GAMBARAN PERTAMA
[Gambaran yang melukiskan hakikat dunia orang-orang yang lalai.]
Jangan panggil aku ke dunia; aku datang kepadanya dan melihat yang fana.
Ketika kelalaian menjadi tirai, kulihat Cahaya Al-Haqq tersembunyi.
Kulihat seluruh yang ada masing-masing fana dan merugikan.
Jika engkau menyebut wujud, aku telah mengenakannya; ah, ternyata tidak ada, kulihat banyak musibah.
Jika engkau menyebut kehidupan, aku telah mencicipinya; kulihat azab di dalam azab.
Akal menjadi hukuman itu sendiri; kulihat keadaan yang kekal selamanya sebagai suatu musibah.
Umur menjadi hawa nafsu itu sendiri; kulihat kesempurnaan sebagai kesia-siaan itu sendiri.
Amal menjadi riya itu sendiri; kulihat harapan sebagai derita itu sendiri.
Pertemuan (wishâl) menjadi lenyap itu sendiri; kulihat obat sebagai penyakit itu sendiri.
Cahaya-cahaya ini menjadi gelap; kulihat sahabat-sahabat ini sebagai yatim.
Suara-suara ini menjadi seruan dukacita kematian; kulihat yang hidup ini sebagai yang mati.
Ilmu-ilmu berubah menjadi khayalan; kulihat seribu penyakit dalam hikmah-hikmah.
Kesenangan menjadi derita itu sendiri; kulihat seribu hal yang tidak ada dalam wujud.
Jika engkau menyebut kekasih, aku telah menemukannya; ah, kulihat banyak derita dalam perpisahan.
GAMBARAN KEDUA
[Gambaran yang menunjukkan hakikat dunia orang-orang yang mendapat hidayah serta sadar akan Hadirat-Nya.]
Ketika kelalaian lenyap, kulihat Cahaya Al-Haqq nyata.
Wujud menjadi bukti Zat; lihatlah, kehidupan merupakan cermin Al-Haqq.
Akal menjadi kunci khazanah; lihatlah, fana merupakan pintu menuju yang kekal.
Kilatan kesempurnaan padam; namun lihatlah, Matahari Keindahan ada.
Lenyap menjadi pertemuan itu sendiri; lihatlah, derita merupakan kesenangan itu sendiri.
Umur menjadi amal itu sendiri; lihatlah, masa abadi merupakan umur itu sendiri.
Gelap menjadi wadah cahaya; lihatlah, dalam kematian ini ada kehidupan sejati.
Seluruh benda menjadi sahabat akrab; lihatlah, seluruh suara merupakan zikir.
Lihatlah, seluruh zarah yang ada masing-masing berzikir dan bertasbih.
Keadaan serba kurang kutemukan sebagai khazanah kecukupan; lihatlah, dalam ketidakberdayaan ada kekuatan penuh.
Jika engkau telah menemukan Allah سُبْحَانَهُ, lihatlah, seluruh benda milikmu.
Jika engkau adalah milik Sang Mâlik dari seluruh kerajaan, lihatlah, kerajaan-Nya milikmu.
Jika engkau hanya melihat dirimu sendiri dan menjadi pemilik nafsumu sendiri, lihatlah musibah yang tak terhitung,
Rasakanlah azab tanpa batas; lihatlah, betapa berat tanpa akhir.
Jika engkau hamba sejati yang memandang kepada Allah سُبْحَانَهُ, lihatlah suka cita tanpa batas,
Rasakanlah pahala tak terhitung; lihatlah kebahagiaan tanpa akhir.
Wahai nafsuku! Menangislah serta berserulah seperti hatiku, dan katakan: "Aku tidak kekal, tidak menginginkan yang tidak kekal. Aku tidak berdaya, tidak menginginkan yang tidak berdaya.
Aku telah menyerahkan ruhku kepada Sang Rahmân, tidak menginginkan yang lain. Aku menginginkan, tetapi menginginkan Sang Sahabat Yang Kekal. Aku adalah zarah, tetapi menginginkan suatu Matahari Yang Mahakekal. Aku sama sekali bukan apa-apa, tetapi menginginkan seluruh yang ada ini."
--
Kalimat Kedua Puluh Tiga
[Kalimat ini memiliki dua pembahasan.]
