Risale-i NurSinar-Sinar

Inilah isyarat yang sangat ringkas kepada hujahnya:

Sinar-Sinar · hlm. 607

Benar, kami melihat bahwa ketika pada musim gugur tiga ratus ribu jenis makhluk hidup dilepaskan dari tugasnya dengan nama kematian, kotak-kotak lembaran amal setiap jenis dan setiap individu, daftar isi apa yang telah mereka kerjakan, daftar apa yang akan mereka kerjakan pada musim semi mendatang, serta benih-benih mereka yang dari satu segi merupakan semacam ruh bagi mereka, dititipkan di tempatnya masing-masing ke dalam tangan hikmah Sang Hafîzh Dzul-Jalâl. Maka siapa yang tidak mengenal Sang Hallâq Yang Hakîm, Sang Hayy Yang Tidak Pernah Mati — Zat yang menjadikan benih-benih mungil sebesar zarah itu, seperti biji dan pentil buah ara, laksana ruh yang kekal yang mengemban seluruh hukum kehidupan pohon ara, dan yang dengan pena takdir menuliskan padanya riwayat hidup pohon itu laksana tulisan sebesar sebuah kitab di dalam daya ingat, lalu menjadikannya berkedudukan sebagai kitab yang besar — sudah pasti ia bukan sekadar manusia bodoh dan hewan gila, melainkan lebih celaka daripada setan gelandangan yang mengorek-ngorek api neraka, dan ia dihukum dengan kematian abadi.

Benar, perbuatan-perbuatan penuh hikmah yang telah disebutkan ini — yang menyeluruh, meliputi, tak terhingga menakjubkan, dan yang mengandung keajaiban serta mukjizat yang tak berkesudahan, yang mengisyaratkan hujah-hujah kalimat-kalimat ini — sebagaimana seratus derajat mustahil dan batil bila dianggap tanpa pelaku, demikian pula seribu derajat mustahil lagi tidak berdasar bila disandarkan kepada sebab-sebab yang buta, lemah, tanpa kesadaran, tuli, mati, kacau balau, tanpa keteraturan, bercampur aduk, lagi menyerbu tanpa aturan.

Jika tidak demikian, niscaya pada setiap zarah tanah harus ada kudrat dan hikmah yang tak terhingga serta kemampuan berseni yang sangat menakjubkan lagi menyeluruh mengenai susunan seluruh rumput dan bunga; dan pada setiap zarah udara — sebagaimana dikatakan oleh Nukta Huwa di dalam Panduan Pemuda — harus ada kesanggupan untuk mengetahui seluruh percakapan serta kata-kata telepon dan radio, dan untuk mengajari zarah-zarah lainnya. Adapun pikiran yang aneh ini, tidak ada satu setan pun yang dapat membuat seorang pun menerimanya.

Dan balasan bagi kufur serta sikap ingkar yang sedemikian jauh dari akal dan dari hakikat, yang menghina dan melampaui batas terhadap seluruh maujud, hanyalah dapat berupa neraka yang dahsyat — dan itulah keadilan itu sendiri. Sudah pasti, terhadap orang-orang yang ingkar semacam itu kita perlu berkata: "Hidup neraka!"