Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Sinar Pertama

Risalah Tangga Sunah dan Penawar Penyakit Bidah · Bahasa Indonesia

Sinar Pertama

Ini merupakan jawaban yang luar biasa, yang tiba-tiba terlintas terhadap dua pertanyaan yang menakjubkan.

Pertanyaan Pertama: Dikatakan, ‘Wirid-wirid yang dibaca serta hal-hal suci seperti Fatiha, Yâsin, dan khatam Al-Qur’an, kadang dihadiahkan kepada orang-orang yang telah meninggal serta masih hidup, yang jumlahnya tidak terbatas. Namun, satu hadiah yang bersifat juz’i (yang sebagian) seperti ini dapat menjangkau orang-orang tanpa batas dalam satu saat, dan setiap orang menerima hadiah yang sama: Hal ini berada di luar jangkauan akal.’

Jawaban: Sebagaimana Sang Fâthir Yang Hakîm Menjadikan unsur udara sebagai ladang serta sarana bagi kata-kata untuk tersebar seperti kilat dan berlipat ganda, serta melalui radio Membuat azan Muhammad ﷺ yang dibaca pada satu menara menjangkau semua tempat serta semua manusia pada saat yang sama, demikian pula, dengan Kudrat tanpa batas dan Hikmah tanpa akhir, Dia Membentangkan serta Menebarkan banyak listrik rohani dan radio rohani di alam rohani, dalam udara rohani, untuk menyampaikan satu Fatiha yang dibaca, misalnya, kepada semua ahli iman yang telah meninggal pada saat yang sama. Dia Menggunakan serta Mengoperasikannya dalam telepon-telepon nirkabel yang bersifat fitri.

Sebagaimana, ketika sebuah lampu menyala, satu lampu yang utuh masuk ke setiap cermin di antara ribuan cermin yang berada di hadapannya, demikian pula, jika satu Yâsin-i Şerif dibaca dan dihadiahkan kepada jutaan ruh, setiap ruh menerima satu Yâsin-i Şerif yang utuh.

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia!

Karena salah seorang saudara kita memperlihatkan kelambanan dalam tasbih setelah salat, aku berkata: Tasbih-tasbih setelah salat merupakan tarekat Muhammad ﷺ dan wirid kewalian Ahmad ﷺ. Dari segi itu, ia amat penting. Kemudian hakikat perkataan ini terbuka demikian: Sebagaimana kewalian Ahmad ﷺ yang berubah menjadi kerasulan berada di atas seluruh kewalian, tasbih setelah salat, yang merupakan tarekat kewalian itu serta wirid khusus kewalian besar tersebut, juga berada sedemikian tinggi di atas tarekat-tarekat serta wirid-wirid lainnya.

Rahasia ini juga terbuka demikian: Sebagaimana dalam lingkaran zikir, pada suatu majelis atau khatam Naqsyabandi di masjid, dirasakan suatu keadaan bercahaya pada keseluruhan jamaah yang saling berkaitan, seseorang yang hatinya terjaga, ketika sesudah salat mengucapkan “Sübhanallah Sübhanallah” sambil menggerakkan tasbih, secara maknawi merasakan seratus juta orang bertasbih, dengan tasbih di tangan, di hadapan Pribadi Ahmad ﷺ, pemimpin lingkaran zikir itu. Dengan keagungan serta kemuliaan itu ia mengucapkan “Sübhanallah Sübhanallah”. Kemudian, mengikuti perintah maknawi pemimpin zikir tersebut, ketika mengucapkan “Elhamdülillah Elhamdülillah”, ia memikirkan pujian agung yang tampak dari “Elhamdülillah Elhamdülillah” seratus juta murid dalam lingkaran zikir serta khatam Ahmad ﷺ yang lingkupnya amat luas itu, lalu turut serta di dalamnya dengan “Elhamdülillah”. Demikian pula, dengan “Allahu Ekber Allahu Ekber” dan sesudah doa, “Lâ ilahe illallah Lâ ilahe illallah” sebanyak tiga puluh tiga kali, menurut makna terdahulu ia memperhatikan saudara-saudara tarekat itu dalam lingkaran zikir serta khatam besar tarekat Ahmad ﷺ. Ia menghadap Pribadi Ahmad ﷺ, pemimpin zikir lingkaran tersebut, lalu mengucapkan

ﺍَﻟْﻒُ ﺍَﻟْﻒِ صَلَاةٍ ﻭَ ﺍَﻟْﻒُ ﺍَﻟْﻒِ سَلَامٍ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ

. Demikianlah aku memahami, merasakan, dan melihat dalam khayal. Berarti, tasbih setelah salat amat penting.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Dengarkan manfaat serta tempat penggunaan tiga ungkapan suci ini: Sübhanallah, Elhamdülillah, Allahu Ekber.

