Kalimat Kedua Belas
Belas
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﺆْﺕَ ﺍﻟْﺤِﻜْﻤَﺔَ ﻓَﻘَﺪْ ﺍُﻭﺗِﻰَ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻛَﺜ۪ﻴﺮًﺍ
DASAR KEDUA
Perbandingan pendidikan akhlak yang diberikan Hikmah Al-Qur'an Al-Hakîm bagi kehidupan pribadi dengan pelajaran yang diberikan hikmah filsafat: Seorang murid filsafat yang murni ialah seorang Firaun. Namun, ia merupakan Firaun yang hina, yang menyembah hal paling rendah demi kepentingannya. Ia menganggap setiap hal yang bermanfaat sebagai "Rab" bagi dirinya. Murid yang tanpa agama itu juga pembangkang dan keras kepala. Namun, ia merupakan pembangkang yang malang, yang menerima kehinaan paling besar demi suatu kenikmatan. Ia merupakan orang keras kepala yang rendah, yang memperlihatkan kehinaan dengan mencium kaki orang-orang seperti setan demi suatu keuntungan yang hina. Murid yang tanpa agama itu juga penindas yang sombong. Namun, karena tidak menemukan tempat bersandar dalam hatinya, ia merupakan penindas yang membanggakan dirinya, sementara dirinya sendiri sangat tidak berdaya. Murid itu juga memuja keuntungan dan hanya memikirkan dirinya. Ia merupakan orang licik yang mementingkan diri, yang seluruh usahanya hanya bertujuan memuaskan keinginan nafsu, perut, serta kemaluannya, dan mencari kepentingan pribadinya di dalam sebagian kepentingan bangsanya. Adapun murid yang murni dari Hikmah Al-Qur'an ialah seorang hamba.
Namun, ia merupakan hamba yang mulia, yang tidak merendahkan diri untuk menyembah bahkan makhluk paling agung, serta tidak menerima sesuatu yang merupakan keuntungan paling besar, seperti surga, sebagai tujuan ibadah. Murid sejatinya juga rendah hati, berhati lurus, dan lembut. Namun, ia tidak memilih untuk merendahkan diri kepada selain Fâthir-nya di luar lingkup Izin-Nya. Ia juga tak mampu mencukupi dirinya dan lemah; ia mengetahui keadaan tersebut. Namun, ia kaya dengan kekayaan akhirat yang disimpan Sang Mâlik Yang Karîm baginya, serta kuat karena bersandar pada Kudrat Tuannya yang tidak terbatas. Ia beramal dan bekerja semata-mata demi Allah سُبْحَانَهُ, demi Rida Allah سُبْحَانَهُ dan kebajikan. Pendidikan yang diberikan kedua hikmah ini dapat dipahami melalui perbandingan kedua murid itu.
DASAR KETIGA
Pendidikan yang diberikan hikmah filsafat serta Hikmah Al-Qur'an bagi kehidupan sosial umat manusia: Hikmah filsafat menerima "kekuatan" sebagai tempat bersandar dalam kehidupan sosial. Ia menganggap "keuntungan" sebagai tujuan. Ia mengakui "pertarungan" sebagai aturan hidup. Ia menjadikan "rasialisme dan nasionalisme negatif" sebagai ikatan kelompok-kelompok. Hasilnya ialah "memuaskan keinginan nafsu dan menambah kebutuhan manusia". Padahal, sifat kekuatan ialah melanggar batas. Keuntungan tidak cukup bagi setiap keinginan, sehingga sifatnya ialah membuat orang saling bergumul untuk mendapatkannya. Sifat aturan pertarungan ialah saling berbenturan. Karena sifat rasialisme ialah mencari makan dengan menelan yang lain, sifatnya ialah melanggar batas. Karena hikmah inilah kebahagiaan manusia telah dirampas. Adapun Hikmah Al-Qur'an menerima "kebenaran" sebagai tempat bersandar, sebagai ganti kekuatan. Dalam tujuan, sebagai ganti keuntungan, ia menerima "kebajikan dan Rida Allah" سُبْحَانَهُ. Dalam kehidupan, sebagai ganti aturan pertarungan, ia menjadikan "aturan saling membantu" sebagai dasar. Dalam ikatan kelompok-kelompok, sebagai ganti rasialisme dan nasionalisme, ia menerima "ikatan agama, golongan, dan tanah air".
Tujuan-tujuannya ialah menghalangi keinginan nafsu yang melanggar batas, mendorong ruh kepada hal-hal luhur dan memuaskan perasaannya yang mulia, serta mengarahkan manusia kepada kesempurnaan manusiawi dan menjadikannya manusia. Sifat kebenaran ialah kesepakatan. Sifat kebajikan ialah saling mendukung. Sifat aturan saling membantu ialah bergegas menolong satu sama lain. Sifat agama ialah persaudaraan dan saling tertarik. Sifat mengekang serta mengikat nafsu, dan membebaskan ruh dengan melecutnya menuju kesempurnaan, ialah kebahagiaan di kedua negeri.
--
BAGIAN KEDUA KALIMAT KETIGA BELAS
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ
[Suatu percakapan dengan beberapa pemuda yang berada di tengah godaan memikat dan belum kehilangan akal.]
Beberapa pemuda meminta pertolongan kepada Risale-i Nur untuk menghadapi serangan kesenangan yang melalaikan serta keinginan yang menipu dan memikat pada zaman ini. Mereka bertanya, "Bagaimana kami menyelamatkan akhirat kami?" Atas nama pribadi maknawi (sosok kolektif) Risale-i Nur, saya mengatakan kepada mereka: Kubur itu ada; tidak seorang pun dapat mengingkarinya. Setiap orang akan memasukinya, mau ataupun tidak. Untuk memasukinya, tidak ada jalan selain tiga cara melalui tiga jalan. Jalan pertama: Bagi ahli iman, kubur merupakan pintu menuju alam yang lebih indah daripada dunia ini. Jalan kedua: Bagi mereka yang membenarkan akhirat tetapi mengejar kesenangan terlarang dan berjalan dalam kesesatan, kubur merupakan pintu penjara abadi serta penjara seorang diri, terpisah dari seluruh sahabatnya, dalam tahanan sendirian. Karena ia tidak bertindak sesuai apa yang dilihat, diyakini, dan dipercayainya, ia akan diperlakukan demikian. Jalan ketiga: Bagi orang-orang yang mengingkari dan sesat, yang tidak percaya kepada akhirat, kubur merupakan pintu pemusnahan abadi, yakni tiang gantungan yang akan memusnahkan dirinya serta seluruh yang dicintainya. Karena ia mengetahuinya demikian, sebagai hukumannya ia akan melihat hal yang sama. Kedua kemungkinan ini jelas, tidak memerlukan bukti, dan terlihat oleh mata.
