Surat Kedua Puluh Lima
Tidak ditulis.
Surat Kedua Puluh Enam
Surat Kedua Puluh Enam ini terdiri dari empat pembahasan yang sedikit berkaitan satu sama lain.
PEMBAHASAN PERTAMA
ﺑِﺎﺳْﻤِﻪ۪ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻭَ ﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪ ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻭَﺍِﻣَّﺎ ﻳَﻨْﺰَﻏَﻨَّﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﻧَﺰْﻍٌ ﻓَﺎﺳْﺘَﻌِﺬْ ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ ﺍِﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺴَّﻤ۪ﻴﻊُ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ
Hüccetü'l-Kur'an Ale'ş-şeytan ve Hizbihi
Pembahasan Pertama, yang menghadapkan hujah tak terbantah kepada Iblis, membungkam setan ﴾ﺍﻓﺤﺎﻡ﴿, serta mendiamkan orang yang melampaui batas, merupakan peristiwa yang menolak dengan pasti tipu daya dahsyat setan dalam penalaran netral. Aku telah menulis sebagian ringkas peristiwa itu dalam Lemaat sepuluh tahun lalu. Yaitu:
Sebelas tahun sebelum risalah ini ditulis, pada Ramadan yang mulia, aku mendengarkan para hafiz di Masjid Bayezid yang mulia di Istanbul. Tiba-tiba, aku tidak melihat sosoknya, tetapi merasa seakan-akan mendengar suara rohani. Ia mengarahkan pikiranku kepada dirinya. Aku mendengarkan dalam khayalan.
Ternyata ia berkata kepadaku:
Engkau melihat Al-Qur'an amat luhur serta sangat bersinar. Bernalarlah dengan netral, lalu pandanglah demikian. Yakni, anggaplah sebagai perkataan manusia dan pandanglah. Apakah engkau akan melihat keistimewaan serta hiasan itu?
Aku pun benar-benar tertipu olehnya. Aku menganggapnya perkataan manusia dan memandangnya demikian. Aku melihat, sebagaimana ketika sakelar listrik Bayezid diputar serta dimatikan, sekeliling menjadi gelap, melalui anggapan itu cahaya-cahaya bersinar Al-Qur'an mulai tersembunyi. Ketika itu aku memahami bahwa yang berbicara denganku ialah setan. Ia menggulingkanku ke jurang bahaya. Aku meminta pertolongan Al-Qur'an. Tiba-tiba satu cahaya datang ke hatiku, memberikan kekuatan pasti untuk membela. Ketika itu, perdebatan melawan setan dimulai demikian.
Aku berkata:
Wahai setan! Penalaran netral ialah keadaan di tengah kedua pihak. Namun, penalaran netral yang engkau serta murid-muridmu di antara manusia katakan adalah mendukung pihak lawan, bukan bersikap netral. Ia merupakan sikap tanpa agama sementara. Sebab, memandang Al-Qur'an sebagai perkataan manusia serta menalar demikian berarti menjadikan sisi lawan sebagai dasar. Ia mendukung yang batil, tidak netral; justru berpihak kepada yang batil.
Setan berkata:
Kalau begitu, jangan katakan Firman Allah سُبْحَانَهُ ataupun perkataan manusia. Anggaplah di tengah, lalu pandanglah.
Aku berkata:
Itu pun tidak dapat. Sebab, jika ada harta yang dipersengketakan, apabila kedua penuntut saling dekat serta dekat dalam tempat, harta itu diletakkan di tangan seseorang selain keduanya, atau di suatu tempat yang dapat dicapai tangan keduanya. Siapa yang meneguhkan haknya dengan dalil mengambilnya. Jika kedua penuntut amat jauh satu sama lain, yang satu di timur dan yang lain di barat, menurut kaidah, harta itu dibiarkan di tangan siapa yang telah memegangnya. Sebab, tidak dapat diletakkan di tengah.
Al-Qur'an adalah harta berharga. Sejauh perkataan manusia dari Firman Allah سُبْحَانَهُ, sejauh itu pula kedua pihak, bahkan tiada batas jauhnya satu sama lain. Tidak mungkin diletakkan di tengah kedua pihak yang berjauhan seperti tanah sampai Pleiades itu. Tidak pula ada tengahnya. Sebab, mereka berlawanan seperti ada dan tidak ada, serta seperti dua hal yang saling meniadakan. Tidak dapat ada tengahnya.
Karena itu, pihak yang memegang Al-Qur'an ialah pihak Ilahi. Karena itu, ia harus diakui berada dalam tangan-Nya, lalu dalil-dalil yang meneguhkan dipandang demikian. Jika pihak lain menggugurkan satu per satu seluruh hujah bahwa ia Firman Allah سُبْحَانَهُ, barulah ia dapat mengulurkan tangan kepadanya. Jika tidak, ia tidak dapat. Betapa jauh! Tangan mana yang dapat mencabut seluruh paku, memotong tiang-tiang, serta menjatuhkan berlian agung yang dipaku pada Arasy Yang Agung dengan paku ribuan hujah pasti ini?
