Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Ini merupakan jawaban yang sangat singkat serta kuat bagi pertanyaan sangat penting dengan dua sisi, yang berkaitan dengan bagian ini.

Sinar-Sinar · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

Ini merupakan jawaban yang sangat singkat serta kuat bagi pertanyaan sangat penting dengan dua sisi, yang berkaitan dengan bagian ini.

Sisi pertama pertanyaan:

Dalam bagian ini engkau mengatakan bahwa kainat diliputi keelokan, keindahan, kecantikan, serta keadilan. Padahal, apa yang akan engkau katakan tentang begitu banyak keburukan, musibah, penyakit, malapetaka, dan kematian di hadapan mata kita?

Jawaban:

Keburukan yang menghasilkan atau menampakkan banyak keindahan juga secara tidak langsung merupakan keindahan. Tidak adanya atau tidak terlihatnya suatu keburukan, sehingga banyak keindahan tidak terlihat serta tersembunyi, merupakan keburukan bukan hanya sekali, melainkan berkali-kali. Misalnya, jika tidak ada keburukan sebagai ukuran perbandingan, hakikat keindahan hanya menjadi satu jenis, dan banyak tingkatannya tetap tersembunyi. Ketika keburukan turut masuk, tingkatan-tingkatannya tersingkap. Sebagaimana adanya dingin menampakkan tingkatan panas, dan adanya gelap menampakkan derajat cahaya, tepat demikian pula, adanya keburukan, kerugian, musibah, serta keadaan tidak indah yang juz'i menampakkan kebaikan, manfaat, nikmat, serta keindahan yang menyeluruh. Jadi, menciptakan sesuatu yang buruk bukan buruk, melainkan indah. Sebab, sebagian besar hasilnya indah. Ya, orang malas yang dirugikan oleh hujan tidak dapat menghapus hasil-hasil baik hujan yang membuatnya disebut rahmat, dan tidak dapat mengubah rahmat menjadi kesusahan.

Adapun fana, lenyap, serta kematian, dalam Surat Kedua Puluh Empat telah dibuktikan melalui bukti-bukti yang sangat kuat dan pasti bahwa semuanya tidak bertentangan dengan Rahmat yang umum, Keindahan yang meliputi semuanya, serta Kebaikan yang menyeluruh, melainkan merupakan tuntutannya. Bahkan, karena setan menyebabkan perlombaan dan perjuangan yang menjadi pegas bagi kemajuan rohani manusia, penciptaan jenis itu pun merupakan kebaikan dan indah dari segi tersebut. Bahkan, karena melalui kufur orang kafir melanggar hak-hak seluruh kainat serta menghina kemuliaannya, memberinya azab neraka merupakan hal yang indah. Karena kedua pokok ini telah diuraikan sepenuhnya dalam risalah-risalah lain, di sini kami cukup memberikan isyarat singkat.

Sisi kedua pertanyaan:

{(Catatan kaki): Jawaban bagi sisi kedua ini sangat penting dan menghilangkan banyak sangkaan.} Baiklah, mari kita terima jawaban tentang setan dan orang kafir itu dari segi umumnya. Tetapi bagaimana Zat Yang Ghanî secara Mutlak, Yang Jamîl Mutlak, Rahîm Mutlak, dan merupakan Kebaikan Mutlak, menimpakan musibah, keburukan, serta keadaan tidak indah kepada individu dan pribadi tertentu yang malang?

Jawaban:

Segala kebaikan, keindahan, dan nikmat langsung datang dari khazanah Rahmat serta anugerah khusus Sang Jamîl dan Rahîm Mutlak. Adapun musibah serta keburukan, semuanya merupakan beberapa hasil juz'i di antara banyak hasil hukum-hukum umum serta menyeluruh dari Kerajaan Rububiyah, yang disebut adatullah dan menjadi wakil Kehendak-Kehendak menyeluruh; karena semuanya merupakan tuntutan juz'i dari berjalannya hukum-hukum tersebut, tentu Dia juga menciptakan hasil-hasil juz'i yang buruk itu demi menjaga serta memelihara hukum-hukum yang menjadi dasar manfaat menyeluruh.

