Kalimat Ketujuh Belas
Belas
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺍِﻧَّﺎ ﺟَﻌَﻠْﻨَﺎ ﻣَﺎ ﻋَﻠَﻰ الْاَرْضِ ﺯ۪ﻳﻨَﺔً ﻟَﻬَﺎ ﻟِﻨَﺒْﻠُﻮَﻫُﻢْ ﺍَﻳُّﻬُﻢْ ﺍَﺣْﺴَﻦُ عَمَلًا ٭ ﻭَﺍِﻧَّﺎ ﻟَﺠَﺎﻋِﻠُﻮﻥَ ﻣَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺻَﻌ۪ﻴﺪًﺍ ﺟُﺮُﺯًﺍ ٭ ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟْﺤَﻴٰﻮﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ اِلَّا ﻟَﻌِﺐٌ ﻭَﻟَﻬْﻮٌ
(Kalimat ini terdiri atas dua bagian yang luhur serta satu tambahan yang cemerlang.)
Sang Khâliq Yang Rahîm, Ar-Razzâq Yang Mahamulia, serta Sang Pembuat Yang Hakîm menjadikan dunia ini sebagai suatu perayaan dan pesta cahaya bagi alam ruh serta makhluk-makhluk rohani. Dia menghiasnya dengan corak-corak menakjubkan dari seluruh Asma-Nya. Kepada setiap ruh, kecil maupun besar, tinggi maupun rendah, Dia mengenakan sebuah tubuh yang sesuai dengannya, dilengkapi indra agar dapat menikmati keindahan serta nikmat yang berbeda-beda dan tak terhitung dalam perayaan itu. Dia memberinya wujud bertubuh, lalu sekali mengirimnya ke tempat menyaksikan itu. Dia juga membagi perayaan yang sangat luas dari segi waktu dan tempat ini ke dalam abad, tahun, musim, bahkan hari serta wilayah. Setiap abad, tahun, musim, bahkan dari satu segi setiap hari serta wilayah, Dia jadikan perayaan yang luhur berupa suatu parade bagi satu kelompok makhluk-Nya yang berjiwa serta ciptaan-Nya berupa tumbuhan. Terutama wajah bumi, khususnya pada musim semi dan musim panas, merupakan perayaan-perayaan yang begitu gemerlap dan datang silih berganti bagi kelompok-kelompok ciptaan kecil, sehingga tampak daya tarik yang akan mengundang makhluk rohani, malaikat, serta penghuni langit pada lapisan-lapisan tinggi untuk menyaksikannya. Bagi orang-orang yang berpikir, bumi menjadi tempat mengkaji yang begitu menyenangkan, sehingga akal tidak mampu melukiskannya.
Namun, dalam jamuan Ilahi dan perayaan Rabbani ini, berhadapan dengan Tajalli Nama Rahmân serta Muhyî, Nama Qahhâr serta Mumît tampil dengan perpisahan dan kematian. Secara lahir, hal ini tampaknya tidak sesuai dengan luasnya cakupan Rahmat-Nya,
ﻭَﺳِﻌَﺖْ ﺭَﺣْﻤَﺘ۪ﻰ ﻛُﻞَّ ﺷَﻲْﺀٍ
. Namun, pada hakikatnya terdapat beberapa segi yang selaras. Salah satunya ialah: setelah giliran parade setiap kelompok selesai dan hasil-hasil yang dimaksud dari parade itu diperoleh, Sang Pembuat Yang Mahamulia, Sang Fâthir Yang Rahîm, pada umumnya dengan penuh Kasih Sayang membuat mereka tidak lagi menyukai dunia dan merasa jenuh terhadapnya. Dia menganugerahkan kecenderungan untuk beristirahat serta semangat untuk berpindah ke alam lain. Ketika mereka dibebastugaskan dari tugas kehidupan, Dia membangkitkan dalam ruh mereka suatu kecenderungan yang menggugah semangat kepada tanah air asal mereka. Bukan pula sesuatu yang jauh dari Rahmat Sang Rahmân yang tanpa batas bahwa, sebagaimana Dia memberikan derajat syahid kepada seorang prajurit yang gugur demi tugas dan perjuangan, Dia juga memberi seekor domba yang disembelih sebagai kurban suatu wujud bertubuh yang kekal di akhirat, lalu memberinya ganjaran dengan menjadikannya tunggangan seperti Burak bagi pemiliknya di atas sirat.
Demikian pula, bagi makhluk-makhluk berjiwa lainnya dan hewan yang binasa maupun yang mengalami kesulitan berat dalam menjalankan tugas alami Rabbani yang khas bagi mereka, serta dalam menaati Perintah-Perintah Zat Yang Mahasuci, bukanlah hal yang jauh bahwa dalam khazanah Rahmat-Nya yang tidak habis itu tersedia sejenis ganjaran rohani yang sesuai bagi mereka serta sejenis upah maknawi menurut kemampuan mereka. Dengan demikian, mereka tidak terlalu terluka karena meninggalkan dunia, bahkan merasa senang.
لَا ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ
Namun, manusia, yang paling mulia di antara makhluk berjiwa dan paling banyak menikmati perayaan-perayaan ini dari segi jumlah serta mutu, sangat terpikat dan melekat pada dunia. Sebagai hasil Rahmat, Dia memberikan suatu keadaan yang menggugah kerinduan, agar manusia tidak lagi menyukai dunia dan beralih ke alam yang kekal. Manusia yang sisi kemanusiaannya tidak tenggelam dalam jalan sesat memperoleh manfaat dari keadaan itu. Ia pergi dengan hati yang tenteram. Sekarang, sebagai contoh, kita akan menjelaskan lima segi yang menghasilkan keadaan tersebut. Yang Pertama: Melalui musim usia tua, Dia memperlihatkan cap akan lenyap serta hilang, beserta maknanya yang pahit, pada hal-hal duniawi yang indah dan menarik. Dengan demikian, Dia membuat manusia itu menjauh dari dunia serta mencari sesuatu yang kekal sebagai ganti yang fana.