Karena waktu ajal tersembunyi, kematian dapat datang setiap saat untuk memenggal kepala, dan tidak ada perbedaan antara muda dan tua, tentu, di hadapan persoalan begitu besar dan mengerikan yang selalu berada di depan matanya, mencari cara untuk terbebas dari pemusnahan abadi serta penjara seorang diri yang kedalamannya tak berujung dan yang tidak berakhir itu, lalu mengubah pintu kubur baginya menjadi pintu menuju alam yang kekal, kebahagiaan abadi, serta alam cahaya, merupakan persoalan sebesar dunia bagi manusia yang malang itu. Hakikat yang pasti ini hadir melalui ketiga jalan tersebut. Seratus dua puluh empat ribu pemberi kabar yang jujur, yakni para nabi yang memegang mukjizat sebagai tanda pembenaran, memberitakan bahwa ketiga jalan itu membawa kepada ketiga hakikat yang disebutkan tadi. Seratus dua puluh empat juta wali membenarkan serta membubuhkan pengesahan atas berita yang sama dari para nabi melalui penglihatan batin, merasakannya, serta menyaksikannya langsung, dan bersaksi atas hakikat yang sama. Para peneliti yang tidak terhitung membuktikan berita yang sama dari para nabi dan wali itu secara akal, hingga tingkat ilmulyaqin (yakin melalui ilmu), dengan bukti-bukti pasti {(): Salah satunya ialah Risale-i Nur, yang nyata ada.}.
Dengan kemungkinan pasti sebesar sembilan puluh sembilan persen, mereka bersama-sama memberitakan, "Terbebas dari pemusnahan serta penjara abadi, dan mengubah jalan itu menjadi kebahagiaan abadi, hanya melalui iman dan ketaatan." Jika perkataan satu orang pemberi kabar saja diperhatikan agar kita tidak menempuh jalan berbahaya dengan satu persen kemungkinan binasa, dan orang yang tidak mendengarkannya lalu menempuh jalan tersebut kehilangan selera makan karena derita batin dari rasa takut binasa, bagaimana dengan persoalan ini? Ratusan ribu pemberi kabar yang jujur dan telah dibenarkan itu memberitakan, dengan kemungkinan seratus persen, bahwa kesesatan dan sikap mengejar kesenangan terlarang menjadi sebab pasti menuju tiang gantungan kubur serta penjara seorang diri yang abadi di depan mata. Mereka juga memberitakan, dengan kemungkinan seratus persen, bahwa iman dan ubudiyah menghilangkan tiang gantungan itu, menutup penjara seorang diri itu, serta mengubah kubur di depan mata menjadi pintu menuju khazanah yang kekal dan istana kebahagiaan. Mereka memperlihatkan tanda serta hasilnya. Manusia yang malang, terutama seorang Muslim, berada di hadapan persoalan yang menakjubkan, asing, mengerikan, dan besar ini.
Jika ia tidak memiliki iman dan ubudiyah, sekalipun seluruh kekuasaan serta kenikmatan dunia diberikan kepada satu manusia itu, dapatkah semuanya menghilangkan derita pedih dari rasa cemas yang ditimbulkan persoalan di depan mata itu kepada manusia yang menunggu gilirannya dipanggil ke sana setiap saat? Saya bertanya kepada kalian. Karena masa tua, penyakit, musibah, serta kematian di segala penjuru mengorek dan mengingatkan derita mengerikan itu, tentu, sekalipun orang-orang sesat dan yang mengejar kesenangan terlarang mendapat seratus ribu kenikmatan serta kesenangan, neraka maknawi itu tetap hidup dan membakar dalam hatinya. Namun, kebingungan karena kelalaian yang sangat tebal membuatnya sementara tidak merasakan hal itu. Ahli iman yang taat mengetahui bahwa bagi dirinya, kubur yang terlihat di depan mata merupakan pintu menuju khazanah yang kekal serta kebahagiaan yang tidak pernah lenyap. Dengan bukti iman, ia juga telah mendapat tiket yang akan membuatnya memenangkan miliaran keping emas serta intan dari undian Takdir Azali itu. Dari penantiannya akan panggilan setiap saat, "Datanglah, ambil tiketmu!" timbul kenikmatan dan kesenangan batin yang begitu dalam, mendasar, serta sejati. Jika kenikmatan itu berwujud dan benih itu menjadi pohon, ia akan menjadi surga pribadi baginya.
Karena itu, orang yang meninggalkan kenikmatan serta kesenangan yang begitu besar tersebut, lalu karena dorongan masa muda memilih kenikmatan terlarang yang sementara, yang dikejar dengan larut dalam hawa nafsu serta keinginan, yang menyerupai madu beracun bercampur derita tanpa batas, jatuh seratus tingkat di bawah hewan. Ia juga tidak dapat menjadi seperti orang-orang asing yang tanpa agama. Sebab, sekalipun mereka mengingkari seorang nabi, mereka masih dapat mengenal nabi-nabi lain. Sekalipun tidak mengenal para nabi, mereka dapat mengenal Allah سُبْحَانَهُ. Sekalipun tidak mengenal Allah سُبْحَانَهُ, masih dapat terdapat sebagian sifat baik yang menjadi dasar kesempurnaan. Adapun seorang Muslim mengenal para nabi, Rabb-nya, serta seluruh kesempurnaan melalui Muhammad dari bangsa Arab ﷺ. Orang yang meninggalkan pendidikan beliau serta keluar dari ikatannya tidak lagi mengenal seorang nabi pun (A.S.) dan tidak pula mengenal Allah سُبْحَانَهُ. Ia tidak mengetahui dasar apa pun untuk menjaga kesempurnaan dalam ruhnya. Sebab, beliau merupakan nabi terakhir dan paling agung ﷺ; agama serta seruannya ditujukan kepada seluruh umat manusia; beliau unggul atas semuanya dalam mukjizat serta agama; beliau menjadi guru seluruh umat manusia ﷺ dalam seluruh hakikat dan membuktikannya secara cemerlang selama empat belas abad; serta beliau merupakan kebanggaan umat manusia ﷺ.
