Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Ketiga:

Surat-Surat · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

Ketiga:

Pribadi sejatiku, yakni aku mempunyai pribadi yang merupakan sisa rusak dari Said Lama; ia adalah beberapa kecenderungan yang diwarisi dari Said Lama. Kadang ada keinginan berbuat ria serta mencintai kedudukan. Karena bukan dari keluarga bangsawan, juga terlihat perangai rendah dan hina melalui hemat sampai derajat kikir.

Wahai saudara-saudara! Agar tidak membuat kalian sepenuhnya menjauh, aku tidak akan menyebut banyak keburukan tersembunyi serta keadaan buruk pribadiku ini.

Saudara-saudaraku, karena aku tidak mempunyai kemampuan serta kedudukan, pribadiku ini amat jauh dari perangai dan pengaruh dalam tugas menyeru serta ubudiyah. Menurut kaidah

ﺩَﺍﺩِ ﺣَﻖْ ﺭَﺍ ﻗَﺎﺑِﻠِﻴَّﺖْ ﺷَﺮْﻁْ ﻧ۪ﻴﺴْﺖْ,

Allah سُبْحَانَهُ juga menunjukkan Kudrat⁠-⁠Nya dengan penuh belas kasih terhadapku demikian: Dia mempekerjakan pribadiku yang seperti prajurit paling rendah dalam khidmah rahasia-rahasia Al-Qur'an, yang seperti kedudukan marsekal tertinggi. Ratusan ribu syukur! Nafsu paling rendah dari semuanya; tugas paling tinggi dari semuanya.

ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻫٰﺬَﺍ ﻣِﻦْ ﻓَﻀْﻞِ ﺭَﺑّ۪ﻰ

PEMBAHASAN KETIGA

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻳَٓﺎ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍِﻧَّﺎ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﺫَﻛَﺮٍ ﻭَﺍُﻧْﺜٰﻰ ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎﻛُﻢْ ﺷُﻌُﻮﺑًﺎ ﻭَﻗَﺒَٓﺎﺋِﻞَ ﻟِﺘَﻌَﺎﺭَﻓُﻮﺍ

Yakni,

ﻟِﺘَﻌَﺎﺭَﻓُﻮﺍ ﻣُﻨَﺎﺳَﺒَﺎﺕِ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓِ الْاِجْتِمَاعِيَّةِ ﻓَﺘَﻌَﺎﻭَﻧُﻮﺍ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ لَا ﻟِﺘَﻨَﺎﻛَﺮُﻭﺍ ﻓَﺘَﺨَﺎﺻَﻤُﻮﺍ

Yakni, "Aku menciptakan kalian kelompok demi kelompok, bangsa demi bangsa, kabilah demi kabilah, agar kalian saling mengenal, mengetahui hubungan kalian satu sama lain dalam kehidupan bersama, serta saling membantu. Aku bukan menjadikan kalian kabilah demi kabilah agar saling memandang asing dengan mengingkari satu sama lain, bermusuhan, serta saling membenci!"

Pembahasan ini terdiri dari tujuh persoalan.

PERSOALAN PERTAMA:

Karena hakikat luhur yang diungkapkan ayat mulia ini berkaitan dengan kehidupan bersama, aku terpaksa menulis dengan bahasa Said Lama yang berkaitan dengan kehidupan bersama Islam, bukan bahasa Said Baru yang ingin menarik diri darinya, dengan tujuan berkhidmah kepada Al-Qur'an Yang Agung serta gagasan membuat perisai terhadap serangan tidak adil.

PERSOALAN KEDUA:

Untuk menjelaskan "kaidah saling mengenal serta saling membantu" yang diisyaratkan ayat mulia ini, kami berkata: Sebagaimana satu pasukan dibagi menjadi divisi-divisi, divisi menjadi resimen, resimen menjadi batalion dan kompi, sampai peleton, agar hubungan setiap prajurit yang beragam serta banyak, dan tugasnya sesuai hubungan itu, dikenal serta diketahui. Dengan demikian, para anggota pasukan menjalankan tugas umum yang hakiki di bawah kaidah saling membantu, dan kehidupan bersama mereka tetap aman dari serangan musuh. Pembagian itu bukan agar satu kompi bersaing dengan kompi lain, satu batalion memusuhi batalion lain, atau satu divisi bertindak berlawanan dengan divisi lain.

Demikian pula, masyarakat Islam adalah pasukan besar yang dibagi menjadi kabilah serta kelompok. Namun, mereka mempunyai segi-segi kesatuan sebanyak seribu satu hal yang satu. Sang Khâliq mereka satu, Ar-Razzâq mereka satu, Nabi mereka ﷺ satu, kiblat mereka satu, kitab mereka satu, tanah air mereka satu; satu dan satu, ribuan hal yang satu, satu...

