Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Penutup

Risalah Tangga Sunah dan Penawar Penyakit Bidah · Bahasa Indonesia

Penutup

Penjelasan keempat langkah dalam jalan melalui keadaan tak berdaya, keadaan fakir, belas kasih, dan tafakur ini terdapat dalam dua puluh enam Kalimat mengenai ilmu hakikat, hakikat syariat, serta hikmah Al-Qur'an. Di sini, kami hanya akan memberikan isyarat singkat kepada satu atau dua pokok. Demikianlah:

Ya, jalan ini lebih singkat, sebab terdiri atas empat langkah. Jika keadaan tak berdaya menarik tangannya dari nafsu, ia langsung memberikannya kepada Sang Qadîr Dzul-Jalâl. Adapun cinta mendalam, jalan yang paling tajam, menarik tangannya dari nafsu tetapi berpegang pada kekasih kiasan. Setelah menemukan bahwa kekasih itu lenyap, ia menuju Sang Kekasih Yang Hakiki.

Jalan ini juga lebih selamat, sebab tidak ada ucapan nafsu saat terhanyut oleh rasa rohani dan pengakuannya yang terbang tinggi. Ia hanya menemukan keadaan tak berdaya, keadaan fakir, dan kekurangan dalam nafsunya, sehingga tidak melampaui batas.

Jalan ini juga lebih umum dan merupakan jalan raya besar. Untuk memperoleh rasa terus hadir di hadapan Allah سُبْحَانَهُ, ia tidak perlu, seperti penganut wahdatul wujud, menganggap kainat dihukum musnah lalu memutuskan "Lâ mevcude illâ Hû". Ia juga tidak perlu, seperti penganut wahdatul syuhud, membayangkan kainat dihukum penjara dalam penjara lupa sepenuhnya demi rasa terus hadir di hadapan Allah سُبْحَانَهُ, lalu mengatakan "Lâ meşhude illâ Hû". Karena Al-Qur'an dengan sangat jelas telah membebaskan kainat dari hukuman musnah dan penjara, ia pun mengalihkan pandangan itu, melepaskan segala yang ada dari tugas mengabdi demi dirinya sendiri, lalu menugaskannya demi Sang Fâthir Dzul-Jalâl. Ia memakainya dalam tugas menjadi tempat pantulan dan cermin Asma-Nya Yang Indah, serta memandangnya dengan makna harfi. Dengan demikian, ia terbebas dari kelalaian mutlak dan memasuki rasa terus hadir di hadapan Allah سُبْحَانَهُ, serta menemukan jalan kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq dalam setiap hal.

Kesimpulannya,

melepaskan segala yang ada dari tugas mengabdi demi segala yang ada itu sendiri, dan tidak memandangnya dengan makna ismi.

--

(Kutipan dari Kalimat Ketiga Puluh Dua)

BAGIAN KETIGA

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻭَ ﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪

Bagian Ketiga ini ialah "Pokok Kedua". Ia pun terdiri dari dua pembahasan.

PEMBAHASAN PERTAMA

Menurut rahasia

ﻭَ ﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪

, pada setiap sesuatu terdapat banyak sisi yang seperti jendela menghadap Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Hakikat seluruh yang ada dan hakikat seluruh kainat bersandar pada Asma Ilahi. Hakikat setiap sesuatu bersandar pada satu Nama ataupun banyak Asma. Sifat-sifat serta seni pada benda-benda pun masing-masing bersandar pada satu Nama.

Bahkan, sebagaimana ilmu hikmah yang sejati bersandar pada Nama "Hakîm", ilmu kedokteran yang benar pada Nama "Syâfî", ilmu geometri pada Nama "Muqaddir", dan seterusnya, setiap ilmu bersandar pada satu Nama dan berakhir padanya; hakikat seluruh ilmu, seluruh kesempurnaan manusia serta lapisan-lapisan manusia sempurna juga bersandar pada Asma Ilahi.

Bahkan, sebagian wali yang meneliti dengan saksama berkata, "Hakikat sejati benda-benda ialah Asma Ilahi. Hakikat diri benda-benda ialah bayang-bayang hakikat tersebut."