Tetapi terhadap hasil-hasil juz'i yang menyakitkan itu, Dia segera memenuhi seruan individu yang tertimpa musibah dan permohonan pribadi yang terjerat malapetaka, melalui Pertolongan khusus Ar-Rahmân serta anugerah khusus Rabb. Dia memperlihatkan bahwa Dia adalah Pelaku yang Memilih, bahwa setiap urusan setiap hal bergantung pada Masyîah⁠-⁠Nya (Kehendak Allah سُبْحَانَهُ), dan bahwa hukum-hukum umum pun senantiasa tunduk kepada Kehendak serta Pilihan⁠-⁠Nya; Rabb Yang Rahîm mendengarkan individu yang berseru akibat tekanan hukum-hukum tersebut, dan dengan Kebaikan⁠-⁠Nya datang menolong mereka. Untuk membuka lapangan tak terbatas serta tanpa ikatan bagi manifestasi Asmaulhusna yang tanpa ikatan dan tak terbatas, melalui pengecualian-pengecualian dari kaidah-kaidah adatullah yang menyeluruh serta hukum-hukum umum itu, juga melalui hasil-hasil juz'inya yang buruk, Dia membuka pintu-pintu tajalli (pancaran) khusus melalui anugerah istimewa serta Kasih khusus, yakni membuat Diri⁠-⁠Nya dicintai.

Karena tanda kedua tauhid ini telah diterangkan barangkali pada seratus tempat dalam Siracünnur, di sini kami cukup memberikan isyarat ringan.

HUJAH DAN TANDA KETIGA:

Cap-cap tauhid yang tidak terhitung jumlahnya, yang diisyaratkan oleh

ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚُ ﻭَﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ.

Ya, pada wajah setiap hal, baik yang juz'i maupun yang menyeluruh, dari zarah hingga planet, terdapat suatu cap; sebagaimana pantulan matahari dalam cermin menunjukkan matahari, demikian pula cermin cap itu bersaksi atas Keesaan⁠-⁠Nya dengan mengisyaratkan Matahari Azali dan Abadi. Karena banyak dari cap-cap tak terbatas itu telah diterangkan dengan terperinci dalam Siracünnur, di sini kita hanya akan memandang tiga di antaranya melalui isyarat singkat. Demikianlah:

Sebagaimana pada wajah keseluruhan kainat ditempatkan cap ketauhidan yang luas, yang tersusun dari saling membantu, saling menopang, kemiripan, serta saling masuk yang ditunjukkan jenis-jenis terhadap satu sama lain; pada wajah bumi juga ditempatkan cap tauhid melalui diberikannya, dengan sangat teratur dan tanpa tertukar, tepat pada waktunya, bekal, senjata, pakaian, petunjuk, serta pembebasan tugas yang berbeda-beda kepada pasukan Allah سُبْحَانَهُ Yang Mahasuci, yang tersusun dari empat ratus ribu golongan hewan dan tumbuhan. Sebagaimana pada wajah manusia ditempatkan cap Keesaan melalui adanya tanda pembeda pada setiap wajah terhadap seluruh wajah lainnya, pada wajah setiap ciptaan—baik yang juz'i maupun yang menyeluruh—disaksikan cap tauhid, dan pada kepala setiap makhluk—baik besar maupun kecil, sedikit maupun banyak—disaksikan meterai Ahadiyah. Terutama, cap-cap makhluk bernyawa sangat terang. Bahkan setiap makhluk bernyawa itu sendiri merupakan cap tauhid, meterai ketauhidan, stempel Ahadiyah, dan tanda tangan Shamadiyah.

Ya, setiap bunga, buah, daun, tumbuhan, dan hewan merupakan stempel Ahadiyah serta meterai Shamadiyah demikian, sehingga mengubah setiap pohon menjadi surat Rabb, setiap golongan makhluk menjadi kitab Ar-Rahmân, dan setiap kebun menjadi Firman Allah سُبْحَانَهُ Yang Mahasuci; pada surat pohon itu dibubuhkan stempel sebanyak bunganya, tanda tangan sebanyak buahnya, serta tanda pengesahan sebanyak daunnya. Pada kitab jenis dan golongan itu pun dibubuhkan meterai sebanyak individunya, untuk menunjukkan serta memberitahukan Sang Penulisnya. Pada Firman kebun itu dibubuhkan cap sebanyak tumbuhan, pohon, serta hewan di dalam kebun tersebut, untuk memperkenalkan serta menjelaskan siapa Sultannya.