Begitu banyak hal yang satu ini menuntut persaudaraan, cinta, serta kesatuan. Jadi, pembagian menjadi kabilah dan kelompok adalah untuk saling mengenal serta saling membantu, seperti diumumkan ayat ini; bukan untuk saling menganggap asing atau bermusuhan!..

PERSOALAN KETIGA:

Pemikiran kebangsaan sangat maju pada abad ini. Terutama para penindas Eropa yang penuh tipu daya membangkitkannya secara negatif di antara kaum Muslim, agar memecah lalu menelan mereka.

Dalam pemikiran kebangsaan juga ada kenikmatan nafsu, rasa nikmat yang melalaikan, serta kekuatan yang membawa akibat buruk. Karena itu, pada masa ini tidak dikatakan kepada mereka yang berkecimpung dalam kehidupan bersama, "Tinggalkan pemikiran kebangsaan!"

Namun, pemikiran kebangsaan terbagi dua. Sebagiannya negatif, membawa akibat buruk, serta merugikan. Ia memperoleh makanan dengan menelan yang lain, meneruskan hidup dengan memusuhi yang lain, dan bertindak waspada. Hal ini menjadi sebab permusuhan serta kekacauan. Karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis mulia

اَلْاِسْلَامِيَّةُ ﺟَﺒَّﺖِ ﺍﻟْﻌَﺼَﺒِﻴَّﺔَ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔَ,

dan Al-Qur'an juga berfirman

ﺍِﺫْ ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﻓ۪ﻰ ﻗُﻠُﻮﺑِﻬِﻢُ ﺍﻟْﺤَﻤِﻴَّﺔَ ﺣَﻤِﻴَّﺔَ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ ﻓَﺎَﻧْﺰَﻝَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺳَﻜ۪ﻴﻨَﺘَﻪُ ﻋَﻠٰﻰ ﺭَﺳُﻮﻟِﻪ۪ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨ۪ﻴﻦَ ﻭَﺍَﻟْﺰَﻣَﻬُﻢْ ﻛَﻠِﻤَﺔَ ﺍﻟﺘَّﻘْﻮٰﻯ ﻭَﻛَﺎﻧُٓﻮﺍ ﺍَﺣَﻖَّ ﺑِﻬَﺎ ﻭَﺍَﻫْﻠَﻬَﺎ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺑِﻜُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻋَﻠ۪ﻴﻤًﺎ.

Hadis mulia serta ayat mulia ini dengan pasti tidak mengakui kebangsaan negatif dan pemikiran rasial. Sebab, kebangsaan Islam yang positif serta suci tidak menyisakan kebutuhan akan keduanya.

Adakah kelompok etnis yang berjumlah tiga ratus lima puluh juta, sehingga pemikiran etnis itu sebagai ganti Islam memberikan kepada pemilik pemikiran tersebut begitu banyak saudara, bahkan saudara abadi? Ya, dalam sejarah telah terlihat banyak kerugian kebangsaan negatif.

Di antaranya, karena Bani Umayyah sedikit mencampurkan pemikiran kebangsaan ke politik mereka, mereka membuat dunia Islam menjauh dan mereka sendiri mengalami banyak bencana.

Bangsa-bangsa Eropa pada abad ini juga sangat memajukan pemikiran rasial. Selain permusuhan abadi antara Prancis serta Jerman yang membawa akibat amat buruk, peristiwa-peristiwa dahsyat dalam Perang Dunia juga menunjukkan betapa merugikan kebangsaan negatif bagi umat manusia.

Pada awal masa Kebebasan di negeri kita, melalui pemikiran kebangsaan negatif terbentuk perkumpulan-perkumpulan nasionalis berbeda yang disebut banyak "klub", terutama Yunani serta Armenia, yang menjadi sebab hati-hati terpecah. Hal ini seperti bangsa-bangsa bercabang dan karena cabang itu tercerai pada waktu hancurnya benteng Babel, yang disebut "kacaunya bahasa bangsa-bangsa". Keadaan mereka yang sejak itu sampai sekarang tertelan orang asing serta menjadi kacau menunjukkan kerugian kebangsaan negatif.

Adapun sekarang, saling memandang asing serta menganggap musuh melalui pemikiran kebangsaan di antara kelompok etnis dan kabilah Islam yang paling membutuhkan satu sama lain, yang masing-masing tertindas serta miskin dan ditindas di bawah kuasa orang asing, merupakan bencana yang tidak dapat digambarkan.

Seperti orang kehilangan akal yang membalikkan punggung terhadap ular-ular dahsyat dan melawan gigitan lalat agar tidak digigitnya, pada waktu keserakahan Eropa yang tidak mengenal kenyang, seperti naga-naga besar, membuka cakar, mereka tidak diperhatikan, bahkan secara makna dibantu. Dengan pemikiran etnis negatif, permusuhan disimpan serta sikap melawan diambil terhadap warga senegeri di provinsi-provinsi timur atau saudara seagama di selatan. Selain amat banyak kerugian serta bahayanya, di antara orang-orang selatan itu tidak ada musuh yang perlu dihadapi dengan sikap melawan. Dari selatan ada cahaya Al-Qur'an, sinar Islam telah datang; ia ada di antara kita serta terdapat di setiap tempat.

