Risalah Nur — Bahasa Indonesia

HAKIKAT PERTAMA

Sinar-Sinar · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

HAKIKAT PERTAMA

ialah HAKIKAT "FATTAHIYAH". Yakni, melalui Tajalli Asma Fattâh, dari bahan sederhana terbuka bentuk-bentuk yang berbeda, beraneka ragam, tak terhitung, serta teratur, secara serentak, di segala penjuru, pada satu saat, dengan satu Perbuatan. Ya, sebagaimana dalam taman seluruh kainat, dengan Asma Fattâh, Kudrat Sang Fâthir telah membuka serta memberikan kepada setiap wujud yang berbeda dan tak terhitung, seperti bunga-bunga, bentuk teratur yang sesuai serta ciri khas yang membedakannya; demikian pula, tetapi dengan cara yang lebih bermukjizat, Dia memberikan kepada empat ratus ribu jenis makhluk hidup dalam taman bumi bentuk yang sangat berseni, penuh Hikmah, seimbang, berhias, dan berbeda. Sebagaimana dinyatakan ayat-ayat

ﻳَﺨْﻠُﻘُﻜُﻢْ ﻓ۪ﻰ ﺑُﻄُﻮﻥِ ﺍُﻣَّﻬَﺎﺗِﻜُﻢْ ﺧَﻠْﻘًﺎ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﺧَﻠْﻖٍ ﻓ۪ﻰ ﻇُﻠُﻤَﺎﺕٍ ثَلَاثٍ ﺫٰﻟِﻜُﻢُ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺭَﺑُّﻜُﻢْ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚُ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ ﻓَﺎَﻧَّﺎ ﺗُﺼْﺮَﻓُﻮﻥَ ٭ ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ لَا ﻳَﺨْﻔٰﻰ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺷَﻰْﺀٌ ﻓِﻰ الْاَرْضِ وَلَا ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ ٭ ﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻳُﺼَﻮِّﺭُﻛُﻢْ ﻓِﻰ الْاَرْحَامِ ﻛَﻴْﻒَ ﻳَﺸَٓﺎﺀُ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﺰ۪ﻳﺰُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ,

dibukanya bentuk-bentuk merupakan dalil tauhid yang paling kuat serta mukjizat Kudrat yang paling menakjubkan. Berdasarkan Hikmah ini, hakikat dibukanya bentuk-bentuk telah berulang kali dibuktikan serta dijelaskan dengan berbagai cara dalam Risaletü'n-Nur, khususnya pada tingkatan keenam serta ketujuh dari Bab Pertama, Bagian Kedua risale ini. Karena itu, kami menyerahkannya kepada bagian-bagian tersebut dan di sini hanya mengatakan:

Kesaksian serta penelitian mendalam ilmu tumbuhan dan ilmu hewan menunjukkan bahwa dalam dibukanya bentuk-bentuk ini terdapat cakupan, keluasan, serta seni sedemikian rupa, sehingga selain Sang Wâhid Yang Ahad serta Sang Qadîr Mutlak Yang dapat melihat dan mengerjakan segala sesuatu dalam setiap hal, tidak ada apa pun yang dapat memiliki Perbuatan yang mencakup serta meliputi semuanya ini. Sebab, Perbuatan membuka bentuk-bentuk ini menuntut Hikmah, Ketelitian, serta Cakupan yang paling sempurna dalam Kudrat tak terbatas yang Ada di setiap tempat serta setiap saat. Kudrat seperti ini hanya dapat berada pada satu Zat Yang mengelola seluruh kainat.

Ya, misalnya, sebagaimana dinyatakan ayat-ayat tersebut, dalam tiga keadaan gelap di rahim semua ibu, bentuk-bentuk manusia dibuka dan diciptakan secara berbeda-beda, seimbang, memiliki ciri khas, berhias, serta teratur, dari bahan sederhana, tanpa keliru, berbuat salah, ataupun mencampuradukkannya. Fattahiyah ini, yakni dibukanya bentuk-bentuk, serta hakikat yang meliputi semua manusia, hewan, dan tumbuhan di seluruh permukaan bumi dengan Kudrat, Hikmah, serta seni yang sama, merupakan bukti paling kuat bagi Wahdaniyah. Sebab, meliputi semuanya merupakan kesatuan dan tidak menyisakan tempat bagi syirik.

Sembilan belas hakikat dalam Bab Pertama yang bersaksi atas Wujud Yang Wajib, sebagaimana menunjukkan Wujud Khâliq melalui adanya mereka, juga bersaksi atas Keesaan⁠-⁠Nya melalui cakupan mereka.

HAKIKAT KEDUA

yang dilihat pengembara kita pada persinggahan ketiga ialah HAKIKAT "RAHMANIYAH". Yakni, dengan mata kita sendiri, kita melihat Ada Yang memenuhi permukaan bumi untuk kita dengan ribuan hadiah Rahmat, menjadikannya tempat perjamuan, serta meja hidangan yang tersusun dari ratusan ribu makanan lezat Rahmaniyah yang beraneka ragam. Dia juga menjadikan bagian dalam bumi tempat penyimpanan ribuan anugerah berharga Rahimiyah dan Hakimiyah.