Orang yang meninggalkan dasar pendidikan serta pokok agama dari pribadi seperti itu tentu tidak dapat menemukan cahaya atau kesempurnaan dari segi mana pun. Ia ditetapkan untuk jatuh sepenuhnya. Wahai orang-orang malang yang kecanduan kesenangan hidup dunia dan berusaha menjamin masa depan serta hidupnya karena cemas akan masa depan! Jika kalian menginginkan kenikmatan, kesenangan, kebahagiaan, serta kenyamanan dunia, cukuplah dengan kesenangan dalam lingkup yang dibenarkan. Itu cukup bagi kesenangan kalian. Tentu dari penjelasan tadi kalian telah memahami bahwa di dalam satu kenikmatan di luar lingkup itu dan di dalam lingkup terlarang terdapat seribu derita. Sebagaimana kejadian masa lampau diperlihatkan saat ini melalui film, jika keadaan masa depan, misalnya keadaan lima puluh tahun mendatang, juga diperlihatkan melalui film, orang-orang yang mengejar kesenangan terlarang akan menangis serta melontarkan ratusan ribu kutukan dan kebencian terhadap hal-hal yang sekarang membuat mereka tertawa. Orang yang menginginkan kegembiraan kekal dan tetap di dunia serta akhirat harus menjadikan pendidikan Muhammad ﷺ dalam lingkup iman sebagai penuntunnya.
--
SUATU TEGURAN, PELAJARAN, DAN PERINGATAN YANG DIBERIKAN KEPADA BEBERAPA PEMUDA MALANG
Pada suatu hari, beberapa pemuda yang cemerlang datang kepada saya. Mereka ingin menerima peringatan yang berpengaruh agar terhindar dari bahaya yang datang dari kehidupan, masa muda, serta keinginan. Saya mengatakan kepada mereka, sebagaimana yang dahulu saya katakan kepada para pemuda yang meminta pertolongan dari Risale-i Nur: Masa muda kalian pasti akan berlalu. Jika kalian tidak tetap berada dalam lingkup yang dibenarkan, masa muda itu akan terbuang dan mendatangkan bencana serta derita yang jauh melebihi kenikmatannya, baik di dunia, di kubur, maupun di akhirat. Jika dengan pendidikan Islam kalian menghabiskannya dalam menjaga kesucian diri, kehormatan, serta ketaatan sebagai rasa syukur atas nikmat masa muda itu, masa muda tersebut akan tetap ada secara maknawi dan menjadi sebab diperolehnya masa muda yang abadi. Adapun kehidupan, jika tidak ada iman atau iman itu tidak berpengaruh karena kedurhakaan, bersama kesenangan serta kenikmatan lahir yang sangat singkat, kehidupan memberi derita, kesedihan, dan dukacita yang ribuan tingkat melebihi kesenangan serta kenikmatan itu. Sebab, berbeda dengan hewan, manusia memiliki akal dan pikiran, sehingga secara fitrah berkaitan dengan masa lampau serta masa depan, selain masa kini. Ia juga dapat menerima derita serta kenikmatan dari kedua masa itu.
Adapun hewan, karena tidak memiliki pikiran, kenikmatannya saat ini tidak dirusak oleh kesedihan dari masa lampau serta rasa takut dan cemas dari masa depan. Jika manusia jatuh dalam kesesatan dan kelalaian, kesedihan dari masa lampau serta kecemasan dari masa depan benar-benar membuat kenikmatannya saat ini yang terbatas itu pahit dan merusaknya. Khususnya jika terlarang, kenikmatan itu sepenuhnya seperti madu beracun. Jadi, dari segi kenikmatan hidup, ia jatuh seratus tingkat di bawah hewan. Bahkan kehidupan orang yang sesat dan lalai, keberadaannya, serta kainatnya, hanyalah hari yang sedang dijalaninya. Dari sudut kesesatannya, seluruh masa lampau serta kainat-kainat tidak ada dan telah mati. Melalui hubungan akal dengan semuanya, hal itu membuat hidupnya gelap dan suram. Masa-masa mendatang juga tidak ada karena ia tidak memiliki keyakinan. Perpisahan-perpisahan abadi yang timbul akibat keadaan tidak ada itu terus-menerus membuat hidupnya gelap melalui jalan pikirannya. Jika iman menjadi kehidupan bagi hidupnya, masa lampau serta masa depan diterangi oleh cahaya iman dan memperoleh wujud. Seperti masa kini, dari sudut iman kedua masa itu memberi ruh serta hatinya kenikmatan-kenikmatan maknawi yang luhur dan cahaya-cahaya keberadaan. Hakikat ini dijelaskan dalam Harapan Ketujuh pada İhtiyar Risalesi (Risalah Lanjut Usia); kalian harus membacanya. Demikianlah kehidupan.