Permusuhan terhadap saudara seagama itu secara tidak langsung menyentuh Islam serta Al-Qur'an. Permusuhan terhadap Islam dan Al-Qur'an merupakan sejenis permusuhan terhadap kehidupan dunia serta akhirat seluruh warga senegeri ini. Menghancurkan batu-batu dasar kedua kehidupan dengan berkata, "Aku akan melayani kehidupan bersama demi semangat membela bangsa," bukan semangat membela, melainkan kebodohan!

PERSOALAN KEEMPAT:

Kebangsaan positif berasal dari kebutuhan dalam kehidupan bersama, menjadi sebab saling membantu serta saling mendukung, menjamin kekuatan yang bermanfaat, dan menjadi sarana untuk lebih menguatkan persaudaraan Islam.

Pemikiran kebangsaan positif ini harus melayani Islam, menjadi benteng serta perisainya, dan tidak menggantikannya. Sebab, dalam persaudaraan yang diberikan Islam terdapat seribu persaudaraan; persaudaraan itu tetap kekal dalam alam yang kekal serta alam barzakh. Karena itu, sekuat apa pun persaudaraan kebangsaan, ia dapat menjadi salah satu tabirnya. Menggantikannya dengan persaudaraan kebangsaan merupakan kejahatan bodoh seperti meletakkan batu-batu benteng itu sendiri sebagai ganti khazanah berlian di dalamnya, lalu melemparkan berlian-berlian keluar.

Wahai anak-anak negeri ini yang berpegang pada Al-Qur'an! Bukan enam ratus tahun, melainkan sejak masa Abbasiyah selama seribu tahun, kalian telah menjadi pembawa panji Al-Qur'an Al-Hakîm, menantang seluruh dunia, serta mengumumkan Al-Qur'an. Kalian menjadikan kebangsaan kalian benteng bagi Al-Qur'an dan Islam, mendiamkan seluruh dunia, serta mengusir serangan-serangan dahsyat, sampai menjadi contoh indah bagi ayat

ﻳَﺎْﺗِﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺑِﻘَﻮْﻡٍ ﻳُﺤِﺒُّﻬُﻢْ ﻭَﻳُﺤِﺒُّﻮﻧَﻪُٓ ﺍَﺫِﻟَّﺔٍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨ۪ﻴﻦَ ﺍَﻋِﺰَّﺓٍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮ۪ﻳﻦَ ﻳُﺠَﺎﻫِﺪُﻭﻥَ ﻓ۪ﻰ ﺳَﺒ۪ﻴﻞِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ.

Sekarang kalian harus menghindari serta takut menjadi contoh bagi sapaan pada awal ayat ini dengan mengikuti tipu daya Eropa serta orang-orang munafik bergaya Franka!

Keadaan yang patut diperhatikan:

Meskipun bangsa Turki merupakan yang paling banyak di antara kelompok etnis Islam, orang-orang Turki di seluruh penjuru dunia adalah Muslim. Mereka tidak terbagi dua, Muslim serta bukan Muslim, seperti kelompok etnis lainnya. Di mana pun ada kelompok Turki, mereka Muslim. Orang Turki yang keluar dari Islam atau tidak Muslim juga telah keluar dari identitas Turki, seperti orang Hungaria. Padahal, bahkan dalam kelompok etnis kecil ada Muslim serta bukan Muslim.

Wahai saudara Turki! Terutama engkau, perhatikan! Kebangsaanmu telah menyatu dengan Islam, tidak dapat dipisahkan darinya. Jika engkau memisahkannya, engkau musnah! Seluruh kebanggaan masa lalumu telah tercatat dalam kitab Islam. Meskipun kebanggaan ini tidak dapat dihapus oleh kekuatan mana pun di muka bumi, jangan menghapusnya dari hatimu melalui bisikan serta tipu daya setan!

PERSOALAN KELIMA:

Bangsa-bangsa yang bangkit di Asia berpegang pada pemikiran kebangsaan serta bertindak dengan meniru Eropa persis dari setiap segi, bahkan mengorbankan banyak hal suci demi jalan tersebut. Padahal, ukuran nilai setiap bangsa memerlukan pakaian berbeda. Sekalipun jenis kainnya sama, gayanya harus berbeda-beda. Seorang perempuan tidak dikenakan pakaian polisi militer, sebagaimana seorang guru lanjut usia tidak dikenakan pakaian perempuan penari tango... Meniru membabi buta juga sering menjadi bahan tertawaan. Sebab:

Pertama: Jika Eropa merupakan toko serta barak, Asia seperti ladang serta masjid. Pemilik toko pergi menari; petani tidak dapat pergi. Keadaan barak tidak sama dengan keadaan masjid.

