Risale-i NurSinar-Sinar

وَيُؤْمِنْ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ(946) sesuai dengan nama Risale-i Nur

Sinar-Sinar · hlm. 330

﴾بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى﴿ (1347)

لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللّٰهُ سَم۪يعٌ عَل۪يمٌ ٭

﴾اَللّٰهُ﴿ ﴾وَلِىُّ الَّذ۪ينَ اٰمَنُوا﴿ jika digabungkan (1012); jika tidak digabungkan (945) (satu syaddah tidak dihitung)

يُخْرِجُهُمْ مِنَ ﴾الظُّلُمَاتِ﴿ اِلَى النُّورِ(1372) (tanpa syaddah)

وَالَّذ۪ينَ كَفَـرُٓوا اَوْلِيَٓاؤُهُمُ ﴾الطَّاغُوتُ﴿ (1417)

﴾يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ اِلَى﴿ الظُّلُمَاتِ(1338) (syaddah tidak dihitung)

اُولٰٓئِكَ اَصْحَابُ النَّارِ هُمْ ف۪يهَا خَالِدُونَ(1295) (syaddah dihitung) pun — bersama dengan tawafuknya yang tepat sekali dengan nama Risale-i Nur sebanyak dua kali, dengan bentuk perjuangannya, dengan terwujudnya, serta dengan masa penulisan dan penyempurnaannya; juga dengan tawafuknya yang tepat sekali dengan tarikh usaha ahli kufur memadamkan cahaya alam Islam melalui perang tahun seribu dua ratus sembilan puluh tiga (1293), dan dengan tarikh perjanjian-perjanjian dahsyat yang dibuat pada tahun seribu tiga ratus tiga puluh delapan (1338) — dengan memanfaatkan Perang Dunia Pertama — untuk secara nyata melemparkan alam Islam dari cahaya ke dalam gelap pekat; serta dengan diperbandingkannya cahaya dan gelap berulang-ulang di dalamnya — memberitakan dengan makna isyarat bahwa dalam perjuangan maknawi ini sebuah cahaya yang datang dari cahaya Al-Qur'an akan menjadi titik sandaran bagi ahli iman; demikianlah diperingatkan ke dalam kalbuku. Aku pun terpaksa, lalu menuliskannya.

Kemudian aku melihat bahwa kaitan maknanya dengan abad kita ini demikian kuat sehingga, sekalipun tidak ada satu pun tanda tawafuk, ayat-ayat ini tetap juga berbicara dengan kami melalui makna isyarat, sebagaimana ia memandang kepada setiap abad; demikianlah keyakinan itu datang kepadaku.

YA, PERTAMA: Kalimat لَٓا اِكْرَاهَ فِى الدّ۪ينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ yang berada di awal menunjuk, dengan kedudukan jifir dan abjad, kepada tarikh seribu tiga ratus lima puluh (1350), dan dengan makna isyarat ia berkata: Memang benar, pada tarikh itu kebebasan hati nurani — yang memisahkan agama dari dunia dan yang menentang paksaan dan tekanan dalam agama, menentang perjuangan agama, serta menentang jihad dengan senjata untuk agama — menjadi sebuah undang-undang dasar dan sebuah kaidah politik di dalam pemerintahan-pemerintahan, dan pemerintahan pun berubah menjadi republik yang sekuler. Akan tetapi, sebagai gantinya, akan ada sebuah jihad agama yang bersifat maknawi, dengan pedang iman tahkiki. Sebab akan keluar dari Al-Qur'an sebuah cahaya yang menampakkan burhan-burhan yang kuat sampai pada derajat memperlihatkan bimbingan dan petunjuk dalam agama serta haq dan hakikat kepada mata kepala, lalu menerangkan dan menjadikannya terang benderang — demikianlah ia memberitakan, sekaligus memperlihatkan sekilau cahaya mukjizat.

Lagi pula, sampai kepada kalimat خَالِدُونَ, sebagai asal dan sumber seluruh perbandingan yang ada di dalam Risale-i Nur, dengan diperbandingkannya cahaya dan gelap pekat serta iman dan gelap berulang-ulang persis seperti perbandingan-perbandingan itu, terdapat sebuah tanda yang tersembunyi bahwa pahlawan besar dalam medan perjuangan jihad maknawi yang ada pada tarikh itu adalah Risale-i Nur yang bernama Nur; pedang intan maknawinya, yang menyingkap ratusan tilsam (rahasia terkunci) di dalam agama, tidak lagi menyisakan kebutuhan kepada pedang-pedang lahiriah.

Ya, syukur yang tidak terhingga, sudah dua puluh tahun Risale-i Nur memperlihatkan secara nyata kabar gaib dan sekilau cahaya mukjizat ini. Dan karena rahasia agung inilah murid-murid Risale-i Nur tidak mencampuri politik dunia, arus-arusnya, dan pertikaian lahiriahnya; mereka tidak memberinya arti penting dan tidak sudi merendahkan diri kepadanya. Bahkan murid-muridnya yang sejati berkata kepada musuhnya yang paling dahsyat dan kepada serangannya yang penuh hinaan:

"Wahai orang yang celaka! Aku berusaha menyelamatkanmu dari hukuman mati abadi dan mengangkatmu dari derajat kehidupan hewani yang fana, yang paling hina dan paling menyakitkan, menuju kebahagiaan insani yang kekal selamanya. Sedangkan engkau berusaha membunuh dan menghukum mati aku. Kenikmatanmu di dunia ini teramat sedikit dan teramat singkat, sementara hukuman dan bencana atasmu di akhirat teramat banyak dan teramat panjang. Dan kematianku adalah sebuah pelepasan tugas. Ayo, pergilah! Aku tidak akan meladenimu; berbuatlah sesukamu." Demikianlah ia berkata. Terhadap musuhnya yang zalim itu ia tidak marah, melainkan merasa kasihan dan menaruh kasih sayang; seraya berkata, "Alangkah baiknya seandainya ia selamat," ia pun berusaha memperbaikinya.

KEDUA: ﴾وَيُؤْمِنْ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ﴿ ﴾بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى﴿ Dua kalimat suci ini — di samping kaitan maknawinya yang kuat — menurut hitungan kedudukan jifir dan abjad, yang pertama bersesuaian dengan tepat sekali dengan nama Risale-i Nur, dan yang kedua dengan terwujudnya, penyempurnaannya, serta futuhatnya yang gemilang, baik secara makna maupun secara jifir; hal itu merupakan sebuah tanda bahwa Risale-i Nur pada abad ini, pada tarikh ini, adalah sebuah "urwatul wutsqa". Yakni sebuah rantai yang sangat kokoh lagi tidak akan putus dan sebuah "hablullah". Barang siapa mengulurkan tangannya kepadanya lalu berpegang padanya, niscaya ia memperoleh keselamatan — demikianlah ia memberitakan dengan makna ramzi (isyarat yang tersembunyi).

KETIGA: Kalimat اَللّٰهُ وَلِىُّ الَّذ۪ينَ اٰمَنُوا mengandung sebuah isyarat kepada Risale-i Nur, baik dari sisi makna maupun dari sisi jifir. Yaitu demikian: ...

(Catatan kaki): Sebab bagian selebihnya dari nukta ini untuk sementara tidak dituliskan ialah karena ia sedikit banyak menyentuh dunia dan politik. Kami sendiri dilarang memandang ke sana. Ya, اِنَّ الْاِنْسَانَ لَيَطْغٰى memandang kepada tagut ini dan membuat orang memandang kepadanya.