Risale-i NurSinar-Sinar

POIN PERTAMA

Sinar-Sinar · hlm. 580

Karena iman dan taklif (pembebanan tugas dan kewajiban) merupakan sebuah ujian, sebuah percobaan, dan sebuah perlombaan di dalam lingkaran kehendak bebas, maka persoalan-persoalan nazari yang berselubung, mendalam, serta membutuhkan penelitian dan pengalaman itu tentu tidak menjadi hal yang terang dengan sendirinya. Dan ia tidak menjadi hal yang begitu pasti sehingga setiap orang mau tidak mau harus membenarkannya. Supaya orang-orang seperti Abu Bakar naik ke a'la illiyyin dan orang-orang seperti Abu Jahal jatuh ke asfala safilin. Jika kehendak bebas tidak lagi ada, taklif pun tidak dapat terjadi. Dan karena rahasia dan hikmah inilah mukjizat diberikan secara jarang dan sedikit.

Lagi pula, tanda-tanda kiamat dan alamat-alamat hari akhir yang akan terlihat dengan mata di negeri tugas dan kewajiban ini pun menjadi tertutup dan mengandung takwil, seperti sebagian ayat mutasyabih di dalam Al-Qur'an. Hanya saja, terbitnya matahari dari barat, karena ia memaksa setiap orang untuk membenarkan pada derajat yang sangat nyata, maka pintu tobat pun tertutup; tobat dan iman tidak lagi diterima. Sebab orang-orang seperti Abu Bakar menjadi sama dengan orang-orang seperti Abu Jahal dalam hal membenarkan. Bahkan turunnya Nabi Isa alaihissalam pun, dan bahwa beliau itu benar-benar Isa alaihissalam, hanya diketahui dengan ketelitian cahaya iman; tidak setiap orang dapat mengetahuinya. Bahkan tokoh-tokoh yang dahsyat seperti Dajjal dan Sufyan, mereka sendiri pun tidak mengetahui jati diri mereka. POIN KEDUA: Urusan gaib yang diberitahukan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم, sebagiannya diberitahukan secara terperinci. Pada bagian ini sama sekali tidak ada campur tangan dan tidak boleh dicampuri. Seperti ayat-ayat muhkam Al-Qur'an dan hadis kudsi. Dan sebagian lain diberitahukan secara global, sedangkan perincian dan penggambarannya diserahkan kepada ijtihad beliau. Seperti hadis-hadis mengenai peristiwa-peristiwa alam dan kejadian-kejadian masa depan yang tidak masuk ke dalam persoalan iman. Pada bagian ini, Nabi kita alaihis-salâtu was-salâm dengan balagahnya — dalam bentuk perumpamaan — memerincinya dan menggambarkannya sesuai dengan hikmah rahasia taklif.

Misalnya, dalam suatu majelis terdengar sebuah gemuruh yang dalam. Beliau bersabda: "Gemuruh ini adalah suara sebuah batu yang selama tujuh puluh tahun menggelinding ke arah neraka, dan pada detik ini ia sampai lalu jatuh ke dasar neraka." Lima enam menit setelah kabar yang menakjubkan itu, datanglah seseorang dan berkata: "Wahai Rasulullah! Si Fulan, seorang munafik yang berumur tujuh puluh tahun, telah wafat dan pergi ke neraka." Ia pun memperlihatkan takwil dari sabda Nabi صلى الله عليه وسلم yang tinggi lagi penuh balagah itu.