Kebanyakan nabi muncul di Asia, sedangkan sebagian terbesar filsuf datang di Eropa. Hal ini merupakan petunjuk tersirat serta isyarat Takdir Azali bahwa yang akan membangunkan, memajukan, serta mengatur bangsa-bangsa Asia ialah agama dan hati. Filsafat serta hikmah harus membantu agama dan hati, bukan menggantikannya.

Kedua: Membandingkan agama Islam dengan agama Kristen, lalu tidak peduli kepada agama seperti Eropa, merupakan kekeliruan amat besar. Pertama: Eropa memegang agamanya. Tokoh-tokoh besar Eropa, terutama seperti Wilson, Lloyd George, serta Venizelos, yang fanatik terhadap agama seperti pendeta, menjadi saksi bahwa Eropa memegang agamanya, bahkan dari suatu segi fanatik.

Ketiga: Membandingkan Islam dengan agama Kristen merupakan perbandingan antara dua hal yang berbeda; perbandingan itu keliru. Sebab, ketika Eropa fanatik terhadap agamanya, ia belum beradab. Ia meninggalkan fanatisme lalu menjadi beradab.

Agama juga menghasilkan perang saudara selama tiga ratus tahun di antara mereka. Karena di tangan penindas zalim ia menjadi sarana menindas orang awam, orang miskin, serta para pemikir, di antara mereka secara umum timbul sikap menjauh sementara terhadap agama.

Adapun dalam Islam, sejarah bersaksi bahwa selain satu kali, ia tidak menyebabkan perang saudara.

Setiap kali kaum Muslim sungguh-sungguh memegang agama, mereka mencapai kemajuan yang tinggi untuk masa tersebut. Saksi bagi hal ini ialah negara Islam Andalusia, guru terbesar Eropa.

Setiap kali jamaah Islam mengambil sikap tidak peduli kepada agama, mereka jatuh dalam keadaan kacau serta mundur.

Melalui ribuan persoalan penuh kasih, seperti zakat diwajibkan serta riba diharamkan, Islam melindungi orang miskin dan orang awam. Melalui ungkapan-ungkapan seperti

اَفَلَا ﻳَﻌْﻘِﻠُﻮﻥَ ٭ اَفَلَا ﻳَﺘَﻔَﻜَّﺮُﻭﻥَ ٭ اَفَلَا ﻳَﺘَﺪَﺑَّﺮُﻭﻥَ,

ia memanggil akal serta ilmu sebagai saksi, membangunkannya, serta melindungi ahli ilmu. Karena itu, Islam selalu menjadi benteng serta tempat berlindung orang miskin dan ahli ilmu. Tidak ada sebab apa pun untuk menjauh dari Islam.

Rahasia hikmah perbedaan Islam dari Kristen serta agama-agama lain ialah:

Dasar Islam adalah tauhid semata. Ia tidak memberikan pengaruh hakiki kepada perantara serta sebab-sebab, ataupun nilai kepada mereka dari segi menciptakan serta kedudukan.

Adapun Kristen, karena mengakui gagasan adanya anak bagi Allah سُبْحَانَهُ, memberi nilai kepada perantara serta sebab-sebab, dan tidak mematahkan ananiyah. Seakan-akan ia memberikan satu manifestasi pemeliharaan serta penguasaan Allah سُبْحَانَهُ kepada orang-orang suci dan tokoh-tokoh besarnya. Mereka menjadi contoh bagi ayat

ﺍِﺗَّﺨَﺬُٓﻭﺍ ﺍَﺣْﺒَﺎﺭَﻫُﻢْ ﻭَﺭُﻫْﺒَﺎﻧَﻬُﻢْ ﺍَﺭْﺑَﺎﺑًﺎ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ.

Karena itu, orang Kristen yang berada pada derajat tertinggi di dunia, seperti mantan Presiden Amerika Wilson, dapat menjadi orang beragama yang fanatik sekaligus mempertahankan sikap sombong serta ananiyah mereka.

Dalam Islam, agama tauhid semata, mereka yang berada pada derajat duniawi tinggi harus meninggalkan ananiyah serta sikap sombong, atau meninggalkan pada suatu kadar ketaatan beragama. Karena itu, sebagian tidak peduli, bahkan menjadi tanpa agama.

PERSOALAN KEENAM:

Kepada mereka yang berlebihan dalam kebangsaan negatif serta pemikiran rasial, kami berkata:

Pertama:

Muka dunia ini, terutama negeri kita, sejak zaman dahulu mengalami banyak perpindahan penduduk serta perubahan. Setelah pusat pemerintahan Islam didirikan di tanah air ini, banyak orang dari bangsa-bangsa lain datang ke dalamnya seperti ngengat lalu menetap. Dalam keadaan ini, hanya jika Lauh Mahfuz dibuka, kelompok etnis yang sejati dapat dipisahkan satu sama lain.

