Risalah Nur — Bahasa Indonesia

JENDELA KETIGA PULUH SATU

Risalah Mikraj dan Terbelahnya Bulan · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

JENDELA KETIGA PULUH SATU

ﻟَﻘَﺪْ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎ الْاِنْسَانَ ﻓ۪ٓﻰ ﺍَﺣْﺴَﻦِ ﺗَﻘْﻮ۪ﻳﻢٍ ٭ ﻭَ ﻓِﻰ الْاَرْضِ ﺍٰﻳَﺎﺕٌ ﻟِﻠْﻤُﻮﻗِﻨ۪ﻴﻦَ ٭ ﻭَ ﻓ۪ٓﻰ ﺍَﻧْﻔُﺴِﻜُﻢْ اَفَلَا ﺗُﺒْﺼِﺮُﻭﻥَ

Jendela ini ialah jendela manusia dan menghadap ke dalam diri. Dengan menyerahkan rincian sisi dalam diri jendela ini kepada kitab-kitab terperinci ribuan wali yang meneliti dengan saksama, kami hanya menunjukkan beberapa dasar yang kami ambil dari limpahan Al-Qur'an. Demikianlah:

Sebagaimana dijelaskan dalam Kalimat Kesebelas, "Manusia ialah salinan yang menyeluruh, sehingga Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq membuat manusia merasakan seluruh Asma-Nya melalui diri manusia." Dengan menyerahkan rinciannya kepada Kalimat lainnya, kami hanya akan memperlihatkan tiga pokok.

Pokok Pertama:

Manusia ialah cermin Asma Ilahi dari tiga sisi.

Sisi Pertama:

Sebagaimana gelap memperlihatkan cahaya pada malam hari, manusia melalui kelemahan serta ketakberdayaannya, keadaan serbakurang serta kebutuhannya, kekurangan serta cacatnya, memberitahukan Kudrat, Kekuatan, Kekayaan serta Rahmat Sang Qadîr Dzul-Jalâl; dengan cara ini ia mencerminkan banyak Sifat Ilahi lainnya. Bahkan, dalam ketakberdayaannya yang tak terbatas dan kelemahannya yang tak berhingga, melalui pencarian sandaran menghadapi musuh-musuh tak terbatas, nurani senantiasa memandang Sang Wâjibul Wujûd. Dalam keadaannya yang serbakurang tanpa batas, di tengah kebutuhan tak berhingga, karena harus mencari tempat meminta pertolongan demi tujuan-tujuan tak berhingga, nurani senantiasa bersandar dari segi itu kepada Pintu Sang Ghaniyy Yang Rahîm, mengangkat tangan dengan doa.

Jadi, pada setiap nurani, dari segi tempat bersandar serta meminta pertolongan, dua jendela kecil terbuka menuju Pintu Rahmat Sang Qadîr yang Rahîm; ia dapat setiap saat memandang melalui keduanya.

Sisi Kedua menjadi cermin: melalui hal-hal juz'i seperti ilmu, daya, penglihatan, pendengaran, kepemilikan serta kuasa yang diberikan kepada manusia sebagai contoh, ia mencerminkan Ilmu, Kudrat, Penglihatan, Pendengaran serta Kuasa Rububiyah Sang Pemilik kainat. Ia memahami serta memberitahukannya. Misalnya, sebagaimana aku membuat rumah ini, mengetahui dan melihat cara membuatnya, memilikinya serta mengelolanya, istana kainat yang besar ini pun mempunyai Sang Pembuat. Sang Pembuat itu mengetahui, melihat, membuat serta mengelolanya, dan seterusnya.

Sisi Ketiga menjadi cermin: manusia mencerminkan Asma Ilahi yang coraknya terlihat pada dirinya. Sebagaimana sedikit dijelaskan pada awal Bagian Ketiga Kalimat Ketiga Puluh Dua, dalam hakikat manusia yang menyeluruh terdapat lebih dari tujuh puluh Asma yang coraknya tampak. Misalnya, dari diciptakannya ia memperlihatkan Nama Sang Pembuat serta Khâliq; dari bentuk terbaiknya Nama-Nama Rahmân serta Rahîm; dari pendidikan yang baik Nama-Nama Karîm serta Latîf; dan seterusnya… Melalui seluruh anggota serta alatnya, perangkat serta organnya, unsur-unsur halus serta rohaninya, indra serta perasaannya, ia memperlihatkan corak-corak berbeda dari Asma yang berbeda.

Jadi, sebagaimana di antara Asma terdapat Ismul A'zham, pada corak-corak Asma itu juga ada corak teragung, yakni manusia.

Wahai manusia yang mengetahui dirimu sebagai manusia! Bacalah dirimu… Jika tidak, mungkin engkau manusia seperti hewan ataupun benda tak bernyawa.

Pokok Kedua:

Menunjukkan suatu rahasia Ahadiyah yang penting. Demikianlah:

Ruh manusia mempunyai hubungan dengan seluruh jasadnya sedemikian rupa sehingga membuat seluruh anggota serta bagiannya saling menolong. Yakni, ruh, yang merupakan hukum Perintah serta unsur halus dari Rabb yang diberi wujud luar dari perintah itu, yaitu Perintah-Perintah Penciptaan yang merupakan manifestasi Kehendak Ilahi, tidak terhalangi ataupun dibuat keliru oleh bagian-bagian itu dalam mengelola, merasakan suara-suara rohani serta memenuhi kebutuhan mereka. Bagi ruh, jauh dan dekat sama. Mereka tidak saling menjadi tabir. Jika menghendaki, ruh membawa sebagian besar untuk menolong satu bagian.

Jika menghendaki, melalui setiap bagian tubuh ia dapat mengetahui, merasakan serta mengelola. Bahkan, jika telah banyak memperoleh sifat cahaya, melalui setiap bagian ia dapat melihat serta mendengar.

Demikian pula,

ﻭَ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞُ الْاَعْلٰى

karena ruh, satu hukum Perintah Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, memperlihatkan keadaan ini pada tubuh serta anggota manusia, alam kecil, tentu dalam kainat, alam besar, perbuatan, suara, doa serta pekerjaan tak terbatas tidak memberatkan Kehendak Menyeluruh serta Kudrat Mutlak Zat Wâjibul Wujûd dari segi apa pun, dan tidak saling menghalangi. Mereka tidak menyibukkan ataupun membuat Sang Khâliq Dzul-Jalâl keliru. Dia melihat semuanya sekaligus dan mendengar seluruh suara sekaligus. Dekat dan jauh satu. Jika menghendaki, Dia mengirim semuanya untuk menolong satu sesuatu.

Melalui setiap sesuatu Dia dapat melihat setiap sesuatu, mendengar suara mereka dan mengetahui setiap sesuatu, dan seterusnya…