PRINSIP KETIGA KALIAN
Kalian harus mengetahui bahwa seluruh kekuatan kalian berada dalam ikhlas dan kebenaran.
Ya, kekuatan berada dalam kebenaran dan ikhlas. Bahkan, orang-orang yang tidak benar memperoleh kekuatan karena ikhlas dan ketulusan yang mereka perlihatkan dalam ketidakbenarannya.
Bukti bahwa kekuatan berada dalam kebenaran dan ikhlas ialah khidmah kami ini. Sedikit ikhlas dalam khidmah ini membuktikan pernyataan tersebut dan menjadi bukti dengan sendirinya.
Sebab, dibandingkan dengan khidmah ilmu dan agama yang kami lakukan selama lebih dari dua puluh tahun di tanah kelahiranku serta Istanbul, di sini bersama kalian dalam tujuh hingga delapan tahun telah dilakukan khidmah seratus tingkat lebih besar. Padahal, di tanah kelahiranku dan Istanbul aku mempunyai penolong seratus, bahkan seribu tingkat lebih banyak daripada saudara-saudara yang bekerja bersamaku di sini. Di sini aku seorang diri, tanpa siapa pun, terasing, setengah buta huruf, dan berada di bawah pengawasan serta tekanan para pejabat yang tidak adil. Dalam keadaan demikian, khidmah yang kulakukan bersama kalian selama tujuh hingga delapan tahun memperlihatkan keberhasilan seratus tingkat lebih besar daripada khidmah sebelumnya. Aku tidak lagi mempunyai keraguan bahwa kekuatan maknawi tersebut datang dari ikhlas kalian.
Aku juga mengakui bahwa melalui ikhlas kalian yang tulus, kalian telah menyelamatkanku sampai taraf tertentu dari riya yang membelai nafsuku di balik tabir ketenaran dan kehormatan.
İnşâallah kalian berhasil memperoleh ikhlas sepenuhnya dan juga memasukkanku ke dalam ikhlas yang utuh.
Kalian mengetahui bahwa Ali (R.A.), melalui karamahnya yang menyerupai mukjizat, serta Ghauts Yang Agung (K.S.), melalui karamah gaibnya yang luar biasa, memperhatikan kalian berdasarkan rahasia ikhlas ini. Mereka memberikan penghiburan dengan melindungi dan secara maknawi memuji khidmah kalian. Ya, jangan ragu bahwa perhatian mereka datang berdasarkan ikhlas. Jika dengan sadar kalian merusak ikhlas itu, kalian menerima tamparan mereka. Ingatlah tamparan kasih sayang dalam Lem'a Kesepuluh.
Jika kalian ingin mendapatkan para pahlawan maknawi semacam itu sebagai penolong di belakang kalian dan sebagai guru di atas kepala kalian, perolehlah ikhlas yang utuh melalui rahasia
ﻭَ ﻳُﺆْﺛِﺮُﻭﻥَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ
. Dahulukan saudara-saudara kalian daripada diri sendiri dalam hal kehormatan, kedudukan, simpati, bahkan keuntungan materi dan hal-hal lain yang disukai nafsu.
Bahkan, memberitahukan hakikat iman yang paling halus dan indah kepada seorang mukmin yang membutuhkan merupakan manfaat paling polos dan tidak merugikan. Jika mungkin, agar tidak timbul sikap mementingkan diri dalam nafsu kalian, hendaknya kalian senang jika hal itu dilakukan melalui seorang kawan yang tidak menginginkannya. Jika kalian mempunyai keinginan, “Biarlah aku memperoleh pahala dan menyampaikan persoalan indah ini,” memang tidak terdapat dosa dan kerugian di dalamnya. Namun, rahasia ikhlas di antara kalian dapat dirugikan.
PRINSIP KEEMPAT KALIAN
Membayangkan kelebihan saudara-saudara kalian ada pada pribadi kalian dan keutamaan mereka ada dalam diri kalian, lalu merasa bangga dengan syukur atas kehormatan mereka.