Yang Kedua: Karena sembilan puluh sembilan persen dari seluruh sahabat yang telah dekat dengan manusia itu sudah meninggalkan dunia dan menetap di alam lain, melalui dorongan cinta yang sungguh-sungguh itu Dia menganugerahkan kerinduan kepada tempat yang dituju para sahabat tersebut, sehingga ia menyambut kematian dan ajal dengan gembira. Yang Ketiga: Melalui beberapa hal, Dia membuat manusia merasakan kelemahan serta ketidakmampuannya yang tanpa batas. Dia membuatnya memahami betapa berat beban kehidupan serta tuntutan untuk hidup, lalu memberi keinginan yang sungguh-sungguh untuk beristirahat serta semangat yang tulus untuk pergi ke negeri lain. Yang Keempat: Dengan cahaya iman, Dia memperlihatkan kepada manusia beriman bahwa kematian bukan pemusnahan, melainkan perpindahan tempat. Kubur bukan mulut sumur yang gelap, melainkan pintu alam-alam yang bercahaya. Dengan seluruh kemegahannya, dunia merupakan penjara dibandingkan dengan akhirat. Tentu, keluar dari penjara dunia menuju taman-taman surga, beralih dari hiruk-pikuk kehidupan bertubuh yang mengganggu menuju alam ketenteraman serta ruang terbang ruh-ruh, dan melepaskan diri dari keributan makhluk yang menyesakkan untuk pergi ke hadapan Sang Rahmân, merupakan perjalanan yang diinginkan dengan seluruh jiwa, bahkan suatu kebahagiaan.
Yang Kelima: Kepada manusia yang mendengarkan Al-Qur'an, melalui pengetahuan tentang hakikat serta cahaya hakikat dalam Al-Qur'an, Dia memberitahukan hakikat dunia. Dengan demikian, Dia membuatnya memahami bahwa mencintai serta melekat pada dunia sangat tidak bermakna. Yakni, Al-Qur'an berkata kepada manusia dan membuktikan bahwa: "Dunia merupakan suatu kitab Allah سُبْحَانَهُ Yang Shamad. Huruf serta kata-katanya tidak menunjuk kepada diri mereka sendiri, melainkan kepada Zat, Sifat, dan Asma milik Yang Lain. Karena itu, ketahui dan ambillah maknanya; tinggalkan corak-coraknya, lalu pergilah. Dunia juga merupakan ladang. Tanamlah, ambil hasilnya, dan jagalah; buang hiasannya yang menipu, jangan anggap penting. Dunia juga merupakan kumpulan cermin yang terus datang dan pergi silih berganti. Karena itu, kenalilah Dia yang bertajalli di dalamnya, lihatlah Cahaya-Cahaya-Nya, pahamilah Tajalli Asma yang tampak di dalamnya, serta cintailah Musamma (pemilik nama) dari Asma itu. Putuskan ikatanmu dengan kepingan kaca yang pasti akan lenyap dan pecah tersebut. Dunia juga merupakan tempat perdagangan yang bergerak. Karena itu, lakukan jual belimu, lalu kembalilah; jangan sia-sia berlari dan melelahkan diri di belakang rombongan yang menjauh darimu serta tidak memedulikanmu. Dunia juga merupakan tempat menikmati pemandangan untuk sementara. Karena itu, pandanglah dengan mengambil pelajaran.
Perhatikan bukan wajah lahirnya yang buruk, melainkan wajahnya yang tersembunyi dan indah, yang menghadap kepada Sang Jamîl Yang Kekal. Nikmatilah perjalanan yang menyenangkan serta bermanfaat, lalu kembalilah. Jangan menangis seperti anak yang tidak berakal atau merasa cemas karena tirai yang memperlihatkan pemandangan indah serta hal-hal indah itu tertutup. Dunia juga merupakan penginapan. Karena itu, makanlah, minumlah, dan bersyukurlah dalam batas Izin Sang Penjamu Yang Mahamulia, yang membangunnya. Bekerja dan bergeraklah dalam batas Hukum-Nya. Kemudian, jangan menoleh ke belakang; keluarlah dan pergilah. Jangan mencampuri urusan dengan sia-sia dan tanpa guna. Jangan menyibukkan diri tanpa makna dengan hal-hal yang meninggalkanmu serta bukan milikmu. Jangan melekat pada urusan-urusan sementara hingga tenggelam di dalamnya." Dengan hakikat-hakikat yang jelas seperti ini, Al-Qur'an memperlihatkan rahasia dalam sisi batin dunia. Dengan demikian, Al-Qur'an sangat meringankan perpisahan dari dunia, bahkan membuat orang yang sadar menyukainya, serta memperlihatkan bahwa dalam setiap hal dan setiap keadaan terdapat jejak Rahmat-Nya. Sebagaimana Al-Qur'an menunjukkan lima segi ini, ayat-ayat Al-Qur'an juga menunjukkan segi-segi khusus lainnya. Celakalah orang yang tidak memperoleh bagian dari kelima segi ini...
--
SUATU MUNAJAT YANG TERLINTAS DALAM HATI DALAM BAHASA PERSIA
ﻫٰﺬِﻩِ ﺍﻟْﻤُﻨَﺎﺟَﺎﺓُ ﺗَﺨَﻄَّﺮَﺕْ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻘَﻠْﺐِ ﻫٰﻜَﺬَﺍ ﺑِﺎﻟْﺒَﻴَﺎﻥِ ﺍﻟْﻔَﺎﺭِﺳ۪ﻰ
Yakni, karena munajat ini terlintas dalam hati dalam bahasa Persia, munajat ini ditulis dalam bahasa Persia. [Sebelumnya telah dimuat dalam Hubab Risalesi (Gelembung) yang sudah dicetak.]
ﻳَﺎﺭَﺏْ ﺑَﺸَﺶْ ﺟِﻬَﺖْ ﻧَﻈَﺮْ ﻣ۪ﻴﻜَﺮْﺩَﻡْ ﺩَﺭْﺩِ ﺧُﻮﺩْﺭَﺍ ﺩَﺭْﻣَﺎﻥْ ﻧَﻤ۪ﻰ ﺩ۪ﻳﺪَﻡْ
Wahai Rabb! Tanpa tawakal, dalam kelalaian, dengan bersandar pada kemampuan serta pilihanku, aku memandang ke enam arah, yang disebut enam penjuru, untuk mencari obat bagi deritaku. Sayangnya, aku tidak menemukan obat bagi deritaku. Secara maknawi dikatakan kepadaku, "Tidakkah cukup derita itu sebagai obat bagimu?"
ﺩَﺭْﺭَﺍﺳْﺖْ ﻣ۪ﻰ ﺩ۪ﻳﺪَﻡْ ﻛِﻪ ﺩ۪ﻯ ﺭُﻭﺯْ ﻣَﺰَﺍﺭِ ﭘَﺪَﺭِ ﻣَﻨَﺴْﺖْ
Ya, dalam kelalaian aku memandang masa lampau di sebelah kananku untuk memperoleh penghiburan. Namun, kulihat hari kemarin tampak sebagai kubur ayahku, dan masa lampau sebagai suatu makam besar para leluhurku. Alih-alih penghiburan, semuanya memberi rasa ngeri.
(Iman memperlihatkan makam besar yang mengerikan itu sebagai majelis bercahaya yang penuh keakraban serta pertemuan para sahabat.)
