TAWAFUK YANG MENGHERANKAN DAN MEMBERI PELAJARAN:
Lima atau enam penyalin yang berbeda, tiga di antaranya belum berpengalaman, menyalin İktisad Risalesi di tempat-tempat berbeda dari salinan-salinan berbeda. Mereka saling berjauhan, tulisan mereka berbeda, dan mereka sama sekali tidak memikirkan huruf elif. Namun, huruf-huruf elif pada setiap salinan yang mereka tulis bertawafuk pada lima puluh satu tanpa doa, dan lima puluh tiga dengan doa. Tawafuk angka itu dengan tahun penulisan dan penyalinan İktisad Risalesi, yakni lima puluh satu menurut kalender Rumi dan lima puluh tiga menurut kalender Arab, tentu tidak dapat merupakan kebetulan. Hal ini mengisyaratkan bahwa berkah berhemat telah mencapai tingkat karamah. Tahun ini layak dinamai “Tahun Berhemat.”
Ya, dua tahun kemudian zaman membuktikan karamah berhemat ini melalui kelaparan, kehancuran, dan pemborosan di segala penjuru pada Perang Dunia Kedua, serta terpaksa berhematnya umat manusia dan setiap orang.
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ
--
(Dari Surat Kedua Puluh Dua)
PEMBAHASAN KEDUA
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺮَّﺯَّﺍﻕُ ﺫُﻭ ﺍﻟْﻘُﻮَّﺓِ ﺍﻟْﻤَﺘ۪ﻴﻦُ ٭ ﻭَﻛَﺎَﻳِّﻦْ ﻣِﻦْ ﺩَٓﺍﺑَّﺔٍ لَا ﺗَﺤْﻤِﻞُ ﺭِﺯْﻗَﻬَﺎ ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﻳَﺮْﺯُﻗُﻬَﺎ ﻭَﺍِﻳَّﺎﻛُﻢْ ﻭَ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺴَّﻤ۪ﻴﻊُ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ
Wahai ahli iman! Sebelumnya, engkau telah memahami betapa merugikan permusuhan. Pahamilah pula bahwa keserakahan juga merupakan penyakit paling dahsyat yang merugikan kehidupan Islam sebesar permusuhan. Keserakahan adalah sebab kecewa, penyakit serta kehinaan, dan membawa orang terhalang serta sengsara. Ya, kehinaan serta kesengsaraan bangsa Yahudi yang menyerbu dunia dengan keserakahan melebihi setiap bangsa menjadi saksi pasti bagi ketentuan ini.
Ya, dalam alam makhluk hidup, keserakahan menunjukkan pengaruh buruknya dari lingkup paling luas sampai individu paling kecil. Adapun mencari rezeki dengan tawakal, sebaliknya, menjadi sarana ketenteraman serta menunjukkan pengaruh baiknya di setiap tempat.
Pohon berbuah serta tumbuhan, yang merupakan jenis makhluk hidup dan membutuhkan rezeki, tetap di tempatnya dengan tawakal serta kanaah dan tidak menunjukkan keserakahan. Karena itu, rezeki berlari datang kepada mereka. Mereka memberi makan keturunan jauh lebih banyak daripada hewan. Adapun hewan, karena berlari mengejar rezeki dengan keserakahan, hanya dapat memperoleh rezekinya dengan banyak kesulitan serta kekurangan.
Dalam lingkup hewan, anak-anak yang bertawakal melalui bahasa keadaan yang lemah serta tidak berdaya diberi rezeki yang sah, sempurna, serta lembut dari khazanah Rahmat. Adapun binatang buas yang menyerbu rezeki dengan keserakahan memperoleh rezeki tidak menyenangkan yang tidak sah serta dengan banyak kesulitan. Semua ini menunjukkan bahwa keserakahan menjadi sebab terhalang; tawakal serta kanaah menjadi sarana Rahmat.
Dalam lingkup manusia, bangsa Yahudi, yang melekat pada dunia dengan keserakahan melebihi setiap bangsa serta terikat kepada kehidupan dunia dengan cinta, memperoleh dengan amat
banyak kesulitan kekayaan riba yang tidak sah, yang sedikit manfaatnya bagi mereka dan hanya mereka simpan sebagai penjaga harta. Tamparan kehinaan serta kesengsaraan, pembunuhan serta pengkhianatan yang mereka terima dari seluruh bangsa menunjukkan bahwa keserakahan adalah sumber kehinaan dan kerugian.
Ada begitu banyak peristiwa bahwa manusia rakus senantiasa mengalami kerugian sehingga
ﺍَﻟْﺤَﺮ۪ﻳﺺُ ﺧَٓﺎﺋِﺐٌ ﺧَﺎﺳِﺮٌ
telah menjadi peribahasa dan diakui sebagai hakikat umum dalam pandangan semua orang. Karena demikian, jika engkau amat mencintai harta, carilah harta dengan kanaah, bukan keserakahan, agar harta datang banyak.