Wahai setan! Berlawanan dengan kehendakmu, orang yang berpegang pada kebenaran serta berlaku adil menalar melalui penalaran penuh hakikat seperti ini. Bahkan, pada dalil terkecil pun mereka menambah iman kepada Al-Qur'an.
Adapun jalan yang engkau serta murid-muridmu tunjukkan: Begitu dianggap sebagai perkataan manusia, yakni berlian agung yang terikat pada Arasy itu dilemparkan ke tanah, diperlukan satu hujah dengan kekuatan seluruh paku serta keteguhan banyak hujah agar dapat mengangkatnya dari tanah dan memakukannya pada Arasy rohani, sehingga orang selamat dari gelap kufur serta mencapai cahaya iman. Padahal, berhasil dalam hal ini amat sulit. Karena itu, melalui tipu dayamu pada masa ini, banyak orang kehilangan iman di bawah bentuk penalaran netral.
Setan kembali serta berkata:
Al-Qur'an menyerupai perkataan manusia. Ia dalam gaya percakapan mereka. Jadi, ia perkataan manusia. Jika ia Firman Allah سُبْحَانَهُ, tentu mempunyai gaya yang layak bagi-Nya serta luar biasa dari setiap segi. Sebagaimana karya-Nya tidak menyerupai karya manusia, Firman-Nya juga seharusnya tidak menyerupainya?
Sebagai jawaban aku berkata:
Sebagaimana Nabi kita ﷺ, selain mukjizat serta sifat khusus beliau, tetap sebagai manusia dalam tindakan, keadaan, serta sikap beliau, dan seperti manusia tunduk serta patuh kepada kebiasaan Ilahi dan perintah-perintah penciptaan-Nya. Beliau juga mengalami dingin, pedih, dan demikian seterusnya... Dalam setiap keadaan serta sikap beliau, tidak diberikan keadaan luar biasa, agar menjadi imam bagi umat beliau melalui tindakan, pembimbing melalui sikap, serta pengajar melalui seluruh gerak beliau. Jika setiap sikap beliau luar biasa, beliau sendiri tidak dapat menjadi imam dari setiap segi. Beliau tidak dapat menjadi pembimbing menyeluruh bagi setiap orang. Beliau tidak dapat menjadi Rahmeten li'l-âlemîn melalui seluruh keadaan beliau.
Demikian pula, Al-Qur'an Al-Hakîm adalah imam makhluk yang sadar, pembimbing jin serta manusia, pemandu orang-orang sempurna, serta pengajar ahli hakikat. Karena itu, berada dalam gaya percakapan serta cara ungkap manusia adalah wajib dan pasti.
Sebab, jin serta manusia mengambil munajat darinya, mempelajari doa darinya, menyebut persoalan-persoalan mereka melalui bahasanya, mempelajari adab pergaulan darinya, dan demikian seterusnya... Setiap orang menjadikannya tempat rujukan.
Karena itu, jika ia dalam gaya Firman Allah سُبْحَانَهُ yang didengar Nabi Musa aleyhisselâm di Gunung Sinai, manusia tidak akan mampu menanggung saat mendengar serta menyimaknya, dan tidak dapat menjadikannya tempat rujukan. Tokoh ululazmi seperti Nabi Musa aleyhisselâm hanya mampu menanggung mendengar beberapa perkataan. Musa aleyhisselâm berkata:
ﺍَﻫٰﻜَﺬَﺍ كَلَامُكَ ؟ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ:
ﻟ۪ﻰ ﻗُﻮَّﺓُ ﺟَﻤ۪ﻴﻊِ الْاَلْسِنَةِ
Setan kembali lagi serta berkata:
Banyak tokoh mengatakan persoalan semacam itu atas nama agama, seperti persoalan-persoalan Al-Qur'an. Karena itu, bukankah mungkin manusia membuat sesuatu seperti ini atas nama agama?
Sebagai jawaban, melalui cahaya Al-Qur'an aku berkata:
Pertama:
Orang yang taat beragama, karena cinta agama, berkata, "Haq demikian. Hakikat inilah. Perintah Allah سُبْحَانَهُ demikian." Ia tidak membuat Allah سُبْحَانَهُ berbicara menurut keinginannya sendiri. Ia tidak melampaui batasnya tanpa batas, meniru Allah سُبْحَانَهُ, serta berbicara pada tempat-Nya. Ia gemetar terhadap kaidah
ﻓَﻤَﻦْ ﺍَﻇْﻠَﻢُ ﻣِﻤَّﻦْ ﻛَﺬَﺏَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪِ.