ﻭَ ﺩَﺭْ ﭼَﭗْ ﺩ۪ﻳﺪَﻡْ ﻛِﻪ ﻓَﺮْﺩَﺍ ﻗَﺒْﺮِ ﻣَﻨَﺴْﺖْ
Kemudian, aku memandang masa depan di sebelah kiriku. Aku tidak menemukan obat. Bahkan, hari esok tampak sebagai kuburku, dan masa depan sebagai suatu makam besar orang-orang sepertiku serta generasi yang akan datang. Semuanya memberi rasa ngeri, bukan keakraban.
(Iman serta kesadaran akan iman memperlihatkan makam besar yang mengerikan itu sebagai suatu Undangan Sang Rahmân dalam istana-istana kebahagiaan yang menyenangkan.)
ﻭَ ﺍ۪ﻳﻤْﺮُﻭﺯْ ﺗَﺎﺑُﻮﺕِ ﺟِﺴْﻢِ ﭘُﺮْ ﺍِﺿْﻄِﺮَﺍﺏِ ﻣَﻨَﺴْﺖْ
Karena dari sebelah kiri pun tidak tampak kebaikan, aku memandang hari ini. Kulihat hari ini seakan-akan suatu peti mati. Peti itu membawa jenazah tubuhku yang bergerak-gerak seperti makhluk yang disembelih.
(Iman memperlihatkan peti mati itu sebagai tempat perdagangan serta penginapan yang gemerlap.)
ﺑَﺮْ ﺳَﺮِ ﻋُﻤْﺮْ ﺟَﻨَﺎﺯَﻩﺀِ ﻣَﻦْ ﺍ۪ﻳﺴْﺘَﺎﺩَﻩ ﺍَﺳْﺖْ
Dari arah ini pun aku tidak menemukan obat. Kemudian, aku mengangkat kepala dan memandang puncak pohon umurku. Kulihat satu-satunya buah pohon itu adalah jenazahku, yang berada di atas pohon dan memandangku.
(Iman memperlihatkan bahwa buah pohon itu bukan jenazah, melainkan ruhku yang menerima kehidupan abadi serta menjadi calon bagi kebahagiaan abadi, keluar dari sarangnya yang sudah tua untuk berjalan di antara bintang-bintang.)
ﺩَﺭْ ﻗَﺪَﻡْ ﺍٰﺏِ ﺧَﺎﻙِ ﺧِﻠْﻘَﺖِ ﻣَﻦْ ﻭَ ﺧَﺎﻛِﺴْﺘَﺮِ ﻋِﻈَﺎﻡِ ﻣَﻨَﺴْﺖْ
Karena dari arah itu pun aku putus asa, aku menundukkan kepala. Kulihat di bawah kakiku tanah tulang-tulangku bercampur dengan tanah asal penciptaanku. Hal itu tidak memberi obat, melainkan menambahkan derita pada deritaku.
(Iman memperlihatkan tanah itu sebagai pintu Rahmat serta tirai ruang surga.)
ﭼُﻮﻥْ ﺩَﺭْ ﭘَﺲْ ﻣ۪ﻴﻨِﮕَﺮَﻡْ ﺑ۪ﻴﻨَﻢْ ﺍ۪ﻳﻦْ ﺩُﻧْﻴَﺎﺀِ ﺑ۪ﻰ ﺑُﻨْﻴَﺎﺩْ ﻫ۪ﻴﭻْ ﺩَﺭْ ﻫ۪ﻴﭽَﺴْﺖْ
Dari arah itu pun aku memalingkan pandangan dan menoleh ke belakang. Kulihat dunia yang tidak berdasar dan fana berguling menuju lenyap sama sekali dalam lembah-lembah tanpa wujud serta gelap ketika tidak ada. Hal itu tidak memberi salep bagi deritaku, melainkan menambahkan racun rasa ngeri serta kedahsyatan.
(Iman memperlihatkan dunia yang berguling dalam gelap itu sebagai surat-surat Allah سُبْحَانَهُ Yang Shamad serta lembaran-lembaran corak Allah سُبْحَانَهُ Yang Mahasuci, yang tugasnya telah selesai, telah menyampaikan maknanya, dan telah meninggalkan hasil-hasilnya dalam wujud sebagai ganti dirinya.)
ﻭَ ﺩَﺭْ ﭘ۪ﻴﺶْ ﺍَﻧْﺪَﺍﺯَﻩﺀِ ﻧَﻈَﺮْ ﻣ۪ﻴﻜُﻨَﻢْ ﺩَﺭِ ﻗَﺒِﺮْ ﻛُﺸَﺎﺩَﻩ ﺍَﺳْﺖْ ﻭَ ﺭَﺍﻩِ ﺍَﺑَﺪْ ﺑَﺪُﻭﺭِ ﺩِﺭَﺍﺯْ ﺑَﺪ۪ﻳﺪَﺍﺭَﺳْﺖْ
Karena di sana pun aku tidak melihat kebaikan, aku mengirim pandanganku ke depan, ke arah yang akan datang. Kulihat pintu kubur tampak terbuka di awal jalanku, dan di belakangnya jalan menuju masa abadi tampak dari kejauhan.
(Karena iman memperlihatkan bahwa pintu kubur itu merupakan pintu alam cahaya, dan jalan itu merupakan jalan kebahagiaan abadi, iman menjadi obat sekaligus salep bagi derita-deritaku.)
ﻣَﺮَﺍ ﺟُﺰْ ﺟُﺰْﺀِ ﺍِﺧْﺘِﻴَﺎﺭ۪ﻯ ﭼ۪ﻴﺰ۪ﻯ ﻧ۪ﻴﺴْﺖْ ﺩَﺭْ ﺩَﺳْﺖْ
Menghadapi keenam arah ini, yang memberiku kedahsyatan serta rasa ngeri, bukan keakraban dan penghiburan, di tanganku tidak ada sesuatu pun selain kehendak bebas manusia yang kumiliki, agar aku dapat bersandar padanya serta menghadapi semuanya dengannya.
(Sebagai ganti kehendak bebas manusia yang seperti bagian yang tidak dapat dibagi itu, iman memberikan suatu surat jaminan agar manusia dapat bersandar pada Kudrat yang tanpa batas; bahkan iman itu sendiri merupakan surat jaminan.)
ﻛِﻪ ﺍُﻭ ﺟُﺰْﺀْ ﻫَﻢْ ﻋَﺎﺟِﺰْ ﻫَﻢْ ﻛُﻮﺗَﺎﻩ ﻭَ ﻫَﻢْ ﻛَﻢْ ﻋَﻴَﺎﺭَﺳْﺖْ
Padahal, senjata manusia yang disebut kehendak bebas manusia itu lemah sekaligus pendek. Ukurannya pun kurang. Senjata itu tidak dapat menciptakan; tidak ada sesuatu pun yang dapat dilakukannya selain mengusahakan.
