Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Surat Kedua Puluh Empat

Surat-Surat · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

Surat Kedua Puluh Empat

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻳَﻔْﻌَﻞُ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻣَﺎ ﻳَﺸَٓﺎﺀُ ٭ ﻭَ ﻳَﺤْﻜُﻢُ ﻣَﺎ ﻳُﺮ۪ﻳﺪُ

Pertanyaan:

Bagaimana pemeliharaan penuh kasih, pengurusan yang membawa manfaat, serta anugerah penuh cinta yang dituntut oleh Ar-Rahîm, Al-Hakîm, dan Al-Wadûd, di antara Asma Allah سُبْحَانَهُ yang paling agung, dapat disesuaikan dengan kematian dan menjadi tidak ada, sirna dan perpisahan, musibah dan kesulitan yang dahsyat serta menakutkan? Baiklah, karena manusia pergi menuju kebahagiaan abadi, kita pandang baik ia melewati jalan kematian. Namun, kasih serta belas kasih mana yang terdapat, Hikmah serta manfaat mana yang ditemukan, karunia serta belas kasih mana yang dapat berada dalam keadaan jenis-jenis pohon dan tumbuhan beserta bunganya yang halus, lembut, dan hidup, serta kelompok-kelompok hewan yang layak ada, mencintai kehidupan, dan merindukan hidup kekal, terus dimusnahkan tanpa menyisakan satu pun; dilenyapkan dengan amat cepat tanpa membiarkan mereka membuka mata; dibuat bekerja dengan susah payah tanpa membiarkan mereka bernapas; diubah melalui musibah tanpa membiarkan satu pun tenteram; dimatikan tanpa mengecualikan satu pun; sirna tanpa satu pun tetap; serta berpisah tanpa satu pun puas?

Jawaban:

Melalui lima petunjuk tersirat yang menunjukkan pendorong serta tuntutan, dan lima isyarat yang menunjukkan tujuan serta manfaat, kami akan berusaha membuat orang memandang dari jauh hakikat agung yang amat luas, amat mendalam, serta amat tinggi, yang memecahkan pertanyaan ini.

BAGIAN PERTAMA

Lima petunjuk tersirat.

PETUNJUK TERSIRAT PERTAMA

Sebagaimana dikatakan dalam penutup-penutup Kalimat Kedua Puluh Enam, seorang pembuat yang cakap menjadikan orang malang sebagai model dengan upah yang sesuai baginya, untuk membuat pakaian berharga yang dihiasi permata serta ukiran. Untuk menunjukkan karya serta kecakapannya sendiri, ia mengukur, memotong, memendekkan, serta memanjangkan pakaian itu di atas orang malang tersebut; juga menyuruhnya duduk, bangkit, serta mengambil beragam sikap. Apakah orang malang itu mempunyai hak apa pun untuk berkata kepada pembuat tersebut, "Mengapa engkau mengusik, mengganti, serta mengubah pakaian yang memperindahku ini, dan mengganggu istirahatku dengan menyuruhku bangkit serta duduk dengan susah payah?"

Demikian pula, Sang Pembuat Dzul-Jalâl menjadikan hakikat setiap jenis makhluk sebagai model. Untuk menunjukkan Kesempurnaan karya⁠-⁠Nya melalui ukiran Asma⁠-⁠Nya, Dia mengenakan kepada setiap sesuatu, terutama makhluk hidup, pakaian wujud yang dihiasi indra, lalu membuat ukiran di atasnya dengan pena Qada dan Takdir serta menunjukkan manifestasi Asma⁠-⁠Nya. Kepada setiap makhluk, Dia juga memberikan kesempurnaan, kenikmatan, serta limpahan sebagai upah dengan cara yang sesuai baginya. Adakah sesuatu mempunyai hak untuk berkata kepada Sang Pembuat Dzul-Jalâl yang mempunyai rahasia

ﻣَﺎﻟِﻚُ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚِ ﻳَﺘَﺼَﺮَّﻑُ ﻓ۪ﻰ ﻣُﻠْﻜِﻪ۪ ﻛَﻴْﻒَ ﻳَﺸَٓﺎﺀُ,

"Engkau membuatku susah, mengganggu istirahatku"? Hâşâ!

Ya, makhluk tidak mempunyai hak terhadap Wâjibul Wujûd dari segi apa pun dan tidak dapat menuntut hak. Justru hak mereka ialah menunaikan hak tingkatan-tingkatan wujud yang diberikan⁠-⁠Nya dengan senantiasa bersyukur serta memuji. Sebab, seluruh tingkatan wujud yang diberikan adalah kenyataan yang terjadi; masing-masing memerlukan sebab. Namun, tingkatan yang tidak diberikan adalah kemungkinan. Kemungkinan berarti belum ada, serta tiada batas. Yang tidak ada tidak memerlukan sebab. Tidak dapat ada sebab bagi yang tiada batas.

