Saudara-saudaraku yang Aziz lagi setia!
Sinar-Sinar · hlm. 453
Risale-i Nur berjumpa dengan kalian sebagai ganti diriku; ia memberikan pelajaran dengan baik kepada saudara-saudara baru kita yang merindukan pelajaran. Kesibukan dengan Cahaya-cahaya itu — baik dalam bentuk membaca, mengajarkan, maupun menulis — sebagaimana terbukti oleh berbagai pengalaman, membuat hati menjadi lega, ruh menjadi tenang, rezeki menjadi berkah, dan tubuh menjadi sehat.
Kini seorang pahlawan Nur seperti Hüsrev telah dianugerahkan kepada kalian. Insyaallah Madrasah Yusufiyah ini pun akan menjadi salah satu ruang belajar Madrasatuz-Zahra yang penuh berkah. Selama ini aku tidak memperlihatkan Hüsrev kepada ahli dunia; aku menyembunyikannya. Akan tetapi kumpulan-kumpulan yang telah disebarkan itu memperlihatkannya sepenuhnya kepada ahli politik, sehingga tidak ada lagi yang tersembunyi. Karena itu aku menyatakan dua tiga khidmahnya kepada saudara-saudaraku yang khusus. Baik aku maupun dia, tidak lagi menyembunyikannya; jika perlu, hakikat yang sama akan dinyatakan.
Akan tetapi untuk sementara ini, di antara orang-orang yang akan mendengarkan hakikat di hadapan kita, terdapat dua orang yang dahsyat lagi keras kepala yang telah menampakkan diri — seorang telah diketahui di Emirdağ dan seorang lagi di sini — yang atas nama zandaqah sekaligus atas nama komunisme, dengan tipu daya yang sangat licik, berusaha menakut-nakuti para pegawai dengan fitnah-fitnah terhadap kita. Karena itu untuk sementara kita harus sangat berhati-hati, tidak gelisah, dan menanti dengan tawakal datangnya inayah Ilahi menolong kita.
Wahai teman-teman sepenjaraku dan saudara-saudaraku seagama!
Telah diingatkan ke dalam hatiku untuk menjelaskan kepada kalian sebuah hakikat yang akan menyelamatkan kalian, baik dari azab dunia maupun dari azab akhirat. Hakikat itu adalah sebagai berikut:
Misalnya, seseorang telah membunuh saudara atau kerabat orang lain. Karena amarah satu menit itu, ia menanggung jutaan menit derita hati sekaligus azab penjara. Adapun kerabat orang yang terbunuh itu, dengan kegelisahan hendak membalas dendam dan dengan senantiasa memikirkan musuhnya di hadapannya, kehilangan kelezatan hidupnya dan kenikmatan umurnya. Ia pun menanggung azab rasa takut sekaligus azab amarah. Hal ini hanya memiliki satu jalan keluar:
Yaitu apa yang diperintahkan Al-Qur'an dan yang dituntut serta dianjurkan oleh haq, hakikat, kebaikan bersama, perikemanusiaan, dan Islam, yakni berdamai dan mengadakan
perdamaian. Ya, hakikat dan kebaikan itu adalah perdamaian. Sebab ajal itu satu dan tidak berubah. Orang yang terbunuh itu, karena ajalnya telah datang, sudah pasti tidak akan tinggal lebih lama lagi di dunia. Adapun si pembunuh, ia telah menjadi perantara bagi qada Ilahi itu. Jika perdamaian tidak terjadi, kedua belah pihak akan senantiasa menanggung azab rasa takut dan dendam. Karena itulah Islam memerintahkan: “Seorang mukmin tidak boleh mendiamkan mukmin yang lain lebih dari tiga hari.”
Jika pembunuhan itu tidak lahir dari permusuhan dan dari maksud jahat yang penuh dendam, dan yang menjadi sebab timbulnya fitnah itu adalah seorang munafik, maka segera berdamai adalah suatu keharusan. Jika tidak, musibah yang kecil itu akan membesar dan terus berlangsung.
Jika mereka berdamai, lalu orang yang membunuh itu bertobat dan senantiasa mendoakan orang yang terbunuh, maka kedua belah pihak akan memperoleh keuntungan yang besar dan menjadi laksana saudara. Sebagai ganti satu saudara yang telah pergi, ia memperoleh beberapa saudara yang beragama. Ia berserah diri kepada qada dan takdir Ilahi lalu memaafkan musuhnya; terlebih lagi, selama mereka telah mendengarkan pelajaran Risale-i Nur, sudah pasti kebaikan bersama serta ketenangan pribadi dan umum menuntut mereka untuk meninggalkan segala sikap saling mendiamkan yang ada di antara mereka.
Sebagaimana di penjara Denizli seluruh tahanan yang saling bermusuhan menjadi bersaudara berkat pelajaran Cahaya-cahaya itu, lalu hal itu menjadi salah satu sebab putusan bebas bagi kami, bahkan membuat orang-orang yang tidak beragama dan para gelandangan pun mengucapkan “Masyaallah, barakallah” tentang para tahanan itu; maka para tahanan itu pun benar-benar dapat bernapas lega.
Di sini aku melihat bahwa karena satu orang saja, seratus orang menanggung kesempitan dan tidak keluar bersama untuk menghirup udara. Hal itu berarti menzalimi mereka. Seorang mukmin yang jantan dan berhati nurani tidak akan mendatangkan ratusan kerugian kepada ahli iman demi satu kesalahan atau satu keuntungan yang kecil lagi sepele. Seandainya ia berbuat salah dan mendatangkannya, ia harus segera bertobat.