Risalah Nur — Bahasa Indonesia

BUTIR HIKMAH BALAGAH KESEMBILAN

Risalah Mukjizat Al-Qur'an · Bahasa Indonesia

BUTIR HIKMAH BALAGAH KESEMBILAN

Terkadang Al-Qur'an Al-Hakîm menyebutkan sejumlah tujuan yang juz'i. Kemudian, untuk mengarahkan pikiran kepada kedudukan menyeluruh melalui hal-hal yang juz'i itu, ia menetapkan tujuan yang juz'i tersebut dengan Asmaul Husna yang seperti kaidah menyeluruh, menegaskannya, memastikan, serta membuktikannya.

Misalnya,

ﻗَﺪْ ﺳَﻤِﻊَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻗَﻮْﻝَ ﺍﻟَّﺘ۪ﻰ ﺗُﺠَﺎﺩِﻟُﻚَ ﻓ۪ﻰ ﺯَﻭْﺟِﻬَﺎ ﻭَﺗَﺸْﺘَﻜ۪ٓﻰ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻭَﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻳَﺴْﻤَﻊُ ﺗَﺤَﺎﻭُﺭَﻛُﻤَﺎ ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﺳَﻤ۪ﻴﻊٌ ﺑَﺼ۪ﻴﺮٌ

Al-Qur'an berkata, "Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq adalah Samî' Yang Mutlak, mendengar segala sesuatu. Bahkan, dengan Nama Al-Haqq Dia mendengar perdebatan seorang istri yang mengeluhkan suaminya di hadapanmu, peristiwa juz'i yang paling kecil sekalipun. Perempuan itu menjadi tempat manifestasi Rahmat yang paling halus serta sumber hakikat kasih sayang yang paling rela berkorban.

Dengan Nama Rahîm, Dia mendengar dengan penuh perhatian tuntutan seorang perempuan yang berhak terhadap suaminya dan keluhannya kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq sebagai perkara besar. Dengan Nama Al-Haqq, Dia memandangnya dengan serius." Untuk menjadikan tujuan yang juz'i ini menyeluruh, Zat yang mendengar serta melihat peristiwa makhluk yang juz'i dan paling kecil—Zat yang berada di luar lingkup kainat yang mungkin ada—tentu haruslah Zat yang mendengar serta melihat segala sesuatu. Rabb kainat harus melihat derita dan mendengar jeritan makhluk kecil yang dizalimi di dalam kainat.

Yang tidak melihat derita atau mendengar jeritan mereka tidak dapat menjadi Rabb. Dengan kalimat

ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﺳَﻤ۪ﻴﻊٌ ﺑَﺼ۪ﻴﺮٌ

, ia menetapkan dua hakikat agung itu. Juga, misalnya,

ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟَّﺬ۪ٓﻯ ﺍَﺳْﺮٰﻯ ﺑِﻌَﺒْﺪِﻩ۪ لَيْلاً ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ ﺍﻟْﺤَﺮَﺍﻡِ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ الْاَقْصَى ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺑَﺎﺭَﻛْﻨَﺎ ﺣَﻮْﻟَﻪُ ﻟِﻨُﺮِﻳَﻪُ ﻣِﻦْ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻨَﺎ ﺍِﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺴَّﻤ۪ﻴﻊُ ﺍﻟْﺒَﺼ۪ﻴﺮُ

Setelah menyebutkan perjalanan Rasul yang paling mulia ﷺ dari Masjidil Haram, titik awal mi'rajnya, ke Masjidil Aqsa, Al-Qur'an berkata

ﺍِﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺴَّﻤ۪ﻴﻊُ ﺍﻟْﺒَﺼ۪ﻴﺮُ

. Kata ganti dalam ﺍِﻧَّﻪُ merujuk kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq atau Nabi ﷺ. Jika merujuk kepada Nabi ﷺ, maknanya ialah, "Dalam perjalanan yang juz'i ini terdapat perjalanan umum dan pendakian menyeluruh hingga Sidratul Muntaha dan Qaba Qausain.