Misalnya, mineral tidak dapat berkata, "Mengapa kami tidak menjadi tumbuhan?" Mereka tidak dapat mengeluh. Justru karena memperoleh wujud mineral, kewajiban mereka adalah bersyukur kepada Sang Fâthir-nya. Tumbuhan tidak dapat mengeluh dengan berkata, "Mengapa aku tidak menjadi hewan?" Justru karena memperoleh kehidupan bersama wujud, kewajibannya adalah bersyukur. Hewan pun tidak dapat mengeluh dengan berkata, "Mengapa aku tidak menjadi manusia?" Justru karena diberi permata ruh yang berharga bersama kehidupan serta wujud, kewajibannya adalah bersyukur. Dan bandingkanlah seterusnya demikian.

Wahai manusia yang mengeluh! Engkau tidak dibiarkan tidak ada; engkau mengenakan nikmat wujud, merasakan kehidupan, tidak tetap tanpa kehidupan, tidak menjadi hewan, menemukan nikmat Islam, tidak tetap dalam kesesatan, serta melihat nikmat sehat dan selamat, dan demikian seterusnya...

Wahai orang yang tidak bersyukur! Dari mana lagi engkau memperoleh hak sehingga, tanpa bersyukur sebagai balasan bagi tingkatan-tingkatan wujud yang Allah سُبْحَانَهُ berikan kepadamu sebagai nikmat semata, engkau mengeluhkan Allah سُبْحَانَهُ serta tidak mensyukuri nikmat dengan keinginan batil karena nikmat tinggi yang berupa kemungkinan dan belum ada, yang belum engkau peroleh serta tidak engkau layak terima, tidak diberikan kepadamu? Seandainya seseorang naik ke tingkatan tinggi seperti puncak menara, memperoleh kedudukan besar, serta melihat nikmat besar pada setiap anak tangga, tetapi tidak bersyukur kepada pemberi nikmat itu dan berkata, "Mengapa aku tidak dapat naik lebih tinggi daripada menara itu?" lalu mengeluh, menangis, serta meratap, bahkan orang yang kehilangan akal pun memahami betapa ia berlaku tidak adil, tidak mensyukuri nikmat, dan melakukan kebodohan besar.

Wahai manusia lalai yang tidak berkanaah dan rakus, tidak berhemat dan boros, serta mengeluh tanpa hak! Ketahuilah dengan pasti bahwa kanaah adalah syukur yang menghasilkan keuntungan; keserakahan adalah kufur nikmat yang membawa kerugian. Hemat adalah hormat yang baik serta bermanfaat terhadap nikmat. Boros adalah sikap meremehkan nikmat yang buruk serta merugikan. Jika engkau berakal, biasakanlah kanaah dan berusahalah rida. Jika tidak mampu menanggung, katakan "Yâ Sabûr!" dan mintalah sabar; ridalah terhadap bagianmu, jangan mengeluh. Ketahuilah siapa yang engkau keluhkan kepada siapa, lalu diamlah. Jika tetap ingin mengeluh, keluhkan dirimu sendiri kepada Allah سُبْحَانَهُ, sebab kekurangan terdapat padanya.

PETUNJUK TERSIRAT KEDUA

Sebagaimana dikatakan pada akhir persoalan terakhir Surat Kedelapan Belas, salah satu Hikmah Sang Khâliq Dzul-Jalâl terus mengganti serta memperbarui makhluk melalui Kegiatan⁠-⁠Nya dalam memelihara dan menguasai segala sesuatu, dengan cara yang menimbulkan rasa takjub serta gentar, ialah:

Sebagaimana kegiatan serta gerak pada makhluk berasal dari selera, rasa rindu, kenikmatan, serta cinta, bahkan dapat dikatakan bahwa dalam setiap kegiatan ada sejenis kenikmatan, bahkan setiap kegiatan merupakan sejenis kenikmatan. Kenikmatan juga mengarah kepada kesempurnaan, bahkan merupakan sejenis kesempurnaan.

Karena kegiatan menunjukkan kesempurnaan, kenikmatan, serta keindahan, dan karena Wâjibul Wujûd, Kesempurnaan Mutlak serta Dia Yang Sempurna Dzul-Jalâl, mencakup segala jenis Kesempurnaan dalam Zat, Sifat, dan Tindakan⁠-⁠Nya, tentu Dia mempunyai Kasih Suci yang tak terhitung serta Cinta Murni yang tiada batas. Semua itu sesuai dengan cara yang layak bagi Zat Wâjibul Wujûd yang wajib ada dan suci, sesuai dengan Diri⁠-⁠Nya yang tidak membutuhkan apa pun serta Kekayaan mutlak⁠-⁠Nya, dan sesuai dengan Kesempurnaan mutlak serta Zat⁠-⁠Nya yang suci. Tentu ada Semangat Suci tak terhitung yang berasal dari Kasih Suci serta Cinta Murni itu. Ada pula Kegembiraan Suci tak terhitung yang berasal dari Semangat Suci tersebut. Dari Kegembiraan Suci itu juga ada—jika ungkapan ini diperbolehkan—Kenikmatan Suci yang tak terhitung.