Kedua:
Manusia melakukan serta berhasil dalam hal seperti ini seorang diri tidak mungkin dari segi apa pun, bahkan seratus kali mustahil. Sebab, tokoh-tokoh yang saling dekat dapat saling meniru. Yang satu jenis dapat mengambil rupa satu sama lain. Yang dekat dalam tingkatan dapat meniru kedudukan satu sama lain. Mereka menipu manusia sementara, tetapi tidak dapat menipu terus-menerus. Sebab, dalam pandangan orang cermat, kepura-puraan serta usaha yang dipaksakan dalam sikap dan keadaan mereka pasti akan menunjukkan kepalsuan mereka; tipu daya tidak akan berlanjut.
Jika orang yang berusaha meniru dengan kepalsuan amat jauh dari yang lain, misalnya orang biasa ingin meniru seorang jenius seperti Ibnu Sina dalam ilmu, atau seorang penggembala mengambil sikap padisyah, tentu ia tidak akan menipu siapa pun. Justru ia sendiri menjadi bahan tertawaan. Setiap keadaannya akan berseru, "Ini orang palsu!"
Ketika Al-Qur'an dianggap perkataan manusia—hâşâ, seratus ribu kali hâşâ—bagaimana mungkin seekor kunang-kunang terlihat sebagai bintang sejati oleh para pengamat selama seribu tahun tanpa upaya yang dipaksakan; seekor lalat menunjukkan rupa merak sepenuhnya kepada para penonton selama satu tahun tanpa kepura-puraan; seorang prajurit biasa yang palsu mengambil sikap seorang marsekal ternama dan luhur, duduk pada kedudukannya, tinggal demikian untuk waktu lama, serta tidak membuat tipu dayanya terasa; dan seorang pemfitnah, pendusta, serta tanpa kepercayaan terus menunjukkan sepanjang hidupnya sikap dan keadaan tokoh yang paling benar, paling terpercaya, serta paling teguh kepercayaannya di hadapan pandangan paling cermat tanpa gelisah, sementara kepura-puraannya tersembunyi dari pandangan para jenius?
Hal ini seratus kali mustahil; tidak ada orang berakal yang dapat menyebutnya mungkin. Menganggapnya demikian pun merupakan omong kosong, seperti menganggap hal yang jelas mustahil benar-benar terjadi.
Demikian pula, menganggap Al-Qur'an perkataan manusia mengharuskan bahwa hakikat Kitab Yang Jelas, yang nyata disaksikan di langit alam Islam sebagai bintang hakikat yang amat bersinar dan terus menyebarkan cahaya-cahaya hakikat, bahkan dianggap sebagai matahari kesempurnaan, adalah—hâşâ sümme hâşâ—rekaan penuh takhayul seorang manusia yang berpura-pura, seperti kunang-kunang. Mereka yang paling dekat serta memandangnya dengan cermat tidak menyadarinya dan terus menganggapnya bintang luhur serta sumber hakikat.
Hal ini seratus kali mustahil. Sekalipun engkau, wahai setan, melangkah seratus kali lebih jauh dalam sifat kesetananmu, engkau tidak dapat membuatnya mungkin atau meyakinkan akal mana pun yang belum rusak! Engkau hanya menipu dengan membuat orang memandang dari jarak rohani amat jauh! Engkau membuat bintang tampak kecil seperti kunang-kunang.
Ketiga:
Menganggap Al-Qur'an perkataan manusia juga mengharuskan bahwa hakikat tersembunyi Al-Furqan—yang nyata disaksikan melalui karya, pengaruh, serta hasilnya sebagai yang paling berjiwa dan menyebarkan kehidupan, paling penuh hakikat dan membawa kebahagiaan, paling menyeluruh dan bermukjizat dalam penjelasannya, serta disepuh keistimewaan luhur dalam alam manusia—adalah, hâşâ, rekaan pikiran satu manusia tanpa bantuan serta tanpa ilmu. Akal-akal besar serta orang-orang jenius luhur yang memandangnya dari dekat dengan rasa ingin tahu dan cermat tidak pernah melihat bekas kepalsuan ataupun kepura-puraan di dalamnya dari segi apa pun, tetapi selalu menemukan kesungguhan, ketulusan, serta ikhlas!
Hal ini seratus kali mustahil. Bersama itu, menganggap beliau yang melalui seluruh keadaan, perkataan, serta geraknya sepanjang hidup beliau menunjukkan dan mengajarkan amanah, iman, sifat dapat dipercaya, ikhlas, kesungguhan, serta langkah lurus, dan mendidik para siddiq—yang dianggap serta diakui sebagai pemilik sifat paling tinggi, paling bersinar, serta paling luhur—sebagai yang paling tidak terpercaya, paling tidak tulus, serta paling tanpa kepercayaan, merupakan omong kosong pikiran yang bahkan akan membuat setan malu, seperti menganggap hal mustahil berlipat benar-benar terjadi.
Sebab, persoalan ini tidak mempunyai tengah. Seandainya, sebagai anggapan mustahil, Al-Qur'an bukan Firman Allah سُبْحَانَهُ, ia akan jatuh seperti dari Arasy ke bumi.
