Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Surat Kedua Puluh

Surat-Surat · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

Surat Kedua Puluh

ﺑِﺎﺳْﻤِﻪ۪ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻭَ ﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪ ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﺣْﺪَﻩُ لَا ﺷَﺮ۪ﻳﻚَ ﻟَﻪُ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚُ ﻭَ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻳُﺤْﻴ۪ﻰ ﻭَ ﻳُﻤ۪ﻴﺖُ ﻭَ ﻫُﻮَ ﺣَﻰٌّ لَا ﻳَﻤُﻮﺕُ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮُ ﻭَ ﻫُﻮَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ ﻭَ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺍﻟْﻤَﺼ۪ﻴﺮُ

Pengulangan kalimat tauhid ini setelah salat Subuh serta Magrib mempunyai banyak keutamaan. Menurut sebuah riwayat sahih, kalimat ini membawa derajat Ismul A'zham. Kalimat ini mempunyai sebelas kata. Dalam setiap katanya terdapat suatu kabar gembira serta berita baik, juga suatu derajat tauhid dalam pemeliharaan serta penguasaan Allah سُبْحَانَهُ atas segala sesuatu, juga pada segi Ismul A'zham terdapat Kebesaran Keesaan dan Kesempurnaan Keesaan⁠-⁠Nya.

Dengan merujukkan penjelasan hakikat-hakikat besar serta luhur ini kepada Kalimat-Kalimat lain, berdasarkan sebuah janji, untuk sekarang kami akan membuat daftar baginya dalam bentuk uraian ringkas berupa "Dua Bagian" serta satu "Pendahuluan".

PENDAHULUAN

Ketahuilah dengan pasti: Tujuan tertinggi penciptaan serta hasil paling luhur fitrah ialah iman kepada Allah سُبْحَانَهُ. Derajat tertinggi manusia serta kedudukan terbesar umat manusia ialah makrifatullah dalam iman kepada Allah سُبْحَانَهُ itu. Kebahagiaan paling bersinar serta nikmat paling manis bagi jin dan manusia ialah cinta kepada Allah سُبْحَانَهُ dalam makrifatullah itu. Kegembiraan paling tulus bagi ruh manusia serta sukacita paling murni bagi hatinya ialah kenikmatan rohani dalam cinta kepada Allah سُبْحَانَهُ itu.

Ya, seluruh kebahagiaan hakiki, kegembiraan tulus, nikmat manis, serta kenikmatan murni tentu terdapat dalam makrifatullah dan cinta kepada Allah سُبْحَانَهُ. Semua itu tidak dapat ada tanpa keduanya. Orang yang mengenal serta mencintai Allah سُبْحَانَهُ memperoleh kebahagiaan, nikmat, cahaya, serta rahasia yang tiada batas, baik dalam bentuk potensi maupun secara nyata. Orang yang tidak benar-benar mengenal serta mencintai⁠-⁠Nya tertimpa kesengsaraan, rasa sakit, serta sangkaan yang tiada batas, secara rohani maupun jasmani.

Ya, di dunia yang kacau ini, di tengah umat manusia yang mengembara tanpa arah, dalam hidup yang tidak berbuah, tanpa pemilik serta pelindung, apalah nilai seorang manusia tidak berdaya dan lemah, sekalipun ia menjadi sultan seluruh dunia? Setiap orang memahami betapa manusia menjadi malang serta kebingungan jika di tengah umat manusia yang mengembara tanpa arah dan dalam dunia fana yang kacau ini ia tidak mengenal Pemiliknya serta tidak menemukan Penguasanya. Jika ia menemukan Pemiliknya serta mengenal Penguasanya, ketika itu ia berlindung pada Rahmat⁠-⁠Nya dan bersandar pada Kudrat⁠-⁠Nya. Dunia yang merupakan tempat menakutkan itu berubah menjadi tempat wisata serta tempat berniaga.

BAGIAN PERTAMA

Dalam masing-masing dari sebelas kata kalimat tauhid ini terdapat suatu kabar gembira. Dalam setiap kabar gembira itu terdapat obat penyembuh, dan dalam obat penyembuh itu terdapat kenikmatan rohani.

