Dari Kumpulan Risale-i Nur (Risalah Cahaya)
Şuâlar (Sinar-Sinar)
Penulis
Bedîüzzaman
Said Nursî
Sinar Kedua
Buah Terakhir dari Penjara Eskişehir
Sinar Kedua dari Lem'a Ketiga Puluh Satu
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ
Enam belas tahun yang lalu, ketika aku tinggal seorang diri di Penjara Eskişehir setelah teman-temanku dibebaskan, Sinar ini ditulis dengan sangat tergesa-gesa, melalui penaku yang banyak kekurangannya, pada masa yang penuh kesusahan dan gangguan; karena itu, meskipun susunannya agak kurang teratur, ketika memperbaikinya pada hari-hari ini, aku melihatnya sangat berharga, kuat, dan penting dalam perkara iman dan tauhid.
Bedîüzzaman Said Nursî
Butir hikmah agung ketujuh tentang Ismul A'zham ﺍَﻟﻠﻪُ ﺍَﺣَﺪٌ
dan yang ketujuh dari enam butir hikmah tentang enam Ismul A'zham
Peringatan
Risalah ini sangat penting dalam pandanganku. Sebab, di dalamnya tersingkap rahasia-rahasia iman yang sangat penting dan halus. Orang yang membaca risalah ini dengan memahaminya akan menyelamatkan imannya, inşâallah. Sayangnya, karena di sini aku tidak dapat bertemu siapa pun, aku tidak dapat meminta orang menuliskan salinan bersihnya untukku. Jika engkau ingin memahami nilai risalah ini, bacalah dahulu dengan saksama Buah Kedua dan Ketiga pada awalnya, Penutup pada akhirnya, serta persoalan yang terletak dua halaman sebelum Penutup; sesudah itu, kajilah seluruhnya dengan perlahan dan penuh perhatian.
Inilah butir hikmah agung ketujuh tentang "Allahu Ehad", sesudah enam butir hikmah tentang enam Ismul A'zham
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻭَ ﺑِﻪ۪ ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ ﻓَﺎﻋْﻠَﻢْ ﺍَﻧَّﻪُ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ
Ini adalah sebuah butir hikmah tentang tiga buah tauhid yang amat indah, sangat manis, dan sangat lembut, beserta tiga hal yang menuntutnya dan tiga hujahnya, yang kurasakan melalui satu butir hikmah agung dari ayat tersebut serta melalui isyarat dan ilham sebuah sumpah Nabi ﷺ yang terkenal.
Ketika bersumpah, Rasul Yang Paling Mulia ﷺ paling sering menggunakan dan mengulang sumpah yang senantiasa beliau ucapkan ini:
ﻭَﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻧَﻔْﺲُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺑِﻴَﺪِﻩ۪.
Sumpah ini menunjukkan bahwa lingkaran paling luas dari pohon kainat, bahkan ujung, batas terakhir, serta cabang-cabangnya, berada di bawah Kudrat dan Kehendak Zat Yang Wâhid lagi Ahad. Sebab, jika jiwa Muhammad ﷺ, makhluk yang paling terpilih dan paling istimewa, tidak memiliki dirinya sendiri, tidak bebas dalam perbuatannya, dan gerak-geriknya bergantung pada Pilihan yang lain, tentu tidak ada sesuatu, urusan, keadaan, atau sifat—baik yang juz'i (yang sebagian) maupun yang menyeluruh—yang dapat berada di luar lingkaran Pengaturan Kuasa yang meliputi segala sesuatu dan Pilihan yang mencakup semuanya itu.
Ya, yang diungkapkan oleh sumpah Muhammad ﷺ yang sangat sarat makna ini ialah tauhid rububiyah yang amat agung dan meliputi segala sesuatu. Karena seratus, bahkan seribu bukti yang jelas tentang tauhid ini telah diterangkan dalam Risale-i Nur, yang merupakan Siracünnur (Pelita Cahaya), uraian hakikat yang luhur ini beserta bukti-buktinya diserahkan kepadanya. Dalam Sinar Kedua ini, hakikat iman yang sangat penting ini akan dibahas secara singkat dalam tiga bagian. Pada Bagian Pertama, tiga buah menyeluruh dari buah-buahnya yang tak terhingga, yang sangat lembut, manis, berharga, dan bercahaya, akan diterangkan dengan sangat singkat; juga akan diberikan isyarat tentang rasa nikmat dan perasaan yang mengarahkan hatiku kepada buah-buah itu. Dalam Bagian Kedua, tiga hal menyeluruh yang menuntut hakikat suci ini dan tiga sebab yang mengharuskannya akan diterangkan; ketiganya memiliki kekuatan tiga ribu hal yang menuntutnya. Dalam Bagian Ketiga, tiga tanda hakikat tauhid itu akan disebutkan; ketiga tanda tersebut memiliki kekuatan tiga ratus tanda, petunjuk, dan dalil.
BUAH PERTAMA DARI BAGIAN PERTAMA
Dalam tauhid dan ketauhidan tampak Keindahan Ilahi serta Kesempurnaan Rabb. Jika tidak ada ketauhidan, khazanah azali itu akan tetap tersembunyi. Ya, Keindahan dan Kesempurnaan Ilahi yang tak terbatas, segala Keelokan dan Keindahan Rabb yang tak berhingga, anugerah serta Kemegahan Ar-Rahmân yang tak terhitung, dan Kesempurnaan Keindahan Allah سُبْحَانَهُ Yang Shamad yang tidak berujung, hanya terlihat melalui cermin ketauhidan dan dengan perantaraan ketauhidan, dalam manifestasi (pancaran) Asma yang terpusat pada wajah makhluk-makhluk khusus di ujung pohon penciptaan.
