Pokok
Cinta kepada segala sesuatu selain Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq terbagi dua jenis. Yang satu turun dari atas ke bawah. Yang lainnya naik dari bawah ke atas. Demikianlah:
Apabila seseorang pertama-tama memberikan cintanya kepada Allah سُبْحَانَهُ, karena cintanya kepada Allah سُبْحَانَهُ ia mencintai segala sesuatu yang Allah سُبْحَانَهُ Cintai. Cinta yang dibagikannya kepada makhluk tidak mengurangi cintanya kepada Allah سُبْحَانَهُ, melainkan menambahnya.
Adapun bagian kedua, ia pertama-tama mencintai sebab-sebab dan menjadikan cinta ini jalan untuk mencintai Allah سُبْحَانَهُ. Cinta bagian ini tidak dapat menjaga himpunannya; ia tercerai. Kadang ia berjumpa sebab yang kuat, yang menarik cintanya sepenuhnya melalui makna ismi, lalu menyebabkan binasa. Sekalipun ia sampai kepada Allah سُبْحَانَهُ, sampainya tidak sempurna.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Buah pohon penciptaan ialah manusia. Diketahui bahwa karena buah paling sempurna di antara seluruh bagian dan paling jauh dari akar, ia memuat ciri khas serta keunggulan seluruh bagian. Demikian pula, biji yang seperti sebab tujuan penciptaan alam ialah manusia lagi.
Kemudian, Dia Menjadikan satu dari manusia yang merupakan buah pohon itu sebagai biji bagi pohon Islam. Maka, biji itu merupakan pembangun, dasar, serta matahari alam Islam. Namun, biji bagi biji tersebut ialah hati. Dengan dorongan kebutuhan, hati memiliki banyak sekali hubungan dengan jenis-jenis serta bagian-bagian alam. Ia membutuhkan seluruh cahaya Asmaul Husna. Hati itu memiliki harapan serta musuh sebanyak yang dapat memenuhi dunia. Ia hanya dapat menjadi tenteram melalui Ghaniyy Yang Mutlak serta Hâfizh Yang Hakiki.
Demikian pula, hati itu memiliki kemampuan yang mewakili seluruh alam seperti peta atau daftar isi. Dalam pusatnya, ia tidak menerima sesuatu selain Wâhid lagi Ahad. Ia tidak rela dengan sesuatu selain terus ada secara abadi serta tetap.
Jika hati, yang merupakan biji manusia, disirami Islam di bawah ubudiyah serta ikhlas dan terbangun melalui iman, dengan perintah yang datang dari alam perintah yang bercahaya serta bersifat gambaran, ia menghijau menjadi pohon bercahaya yang menjadi ruh bagi alam jasmaninya. Jika biji hati tersebut tidak memperoleh pemeliharaan seperti ini, ia tetap menjadi biji kering dan harus dibakar dengan api hingga berubah menjadi cahaya.
Demikian pula, terdapat banyak pelayan bagi butir hati itu. Jika para pelayan tersebut memperoleh hidup melalui hidup hati serta berkembang, kainat yang besar menjadi tempat berjalan-jalan serta melihat bagi mereka. Bahkan, khayal, misalnya, salah satu pelayan hati yang paling lemah serta paling tak berharga, di dalam penjara serta kurungan
membawa pemiliknya yang terikat di sana berkeliling seluruh dunia dan menggembirakannya. Ia membuat orang yang salat di timur meletakkan kepalanya di bawah Hajar Aswad, serta menitipkan kesaksian-kesaksiannya kepada Hajar Aswad untuk dijaga.
Karena anak Adam merupakan buah kainat, sebagaimana bulir-bulir dipukul di tempat mengirik dan setelah dibersihkan buah-buah dipertahankan serta disimpan, medan kebangkitan pun merupakan tempat mengirik. Ia menantikan anak Adam, bulir serta buah kainat.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Lafaz Jalal, ‘Allah’ سُبْحَانَهُ, menunjukkan melalui keharusan makna seluruh makna yang dinyatakan Asmaul Husna serta seluruh Sifat Sempurna. Nama-nama khusus lainnya hanya menunjukkan pemilik nama; tidak menunjukkan sifat-sifat, sebab sifat-sifat bukan bagian pemilik nama dan tidak terdapat hubungan niscaya yang jelas di antaranya. Dari segi ini, semuanya tidak menunjukkan sifat melalui makna yang termuat ataupun melalui keharusan makna.
Adapun lafaz Jalal secara tepat menunjukkan Zat Yang Mahasuci. Karena di antara Zat Yang Mahasuci serta Sifat-Sifat Sempurna terdapat hubungan niscaya yang jelas, ia juga menunjukkan Sifat-Sifat melalui keharusan makna.
Sebutan Keilahian pun mengharuskan Sifat-Sifat Sempurna, yang mengharuskan bahwa nama khusus ‘Allah’ سُبْحَانَهُ juga mengharuskan Sifat-Sifat tersebut.