Di kalangan ahli tasawuf terdapat istilah “fena fi'ş-şeyh, fena fi'r-resul” ﷺ. Aku bukan sufi. Namun, prinsip mereka ini merupakan prinsip indah dalam jalan kami dalam bentuk “fena fi'l-ihvan”. Di antara para saudara, hal ini disebut “tefani”. Yakni, menjadi fana dalam diri satu sama lain. Yakni, melupakan perasaan nafsu sendiri dan dalam pikiran, hidup dengan kelebihan serta perasaan saudara-saudaranya.
Dasar jalan kami memang persaudaraan. Hubungannya bukan hubungan ayah dengan anak atau syekh dengan murid, melainkan hubungan persaudaraan sejati. Paling jauh, terdapat kedudukan sebagai guru. Karena jalan kami adalah “Haliliye”,
corak jalan kami ialah “hıllet”. Hıllet menuntut orang menjadi kawan paling dekat, sahabat paling rela berkorban, teman seperjalanan yang paling baik menghargai, serta saudara paling murah hati. Dasar utamanya ialah ikhlas yang tulus. Orang yang merusak ikhlas yang tulus jatuh dari puncak menara hıllet yang sangat tinggi ini. Ia berpeluang jatuh ke lubang yang sangat dalam dan tidak menemukan tempat berpegang di tengahnya.
Ya, tampak dua jalan. Orang-orang yang sekarang meninggalkan jalan kami, yang merupakan jalan raya terbesar Al-Qur'an, berpeluang tanpa sadar membantu kekuatan tanpa agama yang memusuhi kami. İnşâallah orang-orang yang melalui Risale-i Nur masuk ke lingkup suci Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya akan selalu menguatkan nur, ikhlas, dan iman, serta tidak jatuh ke lubang-lubang seperti itu.
Wahai kawan-kawanku dalam khidmah Al-Qur'an!
Salah satu sebab paling berpengaruh untuk memperoleh dan menjaga ikhlas ialah rabita kematian.
Ya, sebagaimana angan-angan panjang melukai ikhlas serta menggiring kepada riya dan dunia, rabita kematian membuat orang membenci riya dan memperoleh ikhlas. Yakni, memikirkan kematiannya, mempertimbangkan bahwa dunia bersifat sementara, serta bebas dari tipu daya nafsu.
Ya, melalui pelajaran yang diperoleh dari ayat-ayat Al-Qur'an Al-Hakîm seperti
ﻛُﻞُّ ﻧَﻔْﺲٍ ﺫَٓﺍﺋِﻘَﺔُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ ٭ ﺍِﻧَّﻚَ ﻣَﻴِّﺖٌ ﻭَﺍِﻧَّﻬُﻢْ ﻣَﻴِّﺘُﻮﻥَ
, para pengikut tarekat dan hakikat menjadikan rabita kematian sebagai dasar perjalanan rohaninya. Dengan rabita itu mereka menyingkirkan bayangan hidup selamanya yang menjadi sumber angan-angan panjang. Melalui bayangan dan khayalan, mereka menggambarkan serta membayangkan dirinya telah mati, dimandikan, dan dimasukkan ke kubur. Melalui pemikiran yang berulang, nafsu ammarah terpengaruh oleh khayalan dan gambaran itu, lalu melepaskan angan-angan panjangnya sampai taraf tertentu. Rabita ini mempunyai banyak manfaat. Hadis
ﺍَﻛْﺜِﺮُﻭﺍ ﺫِﻛْﺮَ ﻫَﺎﺩِﻡِ ﺍﻟﻠَّﺬَّﺍﺕِ
—ev kema kal—yakni “Sering-seringlah menyebut kematian yang menghancurkan dan membuat pahit kenikmatan!” mengajarkan rabita ini.
Namun, karena jalan kami bukan tarekat, melainkan hakikat, kami tidak harus menjalankan rabita ini dalam bentuk bayangan dan khayalan seperti para pengikut tarekat. Hal itu juga tidak sesuai dengan jalan hakikat. Sebaliknya, dengan memikirkan akhir kehidupan,
orang tidak membawa masa depan ke masa kini. Dari segi hakikat, ia berjalan dalam pikiran dari masa kini menuju masa depan dan memandangnya.
