidak dapat melepaskannya."

Jawaban:

Jika akibat perangai buruk serta sifat jelek tidak diperlihatkan, tidak dijalankan melalui hal seperti gibah ataupun sesuai tuntutannya, dan orang memahami kekurangannya, hal itu tidak merugikan. Karena pilihan tidak berada dalam tanganmu dan engkau tidak dapat melepaskannya, mengetahui kekuranganmu serta memahami bahwa engkau tidak benar dalam sifat itu—yang merupakan penyesalan rohani, tobat tersembunyi, serta istigfar tersirat—menyelamatkanmu dari kejahatannya. Memang, kami menulis pembahasan surat ini agar menghasilkan istigfar rohani tersebut; agar orang tidak menganggap sikap tidak adil sebagai kebenaran serta tidak mempermalukan lawannya yang benar dengan cara tidak adil.

Peristiwa yang patut diperhatikan:

Pada suatu waktu, sebagai akibat berpihak secara fanatik serta penuh prasangka ini, aku melihat seorang ahli ilmu yang taat beragama merendahkan seorang ulama saleh yang menentang pemikiran politiknya sampai derajat menganggapnya kafir. Sebaliknya, ia memuji dengan hormat seorang munafik yang sepemikiran dengannya. Aku pun takut pada hasil buruk politik ini, berkata "Eûzü billahi mineşşeytani vessiyase", dan sejak itu menarik diri dari kehidupan politik.