Jika kalian menginginkan kenikmatan dan kesenangan hidup, hidupkanlah kehidupan kalian dengan iman, hiasilah dengan kewajiban-kewajiban agama, serta jagalah dengan menjauhi dosa. Hakikat kematian yang mengerikan, yang diperlihatkan oleh kematian setiap hari, di setiap tempat, dan setiap saat, saya jelaskan kepada kalian melalui suatu perumpamaan, seperti yang saya katakan kepada pemuda-pemuda lain: Misalnya, di sini telah didirikan suatu tiang gantungan di depan mata kalian. Di sampingnya ada suatu kantor undian, tetapi kantor itu memberikan tiket hadiah yang sangat besar. Kita sepuluh orang di sini, bagaimanapun, mau ataupun tidak, tanpa ada cara lain, akan diundang ke sana; mereka akan memanggil kita. Waktu panggilan itu tersembunyi. Karena itu, setiap menit kita menunggu mereka mengatakan, "Datanglah, ambil tiket pemusnahanmu, naiklah ke tiang gantungan!" atau, "Datanglah, engkau mendapat tiket hadiah yang menghasilkan jutaan keping emas; datanglah, ambil!" Tiba-tiba dua orang datang ke pintu. Yang satu ialah seorang wanita cantik, menipu, dan setengah telanjang, membawa halwa (manisan) yang tampak sangat manis tetapi beracun. Ia ingin membuat kita memakannya. Yang lain ialah seorang pria serius, yang tidak menipu dan tidak tertipu. Ia masuk setelah wanita itu dan mengatakan, "Saya membawa suatu rahasia, suatu pelajaran kepada kalian.
Jika kalian membacanya dan tidak memakan halwa itu, kalian terbebas dari tiang gantungan tersebut. Dengan rahasia ini, kalian mendapat tiket hadiah yang tiada bandingnya itu. Kalian sudah melihat dengan mata sendiri bahwa orang-orang yang memakan madu masuk ke tiang gantungan ini, dan sebelum sampai ke sana mereka menderita sakit perut yang mengerikan karena racun halwa itu. Memang, orang-orang yang mendapat tiket hadiah besar tidak terlihat, dan secara lahir mereka pun tampak naik ke tiang gantungan itu. Namun, jutaan saksi memberitakan bahwa mereka tidak digantung, melainkan menjadikannya tangga untuk masuk dengan mudah ke kantor hadiah. Pandanglah dari jendela-jendela. Para pejabat tertinggi serta orang-orang besar yang berkaitan dengan urusan ini mengumumkan dan memberitakan dengan suara tinggi: sebagaimana kalian melihat sendiri orang-orang yang pergi ke tiang gantungan dengan ainulyaqin, ketahuilah dengan pasti seperti siang, tanpa keraguan sedikit pun, bahwa orang-orang yang memiliki rahasia itu mendapat tiket hadiah ini." Seperti perumpamaan ini, kesenangan masa muda yang dikejar dengan larut dalam hawa nafsu dalam lingkup terlarang merupakan madu beracun.
Karena iman telah hilang, padahal iman merupakan tiket serta bukti menuju khazanah yang kekal dan kebahagiaan selamanya, orang itu jatuh ke dalam musibah kematian yang seperti tiang gantungan serta kubur yang menjadi pintu gelap abadi, persis seperti yang tampak secara lahir. Karena ajal tersembunyi, algojo ajal dapat datang setiap saat untuk memenggal kepala, tanpa membedakan muda dan tua. Jika ia meninggalkan keinginan terlarang yang seperti madu beracun itu dan memperoleh iman serta kewajiban-kewajiban agama, yang merupakan rahasia Al-Qur'an, ia akan mendapat tiket khazanah kebahagiaan abadi dari undian ketentuan manusia yang luar biasa. Seratus dua puluh empat ribu nabi, Aleyhimüsselâm, bersama orang-orang yang memiliki kewalian serta mengenal hakikat yang tidak terhitung, bersama-sama memberitakan hal itu dan memperlihatkan hasilnya. Kesimpulannya:
Masa muda akan berlalu. Jika berlalu dengan mengejar kesenangan terlarang, masa muda menghasilkan ribuan bencana serta derita, baik di dunia maupun di akhirat. Jika kalian ingin memahami bahwa pemuda-pemuda seperti itu kebanyakan akan jatuh ke rumah sakit karena penyakit yang disertai kecemasan akibat penyalahgunaan serta pemborosan; ke penjara atau tempat kesengsaraan karena tindakan melampaui batas; serta ke kedai minuman keras karena kesusahan dari derita batin, tanyakanlah kepada rumah sakit, penjara, serta pekuburan. Tentu, sebagaimana dari bahasa keadaan rumah sakit kebanyakan kalian mendengar rintihan serta penyesalan karena penyakit akibat pemborosan dan penyalahgunaan yang didorong masa muda, dari penjara kalian juga kebanyakan akan mendengar penyesalan pemuda-pemuda malang yang menerima tamparan akibat tindakannya dalam lingkup terlarang karena dorongan masa muda yang melampaui batas. Di pekuburan serta alam barzakh, yang pintu-pintunya terus dibuka dan ditutup bagi mereka yang memasukinya, kalian akan mengetahui bahwa kebanyakan azab merupakan hasil penyalahgunaan masa muda. Hal ini berdasarkan pengamatan para ahli kasyaf terhadap alam kubur, serta pembenaran dan kesaksian seluruh orang yang mengenal hakikat. Tanyakanlah pula kepada orang-orang lanjut usia serta orang-orang sakit, yang merupakan sebagian besar umat manusia.
Tentu, sebagian besar dari mereka akan mengatakan dengan penyesalan dan kerinduan, "Aduh, kami telah menyia-nyiakan masa muda dengan percuma, bahkan dengan kerugian. Jangan sekali-kali berbuat seperti kami." Sebab, demi kesenangan terlarang selama lima atau sepuluh tahun masa muda, seseorang menderita duka serta kesedihan selama banyak tahun di dunia, azab serta kerugian di barzakh, dan bencana neraka serta Saqar di akhirat. Sekalipun keadaannya paling menyedihkan, menurut rahasia
ﺍَﻟﺮَّﺍﺿ۪ﻰ ﺑِﺎﻟﻀَّﺮَﺭِ لَا ﻳُﻨْﻈَﺮُ ﻟَﻪُ
ia sama sekali tidak layak dikasihani. Sebab, orang yang memasuki kerugian dengan kerelaannya sendiri tidak dikasihani dan tidak layak menerimanya. Semoga Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq menyelamatkan serta melindungi kami dan kalian dari godaan memikat zaman ini, âmîn...