Bahkan, pada satu makhluk hidup saja, hanya pada sisi yang tampak, dapat terlihat manifestasi corak sekitar dua puluh Asma Ilahi.

Kami akan berusaha mendekatkan kepada pemahaman hakikat yang halus, teliti, amat besar dan luas ini melalui suatu perumpamaan. Kami akan menguraikannya seolah menyaring dengan dua atau tiga saringan berbeda. Sepanjang apa pun kami menjelaskan, ia tetap singkat. Jangan bosan. Demikianlah:

Jika seorang pelukis serta pemahat yang amat ahli ingin membuat gambar serta patung dari bunga yang amat indah dan perempuan yang amat cantik, dari jenis manusia yang lembut, mula-mula ia menentukan bentuk umum kedua hal itu dengan beberapa garis. Ia menentukan melalui penataan serta ukuran. Berdasarkan geometri, ia menentukan batas. Penataan serta penentuan ukuran ini menunjukkan bahwa semuanya dilakukan dengan hikmah dan ilmu; tindakan menata serta membatasi berputar dengan jangka ilmu serta hikmah. Maka, di belakang penataan dan pembatasan, makna ilmu serta hikmah berkuasa.

Jangka ilmu serta hikmah itu akan memperlihatkan dirinya. Ia pun memperlihatkan dirinya: di dalam batas-batas itu, ia mulai menggambar hal-hal seperti mata, telinga, hidung, daun serta rumbai-rumbai yang amat halus. Kini kami melihat bahwa anggota-anggota yang ditentukan melalui gerak jangka di dalamnya ditempatkan dengan seni dan perhatian. Maka, di belakangnya ada makna seni serta perhatian yang memutar jangka ilmu dan hikmah itu; mereka berkuasa dan akan memperlihatkan diri. Karena itulah ia memperlihatkan kemampuan menerima keelokan serta hiasan. Maka, yang menggerakkan seni serta perhatian ialah kehendak memperindah dan maksud menghias. Mereka berkuasa sehingga ia mulai menghiasi dan menerangi. Ia memperlihatkan keadaan tersenyum dan memberi bentuk yang hidup.

Tentu, yang menggerakkan makna memperindah serta menerangi ini ialah makna kelembutan dan kemurahan. Ya, kedua makna itu begitu berkuasa padanya, sehingga bunga tersebut seolah kelembutan yang bertubuh dan patung itu kemurahan yang menjadi jasad.

Kini, yang menggerakkan serta mendorong makna kemurahan dan kelembutan ini ialah "membuat diri dicintai dan dikenali". Yakni, di belakangnya berkuasa makna mengenalkan diri melalui keahlian dan membuat diri dicintai orang-orang.

Mengenalkan serta membuat diri dicintai ini tentu datang dari kecenderungan berbelas kasih dan kehendak memberi nikmat. Karena belas kasih serta kehendak memberi nikmat berkuasa di belakangnya, ia akan memenuhi serta menghiasi patung itu dengan berbagai nikmat, dan memasangkan gambar bunga itu pada sebuah hadiah. Ia pun memenuhi tangan, pangkuan serta kantong patung itu dengan nikmat-nikmat berharga, dan memasangkan gambar bunga pada sebuah perhiasan permata.

Jadi, yang menggerakkan belas kasih serta kehendak memberi nikmat ini ialah rasa iba dan kasih sayang. Yakni, makna "mengasihani dan menyayangi" menggerakkan belas kasih serta nikmat.

Yang menggerakkan serta mendorong tampaknya rasa iba dan kasih sayang pada sosok yang tidak membutuhkan siapa pun itu tentu ialah keindahan serta kesempurnaan rohani dalam dirinya, yang hendak tampak.