Karena itu, mendasarkan tindakan serta semangat membela pada pemikiran etnis sejati tidak bermakna dan amat merugikan. Karena itulah, seorang di antara pemimpin nasionalis negatif serta pencinta pemikiran etnis yang sangat tidak peduli terhadap agama terpaksa berkata, "Jika bahasa dan agama satu, bangsa satu." Karena demikian, yang harus dipandang bukan etnis sejati, melainkan hubungan bahasa, agama, serta tanah air. Jika ketiganya satu, memang bangsa itu kuat. Jika satu kurang, ia tetap termasuk lingkup kebangsaan.

Kedua:

Dari ratusan manfaat yang diberikan kebangsaan suci Islam kepada kehidupan bersama anak-anak negeri ini, kami akan menjelaskan dua manfaat sebagai contoh:

Pertama:

Ketika negara Islam ini berpenduduk dua puluh sampai tiga puluh juta, yang membuatnya menjaga kehidupan serta wujudnya terhadap negara-negara besar seluruh Eropa ialah pemikiran yang datang dari cahaya Al-Qur'an dalam pasukan negara ini: "Jika aku mati, aku syahid; jika aku membunuh, aku ghazi." Dengan semangat serta cinta sepenuhnya, pasukan itu menyambut wajah kematian dengan tersenyum. Pasukan itu selalu membuat Eropa gemetar. Adakah sesuatu di dunia yang dapat ditunjukkan, yang akan menjadi sebab pengorbanan luhur seperti ini dalam ruh para prajurit yang berpikir sederhana serta berhati murni? Semangat membela apa yang dapat menggantikannya, serta membuat orang mengorbankan kehidupan dan seluruh dunianya dengan cinta?

Kedua:

Setiap kali naga-naga Eropa, yakni negara-negara besar, menampar negara Islam ini, mereka membuat tiga ratus lima puluh juta Muslim menangis serta merintih. Para pemilik jajahan itu menarik tangan serta menurunkannya ketika akan mengangkat tangan agar tidak membuat mereka merintih dan meratap. Kekuatan apa yang dapat menggantikan kekuatan pendukung rohani yang terus berlangsung ini, yang tidak dapat dianggap kecil dari segi apa pun? Tunjukkanlah! Ya, kekuatan pendukung rohani yang agung itu tidak seharusnya disakiti melalui kebangsaan negatif serta semangat membela yang menganggap diri tidak membutuhkan orang lain!

PERSOALAN KETUJUH:

Kepada mereka yang menunjukkan semangat membela berlebihan dalam kebangsaan negatif, kami berkata: Jika kalian sungguh-sungguh mencintai serta mengasihani bangsa ini, bawalah semangat membela yang dianggap sebagai kasih bagi sebagian terbesar mereka. Sebaliknya, melayani kehidupan bersama yang sementara serta melalaikan dari sedikit orang yang tidak membutuhkan kasih, dengan cara tidak mengasihani sebagian terbesar bangsa, bukan semangat membela.

Sebab, semangat membela melalui pemikiran etnis negatif dapat memberi manfaat sementara kepada dua dari delapan bagian bangsa. Mereka memperoleh kasih semangat membela itu yang tidak layak mereka terima. Enam dari delapan bagian itu adalah orang lanjut usia, sakit, tertimpa musibah, anak-anak, amat lemah, atau orang bertakwa yang memikirkan akhirat dengan amat sungguh-sungguh. Mereka menginginkan cahaya, penghiburan, serta kasih bagi kehidupan barzakh dan akhirat, yang lebih mereka tuju daripada kehidupan dunia, serta membutuhkan tangan-tangan diberkahi yang mempunyai semangat membela. Semangat membela mana yang mengizinkan cahaya mereka dipadamkan serta penghiburan mereka dipatahkan? Betapa jauh! Di mana kasih kepada bangsa, di mana pengorbanan demi bangsa?

Tidak boleh berputus asa dari Rahmat Allah سُبْحَانَهُ. Sebab, inşâallah Allah سُبْحَانَهُ tidak akan mengacaukan pasukan megah serta jamaah agung warga senegeri ini melalui gangguan sementara, setelah selama seribu tahun mempekerjakannya dalam khidmah Al-Qur'an serta menunjuknya sebagai pembawa panji. Dia akan kembali menyalakan cahaya itu serta meneruskan tugasnya...

