Arah Belakang:
Yakni, jika mereka yang datang kemudian dipandang melalui filsafat, tidak diperoleh jawaban atas pertanyaan, "Hei, dari mana menuju mana mereka pergi, dan untuk apa mereka datang ke negeri dunia?" Karena itu, tentu manusia tetap berada dalam azab keheranan serta kebimbangan.
Namun, jika memandang dengan kacamata nur iman, ia memahami bahwa manusia merupakan para pengamat yang Dikirim oleh Sang Sultan Azali untuk melihat serta menelaah mukjizat Kudrat yang luar biasa serta menakjubkan, yang diperlihatkan di pameran kainat. Ia memahami bahwa, sesuai pengetahuan yang mereka peroleh mengenai nilai serta keagungan mukjizat-mukjizat tersebut dan derajat penunjukannya kepada Keagungan Sang Sultan Azali, mereka memperoleh tingkatan serta nilai, lalu kembali ke negeri Sang Sultan Azali. Ia akan mengatakan "Elhamdülillah" bagi nikmat iman yang memberinya nikmat pemahaman ini.
Peringatan: Pujian yang diucapkan dengan "Elhamdülillah" bagi nikmat iman yang menyingkirkan keadaan gelap tersebut juga merupakan nikmat, sehingga diperlukan satu pujian pula untuknya. Bagi pujian kedua ini diperlukan pujian ketiga, dan bagi yang ketiga pujian keempat. ﻭَﻫَﻠُﻢَّ ﺟَﺮًّﺍ. Jadi, dari satu pujian muncul rangkaian pujian yang tidak berujung, yang terdiri atas pujian-pujian yang lahir darinya.
Pokok Kedua:
Manusia juga harus mengatakan "Elhamdülillah" bagi nikmat iman yang menerangi keenam arah. Sebab, sebagaimana iman merupakan nikmat besar dari jenis menolak bencana dengan menyingkirkan keadaan gelap pada keenam arah, demikian pula, dari segi meneranginya, ia tentu merupakan nikmat kedua dari jenis mendatangkan manfaat. Karena secara fitri manusia hidup bermasyarakat, ia berkaitan dengan makhluk-makhluk pada keenam arah. Melalui nikmat iman, ia dapat mengambil manfaat dari keenam arah itu.
Karena itu, melalui rahasia ayat yang mulia
ﺍَﻳْﻨَﻤَﺎ ﺗُﻮَﻟُّﻮﺍ ﻓَﺜَﻢَّ ﻭَﺟْﻪُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ
, manusia memperoleh nur dari arah mana pun di antara keenam arah. Bahkan, manusia yang beriman memiliki umur rohani yang membentang dari terbentuknya dunia hingga akhirnya. Umur rohani manusia itu menerima pertolongan serta bantuan dari Nur suatu Hidup yang membentang dari azali hingga abadi.
Demikian pula, melalui iman yang menerangi keenam arah, waktu serta tempat manusia yang sempit ini berubah menjadi alam yang luas dan nyaman. Alam besar itu menjadi seperti rumah manusia, dan masa lampau serta masa mendatang menjadi seperti masa kini bagi ruh serta hatinya. Jarak di antara mereka hilang. Pokok Ketiga: Karena iman memuat titik sandaran serta titik tempat memohon pertolongan, hal itu juga menuntut manusia mengatakan "Elhamdülillah".
Ya, karena keadaan tak berdaya serta banyaknya musuh, umat manusia membutuhkan titik sandaran yang dapat dituju sebagai tempat berlindung untuk menolak musuh-musuhnya. Demikian pula, karena banyaknya kebutuhan serta betapa besar rasa membutuhkan, ia memerlukan titik tempat memohon pertolongan, agar melalui bantuannya ia memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
Wahai manusia! Titik sandaranmu hanya iman kepada Allah سُبْحَانَهُ. Titik tempat memohon pertolongan bagi ruh serta nuranimu hanya iman kepada akhirat. Karena itu, hati serta ruh manusia yang tidak mengetahui kedua titik ini merasa takut dan asing, dan nuraninya selalu tersiksa. Namun, orang yang bersandar pada titik pertama serta memohon pertolongan dari yang kedua merasakan banyak nikmat, kesenangan, serta keakraban dalam hati dan ruh. Ia terhibur, dan nuraninya tenteram. Pokok Keempat: Dengan memperlihatkan bahwa yang serupa sedang serta akan datang, nur iman menyingkirkan penderitaan yang timbul ketika kenikmatan yang dibenarkan mulai lenyap. Dengan menunjukkan sumber nikmat, ia juga memastikan bahwa nikmat-nikmat berlanjut serta tidak berkurang.