Ia tidak tetap di tengah. Ketika merupakan himpunan hakikat, ia menjadi sumber takhayul. Beliau yang memperlihatkan Firman luar biasa itu—hâşâ sümme hâşâ—jika bukan Rasulullah ﷺ, harus jatuh dari derajat tertinggi ke derajat terendah, serta turun dari derajat sumber kesempurnaan ke kedudukan sumber tipu daya. Beliau tidak dapat tetap di tengah. Sebab, orang yang mengada-ada serta berdusta atas nama Allah سُبْحَانَهُ jatuh ke derajat paling rendah.
Sebagaimana mustahil terus melihat seekor lalat sebagai merak serta setiap saat menyaksikan sifat-sifat besar merak di dalamnya, persoalan ini juga demikian mustahil. Diperlukan orang yang secara fitrah tidak berakal, mabuk, serta kehilangan akal agar menganggapnya mungkin.
Keempat:
Menganggap Al-Qur'an perkataan manusia juga mengharuskan Al-Qur'an—panglima suci umat Muhammad ﷺ, pasukan terbesar serta paling megah keturunan Adam—dianggap sebagai rekaan tanpa kekuatan, tanpa nilai, serta tanpa dasar, dan hal yang seratus kali mustahil diakui—hâşâ, seratus ribu hâşâ. Padahal, nyata disaksikan bahwa melalui hukum-hukumnya yang kuat, kaidah-kaidahnya yang mendasar, serta perintah-perintahnya yang menembus, ia memberi pasukan amat besar itu keteraturan dan disiplin sampai derajat dapat menaklukkan dunia dan akhirat, melengkapinya secara jasmani serta rohani, dan sesuai derajat seluruh anggotanya mengajar akal, mendidik hati, menundukkan ruh, membersihkan hati nurani, serta menggunakan dan mempekerjakan anggota tubuh mereka...
Bersama itu, harus dilakukan sekaligus seratus hal mustahil dengan menganggap beliau yang sepanjang hidup beliau mengajarkan hukum-hukum Al-Haqq kepada keturunan Adam melalui gerak yang sungguh-sungguh, mengajarkan kaidah hakikat kepada manusia melalui tindakan tulus, serta menunjukkan dan menegakkan dasar-dasar langkah lurus serta kebahagiaan melalui perkataan ikhlas dan masuk akal, sebagai tidak takut serta tidak mengenal Allah سُبْحَانَهُ, tidak menghindari dusta, dan tidak mengenal martabat beliau—hâşâ, seratus ribu kali hâşâ. Padahal, seluruh riwayat hidup beliau bersaksi bahwa beliau sangat takut terhadap azab Allah سُبْحَانَهُ, mengenal serta memperkenalkan Allah سُبْحَانَهُ lebih daripada siapa pun, memimpin seperlima umat manusia dan separuh bola bumi dengan kemegahan sempurna selama seribu tiga ratus lima puluh tahun, serta melalui urusan-urusan beliau yang termasyhur dan menggemparkan dunia benar-benar menjadi kebanggaan umat manusia, bahkan kainat.
Sebab, persoalan ini tidak mempunyai tengah. Seandainya, sebagai anggapan mustahil, Al-Qur'an bukan Firman Allah سُبْحَانَهُ dan jatuh dari Arasy, ia tidak dapat tetap di tengah. Justru harus diakui sebagai milik seorang paling pendusta di bumi. Wahai setan, sekalipun engkau menjadi setan seratus kali berlipat, engkau tidak dapat meyakinkan akal mana pun yang belum rusak atau hati mana pun yang belum membusuk.
Setan kembali serta berkata:
Bagaimana aku tidak dapat meyakinkan? Aku membuat kebanyakan manusia serta orang-orang berakal terkenal di antara manusia mengingkari Al-Qur'an dan Muhammad ﷺ, serta meyakinkan mereka.
Jawaban:
Pertama:
Jika dipandang dari jarak amat jauh, yang terbesar dapat terlihat seperti yang terkecil. Dapat dikatakan bahwa bintang sebesar lilin.
Kedua:
Jika dipandang secara tidak langsung serta dangkal, hal yang amat mustahil dapat terlihat mungkin. Pada suatu waktu, seorang lanjut usia memandang langit untuk melihat hilal Ramadan. Sehelai rambut putih jatuh ke matanya. Ia menganggap rambut itu bulan dan berkata, "Aku melihat bulan." Mustahil hilal adalah rambut putih itu. Namun, karena ia sengaja serta langsung memandang bulan, sedangkan rambut itu terlihat secara tidak langsung, secara turunan serta pada tingkat kedua, ia menganggap hal mustahil itu mungkin.
Ketiga:
Tidak mengakui berbeda dari mengingkari. Tidak mengakui ialah tidak peduli, menutup mata, serta tidak memberi putusan karena tidak tahu. Dalam bentuk ini, banyak hal mustahil dapat tersembunyi di dalamnya. Akalnya tidak berurusan dengannya. Adapun mengingkari bukan tidak mengakui, melainkan mengakui bahwa sesuatu tidak ada; ia suatu putusan. Akalnya harus bergerak. Dalam keadaan itu, setan sepertimu merampas akalnya, kemudian membuatnya menelan pengingkaran.
