Saudara-saudaraku yang Aziz lagi setia!
Sinar-Sinar · hlm. 386
Menghadapi kehidupan dunia ini — yang begitu cepat berubah dan lenyap, yang kenikmatannya buruk, fana, dan tanpa akibat yang baik, serta yang penuh tamparan perpisahan dan perceraian — salah satu sumber hiburan yang penting adalah berjumpa dengan sahabat-sahabat yang tulus. Ya, kadang-kadang orang menempuh perjalanan dua puluh hari dan membelanjakan seratus lira hanya untuk melihat seorang sahabatnya selama satu dua jam. Kini, pada zaman yang aneh dan tanpa sahabat ini, dapat melihat empat lima puluh sahabat yang tulus sekaligus selama satu dua bulan, bercakap-cakap karena Allah, serta memberi dan menerima hiburan yang hakiki — sungguh, kesukaran yang menimpa kami dan kerugian harta ini menjadi sangat murah dibandingkan dengannya, sehingga tidak lagi berarti. Aku sendiri, sesudah berpisah sepuluh tahun dari saudara-saudaraku di sini,
rela menanggung kesukaran ini demi melihat seorang saja di antara mereka. Mengeluh berarti mengkritik takdir, dan bersyukur berarti berserah kepada takdir.
Aku meyakinkan kalian bahwa seandainya ajal datang sekarang lalu aku mati, aku akan menyambutnya dengan hati yang sepenuhnya tenang. Sebab, timbul keyakinan padaku bahwa di tengah kalian terdapat banyak Said yang muda, kuat, dan teguh, dan bahwa mereka akan jauh lebih mampu memiliki, mewarisi, serta melindungi Risale-i Nur daripada Said yang malang, tua, sakit, dan lemah ini. Aku sangat berterima kasih dan sangat bergembira kepada pribadi-pribadi yang namanya tertulis di dalam catatan Nazif dan yang menguatkan kekuatan maknawi dengan cara yang berkesan. Memang sejak semula aku menduga mereka akan seperti itu. Semoga Allah menganugerahkan taufik kepada mereka dan menjadikan mereka contoh yang baik bagi orang lain, amin!