(Iman membuat kehendak bebas manusia itu digunakan atas Nama Allah سُبْحَانَهُ, sehingga menjadi cukup untuk menghadapi segala sesuatu. Seperti ketika seorang prajurit menggunakan kekuatannya yang kecil atas nama negara, ia melakukan pekerjaan yang ribuan kali melampaui kekuatannya.)
ﻧَﻪ ﺩَﺭْ ﻣَﺎﺿ۪ﻰ ﻣَﺠَﺎﻝِ ﺣُﻠُﻮﻝْ ﻧَﻪ ﺩَﺭْ ﻣُﺴْﺘَﻘْﺒَﻞْ ﻣَﺪَﺍﺭِ ﻧُﻔُﻮﺫْ ﺍَﺳْﺖْ
Kehendak itu tidak dapat memasuki masa lampau dan tidak dapat menjangkau masa depan. Tidak bermanfaat bagi harapan serta deritaku yang berkaitan dengan masa lampau dan masa depan.
(Karena iman mengambil kendali kehendak itu dari tubuh yang bersifat hewani dan menyerahkannya kepada hati serta ruh, iman dapat menjangkau masa lampau dan memasuki masa depan. Sebab, lingkup kehidupan hati serta ruh luas.)
ﻣَﻴْﺪَﺍﻥِ ﺍُﻭ ﺍ۪ﻳﻦْ ﺯَﻣَﺎﻥِ ﺣَﺎﻝْ ﻭ ﻳَﻚْ ﺍٰﻥِ ﺳَﻴَّﺎﻟَﺴْﺖْ
Ruang gerak kehendak bebas manusia itu hanyalah masa kini yang sangat singkat ini serta suatu saat yang terus berlalu.
ﺑَﺎ ﺍ۪ﻳﻦْ ﻫَﻤَﻪ ﻓَﻘْﺮْﻫَﺎ ﻭَ ﺿَﻌْﻔْﻬَﺎ ﻗَﻠَﻢِ ﻗُﺪْﺭَﺕِ ﺗُﻮ ﺍٰﺷِﻜَﺎﺭَﻩ ﻧُﻮِﺷْﺘَﻪ ﺍَﺳْﺖْ ﺩَﺭْ ﻓِﻄْﺮَﺕِ ﻣَﺎ ﻣَﻴْﻞِ ﺍَﺑَﺪْ ﻭَ ﺍَﻣَﻞِ ﺳَﺮْﻣَﺪْ
Ketika aku berada dalam keadaan kacau karena kedahsyatan serta rasa ngeri yang datang dari enam arah, bersama seluruh kebutuhan, kelemahan, keadaan serba kurang, serta ketidakberdayaanku, dengan Pena Kudrat telah ditulis secara terang pada halaman fitrahku keinginan-keinginan yang mencapai masa abadi serta harapan-harapan yang terbentang menuju masa yang kekal. Semuanya telah dimuat dalam hakikat diriku.
ﺑَﻠْﻜِﻪ ﻫَﺮْ ﭼِﻪ ﻫَﺴْﺖْ ، ﻫَﺴْﺖْ
Bahkan, contoh-contoh segala yang ada di dunia terdapat dalam fitrahku. Aku berkaitan dengan semuanya. Demi semuanya, aku mengerahkan apa yang kumiliki untuk bekerja dan aku sendiri bekerja.
ﺩَٓﺍﺋِﺮَﻩﺀِ ﺍِﺣْﺘِﻴَﺎﺝْ ﻣَﺎﻧَﻨْﺪِ ﺩَٓﺍﺋِﺮَﻩﺀِ ﻣَﺪِّ ﻧَﻈَﺮْ ﺑُﺰُﺭْﮔ۪ﻰ ﺩَﺍﺭَﺳْﺖْ
Lingkup kebutuhan sama besar dan luasnya dengan lingkup pandangan.
ﺧَﻴَﺎﻝْ ﻛُﺪَﺍﻡْ ﺭَﺳَﺪْ ﺍِﺣْﺘِﻴَﺎﺝْ ﻧ۪ﻴﺰْ ﺭَﺳَﺪْ ﺩَﺭْ ﺩَﺳْﺖْ ﻫَﺮْﭼِﻪ ﻧ۪ﻴﺴْﺖْ ﺩَﺭْ ﺍِﺣْﺘِﻴَﺎﺝْ ﻫَﺴْﺖْ
Bahkan, ke mana pun daya khayal pergi, lingkup kebutuhan juga pergi ke sana. Di sana pun ada kebutuhan. Bahkan, segala yang tidak ada di tangan ada dalam kebutuhan. Yang tidak ada di tangan ada dalam kebutuhan. Adapun yang tidak terdapat di tangan, tidak terbatas.
ﺩَٓﺍﺋِﺮَﻩﺀِ ﺍِﻗْﺘِﺪَﺍﺭْ ﻫَﻤْﭽُﻮ ﺩَٓﺍﺋِﺮَﻩﺀِ ﺩَﺳْﺖِ ﻛُﻮﺗَﺎﻩْ ﻛُﻮﺗَﺎﻫَﺴْﺖْ
Padahal, lingkup kemampuan sama pendek dan sempitnya dengan jangkauan tanganku yang pendek.
ﭘَﺲْ ﻓَﻘْﺮ ﻭ ﺣَﺎﺟَﺎﺕِ ﻣَﺎ ﺑَﻘَﺪْﺭِ ﺟِﻬَﺎﻧَﺴْﺖْ
Jadi, keadaan serba kurang serta kebutuhanku sebesar dunia.
ﻭَ ﺳَﺮْﻣَﺎﻳَﻪﺀِ ﻣَﺎ ﻫَﻢْ ﭼُﻮ ﺟُﺰْﺀِ لَا ﻳَﺘَﺠَﺰَّﺍ ﺍَﺳْﺖْ
Adapun modalku hanyalah sesuatu yang kecil, seperti bagian yang tidak dapat dibagi.
ﺍ۪ﻳﻦْ ﺟُﺰْﺀْ ﻛُﺪَﺍﻡْ ﻭَﺍ۪ﻳﻦْ ﻛَٓﺎﺋِﻨَﺎﺕِ ﺣَﺎﺟَﺎﺕْ ﻛُﺪَﺍﻣَﺴْﺖْ
Di manakah kebutuhan sebesar dunia ini, yang hanya dapat diperoleh dengan miliaran? Dan di manakah kehendak bebas manusia yang bernilai lima keping uang ini? Dengan modal ini, tidak dapat pergi membeli semuanya. Dengan modal ini, semuanya tidak dapat diperoleh. Karena itu, harus mencari jalan lain.