Bersama Kenikmatan Suci itu, melalui Belas Kasih⁠-⁠Nya yang tak terhitung, dalam kegiatan Kudrat⁠-⁠Nya, kemampuan makhluk-makhluk⁠-⁠Nya keluar dari yang tersimpan menuju yang nyata serta mencapai sempurna. Dari rasa puas serta kesempurnaan makhluk itu timbul—jika ungkapan ini diperbolehkan—Rasa Puas Suci dan Rasa Bangga Suci yang tak terhitung, milik Zat Yang Rahmân serta Rahîm, yang menuntut kegiatan tak terhitung dengan cara tak terhitung. Kegiatan tak terhitung itu menuntut pergantian, perubahan, peralihan, serta perusakan tak terhitung. Perubahan serta pergantian tak terhitung itu juga menuntut kematian serta menjadi tidak ada, sirna serta perpisahan.

Pada suatu waktu, manfaat-manfaat yang ditunjukkan ilmu filsafat manusia mengenai tujuan karya-karya tampak amat remeh dalam pandanganku. Dari itu aku mengetahui bahwa ilmu filsafat tersebut menuju kesia-siaan. Karena itulah, para filsuf yang melangkah jauh jatuh dalam kesesatan alam, atau menjadi sofis, atau mengingkari Pilihan serta Ilmu Sang Pembuat, atau menyebut Sang Khâliq "Zat yang mencipta karena keniscayaan hakikat⁠-⁠Nya sendiri".

Ketika itu, Rahmat Ilahi mengirim Nama Al-Hakîm untuk membantuku dan menunjukkan kepadaku tujuan-tujuan besar karya-karya. Yakni, setiap karya merupakan surat dari Rabb yang dipelajari oleh seluruh makhluk yang sadar. Tujuan ini mencukupiku selama satu tahun.

Kemudian keajaiban-keajaiban dalam karya terbuka, dan tujuan itu mulai tidak mencukupi. Tujuan lain yang jauh lebih besar diperlihatkan. Aku mengetahui bahwa tujuan-tujuan terpenting setiap karya mengarah kepada Sang Pembuat-nya: menyampaikan Kesempurnaan karya⁠-⁠Nya, ukiran Asma⁠-⁠Nya, hiasan permata Hikmah⁠-⁠Nya, serta hadiah Rahmat⁠-⁠Nya kepada pandangan⁠-⁠Nya, dan menjadi cermin Keindahan serta Kesempurnaan⁠-⁠Nya. Tujuan ini mencukupiku cukup lama.

Kemudian, dalam kegiatan yang menimbulkan rasa takjub pada karya serta penciptaan benda, dalam perubahan dan pergantian yang amat cepat, mukjizat Kudrat serta urusan⁠-⁠Nya dalam memelihara dan menguasai segala sesuatu tampak. Ketika itu, tujuan ini pun mulai tidak mencukupi. Aku mengetahui bahwa pendorong serta tuntutan sebesar tujuan tersebut juga diperlukan.

Ketika itu, tuntutan-tuntutan dalam Petunjuk Tersirat Kedua ini serta tujuan-tujuan dalam isyarat-isyarat berikut diperlihatkan. Aku diberi tahu dengan yakin bahwa "Kegiatan Kudrat serta perjalanan dan aliran benda-benda dalam kainat begitu bermakna sehingga melalui kegiatan itu, Sang Pembuat Yang Hakîm membuat jenis-jenis kainat berbicara." Seakan-akan makhluk yang bergerak di langit dan bumi serta gerak mereka merupakan kata-kata dalam percakapan mereka, dan bergerak merupakan suatu percakapan.

Jadi, gerak serta sirna yang berasal dari kegiatan merupakan perkataan-perkataan tasbih. Kegiatan dalam kainat pun adalah cara kainat serta jenis-jenisnya berbicara dan dibuat berbicara tanpa suara.

PETUNJUK TERSIRAT KETIGA

Benda-benda tidak menuju sirna serta tidak ada; justru mereka beralih dari lingkup Kudrat ke lingkup Ilmu, pergi dari alam yang disaksikan ke alam gaib, dan mengarah dari alam perubahan serta musnah ke alam cahaya serta hidup kekal. Dari segi hakikat, keindahan serta kesempurnaan dalam benda-benda adalah milik Asma Allah سُبْحَانَهُ, dan merupakan ukiran serta manifestasinya. Karena Asma itu kekal serta manifestasinya terus berlangsung, tentu ukirannya diperbarui, disegarkan, serta diperindah. Mereka tidak menuju tidak ada serta musnah; hanya ciri-ciri khusus mereka yang bersifat relatif berubah. Hakikat, sifat dasar, serta jati diri mereka dalam bentuk gambaran, yang menjadi landasan keelokan dan keindahan, serta tempat limpahan dan kesempurnaan, tetap kekal.

Pada yang tidak berjiwa, keelokan serta keindahan dalam mereka langsung milik Asma Allah سُبْحَانَهُ. Kemuliaan bagi Asma itu, pujian tercatat bagi Asma itu, keindahan milik Asma itu, dan cinta mengarah kepada Asma itu. Pergantian cermin-cermin itu tidak merugikan Asma tersebut.