Kata ‘Allah’ سُبْحَانَهُ pun dipikirkan bersama Sifat-Sifat sesudah penyangkalan. Karena itu, perkataan ‘Lâ ilahe illallah’ memuat perkataan-perkataan sebanyak Asmaul Husna. Dari segi ini, perkataan kalimat tauhid tersebut, meskipun satu, menjadi seribu perkataan menurut Sifat-Sifat yang ditunjukkannya, seperti ‘Lâ Hâlıka illallah’, ‘Lâ Fâtıra, Lâ Râzıka, Lâ Kayyume illallah’. Karena itu, pribadi berzikir yang telah maju, ketika mengucapkan perkataan ini, telah mengucapkan ribuan perkataan di dalamnya.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Rasa nikmat, rasa senang, serta hiasan dunia, jika kita tidak mengenal Khâliq, Mâlik, serta Maulâ kita (Pelindung kita), sekalipun surga, merupakan neraka. Ya, demikian kulihat serta kurasakan. Terutama, adakah sesuatu selain makrifatullah yang dapat memadamkan api kasih? Ya, setelah terdapat makrifatullah, sebagaimana tiada selera kepada hal-hal lezat dunia, bahkan rindu kepada surga pun tertinggal.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Siapa yang menyerahkan dirinya sebagai milik Allah سُبْحَانَهُ, segala sesuatu berada di pihaknya. Siapa yang tidak menjadi milik Allah سُبْحَانَهُ, segala sesuatu melawannya. Menjadi milik Allah سُبْحَانَهُ ialah meninggalkan segala sesuatu serta mengetahui bahwa segala sesuatu berasal dari-Nya dan kembali kepada-Nya.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Seekor domba yang terkena batu yang dilempar gembala untuk mengembalikan kawanan yang melampaui padang penggembalaan berkata melalui bahasa keadaan, ‘Kita berada di bawah perintah gembala. Ia memikirkan manfaat kita lebih daripada kita. Karena ia tidak meridai, marilah kita kembali.’ Ia sendiri kembali, dan kawanan pun kembali.
Wahai nafsu! Engkau tidak lebih membangkang serta lebih sesat daripada domba itu. Ketika terkena batu musibah yang dilempar takdir kepadamu, ucapkan
ﺍِﻧَّﺎ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻭَ ﺍِﻧَّٓﺎ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺭَﺍﺟِﻌُﻮﻥَ
dan kembalilah kepada Tempat Kembali Hakiki. Berimanlah dan jangan bersedih. Dia Memperhatikanmu lebih daripada dirimu.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Bahwa hati tidak diciptakan untuk sengaja sibuk dengan urusan dunia dapat dijelaskan sebagai berikut:
Kita melihat bahwa apa pun yang diraih hati, ia melekat padanya dengan seluruh daya serta kerasnya. Dengan perhatian besar, ia mengambil dan memeluknya. Ia ingin tetap bersama sesuatu itu secara abadi dan terus ada, serta dalam arti penuh lenyap dalamnya. Ia mengejar serta meminta hal-hal yang paling besar dan paling tetap. Padahal, urusan apa pun dari urusan dunia sebesar rambut dibanding dengan keinginan serta harapan hati.
Maka, hati merupakan jendela yang terbuka menghadap hidup abadi selamanya. Ia tidak rela dengan dunia fana ini.
Ketahuilah, wahai Saudaraku yang Aziz! Karena empat hal, dunia harus ditinggalkan dengan hati, bukan dengan usaha bekerja:
1- Usia dunia pendek dan dengan cepat menuju sirna serta terbenam. Melalui sakit sirna, kenikmatan pertemuan berlalu.
2- Kenikmatan dunia menyerupai madu beracun. Menurut tingkat kenikmatannya, terdapat pula sakitnya.
3- Kubur yang menantimu dan yang engkau tuju dengan cepat tidak menerima hiasan serta kenikmatan dunia sebagai hadiah. Sebab, yang dianggap indah oleh penghuni dunia buruk di sana.
4- Perbandingan antara tinggal satu jam di antara musuh serta serangga berbahaya dan tinggal bertahun-tahun dalam majelis sahabat serta orang-orang besar merupakan perbandingan yang sama antara kubur dan dunia. Selain itu, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Mengajak meninggalkan kenikmatan satu jam agar engkau tenteram bersama sahabat-sahabatmu selama bertahun-tahun. Maka, sebelum dibawa dalam ikatan serta belenggu, jawablah ajakan Allah سُبْحَانَهُ.
Fesübhanallah, Karunia serta Kemurahan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq kepada manusia demikian besar sehingga Dia Membeli dari manusia dengan harga besar harta yang Diberikan-Nya sebagai titipan, lalu Menjaganya tetap ada serta Melindunginya. Jika manusia memiliki harta tersebut dan tidak menjualnya kepada Allah سُبْحَانَهُ, ia jatuh dalam bencana besar, sebab ia telah mengambil tanggung jawab atas harta itu. Padahal, dayanya tidak cukup untuk menjamin. Jika memikulnya di punggung, punggungnya patah; jika memegangnya dengan tangan, ia lari dan tidak tertangkap. Akhirnya ia sirna serta pergi tanpa hasil; hanya dosa-dosanya tinggal sebagai warisan.
... Apa pun akhir dunia, meninggalkan hal-hal lezat lebih utama. Sebab, akibatmu ialah bahagia, dan bahagia terjadi dengan meninggalkan hal-hal lezat fana ini; atau ialah celaka. Dapatkah orang yang menanti mati serta dihukum mati memperoleh nikmat dan lezat dari dihias serta dipercantiknya tempat penggantungan?
Bagi orang yang dengan dorongan kufur membayangkan akibat dunianya sebagai tidak ada mutlak, meninggalkan hal-hal lezat pun lebih utama. Sebab, melalui hal-hal tidak ada yang khusus serta terbatas, yang terjadi ketika hal-hal lezat itu sirna, sakit pedih dari tidak ada mutlak dirasakan setiap menit. Hal-hal lezat seperti ini tidak dapat mengalahkan sakit tersebut.
--