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻟَﻘَﺪْ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎ الْاِنْسَانَ ﻓ۪ٓﻰ ﺍَﺣْﺴَﻦِ ﺗَﻘْﻮ۪ﻳﻢٍ ٭ ﺛُﻢَّ ﺭَﺩَﺩْﻧَﺎﻩُ ﺍَﺳْﻔَﻞَ ﺳَﺎﻓِﻠ۪ﻴﻦَ ٭ اِلَّا ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍٰﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَ ﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ
Pembahasan Pertama
Dari ribuan keindahan iman, kami hanya menjelaskan lima di antaranya dalam lima pokok.
POKOK PERTAMA
Dengan cahaya iman, manusia naik ke a'lâ illiyyîn dan memperoleh nilai yang layak bagi surga. Dengan gelapnya kufur, ia jatuh ke asfal as-sâfilîn dan berada dalam keadaan yang layak menjadi penghuni neraka. Sebab, iman menghubungkan manusia dengan Sang Pembuat Dzul-Jalâl Yang menciptakannya; iman adalah suatu ikatan. Maka, dengan iman, manusia memperoleh nilai berdasarkan Seni Ilahi dan ukiran Asma Rabb yang tampak dalam dirinya. Kufur memutuskan hubungan itu. Karena hubungan terputus, Seni Rabb tersembunyi. Nilainya hanya berdasarkan materi. Karena materi itu sementara, akan sirna, dan berupa kehidupan hewani sementara, nilainya seolah-olah tidak ada.
Kami akan menjelaskan rahasia ini dengan sebuah perumpamaan. Misalnya, dalam seni manusia, nilai materi dan nilai seni berbeda-beda. Terkadang sama, terkadang materi lebih berharga, dan terkadang pada materi seperti besi seharga lima kuruş terdapat seni seharga lima lira. Bahkan, terkadang sebuah karya seni antik bernilai satu juta, padahal materinya tidak bernilai lima kuruş pun. Jika karya seni antik itu dibawa ke pasar barang antik dan dipamerkan sebagai karya seorang seniman terampil dari masa sangat lama yang terbiasa membuat hal-hal menakjubkan, sambil mengingat seniman itu, ia akan terjual dengan harga satu juta. Jika dibawa ke pasar pandai besi kasar, ia dapat dibeli dengan harga besi lima kuruş.
Manusia adalah karya seni antik Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq yang demikian, dan mukjizat Kudrat-Nya yang paling halus dan lembut. Dia menciptakan manusia sebagai tempat tampaknya manifestasi seluruh Asma-Nya, tempat ukiran-ukiran-Nya, dan contoh kecil alam.
Jika cahaya iman masuk ke dalamnya, seluruh ukiran bermakna pada dirinya terbaca dengan cahaya itu. Orang beriman tersebut membacanya dengan sadar, dan membuatnya terbaca melalui ikatan itu. Yakni, dengan makna-makna seperti, "Aku adalah karya seni dan makhluk Sang Pembuat Dzul-Jalâl; aku mendapat Rahmat dan Kemurahan-Nya," Seni Rabb pada manusia menjadi tampak. Jadi, iman yang berupa ikatan dengan Sang Pembuatnya menampakkan seluruh jejak seni pada manusia. Nilai manusia sesuai dengan Seni Rabb itu, dan berdasarkan dirinya sebagai cermin Allah سُبْحَانَهُ Yang Shamad. Maka, manusia yang tampak tidak penting ini, dari segi tersebut, menjadi pihak yang diajak berbicara oleh Allah سُبْحَانَهُ di atas seluruh makhluk, dan tamu Rabb yang layak bagi surga. Jika kufur yang berupa terputusnya ikatan masuk ke dalam manusia, seluruh ukiran Asma Ilahi yang bermakna itu menjadi gelap dan tidak terbaca. Sebab, jika Sang Pembuat dilupakan, segi-segi maknawi yang mengarah kepada Sang Pembuat pun tidak dipahami. Seolah-olah semuanya terbalik. Kebanyakan karya seni yang luhur dan ukiran maknawi yang luhur serta bermakna itu tersembunyi. Sebagian yang tersisa dan terlihat oleh mata dinisbatkan kepada sebab-sebab yang rendah, tabiat, dan kebetulan, sehingga jatuh serendah-rendahnya. Masing-masing yang tadinya berlian berkilau menjadi kaca redup. Nilainya hanya dilihat dari materi hewani.
Tujuan dan hasil materi itu, seperti telah kami katakan, hanyalah menjalani hidup yang terbatas dalam usia sangat singkat, sebagai yang paling tak berdaya, paling membutuhkan, dan paling sedih di antara hewan-hewan. Kemudian ia membusuk dan pergi. Begitulah kufur meruntuhkan hakikat manusia, mengubahnya dari berlian menjadi batu bara.