Dalam perputaran tahunannya, bumi menjadi seperti kapal dagang yang setiap tahun membawa muatan terbaik dari seratus ribu macam keperluan manusia serta kehidupan dari alam gaib. Dia mengirimkannya kepada kita seperti kapal atau kereta, dan setiap musim semi seperti gerbong yang membawa persediaan makanan serta pakaian kita. Dia membuat kita diberi makan dengan penuh Kasih Sayang. Untuk dapat menikmati seluruh hadiah serta nikmat itu, Dia juga memberi kita ratusan dan ribuan selera, kebutuhan, indra, perasaan, serta kepekaan.

Ya, sebagaimana dijelaskan dan dibuktikan dalam Sinar Keempat mengenai Âyet-i Hasbiye, Dia memberi kita lambung yang menikmati makanan tak terhitung.

Dia menganugerahkan kehidupan yang melalui indra-indranya menikmati nikmat tak terhitung dalam alam jasmani yang besar, seakan-akan suatu meja hidangan nikmat.

Dia memberikan kepada kita kemanusiaan yang melalui banyak alatnya, seperti akal dan hati, menikmati hadiah tak terbatas dalam alam jasmani maupun maknawi.

Dia memperkenalkan kepada kita Islam yang mengambil cahaya dari khazanah tak terbatas dalam alam gaib serta alam yang terlihat.

Dia membimbing kita kepada iman yang membuat kita bercahaya serta menikmati cahaya dan hadiah tak terhitung dari alam dunia serta akhirat.

Seakan-akan, oleh Rahmat, kainat ini dijadikan istana yang dihiasi benda-benda antik, menakjubkan, serta berharga yang tak terhitung. Kunci-kunci untuk membuka peti-peti dan ruang-ruang tak terhitung dalam istana itu diberikan kepada tangan manusia; sedangkan kebutuhan serta perasaan yang memungkinkan manusia menikmati seluruhnya diberikan dalam fitrahnya.

Rahmat yang meliputi dunia, akhirat, serta segala sesuatu seperti ini tentu merupakan manifestasi Ahadiyah di dalam Wahidiyah.

Yakni, sebagaimana cahaya matahari menjadi contoh Wahidiyah dengan meliputi segala sesuatu di hadapannya, setiap hal yang berkilau serta bening pun menjadi contoh Ahadiyah. Sebab, sesuai kemampuannya, masing-masing menerima cahaya matahari, panasnya, tujuh warna dalam cahayanya, serta pantulan gambarnya. Tentu, orang yang melihat cahaya yang meliputi semuanya itu menyimpulkan bahwa matahari bumi satu, hanya satu. Orang yang menyaksikan pantulan matahari yang bercahaya dan panas pada setiap hal yang berkilau, bahkan pada tetesan air, juga mengetahui Ahadiyah matahari. Yakni, matahari itu sendiri, dengan sifat-sifatnya, berada di samping setiap hal serta dalam cermin hati setiap hal.

Demikian pula, luasnya Rahmat Sang Rahmân Dzul-Jamâl meliputi segala sesuatu seperti cahaya, sehingga menunjukkan Wahidiyah Sang Rahmân serta bahwa Dia tidak memiliki sekutu dari segi mana pun. Dalam setiap hal, khususnya setiap makhluk hidup dan terlebih manusia, di bawah tabir Rahmat yang mencakup semuanya itu, terdapat cahaya sebagian besar Asma Sang Rahmân serta suatu manifestasi Zat⁠-⁠Nya. Dia memberi setiap individu kehidupan yang mencakup berbagai segi, yang membuatnya dapat memandang serta berhubungan dengan seluruh kainat. Hal ini juga membuktikan Ahadiyah Sang Rahmân, serta bahwa Dialah Yang Hadir di samping setiap hal dan mengerjakan segala sesuatu pada setiap hal.

Ya, sebagaimana Sang Rahmân menunjukkan kemegahan Jalâl⁠-⁠Nya dalam seluruh kainat serta pada permukaan bumi melalui Wahidiyah dan cakupan Rahmat itu, demikian pula, melalui manifestasi Ahadiyah, Dia menghimpun contoh seluruh nikmat dalam setiap makhluk hidup, khususnya manusia, lalu memasukkan serta mengaturnya dalam alat dan perlengkapan makhluk hidup tersebut. Dengan demikian, tanpa memecah kainat, Dia membuat seluruhnya diberikan, dari satu segi, kepada individu itu seperti rumahnya sendiri. Melalui hal ini, Dia juga memperlihatkan Kasih khusus Jamâl⁠-⁠Nya, serta menyatakan terpusatnya berbagai anugerah⁠-⁠Nya dalam manusia.

Misalnya, sebagaimana sebuah melon terpusat dalam setiap benihnya, Zat Yang membuat benih itu tentu Dialah Yang membuat melon tersebut, kemudian, dengan ukuran khusus Ilmu⁠-⁠Nya serta hukum Hikmah⁠-⁠Nya yang khusus bagi benih itu, Dia memeras, menghimpun, serta mewujudkan benih tersebut dari melon itu. Selain Sang Pembuat tunggal melon itu, tidak ada sesuatu pun yang dapat membuat benih tersebut; bahkan, hal itu mustahil.

Demikian pula, melalui Tajalli Rahmaniyah, kainat seperti pohon dan kebun, bumi seperti buah dan melon, serta makhluk hidup dan manusia seperti benih. Karena itu, Khâliq serta Rabb makhluk hidup yang paling kecil tentu harus merupakan Khâliq seluruh bumi serta kainat.