Wahai setan! Melalui tipu daya setan seperti kelalaian, kesesatan, penalaran palsu, keras kepala, menyesatkan logika, membantah tanpa alasan, menipu, serta mengikuti kebiasaan, yang menunjukkan batil sebagai benar dan mustahil sebagai mungkin, engkau membuat hewan-hewan malang berbentuk manusia itu menelan kufur dan pengingkaran yang menghasilkan banyak hal mustahil.
Keempat:
Menganggap Al-Qur'an perkataan manusia juga mengharuskan kitab yang nyata disaksikan membimbing orang-orang suci, siddiq, serta wali utama yang bersinar seperti bintang di langit alam manusia, yang dengan jelas terus mengajarkan haq dan kesesuaian dengan haq, kejujuran dan kesetiaan, rasa aman dan amanah kepada seluruh golongan orang sempurna, serta menjamin kebahagiaan dunia dan akhirat melalui hakikat rukun-rukun iman dan kaidah rukun-rukun Islam, dipandang sebagai himpunan rekaan serta kebohongan—hâşâ hâşâ—dengan dibayangkan mempunyai sifat yang berlawanan dengan sifat, pengaruh, serta cahayanya sendiri. Padahal, kesaksian tindakan-tindakannya mengharuskan bahwa ia haq yang tulus, hakikat murni, amat benar, serta sangat sungguh-sungguh. Selain menjadi omong kosong kufur yang keji, yang bahkan membuat kaum sofis serta setan malu dan gemetar...
menganggap beliau yang paling teguh kepercayaannya, paling kukuh, paling terpercaya, serta paling benar sebagai tanpa kepercayaan, paling tidak terpercaya, tidak takut kepada Allah سُبْحَانَهُ, serta tidak menghindari dusta, mengharuskan orang melakukan bentuk hal mustahil paling buruk dan paling dibenci, serta cara kesesatan paling zalim dan gelap—hâşâ sümme hâşâ, seratus ribu kali hâşâ. Padahal, agama serta syariat Islam yang beliau tampakkan bersaksi, takwa luar biasa yang beliau tunjukkan sepanjang hidup serta ubudiyah beliau yang ikhlas dan murni menunjukkan, akhlak baik yang menurut kesepakatan terlihat dalam diri beliau menuntut, dan seluruh ahli hakikat serta pemilik kesempurnaan yang beliau didik membenarkan sifat-sifat luhur itu.
Kesimpulannya:
Sebagaimana dikatakan dalam Isyarat Kedelapan Belas Surat Kesembilan Belas, golongan awam yang mempunyai telinga berkata dalam memahami mukjizat Al-Qur'an, "Jika dibandingkan dengan seluruh kitab yang kudengar serta yang ada di dunia, Al-Qur'an tidak menyerupai satu pun dan tidak berada pada derajat mereka. Karena itu, Al-Qur'an berada di bawah semuanya atau mempunyai derajat di atas semuanya. Pilihan bahwa ia di bawah semuanya mustahil; tidak ada musuh, bahkan setan, yang dapat mengatakan ataupun mengakuinya. Karena itu, Al-Qur'an berada di atas seluruh kitab. Karena itu, ia mukjizat."
Demikian pula, melalui hujah paling pasti yang disebut sabr wa taqsim dalam ilmu usul serta logika, kami juga berkata:
Wahai setan serta murid-murid setan! Al-Qur'an adalah Firman Allah سُبْحَانَهُ yang datang dari Arasy Yang Agung serta Ismul A'zham, atau—hâşâ sümme hâşâ, seratus ribu kali hâşâ—rekaan seorang manusia di bumi yang tidak takut serta tidak mengenal Allah سُبْحَانَهُ dan tidak mempunyai kepercayaan. Wahai setan, terhadap hujah-hujah sebelumnya, engkau tidak dapat, tidak pernah dapat, serta tidak akan dapat mengatakan yang terakhir ini. Karena itu, pasti dan tanpa ragu Al-Qur'an adalah Firman Sang Khâliq kainat. Sebab, tengahnya tidak ada, mustahil, serta tidak dapat ada. Sebagaimana telah kami teguhkan dengan pasti, engkau juga telah melihat serta mendengar.