Demikian pula, dengan menunjukkan kenikmatan diperbaruinya yang serupa, ia menyingkirkan penderitaan perpisahan. Yakni, dalam satu kenikmatan terdapat banyak penderitaan akibat pikiran tentang lenyapnya. Iman mengingatkan bahwa hal-hal serupa muncul kembali, lalu menyingkirkan penderitaan-penderitaan itu. Lagi pula, dalam pembaruan kenikmatan sendiri terdapat kenikmatan lain. Ya, jika suatu buah tidak memiliki pohon, kenikmatan yang terbatas pada buah itu lenyap dengan dimakannya, dan lenyapnya menimbulkan kesedihan. Namun, jika pohon buah itu diketahui, lenyapnya buah tersebut tidak menimbulkan penderitaan, sebab terdapat yang datang menggantikannya. Pada saat yang sama, pembaruan itu sendiri merupakan kenikmatan.
Demikian pula, yang paling menyesakkan jiwa manusia ialah penderitaan akibat perpisahan. Nur iman menyingkirkannya melalui harapan diperbaruinya yang serupa serta terjadinya pertemuan kembali. Pokok Kelima: Nur iman memperlihatkan hal-hal di antara makhluk yang dianggap manusia sebagai musuh dan asing, atau dianggap tidak hidup serta malang seperti orang mati dan anak yatim, sebagai sahabat serta saudara, dan menunjukkan mereka sebagai makhluk hidup yang bertasbih.
Yakni, orang yang memandang dengan lalai menganggap makhluk-makhluk alam merugikan seperti musuh, lalu merasa takut dan asing. Ia melihat segala sesuatu seperti orang asing. Sebab, dalam pandangan kesesatan, tidak ada ikatan persaudaraan antara hal-hal pada masa lampau serta masa mendatang. Hanya terdapat hubungan kecil serta terbatas di antara hal-hal. Karena itu, persaudaraan orang-orang yang sesat terhadap satu sama lain hanya seperti satu menit dalam waktu panjang ribuan tahun.
Demikian pula, pandangan iman melihat semua benda memiliki hidup serta saling akrab. Ia menunjukkan bahwa setiap benda, melalui bahasa keadaannya, bertasbih kepada Khâliq-nya. Dari segi ini, semua benda memiliki suatu jenis hidup serta ruh menurut keadaan masing-masing. Karena itu, menurut pandangan iman ini, pada benda-benda tersebut terdapat keakraban serta cinta sebagai pengganti rasa ngeri dan rasa asing.
Pandangan kesesatan menganggap manusia yang tidak mampu memperoleh hal-hal yang diinginkannya tidak memiliki pemilik ataupun pelindung, serta seperti anak yatim yang menangis karena kesedihan, duka, serta keadaan tak berdaya.
Pandangan iman memandang makhluk hidup sebagai petugas yang memikul tanggung jawab, serta hamba-hamba yang diberi tugas berzikir dan bertasbih, sebagai pengganti anak yatim yang menangis. Pokok Keenam: Nur iman melukiskan alam dunia serta akhirat sebagai dua meja hidangan yang memuat beragam nikmat. Orang yang beriman
mengambil manfaat dari kedua hidangan itu melalui tangan iman, indra lahir serta batinnya, dan latifah-latifah maknawi serta rohaninya. Dalam pandangan kesesatan, lingkaran manfaat makhluk hidup mengecil dan terbatas pada kenikmatan jasmani.
Dalam pandangan iman, lingkaran tersebut meluas hingga meliputi langit serta bumi. Ya, seorang mukmin dapat menganggap matahari sebagai lampu minyak bertekanan yang digantung pada atap rumahnya, dan bulan sebagai lampu minyak bersumbu. Dari segi ini, matahari serta bulan menjadi nikmat masing-masing baginya. Karena itu, lingkaran manfaat orang yang beriman menjadi lebih luas daripada langit. Ya, melalui balagah ayat-ayat
ﻭَ ﺳَﺨَّﺮَ ﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲَ ﻭَ ﺍﻟْﻘَﻤَﺮَ ٭ ﻭَ ﺳَﺨَّﺮَ ﻟَﻜُﻢْ ﻣَﺎ ﻓِﻰ ﺍﻟْﺒَﺮِّ ﻭَﺍﻟْﺒَﺤْﺮِ
, Al-Qur’an yang bermukjizat dalam penjelasannya mengisyaratkan anugerah serta Pemberian Nikmat luar biasa yang lahir dari iman ini. Pokok Ketujuh: Melalui nur iman, diketahui bahwa Wujud Allah سُبْحَانَهُ merupakan nikmat yang begitu besar, melampaui seluruh nikmat. Ia merupakan sumber yang memuat jenis nikmat tanpa batas, macam anugerah tanpa akhir, serta golongan pemberian yang tidak terhitung. Karena itu, memuji serta menyanjung nikmat iman sebanyak zarah alam merupakan kewajiban. Sebagian telah diisyaratkan dalam bagian-bagian Risale-i Nur. Lagi pula, bagian-bagian Risale-i Nur yang membahas iman kepada Allah سُبْحَانَهُ membuka tirai nikmat ini serta memperlihatkannya.
ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ, melalui lâm yang mencakup keseluruhan, mengisyaratkan semua pujian. Salah satu nikmat yang harus dipuji melalui semua pujian itu ialah nikmat Rahmaniyah. Ya, Rahmaniyah memuat nikmat sebanyak makhluk hidup yang menjadi tempat terwujudnya Rahmat. Sebab, khususnya manusia berkaitan dengan setiap makhluk hidup. Dari segi ini, manusia menjadi bahagia melalui kebahagiaan setiap makhluk hidup serta bersedih melalui penderitaannya. Jadi, nikmat pada individu mana pun merupakan nikmat pula bagi sahabat-sahabatnya.
Demikian pula, salah satu yang memuat nikmat sebanyak anak yang memperoleh nikmat melalui kasih sayang ibu-ibu mereka, dan sesuai dengannya berhak menerima pujian serta sanjungan, ialah Rahîmiyah. Ya, seseorang yang memiliki nurani, yang tersentuh serta merasa iba atas tangisan anak lapar tanpa ibu, tentu menikmati kasih sayang para ibu kepada anak-anaknya, merasa puas serta gembira. Kesenangan-kesenangan demikian masing-masing merupakan nikmat, yang meminta pujian serta syukur.
Demikian pula, salah satu yang menuntut pujian serta syukur sebanyak seluruh jenis dan anggota Hikmah yang terkandung dalam kainat ialah Hikmah-Nya. Sebab, sebagaimana nafsu manusia memperoleh nikmat melalui Manifestasi Rahmaniyah, dan hatinya melalui
Tajalli Rahîmiyah, demikian pula akalnya menikmati serta merasakan kenikmatan melalui kehalusan-kehalusan Hikmah-Nya. Dari segi ini, hal itu menuntut pujian serta sanjungan dengan mengucapkan "Elhamdülillah" sepenuh mulut.
Demikian pula, nikmat Penjagaan harus dipuji melalui "Elhamdülillah" yang begitu besar hingga bunyinya memenuhi ruang ini: Sebanyak Tajalli Nama "Al-Wârits" dari Asmaulhusna; sebanyak keturunan yang tetap tinggal setelah para leluhur seperti ayah lenyap; sebanyak makhluk alam akhirat; serta sebanyak amal manusia yang Dipelihara agar menjadi sarana menerima balasan akhirat. Sebab, berlanjutnya nikmat lebih berharga daripada nikmat itu sendiri. Tetap adanya kenikmatan lebih nikmat daripada kenikmatan. Tetap tinggal di surga melampaui surga, demikian seterusnya... Karena itu, nikmat-nikmat yang termuat dalam Penjagaan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq lebih banyak serta lebih tinggi daripada seluruh nikmat yang terdapat di seluruh kainat. Dari segi ini, ia meminta satu "Elhamdülillah" sepenuh dunia.
Bandingkan Asmaulhusna yang tersisa dengan keempat Nama yang disebutkan ini. Karena dalam masing-masing terdapat nikmat yang tidak berujung, semuanya menuntut pujian serta syukur yang tidak berujung.
Demikian pula, Hazrat Muhammad ﷺ, sarana bagi nikmat iman yang memiliki wewenang membuka seluruh khazanah nikmat, merupakan nikmat sedemikian rupa sehingga umat manusia wajib memuji serta menyanjung pribadi beliau ﷺ untuk selama-lamanya.
Demikian pula, nikmat Islam serta Al-Qur’an, daftar dan sumber seluruh jenis nikmat jasmani serta rohani, dengan sepenuhnya layak menuntut pujian yang tidak berujung. Pokok Kedelapan: Pujian kepada Allah سُبْحَانَهُ! Menurut penjelasan Al-Qur’an yang agung, tafsir kitab besar yang disebut kainat ini, seluruh bab dan bagian, seluruh halaman dan baris, serta seluruh kata dan huruf kitab besar itu memuji dan menyanjung Zat Yang Mahasuci tersebut dengan memperlihatkan Sifat Keindahan serta Kesempurnaan-Nya.
Demikianlah: Setiap ukiran kitab besar tersebut, kecil ataupun besar, menurut kemampuannya seperti semut, memuji serta menyanjung dengan memperlihatkan Sifat Jalâl Pengukirnya Yang Wâhid dan Shamad.
Demikian pula, setiap tulisan kitab itu menyanjung dengan menunjukkan Sifat Keindahan Penulisnya Yang Rahmân dan Rahîm.
Demikian pula, sebagai cermin serta tempat Tajalli dan manifestasi Asmaulhusna, seluruh tulisan, titik, serta ukiran kitab itu menyanjung Zat Yang Mahasuci dengan menyatakan bahwa Dia Mahasuci, memuji-Nya, serta memuliakan-Nya.
Demikian pula, setiap susunan syair serta kasidah kitab itu menyatakan bahwa Penyusunnya Yang Qadîr dan Alîm Mahasuci, serta memuji-Nya.