Misalnya,
ketika perbuatan juz'i berupa mengirimkan susu yang putih, murni, dan bersih dari tempat yang tidak diduga, yakni dari antara darah dan kotoran, untuk menolong seekor anak yang tidak mempunyai kuasa dan pilihan itu dipandang dengan pandangan tauhid, tiba-tiba Keindahan Rahmat Ar-Rahmân yang tidak akan lenyap terlihat dengan cahaya yang sempurna, melalui pemberian makanan secara menyeluruh dan umum yang sangat luar biasa serta penuh kasih kepada semua anak, dan melalui ditundukkannya induk-induk mereka untuk melayani mereka. Jika tidak dipandang dengan pandangan tauhid, Keindahan itu tersembunyi, dan pemberian makanan yang juz'i itu pun diserahkan kepada sebab-sebab, kebetulan, serta alam; seluruh nilainya, bahkan hakikatnya, menjadi hilang.
Juga, misalnya,
sembuh dari penyakit yang mengerikan: jika hal ini dipandang dengan pandangan tauhid, tiba-tiba Keindahan Kasih serta segala Keelokan Rahmat Sang Rahîm Mutlak terlihat secara menyeluruh dan bersinar, melalui Pemberian kesembuhan kepada semua orang yang menderita di rumah sakit terbesar yang disebut bumi, dengan obat-obat dan penawarnya dari apotek terbesar yang disebut alam. Jika tidak dipandang dengan pandangan tauhid, pemberian kesembuhan yang juz'i itu, meskipun dilakukan dengan Ilmu, Penglihatan, dan Kesadaran, juga diserahkan kepada sifat-sifat obat yang tidak bernyawa, kekuatan yang buta, dan alam yang tidak sadar. Seluruh hakikat, hikmah, dan nilainya menjadi hilang.
Sehubungan dengan bagian ini, aku menerangkan sebuah butir hikmah dari salawat yang terlintas dalam ingatanku. Demikianlah: pada akhir zikir sesudah salat, ada salawat yang sangat lazim dan terkenal di kalangan pengikut mazhab Syafi'i, yaitu
ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠٰﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻝِ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺑِﻌَﺪَﺩِ ﻛُﻞِّ ﺩَﺍﺀٍ ﻭَﺩَﻭَﺍﺀٍ ﻭَﺑَﺎﺭِﻙْ ﻭَﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻛَﺜ۪ﻴﺮًﺍ ﻛَﺜ۪ﻴﺮًﺍ.
Pentingnya salawat ini terletak pada hal berikut: karena hikmah penciptaan manusia dan rahasia sifatnya yang merangkum banyak hal ialah untuk senantiasa, setiap menit, berlindung dan memohon kepada Khâliq-nya, serta memuji dan bersyukur kepada-Nya, maka sebagaimana penyakit merupakan pendorong yang paling tajam dan berpengaruh, yang mencambuk dan mengarahkan manusia menuju hadirat Ilahi, demikian pula nikmat-nikmat yang manis, terutama kesembuhan, obat penawar, dan keadaan sehat, mendorong manusia bersyukur dengan semangat yang sempurna, membuatnya merasa berutang budi sepenuhnya serta memuji-Nya. Karena itu, salawat mulia ini menjadi sangat terhormat dan sarat makna. Kadang-kadang, ketika mengucapkan
ﺑِﻌَﺪَﺩِ ﻛُﻞِّ ﺩَﺍﺀٍ ﻭَ ﺩَﻭَﺍﺀٍ,
aku merasakan bumi sebagai sebuah rumah sakit, serta merasakan Wujud Sang Syâfî Yang Hakiki yang sangat nyata, Kasih-Nya yang menyeluruh, dan Rahmat-Nya yang suci serta luas; Dia menganugerahkan penawar bagi semua derita dan kebutuhan, baik lahir maupun batin.
Juga, misalnya,
jika pemberian hidayah melalui iman kepada seseorang yang merasakan derita batin yang sangat mengerikan akibat kesesatan dipandang dengan pandangan tauhid, tiba-tiba terlihat bahwa orang yang kecil, fana, dan tak berdaya itu menjadi hamba yang diajak berbicara oleh Ma'bûdnya, Sang Khâliq serta Sultan seluruh kainat; melalui iman itu, ia dianugerahi kebahagiaan abadi, sebuah kerajaan kekal yang megah, sangat luas, dan bersinar, serta sebuah dunia yang kekal, dan seluruh mukmin yang lain pun memperoleh bagian dari karunia itu sesuai dengan derajat mereka. Pada wajah dan rupa anugerah yang paling besar ini terlihat Keindahan Azali serta Keindahan yang tidak akan lenyap dari Zat Yang Karîm lagi Muhsin; satu kilau-Nya menjadikan seluruh ahli iman sebagai sahabat-Nya, dan golongan khusus di antara mereka sebagai pencinta-Nya. Jika tidak dipandang dengan pandangan tauhid, iman yang khusus itu diserahkan kepada diri sendiri, seperti yang dilakukan kaum Mu'tazilah yang sewenang-wenang dan hanya memandang dirinya sendiri, atau kepada sebagian sebab; permata Ar-Rahmân yang harga dan nilai sejatinya ialah surga itu turun menjadi pecahan kaca, dan kehilangan kilau Keindahan Suci yang dicerminkannya.