Jika mereka berjiwa tetapi tidak termasuk makhluk berakal, sirna serta perpisahan mereka bukan menjadi tidak ada dan musnah. Justru mereka terbebas dari wujud jasmani serta kegaduhan tugas kehidupan, lalu menyerahkan buah-buah tugas yang diperoleh kepada ruh-ruh mereka yang kekal. Ruh-ruh kekal tersebut juga terus berlangsung dengan bersandar pada masing-masing Asma Allah سُبْحَانَهُ, bahkan pergi menuju kebahagiaan yang sesuai bagi dirinya.

Jika makhluk-makhluk berjiwa itu berakal, perjalanan mereka memang menuju alam yang kekal, landasan kebahagiaan abadi serta kesempurnaan jasmani dan rohani, serta menuju kediaman lain dan negeri lain Sang Pembuat Yang Hakîm, seperti alam barzakh, alam rupa, dan alam ruh, yang lebih indah serta lebih bercahaya daripada dunia. Itu merupakan perjalanan, bukan kematian, menjadi tidak ada, sirna, ataupun perpisahan; justru mencapai kesempurnaan.

Kesimpulannya:

Karena Sang Pembuat Dzul-Jalâl ada serta kekal, dan Sifat serta Asma⁠-⁠Nya terus ada selamanya, tentu manifestasi dan ukiran Asma itu diperbarui dalam wujud yang kekal secara rohani. Mereka bukan rusak serta musnah, lenyap serta sirna. Diketahui bahwa dari segi kemanusiaannya, manusia berkaitan dengan kebanyakan makhluk. Ia menikmati kebahagiaan mereka dan menderita karena kehancuran mereka. Terutama makhluk hidup, khususnya umat manusia, dan lebih khusus lagi orang-orang sempurna yang dicintai serta dikaguminya: Ia lebih menderita karena kepedihan mereka serta lebih bahagia karena kebahagiaan mereka. Bahkan, seperti ibu yang penuh kasih, ia mengorbankan kebahagiaan serta ketenteramannya sendiri demi kebahagiaan mereka.

Setiap mukmin, sesuai derajatnya, melalui cahaya Al-Qur'an serta rahasia iman dapat berbahagia karena seluruh makhluk bahagia, tetap kekal, selamat dari menjadi nihil, serta menjadi surat-surat berharga dari Rabb. Ia dapat memperoleh cahaya sebesar dunia. Setiap orang mengambil manfaat dari cahaya ini sesuai derajatnya. Jika ia orang sesat, bersama kepedihannya sendiri, ia menderita karena seluruh makhluk hancur, musnah, serta secara lahiriah lenyap; jika makhluk itu berjiwa, ia menderita karena kepedihan mereka. Yakni, kufurnya mengisi dunianya dengan tidak ada dan menumpahkannya ke atas kepalanya; sebelum pergi ke neraka, ia sudah menuju neraka.

PETUNJUK TERSIRAT KEEMPAT

Sebagaimana kami katakan di banyak tempat, seorang padisyah mempunyai lingkup pengaturan yang berbeda-beda, yang timbul dari beragam gelar serta sifat, seperti sultan, khalifah, hakim, dan panglima. Demikian pula, Asma Allah سُبْحَانَهُ Yang Indah mempunyai beragam tajalli yang tak terhitung. Beraneka serta berbedanya makhluk berasal dari beraneka tajalli tersebut.

Menurut rahasia bahwa setiap pemilik kesempurnaan serta keindahan secara fitrah ingin melihat dan memperlihatkan keindahan serta kesempurnaannya, Asma yang berbeda itu pun, karena tetap ada selamanya, menghendaki agar senantiasa tampak demi Zat Yang Mahasuci. Yakni, mereka ingin melihat ukirannya; ingin melihat serta memperlihatkan manifestasi Keindahan dan pantulan Kesempurnaan Asma itu dalam cermin ukiran masing-masing; ingin memperbarui kitab besar kainat serta surat-surat beragam makhluk dari saat ke saat, yakni menulisnya kembali dengan penuh makna, yakni menulis ribuan surat berbeda pada satu lembaran. Mereka menuntut setiap surat ditampakkan kepada pandangan yang menyaksikan dari Zat Yang Suci, Pemilik Asma Yang Mahasuci, sekaligus diperlihatkan kepada pandangan seluruh makhluk yang sadar untuk dipelajari serta dibaca. Pandanglah syair penuh hakikat yang mengisyaratkan hakikat ini:

Lembaran kitab alam ialah jenis-jenis yang tak terhitung. Huruf serta katanya pun individu-individu yang tiada batas. Ditulis pada tempat kerja hakikat Lauh Mahfuz, Setiap makhluk dalam alam adalah lafal bermakna yang bertubuh.