Cinta, bagian paling manis dari keindahan itu, serta belas kasih, bagian paling lezatnya, hendak terlihat melalui cermin seni dan melihat diri melalui mata para perindu. Yakni, karena dicintai pada dirinya sendiri, keindahan serta kesempurnaan mencintai diri sendiri lebih daripada apa pun. Mereka sekaligus keelokan dan cinta. Persatuan keelokan dan cinta berasal dari hal ini. Karena keindahan mencintai dirinya, ia hendak melihat diri dalam cermin-cermin. Nikmat-nikmat yang disukai serta buah-buah indah, yang diletakkan pada patung dan dipasangkan pada gambar, masing-masing membawa satu kilauan keindahan rohani itu menurut kemampuan mereka. Mereka memperlihatkan kilauan-kilauan tersebut kepada pemilik keindahan maupun yang lain. Persis demikian, Sang Pembuat Yang Hakîm melalui manifestasi Asma-Nya menentukan batas dan menata bentuk surga serta dunia, langit serta bumi, tumbuhan serta hewan, jin serta manusia, malaikat serta makhluk ruhani, dan seluruh sesuatu yang menyeluruh ataupun juz'i; Dia memberi masing-masing ukuran tertentu. Dengan itu Dia membuat mereka membaca Nama-Nama "Muqaddir, Munazzim, Musawwir". Dia menentukan batas bentuk umum sedemikian rupa sehingga memperlihatkan Nama "Alîm, Hakîm".

Lalu, dengan penggaris Ilmu serta Hikmah, Dia mulai memberi bentuk sesuatu itu dalam batas tersebut, dengan cara yang memperlihatkan makna Seni serta Perhatian dan Nama-Nama “Sang Pembuat dan Karîm”.

Kemudian, dengan Tangan Cemerlang Seni dan kuas Perhatian, Dia memberi warna-warna keelokan serta hiasan kepada anggota-anggota bentuk tersebut—jika ia seorang manusia atau sebuah bunga, kepada mata, telinga, daun serta rumbai; jika bumi, kepada mineral, tumbuhan serta hewannya; jika surga, kepada taman, istana serta bidadarinya; dan seterusnya. Bandingkan yang lain. Dia menghias serta menerangi dengan cara yang membuat makna Kelembutan dan Kemurahan begitu berkuasa padanya, sehingga makhluk berhias serta karya bersinar itu seolah menjadi Kelembutan yang bertubuh dan Kemurahan yang menjadi jasad. Ia menyebut Nama "Latîf dan Karîm".

Lalu, yang menggerakkan Kelembutan serta Kemurahan kepada manifestasi ini tentu ialah membuat Diri dicintai serta dikenali, yakni Keadaan-Keadaan membuat makhluk hidup mencintai-Nya dan membuat makhluk yang sadar mengenal-Nya. Di belakang Nama-Nama "Latîf, Karîm", Dia membuat mereka membaca Nama-Nama "Wadûd dan Ma'rûf", yang terdengar dari bahasa keadaan karya ciptaan.

Lalu, Dia menghiasi makhluk berhias dan ciptaan indah itu dengan buah-buah lezat serta hasil-hasil yang dicintai, mengubahnya dari hiasan menjadi nikmat, dari Kelembutan menjadi Rahmat. Dia membuat mereka membaca Nama "Mun'im dan Rahîm", dan memperlihatkan manifestasi kedua Nama itu di balik tabir-tabir lahiriah.

Kemudian, yang menggerakkan Rahîm dan Karîm ini, pada Zat yang sama sekali tidak membutuhkan apa pun, kepada manifestasi ini tentu ialah Keadaan-Keadaan Belas Kasih serta Kasih Sayang; Dia membuat mereka membaca dan memperlihatkan Nama "Hannân dan Rahmân".

Yang menggerakkan makna Belas Kasih serta Kasih Sayang ini kepada manifestasi tentu ialah Keindahan serta Kesempurnaan Zat yang hendak tampak. Dia membuat mereka membaca Nama "Jamîl" serta Nama-Nama "Wadûd dan Rahîm" yang terkandung dalam Nama Jamîl. Sebab, keindahan dicintai pada dirinya sendiri. Yang indah dan keindahan mencintai diri sendiri. Ia sekaligus keelokan dan cinta. Kesempurnaan juga dicintai pada dirinya sendiri, tanpa sebab. Ia sekaligus yang mencintai dan yang dicintai.

Karena Keindahan pada tingkat Kesempurnaan tak berhingga dan Kesempurnaan pada tingkat Keindahan tak berhingga dicintai pada tingkat tertinggi, serta layak menerima cinta dan kasih, tentu Dia hendak tampak dengan melihat dan memperlihatkan Kilauan serta manifestasi-Nya dalam cermin-cermin menurut kemampuan mereka.