Bahkan pada awal, akhir, lahir, dan batin setiap pohon terdapat empat cap tauhid yang diisyaratkan oleh Asma

ﻫُﻮَ الْاَوَّلُ وَالْاٰخِرُ ﻭَﺍﻟﻈَّﺎﻫِﺮُ ﻭَﺍﻟْﺒَﺎﻃِﻦُ:

Sebagaimana diisyaratkan oleh ASMA AWWAL:

Biji yang merupakan sumber asal setiap pohon berbuah {(Catatan kaki): Ungkapan "Tumbuh dari biji", yang sejak dahulu menjadi peribahasa pada lidah masyarakat, dapat disebut sebagai isyarat gaib melalui ungkapan yang lazim, kepada penulis risalah ini. Sebab, pribadi yang menjadi pelayan Risale-i Nur, melalui limpahan Al-Qur'an, menemukan dua tangga makrifat untuk tauhid dalam biji serta bunga; pada tempat yang sama yang menenggelamkan kaum naturalis, ia menemukan air kehidupan, dan dari biji ia tumbuh menuju hakikat serta cahaya makrifat. Pengulangan kedua hal ini secara luas dalam Risale-i Nur didasarkan pada hikmah tersebut.} merupakan kotak kecil yang membawa ketentuan pertumbuhan, daftar, serta rancangan pohon itu; ia merupakan tempat kerja yang membawa perangkat, keperluan, serta susunannya; dan ia merupakan alat yang membawa pemasukan yang sangat halus, pengeluaran yang lembut, serta penataannya pada awal pertumbuhan.

DAN sebagaimana diisyaratkan oleh ASMA ÂKHIR:

Hasil serta buah setiap pohon merupakan uraian yang menjelaskan bentuk, keadaan, serta sifat pohon itu; ia merupakan pernyataan yang menjelaskan tugas, manfaat, serta ciri khasnya; dan ia merupakan ringkasan yang menerangkan serta mengajarkan pohon-pohon sejenis, keturunan, serta generasi mendatangnya, melalui biji-biji dalam inti buah tersebut.

DAN sebagaimana diisyaratkan oleh ASMA ZHÂHIR:

Rupa serta bentuk yang dikenakan setiap pohon merupakan pakaian dan busana yang begitu penuh seni serta ukiran, yang dipola, dipotong, dan dihias tepat sesuai dengan seluruh tinggi serta bentuk pohon itu, bersama cabang, ranting, organ, dan bagiannya. Ia begitu teliti, seimbang, serta sarat makna, sehingga mengubah pohon itu menjadi kitab, surat, dan kasidah.

DAN sebagaimana diisyaratkan oleh ASMA BÂTHIN:

Tempat kerja yang berfungsi dalam setiap pohon merupakan pabrik demikian, yang selain mengukur proses membentuk, mengelola, serta mengatur seluruh bagian dan organ pohon itu dengan keseimbangan yang sangat teliti, juga mengarahkan, membagikan, serta menyebarkan bahan dan rezeki yang diperlukan setiap organ yang berbeda-beda, di bawah keteraturan yang sangat sempurna; pabrik menakjubkan itu bekerja dengan kecepatan yang mengagumkan akal, seperti kilat menyambar, dengan kemudahan seperti memutar jam, serta dengan kesatuan dan kebersamaan seperti mengatakan "Maju!" kepada pasukan.

Kesimpulannya:

Awal setiap pohon merupakan kotak kecil serta ketentuan pertumbuhan demikian; akhirnya merupakan uraian serta contoh demikian; lahirnya merupakan pakaian berseni dan busana berhias demikian; batinnya merupakan pabrik serta tempat kerja demikian. Keempat segi ini saling memandang sedemikian rupa, dan dari keseluruhan keempatnya tampak cap yang begitu agung, bahkan Ismul A'zham, sehingga jelas tidak ada selain Sang Pembuat Yang Wâhid lagi Ahad, yang mengelola seluruh kainat, yang dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan itu. Seperti pohon, awal, akhir, lahir, dan batin setiap makhluk bernyawa membawa cap tauhid, meterai ketauhidan, stempel Ahadiyah, serta tanda tangan Keesaan.