PEMBAHASAN KEEMPAT

Peringatan:

Sebagaimana empat pembahasan Surat Kedua Puluh Enam tidak berkaitan satu sama lain, sepuluh persoalan Pembahasan Keempat ini juga tidak berkaitan satu sama lain. Karena itu, hubungan tidak perlu dicari. Sebagaimana datang, demikian ditulis. Ini bagian dari surat yang dikirim kepada seorang murid penting, berupa jawaban atas lima-enam pertanyaan murid itu.

PERTAMA

Kedua:

Dalam suratmu engkau berkata bahwa pada ungkapan serta tafsir ﺭَﺏُّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ mereka mengatakan "delapan belas ribu alam". Engkau bertanya tentang hikmah jumlah itu.

Saudaraku, sekarang aku tidak mengetahui hikmah jumlah tersebut. Namun, aku berkata sebatas ini: Kalimat-kalimat Al-Qur'an Al-Hakîm tidak terbatas pada satu makna. Karena menyapa seluruh golongan umat manusia, setiap kalimat bersifat menyeluruh serta memuat satu makna bagi setiap golongan. Makna-makna yang dijelaskan seperti bagian-bagian dari kaidah menyeluruh tersebut. Setiap mufasir serta orang yang memperoleh makrifat menyebut satu bagian dari yang menyeluruh itu. Dengan bersandar pada apa yang disingkapnya, dalilnya, ataupun jalannya, ia mengutamakan satu makna. Dalam hal ini pun, satu kelompok telah menyingkap makna yang sesuai dengan jumlah itu.

Misalnya, dalam kalimat

ﻣَﺮَﺝَ ﺍﻟْﺒَﺤْﺮَﻳْﻦِ ﻳَﻠْﺘَﻘِﻴَﺎﻥِ ٭ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻤَﺎ ﺑَﺮْﺯَﺥٌ لَا ﻳَﺒْﻐِﻴَﺎﻥِ

yang disebut serta diulang dengan penuh perhatian oleh para wali dalam wirid mereka, ada bagian-bagian maknanya mulai dari lautan pemeliharaan serta penguasaan Allah سُبْحَانَهُ dan lautan ubudiyah dalam lingkup yang wajib ada serta lingkup yang mungkin ada; sampai lautan dunia dan akhirat; lautan alam gaib dan alam yang disaksikan; samudra di timur dan barat, utara dan selatan; Laut Rum dan laut Persia; Laut Tengah, Laut Hitam, serta selatnya—tempat ikan bernama mercan keluar; Laut Tengah, Laut Merah, serta Terusan Suez; lautan air tawar dan asin; lautan air tawar yang terpisah di bawah lapisan tanah serta lautan asin yang tersambung di atasnya; sampai lautan tawar kecil yang disebut sungai besar, seperti Nil, Tigris, serta Efrat, dan lautan asin besar tempat sungai-sungai itu bercampur. Semuanya dapat dimaksudkan serta dituju, dan merupakan makna hakiki serta majasinya.

Seperti itu,

ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ

juga mencakup banyak hakikat. Ahli kasyaf serta hakikat menjelaskannya secara berbeda sesuai apa yang mereka singkap.

Aku pun memahami demikian: Di langit ada ribuan alam. Sebagian bintang masing-masing dapat merupakan satu alam. Di bumi, setiap jenis makhluk juga satu alam. Bahkan, setiap manusia pun alam kecil. Ungkapan ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ berarti, "Setiap alam langsung diurus, dipelihara, serta diatur melalui pemeliharaan dan penguasaan Allah سُبْحَانَهُ."

Ketiga:

Rasul Yang Paling Mulia ﷺ bersabda:

ﺍِﺫَﺍ ﺍَﺭَﺍﺩَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺑِﻘَﻮْﻡٍ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﺍَﺑْﺼَﺮَﻫُﻢْ ﺑِﻌُﻴُﻮﺏِ ﺍَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ

Dalam Al-Qur'an Al-Hakîm, Nabi Yusuf aleyhisselâm berkata:

ﻭَﻣَٓﺎ ﺍُﺑَﺮِّﺉُ ﻧَﻔْﺴ۪ﻰ ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻨَّﻔْﺲَ لَاَمَّارَةٌ ﺑِﺎﻟﺴُّٓﻮﺀِ

Ya, orang yang mengagumi serta mempercayai nafsunya malang. Orang yang melihat cacat nafsunya berbahagia. Karena itu, engkau berbahagia. Namun, kadang nafsu ammarah berubah menjadi nafsu lawwamah atau mutmainah, tetapi menyerahkan senjata serta perangkatnya kepada saraf. Saraf serta kecenderungan-kecenderungan itu menjalankan tugas tersebut sampai akhir umur. Meskipun nafsu ammarah telah lama mati, pengaruhnya tetap terlihat.

Ada orang suci serta wali amat besar yang mengeluhkan nafsu ammarah ketika jiwa mereka telah mutmainah. Mereka meratap karena penyakit hati ketika hati mereka amat sehat serta bercahaya. Jadi, yang ada pada tokoh-tokoh ini bukan nafsu ammarah, melainkan tugas nafsu ammarah yang diserahkan kepada saraf.