Ya, tanpa memerlukan khayalan atau anggapan, ia dapat memandang jenazahnya sendiri, yang merupakan satu-satunya buah di puncak pohon umurnya yang pendek. Melaluinya ia melihat kematian pribadinya. Jika bergerak sedikit lebih jauh, ia juga melihat kematian masanya. Jika bergerak lebih jauh lagi, ia menyaksikan kematian dunia dan membuka jalan kepada ikhlas yang paling sempurna.
Sebab Kedua: Dengan kekuatan iman yang pasti berdasarkan kajian, serta kilau-kilau yang datang dari perenungan iman pada ciptaan dan menghasilkan makrifat kepada Sang Pembuat, orang memperoleh sejenis rasa hadir di hadapan-Nya. Ia memikirkan bahwa Sang Khâliq Yang Rahîm Hadir dan Mengawasi, lalu tidak mencari simpati selain dari-Nya. Dengan memikirkan bahwa memandang orang lain serta mencari bantuan di hadirat-Nya bertentangan dengan adab rasa hadir itu, ia bebas dari riya dan memperoleh ikhlas. Bagaimanapun juga, dalam hal ini terdapat banyak tingkat dan kedudukan. Setiap orang memperoleh keuntungan sebanyak manfaat yang dapat diambil sesuai bagiannya.
Karena dalam Risale-i Nur disebutkan banyak hakikat yang membebaskan dari riya dan memberi ikhlas, kami merujuk kepadanya dan mempersingkat pembahasan di sini.
Dari banyak sebab yang merusak ikhlas dan menggiring kepada riya, kami akan menjelaskan dua atau tiga secara singkat. Pertama: Persaingan yang datang dari keuntungan materi perlahan-lahan merusak ikhlas, melukai hasil khidmah, dan membuat keuntungan materi itu sendiri hilang.
Ya, bangsa ini selalu memelihara pikiran untuk menghormati dan membantu orang-orang yang bekerja demi hakikat serta akhirat. Dengan niat untuk ikut serta dari suatu segi dalam ikhlas mereka yang sejati dan khidmah mereka yang tulus, bangsa ini membantu serta menghormati melalui keuntungan materi seperti sedekah dan hadiah, agar mereka tidak kehilangan waktu karena sibuk menyediakan kebutuhan materi. Namun, bantuan dan keuntungan ini tidak diminta; ia diberikan. Bahkan, tidak boleh diminta melalui bahasa keadaan dengan menginginkannya dalam hati dan menantikannya. Ia diberikan dalam keadaan yang tidak disangka. Jika tidak, ikhlasnya terluka. Ia juga mendekati larangan ayat
وَلَا ﺗَﺸْﺘَﺮُﻭﺍ ﺑِﺎٰﻳَﺎﺗ۪ﻰ ﺛَﻤَﻨًﺎ قَل۪يلًا
dan amalnya terbakar sebagian.
Menginginkan dan menantikan keuntungan materi ini kemudian, melalui sikap mementingkan diri, membuat nafsu ammarah tidak ingin keuntungan itu jatuh ke tangan orang lain.
Untuk itu, ia membangkitkan dorongan bersaing terhadap saudara sejati dan kawannya dalam khidmah khusus tersebut. Ikhlasnya terluka, ia kehilangan kesucian dalam khidmah, menjadi beban dalam pandangan orang-orang yang mengikuti hakikat, dan juga kehilangan keuntungan materi. Bagaimanapun juga...
Persoalan ini masih dapat dibahas panjang. Aku akan mempersingkatnya dan hanya menyampaikan dua contoh yang menguatkan rahasia ikhlas serta kesepakatan tulus di antara saudara-saudaraku yang sejati.
Contoh Pertama: Untuk memperoleh kekayaan besar dan kekuatan yang hebat, para pengejar dunia, bahkan sebagian kalangan politik, pelaku penting kehidupan sosial manusia, dan komite-komite, menjadikan prinsip menggabungkan harta sebagai pembimbing. Dengan segala penyalahgunaan dan kerugiannya, mereka tetap memperoleh kekuatan serta manfaat yang luar biasa. Namun, meskipun penggabungan harta mempunyai banyak kerugian, hakikat harta tidak berubah karena digabungkan. Masing-masing seperti pemilik keseluruhannya—memang dari suatu segi dan dalam pengawasan—tetapi tidak dapat mengambil manfaat. Bagaimanapun juga...