Dengan mengambil pohon dalam ketiga contoh ini sebagai perbandingan, musim semi pun merupakan pohon yang mempunyai banyak bunga. Benih, biji, serta akar yang dititipkan ke tangan musim gugur membawa cap Asma Awwal; buah, biji-bijian, serta sayuran yang dicurahkan ke pangkuan musim panas dan memenuhi lipatan pakaiannya membawa meterai Asma Âkhir; pakaian-pakaian seperti sutra halus serta busana-busana fitrah berhias seratus ribu ukiran, yang dikenakan musim semi bertumpuk seperti bidadari bermata indah, membawa stempel Asma Zhâhir; dan pabrik-pabrik Allah سُبْحَانَهُ Yang Shamad yang bekerja dalam musim semi serta perut bumi, periuk-periuk Ar-Rahmân yang mendidih, dan dapur-dapur Rabb yang memasak makanan, membawa tanda pengesahan Asma Bâthin.

Bahkan setiap jenis, misalnya jenis manusia, juga merupakan sebuah pohon. Sebagaimana terdapat hukum-hukum yang sangat teratur dalam kehidupan jenis serta kelangsungan jenis, dengan akar dan bijinya pada masa lalu serta buah dan hasilnya pada masa depan, keadaannya sekarang pun membawa cap tauhid di bawah kaidah-kaidah kehidupan pribadi serta kehidupan masyarakat; ia membawa meterai ketauhidan yang tersembunyi dan teratur di bawah kekacauan-kekacauan lahir; serta membawa stempel Keesaan di bawah keadaan-keadaan manusia yang kacau, melalui kaidah-kaidah Qada dan Takdir yang disebut ketentuan hidup.

PENUTUP

Isyarat-isyarat yang sangat singkat, masing-masing melalui satu ungkapan, kepada rukun-rukun iman yang lain dalam rahasia tauhid.

Wahai manusia yang lalai! Marilah, renungkan sekali dan perhatikan "Tiga Buah, Tiga Hal yang Menuntut, dan Tiga Hujah" yang diterangkan dalam tiga bagian risalah ini. Pandanglah Sang Pembuat Yang Qadîr, Hakîm, Rahîm, dan Alîm: Dia mengatur kainat ini dan memperhatikan bahkan kesembuhan yang paling khusus serta syukur yang paling kecil. Dia tidak menyerahkan atau memberikan kepada pihak lain seni yang paling sedikit seperti sayap lalat dan tidak mengabaikannya. Dia melekatkan tugas serta hikmah sebanyak sebuah pohon pada benih yang paling sederhana. Melalui setiap Seni⁠-⁠Nya, Dia membuat Sifat Rahmân, Rahîm, serta Hakîm⁠-⁠Nya dirasakan. Dia memperkenalkan Diri⁠-⁠Nya melalui setiap sarana dan membuat Diri⁠-⁠Nya dicintai melalui setiap nikmat. Mungkinkah, dan dapatkah dalam segi apa pun, Dia mengabaikan segala keelokan hakikat Muhammad ﷺ, tasbih Ahmad ﷺ, serta cahaya-cahaya Islam, yang secara maknawi menjangkau seluruh kainat?

Mungkinkah dalam segi apa pun kerasulan Ahmad ﷺ, yang menyepuh seluruh ciptaan⁠-⁠Nya, menggembirakan seluruh makhluk⁠-⁠Nya, menerangi kainat, membuat langit dan bumi bergema, membawa separuh bumi serta seperlima umat manusia ke bawah kekuasaan lahir dan maknawinya selama empat belas abad tanpa terputus, dan senantiasa menjalankan kekuasaan yang megah itu demi serta atas Nama Sang Khâliq kainat, bukan merupakan Tujuan, Cahaya, serta Cermin terpenting Sang Pembuat itu? Mungkinkah para nabi yang berkhidmah kepada hakikat yang sama, seperti Muhammad ﷺ, juga bukan utusan, sahabat, serta petugas Sang Pembuat itu? Hâşâ, hâşâ ve kellâ sebanyak mukjizat para nabi!

Mungkinkah dalam segi apa pun Zat yang melekatkan seratus hikmah serta buah pada sesuatu yang paling khusus, seperti cabang dan ranting, serta memperkenalkan dan membuat Rububiyah⁠-⁠Nya dicintai melalui Hikmah-Hikmah⁠-⁠Nya yang luar biasa dan Sifat Rahmân⁠-⁠Nya yang umum, Sang Khâliq Yang Hakîm lagi Rahîm, tidak mendatangkan kebangkitan yang semudah satu musim semi bagi Kudrat⁠-⁠Nya, tidak membuka negeri kebahagiaan serta tempat tinggal yang kekal, lalu mengingkari dan membuat orang mengingkari seluruh Hikmah serta Rahmat⁠-⁠Nya, bahkan Rububiyah dan Kesempurnaan⁠-⁠Nya, serta membinasakan untuk selamanya seluruh makhluk tercinta yang sangat Dia Cintai? Hâşâ, seratus ribu kali hâşâ! Keindahan Mutlak itu Mahasuci dan Suci ratusan ribu derajat dari keburukan mutlak demikian.