Dengan mengambil ketiga contoh ini sebagai perbandingan, dalam keadaan-keadaan khusus dari makhluk-makhluk khusus di ujung lingkaran kemajemukan, ribuan jenis serta ratusan ribu ragam Keindahan Ilahi dan Kesempurnaan Rabb terlihat, dipahami, diketahui, serta terbukti nyata dari segi terpusatnya pada mereka, melalui tauhid. Karena Keindahan dan Kesempurnaan Ilahi dalam tauhid terlihat oleh hati serta dirasakan oleh ruh, seluruh wali dan orang-orang suci pilihan menemukan kenikmatan yang paling manis serta rezeki rohani yang paling lezat dalam zikir dan pengulangan kalimat tauhid, "Lâ ilahe illallah".
Juga, karena Keagungan Kebesaran-Nya, Jalal Allah سُبْحَانَهُ Yang Mahasuci, serta Kekuasaan Mutlak Rububiyah Allah سُبْحَانَهُ Yang Shamad menjadi nyata dalam kalimat tauhid, Rasul Yang Paling Mulia ﷺ bersabda:
ﺍَﻓْﻀَﻞُ ﻣَﺎ ﻗُﻠْﺖُ ﺍَﻧَﺎ ﻭَﺍﻟﻨَّﺒِﻴُّﻮﻥَ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻠ۪ﻰ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ
Yakni: "Ucapan yang paling utama dan paling berharga dariku serta dari para nabi yang datang sebelumku ialah kalimat 'Lâ ilahe illallah'."
Ya, anugerah, nikmat, atau rezeki yang amat kecil, seperti sebuah buah, sekuntum bunga, atau seberkas cahaya, merupakan cermin yang kecil; tetapi melalui rahasia tauhid, tiba-tiba ia bergandengan dan terhubung dengan semua yang sejenis dengannya, lalu menjadi cermin besar sebesar jenis itu dan menunjukkan salah satu ragam Keindahan Ilahi yang bermanifestasi secara khusus pada jenis tersebut. Melalui keindahan yang fana dan sementara, ia memperlihatkan suatu Keindahan yang kekal selamanya. Seperti yang dikatakan Maulana Jalaluddin, melalui rahasia
ﺍٰﻥْ خَيَالَات۪ى ﻛِﻪ ﺩَﺍﻡِ ﺍَﻭْﻟِﻴَﺎﺳْﺖْ ٭ ﻋَﻜْﺲِ ﻣَﻬْﺮُﻭﻳَﺎﻥِ ﺑُﻮﺳْﺘَﺎﻥِ ﺧُﺪَﺍﺳْﺖْ,
ia menjadi cermin Keindahan Ilahi. Jika tidak ada rahasia tauhid, buah yang khusus itu tinggal sendirian. Ia tidak menunjukkan Keindahan Suci maupun Kesempurnaan Luhur itu. Bahkan kilau yang kecil di dalamnya pun padam dan hilang. Seolah-olah ia terbalik, berubah dari berlian menjadi kaca.
Juga, melalui rahasia tauhid, pada makhluk bernyawa yang merupakan buah pohon penciptaan, tampak suatu Kekhasan Ilahi, Ahadiyah Rabb, wajah rohani Ar-Rahmân melalui tujuh Sifat-Nya, Asma yang terpusat, serta manifestasi yang menampakkan Kejelasan dan Kekhasan Zat yang menjadi tujuan sapaan dalam
ﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﻭَﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ.
Jika tidak demikian, manifestasi Kekhasan, Ahadiyah, wajah rohani, dan Kejelasan itu meluas sebesar kainat, lalu menyebar dan tersembunyi. Ia hanya terlihat oleh mata hati yang sangat besar dan luas jangkauannya. Sebab, Keagungan dan Kebesaran menjadi tirai; tidak setiap hati dapat melihatnya.
Juga, pada makhluk-makhluk bernyawa yang khusus itu dipahami dengan sangat jelas bahwa Sang Pembuatnya melihat, mengetahui, mendengar, dan membuatnya sebagaimana yang Dia Kehendaki. Seolah-olah, di balik kenyataan bahwa makhluk bernyawa itu dibuat, suatu Kekhasan dan Kejelasan rohani Zat Yang Berkuasa, Memilih, Mendengar, Mengetahui, dan Melihat tampak kepada iman. Terutama di balik kenyataan bahwa manusia, di antara makhluk bernyawa, diciptakan, Kekhasan rohani dan Kejelasan Suci itu disaksikan dengan sangat nyata melalui rahasia tauhid dan iman. Sebab, contoh-contoh makna seperti Ilmu, Kudrat, Hayat, Pendengaran, dan Penglihatan, yang menjadi dasar tampaknya Ahadiyah itu, juga ada pada manusia; melalui contoh-contoh itu, ia menunjuk kepada Sifat-Sifat tersebut. Misalnya, Zat yang memberikan mata melihat mata itu dan melihat apa yang dilihatnya—yang merupakan makna yang halus—kemudian memberikannya. Ya, tukang kacamata yang membuatkan kacamata untuk matamu melihat bahwa kacamata itu sesuai dengan mata, kemudian membuatnya. Zat yang memberikan telinga pun tentu mendengar apa yang didengar telinga itu, lalu membuat dan memberikannya. Sifat-sifat yang lain hendaknya diukur dengan hal ini.