Jika prinsip menggabungkan harta ini masuk ke dalam amal akhirat, ia menjadi sarana manfaat yang sangat besar tanpa kerugian. Sebab, ia membawa rahasia bahwa seluruh harta masuk sepenuhnya ke tangan setiap individu yang ikut serta. Misalnya, empat atau lima orang, dengan niat bekerja sama, masing-masing membawa minyak tanah, sumbu, lampu, botol, dan korek api, lalu menyalakan lampu. Setiap orang memiliki satu lampu sepenuhnya. Jika setiap peserta mempunyai cermin besar pada suatu dinding, satu lampu beserta ruangan masuk ke cermin masing-masing tanpa kekurangan dan tanpa terbagi.
Demikian pula dalam harta akhirat, bergabung melalui rahasia ikhlas, saling menopang melalui rahasia persaudaraan, dan bekerja bersama melalui rahasia persatuan membuat seluruh hasil serta nur dari amal bersama itu masuk sepenuhnya ke dalam catatan amal masing-masing. Hal ini disaksikan dan terjadi di antara para pengikut hakikat, serta dituntut oleh luasnya Rahmat dan Kemurahan Allah سُبْحَانَهُ.
Wahai saudara-saudaraku! inşâallah keuntungan materi tidak akan menggiring kalian kepada persaingan. Namun, dalam keuntungan akhirat, kalian juga dapat tertipu seperti sebagian penganut tarekat. Betapa jauh perbedaan antara pahala pribadi yang kecil dengan pahala serta nur yang tampak melalui amal bersama seperti contoh tadi!
Contoh Kedua: Para perajin memperoleh kekayaan yang besar melalui bekerja sama agar mendapat hasil kerjanya lebih banyak. Bahkan, sepuluh orang yang membuat jarum jahit pernah berusaha membuatnya secara terpisah. Setiap hari, hanya tiga jarum yang menjadi hasil kerja perorangan tersebut.
Kemudian, melalui prinsip kerja bersama, sepuluh orang itu bergabung. Seorang membawa besi, seorang menyalakan tungku, seorang membuat lubang, seorang memasukkannya ke tungku, seorang meruncingkan ujungnya, demikian seterusnya. Dalam pembuatan jarum, masing-masing hanya mengerjakan bagian kecil. Karena pekerjaan yang dikerjakannya sederhana, waktu tidak terbuang. Dengan memperoleh kecakapan dalam pekerjaan itu, ia menyelesaikan pekerjaannya sangat cepat. Kemudian mereka membagi hasil pekerjaan yang dijalankan melalui prinsip kerja bersama dan pembagian tugas tersebut. Mereka melihat bahwa setiap orang mendapat tiga ratus jarum sehari sebagai pengganti tiga jarum. Peristiwa ini menjadi kisah terkenal di antara para perajin dalam urusan dunia untuk mendorong mereka bekerja bersama.
Wahai saudara-saudaraku! Karena dalam urusan dunia dan benda-benda materi yang padat, persatuan serta kesepakatan memberi hasil dan jumlah manfaat sebesar itu, kalian dapat membandingkan betapa besar keuntungan dalam perkara akhirat yang bercahaya, yang tidak perlu dipecah ataupun dibagi. Melalui Karunia Allah سُبْحَانَهُ, seluruh nur terpantul dalam cermin masing-masing dan setiap orang mempunyai pahala yang setara dengan yang diperoleh semuanya. Keuntungan besar ini tidak boleh dihilangkan melalui persaingan dan tidak ikhlas. Penghalang kedua yang merusak ikhlas: Melalui dorongan memuja ketenaran yang datang dari cinta kedudukan, memperoleh simpati masyarakat di balik tabir kemasyhuran dan kehormatan, menarik perhatian kepada diri sendiri untuk membelai keakuan, serta memberi kedudukan kepada nafsu ammarah. Hal ini merupakan penyakit rohani yang sangat penting, sekaligus membuka pintu riya yang disebut “syirik tersembunyi” dan sikap pamer, lalu melukai ikhlas.