--
CATATAN KAKI BAGIAN KEDUA KALIMAT KETIGA BELAS
ﺑِﺎﺳْﻤِﻪِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ
Para tahanan sangat membutuhkan penghiburan sejati dalam Risale-i Nur. Khususnya mereka yang terkena pukulan masa muda dan menghabiskan umur yang segar serta manis dalam penjara membutuhkan Nur seperti membutuhkan roti. Ya, naluri masa muda lebih mendengarkan perasaan daripada akal. Perasaan serta keinginan itu buta, tidak melihat akibat. Ia memilih kenikmatan saat ini yang sedikit, sebesar satu dirhem, daripada kenikmatan masa depan yang berlimpah, sebesar satu batman. Demi satu menit kenikmatan membalas dendam, ia membunuh dan menderita delapan puluh ribu jam derita penjara. Demi satu jam menikmati kesenangan terlarang, dalam suatu persoalan kehormatan, kebahagiaan hidupnya hancur karena kesusahan selama ribuan hari akibat penjara serta kecemasan terhadap musuh. Dibandingkan dengan contoh-contoh ini, pemuda-pemuda malang memiliki banyak bahaya yang mengubah hidupnya yang paling manis menjadi hidup yang paling pahit dan menyedihkan. Khususnya, suatu negara besar di utara memanfaatkan keinginan masa muda dan mengguncangkan abad ini dengan badai-badainya. Sebab, bagi pemuda-pemuda yang bertindak dengan perasaan buta tanpa melihat akibat, negara itu membolehkan mereka berhubungan dengan gadis-gadis cantik serta istri-istri orang-orang yang menjaga kehormatan. Bahkan, ia mendorong perbuatan keji ini dengan mengizinkan pria dan wanita masuk bersama dalam keadaan telanjang ke tempat-tempat mandinya.
Ia juga membolehkan harta orang kaya bagi gelandangan serta orang miskin, sehingga seluruh umat manusia gemetar di hadapan musibah ini. Pada abad ini, para pemuda Islam dan Turki sangat perlu bertindak gagah berani dan menghadapi bahaya yang menyerang dari dua arah ini dengan pedang-pedang tajam Risale-i Nur seperti Risalah Buah (Meyve) dan Panduan Pemuda (Gençlik Rehberi). Jika tidak, pemuda malang itu menghancurkan masa depan dunianya, kehidupan bahagianya, serta kebahagiaan akhirat dan hidupnya yang kekal dengan mengubahnya menjadi azab serta derita. Ia jatuh ke rumah sakit karena penyalahgunaan dan sikap mengejar kesenangan terlarang, serta ke penjara karena perasaan yang melampaui batas. Pada masa tua, ia akan banyak menangis dengan keluhan serta penyesalan. Jika ia menjaga dirinya dengan pendidikan Al-Qur'an serta hakikat-hakikat Nur, ia menjadi pemuda yang sungguh gagah berani, manusia yang sempurna, Muslim yang bahagia, serta semacam penguasa bagi makhluk hidup lain dan hewan-hewan. Ya, jika seorang pemuda di penjara memakai hanya satu jam dari dua puluh empat jam hidupnya setiap hari untuk lima salat wajibnya, bertobat pula dari kesalahan yang menyebabkan musibah itu, serta menjauhi dosa-dosa lain yang merugikan dan menyakitkan, sementara penjara telah menghalangi kebanyakan dosa, hal itu memberi manfaat besar bagi kehidupannya, masa depannya, tanah airnya, bangsanya, serta kerabatnya.
Dengan sepuluh hingga lima belas tahun masa muda yang fana itu, ia juga akan memperoleh masa muda yang cemerlang dan abadi. Terutama Al-Qur'an yang ungkapannya bermukjizat, seluruh kitab serta lembaran samawi dengan pasti memberitakan dan menyampaikan kabar gembira ini. Jika ia bersyukur atas nikmat masa muda yang manis dan indah itu dengan tetap lurus dan taat, masa muda tersebut bertambah, tetap kekal, serta menjadi nikmat. Jika tidak, ia menjadi penuh bencana, derita, duka, serta mimpi buruk, lalu berlalu. Hal itu juga membuatnya menjadi gelandangan yang merugikan kerabat, tanah air, serta bangsanya. Jika seorang tahanan dihukum secara zalim, dengan syarat ia menunaikan salat wajib, setiap jamnya menjadi satu hari ibadah. Penjara baginya menjadi tempat menyendiri untuk melatih diri, dan ia dapat termasuk orang-orang saleh yang menyendiri serta masuk ke gua-gua untuk beribadah pada zaman dahulu. Jika ia miskin, lanjut usia, sakit, serta merindukan hakikat-hakikat iman, dengan syarat menunaikan kewajiban dan bertobat, setiap jamnya menjadi dua puluh jam ibadah. Penjara menjadi tempat istirahat baginya, serta tempat kasih sayang, pendidikan, dan pelajaran bagi sahabat-sahabat yang merawatnya dengan belas kasih. Ia dapat lebih menyukai tinggal di penjara itu daripada kebebasan di luar yang kacau dan terkena serangan dosa dari segala penjuru. Ia mendapat pendidikan yang penuh dari penjara.