Orang yang berkanaah serta orang rakus seperti dua orang yang masuk ke ruang tamu seorang tokoh besar. Yang satu berkata dalam hatinya, "Cukup bagiku jika ia menerimaku saja dan aku selamat dari dingin di luar. Sekalipun diberi kursi paling bawah, itu karunia." Orang kedua berkata dengan sombong, seakan-akan ia mempunyai hak serta setiap orang harus menghormatinya, "Ia harus memberiku kursi paling atas." Ia masuk dengan keserakahan itu, mengarahkan mata kepada kedudukan tinggi, serta ingin pergi ke sana. Namun, pemilik ruang tamu menyuruhnya kembali lalu mendudukkannya di bawah. Padahal, ia seharusnya berterima kasih; sebagai gantinya, ia marah dalam hati. Ia tidak berterima kasih, justru mengkritik pemilik rumah. Pemilik rumah pun menganggapnya memberatkan. Orang pertama masuk dengan rendah hati dan ingin duduk di kursi paling bawah. Kanaahnya menyenangkan pemilik ruang tamu. Ia berkata, "Silakan duduk di kursi yang lebih atas." Orang itu pun semakin banyak berterima kasih dan rasa puasnya semakin besar.
Dunia adalah ruang tamu Ar-Rahmân. Muka bumi adalah hidangan Rahmat. Derajat rezeki serta tingkatan nikmat seperti kursi-kursi.
Dalam pekerjaan paling kecil pun setiap orang dapat merasakan pengaruh buruk keinginan berlebihan.
Misalnya, ketika dua pengemis meminta sesuatu, setiap orang merasakan dalam hatinya bahwa ia keberatan terhadap pengemis yang mendesak dengan rakus lalu tidak memberinya, tetapi mengasihani pengemis lain yang tenang lalu memberinya.
Misalnya pula, pada malam hari ketika engkau tidak dapat tidur dan ingin tidur, jika engkau tidak terlalu memikirkannya, tidur dapat datang. Jika engkau mendesak ingin tidur dan berkata, "Aduh, aku harus tidur, aku harus tidur," engkau justru sepenuhnya mengusir tidurmu.
Misalnya pula, engkau menunggu seseorang dengan keinginan berlebihan demi suatu hasil penting, berkata, "Aduh, ia belum datang, ia belum datang." Akhirnya, keinginan berlebihan menghabiskan kesabaranmu, lalu engkau bangkit dan pergi. Satu menit kemudian orang itu datang, tetapi hasil penting yang engkau tunggu gagal.
Rahasia peristiwa-peristiwa ini ialah: Sebagaimana terwujudnya roti bergantung pada urutan ladang, tempat merontokkan gandum, penggilingan, serta tungku, dalam urutan segala sesuatu terdapat langkah perlahan yang penuh hikmah. Karena tidak bergerak perlahan akibat keinginan berlebihan, orang tidak memperhatikan tangga-tangga rohani dalam benda-benda yang berurutan itu; ia melompat lalu jatuh, atau meninggalkan satu anak tangga sehingga tidak dapat mencapai tujuan.
Wahai saudara-saudara yang bingung karena sulit mencari nafkah serta mabuk karena rakus terhadap dunia! Karena keserakahan merupakan hal yang begitu merugikan dan membawa bencana, bagaimana demi keserakahan kalian melakukan setiap kehinaan, mengambil setiap harta tanpa membedakan haram serta halal, dan mengorbankan banyak hal yang diperlukan kehidupan akhirat? Bahkan, bagaimana demi keserakahan kalian meninggalkan zakat, rukun penting di antara rukun Islam? Padahal, zakat menjadi sebab berkah serta penolak bencana bagi setiap orang. Harta sebesar zakat pasti akan keluar dari tangan orang yang tidak membayar zakat, baik ia berikan ke tempat-tempat yang tidak diperlukan maupun diambil oleh musibah yang datang.
Dalam suatu mimpi khayali yang mengandung hakikat, mimpi menakjubkan pada tahun kelima Perang Dunia Pertama, aku ditanya:
"Apakah sebab lapar, kerugian harta, serta kesulitan jasmani yang menimpa kaum Muslim ini?"
Dalam mimpi aku berkata:
"Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq meminta dari kita sepersepuluh dari sebagian harta {(Catatan kaki-1):
Yakni, sepersepuluh dari harta seperti gandum yang baru diberikan-Nya setiap tahun.} atau satu per empat puluh dari sebagian harta {(Catatan kaki-2):
Yakni, dari empat puluh yang diberikan-Nya sebelumnya, yang biasanya dan paling sedikit setiap tahun, dari segi laba perniagaan serta keturunan hewan, Dia memberi sepuluh yang baru dari empat puluh itu.} Dia meminta satu dari harta yang diberikan-Nya sendiri, agar kita memperoleh doa orang miskin serta menghalangi dendam dan iri hati mereka. Demi keserakahan, kita bersikap rakus serta tidak memberikannya. Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq mengambil zakat yang menumpuk itu sebanyak tiga puluh dari empat puluh serta delapan dari sepuluh.
