Saudara-saudaraku yang Aziz lagi setia!
Sinar-Sinar · hlm. 502
Pertama: Hasil laporan ini persis sama dengan hasil laporan di Denizli. Sembari membebaskan kami dari poin-poin yang menjadi sebab tuduhan, dengan maksud tampak menyenangkan di hadapan mereka dan memperlihatkan bahwa mereka bukan orang Nurcu, mereka telah menyerang dengan urat Wahabi dan dengan sedikit kritik ilmiah. Menurut dugaanku, laporan ini telah sampai ke sini sebelum surat dakwaan, sehingga surat dakwaan mengambil sebagian poinnya dari laporan itu. Jika demikian, daftar kami merupakan jawaban yang tepat bagi mereka juga. Bagaimana pendapat kalian? Lagi pula, bagaimana jawaban baru kami, sudah baikkah? Aku menulisnya dengan sangat tergesa-gesa dan dalam keadaan yang kacau.
Kedua: Sampai sekarang, secara lahiriah mereka menyibukkan diri dengan kami melalui pribadi-pribadi kami, melalui tuduhan perkumpulan dan tarekat, serta melalui beberapa surat pribadi yang juz'i. Kini, dengan disitanya Sirajunnur dan Hujumat Sittah, dengan dipalingkannya pandangan para ahli kepada Nur, dan dengan tipu daya musuh-musuh kami yang tersembunyi, terjadilah semacam serangan terhadap Risale-i Nur yang menjadi sumber ketenangan tanah air ini; maka — sebagaimana telah berkali-kali terjadi sampai sekarang — persis pada saat serangan ini, datanglah pula ke negeri ini dua gempa bumi yang keras, tepat ketika aku sedang menulis pembahasan itu. Gempa itu membenarkan aku dan berkata: "Tidak perlu ditulis."
Aku pun tidak jadi menuliskannya. Hari ini aku juga mendengar bahwa ketakutan akan perang telah dimulai. Maka aku berkata kepada kepala tempat ini: Sampai sekarang, kapan saja Nur diserang, bumi murka atau ketakutan akan perang pun dimulai. Kami telah menyaksikan begitu banyak kejadian sehingga tidak tersisa lagi kemungkinan kebetulan, dan hal itu pun telah diperlihatkan kepada mahkamah-mahkamah.
Berarti pada hari-hari ini, tanpa aku mengetahuinya, karena kepanikanku yang keras tentang Nur, karena kritik para ahli yang penuh kedengkian, dan karena disitanya salah satu himpunan Nur yang penting, Sirajunnur — yang pada hakikatnya laksana sedekah yang diterima sehingga menjadi sarana tertolaknya berbagai musibah — telah masuk ke bawah tirai penutup; maka gempa bumi dan ketakutan akan perang pun dimulai.