ﺗَﺎَﻣَّﻞْ ﺳُﻄُﻮﺭَ ﺍﻟْﻜَﺎﺋِﻨَﺎﺕِ ﻓَﺎِﻧَّﻬَﺎ ﻣِﻦَ الْمَلَاِ الْاَعْلٰى ﺍِﻟَﻴْﻚَ ﺭَﺳَﺎﺋِﻞُ

PETUNJUK TERSIRAT KELIMA

Dua butir hikmah.

Butir Hikmah Pertama:

Karena Allah سُبْحَانَهُ ada, segala sesuatu ada. Karena ada hubungan kepada Wâjibul Wujûd, seluruh benda ada bagi setiap sesuatu. Sebab, melalui hubungan kepada Wâjibul Wujûd, setiap makhluk memperoleh ikatan kepada seluruh makhluk melalui rahasia kesatuan. Jadi, setiap makhluk yang mengetahui hubungannya kepada Wâjibul Wujûd, atau yang hubungannya diketahui, melalui rahasia kesatuan berkaitan dengan seluruh makhluk yang terhubung kepada Wâjibul Wujûd. Jadi, pada segi hubungan itu, setiap sesuatu dapat memperoleh cahaya-cahaya wujud yang tak terhitung. Perpisahan serta sirna tidak ada pada segi tersebut. Hidup selama satu saat yang berlalu menjadi sarana cahaya-cahaya wujud yang tak terhitung.

Jika hubungan itu tidak ada serta tidak diketahui, ia mengalami perpisahan, sirna, serta menjadi tidak ada yang tak terhitung. Sebab, dalam keadaan itu, terhadap setiap makhluk yang dapat berkaitan dengannya, ada perpisahan, putus hubungan, serta sirna. Jadi, keadaan tidak ada serta perpisahan tak terhitung dibebankan kepada wujud pribadinya. Sekalipun tetap ada selama satu juta tahun, tanpa hubungan itu ia tidak dapat menyamai hidup satu saat dengan hubungan tersebut pada segi sebelumnya. Karena itu, ahli hakikat berkata, "Satu saat yang berlalu dengan wujud bercahaya lebih utama daripada sejuta tahun wujud yang terputus." Yakni, wujud satu saat yang terhubung kepada Wujud Yang Wajib Ada lebih utama daripada sejuta tahun wujud tanpa hubungan. Karena rahasia ini pula, pengkaji yang saksama berkata, "Cahaya-cahaya wujud adalah dengan mengenal Wâjibul Wujûd." Yakni, dalam keadaan itu, kainat terlihat penuh malaikat, ruh-ruh, serta makhluk yang sadar, dalam cahaya-cahaya wujud. Jika tanpa Dia, gelap karena tidak ada, serta pedih perpisahan dan sirna meliputi setiap makhluk. Dalam pandangan orang tersebut, dunia tampak sebagai tempat menakutkan yang kosong serta sepi.

Ya, sebagaimana setiap buah suatu pohon mempunyai hubungan kepada seluruh buah pada puncak pohon itu. Melalui hubungan tersebut, karena ada saudara serta kawannya, ia mempunyai wujud yang diperoleh dari hubungan itu sebanyak jumlah mereka. Ketika buah itu dipetik dari pohon, timbul perpisahan serta sirna terhadap setiap buah lain. Setiap buah lain baginya seperti tidak ada. Ia mengalami gelap karena tidak ada di luar dirinya.

Demikian pula, pada segi hubungan kepada Kudrat Dia Yang Ahad lagi Shamad, seluruh benda ada bagi setiap sesuatu. Jika tidak ada hubungan, bagi setiap sesuatu ada keadaan tidak ada di luar dirinya sebanyak jumlah benda.

Dari petunjuk tersirat ini, pandanglah keagungan cahaya iman serta lihatlah gelapnya kesesatan yang dahsyat. Jadi, iman adalah sebutan hakikat luhur yang benar-benar nyata, yang dijelaskan dalam petunjuk tersirat ini; melalui iman orang dapat mengambil manfaat darinya. Jika tidak ada iman, sebagaimana segala sesuatu tidak ada bagi orang buta, tuli, bisu, serta tidak berakal, demikian pula segala sesuatu tidak ada dan gelap bagi orang tanpa iman.

Butir Hikmah Kedua:

Dunia serta benda-benda mempunyai tiga wajah.

Wajah Pertama:

Mengarah kepada Asma Allah سُبْحَانَهُ serta menjadi cerminnya. Sirna, perpisahan, serta menjadi tidak ada tidak dapat masuk ke wajah ini; justru ada penyegaran serta pembaruan.

Wajah Kedua:

Mengarah kepada akhirat, memandang alam yang kekal, serta menjadi ladangnya. Pada wajah ini ada upaya menghasilkan buah serta hasil yang kekal; ia melayani hidup kekal serta menjadikan hal-hal fana seperti kekal. Pada wajah ini pun ada manifestasi kehidupan serta hidup kekal, bukan kematian dan sirna.

Wajah Ketiga:

Mengarah kepada yang fana, yakni kita. Ia merupakan kekasih makhluk fana serta orang yang mengikuti keinginan, tempat berniaga makhluk yang sadar, serta lapangan ujian bagi mereka yang bertugas. Sebagai salep bagi kepedihan dan luka akibat musnah serta sirna, kematian serta menjadi tidak ada pada wajah ketiga ini, di sisi dalam wajah tersebut ada manifestasi hidup kekal serta kehidupan.