Kesimpulannya:

Sebagaimana hakikat Fattahiyah yang meliputi semuanya, dengan membuat serta membuka bentuk-bentuk teratur seluruh wujud dari bahan sederhana, membuktikan Keesaan dengan jelas, demikian pula, hakikat Rahmaniyah yang meliputi setiap hal memberi makan seluruh makhluk hidup yang terwujud serta memasuki kehidupan dunia, khususnya yang baru datang, dengan keteraturan sempurna. Ia menyediakan keperluan mereka dan tidak melupakan satu pun. Rahmat yang sama mencapai setiap tempat, setiap saat, serta setiap individu. Dengan demikian, ia memperlihatkan dengan jelas Keesaan serta Ahadiyah di dalam Keesaan.

Karena Risale-i Nur merupakan tempat Manifestasi Asma Hakîm serta Rahîm, butir-butir hikmah serta manifestasi hakikat Rahmat telah dijelaskan dan dibuktikan dalam banyak bagiannya. Karena itu, di sini kami mengisyaratkan lautan itu dengan tetesan ini, dan mempersingkat uraian yang sangat panjang tersebut.

HAKIKAT KETIGA

yang disaksikan pengembara kita pada persinggahan ketiga ialah "HAKIKAT MUDABBIRIYAH DAN PENGELOLAAN". Yakni, hakikat mengelola benda-benda langit yang sangat dahsyat dan cepat, unsur-unsur yang amat menyerbu serta mengacaukan, dan makhluk-makhluk bumi yang sangat membutuhkan serta lemah, dengan keteraturan dan keseimbangan sempurna; membuat mereka saling membantu; mengelola mereka dalam paduan yang serasi serta mengatur keperluan mereka; dan menjadikan alam yang besar ini seperti negeri sempurna, kota megah, serta istana berhias.

Dengan meninggalkan lingkup-lingkup besar Pengelolaan yang penuh Kuasa serta Rahmat ini, kita hanya melihat satu halaman dan tahap Pengelolaan tersebut yang berlangsung pada permukaan bumi di musim semi. Karena Risaletü'n-Nur telah menjelaskan serta membuktikannya dalam risale-risale penting, seperti Kalimat Kesepuluh, kami akan memperlihatkan gambaran singkatnya melalui sebuah perumpamaan. Demikian:

Misalnya, kita andaikan seorang tokoh luar biasa yang menaklukkan dunia membentuk pasukan dari empat ratus ribu bangsa serta kelompok yang berbeda. Kepada prajurit setiap bangsa serta kelompok, ia memberikan pakaian, senjata, makanan, latihan, pembebasan dari tugas, serta pekerjaan mereka; semuanya berbeda-beda dan beraneka ragam. Seandainya panglima yang bermukjizat itu memberikan seluruh perlengkapan yang berbeda tersebut dengan keteraturan sempurna serta cara yang sangat baik, tanpa kekurangan, cacat, kekeliruan, ataupun kesalahan, tepat pada waktunya, tanpa terlambat atau mencampuradukkannya, tentu, selain kuasa luar biasa panglima itu, tidak ada sebab apa pun yang dapat menjulurkan tangannya kepada pengelolaan yang sangat luas, rumit, halus, seimbang, beragam, serta adil tersebut. Jika ada yang turut campur, ia akan merusak keseimbangan dan membuatnya kacau.

Demikian pula, dengan mata kita sendiri, kita melihat bahwa Sang Pengelola Yang Gaib menciptakan serta mengelola pasukan megah yang terdiri dari empat ratus ribu jenis yang berbeda pada setiap musim semi. Pada musim gugur, contoh kiamat, Dia membebastugaskan tiga ratus ribu jenis tumbuhan serta hewan dari empat ratus ribu itu, dengan bentuk wafat dan sebutan kematian, serta menghentikan pekerjaan mereka. Pada musim semi, contoh kebangkitan serta penyebaran kembali makhluk, Dia membentuk tiga ratus ribu contoh kebangkitan terbesar dalam beberapa minggu dengan keteraturan sempurna. Bahkan, pada sebuah pohon saja, Dia memperlihatkan kepada mata kita empat kebangkitan kecil, yakni munculnya kembali pohon itu sendiri, daun, bunga, serta buahnya, sama seperti pada musim semi yang lalu. Kemudian, kepada setiap jenis serta kelompok pasukan Allah سُبْحَانَهُ Yang Mahasuci yang mencapai empat ratus ribu jenis itu, Dia memberikan rezeki yang berbeda, khusus serta sesuai bagi masing-masing, berbagai senjata pertahanan, pakaian yang berbeda, latihan serta pembebasan dari tugas yang berbeda, dan seluruh perlengkapan serta keperluan yang berbeda, dengan keteraturan sempurna, tanpa keliru, salah, tercampur, ataupun melupakan satu pun, dari tempat tak terduga dan tepat pada waktunya. Dengan demikian, di dalam kesempurnaan Rububiyah, Kekuasaan, serta Hikmah, Dia membuktikan Wahdaniyah, Ahadiyah, serta Ferdiyah⁠-⁠Nya, Kuasa⁠-⁠Nya yang tak terbatas, dan Rahmat⁠-⁠Nya yang tak terhingga. Dia menuliskan titah tauhid ini dengan pena Takdir pada permukaan bumi, pada setiap halaman musim semi.