Juga, ukiran dan manifestasi Asma ada pada manusia; melalui semuanya itu, ia bersaksi atas Makna-Makna Suci tersebut. Melalui kelemahannya, keadaannya yang tak berdaya, kebutuhannya, dan ketidaktahuannya, manusia juga menjadi cermin dengan cara yang lain; ia kembali bersaksi atas Kudrat, Ilmu, Kehendak, dan Sifat-Sifat lain dari Zat yang mengasihi kelemahan serta kebutuhannya dan memberikan pertolongan. Pada ujung lingkaran kemajemukan serta pada makhluk-makhluk khusus yang paling tersebar, melalui rahasia ketauhidan, seribu satu Asma Ilahi terpusat pada surat-surat kecil yang disebut makhluk bernyawa dan terbaca dengan jelas; karena itu, Sang Pembuat Yang Hakîm memperbanyak salinan makhluk-makhluk bernyawa. Terutama dari golongan makhluk bernyawa yang kecil, Dia memperbanyak salinan mereka dengan banyak cara dan menyebarkannya ke segala penjuru.
Inilah sebuah perasaan yang kualami sebagai kenikmatan batin, yang mengantar dan mengarahkan aku kepada hakikat buah pertama ini. Demikianlah:
Pada suatu masa, karena perasaanku yang sangat lembut, kasih yang besar, serta rasa iba, keadaan makhluk bernyawa, terutama yang mempunyai kesadaran, terlebih lagi manusia, khususnya orang-orang yang dizalimi dan ditimpa musibah, sangat menyentuh perasaan, kasih, dan hatiku. Dalam hati aku berkata, "Sebagaimana hukum-hukum yang tetap seragam dan berkuasa di alam ini tidak mendengarkan derita makhluk-makhluk malang yang lemah serta tak berdaya ini, unsur-unsur dan kejadian-kejadian yang melanda serta tuli pun tidak mendengar. Adakah yang mengasihi keadaan mereka yang kacau ini dan turun tangan dalam urusan mereka masing-masing?" Ruhku berseru dengan sangat dalam. Hatiku pun berseru dengan segenap kekuatannya, "Tidakkah hamba-hamba yang begitu indah, milik-milik yang begitu berharga, serta sahabat-sahabat yang begitu rindu dan merasa berutang budi itu mempunyai Sang Pemilik, Sang Penguasa, dan Sang Sahabat sejati, yang mengurus, menjaga, serta melindungi mereka?"
Jawaban yang memenuhi seruan ruhku dan jeritan hatiku, yang cukup, menenangkan, serta meyakinkan, ialah ini: melalui rahasia tauhid, rahasia Al-Qur'an, dan cahaya iman, aku mengetahui bahwa Zat Dzul-Jalâl Yang Rahmân lagi Rahîm memberikan anugerah khusus dan Pertolongan istimewa, di atas hukum-hukum umum, kepada hamba-hamba milik-Nya yang tercinta, yang menangis dan merintih di bawah tekanan hukum-hukum umum serta serbuan berbagai kejadian; Dia mempunyai Rububiyah khusus yang langsung tertuju kepada setiap sesuatu, Dia sendiri mengatur setiap sesuatu, Dia sendiri mendengarkan derita setiap sesuatu, dan Dia merupakan Pemilik, Penguasa, serta Pelindung sejati dari setiap sesuatu. Sebagai ganti putus asa yang tak terbatas itu, aku merasakan kegembiraan yang tak berhingga.
Setiap makhluk bernyawa pun, karena terikat kepada Sang Mâlik Dzul-Jalâl dan merupakan milik-Nya, memperoleh dalam pandanganku arti penting dan nilai yang ribuan derajat lebih tinggi. Sebab, karena setiap orang bangga dan memperoleh kehormatan melalui kemuliaan tuannya serta kedudukan dan nama besar sosok yang kepadanya ia terikat, tentu, ketika ikatan dan status sebagai milik-Nya itu tersingkap melalui cahaya iman, seekor semut, sebagaimana mengalahkan seorang Firaun dengan kekuatan ikatan itu, juga dapat berbangga dengan kemuliaan ikatan tersebut sebanyak seribu Firaun yang lalai, menganggap dirinya memiliki dirinya sendiri dan bebas tanpa ikatan, serta berbangga atas nenek moyangnya dan kerajaan Mesir, padahal kebanggaannya padam di pintu kubur. Seekor lalat pun dapat menunjukkan kemuliaan ikatannya, berhadapan dengan kebanggaan Namrud yang berubah menjadi azab serta rasa malu pada saat sakaratulmautnya, dan menjadikan kebanggaan Namrud tidak berarti.
Ayat
ﺍِﻥَّ ﺍﻟﺸِّﺮْﻙَ ﻟَﻈُﻠْﻢٌ ﻋَﻈ۪ﻴﻢٌ
menyampaikan dan menunjukkan bahwa dalam syirik terdapat kezaliman yang tak terbatas dan sangat besar. Syirik merupakan kejahatan yang melanggar hak, kemuliaan, serta martabat setiap makhluk. Hanya neraka yang membersihkannya.