KALIMAT PERTAMA

Dalam

لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ

terdapat kabar gembira demikian:

Ruh manusia, yang tertimpa kebutuhan tak terhitung serta menjadi sasaran serangan musuh yang tiada batas, menemukan tempat meminta pertolongan dalam kata ini, yang membukakan baginya pintu khazanah Rahmat untuk memenuhi seluruh kebutuhannya. Ia juga menemukan tempat bersandar yang memperkenalkan serta memberitahukan kepadanya Ma'bûd dan Sang Khâliq-nya sendiri, Pemilik Kudrat mutlak yang akan membuatnya aman dari kejahatan seluruh musuhnya; menunjukkan Pemiliknya, serta memperlihatkan siapa Penguasanya. Dengan memperlihatkan itu, kata ini menyelamatkan hati dari rasa takut tanpa batas serta ruh dari kesedihan pedih, lalu menjamin rasa lega yang abadi dan kegembiraan yang terus berlangsung.

KALIMAT KEDUA

ﻭَﺣْﺪَﻩُ

Dalam kata ini terdapat kabar gembira yang menyembuhkan serta membawa kebahagiaan. Yaitu:

Ruh serta hati manusia yang berkaitan dengan kebanyakan jenis makhluk dalam kainat, dan karena hubungan itu menjadi kacau sampai hampir tenggelam dalam kekacauan, menemukan tempat berlindung serta penyelamat dalam kata ﻭَﺣْﺪَﻩُ yang menyelamatkannya dari seluruh kekacauan dan kesusahan tersebut. Yakni, ﻭَﺣْﺪَﻩُ secara makna berkata:

Allah سُبْحَانَهُ Esa. Jangan lelah dengan berpaling kepada hal-hal lain; jangan merendahkan diri serta merasa berutang budi kepada mereka; jangan menjilat serta membungkuk kepada mereka; jangan bersusah payah dengan mengejar mereka; jangan takut serta gemetar karena mereka. Sebab, Sang Sultan kainat Esa; kunci segala sesuatu berada di sisi⁠-⁠Nya, dan kendali segala sesuatu berada di tangan⁠-⁠Nya. Segala sesuatu diselesaikan dengan Perintah⁠-⁠Nya. Jika engkau menemukan⁠-⁠Nya, engkau telah menemukan segala yang engkau cari; engkau selamat dari rasa berutang budi serta rasa takut yang tak terhitung.

KALIMAT KETIGA

لَا ﺷَﺮ۪ﻳﻚَ ﻟَﻪُ

Yakni, sebagaimana Dia tidak mempunyai sekutu sebagai Sesembahan dan dalam Kekuasaan⁠-⁠Nya—Allah سُبْحَانَهُ itu Esa, tidak mungkin banyak—Dia juga tidak mempunyai sekutu dalam memelihara, menguasai, bertindak, serta menciptakan. Kadang seorang sultan itu tunggal dan tidak mempunyai sekutu dalam kekuasaannya, tetapi para petugasnya dianggap sebagai sekutunya dalam menjalankan tindakan, lalu menghalangi setiap orang masuk ke hadapannya. Mereka berkata, "Berpalinglah kepada kami juga." Namun, Allah سُبْحَانَهُ, Sang Sultan dari azali sampai abadi, sebagaimana tidak mempunyai sekutu dalam Kekuasaan⁠-⁠Nya, juga tidak memerlukan pembantu ataupun sekutu dalam tindakan⁠-⁠Nya memelihara dan menguasai segala sesuatu. Tanpa Perintah, Kehendak, Daya, serta Kekuatan⁠-⁠Nya, tidak satu pun dapat turut campur dalam sesuatu. Setiap orang dapat langsung berpaling kepada⁠-⁠Nya. Karena Dia tidak mempunyai sekutu serta pembantu, orang yang berpaling itu tidak akan diberi tahu, "Dilarang; engkau tidak dapat masuk ke hadapan⁠-⁠Nya."

Kata ini memberikan kabar gembira kepada ruh manusia demikian:

Ruh manusia yang memperoleh iman dapat, tanpa hambatan, campur tangan, penghalang, ataupun larangan, dalam setiap keadaan, setiap keinginan, setiap saat, serta setiap tempat, masuk ke hadapan Sang Jamîl Dzul-Jalâl, Sang Qadîr Dzul-Kamâl, Pemilik azali serta abadi, khazanah Rahmat, dan harta simpanan kebahagiaan, lalu menyampaikan kebutuhannya. Dengan menemukan Rahmat⁠-⁠Nya serta bersandar pada Kudrat⁠-⁠Nya, ia dapat memperoleh rasa lega dan kegembiraan yang sempurna.