Saat keluar, ia keluar sebagai orang yang bertobat, berpengalaman, terdidik, serta bermanfaat bagi bangsanya, bukan sebagai pembunuh atau orang yang membalas dendam. Bahkan, beberapa orang yang berkaitan dengan urusan itu, yang melihat orang-orang dalam penjara Denizli menerima pelajaran akhlak yang luar biasa indah dari Nur dalam waktu singkat, mengatakan, "Daripada memenjarakan mereka selama lima belas tahun untuk mendidik, menerima pelajaran Risale-i Nur selama lima belas minggu akan lebih memperbaiki mereka." Karena kematian tidak mati dan ajal tersembunyi serta dapat datang setiap saat; dan karena kubur tidak tertutup, rombongan demi rombongan memasukinya serta menghilang, dan karena hakikat Al-Qur'an memperlihatkan bahwa bagi ahli iman, kematian telah diubah dari pemusnahan abadi menjadi surat pembebasan dari tugas, sedangkan bagi orang-orang sesat dan yang mengejar kesenangan terlarang, seperti yang tampak oleh mata, kematian merupakan pemusnahan abadi serta perpisahan yang tidak pernah berakhir dari seluruh yang dicintai dan seluruh yang ada, tentu, tentu tidak tersisa keraguan bahwa orang paling beruntung ialah orang yang bersyukur dalam kesabaran, mengambil manfaat penuh dari masa penjara dan menerima pelajaran Nur, serta berusaha berkhidmah bagi imannya dan Al-Qur'an dalam lingkup jalan yang lurus. Wahai manusia yang kecanduan kesenangan dan kenikmatan!
Pada usia tujuh puluh lima tahun, melalui ribuan pengalaman, bukti, serta kejadian, saya mengetahui dengan ainulyaqin bahwa kesenangan sejati, kenikmatan tanpa derita, kegembiraan tanpa duka, serta kebahagiaan dalam hidup hanya terdapat dalam iman dan dalam lingkup hakikat-hakikat iman. Jika tidak, dalam satu kenikmatan dunia terdapat banyak derita. Seperti membuat orang memakan sebutir anggur lalu memukulnya sepuluh kali, hal itu menghilangkan kenikmatan hidup. Wahai orang-orang malang yang jatuh dalam musibah penjara! Karena dunia kalian menangis dan kehidupan kalian telah menjadi pahit, berusahalah agar akhirat kalian tidak pula menangis, serta agar kehidupan kalian yang kekal tersenyum dan menjadi manis. Ambillah manfaat dari penjara. Sebagaimana kadang-kadang satu jam berjaga menghadapi musuh dalam keadaan berat dapat menjadi satu tahun ibadah, demikian pula dalam keadaan berat kalian ini, kesulitan satu jam ibadah menjadi banyak jam dan mengubah kesulitan-kesulitan itu menjadi rahmat.
ﺑِﺎﺳْﻤِﻪِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ اَلسَّلَامُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻭَ ﺭَﺣْﻤَﺔُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻭَ ﺑَﺮَﻛَﺎﺗُﻪُ
Saudara-saudaraku yang mulia dan teguh dalam kebenaran! Saya akan menjelaskan penghiburan yang kuat dalam tiga pokok kepada mereka yang jatuh dalam musibah penjara, serta kepada orang-orang yang dengan belas kasih dan setia mengawasi serta membantu mengurus bekal yang datang dari luar untuk mereka. Pokok Pertama: Hari-hari hidup yang berlalu dalam penjara dapat menghasilkan ibadah sebanyak sepuluh hari untuk setiap hari. Dari segi buahnya, jam-jam yang fana dapat diubah menjadi jam-jam yang tetap ada secara maknawi. Hukuman selama lima sampai sepuluh tahun dapat menjadi sarana terbebas dari jutaan tahun penjara abadi. Syarat keuntungan yang sangat besar dan berharga ini bagi ahli iman ialah menunaikan salat wajib, bertobat dari dosa-dosa yang menyebabkan penjara, serta bersyukur dalam kesabaran. Penjara memang menghalangi banyak dosa dan tidak memberi kesempatan baginya. Pokok Kedua: Sebagaimana hilangnya kenikmatan merupakan derita, hilangnya derita juga merupakan kenikmatan. Ya, jika setiap orang memikirkan hari-harinya yang dahulu nikmat dan menyenangkan, ia merasakan derita batin berupa penyesalan serta kerinduan, lalu mengatakan, "Aduh!" Jika ia mengingat hari-harinya yang dahulu penuh musibah dan derita, ia merasakan kenikmatan batin karena semuanya telah berlalu.
Ia mengatakan, "Elhamdülillah, syukur, bencana itu meninggalkan pahalanya dan telah pergi." Ia bernapas dengan gembira. Jadi, satu jam derita yang sementara meninggalkan kenikmatan batin dalam ruh, sedangkan satu jam kenikmatan justru meninggalkan derita. Karena demikianlah hakikatnya; dan karena jam-jam musibah yang telah berlalu, bersama deritanya, tidak ada serta telah lenyap, sedangkan hari-hari bencana mendatang saat ini tidak ada dan tiada, serta tidak ada derita dari yang tidak ada dan tidak datang derita dari sesuatu yang tidak ada, perhatikanlah perumpamaan ini: Jika seseorang, karena kemungkinan lapar dan haus beberapa hari mendatang, terus-menerus memakan roti dan meminum air hari ini dengan maksud itu, betapa gilanya hal tersebut! Demikian pula, memikirkan sekarang jam-jam pedih masa lampau serta masa depan, yang tiada, tidak ada, dan telah lenyap, lalu menunjukkan sikap tidak sabar, serta mengeluh, "Aduh, aduh!" seperti mengadukan Allah سُبْحَانَهُ dan mengabaikan nafsunya sendiri yang penuh kesalahan, merupakan tindakan gila. Jika ia tidak menyebarkan kekuatan kesabarannya ke kanan dan kiri, yakni ke masa lampau serta masa depan, tetapi menghadapkannya kepada jam dan hari saat ini, kekuatan itu sepenuhnya cukup. Kesusahan turun dari sepuluh menjadi satu.