Setiap tahun Dia juga meminta dari kita lapar dengan tujuh puluh hikmah hanya selama satu bulan. Kita mengasihani diri kita dan tidak menanggung lapar yang sementara serta nikmat itu. Sebagai hukuman, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq memaksa kita menjalani sejenis puasa yang membawa bencana dari tujuh puluh segi selama lima tahun.
Dalam dua puluh empat jam, Dia juga meminta dari kita hanya satu jam sejenis latihan dari Rabb yang menyenangkan, luhur, bercahaya, serta bermanfaat. Kita malas dan tidak menjalankan
salat serta doa itu. Kita mencampur satu jam itu dengan jam-jam lainnya lalu menyia-nyiakannya. Sebagai penebusnya, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq membuat kita menjalankan sejenis salat melalui latihan, pengarahan, serta berlari selama lima tahun." Demikian aku berkata. Kemudian aku terbangun, memikirkan, serta memahami bahwa dalam mimpi khayali itu terdapat hakikat amat penting.
Sebagaimana telah diteguhkan serta dijelaskan dalam pembahasan perbandingan peradaban dengan ketentuan Al-Qur'an pada Kalimat Kedua Puluh Lima, sumber seluruh kerusakan akhlak serta seluruh kekacauan dalam kehidupan bersama manusia ialah dua perkataan:
Pertama: "Setelah aku kenyang, apa peduliku jika orang lain mati kelaparan?"
Kedua: "Engkau bekerja, aku makan."
Yang meneruskan kedua perkataan itu ialah berlangsungnya riba serta ditinggalkannya zakat.
Satu-satunya obat bagi kedua penyakit dahsyat kehidupan bersama ini ialah zakat diwajibkan serta riba diharamkan, dengan menjalankan zakat sebagai kaidah umum.
Zakat merupakan rukun amat penting bagi kebahagiaan hidup bukan hanya individu serta kelompok tertentu, tetapi seluruh umat manusia; bahkan tiang amat penting agar kehidupan manusia terus berlangsung. Sebab, pada manusia ada dua golongan: kalangan atas serta orang awam. Zakatlah yang akan menjamin kasih dan kebaikan dari kalangan atas kepada orang awam, serta hormat dan patuh dari orang awam kepada kalangan atas. Jika tidak, kezaliman serta penindasan turun dari atas ke kepala orang awam, dan dendam serta pemberontakan muncul dari orang awam terhadap orang kaya. Kedua golongan manusia terus berada dalam perjuangan rohani serta kekacauan pertikaian. Lama-kelamaan mereka mulai bergulat dalam bentuk perjuangan tenaga kerja dan modal, seperti di Rusia.
Wahai orang-orang yang bermurah hati serta mempunyai hati nurani, wahai orang-orang dermawan serta yang berbuat baik!
Jika pemberian tidak atas nama zakat, ada tiga kerugiannya. Kadang ia juga sia-sia. Sebab, karena engkau tidak memberi atas nama Allah سُبْحَانَهُ, secara makna engkau menuntut rasa berutang budi serta membiarkan orang miskin yang malang tertawan dalam rasa berutang budi. Engkau juga terhalang dari doanya yang dikabulkan. Selain itu, meskipun sebenarnya engkau adalah petugas pembagi untuk memberikan harta Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq kepada hamba-hamba-Nya, engkau menganggap dirimu sebagai pemilik harta lalu tidak mensyukuri nikmat.
Jika engkau memberi atas nama zakat, karena memberi atas nama Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, engkau memperoleh pahala serta menunjukkan syukur atas nikmat. Orang yang membutuhkan itu pun tidak terpaksa menjilatmu, sehingga harga dirinya tidak patah dan doanya bagimu dikabulkan.
Ya, betapa jauhnya perbedaan antara memberi sedekah sunah serta pemberian sebesar zakat, bahkan lebih banyak, atau memberikannya melalui cara-cara lain lalu memperoleh kerugian seperti ria, mencari kemasyhuran, menuntut rasa berutang budi, serta merendahkan; dan melakukan kebaikan-kebaikan itu atas nama zakat, lalu menunaikan kewajiban sekaligus memperoleh pahala, ikhlas, serta doa yang dikabulkan!
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠٰﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ۨﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻗَﺎﻝَ ﺍَﻟْﻤُﺆْﻣِﻦُ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻦِ ﻛَﺎﻟْﺒُﻨْﻴَﺎﻥِ ﺍﻟْﻤَﺮْﺻُﻮﺹِ ﻳَﺸُﺪُّ ﺑَﻌْﻀُﻪُ ﺑَﻌْﻀًﺎ ﻭَ ﻗَﺎﻝَ ﺍَﻟْﻘَﻨَﺎﻋَﺔُ ﻛَﻨْﺰٌ لَا ﻳَﻔْﻨٰﻰ ﻭَﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪِ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪِ ﺍَﺟْﻤَﻌ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ
--