Risale-i NurSinar-Sinar

Sebuah Jawaban yang Berisi Hakikat bagi Sebuah Pertanyaan Penting

Sinar-Sinar · hlm. 360

Beberapa orang pembesar bertanya kepadaku: "Mengapa engkau tidak menerima tawaran Mustafa Kemal yang hendak memberimu gaji tiga ratus lira dan mengangkatmu sebagai juru dakwah umum untuk Kurdistan dan Provinsi-Provinsi Timur, menggantikan Syekh Sanusi? Seandainya engkau menerimanya, engkau akan menjadi sebab terselamatkannya nyawa seratus ribu orang yang melayang akibat pemberontakan!" demikian kata mereka.

Aku pun menjawab mereka: Sebagai ganti dari tidak terselamatkannya kehidupan dunia selama dua puluh atau tiga puluh tahun bagi orang-orang itu, Risale-i Nur — yang menjadi sarana bagi ratusan ribu warga negeri ini, masing-masing mereka, untuk meraih kehidupan ukhrawi selama jutaan tahun — telah menunaikan pekerjaan seribu kali lebih besar daripada korban yang hilang itu.

Seandainya tawaran itu kuterima, Risale-i Nur — yang tidak dapat dijadikan alat bagi apa pun, yang tidak tunduk kepada siapa pun, dan yang membawa rahasia ikhlas — tidak akan pernah lahir. Bahkan di dalam penjara aku pernah berkata kepada saudara-saudaraku yang mulia: Seandainya orang-orang yang menjatuhkan hukuman mati kepadaku karena tamparan-tamparan keras Risale-i Nur yang dikirim ke Ankara itu kelak menyelamatkan iman mereka dengan Risale-i Nur dan terlepas dari hukuman mati abadi, maka saksikanlah oleh kalian, aku pun menghalalkan mereka dengan segenap ruh dan jiwaku!

Setelah kami dibebaskan, kepada orang-orang yang mengusikku dengan pengintaian di Denizli, kepada para atasan mereka, serta kepada kepala polisi dan para inspektur, aku berkata: Sungguh merupakan karamah Risale-i Nur yang tidak dapat diingkari bahwa selama dua puluh tahun hidupku sebagai orang yang terzalimi, di dalam ratusan risalah dan suratku serta pada ribuan muridku, dalam pemeriksaan selama sembilan bulan tidak ditemukan satu dokumen pun dan satu kaitan pun dengan arus mana pun, dengan perkumpulan mana pun, dan dengan komite dalam negeri maupun luar negeri mana pun. Adakah pikiran atau siasat mana pun yang sanggup menghadirkan keadaan luar biasa ini? Seandainya rahasia pribadi satu orang saja selama beberapa tahun terbongkar, pasti akan ditemukan dua puluh perkara yang membuatnya harus bertanggung jawab dan menanggung malu.

Selama hakikatnya demikian, kalian pasti akan berkata: "Seorang jenius yang sangat luar biasa lagi tak terkalahkan sedang mengatur urusan ini." Atau kalian akan berkata: "Ini adalah penjagaan Ilahi yang penuh inayah." Maka bertarung melawan seorang jenius semacam itu jelas sebuah kesalahan dan sebuah bahaya besar bagi bangsa dan tanah air. Adapun menentang penjagaan Ilahi dan inayah Rabbani semacam itu adalah sikap keras kepala yang berwatak firaun.

Jika kalian berkata: "Kalau engkau kami bebaskan dan tidak kami intai serta tidak kami awasi, engkau dapat mengeruhkan kehidupan bermasyarakat kami dengan pelajaran-pelajaranmu dan rahasia-rahasiamu yang tersembunyi."