Bahkan, agar ini tidak menjadi keluhan, dalam Madrasah Yusufiyah ketiga ini saya mengalami musibah penuh sakit serta kesusahan jasmani dan maknawi yang tidak pernah saya alami selama hidup, dalam waktu beberapa hari. Khususnya, ketika putus asa karena terhalang dari khidmah Nur, serta kesusahan hati dan ruh menekan saya, Pertolongan Allah سُبْحَانَهُ memperlihatkan hakikat yang disebutkan ini. Saya pun menerima dengan rida penyakit yang menyusahkan serta penjara saya. Sebab, saya bersyukur bahwa bagi orang malang seperti saya yang berada di pintu kubur, menjadikan satu jam yang mungkin berlalu dalam kelalaian menjadi sepuluh jam ibadah merupakan keuntungan besar. Pokok Ketiga: Membantu tahanan dengan khidmah penuh kasih sayang, menyerahkan rezeki yang mereka butuhkan ke tangan mereka, serta mengoleskan penghiburan sebagai obat pada luka-luka maknawinya memberi keuntungan besar melalui sedikit amal. Memberikan makanan yang datang dari luar kepada mereka dicatat dalam buku amal baik penjaga serta orang-orang yang bekerja bersamanya, di dalam dan di luar, sebanyak makanan itu, sebagai sedekah. Khususnya jika penerimanya tertimpa musibah, lanjut usia, sakit, miskin, atau terasing, pahala sedekah maknawi itu bertambah sangat banyak. Syarat keuntungan berharga ini ialah menunaikan salat wajib, agar khidmah tersebut dilakukan demi Allah سُبْحَانَهُ. Syarat lainnya ialah bergegas membantu mereka dengan kesetiaan, kasih sayang, serta kegembiraan, tanpa mengungkit pemberian.
ﺑِﺎﺳْﻤِﻪِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻭَﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪ اَلسَّلَامُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻭَ ﺭَﺣْﻤَﺔُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻭَ ﺑَﺮَﻛَﺎﺗُﻪُ
Wahai kawan-kawanku di penjara dan saudara-saudaraku seagama! Hatiku diingatkan untuk menjelaskan kepada kalian suatu hakikat yang akan menyelamatkan kalian dari azab dunia serta azab akhirat. Hakikat itu ialah: Misalnya, seseorang membunuh saudara atau kerabat orang lain. Satu pembunuhan demi satu menit kenikmatan membalas dendam membuatnya menderita jutaan menit kesusahan hati serta azab penjara. Kerabat korban pun kehilangan kenikmatan hidup serta kesenangan umurnya karena memikirkan balas dendam dan musuh di hadapannya. Ia menderita azab rasa takut serta amarah. Hanya ada satu cara mengatasinya, yakni berdamai dan melakukan perdamaian, sebagaimana diperintahkan Al-Qur'an serta dituntut dan didorong oleh kebenaran, hakikat, manfaat, kemanusiaan, dan Islam. Ya, hakikat serta manfaat ada dalam perdamaian. Sebab, ajal itu satu dan tidak berubah. Korban yang terbunuh itu bagaimanapun tidak akan hidup lebih lama, karena ajal telah datang. Pembunuhnya menjadi perantara Ketetapan Allah سُبْحَانَهُ itu. Jika tidak berdamai, kedua pihak terus menderita azab rasa takut serta balas dendam.
Karena itulah Islam memerintahkan, "Seorang mukmin tidak boleh mendiamkan mukmin lain lebih dari tiga hari." Jika pembunuhan itu tidak berasal dari permusuhan dan niat penuh kebencian, serta seorang munafik menjadi sebab pertikaian tersebut, segera berdamai sangatlah perlu. Jika tidak, musibah kecil itu menjadi besar dan terus berlangsung. Jika mereka berdamai, orang yang membunuh bertobat serta setiap saat berdoa bagi korban, kedua pihak mendapat keuntungan besar dan menjadi seperti saudara. Sebagai ganti satu saudara yang telah pergi, ia mendapat beberapa saudara yang taat beragama. Ia berserah kepada Ketetapan serta Takdir Allah سُبْحَانَهُ dan memaafkan musuhnya. Khususnya, karena mereka telah mendengar pelajaran Risale-i Nur, tentu manfaat serta kenyamanan pribadi dan bersama, serta persaudaraan dalam lingkup Nur, menuntut mereka meninggalkan seluruh sikap saling mendiamkan. Seperti di penjara Denizli, seluruh tahanan yang saling bermusuhan menjadi saudara melalui pelajaran Nur. Mereka menjadi salah satu sebab kami dinyatakan bebas dari tuduhan, bahkan membuat orang-orang yang tanpa agama serta gelandangan mengatakan mengenai para tahanan itu, "Mâşâallah, bârekellah" Para tahanan itu pun dapat bernapas lega sepenuhnya. Saya melihat di sini bahwa karena satu orang, seratus orang menderita kesusahan dan tidak keluar bersama untuk menghirup udara. Hal itu merupakan kezaliman terhadap mereka.
Seorang mukmin yang gagah dan memiliki hati nurani tidak memberi ratusan kerugian kepada ahli iman melalui suatu kesalahan atau keuntungan yang kecil dan terbatas. Jika ia berbuat salah dan menimbulkan kerugian, ia harus segera bertobat.
ﺑِﺎﺳْﻤِﻪِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻭَﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪
Saudara-saudaraku yang baru dan mulia, serta para tahanan lama! Saya telah mendapat keyakinan pasti bahwa, dari segi Pertolongan Allah سُبْحَانَهُ, kalian merupakan salah satu sebab penting kami masuk ke sini. Yakni, dengan penghiburan Nur serta hakikat-hakikat iman, menyelamatkan kalian dari kesusahan musibah penjara ini serta banyak kerugian dunia; menyelamatkan kehidupan kalian yang berlalu dengan duka dan kesedihan yang sia-sia dari keadaan tidak bermanfaat serta terbuang percuma; dan menyelamatkan akhirat kalian dari menangis seperti dunia kalian, lalu memberi kalian penghiburan yang penuh. Karena demikianlah hakikatnya, tentu kalian pun harus menjadi saudara satu sama lain seperti para tahanan Denizli dan murid-murid Nur. Kalian melihat bahwa mereka mengaduk seluruh barang, makanan, roti, serta sup kalian yang datang dari luar, agar tidak masuk sebilah pisau ke tengah kalian dan agar kalian tidak saling menyerang. Para penjaga yang melayani kalian dengan setia mengalami banyak kesulitan. Kalian pun tidak keluar bersama untuk menghirup udara, seakan-akan akan saling menyerang seperti binatang buas dan liar.