Sebuah Catatan Kaki yang Agak Panjang

Pertanyaan tentang kebangkitan:

Firman

ﺍِﻥْ ﻛَﺎﻧَﺖْ اِلَّا ﺻَﻴْﺤَﺔً ﻭَﺍﺣِﺪَﺓً

serta

ﻭَﻣَٓﺎ ﺍَﻣْﺮُ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔِ اِلَّا ﻛَﻠَﻤْﺢِ ﺍﻟْﺒَﺼَﺮِ

yang diulang dalam Al-Qur'an menunjukkan bahwa kebangkitan terbesar terwujud dalam satu saat, tanpa memerlukan waktu. Akal yang sempit menginginkan contoh yang disaksikan, yang menjadi dasar untuk menerima dengan yakin perkara yang luar biasa dan tiada banding pada tingkat tak terbatas ini.

Jawaban:

Dalam kebangkitan, ruh datang kepada tubuh. Tubuh juga dihidupkan. Tubuh juga dibentuk. Ada tiga persoalan.

PERSOALAN PERTAMA:

Contoh datangnya ruh kepada tubuhnya ialah berkumpulnya para prajurit sebuah pasukan yang sangat teratur, yang tersebar ke segala penjuru untuk beristirahat, melalui bunyi terompet yang bersuara nyaring. Ya, sangkakala yang merupakan terompet Israfil tidak kurang daripada terompet pasukan; ruh-ruh yang, ketika berada pada arah masa-masa abadi dan alam zarah, mendengar sapaan

ﺍَﻟَﺴْﺖُ ﺑِﺮَﺑِّﻜُﻢْ

yang datang dari arah azali, lalu menjawab dengan ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺑَﻠٰﻰ, tentu ribuan derajat lebih tunduk, teratur, dan taat daripada prajurit pasukan. Kalimat Ketiga Puluh juga telah membuktikan dengan bukti-bukti yang sangat pasti bahwa bukan hanya ruh, bahkan seluruh zarah pun merupakan pasukan Allah سُبْحَانَهُ Yang Mahasuci serta prajurit-prajurit yang menaati perintah.

PERSOALAN KEDUA:

Contoh dihidupkannya tubuh ialah seperti seratus ribu lampu listrik di sebuah kota yang sangat besar, pada malam perayaan, menyala serta bercahaya dari satu pusat, seolah-olah tanpa memerlukan waktu, dalam satu saat; demikian pula, dari satu pusat dapat diberikan cahaya kepada seratus juta lampu pada seluruh permukaan bumi. Karena listrik, yang merupakan satu makhluk Allah سُبْحَانَهُ, seorang pelayan dan penyedia lampu di salah satu rumah tamu⁠-⁠Nya, memperoleh keadaan ini melalui pelajaran pemeliharaan serta keteraturan yang diterimanya dari Khâliq-nya, tentu dalam lingkaran hukum-hukum teratur Hikmah Ilahi, yang diwakili oleh ribuan pelayan bercahaya⁠-⁠Nya seperti listrik, kebangkitan terbesar dapat terwujud dalam sekejap mata.

PERSOALAN KETIGA:

Contoh dibentuknya tubuh sekaligus ialah dibentuknya seluruh pohon beserta semua daunnya, yang jumlahnya seribu kali lebih banyak daripada seluruh umat manusia, secara sempurna sekaligus dalam beberapa hari pada musim semi, sama seperti musim semi sebelumnya; diadakannya semua bunga, buah, serta daun dari seluruh pohon, seperti hasil musim semi yang lalu, dengan kecepatan seperti kilat; bangun, tumbuh, serta dihidupkannya sekaligus benih-benih kecil, biji, serta akar yang tak terbatas, yang menjadi awal musim semi itu; seluruh jenazah pohon, seperti orang mati yang berdiri hanya berupa tulang, dengan satu perintah sekaligus memperoleh rahasia "ba'sü ba'de'l-mevt" dan dihidupkan kembali; dihidupkannya individu-individu tak terbatas dari golongan hewan kecil dengan seni yang sangat tinggi; terutama dibangkitkannya golongan-golongan lalat, terlebih lagi golongan di hadapan mata kita yang selalu mengingatkan kita kepada wudu serta kebersihan dengan membersihkan wajah, mata, dan sayapnya, serta membelai wajah kita. Meskipun individu-individu golongan itu yang muncul dalam satu tahun lebih banyak daripada seluruh anak Adam yang datang sejak masa Adam, setiap musim semi mereka dibentuk, dihidupkan, serta dibangkitkan bersama golongan-golongan lain dalam beberapa hari; tentu semua ini bukan hanya satu contoh, melainkan ribuan contoh bagi dibentuknya tubuh manusia pada kiamat.