Aku pun berkata: Pelajaran-pelajaranku, tanpa kecuali seluruhnya, telah jatuh ke tangan pemerintah dan lembaga peradilan; sehari pun tidak ditemukan satu pasal yang mengharuskan hukuman. Meskipun empat puluh lima puluh ribu naskah risalah dari pelajaran-pelajaran itu beredar di tangan bangsa ini dengan penuh perhatian dan rasa ingin tahu, tidak ada satu bahaya pun yang menimpa siapa pun, melainkan hanya manfaat; dan karena baik mahkamah yang lama maupun mahkamah yang baru tidak dapat menemukan satu pasal pun yang menimbulkan tuntutan pertanggungjawaban, maka yang baru memutuskan pembebasan kami dengan suara bulat, sedangkan yang lama — demi menyenangkan hati seorang pembesar dunia — menjadikan lima sepuluh kata dari seratus tiga puluh risalah sebagai dalih lalu hanya dengan keyakinan hati nurani

dapat menjatuhkan hukuman enam bulan kepada lima belas orang saja dari seratus dua puluh saudaraku yang ditahan — kedua hal itu merupakan hujah yang pasti bahwa gangguan kalian terhadapku dan terhadap Risale-i Nur adalah sebuah kezaliman yang buruk yang lahir dari prasangka kosong. Lagi pula, aku tidak memiliki pelajaran baru dan tidak ada satu rahasiaku pun yang masih tersembunyi, sehingga kalian perlu berusaha meluruskannya dengan pengawasan.

Sekarang aku sangat membutuhkan kebebasanku. Pengintaian yang tidak perlu, tidak adil, dan tidak berguna selama dua puluh tahun ini, cukup sudah! Kesabaranku telah habis. Karena lemahnya usia tua, ada kemungkinan aku mendoakan keburukan, sesuatu yang selama ini tidak pernah kulakukan. "Rintihan orang yang terzalimi naik hingga ke arasy." — ini adalah sebuah hakikat yang kuat.

Kemudian orang-orang celaka yang zalim itu, yang menduduki kedudukan-kedudukan besar menurut ukuran dunia, berkata: "Sudah dua puluh tahun engkau tidak sekali pun mengenakan topi kami di kepalamu; di hadapan mahkamah yang lama maupun yang baru engkau tidak membuka kepalamu, engkau tetap dengan pakaian lamamu. Padahal tujuh belas juta orang telah masuk ke dalam pakaian ini."

Aku pun berkata: "Bukan tujuh belas juta, bahkan tujuh juta pun tidak; yang masuk dengan rida dan menerimanya dari dalam hati hanyalah tujuh ribu orang. Daripada masuk ke dalam pakaian orang-orang mabuk pemuja Eropa dengan jalan rukhsah syar'i dan paksaan undang-undang, aku lebih memilih masuk ke dalam pakaian tujuh miliar insan dengan jalan azimah syar'i dan takwa. Kepada orang sepertiku, yang telah dua puluh lima tahun meninggalkan kehidupan bermasyarakat, tidak boleh dikatakan: 'Ia berkeras kepala, ia menentang kami.' Baiklah, andaikan itu memang kekerasan kepala: selama Mustafa Kemal tidak sanggup mematahkan kekerasan kepala itu, dua mahkamah tidak mematahkannya, dan pemerintah tiga provinsi tidak sanggup merusaknya, kalian ini siapa sehingga dengan sia-sia — dan dengan merugikan bangsa sekaligus pemerintah — kalian bersusah payah hendak mematahkannya! Baiklah, andaikan ia memang penentang dalam politik: selama, dengan pengakuan kalian sendiri, seorang yang telah dua puluh tahun memutus hubungannya dengan dunia dan yang secara maknawi telah dua puluh tahun mati tidak akan hidup kembali lalu masuk ke dalam kehidupan politik untuk berurusan dengan kalian — suatu langkah yang tidak berfaedah lagi sangat merugikan dirinya sendiri — maka dalam keadaan demikian mencurigai perlawanannya adalah perbuatan orang gila. Dan karena berbicara serius dengan orang gila itu sendiri pun perbuatan gila, aku meninggalkan pembicaraan dengan orang-orang seperti kalian. Perbuatlah apa yang hendak kalian perbuat, aku tidak sudi berutang budi!" Perkataanku itu membuat mereka marah sekaligus membungkam mereka. Kata terakhirku: حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ ٭ حَسْبِىَ اللّٰهُ لَٓا اِلٰهَ اِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظ۪يمِ