Beliau mendengar serta melihat tanda-tanda Rabbani dan keajaiban Karya Ilahi yang tampil kepada mata serta telinganya pada tingkat-tingkat menyeluruh Asma." Ia menunjukkan perjalanan kecil dan juz'i itu sebagai kunci perjalanan menyeluruh yang menjadi tempat berkumpul keajaiban. Jika kata ganti merujuk kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, maknanya ialah, "Untuk mengundang seorang hamba dalam perjalanan ke Hadirat-Nya dan memberinya tugas, Dia mengirimnya dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, tempat berkumpul para nabi, mempertemukannya dengan mereka, lalu menunjukkan bahwa beliau adalah pewaris mutlak dasar-dasar agama semua nabi.

Setelah itu, Dia membawanya berkeliling dalam alam mulk serta alam malakut milik-Nya hingga Qaba Qausain." Memang, orang itu seorang hamba yang bepergian dalam mi'raj yang juz'i. Namun, dalam hamba ini terdapat amanat yang terkait dengan seluruh kainat, cahaya yang akan mengubah warna kainat ini, serta kunci yang akan membuka pintu kebahagiaan abadi. Karena itu, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq menyifati Zat-Nya sendiri dengan Sifat mendengar dan melihat segala sesuatu, agar menunjukkan hikmah amanat, cahaya, serta kunci itu yang meliputi seluruh dunia.

Juga, misalnya,

ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻓَﺎﻃِﺮِ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ ﺟَﺎﻋِﻞِ ﺍﻟْﻤَﻠٰٓﺌِﻜَﺔِ رُسُلاً ﺍُ۬ﻭﻟ۪ٓﻰ ﺍَﺟْﻨِﺤَﺔٍ ﻣَﺜْﻨٰﻰ وَثُلَاثَ ﻭَﺭُﺑَﺎﻉَ ﻳَﺰ۪ﻳﺪُ ﻓِﻰ ﺍﻟْﺨَﻠْﻖِ ﻣَﺎ ﻳَﺸَٓﺎﺀُ ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ

Dalam surah ini, ia berkata, "Sang Fâthir Dzul-Jalâl langit dan bumi menghias langit serta bumi dengan cara yang memperlihatkan karya Kesempurnaan-Nya, sehingga membuat penontonnya yang tak terhingga memberi pujian tak terhingga kepada Fâthir-nya. Dia juga menghiasnya dengan nikmat-nikmat yang tak terhingga, sehingga langit dan bumi, melalui lisan seluruh nikmat serta penerimanya, memberi pujian dan syukur tanpa akhir kepada Fâthir-nya yang Rahmân." Kemudian, seperti manusia, hewan, dan burung yang berjalan serta bepergian dalam kota dan negeri di bumi dengan perlengkapan serta sayap yang diberikan Fâthir, Zat Dzul-Jalâl memberi malaikat, penduduk negeri itu, sayap untuk berkeliling dan terbang di bintang-bintang yang merupakan istana langit serta gugusan bintang yang merupakan negeri luhur.

Tentu Dia harus Qadîr atas segala sesuatu. Yang memberi lalat sayap untuk terbang dari satu buah ke buah lain, dan burung pipit dari satu pohon ke pohon lain, Dialah yang memberi sayap untuk terbang dari Venus ke Jupiter dan dari Jupiter ke Saturnus. Malaikat juga tidak terbatas pada keadaan yang juz'i seperti penduduk bumi; satu tempat tertentu tidak dapat mengikat mereka. Melalui kata-kata

ﻣَﺜْﻨٰﻰ وَثُلَاثَ ﻭَﺭُﺑَﺎﻉَ

, ia memberi rincian yang menunjukkan bahwa mereka berada di empat bintang atau lebih pada satu waktu.

Jadi, melalui ungkapan peristiwa yang juz'i "memberi malaikat perlengkapan berupa sayap", ia menunjukkan tempat berkarya Keagungan Kudrat yang amat menyeluruh dan umum, lalu memastikannya serta menetapkannya dengan rangkuman

ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ

.