Ya, karena dunia adalah negeri Hikmah dan akhirat adalah negeri Kudrat, diadakannya segala sesuatu di dunia secara agak bertahap serta memerlukan waktu, berdasarkan tuntutan banyak Asma seperti Hakîm, Murattib, Mudabbir, dan Murabbî, terjadi melalui tuntutan Hikmah Rabb. Di akhirat, segala sesuatu dibentuk sekaligus tanpa menyisakan kebutuhan terhadap materi, jangka masa, waktu, atau penantian, agar Kudrat serta Rahmat lebih tampak daripada Hikmah. Untuk mengisyaratkan bahwa pekerjaan yang dilakukan di sini dalam satu hari dan satu tahun dibentuk di akhirat dalam satu saat dan sekejap, Al-Qur’an yang bermukjizat dalam penjelasannya berfirman,

ﻭَﻣَٓﺎ ﺍَﻣْﺮُ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔِ اِلَّا ﻛَﻠَﻤْﺢِ ﺍﻟْﺒَﺼَﺮِ ﺍَﻭْ ﻫُﻮَ ﺍَﻗْﺮَﺏُ.

Jika ingin memahami datangnya kebangkitan dengan pasti seperti datangnya musim semi berikutnya, pandanglah dengan saksama Kalimat Kesepuluh dan Kalimat Kedua Puluh Sembilan tentang kebangkitan, lalu lihatlah. Jika engkau tidak mempercayainya seperti datangnya musim semi, datanglah dan tegurlah aku sekeras-kerasnya.

ADAPUN PERSOALAN KEEMPAT, yaitu kematian dunia dan terjadinya kiamat, dalam satu saat sebuah planet atau bintang berekor, melalui Perintah Rabb, dapat menghantam bumi kita, rumah tamu kita, lalu merusakkan rumah ini. Seperti istana yang dibangun selama sepuluh tahun, tetapi runtuh dalam satu menit...

Untuk sementara, ringkasan empat persoalan kebangkitan ini cukup. Kita kembali kepada pokok pembicaraan.

Mungkinkah Al-Qur’an yang bermukjizat dalam penjelasannya, yang menjadi penerjemah fasih seluruh hakikat sejati dan luhur kainat, lisan yang bermukjizat bagi seluruh Kesempurnaan Sang Khâliq kainat, serta kumpulan luar biasa seluruh Tujuan⁠-⁠Nya, bukan Firman Sang Khâliq itu? Hâşâ, hâşâ sebanyak rahasia ayat-ayatnya!

Mungkinkah Sang Pembuat Yang Hakîm membuat seluruh ciptaan⁠-⁠Nya yang bernyawa dan sadar saling berbicara melalui ribuan jenis bahasa mereka, Mengetahui serta Mendengar perkataan dan suara mereka, serta Menjawab dengan jelas melalui Perbuatan dan Pemberian⁠-⁠Nya, tetapi Dia sendiri tidak Berbicara dan tidak dapat Berbicara? Dapatkah demikian, dan adakah kemungkinan untuk itu?

Karena jelas Dia Berbicara, dan karena pihak yang sepenuhnya memahami dan menerima Pembicaraan⁠-⁠Nya terutama ialah manusia, tentu kitab-kitab suci yang terkenal, terutama Al-Qur'an, merupakan Pembicaraan⁠-⁠Nya.

