Risale-i NurSinar-Sinar

Sinar Kedua

Sinar-Sinar · hlm. 724

ayat ini memandang secara khusus kepada abad ini juga.

Makna ayat yang pertama memperlihatkan bahwa: pada suatu masa ketika orang-orang yang sesat berusaha menyelewengkan ayat-ayat mutasyabihat Al-Qur'an dengan takwil-takwil yang salah serta memperbanyak keraguan, segolongan orang yang memiliki kedalaman ilmu menerangkan takwil-takwil hakiki dari ayat-ayat mutasyabihat Al-Qur'an itu, lalu dengan iman mereka melenyapkan syubhat itu. Makna kulli ini memiliki masadak dan juz'iyat pada setiap abad.

Melalui Perang Dunia, bantahan-bantahan dan waswas Eropa yang selama seribu tahun menumpuk untuk menentang Al-Qur'an menemukan jalan lalu tersebar di dalam alam Islam. Sebagian syubhat itu mengenakan bentuk ilmiah lalu tampil ke tengah. Karena yang terlihat berada paling depan dalam menolak syubhat dan bantahan ini pada zaman ini ialah Risalei'n-Nur beserta murid-muridnya, dan karena ayat ini memandang kepada abad ini juga, maka di samping memandang secara ramzi kepada Risalei'n-Nur dan murid-muridnya, menurut mazhab ulama mutaakhirin tidak dilakukan waqaf pada اِلَّا اللّٰهُ. Dalam keadaan demikian, kedudukan jifirnya persis seperti kedudukan اِنَّ الْاِنْسَانَ لَيَطْغٰى, yaitu seribu tiga ratus empat puluh empat (1344); maka dengan tawafuk yang tepat sekali dengan tarikh ketika Resaili'n-Nur dan murid-muridnya terjun ke medan perjuangan maknawi, ia memasukkan mereka pula ke dalam lingkungan sucinya.

Lagi pula, dengan tawafuk yang tepat sekali ia memandang kepada tarikh tersebarnya Kelimat Kesepuluh yang merupakan burhan kebangkitan (hasyr) yang paling kuat lagi paling gemilang, kepada masa termasyhurnya Kelimat Kedua Puluh Lima yang menerangkan bahwa Al-Qur'an merupakan mukjizat dari empat puluh segi, dan juga kepada bilangan اِنَّ الْاِنْسَانَ لَيَطْغٰى.

Jika dilakukan waqaf pada اِلَّا اللّٰهُ seperti mazhab salaf, dan dalam keadaan demikian ر bertasydid pada اَلرَّاسِخُونَ dihitung dua ر, maka jumlahnya seribu tiga ratus enam puluh (1360) lebih; maka sebagaimana ia memandang secara ramzi kepada ilmu dan iman murid-murid Risaletü'n-Nur — yang mendalam lagi menyelidiki hakikat — lima belas dua puluh tahun setelah masa ini, demikian pula jika ر bertasydid menurut asalnya dihitung satu "lam" dan satu ر, maka jumlahnya seribu dua ratus dua belas (1212); lalu dengan tawafuk yang tepat sekali ia memandang kepada tarikh masa ketika Maulana Khalid Dzul-Janâhain, satu setengah abad sebelum ini, dengan kedalaman ilmu hakikat yang gemilang yang dibawanya dari India, mencerai-beraikan takwil-takwil yang rusak dan syubhat yang merajalela pada masa itu, lalu di dalam seratus tahun memasukkan lebih dari lima puluh juta manusia ke dalam lingkaran bimbingannya dan meneranginya.

Ayat kedua, yaitu اَلرَّاسِخُونَ فِى الْعِلْمِ مِنْهُمْ: dengan memandang bahwa ر bertasydid menurut asalnya dihitung satu "lam" dan satu ر, kedudukan abjadnya berjumlah seribu tiga ratus empat puluh empat (1344); maka sebagaimana ia memandang kepada setiap abad, demikian pula ia memandang secara ramzi dan khusus kepada abad ini. Dan ia mengisyaratkan kepada segolongan orang yang bekerja secara mendalam di dalam ilmu hakikat serta beriman dengan kuat. Dan pada tahun seribu tiga ratus empat puluh empat yang diperlihatkan dengan penuh perhatian oleh banyak ayat ini, pihak yang lebih daripada Risaletü'n-Nur dan murid-muridnya dalam

menunaikan tugas ini secara teguh di dalam syarat-syarat yang sulit tidak terlihat secara lahiriah. Jadi, ayat ini memasukkan mereka pula secara khusus ke dalam lingkungan sucinya.