Muhammad ﷺ juga adalah Rasulullah ﷺ, yang paling sempurna di antara seluruh rasul dan paling utama di antara seluruh makhluk, atau—hâşâ, seratus ribu kali hâşâ—harus dianggap sebagai manusia tanpa kepercayaan yang jatuh ke derajat paling rendah karena mengada-ada terhadap Allah سُبْحَانَهُ, tidak mengenal Allah سُبْحَانَهُ, serta tidak percaya kepada azab-Nya {(Catatan kaki):
Bersandar pada Al-Qur'an Al-Hakîm yang menyebut pengingkaran serta ungkapan-ungkapan kasar orang kafir untuk membatalkannya, aku terpaksa menggunakan ungkapan-ungkapan ini sebagai anggapan mustahil dengan gemetar, agar menunjukkan bahwa pikiran kufur orang sesat itu sepenuhnya mustahil serta sepenuhnya rapuh.}. Wahai Iblis, baik engkau, para filsuf Eropa, maupun orang-orang munafik Asia yang engkau percayai tidak dapat mengatakan ini, tidak pernah dapat, tidak akan dapat, tidak pernah mengatakan, serta tidak akan mengatakannya. Sebab, di dunia tidak ada orang yang akan mendengarkan serta mengakui pilihan ini. Karena itu, bahkan para filsuf yang paling merusak serta orang munafik yang paling tidak berhati nurani, yang engkau percayai, berkata, "Muhammad dari bangsa Arab ﷺ amat berakal serta mempunyai akhlak amat baik."
Karena persoalan ini terbatas pada dua pilihan, karena pilihan kedua mustahil dan tidak seorang pun mendukungnya, serta karena dengan hujah-hujah pasti telah kami teguhkan bahwa tidak ada tengahnya, tentu dan pasti, berlawanan dengan kehendakmu serta kelompok setan, dengan jelas dan haqqulyaqin, Muhammad dari bangsa Arab ﷺ adalah Rasulullah ﷺ, yang paling sempurna di antara seluruh rasul serta paling utama di antara seluruh makhluk.
ﻋَﻠَﻴْﻪِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ﺑِﻌَﺪَﺩِ ﺍﻟْﻤَﻠَﻚِ وَالْاِنْسِ ﻭَﺍﻟْﺠَﺎﻥِّ
Bantahan Kecil Kedua dari Setan
Ketika membaca Surah
ﻕٓ ﻭَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﺍﻟْﻤَﺠ۪ﻴﺪِ,
ﻣَﺎ ﻳَﻠْﻔِﻆُ ﻣِﻦْ ﻗَﻮْﻝٍ اِلَّا ﻟَﺪَﻳْﻪِ ﺭَﻗ۪ﻴﺐٌ ﻋَﺘ۪ﻴﺪٌ ٭ ﻭَﺟَٓﺎﺀَﺕْ ﺳَﻜْﺮَﺓُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ ﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ ﺫٰﻟِﻚَ ﻣَﺎ ﻛُﻨْﺖَ ﻣِﻨْﻪُ ﺗَﺤ۪ﻴﺪُ ٭ ﻭَ ﻧُﻔِﺦَ ﻓِﻰ ﺍﻟﺼُّﻮﺭِ ﺫٰﻟِﻚَ ﻳَﻮْﻡُ ﺍﻟْﻮَﻋ۪ﻴﺪِ ٭ ﻭَ ﺟَٓﺎﺀَﺕْ ﻛُﻞُّ ﻧَﻔْﺲٍ ﻣَﻌَﻬَﺎ ﺳَٓﺎﺋِﻖٌ ﻭَ ﺷَﻬ۪ﻴﺪٌ ٭ ﻟَﻘَﺪْ ﻛُﻨْﺖَ ﻓ۪ﻰ ﻏَﻔْﻠَﺔٍ ﻣِﻦْ ﻫٰﺬَﺍ ﻓَﻜَﺸَﻔْﻨَﺎ ﻋَﻨْﻚَ ﻏِﻄَٓﺎﺀَﻙَ ﻓَﺒَﺼَﺮُﻙَ ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺣَﺪ۪ﻳﺪٌ ٭ ﻭَ ﻗَﺎﻝَ ﻗَﺮ۪ﻳﻨُﻪُ ﻫٰﺬَﺍ ﻣَﺎ ﻟَﺪَﻯَّ ﻋَﺘ۪ﻴﺪٌ ٭ ﺍَﻟْﻘِﻴَﺎ ﻓ۪ﻰ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﻛُﻞَّ ﻛَﻔَّﺎﺭٍ ﻋَﻨ۪ﻴﺪٍ
Ketika membaca ayat-ayat ini, setan berkata:
"Kalian menemukan kefasihan terpenting Al-Qur'an dalam kelancaran serta kejelasannya. Namun, dari mana ke mana ia melompat dalam ayat ini? Ia melompat dari sakratulmaut sampai kiamat, beralih dari tiupan sangkakala sampai akhir perhitungan, lalu menyebut masuk ke neraka. Kelancaran mana yang tersisa dalam lompatan-lompatan menakjubkan ini? Pada kebanyakan tempat Al-Qur'an, ia menghimpun persoalan-persoalan yang jauh satu sama lain seperti itu. Dalam keadaan yang demikian tidak berkaitan, di mana kelancaran serta kefasihan tetap ada?"