ﭘَﺲْ ﺩَﺭْ ﺭَﺍﻩِ ﺗُﻮ َﺍﺯْ ﺍ۪ﻳﻦْ ﺟُﺰْﺀْ ﻧ۪ﻴﺰْ ﺑَﺎﺯْﻣ۪ﻰ ﮔُﺬَﺷْﺘَﻦْ ﭼَﺎﺭَﻩﺀِ ﻣَﻦْ ﺍَﺳْﺖْ
Jalan itu ialah melepaskan pula kehendak bebas manusia tersebut, menyerahkan urusannya kepada Kehendak Ilahi, melepaskan sandaran pada daya serta kekuatannya sendiri, lalu berlindung pada Daya serta Kekuatan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq dan berpegang teguh pada hakikat tawakal. Wahai Rabb! Karena inilah jalan keselamatan, di jalan-Mu aku melepaskan kehendak bebas manusia itu dan berlepas dari ananiyahku.
ﺗَﺎ ﻋِﻨَﺎﻳَﺖِ ﺗُﻮ ﺩَﺳْﺘْﮕ۪ﻴﺮِ ﻣَﻦْ ﺷَﻮَﺩْ ﺭَﺣْﻤَﺖِ ﺑ۪ﻰ ﻧِﻬَﺎﻳَﺖِ ﺗُﻮﭘَﻨَﺎﻩِ ﻣَﻦْ ﺍَﺳْﺖْ
Agar Pertolongan-Mu memegang tanganku, dengan Kasih Sayang terhadap ketidakberdayaan serta kelemahanku. Agar Rahmat-Mu juga berbelas kasih terhadap keadaan serba kurang serta kebutuhanku, menjadi tempat sandaran bagiku, serta membuka Pintu-Mu kepadaku.
ﺍٰﻥْ ﻛَﺲْ ﻛِﻪ ﺑَﺤْﺮِ ﺑ۪ﻰ ﻧِﻬَﺎﻳَﺖِ ﺭَﺣْﻤَﺖْ ﻳَﺎﻓْﺖْ ﺍَﺳْﺖْ ﺗَﻜْﻴَﻪ ﻧَﻪ ﻛُﻨَﺪْ ﺑَﺮْ ﺍ۪ﻳﻦْ ﺟُﺰْﺀِ ﺍِﺧْﺘِﻴَﺎﺭ۪ﻯ ﻛِﻪ ﻳَﻚْ ﻗَﻄْﺮَﻩ ﺳَﺮَﺍﺑَﺴْﺖْ
Ya, siapa pun yang menemukan lautan Rahmat yang tanpa batas, tentu tidak akan percaya pada kehendak bebas manusia yang dimilikinya, yang seperti setetes fatamorgana, tidak akan meninggalkan Rahmat lalu mencari pertolongan padanya.
ﺍَﻳْﻮَﺍﻩْ ﺍ۪ﻳﻦْ ﺯِﻧْﺪِﮔَﺎﻧ۪ﻰ ﻫَﻢْ ﭼُﻮ ﺧَﺎﺑَﺴْﺖْ ﻭ۪ﻳﻦْ ﻋُﻤْﺮ۪ ﺑ۪ﻰ ﺑُﻨْﻴَﺎﺩْ ﻫَﻢْ ﭼُﻮ ﺑَﺎﺩَﺳْﺖْ
Aduhai! Kita telah tertipu. Kita mengira kehidupan dunia ini tetap. Karena anggapan itu, kita menyia-nyiakannya sama sekali.
Ya, perjalanan hidup ini adalah tidur; ia berlalu seperti mimpi. Umur yang tidak berdasar ini pun terbang dan pergi seperti angin.
ﺍِﻧْﺴَﺎﻥْ ﺑَﺰَﻭَﺍﻝْ ﺩُﻧْﻴَﺎ ﺑَﻔَﻨَﺎ ﺍَﺳْﺖْ ﺍٰﻣَﺎﻝْ ﺑ۪ﻰ ﺑَﻘَﺎ اٰلَامْ ﺑَﺒَﻘَﺎ ﺍَﺳْﺖْ
Manusia sombong yang percaya pada dirinya sendiri serta menganggap dirinya abadi pasti akan lenyap. Ia pergi dengan cepat. Adapun dunia, rumah manusia, jatuh ke dalam gelap ketika tidak ada. Harapan-harapan tidak kekal, sedangkan derita-derita tetap tinggal dalam ruh.
ﺑِﻴَﺎ ﺍَﻯْ ﻧَﻔْﺲِ ﻧَﺎﻓَﺮْﺟَﺎﻡْ ﻭُﺟُﻮﺩِ ﻓَﺎﻧ۪ﻰ ﺧُﻮﺩْﺭَﺍ ﻓَﺪَﺍ ﻛُﻦْ ﺧَﺎﻟِﻖِ ﺧُﻮﺩْﺭَﺍ ﻛِﻪ ﺍ۪ﻳﻦْ ﻫَﺴْﺘ۪ﻰ ﻭَﺩ۪ﻳﻌَﻪ ﻫَﺴْﺖْ
Karena hakikatnya demikian, marilah, wahai nafsuku yang malang, yang sangat merindukan kehidupan, sangat menginginkan umur, sangat mencintai dunia, serta terikat pada harapan dan derita tanpa batas! Bangunlah dan sadarlah! Sebagaimana kunang-kunang percaya pada cahaya kecilnya sendiri dan tetap berada dalam gelap malam yang tanpa batas, lebah madu tidak percaya pada dirinya sendiri, sehingga menemukan matahari siang. Ia menyaksikan seluruh bunga yang menjadi sahabatnya disepuh oleh cahaya matahari. Demikian pula, jika engkau bersandar pada dirimu, wujudmu, serta ananiyahmu, engkau menjadi seperti kunang-kunang. Jika engkau mengorbankan wujudmu yang fana di jalan Sang Khâliq yang memberikan wujud itu kepadamu, engkau menjadi seperti lebah madu. Engkau menemukan cahaya wujud yang tanpa batas. Korbankanlah pula wujudmu.
Sebab, wujud ini merupakan titipan serta amanah padamu.