KALIMAT KEEMPAT

ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚُ

Yakni, seluruh milik adalah milik⁠-⁠Nya. Engkau pun milik⁠-⁠Nya, hamba yang dimiliki⁠-⁠Nya, serta bekerja dalam wilayah milik⁠-⁠Nya.

Kata ini memberikan kabar gembira yang menyembuhkan demikian, dan berkata:

Wahai manusia! Jangan menganggap dirimu sebagai pemilik dirimu sendiri. Sebab, engkau tidak dapat mengurus dirimu; beban itu berat. Engkau tidak dapat menjaga dirimu seorang diri, menghindari bencana, serta memenuhi kebutuhanmu. Karena itu, jangan tertimpa derita sia-sia serta tersiksa; milik itu milik Yang Lain. Sang Pemilik itu Qadîr sekaligus Rahîm; bersandarlah pada Kudrat⁠-⁠Nya, jangan mencurigai Rahmat⁠-⁠Nya. Tinggalkan kesusahan, nikmatilah hidup. Lepaskan kesulitan, temukan ketenteraman.

Ia juga berkata: Kainat ini, yang engkau cintai secara rohani serta berhubungan dengannya, yang kekacauannya membuatmu sedih tetapi tidak mampu engkau perbaiki, merupakan milik Sang Qadîr yang Rahîm. Serahkan milik itu kepada Pemiliknya, biarkan Dia mengurusnya; nikmatilah kesenangannya, jangan menanggung siksaannya. Dia Hakîm sekaligus Rahîm. Dia mengelola serta memutarnya sebagaimana dikehendaki⁠-⁠Nya. Ketika engkau merasa takut, katakan seperti Ibrahim Hakkı, "Mari kita lihat apa yang Maulâ lakukan / Apa pun yang Dia lakukan, Dia melakukannya dengan indah." Pandanglah melalui jendela-jendela; jangan masuk ke dalamnya.

KALIMAT KELIMA

ﻭَ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ

Yakni, puji dan sanjungan, pujian serta rasa berutang budi khusus bagi⁠-⁠Nya dan layak bagi⁠-⁠Nya. Jadi, nikmat-nikmat itu milik⁠-⁠Nya serta berasal dari khazanah⁠-⁠Nya. Adapun khazanah itu terus ada.

Kata ini memberikan kabar gembira demikian, dan berkata:

Wahai manusia! Jangan menderita karena nikmat lenyap. Sebab, khazanah Rahmat tidak habis. Jangan pula memikirkan kenikmatan yang lenyap lalu berteriak karena kepedihannya.

Sebab, buah nikmat itu merupakan hasil Rahmat yang tiada batas. Jika pohonnya kekal, sekalipun buah pergi, ada buah lain yang menggantikannya. Dalam kenikmatan nikmat itu, dengan memikirkan melalui puji suatu Perhatian Rahmat yang seratus kali lebih nikmat daripada kenikmatan tersebut, engkau dapat segera menjadikan kenikmatan itu seratus kali lipat. Sebagaimana seorang padisyah yang agung, dalam kenikmatan sebuah apel yang dihadiahkannya kepadamu, membuatmu merasakan serta menganugerahkan kepadamu kenikmatan perhatian seorang raja yang melebihi kenikmatan seratus, bahkan seribu apel. Demikian pula, melalui kata ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ, yakni melalui puji serta syukur, yakni dengan merasakan Pemberian nikmat dari nikmat itu, yakni dengan mengenal Sang Pemberi Nikmat serta memikirkan Pemberian⁠-⁠Nya, yakni dengan memikirkan Perhatian Rahmat⁠-⁠Nya, Kasih yang ditujukan⁠-⁠Nya, serta Pemberian nikmat⁠-⁠Nya yang terus berlangsung, kata ini membukakan bagimu pintu kenikmatan rohani yang seribu kali lebih lezat daripada nikmat itu.

KALIMAT KEENAM

ﻳُﺤْﻴ۪ﻰ

Yakni, Dialah yang memberikan kehidupan. Dialah pula yang memelihara kehidupan dengan rezeki. Dialah juga yang menyediakan kebutuhan-kebutuhan hidup. Tujuan-tujuan luhur kehidupan adalah milik⁠-⁠Nya dan hasil-hasil pentingnya mengarah kepada⁠-⁠Nya; sembilan puluh sembilan persen buahnya adalah milik⁠-⁠Nya.

