Risalah Nur — Bahasa Indonesia

CAHAYA KEDUA

Risalah Mukjizat Al-Qur'an · Bahasa Indonesia

CAHAYA KEDUA

Karena betapa jauh filsafat manusia, yang maju ke medan tandingan terhadap hikmah Al-Qur'an, jatuh di hadapan hikmah itu telah kita gambarkan melalui penjelasan serta perumpamaan dalam Kalimat Kedua Belas, dan dibuktikan dalam Kalimat-Kalimat lain, kita merujuk ke sana. Untuk sekarang, kita membuat perbandingan kecil dari sisi lain. Filsafat dan hikmah manusia memandang dunia sebagai sesuatu yang tetap. Ia membicarakan hakikat dan sifat makhluk secara terperinci. Kalaupun membicarakan tugasnya terhadap Sang Pembuat, ia hanya merangkumnya.

Seolah ia hanya membicarakan corak serta huruf kitab kainat, tanpa memedulikan maknanya. Al-Qur'an memandang dunia sebagai sesuatu yang lewat, mengalir, menipu, bergerak, tidak tetap, dan terus berubah. Ia membicarakan hakikat makhluk serta sifat lahiriah dan jasmaninya secara ringkas, tetapi menyebutkan secara terperinci tugas-tugas ubudiyah yang diberikan Sang Pembuat, bagaimana serta dari sisi mana makhluk menunjukkan Nama-Nama Sang Pembuat, dan ketundukannya kepada Perintah-Perintah penciptaan Ilahi.

Kita akan melihat perbedaan filsafat manusia dengan hikmah Al-Qur'an dari segi merinci dan merangkum ini, agar melihat mana yang murni haq dan tepat merupakan hakikat. Jam di tangan kita tampak tetap secara lahiriah, tetapi di dalamnya terdapat guncangan terus-menerus serta gerak gelisah alat dan roda akibat perputaran roda-rodanya. Demikian pula, dunia ini, jam besar Kudrat Ilahi, bersama keadaan lahiriahnya yang tetap, terus bergulir dalam guncangan dan perubahan, dalam keadaan fana serta lenyap.

Ya, karena waktu masuk ke dunia, malam dan siang seperti satu jarum berkepala dua yang menghitung detik jam besar itu. Tahun seperti jarum yang menghitung menitnya. Abad adalah jarum yang menghitung jamnya. Waktu melemparkan dunia ke atas gelombang lenyap, menyerahkan seluruh masa lalu serta masa depan kepada keadaan tidak ada, dan meninggalkan hanya masa sekarang dalam wujud. Bersama bentuk yang diberikan waktu kepada dunia ini, dari segi tempat pun dunia seperti jam yang berguncang dan tidak tetap.

Sebab, ruang udara cepat berubah dan segera beralih dari satu keadaan ke keadaan lain; pada hari tertentu ia beberapa kali penuh dengan awan lalu kosong, memberi perubahan seperti berubahnya jarum penghitung detik.Adapun tempat bumi, lantai rumah dunia, permukaannya sangat cepat berubah dari segi mati dan hidup, tumbuhan dan hewan. Seperti jarum penghitung menit, ia menunjukkan bahwa sisi dunia ini berlalu. Sebagaimana pada permukaannya, melalui perubahan serta gempa di perutnya dan munculnya gunung serta tanah amblas sebagai hasilnya, ia menunjukkan seperti jarum penghitung jam bahwa sisi dunia ini lewat dengan lambat.

Ruang langit, atap rumah dunia, juga menunjukkan perubahan melalui gerak benda langit, munculnya komet, gerhana matahari serta bulan, dan jatuhnya bintang. Ini menunjukkan bahwa langit pun tidak tetap, tetapi menuju tua serta hancur. Memang, perubahannya lambat dan terlambat, seperti jarum penghitung hari pada jam mingguan. Namun, ia tetap menunjukkan bahwa dirinya lewat serta menuju lenyap dan hancur. Dunia, dari segi dunianya, dibangun di atas tujuh penyangga ini. Penyangga-penyangga itu terus mengguncangkannya.

Namun, ketika dunia yang berguncang dan bergerak ini memandang Sang Pembuatnya, gerak serta perubahan itu adalah bekerjanya Pena Kudrat untuk menulis surat-surat Allah سُبْحَانَهُ Yang Shamad. Perubahan keadaan itu adalah cermin-cermin yang diperbarui, yang menunjukkan manifestasi Syuunat Asma Ilahi melalui gambaran yang berbeda. Jadi, dari segi dunianya, dunia menuju lenyap, berlari menuju mati, dan berada dalam guncangan. Meski sebenarnya berlalu seperti air mengalir, karena lalai ia tampak beku. Dengan pemikiran yang menganggap tabiat sebagai penyebab, ia menjadi padat serta keruh dan menjadi tirai bagi akhirat.