ﻭَ ﻣُﻠْﻚِ ﺍُﻭ ﻭَ ﺍُﻭ ﺩَﺍﺩَﻩ ﻓَﻨَﺎ ﻛُﻦْ ﺗَﺎ ﺑَﻘَﺎ ﻳَﺎﺑَﺪْ ﺍَﺯْ ﺍٰﻥْ ﺳِﺮِّﻯ ﻛِﻪ ، ﻧَﻔْﻰِ ﻧَﻔْﻰْ ﺍِﺛْﺒَﺎﺕْ ﺍَﺳْﺖْ
Wujud itu milik-Nya, dan Dia pula yang memberikannya. Karena itu, tanpa merasa telah berjasa dan tanpa ragu, jadikanlah fana, korbankanlah, agar menjadi kekal. Sebab, peniadaan atas peniadaan adalah penegasan. Yakni, jika yang tidak ada tidak ada, ia ada. Jika yang tidak ada menjadi tidak ada, ia menjadi ada.
ﺧُﺪَﺍﻯِ ﭘُﺮْﻛَﺮَﻡْ ﺧُﻮﺩْ ﻣُﻠْﻚِ ﺧُﻮﺩْﺭَﺍ ﻣ۪ﻰ ﺧَﺮَﺩْ ﺍَﺯْ ﺗُﻮ ﺑَﻬَﺎﻯِ ﺑ۪ﻰ ﮔِﺮَﺍﻥْ ﺩَﺍﺩَﻩ ﺑَﺮَﺍﻯِ ﺗُﻮ ﻧِﮕَﺎﻩْ ﺩَﺍﺭَﺳْﺖْ
Sang Khâliq Yang Mahamulia membeli milik-Nya sendiri darimu. Dia memberikan harga yang besar seperti surga. Dia juga menjaga milik itu dengan baik untukmu serta meninggikan nilainya. Dia akan memberikannya lagi kepadamu dalam bentuk yang kekal sekaligus sempurna. Karena itu, wahai nafsuku! Jangan berhenti sedikit pun. Lakukan perdagangan dengan lima keuntungan yang terdapat di dalam satu sama lain ini. Agar engkau selamat dari lima kerugian serta memperoleh lima keuntungan sekaligus.
--
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺍَﻓَﻞَ ﻗَﺎﻝَ لَٓا ﺍُﺣِﺐُّ الْاٰفِل۪ينَ ﻟَﻘَﺪْ ﺍَﺑْﻜَﺎﻧ۪ﻰ ﻧَﻌْﻰُ
(
لَٓا ﺍُﺣِﺐُّ الْاٰفِل۪ينَ
)
ﻣِﻦْ ﺧَﻠ۪ﻴﻞِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ
Seruan dukacita
لَٓا ﺍُﺣِﺐُّ الْاٰفِل۪ينَ
yang keluar dari Ibrahim Aleyhisselâm dan mengumumkan lenyap serta matinya kainat membuatku menangis.
ﻓَﺼَﺒَّﺖْ ﻋَﻴْﻦُ ﻗَﻠْﺒ۪ﻰ ﻗَﻄَﺮَﺍﺕٍ ﺑَﺎﻛِﻴَﺎﺕٍ ﻣِﻦْ ﺷُﺌُﻮﻥِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ
Karena itu, mata hati menangis serta menumpahkan tetesan-tetesan air mata. Sebagaimana mata hati menangis, setiap tetes yang ditumpahkannya pun begitu sedih, sehingga membuat orang menangis. Seakan-akan tetes itu sendiri pun menangis. Tetesan-tetesan itu ialah potongan-potongan dalam bahasa Persia berikut.
ﻟِﺘَﻔْﺴ۪ﻴﺮِ كَلَامٍ ﻣِﻦْ ﺣَﻜ۪ﻴﻢٍ ﺍَﻯْ ﻧَﺒِﻰٍّ ﻓ۪ﻰ كَلَامِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ
Tetesan-tetesan ini merupakan sejenis tafsir atas perkataan dalam Kalam Allah سُبْحَانَهُ dari seorang bijak Ilahi yang merupakan nabi.
ﻧَﻤ۪ﻰ ﺯ۪ﻳﺒَﺎﺳْﺖْ ﺍُﻓُﻮﻟْﺪَﻩ ﮔُﻢْ ﺷُﺪَﻥْ ﻣَﺤْﺒُﻮﺏْ
Tidak indah kekasih yang menghilang dengan terbenam. Sebab, yang pasti akan lenyap tidak dapat benar-benar indah. Ia tidak dicintai dan tidak seharusnya dicintai dengan hati yang diciptakan untuk cinta abadi serta merupakan cermin Allah سُبْحَانَهُ Yang Shamad.
ﻧَﻤ۪ﻰ ﺍَﺭْﺯَﺩْ ﻏُﺮُﻭﺑْﺪَﻩ ﻏَﻴْﺐْ ﺷُﺪَﻥْ ﻣَﻄْﻠُﻮﺏْ
Sesuatu yang dicari, yang pasti akan menghilang ketika terbenam, tidak layak membuat hati terikat padanya serta pikiran menaruh perhatian padanya. Tidak dapat menjadi tempat harapan.
Tidak layak disesali dengan duka dan sedih setelah ia pergi. Apalagi hati memujanya, melekat padanya, dan tetap demikian.
ﻧَﻤ۪ﻰ ﺧَﻮﺍﻫَﻢْ ﻓَﻨَﺎﺩَﻩ ﻣَﺤْﻮْ ﺷُﺪَﻥْ ﻣَﻘْﺼُﻮﺩْ
Tujuan yang musnah ketika lenyap tidak kuinginkan. Sebab, aku fana; aku tidak menginginkan yang fana. Untuk apa?
ﻧَﻤ۪ﻰ ﺧَﻮﺍﻧَﻢْ ﺯَﻭَﺍﻟْﺪَﻩ ﺩَﻓْﻦْ ﺷُﺪَﻥْ ﻣَﻌْﺒُﻮﺩْ
Sesuatu yang disembah dan terkubur ketika lenyap, tidak kupanggil dan tidak kujadikan tempat berlindung. Sebab, kebutuhanku tanpa batas dan aku tidak berdaya. Yang tidak berdaya tidak dapat menemukan obat bagi derita-deritaku yang sangat besar. Tidak dapat mengoleskan salep pada luka-lukaku yang abadi. Bagaimana yang tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri dari lenyap dapat menjadi yang disembah?
ﻋَﻘْﻞْ ﻓَﺮْﻳَﺎﺩْ ﻣ۪ﻰ ﺩَﺍﺭَﺩْ ﻧِﺪَٓﺍﺀِ
(
لَٓا ﺍُﺣِﺐُّ الْاٰفِل۪ينَ
) ﻣ۪ﻰ ﺯَﻧَﺪْ ﺭُﻭﺣَﻢْ Ya, akal yang melekat pada hal-hal lahir berseru dengan putus asa ketika melihat lenyapnya hal-hal yang dipujanya dalam kainat yang kacau ini. Ruh yang mencari kekasih yang kekal juga menyuarakan seruan
لَٓا ﺍُﺣِﺐُّ الْاٰفِل۪ينَ
.