Penyakit itu bukan pada hati, melainkan dalam khayalan. İnşâallah, saudaraku yang mulia, yang menyerang kalian bukan nafsu serta penyakit hati kalian, melainkan, sebagaimana kami katakan, keadaan yang dari segi manusia beralih kepada saraf agar perjuangan terus berlangsung, dan menjadi sebab kemajuan yang terus-menerus.

PERSOALAN KEDUA

Penjelasan tiga persoalan yang ditanyakan guru lama terdapat dalam bagian-bagian Risale-i Nur. Untuk sekarang kami akan memberikan isyarat ringkas:

Pertanyaan Pertamanya:

Dalam suratnya kepada Fakhruddin Ar-Razi, Muhyiddin Ibnu Arabi berkata, "Mengenal Allah سُبْحَانَهُ berbeda dari mengetahui bahwa Dia ada." Ia bertanya, apakah artinya dan apa maksudnya?

Pertama:

Contoh serta perumpamaan mengenai perbedaan tauhid hakiki dan tauhid lahiriah dalam Pendahuluan Kalimat Kedua Puluh Dua yang engkau bacakan kepadanya mengisyaratkan maksudnya. Bagian Kedua serta Ketiga beserta Tujuan-Tujuannya dalam Kalimat Ketiga Puluh Dua menjelaskan maksud tersebut.

Kedua:

Karena penjelasan para imam ilmu usuluddin serta ulama ilmu kalam mengenai akidah, adanya Wâjibul Wujûd, serta tauhid Ilahi tidak mencukupi dalam pandangan Muhyiddin Ibnu Arabi, ia berkata demikian kepada Fakhruddin Ar-Razi, salah seorang imam ilmu kalam.

Ya, makrifat kepada Allah سُبْحَانَهُ yang diperoleh melalui ilmu kalam tidak memberikan makrifat sempurna serta rasa hadir sepenuhnya di hadapan⁠-⁠Nya. Ketika dengan cara Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya, ia memberikan makrifat penuh serta rasa hadir yang paling sempurna. inşâallah, seluruh bagian Risale-i Nur menjalankan khidmah sebagai lampu-lampu listrik di jalan bercahaya Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya itu.

Sebesar kekurangan makrifatullah Fakhruddin Ar-Razi yang diperolehnya melalui ilmu kalam dalam pandangan Muhyiddin Ibnu Arabi, sebesar itu pula kekurangan makrifat yang diperoleh melalui jalan tasawuf dibandingkan dengan makrifat yang diperoleh langsung dari Al-Qur'an Al-Hakîm melalui rahasia mewarisi kenabian. Sebab, untuk memperoleh rasa terus hadir di hadapan⁠-⁠Nya, jalan Muhyiddin Ibnu Arabi sampai pada cara yang mengingkari bahwa kainat ada dengan berkata

لَا ﻣَﻮْﺟُﻮﺩَ اِلَّا ﻫُﻮَ.

Yang lain pun, untuk memperoleh rasa terus hadir itu, memasuki cara menakjubkan seperti melupakan kainat sepenuhnya dengan berkata

لَا ﻣَﺸْﻬُﻮﺩَ اِلَّا ﻫُﻮَ.

Adapun makrifat yang diperoleh dari Al-Qur'an Al-Hakîm, selain memberikan rasa terus hadir di hadapan⁠-⁠Nya, tidak menghukum kainat menjadi tidak ada ataupun memenjarakannya dalam lupa sepenuhnya. Justru ia mengeluarkannya dari keadaan tanpa kendali lalu mempekerjakannya atas nama Allah سُبْحَانَهُ. Setiap sesuatu menjadi cermin makrifat. Seperti perkataan Sa'di Asy-Syirazi,

ﺩَﺭْ ﻧَﻈَﺮِ ﻫُﻮﺷِﻴَﺎﺭْ ﻫَﺮْ ﻭَﺭَﻗ۪ﻰ ﺩَﻓْﺘَﺮ۪ﻳﺴْﺖْ ﺍَﺯْ ﻣَﻌْﺮِﻓَﺖِ ﻛِﺮْﺩِﮔَﺎﺭْ,

ia membuka jendela makrifat kepada Allah سُبْحَانَهُ pada setiap sesuatu.

Dalam beberapa Kalimat, mengenai perbedaan jalan ulama ilmu kalam dengan jalan hakiki yang diperoleh dari Al-Qur'an, kami memberikan perumpamaan berikut: Untuk membawa air, sebagian orang menggali di bawah gunung dari tempat jauh dengan pipa air. Sebagian lain menggali sumur di setiap tempat dan mengeluarkan air. Cara pertama amat sulit, tersumbat, serta terputus. Namun, sebagaimana orang yang mampu menggali sumur dan mengeluarkan air di setiap tempat menemukannya tanpa kesulitan, demikian pula ulama ilmu kalam memutus sebab-sebab pada ujung alam melalui dalil bahwa rangkaian sebab tanpa akhir serta hubungan sebab yang melingkar mustahil, kemudian melalui itu meneguhkan bahwa Wâjibul Wujûd ada. Jalan panjang ditempuh.