Kesimpulannya:

Makhluk-makhluk yang mengalir serta ciptaan-ciptaan yang bergerak ini merupakan cermin bergerak dan tempat tajalli yang berubah, untuk memperbarui cahaya Penciptaan serta Wujud dari Wâjibul Wujûd.

BAGIAN KEDUA

Satu pendahuluan serta lima isyarat.

PENDAHULUAN

Dua pembahasan.

Pembahasan Pertama:

Dalam lima isyarat berikut akan ditulis satu perumpamaan bagi masing-masing, seperti teropong kecil yang redup untuk mengamati urusan-urusan Allah سُبْحَانَهُ dalam memelihara dan menguasai segala sesuatu. Perumpamaan-perumpamaan ini tidak dapat menangkap atau meliputi hakikat urusan tersebut, serta tidak dapat menjadi ukurannya, tetapi dapat membuat orang memandangnya. Dalam perumpamaan berikut serta petunjuk-petunjuk tersirat sebelumnya, ungkapan yang tidak sesuai dengan urusan Zat Yang Mahasuci berasal dari kekurangan perumpamaan.

Misalnya, makna kenikmatan, kegembiraan, serta rasa puas yang kita ketahui tidak dapat mengungkapkan urusan-urusan suci itu, tetapi masing-masing merupakan sebutan untuk direnungkan serta tempat mengamati dalam berpikir. Perumpamaan-perumpamaan ini juga, dengan menunjukkan ujung suatu hukum pemeliharaan serta penguasaan Allah سُبْحَانَهُ yang menyeluruh dan agung melalui contoh kecil, meneguhkan hakikat hukum itu dalam urusan⁠-⁠Nya. Misalnya, dikatakan bahwa satu bunga meninggalkan wujud setelah meninggalkan ribuan wujud. Dengan itu ditunjukkan suatu hukum agung pemeliharaan serta penguasaan Allah سُبْحَانَهُ yang berlaku pada seluruh makhluk musim semi, bahkan seluruh dunia.

Ya, melalui hukum yang digunakan Sang Khâliq Yang Rahîm untuk mengganti serta memperbarui pakaian berbulu seekor burung, Sang Pembuat Yang Hakîm memperbarui pakaian bola bumi setiap tahun. Melalui hukum yang sama, Dia juga mengganti bentuk dunia pada setiap abad. Melalui hukum yang sama, pada saat kiamat Dia mengubah serta mengganti rupa kainat.

Melalui hukum yang digunakan⁠-⁠Nya untuk menggerakkan zarah seperti seorang Mevlevi, Dia juga memutar bola bumi seperti seorang Mevlevi yang terhanyut serta bangkit menari. Melalui hukum itu, Dia memutar alam-alam seperti ini serta menjalankan tata surya.

Melalui hukum yang digunakan⁠-⁠Nya untuk memperbarui, memperbaiki, serta menguraikan zarah-zarah sel dalam tubuhmu, Dia juga memperbarui kebunmu setiap tahun serta menyegarkannya berkali-kali pada setiap musim. Melalui hukum yang sama, Dia memperbarui muka bumi pada setiap musim semi serta menarik kerudung segar di atasnya.

Melalui hukum Hikmah yang digunakan Sang Pembuat Yang Qadîr untuk menghidupkan seekor lalat, Dia juga menghidupkan pohon platanus di hadapan kita pada setiap musim semi. Melalui hukum itu, Dia juga menghidupkan bola bumi pada musim semi tersebut, dan melalui hukum yang sama menghidupkan makhluk dalam kebangkitan. Untuk mengisyaratkan rahasia ini, Al-Qur'an berfirman

ﻣَﺎ ﺧَﻠْﻘُﻜُﻢْ وَلَا ﺑَﻌْﺜُﻜُﻢْ اِلَّا ﻛَﻨَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ.

Bandingkanlah seterusnya demikian. Ada banyak hukum pemeliharaan serta penguasaan Allah سُبْحَانَهُ seperti ini yang berlaku dari zarah sampai seluruh alam.

Pandanglah keagungan hukum-hukum ini dalam kegiatan Allah سُبْحَانَهُ memelihara dan menguasai segala sesuatu, perhatikan keluasan mereka, serta lihatlah rahasia kesatuan di dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap hukum merupakan hujah kesatuan. Ya, hukum-hukum yang amat banyak serta amat agung ini masing-masing merupakan manifestasi Ilmu dan Kehendak. Karena juga tunggal serta meliputi segalanya, mereka dengan amat pasti meneguhkan Keesaan Sang Pembuat serta Ilmu dan Kehendak⁠-⁠Nya.

