Butir Hikmah
Saudaraku! Bentuk jamak serta jamaah yang diungkapkan oleh ‘nun’ dalam ﻧَﻌْﺒُﺪُ menjadikan permukaan bumi berbentuk masjid dalam pandangan orang salat yang pikiran serta hatinya terjaga. Ia mengingatkan bahwa orang itu salat dalam jamaah terbesar, yang terbentuk dari seluruh orang beriman dan memuat saf-saf yang berbaris dari timur ke barat.
Demikian pula, ketika seseorang menjadikan ungkapan zikir
لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ
sebagai wirid lisannya, hendaknya ia membayangkan waktu sebagai lingkaran zikir. Ia membayangkan para nabi duduk pada arah masa lampau, sisi kanan lingkaran itu, dan para wali pada arah masa depan, sisi kirinya, berzikir berjamaah; dirinya pun berada dalam jamaah agung tersebut dan ikut dalam suara mereka yang luhur, Ilahi, serta manis, yang memenuhi kubah biru ini. Orang-orang yang daya khayalnya lebih tajam hendaknya masuk ke dalam lingkaran-lingkaran zikir yang dibentuk seluruh ciptaan dalam masjid kainat, lalu mendengarkan suara-suara yang menggemuruhkan angkasa ini.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Terdapat rahasia besar dalam salat serta ibadah lain yang orang beriman lakukan berjamaah dengan saling bersandar dalam ibadah dan doa. Setiap individu memperoleh pahala dari jamaah jauh lebih besar daripada jumlah yang diperolehnya melalui ibadah sendiri. Setiap individu menjadi pendoa, pemberi syafaat, serta orang yang menyatakan orang lain suci, terutama bagi Nabi ﷺ. Setiap individu pun menikmati bahagia sahabat-sahabatnya dan menjadi calon untuk berubudiyah kepada Khallâq kainat serta kebahagiaan abadi.
Melalui saling membantu maknawi serta luhur yang terjadi di antara orang beriman berkat jamaah ini, bersama memikul khilafah dan memperoleh amanah, ia menerima sebutan dimuliakan di antara makhluk.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Orang yang pertolongan Ilahi menjadi temannya dapat berpindah dari lahir ke hakikat tanpa masuk ke tahap perantara tarekat. Ya, dari Al-Qur'an kulihat hakikat tarekat, tanpa tarekat, dalam bentuk limpahan dan kuambil sebagian
darinya. Aku pun menemukan jalan yang mengantarkan kepada ilmu-ilmu yang merupakan tujuan itu sendiri, tanpa membaca ilmu-ilmu alat.
Mengkaruniakan jalan singkat serta selamat kepada anak-anak zaman yang bergerak cepat ini merupakan sifat Rahmat Penuh Hikmah.
Bedîüzzaman
Said Nursî
Daftar Isi
Lem'a Pertama
(Dalam kisah Yunus a.s., dibandingkan dengan keadaan ikan, laut, serta malam yang dahsyat, ditunjukkan kepada pandangan yang mengambil pelajaran bahwa hakikat nafsu, dunia, serta masa depan setiap manusia lebih dahsyat jika dilihat dengan mata kelalaian.)
Lem'a Kedua
(Tentang hikmah musibah jasmani bagi orang beriman serta pentingnya sabar, syukur, dan tawakal.)
Lem'a Ketiga
(Tentang hubungan hakiki ruh manusia, yang diciptakan untuk hidup kekal dan mencintai hidup yang kekal, dengan Sang Bâqî Dzul-Kamâl.)
Lem'a Keempat
(Merupakan risalah Minhacü's-Sünne yang menyelesaikan perbedaan antara Syiah dan Ahli Sunah serta persoalan imamah.)
Munajat dan Penjelasannya dalam Bagian Kedua Kalimat Ketujuh Belas
Lem'a Kesebelas
(Mirkatü's-Sünneti ve Tiryaku Marazı'l-Bid'a)
Tambahan dari Kalimat Kedua Puluh Enam
(Menjelaskan empat dasar tentang membersihkan nafsu serta menyempurnakan ruh.)
Bagian Ketiga dari Kalimat Ketiga Puluh Dua
(Tentang tampaknya Tajalli Asma Allah سُبْحَانَهُ serta hasil mencintai hal-hal yang dicintai dalam kehidupan dunia atas nama Allah سُبْحَانَهُ dan melalui makna harfi, di dunia serta akhirat.)
Pokok (Kutipan dari Mesnevî-i Nuriye)
Kalimat Kesembilan Belas
(Tentang kerasulan Ahmad ﷺ.)
Sebagian dari Tambahan Mu'cizat-ı Ahmediye ﷺ (Kutipan dari Surat Kesembilan Belas)
Isyarat Kesembilan Belas dengan Butir Hikmah dari Surat Kesembilan Belas
(Tentang kerasulan Ahmad ﷺ)
Tingkat Keenam Belas Risalah Âyetü'l-Kübra, Sinar Ketujuh, yang Membahas Kerasulan Muhammad ﷺ
Sebuah bagian tentang kenabian Muhammad ﷺ. (Kutipan dari İşaratü'l-İ'caz)
Bagian-Bagian dari Mesnevî-i Nuriye
Jawaban atas pertanyaan “Bagaimanakah doa terbaik seorang mukmin bagi mukmin lain?” (Kutipan dari Surat Kedua Puluh Tiga)
Tambahan Pertama Surat Kedua Puluh Empat (Tentang doa)
Bagian-Bagian dari Kastamonu Lâhikası
Kutipan dari Sinar Pertama
(Penjelasan tentang sampainya Fatiha, khatam Al-Qur'an, serta doa-doa kepada ruh orang beriman yang tak terhitung pada saat yang sama.)
Kutipan dari Kastamonu Lâhikası
(Tentang pentingnya tasbih pada akhir salat)
Butir Hikmah (Kutipan dari Mesnevî-i Nuriye)