ﻧَﻤ۪ﻰ ﺧَﻮﺍﻫَﻢْ ﻧَﻤ۪ﻰ ﺧَﻮﺍﻧَﻢْ ﻧَﻤ۪ﻰ ﺗَﺎﺑَﻢْ ﻓِﺮَﺍﻗ۪ﻰ
Aku tidak menginginkan, tidak merindukan, dan tidak sanggup menanggung perpisahan.
ﻧَﻤ۪ﻰ ﺍَﺭْﺯَﺩْ ﻣَﺮَﺍﻗَﻪ ﺍ۪ﻳﻦْ ﺯَﻭَﺍﻝْ ﺩَﺭْ ﭘَﺲْ تَلَاق۪ى
Pertemuan-pertemuan yang segera menjadi pahit karena lenyap tidak layak mendapat duka serta kecemasan. Sama sekali tidak layak dirindukan.
Sebab, sebagaimana hilangnya kesenangan merupakan derita, membayangkan hilangnya kesenangan pun merupakan derita. Seluruh kumpulan puisi para pencinta majasi, yakni kitab-kitab bersajak yang merupakan tulisan cinta mereka, masing-masing merupakan seruan dari derita yang datang karena membayangkan lenyap ini. Jika engkau memeras jiwa seluruh kumpulan syair masing-masing, akan menetes suatu seruan yang penuh derita.
ﺍَﺯْ ﺍٰﻥْ ﺩَﺭْﺩِﻯ ﮔِﺮ۪ﻳﻦِ
(
لَٓا ﺍُﺣِﺐُّ الْاٰفِل۪ينَ
) ﻣ۪ﻰ ﺯَﻧَﺪْ ﻗَﻠْﺒَﻢْ Karena derita serta musibah dari pertemuan-pertemuan yang diliputi lenyap dan cinta-cinta majasi (cinta kiasan) yang menyakitkan itulah hatiku menangis serta berseru, seperti Ibrahim, dengan tangisan
لَٓا ﺍُﺣِﺐُّ الْاٰفِل۪ينَ
.
ﺩَﺭْ ﺍ۪ﻳﻦْ ﻓَﺎﻧ۪ﻰ ﺑَﻘَﺎ ﺧَﺎﺯ۪ﻯ ﺑَﻘَﺎ ﺧ۪ﻴﺰَﺩْ ﻓَﻨَﺎﺩَﻥْ
Jika engkau menginginkan yang kekal dalam dunia fana ini, yang kekal muncul dari yang fana. Jadilah fana dari segi nafsu ammarah, agar engkau menjadi kekal.
ﻓَﻨَﺎ ﺷُﺪْ ﻫَﻢْ ﻓَﺪَﺍ ﻛُﻦْ ﻫَﻢْ ﻋَﺪَﻡْ ﺑ۪ﻴﻦْ ﻛِﻪ ﺍَﺯْ ﺩُﻧْﻴَﺎ ﺑَﻘَﺎﻳَﻪ ﺭَﺍﻩْ ﻓَﻨَﺎﺩَﻥْ
Lepaskan diri dari akhlak-akhlak buruk yang menjadi dasar memuja dunia; jadilah fana. Korbankanlah benda-benda dalam lingkup milik serta hartamu di jalan Sang Kekasih Yang Hakiki. Lihatlah akhir makhluk-makhluk yang tampak seperti tidak ada. Sebab, jalan dari dunia ini menuju yang kekal melewati yang fana.
ﻓِﻜِﺮْ ﻓ۪ﻴﺰَﺍﺭْ ﻣ۪ﻰ ﺩَﺍﺭَﺩْ ﺍَﻧ۪ﻴﻦِ
(
لَٓا ﺍُﺣِﺐُّ الْاٰفِل۪ينَ
)
ﻣ۪ﻰ ﺯَﻧَﺪْ ﻭِﺟْﺪَﺍﻥْ
Pikiran manusia yang tenggelam dalam asbab menjadi bingung karena guncangan lenyapnya dunia ini dan meratap dengan putus asa. Hati nurani yang menginginkan wujud sejati, dengan rintihan
لَٓا ﺍُﺣِﺐُّ الْاٰفِل۪ينَ
seperti Ibrahim, memutus ikatan dengan kekasih-kekasih majasi serta makhluk-makhluk yang akan lenyap, lalu melekat pada Zat yang benar-benar ada serta Sang Kekasih Yang Mahakekal.
ﺑِﺪَﺍﻥْ ﺍَﻯْ ﻧَﻔْﺲِ ﻧَﺎﺩَﺍﻧَﻢْ ﻛِﻪ ﺩَﺭْ ﻫَﺮْ ﻓَﺮْﺩْ ﺍَﺯْ ﻓَﺎﻧ۪ﻰ ﺩُﻭ ﺭَﺍﻩْ ﻫَﺴْﺖْ ﺑَﺎ ﺑَﺎﻗ۪ﻰ ﺩُﻭ ﺳِﺮِّ ﺟَﺎﻥِ ﺟَﺎﻧَﺎﻧ۪ﻰ
Wahai nafsuku yang tidak tahu! Ketahuilah, sekalipun dunia serta segala yang ada fana, dalam setiap hal yang fana engkau dapat menemukan dua jalan yang membawa kepada Yang Kekal, serta melihat dua kilatan dan dua rahasia dari Tajalli Keindahan Sang Kekasih yang tidak pernah sirna, yang menjadi Jiwa sang kekasih. Dengan syarat engkau dapat melepaskan bentuk yang fana serta dirimu sendiri...
ﻛِﻪ ﺩَﺭْ ﻧِﻌْﻤَﺘْﻬَﺎ ﺍِﻧْﻌَﺎﻡْ ﻫَﺴْﺖْ ﻭَ ﭘَﺲْ ﺍٰﺛَﺎﺭْﻫَﺎ ﺍَﺳْﻤَﺎ ﺑِﮕ۪ﻴﺮْ ﻣَﻐْﺰ۪ﻯ ﻭَ ﻣ۪ﻴﺰَﻥْ ﺩَﺭْ ﻓَﻨَﺎ ﺍٰﻥْ ﻗِﺸْﺮِ ﺑ۪ﻰ ﻣَﻌْﻨَﺎ
Ya, dalam nikmat tampak Pemberian Nikmat; Perhatian Sang Rahmân terasa. Jika engkau beralih dari nikmat kepada Pemberian Nikmat, engkau menemukan Mun'im (Pemberi Nikmat). Setiap karya Allah سُبْحَانَهُ Yang Shamad pun, seperti sebuah surat, memberitahukan Asma Sang Pembuat Dzul-Jalâl.