Setelah membaca hanya satu halaman titah ini pada satu musim semi, pengembara kita berkata kepada nafsunya: Ada Sang Qadîr Yang Jabbâr, Sang Qahhâr Dzul-Jalâl, Yang pada setiap musim semi membentuk ribuan kebangkitan yang lebih menakjubkan daripada kebangkitan terbesar; Yang ribuan kali berjanji serta berikrar kepada seluruh nabi⁠-⁠Nya bahwa Dia akan melakukan kebangkitan untuk memberi pahala serta hukuman, yang bagi Kudrat⁠-⁠Nya lebih mudah daripada sebuah musim semi, dan akan mendatangkan kiamat; serta Yang dalam Al-Qur'an, bersama ribuan isyarat mengenai terjadinya kebangkitan, menetapkan dengan jelas, memberi ancaman, serta menyanggupinya dalam seribu ayat. Azab neraka bagi mereka yang melakukan kesalahan mengingkari kebangkitan, yang berarti mendustakan begitu banyak Janji⁠-⁠Nya serta mengingkari Kudrat⁠-⁠Nya, merupakan keadilan itu sendiri. Demikian ia menyimpulkan, dan nafsunya pun berkata, "Âmennâ".

HAKIKAT KEEMPAT

yang disaksikan musafir dunia pada persinggahan ketiga, yaitu Tingkatan Ketiga Puluh Tiga:

Ialah "HAKIKAT RAHIMIYAH DAN RAZZAQIYAH". Yakni, di depan mata kita, oleh Sang Pemberi Yang Gaib, diberikan seluruh rezeki jasmani, yang diperlukan lambung, serta rezeki maknawi kepada semua makhluk hidup pada permukaan bumi, di dalamnya, di udaranya, serta di lautnya; khususnya yang berjiwa, terlebih yang tidak berdaya dan lemah, serta terutama anak-anaknya. Dengan penuh Kasih, ribuan okka makanan yang dibuat dari tanah kering dan sederhana, dari potongan kayu mati yang kering seperti tulang, terutama makanan yang paling lembut yang datang dari antara darah dan kotoran, serta makanan yang dibuat dari satu benih seberat satu dirham seperti tulang, diberikan tepat pada waktunya, secara teratur, tanpa melupakan satu pun atau keliru.

Ya, sebagaimana ayat

ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺮَّﺯَّﺍﻕُ ﺫُﻭ ﺍﻟْﻘُﻮَّﺓِ ﺍﻟْﻤَﺘ۪ﻴﻦُ

mengkhususkan serta membatasi pemberian makanan dan nafkah pada Allah سُبْحَانَهُ, ayat

ﻭَﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﺩَٓﺍﺑَّﺔٍ ﻓِﻰ الْاَرْضِ اِلَّا ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺭِﺯْﻗُﻬَﺎ ﻭَﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻣُﺴْﺘَﻘَﺮَّﻫَﺎ ﻭَﻣُﺴْﺘَﻮْﺩَﻋَﻬَﺎ ﻛُﻞٌّ ﻓ۪ﻰ ﻛِﺘَﺎﺏٍ ﻣُﺒ۪ﻴﻦٍ

juga menempatkan rezeki semua manusia serta hewan di bawah Janji dan Jaminan Rabb. Ayat

ﻭَﻛَﺎَﻳِّﻦْ ﻣِﻦْ ﺩَٓﺍﺑَّﺔٍ لَا ﺗَﺤْﻤِﻞُ ﺭِﺯْﻗَﻬَﺎ ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﻳَﺮْﺯُﻗُﻬَﺎ ﻭَﺍِﻳَّﺎﻛُﻢْ ﻭَ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺴَّﻤ۪ﻴﻊُ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ

pun, dengan menjamin secara nyata nafkah makhluk yang lemah dan malang, yang tidak dapat menyediakan rezekinya sendiri, tidak berdaya, serta tidak memiliki kemampuan, memperlihatkan pemberian rezeki mereka dari tempat tak terduga, bahkan dari alam gaib, bahkan dari tiada. Misalnya, kepada hewan-hewan kecil di dasar laut dari tiada, kepada semua anak makhluk dari tempat tak terduga, dan kepada semua hewan setiap musim semi seakan-akan sepenuhnya dari alam gaib. Dengan demikian, ayat itu membuktikan serta menyatakan kepada manusia yang memuja sebab bahwa di balik tabir sebab-sebab, tetap Dialah Yang memberi. Demikian pula, banyak ayat Al-Qur'an serta kesaksian alam yang tak terhitung, semuanya memperlihatkan bahwa setiap makhluk hidup diberi makan oleh Rahimiyah satu Ar-Razzâq Dzul-Jalâl.

Ya, karena pohon-pohon yang meminta suatu rezeki tidak memiliki daya ataupun kemampuan memilih, rezeki mereka berlari datang ketika mereka tetap berada di tempatnya dengan tawakal. Nafkah anak-anak makhluk yang tidak berdaya mengalir ke mulut mereka dari pompa-pompa kecil yang menakjubkan. Ketika anak-anak itu memperoleh sedikit daya serta sedikit kemampuan memilih, susu terputus. Terlebih, kasih sayang ibu-ibu diberikan sebagai penolong kepada anak-anak manusia. Semua ini membuktikan dengan jelas bahwa rezeki halal tidak datang sebanding dengan daya dan kemampuan memilih, melainkan sesuai kelemahan serta keadaan tak berdaya yang menumbuhkan tawakal.