Jawaban:
Dasar mukjizat Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya, di antara yang terpenting setelah balagahnya, ialah singkatnya ungkapan yang memuat banyak makna. Ungkapan yang ringkas itu merupakan dasar mukjizat Al-Qur'an yang paling kukuh serta paling penting. Dalam Al-Qur'an Al-Hakîm, ungkapan ringkas yang bersifat mukjizat ini begitu banyak serta begitu indah sehingga para pengkaji merasa takjub di hadapannya.
Misalnya,
ﻭَ ﻗ۪ﻴﻞَ ﻳَٓﺎ ﺍَﺭْﺽُ ﺍﺑْﻠَﻌ۪ﻰ ﻣَٓﺎﺀَﻙِ ﻭَﻳَﺎ ﺳَﻤَٓﺎﺀُ ﺍَﻗْﻠِﻌ۪ﻰ ﻭَﻏ۪ﻴﺾَ ﺍﻟْﻤَٓﺎﺀُ ﻭَﻗُﻀِﻰَ الْاَمْرُ ﻭَﺍﺳْﺘَﻮَﺕْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺠُﻮﺩِﻯِّ ﻭَﻗ۪ﻴﻞَ ﺑُﻌْﺪًﺍ ﻟِﻠْﻘَﻮْﻡِ ﺍﻟﻈَّﺎﻟِﻤ۪ﻴﻦَ
Melalui beberapa kalimat singkat, ia menjelaskan peristiwa besar Banjir Besar beserta hasil-hasilnya dengan cara begitu ringkas serta bermukjizat sehingga membuat banyak ahli balagah tunduk kagum di hadapan balagahnya.
Misalnya pula,
ﻛَﺬَّﺑَﺖْ ﺛَﻤُﻮﺩُ ﺑِﻄَﻐْﻮٰﻳﻬَﺎ ٭ ﺍِﺫِ ﺍﻧْﺒَﻌَﺚَ ﺍَﺷْﻘٰﻴﻬَﺎ ٭ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻬُﻢْ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻧَﺎﻗَﺔَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻭَﺳُﻘْﻴٰﻴﻬَﺎ ٭ ﻓَﻜَﺬَّﺑُﻮﻩُ ﻓَﻌَﻘَﺮُﻭﻫَﺎ ﻓَﺪَﻣْﺪَﻡَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺭَﺑُّﻬُﻢْ ﺑِﺬَﻧْﺒِﻬِﻢْ ﻓَﺴَﻮّٰﻳﻬَﺎ ٭ وَلَا ﻳَﺨَﺎﻑُ ﻋُﻘْﺒٰﻴﻬَﺎ
Ia menjelaskan peristiwa-peristiwa menakjubkan serta penting kaum Tsamud, hasilnya, serta akhir buruknya, melalui beberapa kalimat singkat dengan mukjizat dalam ungkapan ringkas, dengan cara lancar, jelas, serta tidak mengganggu pemahaman.
Misalnya pula,
ﻭَﺫَﺍ ﺍﻟﻨُّﻮﻥِ ﺍِﺫْ ﺫَﻫَﺐَ ﻣُﻐَﺎﺿِﺒًﺎ ﻓَﻈَﻦَّ ﺍَﻥْ ﻟَﻦْ ﻧَﻘْﺪِﺭَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻓَﻨَﺎﺩٰﻯ ﻓِﻰ ﺍﻟﻈُّﻠُﻤَﺎﺕِ ﺍَﻥْ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّٓا ﺍَﻧْﺖَ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍِﻧّ۪ﻰ ﻛُﻨْﺖُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻈَّﺎﻟِﻤ۪ﻴﻦَ
Dari kalimat
ﺍَﻥْ ﻟَﻦْ ﻧَﻘْﺪِﺭَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ
sampai kalimat
ﻓَﻨَﺎﺩٰﻯ ﻓِﻰ ﺍﻟﻈُّﻠُﻤَﺎﺕِ,
banyak kalimat tersimpan tanpa disebut. Kalimat-kalimat yang tidak disebut itu tidak mengganggu pemahaman atau merugikan kelancaran. Ia menyebut dasar-dasar penting kisah Nabi Yunus aleyhisselâm, lalu menyerahkan sisanya kepada akal.
Misalnya pula,
Dalam Surah Yusuf, dari kata ﻓَﺎَﺭْﺳِﻠُﻮﻥِ sampai
ﻳُﻮﺳُﻒُ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﺼِّﺪّ۪ﻳﻖُ,
tujuh-delapan kalimat dilewatkan dengan ringkas. Hal ini sama sekali tidak mengganggu pemahaman ataupun merugikan kelancaran.
Ungkapan ringkas yang bermukjizat semacam ini amat banyak dalam Al-Qur'an, serta amat indah.
Adapun ayat Surah Qaf, ungkapan ringkas di dalamnya amat menakjubkan serta bersifat mukjizat. Sebab, ia menyoroti satu per satu masa depan orang kafir yang amat dahsyat serta panjang, yang satu harinya lima puluh ribu tahun, dan peristiwa-peristiwa pedih serta penting yang akan menimpa orang kafir dalam perubahan dahsyat masa depan itu. Seperti kilat, ia menjalankan pikiran di atas semuanya. Ia memperlihatkan masa amat panjang itu kepada pandangan seperti lembaran yang hadir. Dengan menyerahkan peristiwa-peristiwa yang tidak disebut kepada khayalan, ia menjelaskan melalui kelancaran yang luhur.