1- Ketika manusia yang hatinya memiliki hidup memandang kainat serta alam, ia terpana dengan melihat hal-hal yang tidak mampu dipahaminya, terutama manuver-manuver Ilahi yang dilakukan dalam ruang kosong ini. Api terpana pada keadaan yang menakjubkan serta menimbulkan gentar seperti ini hanya padam dengan meminum air jernih yang memancar dari ungkapan Sübhanallah.

2- Manusia yang sama, dengan menampakkan nikmat yang dirasakannya dari nikmat-nikmat lezat yang dilihatnya, di bawah sebutan ‘Hamd’, melihat pemberian nikmat dalam nikmat dan Mun'im dalam pemberian nikmat. Dengan meminta nikmat terus ada serta rasa nikmat bertambah, melalui ungkapan Elhamdülillah ia bernapas seperti orang yang menemukan perbendaharaan nikmat.

3- Ketika manusia yang sama melihat hal-hal dari makhluk menakjubkan serta gerak luar biasa yang tidak dapat ditimbang akalnya atau dimuat pikirannya, ia memperoleh lega dengan mengucapkan Allahu Ekber. Yakni, Khâliqnya lebih Agung serta lebih Besar. Menciptakan serta mengatur mereka tidak berat bagi-Nya.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Doa-doa merupakan contoh bagi rahasia tauhid serta ibadah. Sebagaimana diperlukan dalam tauhid serta ibadah, orang yang berdoa pun harus berkata bahwa Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Mendengar keinginan serta permohonan yang beredar dalam hatinya, dan harus meyakini bahwa Dia Berdaya. Keyakinan ini mengharuskan bahwa Allah سُبْحَانَهُ Mengetahui segala sesuatu serta Berdaya atas segala sesuatu.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Terus mengulang zikir kalimat tauhid adalah untuk memutus ikatan serta tali yang mengikat hati kepada banyak hal, dan memalingkan wajah nafsu dari kekasih-kekasih yang dijadikannya berhala hingga tingkat menyembah. Selain itu, sebagaimana mengisyaratkan bahwa daya serta latifah dalam pribadi yang berzikir memiliki tauhid masing-masing, hal itu juga untuk memutus hubungan mereka dengan sekutu-sekutu yang sesuai bagi masing-masing.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Dalam mengambil manfaat dari pahala yang muncul, misalnya, dari satu Al-Fatihah yang dibaca seseorang bagi kerabatnya, satu serta seribu sama. Sebagaimana dalam mendengar suatu lafaz yang keluar dari mulut, jamaah serta satu individu sama. Sebab, hal-hal halus seperti percetakan; dari satu kata yang dicetak keluar seribu kata.

Demikian pula, ini merupakan isyarat bahwa dalam hal-hal bercahaya, bersama satu terdapat berlipat banyak, yakni dalam satu hal bercahaya terdapat seribu pahala.

Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Maqam Mahmud (kedudukan terpuji) Nabi Yang Agung ﷺ seperti hidangan Ilahi serta jamuan Rabbani. Ya, karunia, limpahan, serta nikmat yang dibagikan mengalir dari jamuan tersebut. Salawat mulia yang dibaca kepada Rasul Yang Agung ﷺ merupakan jawaban atas undangan kepada jamuan itu.

Demikian pula, ketika orang yang mengucapkan salawat mulia menggambarkan Pribadi Nabi ﷺ dengan suatu sifat, hendaknya ia memikirkan ke mana sifat itu berkaitan agar menjadi pendorong baginya untuk berulang-ulang mengucapkan salawat.

(Kutipan dari Mesnevî-i Nuriye)