Daya, kemampuan memilih, serta kecerdasan yang mendorong ketamakan, yang sering menjadi sebab kerugian, membuat sebagian sastrawan besar sampai seperti pengemis. Sebaliknya, sikap tidak berdaya yang menyerupai tawakal pada orang-orang yang tidak cerdas, kasar, serta sangat awam, membawa mereka kepada kekayaan. Hal ini, serta dijadikannya

ﻛَﻢْ ﻋَﺎﻟِﻢٍ ﻋَﺎﻟِﻢٍ ﺍَﻋْﻴَﺖْ ﻣَﺬَﺍﻫِﺒُﻪُ ﻭَ ﺟَﺎﻫِﻞٍ ﺟَﺎﻫِﻞٍ ﺗَﻠْﻘَﺎﻩُ ﻣَﺮْﺯُﻭﻗًﺎ

sebagai peribahasa, membuktikan bahwa rezeki halal tidak diperoleh atau ditemukan dengan kekuatan daya serta kemampuan memilih. Ia diberikan oleh Rahmat yang menerima kerja serta usaha seseorang, dan dianugerahkan oleh Kasih yang mengasihani kebutuhannya. Namun, rezeki ada dua:

Pertama: Rezeki sejati dan fitri untuk hidup, yang berada di bawah Jaminan Rabb. Bahkan, rezeki itu begitu teratur, sehingga rezeki fitri yang disimpan dalam tubuh berupa lemak dan sebagainya membuat seseorang tetap hidup, sekurang-kurangnya lebih dari dua puluh hari tanpa makan sesuatu. Jadi, mereka yang tampak wafat karena kelaparan sebelum dua puluh hingga tiga puluh hari, dan sebelum rezeki fitri yang tersimpan dalam tubuh habis, wafat karena penyakit yang timbul dari kebiasaan buruk serta ditinggalkannya kebiasaan, bukan karena tidak mendapat rezeki.

Jenis rezeki kedua: Rezeki kiasan dan buatan yang, melalui kebiasaan, pemborosan, serta penyalahgunaan, menjadi candu dan dianggap sebagai kebutuhan yang mendesak. Jenis ini berada di luar Jaminan Rabb, tetapi bergantung pada anugerah⁠-⁠Nya. Terkadang Dia memberikannya, terkadang tidak.

Dalam rezeki kedua ini, orang yang berbahagia ialah orang yang menerima anugerah itu dengan penuh syukur dan terima kasih, melalui hidup hemat serta kanaah yang menjadi sarana kebahagiaan dan kenikmatan. Ia memandang usaha halal sebagai suatu ibadah serta doa melalui perbuatan untuk memperoleh rezeki, lalu menjalani hidupnya dengan bahagia.

Orang yang malang ialah orang yang, dengan pemborosan dan ketamakan yang menjadi sebab kemalangan, kerugian, serta kepedihan, meninggalkan usaha halal dan mengetuk setiap pintu. Ia menjalani hidupnya dengan malas, zalim, dan penuh keluhan; bahkan, menghancurkan hidupnya.

Sebagaimana lambung meminta rezeki, latifah serta indra manusia, seperti hati, ruh, akal, mata, telinga, dan mulut, juga meminta rezekinya kepada Ar-Razzâq Yang Rahîm dan menerimanya dengan syukur. Dari khazanah Rahmat, setiap daya itu dianugerahi rezeki yang berbeda, sesuai baginya, serta membuatnya puas dan menikmati. Bahkan, untuk memberi mereka rezeki yang lebih luas, Ar-Razzâq Yang Rahîm telah menciptakan setiap latifah, seperti mata, telinga, hati, khayal, serta akal, sebagai kunci khazanah Rahmat⁠-⁠Nya.

Misalnya, sebagaimana mata merupakan kunci khazanah permata berharga, seperti keindahan serta keelokan pada wajah kainat, masing-masing daya lainnya pun menjadi kunci suatu alam dan memperoleh manfaat melalui iman. Kami kembali kepada pokok pembicaraan.

Sebagaimana Zat Yang Qadîr lagi Hakîm, Yang menciptakan kainat ini, menciptakan kehidupan dari kainat sebagai sari yang mencakup semuanya, serta memusatkan seluruh Tujuan⁠-⁠Nya dan manifestasi Asma⁠-⁠Nya di dalamnya, demikian pula, dalam alam kehidupan, Dia menjadikan rezeki pusat Syuunat yang mencakup banyak segi. Dengan menciptakan kebutuhan yang disertai selera serta kenikmatan rezeki dalam makhluk hidup, Dia membuatnya menanggapi Rububiyah⁠-⁠Nya serta Perbuatan⁠-⁠Nya membuat Diri⁠-⁠Nya dicintai, melalui syukur, rasa terima kasih, serta penghambaan yang terus-menerus dan menyeluruh. Semua itu merupakan salah satu tujuan terpenting serta Hikmah diciptakannya kainat.