BUAH KEDUA TAUHID:
Sebagaimana Buah Pertama menghadap kepada Zat Yang Mahasuci, Sang Khâliq seluruh kainat, Buah Kedua pun menghadap kepada diri kainat dan hakikatnya. Ya, melalui rahasia ketauhidan, kesempurnaan kainat menjadi nyata, tugas-tugas luhur segala yang ada dipahami, hasil penciptaan makhluk-makhluk menjadi pasti, nilai ciptaan-ciptaan diketahui, Tujuan-Tujuan Ilahi di alam ini terwujud, hikmah penciptaan serta rahasia diadakannya makhluk bernyawa dan makhluk sadar tampak; di balik wajah murka dan masam dari badai-badai yang menggempur dengan kedahsyatan, dalam perubahan-perubahan yang mengerikan ini, terlihat wajah Rahmat dan Hikmah yang tersenyum serta indah. Diketahui pula bahwa segala yang ada, yang hilang dalam fana dan lenyap, meninggalkan banyak wujud sebagai ganti dirinya di alam yang disaksikan, seperti hasil-hasilnya, identitasnya, hakikatnya, ruhnya, serta tasbihnya, kemudian pergi.
Diketahui bahwa seluruh kainat adalah kitab Allah سُبْحَانَهُ Yang Shamad yang sangat sarat makna; segala yang ada, dari hamparan bumi hingga arasy, merupakan kumpulan surat Allah سُبْحَانَهُ Yang Mahasuci yang penuh mukjizat luar biasa; seluruh golongan makhluk merupakan pasukan Rabb yang sangat teratur dan megah; seluruh suku ciptaan, dari mikroba dan semut hingga badak, elang, serta planet-planet, merupakan petugas Sang Sultan Azali yang sangat mencintai tugasnya. Setiap sesuatu, karena mencerminkan-Nya dan terikat kepada-Nya, memperoleh nilai yang ribuan derajat lebih tinggi daripada nilainya sendiri; makna pertanyaan-pertanyaan penuh rahasia yang belum terpecahkan, "Dari manakah arus segala yang ada dan kafilah makhluk berasal, ke manakah mereka pergi, untuk apakah mereka datang, dan apakah yang mereka lakukan?", tersingkap kepadanya; semua itu hanya dan semata-mata melalui rahasia tauhid. Jika tidak demikian, kesempurnaan-kesempurnaan luhur kainat yang disebutkan ini akan padam, dan hakikat-hakikat luhur serta sucinya akan berubah menjadi lawannya.
Karena kejahatan syirik dan kufur merupakan pelanggaran terhadap seluruh kesempurnaan kainat, hak-haknya yang luhur, serta hakikat-hakikatnya yang suci, kainat murka kepada orang-orang musyrik dan kafir; langit dan bumi marah, dan unsur-unsur bersatu untuk membinasakan mereka, lalu menenggelamkan dan membenamkan orang-orang musyrik, seperti kaum Nuh aleyhisselâm, 'Ad, Samud, dan Firaun. Melalui rahasia ayat
ﺗَﻜَﺎﺩُ ﺗَﻤَﻴَّﺰُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻐَﻴْﻆِ,
neraka pun begitu murka dan bergelora terhadap orang-orang musyrik serta kafir hingga hampir terpecah. Ya, syirik adalah penghinaan yang besar dan pelanggaran yang agung terhadap kainat. Dengan mengingkari tugas-tugas suci kainat dan hikmah penciptaan, ia merusak kemuliaannya. Sebagai contoh, kami akan menunjuk kepada satu saja dari ribuan contohnya.
Misalnya, melalui rahasia ketauhidan, kainat menjadi seperti malaikat yang sangat besar dan bertubuh; ia mempunyai ratusan ribu kepala sebanyak jenis segala yang ada, pada setiap kepala terdapat ratusan ribu mulut sebanyak individu dalam jenis tersebut, dan pada setiap mulut terdapat ratusan ribu lidah sebanyak perangkat, bagian, organ, serta sel individu itu; dengan menyucikan Sang Pembuatnya melalui semua lidah tersebut, ia bertasbih dan menjadi makhluk menakjubkan yang mempunyai kedudukan luhur dalam ubudiyah, seperti Israfil. Melalui rahasia tauhid, ia juga menjadi ladang yang menghasilkan banyak panen untuk alam-alam dan tempat-tempat akhirat, sebuah pabrik yang menyediakan keperluan berbagai tingkatan negeri kebahagiaan melalui banyak hasilnya, seperti amal manusia, dan sebuah alat fotografi dengan ratusan ribu wajah sinema, yang terus bekerja untuk memperlihatkan pemandangan-pemandangan abadi yang diambil dari dunia kepada para penonton di alam yang kekal, terutama di surga yang paling tinggi; tetapi syirik mengubah malaikat bertubuh yang sangat menakjubkan, sepenuhnya taat, dan hidup ini menjadi kumpulan kacau yang rapuh, tidak bernyawa, tanpa ruh, fana, tanpa tugas, menuju binasa, serta tidak bermakna, yang berguling dalam gelap keadaan tanpa wujud di bawah kekacauan berbagai kejadian dan di tengah badai perubahan. Syirik juga mengubah pabrik yang sangat mengagumkan, sepenuhnya teratur, dan bermanfaat ini menjadi sesuatu yang tanpa hasil, tanpa buah, tanpa kerja, terbengkalai, serta kacau-balau; ia menjadi permainan kebetulan yang tidak sadar, arena bermain alam yang tuli dan kekuatan yang buta, rumah perkabungan bagi semua yang sadar, serta tempat penyembelihan dan kesedihan bagi seluruh makhluk bernyawa. Melalui rahasia
ﺍِﻥَّ ﺍﻟﺸِّﺮْﻙَ ﻟَﻈُﻠْﻢٌ ﻋَﻈ۪ﻴﻢٌ,
meskipun syirik adalah satu keburukan saja, betapa banyak dan besarnya kejahatan yang ditimbulkannya, sehingga ia menjadikan pelakunya layak menerima azab tak terbatas di neraka. Bagaimanapun juga... Karena penjelasan dan hujah Buah Kedua ini telah diterangkan berulang kali dalam Siracünnur, kisah yang panjang itu kami persingkat.