ﻭَﺍِﺫَﺍ ﻗُﺮِﺉَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥُ ﻓَﺎﺳْﺘَﻤِﻌُﻮﺍ ﻟَﻪُ ﻭَﺍَﻧْﺼِﺘُﻮﺍ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗُﺮْﺣَﻤُﻮﻥَ
Wahai setan! Sekarang, jika masih mempunyai perkataan, katakanlah...
Setan berkata: Aku tidak dapat melawan atau membela diri terhadap semua ini. Namun, banyak orang bodoh mendengarku; banyak setan berbentuk manusia membantuku; serta banyak Firaun di antara filsuf mempelajari dariku persoalan yang membelai ananiyah mereka. Mereka akan menghalangi penyebaran perkataanmu seperti ini. Karena itu, aku tidak akan menyerahkan senjata kepadamu!
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ
PEMBAHASAN KEDUA
Pembahasan ini ditulis untuk menjawab keheranan mereka yang terus melayaniku karena perbedaan menakjubkan yang mereka lihat dalam perangai-perangaiku, serta untuk menyeimbangkan sangkaan baik kedua muridku tentang diriku yang melebihi batas diriku.
Aku melihat bahwa sebagian kesempurnaan hakikat-hakikat Al-Qur'an Al-Hakîm diberikan kepada perantara yang menyerukan hakikat tersebut. Ini keliru. Sebab, kesucian sumber menunjukkan pengaruh sebesar banyak hujah dan melalui itu membuat ketentuan-ketentuannya diakui semua orang. Ketika penyeru serta wakil menjadi bayangan penghalang, yakni perhatian diarahkan kepada mereka, pengaruh kesucian pada sumber itu hilang. Karena rahasia ini, aku akan menjelaskan satu hakikat kepada saudara-saudara yang menunjukkan perhatian kepadaku jauh melebihi batas diriku. Yaitu:
Seorang manusia dapat mempunyai beberapa sisi pribadi. Sisi-sisi pribadi itu menunjukkan perangai berbeda. Misalnya, seorang pejabat besar mempunyai pribadi ketika berada pada kedudukan tugasnya yang menuntut wibawa serta sikap untuk menjaga kehormatan kedudukan itu. Misalnya, merendah kepada setiap pengunjung merupakan sikap menghinakan diri serta merendahkan kedudukan. Namun, pribadinya di rumah sendiri, berlawanan dengan kedudukan tersebut, menghendaki beberapa perangai yang semakin rendah hati semakin baik. Jika menunjukkan sedikit wibawa, ia menjadi sombong. Dan demikian seterusnya...
Jadi, manusia mempunyai pribadi dari segi tugasnya yang berbeda dari pribadi sejatinya pada banyak segi. Jika pemegang tugas itu benar-benar layak serta sepenuhnya mampu menjalankan tugas, kedua pribadinya saling dekat. Jika tidak mampu, misalnya seorang prajurit ditempatkan pada kedudukan marsekal, kedua pribadi itu saling jauh. Sifat-sifat pribadi prajurit yang biasa serta kecil tidak dapat disesuaikan dengan perangai luhur dan tinggi yang dituntut kedudukan tersebut.
Pada saudara kalian yang malang ini ada tiga pribadi. Mereka saling jauh, bahkan sangat jauh.
Pertama:
Aku mempunyai pribadi sementara, yang semata-mata milik Al-Qur'an, dari segi menjadi penyeru khazanah luhur Al-Qur'an Al-Hakîm. Ada perangai amat luhur yang dituntut tugas menyeru itu, tetapi perangai tersebut bukan milikku; aku bukan pemiliknya. Justru semua itu watak yang dituntut kedudukan serta tugas tersebut. Apa pun yang kalian lihat dari jenis ini pada diriku, bukan milikku; jangan memandangku melalui itu, sebab ia milik kedudukan tersebut.
Pribadi kedua:
Pada waktu ubudiyah, ketika menghadap hadirat Ilahi, melalui anugerah Allah سُبْحَانَهُ diberikan pribadi yang menunjukkan beberapa pengaruh. Pengaruh-pengaruh itu berasal dari segi-segi yang menjadi dasar makna ubudiyah: "Mengetahui kekurangan sendiri, memahami keadaan serba membutuhkan serta tidak berdaya, dan berlindung ke hadirat Ilahi dengan merendahkan diri." Melalui pribadi itu, aku memandang diriku lebih malang, lebih tidak berdaya, lebih membutuhkan, serta lebih penuh kekurangan daripada siapa pun. Sekalipun seluruh dunia memuji serta menyanjungku, mereka tidak dapat meyakinkanku bahwa aku baik dan memiliki kesempurnaan.