Sang Pembuat Yang Hakîm memperkenalkan Diri⁠-⁠Nya, membuat Diri⁠-⁠Nya dicintai, membuat makhluk bernyawa memuji serta menyanjung⁠-⁠Nya, dan membuat mereka gembira serta puas melalui berbagai anugerah⁠-⁠Nya, agar rasa berutang budi serta syukur mereka menjadi dasar penting bagi Rububiyah⁠-⁠Nya. Untuk tujuan itu, Dia telah menjadikan kainat yang besar beserta seluruh jenis dan unsurnya sebagai pelayan yang ditundukkan kepada makhluk bernyawa, tempat tinggal, pameran, serta tempat jamuan. Dia ingin memperbanyak salinan ribuan jenis makhluk bernyawa yang beragam sampai sedemikian rupa, sehingga sebagian daun dari pohon-pohon yang tidak berbuah, seperti poplar dan elm, masing-masing dijadikan⁠-⁠Nya buaian, rahim ibu, serta gudang bekal bagi satu batalion lalat, yakni makhluk bernyawa yang berzikir di udara. Mungkinkah Dia kemudian membiarkan langit yang berhias serta bintang-bintang bercahaya ini tanpa pemilik, tanpa kehidupan, tanpa ruh, tanpa penghuni, kosong, hampa, dan tanpa manfaat, yakni tanpa malaikat serta makhluk ruhani? Hâşâ, hâşâ ve kellâ sebanyak malaikat dan makhluk ruhani!

Mungkinkah Sang Pembuat Yang Hakîm lagi Mudabbir, bersamaan dengan menuliskan awal, akhir, serta ketentuan hidup tumbuhan yang paling tidak penting dan pohon yang paling kecil, dalam keteraturan yang sempurna, pada biji serta buahnya dengan pena Takdir, juga menuliskan awal serta hasil musim semi yang besar seperti satu pohon, dengan perbedaan dan keteraturan yang sempurna, dan tidak mengabaikan hal-hal yang paling tidak penting; tetapi Dia tidak menuliskan perbuatan serta gerak-gerik manusia yang sangat penting, tidak memasukkannya ke dalam lingkaran Takdir⁠-⁠Nya, serta mengabaikannya, padahal manusia adalah hasil kainat, khalifah bumi, serta pengawas dan pemimpin jenis-jenis makhluk? Hâşâ, hâşâ ve kellâ sebanyak amal manusia yang akan masuk ke dalam timbangan!

Kesimpulannya:

Kainat, melalui seluruh hakikatnya, berseru,

ﺍٰﻣَﻨْﺖُ ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ ﻭَ ﻣَﻠٰﺌِﻜَﺘِﻪ۪ ﻭَ ﻛُﺘُﺒِﻪ۪ ﻭَ ﺭُﺳُﻠِﻪ۪ ﻭَ ﺑِﺎﻟْﻴَﻮْﻡِ الْاٰخِرِ ﻭَ ﺑِﺎﻟْﻘَﺪَﺭِ ﺧَﻴْﺮِﻩ۪ ﻭَ ﺷَﺮِّﻩ۪ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟٰﻰ ﻭَ ﺍﻟْﺒَﻌْﺚُ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ ﺣَﻖٌّ ﺍَﺷْﻬَﺪُ ﺍَﻥْ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَ ﺍَﺷْﻬَﺪُ ﺍَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺻَﺤْﺒِﻪ۪ ﻭَ ﺍِﺧْﻮَﺍﻧِﻪ۪ ﻭَ ﺳَﻠَّﻢَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ

MUNAJAT TAUHID DAN PENDAHULUANNYA

Karena Imam Ali radıyallahu anh ve kerremallahu vechehu, pada bagian Kaside-i Celcelutiye yang melalui karamah memberitakan Risale-i Nur, menamainya Siracünnur dan Siracüssürc, sehingga menambahkan dua nama kepada tiga nama Risale-i Nur; dan sehubungan dengan pengulangan nama Siracünnur dalam risalah ini, pada akhir risalah kami memperluas salah satu munajat Imam Ali radıyallahu anh yang terpenting pada dua tingkat. Dengan menggunakan lisan luhurnya serta menggunakan lisan kami sebagai salah satu lisannya, kami mempersembahkan munajat berikut ke hadirat Zat Yang Wâhid lagi Ahad.