Kebanyakan perumpamaan dalam kebanyakan Kalimat, dengan menunjukkan ujung hukum-hukum seperti itu melalui satu contoh kecil, mengisyaratkan adanya hukum yang sama dalam pernyataan yang diajukan. Karena terwujudnya hukum diperlihatkan melalui perumpamaan, ia meneguhkan pernyataan tersebut dengan yakin seperti hujah logika. Jadi, kebanyakan perumpamaan dalam Sözler merupakan hujah yang meyakinkan serta dalil yang pasti.

Pembahasan Kedua:

Sebagaimana dikatakan dalam Hakikat Kesepuluh Kalimat Kesepuluh, sebanyak buah serta bunga pada suatu pohon, sebanyak itulah tujuan serta hikmah setiap buah dan bunga. Hikmah-hikmah itu terbagi tiga. Sebagian mengarah kepada Sang Pembuat serta menunjukkan ukiran Asma⁠-⁠Nya. Sebagian mengarah kepada makhluk yang sadar; dalam pandangan mereka, ia merupakan surat berharga serta kata bermakna. Sebagian mengarah kepada diri, kehidupan, serta terus bertahannya makhluk itu sendiri; dan jika bermanfaat bagi manusia, ada hikmah sesuai manfaatnya bagi manusia.

Pada suatu waktu, ketika memikirkan bahwa setiap makhluk mempunyai begitu banyak tujuan, terlintas di pikiranku ungkapan-ungkapan berikut dalam gaya Arab, yang mengisyaratkan tujuan-tujuan menyeluruh serta menjadi catatan bagi dasar-dasar lima isyarat berikut.

ﻭَﻫٰﺬِﻩِ ﺍﻟْﻤَﻮْﺟُﻮﺩَﺍﺕُ ﺍﻟْﺠَﻠِﻴَّﺔُ ﻣَﻈَﺎﻫِﺮُ ﺳَﻴَّﺎﻟَﺔٌ ﻭَﻣَﺮَﺍﻳَﺎ ﺟَﻮَّﺍﻟَﺔٌ ﻟِﺘَﺠَﺪُّﺩِ ﺗَﺠَﻠِّﻴَﺎﺕِ ﺍَﻧْﻮَﺍﺭِ ﺍ۪ﻳﺠَﺎﺩِﻩ۪ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﺑِﺘَﺒَﺪُّﻝِ ﺍﻟﺘَّﻌَﻴُّﻨَﺎﺕِ الْاِعْتِبَارِيَّةِ اَوَّلًا:

ﻣَﻊَ ﺍِﺳْﺘِﺤْﻔَﺎﻅِ ﺍﻟْﻤَﻌَﺎﻧِﻰ ﺍﻟْﺠَﻤ۪ﻴﻠَﺔِ ﻭَﺍﻟْﻬُﻮِﻳَّﺎﺕِ ﺍﻟْﻤِﺜَﺎﻟِﻴَّﺔِ ﻭَﺛَﺎﻧِﻴًﺎ:

ﻣَﻊَ ﺍِﻧْﺘَﺎﺝِ ﺍﻟْﺤَﻘَﺎﺋِﻖِ ﺍﻟْﻐَﻴْﺒِﻴَّﺔِ ﻭَﺍﻟﻨُّﺴُﻮﺝِ ﺍﻟﻠَّﻮْﺣِﻴَّﺔِ ﻭَﺛَﺎﻟِﺜًﺎ:

ﻣَﻊَ ﻧَﺸْﺮِ ﺍﻟﺜَّﻤَﺮَﺍﺕِ الْاُخْرَوِيَّةِ ﻭَﺍﻟْﻤَﻨَﺎﻇِﺮِ ﺍﻟﺴَّﺮْﻣَﺪِﻳَّﺔِ ﻭَﺭَﺍﺑِﻌًﺎ:

ﻣَﻊَ اِعْلَانِ ﺍﻟﺘَّﺴْﺒ۪ﻴﺤَﺎﺕِ ﺍﻟﺮَّﺑَّﺎﻧِﻴَّﺔِ ﻭَ ﺍِﻇْﻬَﺎﺭِ ﺍﻟْﻤُﻘْﺘَﻀَﻴَﺎﺕِ الْاَسْمَائِيَّةِ ﻭَﺧَﺎﻣِﺴًﺎ:

ﻟِﻈُﻬُﻮﺭِ ﺍﻟﺸُّﺆُﻧَﺎﺕِ ﺍﻟﺴُّﺒْﺤَﺎﻧِﻴَّﺔِ ﻭَﺍﻟْﻤَﺸَﺎﻫِﺪِ ﺍﻟْﻌِﻠْﻤِﻴَّﺔِ

Dalam kelima ungkapan ini terdapat dasar-dasar isyarat yang akan kita bahas berikut. Ya, setiap makhluk, terutama makhluk hidup, mempunyai lima tingkatan hikmah serta tujuan yang berbeda. Sebagaimana cabang-cabang pohon berbuah yang berada di atas satu sama lain menghasilkan buah, setiap makhluk hidup juga mempunyai lima tingkatan tujuan berbeda serta hikmah.