Yang mengarahkan dan mengantarkan aku kepada Buah Kedua ini ialah suatu perasaan yang menakjubkan dan kenikmatan batin yang tidak biasa. Demikianlah:
Pada suatu masa, ketika mengamati musim semi, aku melihat: dalam perjalanan dan arus yang menunjukkan ratusan ribu contoh kebangkitan serta penyebaran terbesar di muka bumi, segala yang ada datang dan pergi beriringan dalam kafilah-kafilah; terutama makhluk bernyawa, terlebih lagi yang kecil, muncul dalam waktu singkat, kemudian segera hilang. Pemandangan-pemandangan kematian dan lenyapnya mereka, dalam kegiatan dahsyat yang terus berlangsung, terlihat sangat menyedihkan bagiku, menyentuh perasaanku dengan kuat, dan membuatku menangis. Ketika melihat kematian hewan-hewan kecil yang indah itu, hatiku terasa sakit. Dengan berkata, "Aduh, sayang sekali! Ah, sayang sekali!", aku merasakan jeritan ruh yang sangat dalam di bawah keluhan-keluhan tersebut. Aku melihat bahwa kehidupan yang berakhir demikian merupakan azab yang lebih buruk daripada kematian. Dalam dunia tumbuhan dan hewan, makhluk-makhluk hidup yang sangat indah, menawan, serta dibuat dengan seni yang amat berharga, membuka mata selama satu menit dan memandang tempat pertunjukan kainat ini, lalu dalam menitnya itu musnah dan pergi.
Ketika mengamati keadaan ini, batinku terasa pedih. Aku ingin menangis dan mengeluh; dengan berkata, "Mengapa mereka datang, kemudian pergi tanpa berhenti sedikit pun?", hatiku mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengerikan kepada perjalanan alam. Ciptaan-ciptaan kecil yang begitu cepat dilenyapkan, tanpa manfaat, tujuan, dan hasil ini, dibuat di hadapan mata kita dengan begitu banyak perhatian, ketelitian, seni, perangkat, pemeliharaan, serta pengaturan, dan dalam keadaan yang berharga; tetapi ketika melihat mereka kemudian dicabik seperti kain buruk yang sama sekali tidak penting dan dilemparkan ke dalam gelap keadaan tanpa wujud, seluruh latifah (daya halus dalam diri manusia) dan perasaanku, yang terpikat kepada kesempurnaan, menggemari keindahan, serta mencintai segala yang berharga, menjerit dan berseru, "Mengapa mereka tidak dikasihani? Tidakkah mereka patut dikasihani? Dari manakah fana dan lenyap dalam perputaran yang memusingkan ini datang, lalu menyerang makhluk-makhluk malang itu?" Saat keberatan-keberatan yang dahsyat terhadap takdir mulai muncul akibat keadaan menyakitkan pada wajah lahir ketentuan hidup, tiba-tiba tauhid datang menolongku melalui cahaya Al-Qur'an, rahasia iman, dan Karunia Ar-Rahmân; ia menerangi gelap itu, mengubah seluruh keluhanku, "Ah!" dan "Aduh!", menjadi ungkapan lega, tangisanku menjadi kegembiraan, serta ucapanku, "Sayang sekali!", menjadi "Mâşâallah, bârekellah". Ia membuatku mengucapkan, "Elhamdülillahi alâ nuri'l-iman".
Sebab, melalui rahasia ketauhidan, aku melihat demikian: setiap makhluk, terutama setiap makhluk bernyawa, mempunyai hasil yang sangat besar serta manfaat umum melalui rahasia tauhid. Di antaranya:
Setiap makhluk bernyawa, misalnya bunga yang berhias ini dan lalat penyuka manisan itu, merupakan sebuah kasidah kecil Ilahi yang begitu sarat makna dan tersusun indah, sehingga makhluk-makhluk sadar yang tak terbatas mengkajinya dengan kenikmatan yang sempurna. Ia merupakan mukjizat Kudrat yang begitu berharga serta pengumuman Hikmah, yang dengan menarik memperlihatkan Seni Sang Pembuatnya kepada para pengagum yang tak berhingga. Tampak dalam Pandangan Sang Fâthir Dzul-Jalâl serta memperoleh bagian dari Pandangan-Nya merupakan hasil penciptaan yang sangat luhur; Dia ingin mengamati Seni-Nya sendiri, menyaksikan Keindahan ciptaan-Nya sendiri, dan memandang Keindahan manifestasi Asma-Nya sendiri dalam cermin-cermin kecil. Khidmahnya dalam lima segi kepada tampaknya Rububiyah serta terlihatnya Kesempurnaan Ilahi, yang menuntut kegiatan tak terbatas di kainat—sebagaimana diterangkan dalam Surat Kedua Puluh Empat—juga merupakan tugas fitrah yang luhur.
Bersamaan dengan memberikan manfaat dan hasil demikian, aku melihat bahwa makhluk itu meninggalkan, sebagai ganti dirinya, di alam yang disaksikan ini, ruhnya jika mempunyai ruh; bentuk serta identitasnya dalam ingatan-ingatan yang tak terbatas dan lembaran-lembaran penjaga yang lain; hukum-hukum hakikatnya serta suatu jenis kehidupan masa depannya dalam benih dan telur-telur kecilnya; dan Kesempurnaan serta Keindahan yang dicerminkannya dalam alam gaib dan lingkaran Asma. Kemudian, melalui kematian lahir yang bermakna pembebasan dari tugas dengan gembira, ia masuk ke balik tirai lenyap, yang hakikatnya hanya tersembunyi dari mata duniawi. Aku pun berkata, "Oh Elhamdülillah!"