Jadi, Keindahan Zat serta Kesempurnaan Zat Sang Pembuat Dzul-Jalâl, Sang Hakîm Dzul-Jamâl dan Sang Qadîr Dzul-Kamâl menuntut Belas Kasih serta Kasih Sayang, dan menggerakkan Nama "Rahmân dan Hannân" kepada Tajalli.

Belas Kasih serta Kasih Sayang menggerakkan Nama "Rahîm dan Mun'im" kepada manifestasi dengan memperlihatkan Rahmat serta nikmat.

Rahmat serta nikmat menuntut Keadaan-Keadaan membuat Diri dicintai dan dikenali, lalu menggerakkan Nama "Wadûd dan Ma'rûf" kepada Tajalli. Dia memperlihatkan mereka pada satu tabir karya ciptaan.

Membuat Diri dicintai serta dikenali menggerakkan makna Kelembutan dan Kemurahan. Dia membuat Nama-Nama "Latîf dan Karîm" terbaca pada beberapa tabir karya ciptaan.

Keadaan-Keadaan Kelembutan serta Kemurahan menggerakkan perbuatan menghias dan menerangi. Dia membuat Nama-Nama "Muzayyin dan Munawwir" terbaca melalui bahasa keelokan serta cahaya karya ciptaan.

Keadaan-Keadaan menghias serta memperindah itu menuntut makna Seni dan Perhatian. Dia membuat Nama-Nama “Sang Pembuat dan Muhsin” terbaca melalui wajah indah karya ciptaan itu.

Seni serta Perhatian menuntut Ilmu dan Hikmah. Dia membuat Nama "Alîm dan Hakîm" terbaca melalui anggota-anggota karya ciptaan yang teratur serta penuh hikmah.

Ilmu serta Hikmah itu menuntut perbuatan menata, memberi bentuk dan menyusun. Dia membuat Nama-Nama "Musawwir dan Muqaddir" terbaca serta terlihat melalui wujud dan bentuk karya ciptaan.

Sang Pembuat Dzul-Jalâl membuat seluruh karya-Nya sedemikian rupa sehingga sebagian besar, terutama yang hidup, membuat banyak Asma Ilahi terbaca. Seolah-olah Dia mengenakan dua puluh kemeja berbeda berlapis-lapis pada setiap karya-Nya, membungkusnya dengan dua puluh tabir. Pada setiap kemeja dan setiap tabir, Dia menulis Asma-Nya yang berbeda. Misalnya, sebagaimana diperlihatkan dalam perumpamaan, hanya pada ciptaan lahiriah sebuah bunga indah dan seorang perempuan cantik dari golongan kedua manusia terdapat banyak lembaran. Bandingkan karya-karya besar serta menyeluruh lainnya dengan kedua contoh juz'i itu.

Lembaran pertama: Wujud yang memperlihatkan bentuk umum serta ukurannya, yang menyebut Nama-Nama "Yâ Musavvir, yâ Mukaddir, yâ Munazzım".

Lembaran kedua: Wujud sederhana bunga serta manusia yang muncul melalui berkembangnya anggota-anggota berbeda pada bentuk mereka; pada lembaran itu tertulis banyak Nama seperti "Alîm, Hakîm".

Lembaran ketiga: Dengan memberi keelokan serta hiasan berbeda kepada anggota-anggota berbeda kedua makhluk itu, pada lembaran tersebut tertulis banyak Nama seperti “Sang Pembuat dan Bâri'”.

Lembaran keempat: Kedua karya ciptaan itu diberi hiasan serta keelokan sedemikian rupa, seolah Kelembutan dan Kemurahan menjadi jasad lalu menjadi mereka. Lembaran itu menyebut serta membaca banyak Nama seperti "Yâ Latîf, Yâ Kerim".

Lembaran kelima: Dengan memasangkan buah-buah lezat pada bunga itu, serta anak-anak yang dicintai dan akhlak indah pada perempuan cantik itu, lembaran tersebut membuat Nama-Nama seperti "Yâ Vedud, yâ Rahîm, yâ Mün'im" terbaca.