Sekarang, kawan-kawan baru yang memiliki naluri gagah berani secara fitrah seperti kalian, dengan keberanian maknawi yang besar pada zaman ini, katakanlah kepada para pengurus, "Sekalipun yang diberikan ke tangan kami adalah senapan Mauser dan revolver, bukan pisau, bahkan sekalipun kami diperintahkan, kami tidak akan menyentuh kawan-kawan malang yang tertimpa musibah seperti kami ini. Sekalipun dahulu kami memiliki seratus permusuhan serta rasa benci, dengan perintah dan petunjuk Al-Qur'an, iman, persaudaraan Islam, serta manfaat kami, kami telah memutuskan untuk memaafkan semuanya dan berusaha tidak melukai perasaan mereka." Dengan mengatakan hal ini, ubahlah penjara ini menjadi ruang pelajaran yang diberkahi.
Suatu Persoalan Penting yang Diingatkan pada Lailatul Qadar
(TAMBAHAN BAGIAN KEDUA KALIMAT KETIGA BELAS)
Kita akan memberi isyarat yang sangat singkat kepada suatu hakikat yang sangat luas dan panjang, yang datang ke hati pada Lailatul Qadar. Hakikat itu ialah: Umat manusia telah mengalami kezaliman paling keras, penindasan paling keras, serta penghancuran tanpa belas kasih dalam Perang Dunia yang terakhir ini. Karena satu musuh, ratusan orang tidak bersalah dibuat sengsara. Pihak yang kalah mengalami putus asa yang mengerikan. Pihak yang menang mengalami kegelisahan yang mengerikan serta azab hati nurani yang mengerikan karena tidak mampu menjaga kekuasaannya dan memperbaiki kehancuran besar yang dibuatnya. Semua orang telah melihat bahwa kehidupan dunia sepenuhnya fana dan sementara, serta bahwa kemewahan peradaban menipu dan menidurkan. Kemampuan tinggi dalam fitrah manusia serta hakikat kemanusiaannya telah terluka secara mengerikan dan menyeluruh. Kelalaian dan kesesatan, serta tabiat yang keras dan tuli, telah hancur di bawah pedang intan Al-Qur'an. Wajah sejati politik muka bumi, yang merupakan tirai kelalaian serta kesesatan yang paling mencekik, menipu, dan luas, telah terlihat begitu buruk dan kejam.
Karena itu, tentu, tentu tanpa keraguan sedikit pun, berdasarkan tanda-tandanya yang terlihat di Utara, Barat, serta Amerika, umat manusia akan mencari dengan seluruh kekuatannya kehidupan yang kekal, yang sungguh dicintai dan dicari oleh fitrah manusia, sebab kehidupan dunia, yang merupakan kekasih kiasan umat manusia, begitu buruk dan sementara. Tentu, tidak ada keraguan sedikit pun: selama seribu tiga ratus enam puluh tahun, Al-Qur'an yang ungkapannya bermukjizat memiliki tiga ratus lima puluh juta murid pada setiap abad. Jutaan orang yang mengenal hakikat membenarkan serta membubuhkan pengesahan pada setiap ketetapan dan pernyataannya. Setiap menit ia berada dengan suci dalam hati jutaan penghafalnya dan mengajar umat manusia melalui lidah mereka. Dengan cara yang tidak ada bandingnya dalam kitab mana pun, ia menyampaikan kabar gembira tentang kehidupan yang kekal serta kebahagiaan abadi bagi manusia dan mengobati luka-luka seluruh umat manusia. Dengan ribuan ayat yang tegas, kuat, serta berulang, bahkan dengan menyatakan dan memberitakannya puluhan ribu kali secara terang serta tersirat, Al-Qur'an menyampaikan dengan pasti kabar gembira kehidupan yang kekal dan mengajarkan kebahagiaan abadi melalui bukti-bukti pasti yang tidak tergoyahkan serta alasan-alasan tak terbatas yang tidak memberi ruang bagi keraguan.
Karena itu, jika umat manusia tidak sepenuhnya kehilangan akal dan suatu kiamat fisik atau maknawi tidak menimpa mereka, benua-benua luas serta pemerintahan-pemerintahan besar di muka bumi akan mencari Al-Qur'an yang ungkapannya bermukjizat. Seperti para pembicara terkenal di Swedia, Norwegia, Finlandia, serta Inggris yang berusaha menerima Al-Qur'an, dan perkumpulan penting di Amerika yang mencari agama yang benar, setelah memahami hakikat-hakikatnya mereka akan memegangnya dengan seluruh ruh dan jiwa. Sebab, dalam hal hakikat ini, dengan pasti tidak ada dan tidak mungkin ada yang seperti Al-Qur'an. Tidak ada sesuatu pun yang dapat menggantikan mukjizat terbesar ini. Kedua: Karena Risale-i Nur telah memperlihatkan khidmahnya seperti pedang intan di tangan mukjizat besar ini dan memaksa musuh-musuhnya yang keras kepala untuk menyerah, Risale-i Nur juga menyerukan khazanah Al-Qur'an dengan cara yang sepenuhnya menerangi hati, ruh, serta perasaan dan memberikan obatnya. Ia tidak memiliki sumber atau tempat rujukan selain Al-Qur'an dan merupakan suatu mukjizat maknawinya. Risale-i Nur menjalankan tugas itu sepenuhnya, sepenuhnya mengalahkan propaganda mengerikan yang menentangnya serta orang-orang yang sangat keras kepala dalam menolak agama, dan menghancurkan tabiat, yang merupakan benteng kesesatan paling keras serta kuat, melalui Tabiat Risalesi (Risalah Sifat Alam).
Dalam lingkup dunia luar yang paling tebal, mencekik, serta luas dari kelalaian, dan dalam tirai-tirai ilmu pengetahuan yang paling luas, ia mengusir kelalaian serta memperlihatkan cahaya tauhid dengan sangat cemerlang melalui Persoalan Keenam Meyve dan Bukti Pertama, Kedua, Ketiga, serta Kedelapan dalam Asa-yı Musa.
--