Kata ini menyeru manusia yang fana serta tidak berdaya demikian, memberikan kabar gembira, dan berkata:

Wahai manusia! Jangan mengambil kewajiban-kewajiban berat kehidupan ke pundakmu lalu bersusah payah. Jangan memikirkan hidup yang akan lenyap lalu bersedih. Jangan hanya melihat buah-buah duniawinya yang remeh lalu menyesali kedatanganmu ke dunia. Justru mesin kehidupan dalam kapal wujudmu itu adalah milik Al-Hayy Al-Qayyûm. Dia menyediakan biaya serta kebutuhannya. Kehidupan itu mempunyai amat banyak tujuan serta hasil, dan semua itu adalah milik⁠-⁠Nya. Engkau hanyalah seorang prajurit yang menjadi juru mudi dalam kapal itu. Jalankan tugasmu dengan baik, ambil upahmu, nikmatilah hidup. Pikirkan betapa berharga kapal kehidupan itu, betapa indah manfaat yang diberikannya, serta betapa Karîm dan Rahîm Zat yang menjadi Pemilik kapal itu. Bergembiralah dan bersyukurlah. Pahamilah bahwa ketika engkau menjalankan tugasmu dengan lurus, seluruh hasil yang diberikan kapal itu, dari suatu segi, tercatat dalam kitab amalmu, menjamin bagimu kehidupan yang kekal, serta memberimu hidup abadi.

KALIMAT KETUJUH

ﻭَ ﻳُﻤ۪ﻴﺖُ

Yakni, Dialah yang memberikan kematian. Yakni, Dia membebaskanmu dari tugas kehidupan, memindahkan tempatmu dari dunia fana, dan memerdekakanmu dari beban khidmah. Yakni, Dia mengambilmu dari kehidupan fana menuju kehidupan yang kekal. Kata ini menyeru jin serta manusia yang fana demikian, dan berkata:

Kabar gembira bagi kalian! Kematian bukan pemusnahan, bukan menjadi nihil, bukan lenyap, bukan musnah, bukan padam, bukan perpisahan abadi, bukan menjadi tidak ada, bukan kebetulan, dan bukan lenyap tanpa pelaku. Justru ia merupakan pembebasan dari tugas serta perpindahan tempat oleh Sang Pelaku Yang Hakîm lagi Rahîm. Ia merupakan perjalanan menuju kebahagiaan abadi, menuju tanah air asal mereka. Ia merupakan pintu pertemuan ke alam barzakh, tempat berkumpulnya sembilan puluh sembilan persen orang tercinta.

KALIMAT KEDELAPAN

ﻭَ ﻫُﻮَ ﺣَﻰٌّ لَا ﻳَﻤُﻮﺕُ

Yakni, Sang Ma'bûd yang tidak pernah lenyap, Sang Kekasih yang tidak pernah sirna, mempunyai Kehidupan yang terus berlangsung dari azali sampai abadi, yang suci dari noda sirna serta lenyap dan bebas dari gangguan kekurangan serta cacat. Dia memiliki Keindahan, Kesempurnaan, serta Kebaikan yang jauh melampaui kesempurnaan, keelokan, serta kebaikan yang terlihat pada segala yang ada dalam seluruh kainat, yang menjadi sarana cinta. Satu manifestasi Keindahan⁠-⁠Nya saja cukup sebagai pengganti seluruh kekasih.

Kata ini mengumumkan kepada jin dan manusia, seluruh makhluk yang sadar, serta orang-orang yang mencintai dan merindukan, bahwa:

Kabar gembira bagi kalian! Kalian mempunyai Sang Kekasih Yang Kekal, yang mengobati serta mengoleskan salep pada luka-luka akibat perpisahan yang tiada batas dari orang-orang tercinta kalian. Karena Dia ada dan Kekal, jangan khawatir apa pun yang terjadi pada yang lain. Justru keelokan, kebaikan, karunia, serta kesempurnaan yang menjadi sebab cinta kalian pada kekasih-kekasih itu hanyalah bayangan dari bayangan yang amat lemah, yang melewati banyak tabir dari manifestasi Keindahan Yang Kekal Sang Kekasih Yang Kekal itu. Jangan sampai lenyapnya mereka menyakiti kalian. Sebab, mereka adalah semacam cermin. Pergantian cermin memperbarui serta memperindah manifestasi kemilau Keindahan. Karena Dia ada, segala sesuatu ada.

KALIMAT KESEMBILAN

ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮُ

Yakni, segala kebaikan berada di tangan⁠-⁠Nya. Setiap kebaikan yang kalian lakukan tercatat dalam kitab⁠-⁠Nya. Setiap amal saleh yang kalian kerjakan dicatat di sisi⁠-⁠Nya.