Lembaran keenam: Pada lembaran memberi nikmat serta Karunia itu terbaca Nama-Nama seperti "Yâ Rahman, yâ Hannan".

Lembaran ketujuh: Pada nikmat-nikmat serta hasil-hasil itu tampak Kilauan Keelokan dan Keindahan yang layak menerima syukur tulus serta cinta murni, yang diramu dengan semangat dan kasih sayang sejati. Pada lembaran itu tertulis dan terbaca Nama-Nama "Yâ Cemil-i Zülkemal, yâ Kâmil-i Zülcemal".

Jika hanya sebuah bunga indah dan seorang perempuan cantik, hanya dalam bentuk materi serta lahiriah, memperlihatkan begitu banyak Asma, engkau dapat membandingkan betapa seluruh bunga, seluruh makhluk hidup serta yang ada yang besar dan menyeluruh membuat Asma yang luhur serta menyeluruh terbaca.

Engkau juga dapat membandingkan betapa banyak Asma suci bercahaya seperti "Hayy, Qayyûm dan Muhyî" yang dibaca dan dibuat terbaca oleh manusia dari segi ruh, kalbu serta akal, dan melalui lembaran-lembaran kehidupan serta latifah-latifahnya.

Surga ialah sebuah bunga. Golongan bidadari juga sebuah bunga. Muka bumi juga sebuah bunga. Musim semi pun sebuah bunga. Langit juga sebuah bunga; bintang-bintang ialah corak-corak emas bunga itu. Matahari pun sebuah bunga; tujuh warna cahayanya ialah cat-cat bercorak bunga tersebut. Alam ialah manusia yang indah dan besar, sebagaimana manusia ialah alam kecil. Golongan bidadari, kumpulan makhluk ruhani, jenis malaikat, golongan jin serta jenis manusia masing-masing diberi bentuk, ditata dan diadakan seperti satu sosok indah.

Sebagaimana masing-masing dalam keseluruhannya, dan setiap individunya sendiri, memperlihatkan Asma Sang Pembuat Dzul-Jamâl, mereka juga masing-masing ialah cermin tersendiri bagi Keindahan, Kesempurnaan, Rahmat serta Cinta-Nya. Masing-masing ialah saksi benar Keindahan, Kesempurnaan, Rahmat serta Cinta-Nya yang tak berhingga, dan tanda serta isyarat Keindahan, Kesempurnaan, Rahmat serta Cinta itu. Berbagai Kesempurnaan yang tak berhingga ini terwujud dalam lingkup Wâhidiyah dan Ahadiyah. Jadi, kesempurnaan yang disangka ada di luar lingkup itu bukanlah kesempurnaan.

Pahamilah bahwa hakikat benda-benda bersandar serta bertumpu pada Asma Ilahi, bahkan hakikat sejati ialah manifestasi Asma itu; dan bahwa setiap sesuatu berzikir serta bertasbih kepada Sang Pembuatnya dari banyak sisi serta dengan banyak bahasa. Ketahuilah satu makna

ﻭَﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪

, dan ucapkan

ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﻣَﻦِ ﺍﺧْﺘَﻔٰﻰ ﺑِﺸِﺪَّﺓِ ﻇُﻬُﻮﺭِﻩ۪

. Pahamilah pula suatu rahasia penyebutan serta pengulangan seperti

ﻭَ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﺰ۪ﻳﺰُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ٭ ﻭَ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻐَﻔُﻮﺭُ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢُ ٭ ﻭَ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﻘَﺪ۪ﻳﺮُ

pada akhir ayat-ayat.

Jika engkau tidak dapat membaca Asma pada sebuah bunga dan tidak melihatnya dengan jelas, pandanglah surga, perhatikan musim semi dan saksikan muka bumi. Engkau dapat membaca dengan jelas Asma yang tertulis pada surga, musim semi serta bumi, bunga-bunga besar Rahmat ini, serta memahami dan melihat manifestasi serta coraknya.

--

(Kutipan dari Mesnevî-i Nuriye (Mesnevî Cahaya))