Jika engkau beralih dari corak kepada makna, melalui Asma engkau menemukan Musamma. Karena engkau dapat menemukan inti serta bagian dalam ciptaan-ciptaan yang fana ini, perolehlah itu. Kulitnya yang tidak bermakna dapat engkau lemparkan tanpa rasa sayang ke dalam arus yang melenyapkan.
ﺑَﻠ۪ﻰ ﺍٰﺛَﺎﺭْﻫَﺎ ﮔُﻮﻳَﻨْﺪْ ﺯِﺍَﺳْﻤَﺎ ﻟَﻔْﻆِ ﭘُﺮْ ﻣَﻌْﻨَﺎ ﺑِﺨَﺎﻥْ ﻣَﻌْﻨَﺎ ﻭَ ﻣ۪ﻴﺰَﻥْ ﺩَﺭْ ﻫَﻮَﺍ ﺍٰﻥْ ﻟَﻔْﻆِ ﺑ۪ﻰ ﺳَﻮْﺩَﺍ
Ya, tidak ada satu pun karya dalam ciptaan yang bukan kata berwujud dengan banyak makna; tidak ada satu pun yang tidak membuat orang membaca banyak Asma Sang Pembuat Dzul-Jalâl. Karena ciptaan-ciptaan ini merupakan kata-kata, kalimat-kalimat Kudrat, bacalah maknanya dan letakkan dalam hatimu. Lemparkan tanpa ragu kata-kata yang tidak lagi bermakna itu ke udara yang melenyapkan. Jangan memandang mereka dengan hati yang terikat lalu menyibukkan diri di belakang mereka.
ﻋَﻘْﻞْ ﻓَﺮْﻳَﺎﺩْ ﻣ۪ﻰ ﺩَﺍﺭَﺩْ ﻏِﻴَﺎﺙِ
(
لَٓا ﺍُﺣِﺐُّ الْاٰفِل۪ينَ
)
ﻣ۪ﻴﺰَﻥْ ﺍَﻯْ ﻧَﻔْﺴَﻢْ
Akal duniawi yang memuja hal-hal lahir, yang modalnya hanya pengetahuan tentang hal-hal di luar dirinya, berseru dengan putus asa karena kebingungan serta kegagalannya, sebab rangkaian pikiran seperti ini akhirnya menuju tidak ada sama sekali. Ia mencari jalan lurus menuju hakikat.
Karena ruh telah menarik diri dari hal-hal yang terbenam serta lenyap, hati telah melepaskan kekasih-kekasih majasi, dan hati nurani telah memalingkan wajah dari yang fana, engkau pun, wahai nafsuku yang tidak berdaya, serukanlah permohonan pertolongan
لَٓا ﺍُﺣِﺐُّ الْاٰفِل۪ينَ
seperti Ibrahim, lalu selamatlah.
ﭼِﻪ ﺧُﻮﺵْ ﮔُﻮﻳَﺪْ ﺍُﻭ ﺷَﻴْﺪَﺍ ﺟَﺎﻣ۪ﻰ ﻋِﺸْﻖْ ﺧُﻮﻯْ
Seakan-akan fitrahnya diolah dengan cinta, Maulana Jami yang mabuk oleh piala cinta, untuk memalingkan wajah dari yang banyak kepada Keesaan, lihatlah betapa indahnya ia berkata:
ﻳَﻜ۪ﻰ ﺧَﻮﺍﻩْ ﻳَﻜ۪ﻰ ﺧَﻮﺍﻥْ ﻳَﻜ۪ﻰ ﺟُﻮﻯْ ﻳَﻜ۪ﻰ ﺑ۪ﻴﻦْ ﻳَﻜ۪ﻰ ﺩَﺍﻥْ ﻳَﻜ۪ﻰ ﮔُﻮﻯْ
. {(Catatan kaki): Hanya baris ini merupakan perkataan Maulana Jami.} 1 - Yakni, inginkan hanya Yang Satu; yang lain tidak layak diinginkan. 2 - Panggillah Yang Satu; yang lain tidak datang memberi pertolongan. 3 - Carilah Yang Satu; yang lain tidak layak. 4 - Lihatlah Yang Satu; yang lain tidak tampak setiap saat, tersembunyi di balik tirai lenyap. 5 - Kenalilah Yang Satu; pengetahuan lain yang tidak membantu makrifat kepada-Nya tidak bermanfaat. 6 - Bicarakanlah Yang Satu; kata-kata yang tidak berkaitan dengan-Nya dapat dianggap tidak berguna.
ﻧَﻌَﻢْ ﺻَﺪَﻗْﺖَ ﺍَﻯْ ﺟَﺎﻣ۪ﻰ ٭ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻤَﻄْﻠُﻮﺏُ ٭ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻤَﺤْﺒُﻮﺏُ ٭ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻤَﻘْﺼُﻮﺩُ ٭ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻤَﻌْﺒُﻮﺩُ
Ya, Jami, engkau berkata sangat benar. Kekasih Sejati, Yang benar-benar dicari, Tujuan Sejati, serta Ma'bûd Sejati hanyalah Dia.
ﻛِﻪ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮ ﺑَﺮَﺍﺑَﺮْ ﻣ۪ﻴﺰَﻧَﺪْ ﻋَﺎﻟَﻢْ
Sebab, alam ini dengan seluruh yang ada, dengan bahasa-bahasa yang berbeda serta nada-nada yang berlainan, bersama-sama mengucapkan "Lâ ilahe illâ Hu" dalam lingkaran besar zikir Ilahi, dan bersaksi atas Keesaan-Nya. Alam ini mengoleskan salep pada luka yang dibuka oleh
لَٓا ﺍُﺣِﺐُّ الْاٰفِل۪ينَ
, serta memperlihatkan Sang Kekasih yang tidak pernah sirna sebagai ganti kekasih-kekasih majasi yang ikatannya telah diputus.
--
[Sekitar dua puluh lima tahun lalu, di Bukit Yusha di Selat Bosporus, Istanbul, ketika aku memutuskan untuk meninggalkan dunia, beberapa sahabat pentingku datang untuk mengembalikanku ke dunia serta keadaanku yang lama. Aku berkata, "Biarkan aku sampai besok; aku akan melakukan istikharah." Pada pagi hari, dua gambaran ini terlintas dalam hatiku. Keduanya menyerupai puisi, tetapi bukan puisi. Demi menghormati kenangan yang diberkahi itu, aku tidak mengubahnya. Keduanya dipelihara sebagaimana munculnya.
Sebelumnya dilampirkan pada akhir Kalimat Kedua Puluh Tiga. Karena sesuai dengan bagian ini, dipindahkan ke sini.]