Melalui kajian filsafat dan hikmah alam, hiburan menarik peradaban yang bejat, serta hasratnya yang mabuk, filsafat yang sakit menambah bekunya dunia ini dan menebalkan kelalaian, menggandakan keruhnya, serta membuat Sang Pembuat dan akhirat terlupakan. Adapun Al-Qur'an, melalui ayat-ayat

ﺍَﻟْﻘَﺎﺭِﻋَﺔُ ﻣَﺎ ﺍﻟْﻘَﺎﺭِﻋَﺔُ ٭ ﺍِﺫَﺍ ﻭَﻗَﻌَﺖِ ﺍﻟْﻮَﺍﻗِﻌَﺔُ ٭ ﻭَ ﺍﻟﻄّﻮُﺭِ ﻭَ ﻛِﺘَﺎﺏٍ ﻣَﺴْﻄُﻮﺭٍ

, menguraikan dunia ini dari segi dunianya seperti kapas yang dipisahkan lalu dilemparkan. Dengan penjelasan seperti

ﺍَﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻨْﻈُﺮُﻭﺍ ﻓ۪ﻰ ﻣَﻠَﻜﻮُﺕِ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ ﻭَ الْاَرْضِ ٭ ﺍَﻓَﻠَﻢْ ﻳَﻨْﻈُﺮُٓﻭﺍ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ ﻓَﻮْﻗَﻬُﻢْ ﻛَﻴْﻒَ ﺑَﻨَﻴْﻨَﺎﻫَﺎ ٭ ﺍَﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺮَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُٓﻭﺍ ﺍَﻥَّ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضَ ﻛَﺎﻧَﺘَﺎ ﺭَﺗْﻘًﺎ

, ia memberi kejernihan kepada dunia dan menghilangkan keruhnya.

Melalui cahaya-cahaya yang menebarkan terang seperti

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﻧُﻮﺭُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ ٭ ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟْﺤَﻴٰﻮﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَٓﺎ اِلَّا ﻟَﻌِﺐٌ ﻭَ ﻟَﻬْﻮٌ

, ia mencairkan dunia yang beku. Dengan ungkapan-ungkapan berlumur kematian

ﺍِﺫَﺍ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲُ ﻛُﻮِّﺭَﺕْ

,

ﺍِﺫَﺍ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀُ ﺍﻧْﻔَﻄَﺮَﺕْ

, dan

ﺍِﺫَﺍ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀُ ﺍﻧْﺸَﻘَّﺖْ ٭ ﻭَﻧُﻔِﺦَ ﻓِﻰ ﺍﻟﺼُّﻮﺭِ ﻓَﺼَﻌِﻖَ ﻣَﻦْ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ ﻭَﻣَﻦْ ﻓِﻰ الْاَرْضِ اِلَّا ﻣَﻦْ ﺷَٓﺎﺀَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ

, ia memecahkan bayangan bahwa dunia kekal.

ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻣَﺎ ﻳَﻠِﺞُ ﻓِﻰ الْاَرْضِ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﺨْﺮُﺝُ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﻨْﺰِﻝُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﻌْﺮُﺝُ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﻭَﻫُﻮَ ﻣَﻌَﻜُﻢْ ﺍَﻳْﻦَ ﻣَﺎ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻭَﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺑِﻤَﺎ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ ﺑَﺼ۪ﻴﺮٌ ٭ ﻭَﻗُﻞِ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺳَﻴُﺮ۪ﻳﻜُﻢْ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻪ۪ ﻓَﺘَﻌْﺮِﻓُﻮﻧَﻬَﺎ ﻭَﻣَﺎ ﺭَﺑُّﻚَ ﺑِﻐَﺎﻓِﻞٍ ﻋَﻤَّﺎ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ

Dengan seruan seperti guruh, ia membuyarkan kelalaian yang melahirkan pemikiran yang menganggap tabiat sebagai penyebab.

Ayat-ayat Al-Qur'an dari awal hingga akhir yang mengarah kepada kainat berjalan menurut dasar ini. Ia membuka dan menunjukkan hakikat dunia sebagaimana adanya. Dengan menunjukkan betapa buruk dunia yang buruk, ia memalingkan wajah manusia darinya. Ia menunjukkan wajah indah dunia yang indah, yang memandang Sang Pembuat, dan membuat mata manusia tertuju kepadanya. Ia mengajarkan hikmah sejati serta makna kitab kainat, dan hanya sedikit memandang huruf serta coraknya. Ia tidak membuat orang mencintai yang buruk, melupakan makna, dan menghabiskan waktu dalam hal sia-sia melalui corak huruf, seperti filsafat yang mabuk.