Adapun jalan hakiki Al-Qur'an Al-Hakîm menemukan serta mengeluarkan air di setiap tempat. Setiap ayatnya seperti tongkat Musa; di mana pun memukul, ia memancarkan air kehidupan. Ia membuat setiap sesuatu membaca kaidah

ﻭَ ﻓ۪ﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻟَﻪُ ﺍٰﻳَﺔٌ ﺗَﺪُﻝُّ ﻋَﻠٰﻰ ﺍَﻧَّﻪُ ﻭَﺍﺣِﺪٌ.

Iman juga bukan hanya melalui ilmu; banyak perangkat rohani halus mempunyai bagian dalam iman. Sebagaimana ketika makanan masuk ke perut, makanan itu dibagi serta disebarkan ke beragam saraf dengan cara berbeda, persoalan iman yang datang melalui ilmu pun, setelah masuk ke perut akal, diambil dan diserap bagiannya oleh ruh, hati, rahasia batin, nafsu, serta perangkat rohani halus lainnya sesuai derajat serta keadaan masing-masing. Jika mereka tidak mempunyai bagian, ia kurang.

Muhyiddin Ibnu Arabi mengingatkan segi ini kepada Fakhruddin Ar-Razi.

PERSOALAN KETIGA

Bagaimana ayat

ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﻛَﺮَّﻣْﻨَﺎ ﺑَﻨ۪ٓﻰ ﺍٰﺩَﻡَ

disesuaikan dengan ayat

ﺍِﻧَّﻪُ ﻛَﺎﻥَ ﻇَﻠُﻮﻣًﺎ جَهُولًا?

Jawaban:

Penjelasannya terdapat dalam Kalimat Kesebelas, Kalimat Kedua Puluh Tiga, serta Buah Kedua Cabang Kelima Kalimat Kedua Puluh Empat. Rahasia ringkasnya ialah:

Sebagaimana Allah سُبْحَانَهُ melalui Kudrat⁠-⁠Nya yang sempurna membuat banyak hal dari satu sesuatu, membuatnya menjalankan banyak tugas, serta menulis seribu kitab pada satu lembaran, Dia juga menciptakan manusia sebagai satu jenis menyeluruh yang menempati banyak jenis. Yakni, Dia menghendaki tugas-tugas sebanyak derajat berbeda seluruh jenis hewan dijalankan melalui manusia, yang merupakan satu jenis saja. Karena itu, Dia tidak meletakkan batas fitrah pada daya serta perasaan manusia, tidak memberi ikatan fitrah, serta membiarkannya bebas. Daya serta perasaan hewan lain terbatas, berada di bawah ikatan fitrah.

Padahal, setiap daya manusia menuju sisi tanpa akhir, seakan-akan berkeliling dalam jarak tiada batas. Sebab, karena manusia merupakan cermin tajalli tak terbatas Asma Sang Khâliq kainat, kemampuan tiada batas diberikan kepada daya-dayanya.

Misalnya, melalui keserakahan, jika seluruh dunia diberikan kepada manusia, ia akan berkata ﻫَﻞْ ﻣِﻦْ ﻣَﺰ۪ﻳﺪٍ. Melalui sikap mementingkan diri, ia juga rela membiarkan ribuan orang menderita kerugian demi manfaatnya sendiri, dan demikian seterusnya... Sebagaimana ia tumbuh tanpa batas dalam akhlak buruk, sampai mencapai derajat Namrud serta Firaun, dan menjadi amat zalim dalam bentuk ungkapan yang sangat menegaskan, dalam akhlak baik pun ia memperoleh kemajuan tak terhitung dan maju sampai derajat nabi serta siddiq.

Manusia, berlawanan dengan hewan, juga tidak mengetahui segala yang diperlukan hidup serta harus mempelajari semuanya. Karena membutuhkan benda-benda tak terhitung, dalam bentuk ungkapan yang sangat menegaskan ia amat tidak tahu. Adapun hewan, ketika datang ke dunia, membutuhkan sedikit hal dan mempelajari seluruh syarat hidup yang diperlukannya dalam satu-dua bulan, bahkan satu-dua hari, kadang satu-dua jam. Seakan-akan ia telah sempurna dalam alam lain, kemudian datang demikian. Manusia baru dapat berdiri dalam satu-dua tahun, dan baru membedakan manfaat serta kerugian dalam lima belas tahun.

Penegasan "amat tidak tahu" juga mengisyaratkan hal ini.