Wahai saudara-saudaraku! Jalan kami dalam khidmah Al-Qur'an Al-Hakîm ialah hakikat dan persaudaraan. Rahasia persaudaraan ialah membuat pribadi sendiri fana di antara para saudara, {(Catatan kaki): Ya, orang yang beruntung ialah orang yang melemparkan pribadi serta keakuannya, yang seperti sebongkah es, ke dalam kolam dan mencairkannya untuk memperoleh kolam besar yang manis, yang tersaring dari Kausar Al-Qur'an.} lalu mendahulukan diri mereka daripada diri sendiri. Karena itu, persaingan yang datang dari cinta kedudukan semacam ini tidak boleh berpengaruh di antara kami, sebab sepenuhnya bertentangan dengan jalan kami. Karena kehormatan para saudara secara keseluruhan dapat menjadi milik setiap individu, aku berharap murid-murid Risale-i Nur berada seratus tingkat jauh dari mengorbankan kehormatan maknawi besar itu demi kehormatan serta ketenaran pribadi yang kecil, memamerkan diri, dan penuh persaingan.
Ya, hati, akal, dan jiwa para murid Risale-i Nur tidak merendahkan diri kepada hal-hal yang rendah, berbahaya, dan hina semacam ini. Namun, dalam setiap orang terdapat nafsu ammarah.
Terkadang perasaan nafsu melekat pada dorongan-dorongannya dan menjalankan pengaruh sampai taraf tertentu, meskipun bertentangan dengan hati, akal, dan jiwa. Aku tidak menuduh hati, jiwa, dan akal kalian. Berdasarkan pengaruh Risale-i Nur, aku mempercayainya. Namun, nafsu, keinginan, perasaan, dan anggapan keliru terkadang menipu. Karena itu, terkadang kalian diperingatkan dengan keras. Kekerasan ini ditujukan kepada nafsu, keinginan, perasaan, dan anggapan keliru; bersikaplah hati-hati.
Ya, seandainya jalan kami berupa kepemimpinan syekh, kedudukannya akan satu atau terbatas. Banyak orang berbakat akan menjadi calon untuk kedudukan itu. Sikap mementingkan diri dengan keinginan menyamai orang lain dapat timbul. Namun, jalan kami ialah persaudaraan. Seorang saudara tidak dapat menjadi ayah bagi saudaranya dan tidak dapat mengambil sikap sebagai mursyid. Kedudukan dalam persaudaraan luas dan tidak dapat menjadi sarana perebutan karena keinginan menyamai. Paling jauh, saudara menjadi pembantu dan penolong saudaranya, serta menyempurnakan khidmahnya.
Bukti bahwa keinginan kuat akan pahala yang disertai dorongan ingin menyamai dan cita-cita luhur dalam jalan yang bersifat ayah serta mursyid menghasilkan banyak akibat berbahaya ialah akibat berat beda pendapat dan persaingan di dalam begitu banyak kesempurnaan serta manfaat besar para penganut tarekat. Kekuatan mereka yang besar dan suci tidak mampu bertahan terhadap angin bidah. Penghalang Ketiga: Takut dan tamak. Karena penghalang ini, bersama beberapa penghalang lain, telah dijelaskan sepenuhnya dalam Hücumat-ı Sitte (Enam Serangan), kami merujuk kepadanya. Dengan menjadikan seluruh Asmaulhusna-Nya sebagai pemberi syafaat, kami memohon kepada Sang Arhamur Râhimîn agar Dia membuat kami berhasil memperoleh ikhlas yang utuh, Âmîn...
ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺑِﺤَﻖِّ ﺳُﻮﺭَﺓِ الْاِخْلَاصِ ﺍِﺟْﻌَﻠْﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﻋِﺒَﺎﺩِﻙَ ﺍﻟْﻤُﺨْﻠِﺼ۪ﻴﻦَ ﺍﻟْﻤُﺨْﻠَﺼ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ
--