Ya, pada seluruh lapisan dan seluruh jenis di kainat, keindahan serta keelokan yang terlihat oleh mata, berakar di segala penjuru, sangat mendasar, amat kuat, tanpa cacat, dan sangat terang ini tentu menunjukkan bahwa keadaan sebelumnya, yang dituntut oleh syirik, yang sangat buruk, kasar, menjijikkan, serta kacau, adalah mustahil dan hanya dibayangkan. Sebab, keburukan yang begitu mengerikan tidak dapat tersembunyi atau berada di bawah tirai keindahan yang begitu mendasar. Jika ada, keindahan yang sejati itu akan menjadi tidak nyata, tanpa dasar, rapuh, dan sekadar khayalan. Jadi, syirik tidak mempunyai hakikat; jalannya tertutup dan terperangkap dalam rawa; ketetapannya mustahil dan tidak mungkin. Karena hakikat iman yang dirasakan dan disebutkan ini telah diterangkan dengan terperinci serta melalui bukti-bukti pasti dalam berbagai risalah Siracünnur, di sini kami cukup memberikan isyarat singkat ini.
BUAH KETIGA:
Menghadap kepada makhluk sadar, terutama manusia. Ya, melalui rahasia ketauhidan, di antara seluruh makhluk, manusia dapat memiliki kesempurnaan yang besar dan menjadi buah kainat yang paling berharga, makhluk yang paling lembut serta paling sempurna, makhluk bernyawa yang paling beruntung serta paling bahagia, dan pihak yang diajak berbicara serta menjadi sahabat Sang Khâliq seluruh alam. Bahkan seluruh kesempurnaan manusia dan seluruh tujuan luhur umat manusia terikat kepada tauhid serta terwujud melalui rahasia ketauhidan. Jika tidak ada ketauhidan, manusia menjadi makhluk yang paling malang, yang paling rendah di antara segala yang ada, yang paling tak berdaya di antara hewan, dan yang paling sedih, tersiksa, serta berduka di antara makhluk sadar.
Sebab, selain mempunyai keadaan tak berdaya yang tak berhingga, musuh yang tak berhingga, keadaan serba membutuhkan yang tak terbatas, serta kebutuhan yang tak terbatas, hakikat manusia dilengkapi begitu banyak perangkat dan perasaan yang beragam, sehingga ia merasakan seratus ribu jenis derita, serta mengecap dan menginginkan kenikmatan dalam ratusan ribu cara. Ia mempunyai tujuan dan keinginan yang tidak dapat dipenuhi oleh sosok yang kekuasaannya tidak menjangkau seluruh kainat sekaligus. Misalnya, pada manusia terdapat keinginan yang sangat kuat untuk kekal. Tujuan manusia ini dapat dipenuhi oleh Zat yang mengatur seluruh kainat seperti sebuah istana, sehingga dengan mudah Dia dapat menutup pintu dunia dan membuka pintu akhirat, seperti menutup pintu sebuah kamar serta membuka pintu tempat tinggal yang lain. Seperti keinginan untuk kekal ini, manusia mempunyai ribuan keinginan untuk menjauhi sesuatu maupun memperolehnya, yang menjangkau masa yang kekal selamanya serta menyebar ke seluruh penjuru alam; Zat yang memenuhi semua itu, lalu mengobati dua luka manusia yang mengerikan, yakni keadaannya yang tak berdaya dan serba membutuhkan, hanyalah Zat Yang Ahad, yang memegang seluruh kainat dalam Genggaman-Nya melalui rahasia ketauhidan.
Manusia juga mempunyai tuntutan-tuntutan yang begitu halus, tersembunyi, dan juz'i bagi keselamatan serta ketenteraman hatinya, serta tujuan-tujuan yang begitu besar, luas, dan menyeluruh, yang menjadi dasar bagi kekalnya ruh dan kebahagiaannya; semua itu dapat dipenuhi oleh Zat yang melihat tirai-tirai hati yang paling halus dan tidak tampak, serta tidak mengabaikannya; Dia mendengar suara-suara yang paling rahasia, yang tidak terdengar dan sangat tersembunyi, serta tidak membiarkannya tanpa jawaban; Dia juga Berkuasa menundukkan langit dan bumi kepada Perintah-Nya seperti dua prajurit yang taat, dan mempekerjakan keduanya untuk khidmah yang menyeluruh.
Seluruh perangkat dan perasaan manusia pun memperoleh nilai yang sangat luhur melalui rahasia ketauhidan, dan jatuh sangat rendah melalui syirik serta kufur. Misalnya, perangkat manusia yang paling berharga ialah akal. Jika disertai rahasia tauhid, akal itu menjadi kunci seperti berlian, yang membuka khazanah-khazanah suci Ilahi serta ribuan perbendaharaan kainat. Jika jatuh ke dalam syirik dan kufur, akal itu menjadi alat musibah yang membawa kesialan serta kegelisahan, yang menumpukkan di atas kepala manusia kesedihan menyakitkan dari masa lalu dan ketakutan mengerikan dari masa depan.