MUNAJAT

ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺍِﻧَّﻪُ ﻟَﻴْﺲَ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ ﺩَﻭَﺭَﺍﺕٌ ﻭَ ﻧُﺠُﻮﻡٌ ﻣُﺤَﺮَّﻛَﺎﺕٌ ﺳَﻴَّﺎﺭَﺍﺕٌ ﻭَ لَا ﻓِﻰ ﺍﻟْﺠَﻮِّ ﺳَﺤَﺎﺑَﺎﺕٌ ﻭَ ﺑُﺮُﻭﻕٌ ﻣُﺴَﺒِّﺤَﺎﺕٌ ﻭَ ﺭَﻋَﺪَﺍﺕٌ ﻭَ لَا ﻓﻰِ الْاَرْضِ ﻏَﻤَﺮَﺍﺕٌ ﻭَ ﺣَﻴَﻮَﺍﻧَﺎﺕٌ ﻭَ ﻋَﺠَﺎﺋِﺐُ ﻣَﺼْﻨُﻮﻋَﺎﺕٍ ﻭَ لَا ﻓِﻰ ﺍﻟْﺒِﺤَﺎﺭِ ﻗَﻄَﺮَﺍﺕٌ ﻭَ ﺳَﻤَﻜَﺎﺕٌ ﻭَ ﻏَﺮَﺍﺋِﺐُ ﻣَﺨْﻠُﻮﻗَﺎﺕٍ ﻭَ لَا ﻓِﻰ ﺍﻟْﺠِﺒَﺎﻝِ ﺣَﺠَﺮَﺍﺕٌ ﻭَ ﻧَﺒَﺎﺗَﺎﺕٌ ﻭَ ﻣُﺪَّﺧَﺮَﺍﺕُ ﻣَﻌْﺪَﻧِﻴَّﺎﺕٍ ﻭَ لَا ﻓِﻰ الْاَشْجَارِ ﻭَﺭَﻗَﺎﺕٌ ﻭَ ﺯَﻫَﺮَﺍﺕٌ ﻣُﺰَﻳَّﻨَﺎﺕٌ ﻭَ ﺛَﻤَﺮَﺍﺕٌ ﻭَ لَا ﻓِﻰ الْاَجْسَامِ ﺣَﺮَﻛَﺎﺕٌ ﻭَ اٰلَاتٌ ﻭَ ﻣُﻨَﻈَّﻤَﺎﺕُ ﺟِﻬَﺎﺯَﺍﺕٍ ﻭَ لَا ﻓِﻰ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮﺏِ ﺧَﻄَﺮَﺍﺕٌ ﻭَ ﺍِﻟْﻬَﺎﻣَﺎﺕٌ ﻭَ ﻣُﻨَﻮَّﺭَﺍﺕُ ﺍِﻋْﺘِﻘَﺎﺩَﺍﺕٍ اِلَّا ﻭَ ﻫِﻰَ ﻛُﻠُّﻬَﺎ ﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟُﻮﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻙَ ﺷَﺎﻫِﺪَﺍﺕٌ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﻭَﺣْﺪَﺍﻧِﻴَّﺘِﻚَ دَالَّاتٌ ﻭَ ﻓ۪ﻰ ﻣُﻠْﻜِﻚَ ﻣُﺴَﺨَّﺮَﺍﺕٌ ﻓَﺒِﺎﻟْﻘُﺪْﺭَﺓِ ﺍﻟَّﺘ۪ﻰ ﺳَﺨَّﺮْﺕَ ﺑِﻬَﺎ الْاَرَض۪ينَ ﻭَ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ ﺳَﺨِّﺮْﻟ۪ﻰ ﻧَﻔْﺴ۪ﻰ ﻭَ ﺳَﺨِّﺮْﻟ۪ﻰ ﻣَﻄْﻠُﻮﺑ۪ﻰ ﻭَ ﺳَﺨِّﺮْ ﻟِﺮَﺳَﺎﺋِﻞِ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ ﻟِﺨِﺪْﻣَﺔِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﻭَ الْا۪يمَانِ ﻗُﻠُﻮﺏَ ﻋِﺒَﺎﺩِﻙَ ﻭَ ﻗُﻠُﻮﺏَ ﺍﻟْﻤَﺨْﻠُﻮﻗَﺎﺕِ ﺍﻟﺮُّﻭﺣَﺎﻧِﻴَّﺎﺕِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻌُﻠْﻮِﻳَّﺎﺕِ ﻭَ ﺍﻟﺴُّﻔْﻠِﻴَّﺎﺕِ ﻳَﺎ ﺳَﻤ۪ﻴﻊُ ﻳَﺎ ﻗَﺮ۪ﻳﺐُ ﻳَﺎ ﻣُﺠ۪ﻴﺐَ ﺍﻟﺪَّﻋَﻮَﺍﺕِ ﻭَ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