Risale-i NurSinar-Sinar

Saudara-saudaraku yang Aziz lagi setia!

Sinar-Sinar · hlm. 421

Seorang menteri pendidikan telah menyingkapkan tabir dari wajahnya dan menampilkan kufur mutlak dalam bentuk yang lain. Sebelum menerima nota pembelaan yang terakhir kami kirimkan, dengan dorongan lain ia telah menulis maklumat itu. Sebenarnya aku tidak berniat mengirimkannya ke instansi itu; namun keadaan ini menunjukkan bahwa mengirimkannya kepada mereka pun — sebagaimana dipandang tepat oleh saudara-saudara kita — memang patut sekaligus perlu. Sebab, seorang menteri yang begitu taasub di dalam sikap ingkar kepada Allah tentu tidak akan bersikap acuh tak acuh terhadap berkas-berkas dan risalah-risalah rahasia yang dikirim ke Ankara. Tiba-tiba nota-nota pembelaan yang tidak terbantahkan itu langsung dihantamkan ke atas kepalanya, dan hal itu sungguh sangat baik. Insya Allah, di instansi itu pun akan bangkit sebuah arus yang kuat yang berpihak kepada Risale-i Nur.

Saudara-saudaraku! Selama jati diri sebagian orang seperti ini, maka menyerah kepada mereka, kepada golongan itu, adalah bunuh diri secara maknawi, adalah menyesali keislaman, bahkan boleh jadi melepaskan diri dari agama. Sebab, mereka telah menampakkan sikap taasub di dalam sikap ingkar kepada Allah sampai pada tingkat yang membuat mereka tidak rida terhadap orang-orang seperti kami hanya dengan sikap menyerah dan berpura-pura. Mereka berkata, "Tinggalkan hati dan hati nuranimu, bekerjalah hanya untuk dunia."

Maka, menghadapi keadaan ini tidak ada jalan lain kecuali bersandar kepada inayah Rabbani, lalu dengan keteguhan, kesabaran, dan tawakal berdoa agar empat peti bagian-bagian Risale-i Nur itu sampai ke pusat tersebut dan menang dengan hakikat-hakikatnya yang kuat. Bahwa saling menjauh, saling tersinggung, menarik diri dari Risale-i Nur, menyerah kepada mereka, bahkan bergabung dengan mereka, tidak memberi faedah apa pun — semua itu telah terbukti dengan pengalaman sampai hari ini.

Lagi pula, janganlah kalian merasa khawatir sedikit pun. Gembar-gembor dan rasa panik menteri itu menunjukkan bahwa ia lemah dan sangat takut. Ia memberitahukan bahwa ia terpaksa bukan untuk menyerang, melainkan untuk bertahan.