Juga, misalnya, jika kasih, yang merupakan salah satu sifat manusia yang paling lembut dan manis, tidak ditolong oleh rahasia tauhid, kasih itu menjadi kepedihan, perpisahan, rasa iba, serta musibah yang begitu mengerikan, sehingga merendahkan manusia ke tingkat yang paling malang. Seorang ibu yang lalai, yang kehilangan untuk selamanya seorang anaknya yang indah, merasakan kepedihan ini sepenuhnya.
Juga, misalnya, cinta, yang merupakan perasaan manusia yang paling nikmat, manis, serta berharga, jika ditolong oleh rahasia tauhid, membesarkan manusia kecil ini hingga sebesar kainat, memberinya keluasan, dan menjadikannya seorang sultan yang lembut bagi makhluk-makhluk. Jika jatuh ke dalam syirik dan kufur, el-iyazü billah, cinta itu menjadi musibah yang, melalui perpisahan abadi dengan kekasih-kekasihnya yang tak terbatas, yang terus musnah dalam lenyap dan fana, mencabik hati manusia yang malang itu setiap menit. Namun, hiburan-hiburan yang menimbulkan kelalaian, seolah-olah mematikan rasa untuk sementara, membuatnya tidak terasa pada lahirnya.
Jika engkau membandingkan ratusan perangkat dan perasaan manusia dengan ketiga contoh ini, engkau akan memahami seberapa besar ketauhidan dan tauhid menjadi dasar bagi kesempurnaan manusia. Karena Buah Ketiga ini pun telah diterangkan dengan uraian yang sangat indah dan disertai hujah barangkali dalam dua puluh risalah Siracünnur, di sini kami cukup memberikan isyarat singkat.
Perasaan yang mengarahkan serta mengantarkan aku kepada buah ini ialah demikian:
Pada suatu masa, aku berada di puncak gunung yang tinggi. Melalui kesadaran ruh yang menyingkirkan kelalaian, kubur terlihat olehku dalam seluruh maknanya, kematian dalam keadaan tanpa penutup, serta lenyap dan fana melalui pemandangan-pemandangannya yang membuat orang menangis. Seperti setiap orang, cinta fitrah untuk kekal yang ada dalam fitrahku tiba-tiba memberontak terhadap lenyap dan bergejolak. Rasa iba kepada sesama serta kasih kepada jenis manusia dalam hakikatku juga meluap dan memberontak terhadap kubur, berhadapan dengan padam serta musnahnya orang-orang sempurna, para nabi, wali, dan orang-orang suci pilihan yang terkenal, yang sangat kuperhatikan dengan cinta dan penghargaan. Aku memandang ke enam arah dengan memohon pertolongan. Aku tidak melihat penghiburan atau bantuan. Sebab, aku melihat arah masa lalu sebagai kuburan terbesar; masa depan tampak gelap, arah atas tampak mengerikan, sementara dari arah bawah, kanan, dan kiri terlihat keadaan-keadaan menyakitkan serta menyedihkan, dan serbuan hal-hal berbahaya yang tak terbatas.
Tiba-tiba, rahasia tauhid datang menolongku dan membuka tirai. Ia memperlihatkan wajah keadaan yang sebenarnya. "Lihatlah," katanya. Pertama-tama, aku memandang wajah kematian yang sangat menakutkanku. Aku melihat: bagi ahli iman, kematian adalah pembebasan dari tugas;
ajal adalah surat pembebasan dari tugas. Ia merupakan perpindahan tempat, awal serta pintu kehidupan yang kekal, keluar dari penjara dunia, dan terbang menuju kebun-kebun surga. Ia merupakan giliran untuk masuk ke hadirat Ar-Rahmân guna menerima upah khidmah, serta undangan menuju negeri kebahagiaan. Karena aku memahami semua itu dengan pasti, aku mulai mencintai kematian dan wafat.
Kemudian, aku memandang lenyap dan fana, lalu melihat: seperti layar sinema dan gelembung-gelembung yang mengalir menghadap matahari, ia merupakan pergantian dengan yang sejenis, yang memberikan kenikmatan, serta suatu penyegaran. Aku mengetahui dengan yakin bahwa ia merupakan perjalanan dan pergerakan dengan menjalankan tugas, yang datang dari alam gaib menuju alam yang disaksikan untuk memperbarui manifestasi Asmaulhusna yang sangat elok serta indah; ia merupakan tampaknya Keindahan Rububiyah dengan Hikmah, dan segala yang ada menjadi cermin bagi Keindahan yang kekal selamanya.
Kemudian, aku memandang ke enam arah dan melihat: melalui rahasia tauhid, semuanya begitu bercahaya hingga menyilaukan mata. Aku melihat bahwa masa lalu bukan kuburan terbesar, melainkan ribuan pertemuan yang bercahaya, perkumpulan para sahabat, serta ribuan pemandangan bercahaya yang berubah menjadi masa depan. Seperti kedua perkara ini, aku memandang wajah sejati ribuan perkara, dan melihat bahwa semuanya tidak memberikan pengaruh atau keadaan selain kegembiraan serta syukur.
Kenikmatan batin serta perasaanku tentang Buah Ketiga ini telah kuterangkan dengan dalil-dalil juz'i dan menyeluruh barangkali dalam empat puluh risalah Siracünnur. Terutama dalam tiga belas Harapan dari İhtiyarlar Risalesi (Risalah Orang-Orang Tua), yaitu Lem'a Kedua Puluh Enam, hal itu telah dijelaskan dengan begitu pasti dan indah, sehingga tidak ada penjelasan yang lebih tinggi lagi. Karena itu, dalam bagian ini, aku sangat mempersingkat kisah yang panjang tersebut.