Inilah isyarat yang sangat ringkas kepada hujah yang ada di dalamnya:
Sinar-Sinar · hlm. 609
Kami melihat bahwa di dalam kainat ini setiap lingkaran, setiap jenis, setiap lapisan, bahkan setiap individu, setiap anggota tubuh, bahkan setiap sel di dalam setiap badan, memiliki sebuah gudang dan sebuah tempat penyimpanan yang menyimpan cadangan rezekinya, serta sebuah ladang dan khazanah yang menumbuhkan dan menjaga segala keperluannya; dan semua itu, dengan keteraturan dan timbangan yang sangat rapi serta dengan hikmah dan inayah yang tak berkesudahan, tepat pada waktunya — di luar kemampuan dan kehendak pihak yang membutuhkan — diserahkan oleh sebuah tangan gaib ke tangan pihak yang membutuhkan itu.
Misalnya, gunung-gunung membawa seluruh barang tambang, obat-obatan, dan segala hal yang diperlukan oleh makhluk hidup dan manusia; dan sebagaimana ia menjadi sebuah khazanah serta lumbung yang sangat sempurna dengan perintah dan pengaturan dari Zat Yang Esa, demikian pula bumi adalah sebuah ladang, sebuah tempat pengirikan, dan sebuah dapur yang dengan timbangan dan keteraturan yang sempurna menumbuhkan seluruh rezeki makhluk hidup itu dengan kekuatan Ar-Razzâq Yang Hakîm.
Bahkan sebagaimana setiap manusia dan setiap anggota tubuhnya memiliki tempat penyimpanan dan gudang, bahkan sebuah sel pun memiliki gudang cadangan mungil; demikianlah seterusnya meningkat sampai gudang negeri akhirat adalah dunia ini; sedangkan ladang dan tempat penyimpanan surga adalah alam Islam serta kemanusiaan yang hakiki, yang menghasilkan kebagusan, kebaikan, dan cahaya di alam ini; adapun lumbung neraka adalah zat-zat kotor dan golongan-golongan yang menghasilkan kejahatan, keburukan, dan kekufuran, yang datang dari tiada yang merupakan kejahatan, serta mengotori alam-alam wujud yang merupakan kebaikan; dan gudang panas bintang-bintang adalah neraka, sedangkan khazanah cahayanya adalah surga. Maka kalimat بِيَدِهِ الْخَيْرُ, dengan mengisyaratkan kepada seluruh khazanah yang tak terhingga itu, memperlihatkan sebuah hujah yang sangat cemerlang.
Benar, dengan kalimat ini dan dengan kalimat بِيَدِه۪ مَقَال۪يدُ كُلِّ شَىْءٍ — yakni "Kunci segala sesuatu ada di tangan-Nya" — Dia memperlihatkan kepada siapa pun yang tidak buta sama sekali sebuah hujah rububiyah dan keesaan yang luasnya tak berkesudahan lagi
penuh keajaiban yang tak terhingga. Misalnya, dari khazanah dan lumbung yang tak terhingga itu, lihatlah hanya kepada yang satu ini:
Sang Pengatur Yang Hakîm, yang di tangan-Nya berada kunci-kunci biji dan benih — gudang-gudang mungil yang masing-masing membawa perangkat sebatang pohon besar atau sekuntum bunga yang cemerlang beserta rancangan takdirnya — sebagaimana Dia membuka pintu mungil sebuah biji dengan perintah "Bangunlah!" dan dengan kunci kehendak-Nya, dengan timbangan dan tatanan yang tepat; demikian pula Dia membuka khazanah bumi dengan kunci hujan, lalu membuka sekaligus tanpa keliru sedikit pun seluruh gudang mungil itu: seluruh butir benih yang merupakan nutfah tumbuh-tumbuhan, seluruh asal-usul hewan, serta gudang-gudang mungil berupa tetes-tetes air yang menerima perintah untuk berkembang, yaitu nutfah burung dan lalat yang berasal dari air dan udara. Maka jika engkau ingin mengetahui dan melihat bahwa Dia membuka seluruh khazanah dan tempat penyimpanan di dalam kainat — yang menyeluruh dan yang juz'i, yang bersifat benda dan yang bersifat maknawi — dengan tangan hikmah, kehendak, rahmat, dan masyîah-Nya, masing-masing dengan kunci yang khusus baginya, maka lihatlah kepada hatimu sendiri, otakmu, tubuhmu, lambungmu, kebunmu, dan kepada musim semi yang merupakan bunga bumi, serta kepada bunga-bunga dan buah-buahan yang ada padanya — semuanya itu adalah semacam gudang-gudang mungil milikmu — betapa semuanya dibuka oleh sebuah tangan gaib dengan tatanan, timbangan, rahmat, dan hikmah yang sempurna, memakai kunci-kunci yang berbeda-beda yang datang dari bengkel "perintah kun fayakûn". Dari sebuah kotak kecil sebesar satu dirham, Dia mengeluarkan makanan seberat satu batman, bahkan kadang seratus batman, dengan keteraturan yang sempurna, lalu menjamu makhluk-makhluk hidup.
Mungkinkah kekuatan yang buta, alam yang tuli, kebetulan yang tak menentu, serta sebab-sebab yang mati, bodoh, lagi lemah dapat ikut campur dalam sebuah perbuatan yang tak berkesudahan, teratur, penuh ilmu, dan penuh penglihatan seperti ini; dalam sebuah seni yang sepenuhnya penuh hikmah tanpa secuil pun kebetulan; dalam sebuah pengaturan yang bertimbangan sempurna tanpa satu kekeliruan; dan dalam sebuah rububiyah yang seadil-adilnya tanpa sedikit pun kezaliman? Dan mungkinkah suatu maujud yang tidak dapat melihat seluruh benda sekaligus dan tidak dapat mengurus semuanya bersama-sama, yang zarah dan planet-planet tidak berada di bawah perintahnya, ikut campur dalam pengaturan dan pengurusan yang dari segala sisi penuh hikmah, penuh mukjizat, lagi bertimbangan ini?
Maka terhadap orang yang tidak mengenal Sang Pengatur Yang Rahîm dan Rabb Yang Hakîm semacam ini — Zat yang seluruh kebaikan berada di tangan-Nya dan kunci segala sesuatu ada pada-Nya — lalu justru mengingkari-Nya, sudah pasti neraka murka kepadanya dan semakin membara, sebagaimana yang difirmankan ayat تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ; dan dengan lisan keadaan neraka berkata: "Ia berhak atas azabku yang tak terhingga dan sama sekali tidak layak mendapat belas kasih."