Wahai manusia fana! Jika engkau ingin hakikat dirimu sendiri, yang seperti benih kecil, berubah menjadi pohon kekal yang berbuah, serta memperoleh sepuluh tingkatan buah dan sepuluh jenis tujuan yang ditunjukkan dalam lima isyarat, raihlah iman hakiki. Jika tidak, selain terhalang dari semuanya, engkau akan terjepit serta membusuk dalam benih itu.

ISYARAT PERTAMA

Ungkapan فَاَوَّلًا:

ﺑِﺘَﺒَﺪُّﻝِ ﺍﻟﺘَّﻌَﻴُّﻨَﺎﺕِ الْاِعْتِبَارِيَّةِ ﻣَﻊَ ﺍِﺳْﺘِﺤْﻔَﺎﻅِ ﺍﻟْﻤَﻌَﺎﻧِﻰ ﺍﻟْﺠَﻤ۪ﻴﻠَﺔِ ﻭَﺍﻟْﻬُﻮِﻳَّﺎﺕِ ﺍﻟْﻤِﺜَﺎﻟِﻴَّﺔِ

menyatakan bahwa setelah suatu makhluk meninggalkan wujud, secara lahiriah dirinya menuju tidak ada serta musnah, tetapi makna-makna yang diungkapkannya tetap kekal dan terjaga. Jati dirinya dalam bentuk gambaran, rupa, serta sifat dasarnya juga tetap dalam alam rupa, dalam lembaran-lembaran terjaga yang merupakan contoh alam rupa, serta dalam daya-daya ingat yang merupakan contoh lembaran-lembaran terjaga. Jadi, ia kehilangan satu wujud bentuk, tetapi memperoleh ratusan wujud rohani serta dalam ilmu.

Misalnya, huruf-huruf percetakan yang menjadi sarana mencetak satu halaman diberi keadaan serta susunan tertentu, lalu menjadi sarana mencetak halaman itu. Setelah halaman tersebut memberikan bentuk serta jati dirinya kepada banyak lembar yang dicetak, dan menyebarkan maknanya ke banyak akal, keadaan serta susunan huruf-huruf percetakan juga diubah. Sebab, keadaan itu tidak diperlukan lagi dan halaman-halaman lain harus dicetak.

Demikian pula, pena Takdir Ilahi memberi susunan serta keadaan tertentu kepada makhluk-makhluk bumi ini, terutama tumbuhan. Kudrat menciptakannya pada lembaran musim semi. Karena setelah mengungkapkan makna-makna indah, bentuk serta jati dirinya masuk ke kitab alam gaib seperti alam rupa, Hikmah menuntut keadaan itu berubah, agar lembaran musim semi lain yang baru datang ditulis dan makhluk-makhluk itu pun mengungkapkan maknanya.

ISYARAT KEDUA

ﻭَﺛَﺎﻧِﻴًﺎ:

ﻣَﻊَ ﺍِﻧْﺘَﺎﺝِ ﺍﻟْﺤَﻘَﺎﺋِﻖِ ﺍﻟْﻐَﻴْﺒِﻴَّﺔِ ﻭَﺍﻟﻨُّﺴُﻮﺝِ ﺍﻟﻠَّﻮْﺣِﻴَّﺔِ

Ungkapan ini mengisyaratkan: Setiap sesuatu, terbatas ataupun menyeluruh, setelah meninggalkan wujud, terutama jika makhluk hidup, menghasilkan banyak hakikat gaib. Bersama itu, pada lembaran gambaran dalam kitab-kitab alam rupa, ia meninggalkan gambar sebanyak tahap kehidupannya. Dari gambar-gambar itu, perjalanan hidupnya yang bermakna, yang disebut ketentuan-ketentuan kehidupan, ditulis dan menjadi tempat untuk dipelajari ruh-ruh.

Misalnya, satu bunga meninggalkan wujud. Namun, selain meninggalkan ratusan benih kecil serta sifat dasarnya dalam benih-benih itu tetap ada, ia juga meninggalkan ribuan gambarnya pada lembaran-lembaran kecil yang terjaga serta pada daya-daya ingat, contoh kecil lembaran-lembaran terjaga tersebut. Ia membuat makhluk yang sadar membaca tasbih kepada Rabb serta ukiran Asma Allah سُبْحَانَهُ yang diungkapkannya melalui tahap kehidupannya, kemudian pergi.

Demikian pula, musim semi yang diukir dengan karya-karya indah dalam pot muka bumi adalah satu bunga. Secara lahiriah ia sirna serta menuju tidak ada. Namun, sebagai penggantinya, ia meninggalkan hakikat-hakikat gaib yang diungkapkannya sebanyak benihnya, jati diri dalam bentuk gambaran yang disebarkannya sebanyak bunganya, serta Hikmah Rabb yang ditunjukkannya sebanyak makhluknya. Semuanya tetap ada, lalu musim semi itu tersembunyi dari kita. Ia juga mengosongkan tempat bagi musim-musim semi lain, kawan-kawan musim semi yang pergi itu, agar mereka datang dan menjalankan tugas. Jadi, musim semi itu melepaskan satu wujud lahiriah, lalu secara makna mengenakan seribu wujud.