Saudara-saudaraku yang Aziz lagi setia!
Sinar-Sinar · hlm. 368
Dari sisi keadilan takdir di dalam kada Ilahi ini: karena sebagian orang dari murid-murid baru menghendaki pula sisi duniawi — yang tidak sesuai dengan rahasia ikhlas — melalui Risale-i Nur, mereka mendapati di hadapan mereka beberapa pesaing yang hanya mengejar keuntungan; dan dengan jatuhnya “Sinar Kelima” ke tangan orang di sebuah tempat yang jauh dariku — risalah yang aslinya ditulis dua puluh lima tahun yang lalu, yang dalam kurun delapan tahun hanya satu dua kali sampai ke tanganku lalu pada saat itu juga dihilangkan — maka orang-orang yang dengki seperti guru agama yang telah rusak
itu pun dengan risalah itu membuat pihak peradilan diliputi waham. Pada saat yang sama, tercetaknya “Ayatul Kubra” tanpa persetujuanku dengan huruf-huruf baru yang kuinginkan — sebagai ganti kumpulan “Miftahul Iman” — dan datangnya naskah-naskahnya terdengar oleh pemerintah, lalu dua persoalan itu dicampuradukkan satu sama lain. Seolah-olah “Sinar Kelima” itulah yang dicetak untuk menentang “Undang-Undang Sipil”, maka orang-orang yang berniat buruk, dengan membesar-besarkan perkara sekecil biji menjadi sebesar seratus kubah, memasukkan kami secara zalim ke dalam rumah penderitaan ini.
Namun takdir Ilahi justru menggiring kami ke sini demi manfaat bagi kami. Dan dengan rahasia menjadikan kami memperoleh pahala yang jauh melampaui pahala tempat-tempat khalwat yang dipilih sendiri pada zaman dahulu, takdir Ilahi kembali memanggil kami ke Madrasah Yusufiyah agar kami mengambil pelajaran ikhlas secara penuh dan agar kami menata kembali ikatan kami dengan urusan dunia yang pada hakikatnya tidak berharga.