Misalnya, sebagaimana Dia meramaikan seluruh penjuru negeri Rabb yang sangat luas, khususnya langit dengan malaikat serta makhluk rohani, dan alam gaib dengan ruh-ruh, demikian pula, dengan Hikmah meramaikan serta menghidupkan alam jasmani, khususnya udara serta bumi, pada setiap waktu dan di setiap penjuru, dengan adanya makhluk berjiwa, terutama burung-burung besar dan kecil, Dia menjadikan kebutuhan akan rezeki serta kenikmatan rezeki cambuk yang sangat kuat. Dengan menggerakkan hewan serta manusia untuk berlari mengejar rezeki, Dia menyelamatkan mereka dari kemalasan serta keadaan tanpa kegiatan, lalu membuat mereka bergerak. Inilah salah satu Hikmah Syuunat Rububiyah. Seandainya tidak ada Hikmah-Hikmah penting seperti ini, sebagaimana Dia membuat persediaan makanan pohon-pohon berlari datang kepada mereka, Dia juga akan membuat jatah yang ditentukan bagi hewan, yakni kebutuhan fitri mereka, berlari datang tanpa susah payah.

Untuk menyaksikan sepenuhnya Keindahan Asma Rahîm serta Razzâq dan kesaksiannya atas Wahdaniyah, seandainya ada mata yang dapat sekaligus meliputi serta menyaksikan seluruh permukaan bumi, mata itu akan melihat betapa manis Keindahan serta Keelokan dalam manifestasi Kasih Ar-Razzâq Yang Rahîm. Sebagai pertolongan gaib serta anugerah dari Ar-Rahmân kepada rombongan hewan yang persediaan makanannya hampir habis pada akhir musim dingin, Dia mengirim makanan serta nikmat yang sangat lezat, banyak, dan beragam, semata-mata dari khazanah gaib Rahmat. Semuanya diserahkan kepada tangan tumbuhan, diletakkan pada kepala pohon-pohon, serta dilekatkan pada dada ibu-ibu. Dari situ, mata tersebut akan mengetahui:

Yang membuat satu apel dan menganugerahkannya kepada seseorang sebagai rezeki sejati, hanyalah Zat Yang menggilir musim-musim, malam serta siang, dan menggerakkan bola bumi seperti kapal dagang, lalu melaluinya membawa hasil musim-musim kepada tamu-tamu⁠-⁠Nya yang membutuhkan di bumi. Sebab, cap fitrah, meterai Hikmah, tanda Shamadiyah, serta segel Rahmat pada wajah apel itu juga terdapat pada semua apel, buah-buah lainnya, serta seluruh tumbuhan dan hewan. Karena itu, Sang Pemilik sejati serta Sang Pembuat apel tersebut tentu, dalam segala keadaan, harus merupakan Sang Mâlik Dzul-Jalâl serta Sang Khâliq Dzul-Jamâl bagi seluruh penghuni bumi, yang menjadi sesama, sejenis, serta saudara apel itu; bagi bumi besar yang menjadi kebunnya; bagi pohon yang menjadi pabriknya; bagi musim yang menjadi tempat pengerjaannya; serta bagi musim semi dan musim panas yang menjadi tempat pemeliharaannya. Tidak mungkin yang lain.

Jadi, setiap buah merupakan segel Keesaan yang memperkenalkan Sang Penulis serta Sang Pembuat kitab kainat, yang menjadi kebunnya, dan bumi, yang menjadi pohonnya; menunjukkan Keesaan⁠-⁠Nya; serta mengisyaratkan bahwa titah Wahdaniyah dibubuhi segel sebanyak buah-buahan.

Karena Risaletü'n-Nur merupakan tempat Manifestasi Asma Rahîm serta Hakîm, dan telah menjelaskan serta membuktikan banyak pancaran serta rahasia hakikat Rahimiyah ini dalam banyak bagiannya, penjelasan diserahkan kepadanya. Karena keadaanku tidak memungkinkan, dari khazanah yang sangat besar ini kami mencukupkan diri dengan isyarat singkat tersebut.

Pengembara kita berkata: Elhamdülillah, aku telah melihat dan mendengarkan tiga puluh tiga hakikat yang bersaksi atas Wujud Yang Wajib serta Keesaan Khâliq-ku dan Mâlik-ku, Yang kucari di setiap tempat serta kutanyakan kepada setiap hal. Setiap hakikat terang seperti matahari, tidak menyisakan gelap; kuat seperti gunung, serta tidak terguncang. Setiap hakikat, melalui kenyataannya, bersaksi dengan sangat pasti atas Wujud⁠-⁠Nya, dan melalui cakupannya menunjukkan Keesaan⁠-⁠Nya dengan sangat jelas. Seluruh hakikat itu juga membuktikan dengan kuat rukun-rukun iman lainnya di dalamnya. Seluruh hakikat itu sepakat dan sejalan, sehingga menaikkan iman kita dari taklid menuju tahkik, dari tahkik menuju ilmulyaqin, dari ilmulyaqin menuju ainulyaqin, serta dari ainulyaqin menuju haqqulyaqin.

ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻫٰﺬَﺍ ﻣِﻦْ ﻓَﻀْﻞِ ﺭَﺑّ۪ﻰ ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻫَﺪٰﻳﻨَﺎ ﻟِﻬٰﺬَﺍ ﻭَﻣَﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻟِﻨَﻬْﺘَﺪِﻯَ لَوْلَٓا ﺍَﻥْ ﻫَﺪٰﻳﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻟَﻘَﺪْ ﺟَٓﺎﺀَﺕْ ﺭُﺳُﻞُ ﺭَﺑِّﻨَﺎ ﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ

Sebagai isyarat sangat singkat kepada cahaya iman yang diperoleh pengembara penuh rasa ingin tahu ini dari empat hakikat agung yang disaksikannya pada persinggahan ketiga, dalam bab kedua dari Bagian Pertama, mengenai hakikat-hakikat persinggahan ketiga, dikatakan demikian:

لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟْﻮَﺍﺣِﺪُ الْاَحَدُ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠٰﻰ ﻭَﺣْﺪَﺗِﻪ۪ ﻓ۪ﻰ ﻭُﺟُﻮﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻩ۪ ﻣُﺸَﺎﻫَﺪَﺓُ ﻋَﻈَﻤَﺔِ ﺍِﺣَﺎﻃَﺔِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ ﺍﻟْﻔَﺘَّﺎﺣِﻴَّﺔِ ﺑِﻔَﺘْﺢِ ﺍﻟﺼُّﻮَﺭِ لِاَرْبَعِ ﻣِﺎَﺓِ ﺍَﻟْﻒِ ﻧَﻮْﻉٍ ﻣِﻦْ ﺫَﻭِﻯ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓِ ﺍﻟْﻤُﻜَﻤَّﻠَﺔِ بِلَا ﻗُﺼُﻮﺭٍ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﻓَﻦِّ ﺍﻟﻨَّﺒَﺎﺕِ ﻭَ ﺍﻟْﺤَﻴَﻮَﺍﻥِ ﻭَ ﻛَﺬَﺍ ﻣُﺸَﺎﻫَﺪَﺓُ ﻋَﻈَﻤَﺔِ ﺍِﺣَﺎﻃَﺔِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﺎﻧِﻴَّﺔِ ﺍﻟْﻮَﺍﺳِﻌَﺔِ ﺍﻟْﻤُﻨْﺘَﻈَﻤَﺔِ بِلَا ﻧُﻘْﺼَﺎﻥٍ ﺑِﺎﻟْﻤُﺸَﺎﻫَﺪَﺓِ ﻭَ ﺍﻟْﻌَﻴَﺎﻥِ ﻭَ ﻛَﺬَﺍ ﻣُﺸَﺎﻫَﺪَﺓُ ﻋَﻈَﻤَﺔِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ الْاِدَارَةِ ﺍﻟْﻤُﺤ۪ﻴﻄَﺔِ ﻟِﺠَﻤ۪ﻴﻊِ ﺫَﻭِﻯ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓِ ﻭَ ﺍﻟْﻤُﻨْﺘَﻈَﻤَﺔِ بِلَا ﺧَﻄَﺎﺀٍ ﻭَ لَا ﻧُﻘْﺼَﺎﻥٍ ﻭَ ﻛَﺬَﺍ ﻣُﺸَﺎﻫَﺪَﺓُ ﻋَﻈَﻤَﺔِ ﺍِﺣَﺎﻃَﺔِ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻤِﻴَّﺔِ ﻭَ الْاِعَاشَةِ ﺍﻟﺸَّﺎﻣِﻠَﺔِ ﻟِﻜُﻞِّ ﺍﻟْﻤُﺮْﺗَﺰِﻗ۪ﻴﻦَ ﺍﻟْﻤُﻘَﻨَّﻨَﺔِ ﻓ۪ﻰ ﻛُﻞِّ ﻭَﻗْﺖِ ﺍﻟْﺤَﺎﺟَﺔِ بِلَا ﺳَﻬْﻮٍ ﻭَ لَا ﻧِﺴْﻴَﺎﻥٍ ٭ ﺟَﻞَّ جَلَالُ ﺭَﺯَّﺍﻗِﻬَﺎ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺍﻟْﺤَﻨَّﺎﻥِ ﺍﻟْﻤَﻨَّﺎﻥِ ﻭَ ﻋَﻢَّ ﻧَﻮَﺍﻟُﻪُ ﻭَ ﺷَﻤِﻞَ ﺍِﺣْﺴَﺎﻧُﻪُ ﻭَ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ﻳَﺎ ﺭَﺏِّ ﺑِﺤَﻖِّ ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻳَﺎ ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﻳَﺎ ﺭَﺣْﻤٰﻦُ ﻳَﺎ ﺭَﺣ۪ﻴﻢُ ﺻَﻞِّ ﻭَﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠٰﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَﺍَﺻْﺤَﺎﺑِﻪ۪ ﺍَﺟْﻤَﻌ۪ﻴﻦَ ﺑِﻌَﺪَﺩِ ﺟَﻤ۪ﻴﻊِ ﺣُﺮُﻭﻑِ ﺭَﺳَﺎﺋِﻞِ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ ﺍﻟْﻤَﻀْﺮُﻭﺏِ ﺗِﻠْﻚَ ﺍﻟْﺤُﺮُﻭﻑُ ﻓ۪ﻰ ﻋَﺎﺷِﺮَﺍﺕِ ﺩَﻗَﺎﺋِﻖِ ﺟَﻤ۪ﻴﻊِ ﻋُﻤْﺮِﻧَﺎ ﻓِﻰ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ وَالْاٰخِرَةِ ﻣَﻊَ ﺿَﺮْﺏِ ﻣَﺠْﻤُﻮﻋِﻬَﺎ ﻓ۪ﻰ ﺫَﺭَّﺍﺕِ ﻭُﺟُﻮﺩ۪ﻯ ﻓ۪ﻰ ﻣُﺪَّﺓِ ﺣَﻴَﺎﺗ۪ﻰ ﻭَﺍﻏْﻔِﺮْﻟ۪ﻰ ﻭَﻟِﻤَﻦْ ﻳُﻌ۪ﻴﻨُﻨ۪ﻰ ﻓ۪ﻰ ﻧَﺸْﺮِ ﺭَﺳَﺎﺋِﻞِ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ ﻭَﻛِﺘَﺎﺑَﺘِﻬَﺎ ﺑِﺼَﺪَﺍﻗَﺔٍ ﺑِﻜُﻞِّ صَلَاةٍ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻭَ لِاٰبَائِنَا ﻭَﻟِﺴَﺎﺩَﺍﺗِﻨَﺎ ﻭَﺷُﻴُﻮﺧِﻨَﺎ ﻭَ لِاَخَوَاتِنَا ﻭَﺍِﺧْﻮَﺍﻧِﻨَﺎ ﻭَﻟِﻄَﻠَﺒَﺔِ ﺭِﺳَﺎﻟَﺔِ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ ﺍﻟﺼَّﺎﺩِﻗ۪ﻴﻦَ ﻭَﺑِﺎﻟْﺨَﺎﺻَّﺔِ ﻟِﻤَﻦْ ﻳَﻜْﺘُﺐُ ﻭَﻳَﺴْﺘَﻨْﺴِﺦُ ﻫٰﺬِﻩِ ﺍﻟﺮِّﺳَﺎﻟَﺔَ ﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻚَ ﻳَﺎ ﺍَﺭْﺣَﻢَ ﺍﻟﺮَّﺍﺣِﻤ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﻭَ ﺍٰﺧِﺮُ ﺩَﻋْﻮٰﻳﻬُﻢْ ﺍَﻥِ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ

PERINGATAN

Karena risale-risale Risaletü'n-Nur lainnya tidak terdapat di lingkungan negeri tempat munculnya risale ini, dan ia disusun di sini di luar pilihanku, sebagian persoalan penting dari Sözler serta Lem'alar lainnya disebutkan dalam risale-risale seperti Âyetü'l-Kübra, seakan-akan pengulangan secara lahir. Tulisan ini dibuat demikian dengan Hikmah agar setiap bagiannya, bagi para murid di sini, menjadi seperti sebuah Risaletü'n-Nur kecil.

Penyalinan bersih pertama naskah ini dilakukan oleh seorang yang diberkahi. Dalam salinan yang ditulisnya, meskipun ia tidak mengetahui tawafuk (kesesuaian yang bermakna), kami melihat tawafuk yang halus, penuh makna, serta layak dicatat: Huruf-huruf "Elif" pada awal baris salinan itu berjumlah enam ratus enam puluh enam.

Keadaan ini tepat bersesuaian dengan bilangan enam ratus enam puluh enam, nilai jafr serta abjad dari nama Âyetü'l-Kübra yang diberikan Imam Ali radıyallahu anh kepada risale khusus ini, sehingga menunjukkan kelayakan risale ini menerima nama tersebut. Kami juga memahami kesesuaian pada tiga tempat nilai angka dari empat tempat nilai angka dalam enam ribu enam ratus enam puluh enam, bilangan ayat Al-Qur'an, sebagai isyarat bahwa risale ini merupakan suatu pancaran ayat-ayat itu.

Bedîüzzaman Said Nursî

Pada hari-hari ini, dalam sebuah percakapan maknawi, aku mendengarkan suatu pertanyaan serta jawabannya. Akan kusampaikan ringkasannya kepada kalian:

Seseorang berkata:

Pengerahan besar dan perlengkapan menyeluruh Risale-i Nur untuk iman serta tauhid semakin bertambah. Padahal, satu persennya sudah cukup untuk membungkam orang tanpa agama yang paling keras kepala. Mengapa ia begitu bersemangat mengerahkan lagi hal-hal baru sampai tingkat ini?

Sebagai jawaban, dikatakan:

"Risale-i Nur tidak hanya memperbaiki kerusakan yang bersifat juz'i serta sebuah rumah kecil. Ia memperbaiki kerusakan menyeluruh dan sebuah benteng besar yang meliputi Islam, dengan batu-batu sebesar gunung. Ia tidak hanya berusaha memperbaiki satu hati pribadi serta satu nurani khusus. Melalui mukjizat Al-Qur'an, ia berusaha merawat hati bersama serta pendapat umum yang terluka dahsyat oleh alat-alat perusak yang disiapkan dan ditumpuk selama seribu tahun; juga nurani bersama yang mulai rusak akibat dipatahkannya dasar, gerakan, serta syiar Islam yang menjadi sandaran seluruh masyarakat, khususnya orang beriman yang awam. Ia berusaha mengobati luka-luka luas itu dengan obat-obat Al-Qur'an serta iman. Tentu, untuk kerusakan, retakan, dan luka yang menyeluruh serta dahsyat seperti itu, diperlukan bukti-bukti serta perlengkapan sekuat gunung pada tingkat haqqulyaqin, obat-obat teruji yang berkhasiat seperti seribu penawar, serta obat-obatan tak terhitung. Pada zaman ini, Risale-i Nur yang keluar dari mukjizat maknawi Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya, sambil menjalankan tugas itu, juga menjadi sarana kemajuan serta terbukanya tingkatan iman yang tak terhitung." Demikian berlangsung percakapan panjang. Aku pun mendengarkan semuanya dan bersyukur tak terhingga. Aku mempersingkatnya.