Kata ini menyeru jin serta manusia, memberikan kabar gembira, dan berkata:

Wahai orang-orang malang! Ketika kalian berpindah ke pekuburan, jangan berkata, "Celaka! Harta kita hancur dan usaha kita sia-sia; kita meninggalkan dunia yang indah serta luas ini lalu masuk ke tanah yang sempit." Jangan berteriak serta berputus asa. Sebab, segala milik kalian dijaga. Setiap amal kalian telah ditulis. Setiap khidmah kalian telah dicatat. Zat Dzul-Jalâl, yang akan memberikan balasan bagi khidmah kalian, yang segala kebaikan berada di tangan⁠-⁠Nya dan yang dapat melakukan segala kebaikan, memanggil kalian lalu menempatkan kalian sementara di bawah tanah. Kemudian Dia membawa kalian ke hadapan⁠-⁠Nya. Betapa berbahagia kalian, karena telah menyelesaikan khidmah serta tugas kalian. Kesulitan kalian selesai; kalian pergi menuju istirahat serta Rahmat. Khidmah dan kesukaran selesai; kalian pergi untuk menerima upah.

Ya, Sang Qadîr Dzul-Jalâl menjaga benih-benih serta biji-biji yang merupakan lembaran kitab amal serta peti khidmah musim semi lalu. Pada musim semi berikutnya, Dia menjaga serta menyebarkannya dengan cara amat gemilang, bahkan seratus kali lebih penuh berkah daripada asalnya. Tentu Dia juga menjaga hasil-hasil kehidupan kalian seperti itu dan akan memberikan balasan amat banyak bagi khidmah kalian.

KALIMAT KESEPULUH

ﻭَ ﻫُﻮَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ

Yakni, Dia Wâhid, Ahad, serta berkuasa atas segala sesuatu. Tidak satu pun berat bagi⁠-⁠Nya. Menciptakan musim semi mudah bagi⁠-⁠Nya seperti menciptakan satu bunga. Menciptakan surga ringan bagi⁠-⁠Nya seperti menciptakan musim semi. Karya-karya tak terhitung yang diciptakan⁠-⁠Nya kembali setiap hari, setiap tahun, serta setiap abad bersaksi dengan lisan tak terbatas bagi Kudrat⁠-⁠Nya yang tiada batas.

Kata ini juga memberikan kabar gembira demikian, dan berkata:

Wahai manusia! Khidmah yang engkau lakukan serta ubudiyah yang engkau jalankan tidak sia-sia. Negeri pembalasan serta tempat kebahagiaan telah disediakan bagimu.

Sebagai pengganti dunia fanamu ini, surga yang kekal menantimu. Berimanlah dan percayalah kepada janji Sang Khâliq Dzul-Jalâl, yang engkau sembah serta kenal. Mustahil Dia mengingkari janji⁠-⁠Nya. Tidak ada kekurangan pada Kudrat⁠-⁠Nya dari segi apa pun. Pekerjaan⁠-⁠Nya tidak dapat terhalang oleh keadaan tidak berdaya. Sebagaimana Dia menciptakan kebun kecilmu, Dia juga dapat menciptakan surga bagimu; Dia telah menciptakannya dan menjanjikannya kepadamu. Karena Dia telah berjanji, tentu Dia akan memasukkanmu ke dalamnya.

Karena kita melihat dengan mata kepala bahwa setiap tahun di muka bumi Dia menghimpun serta menyebarkan lebih dari tiga ratus ribu jenis dan kelompok hewan serta tumbuhan, dengan keteraturan dan keseimbangan sempurna, serta kecepatan dan kemudahan sempurna, tentu Sang Qadîr Dzul-Jalâl seperti ini mampu memenuhi janji⁠-⁠Nya.

Dan karena Sang Qadîr Mutlak seperti itu setiap tahun menciptakan contoh-contoh kebangkitan serta surga dalam ribuan bentuk; dan karena Dia menjanjikan kebahagiaan abadi dan memberitakan kabar gembira surga melalui seluruh Firman samawi⁠-⁠Nya; dan karena seluruh tindakan serta urusan⁠-⁠Nya adalah haq dan hakikat, dengan kejujuran serta kesungguhan; dan karena menurut kesaksian karya-karya⁠-⁠Nya, seluruh kesempurnaan menunjukkan serta bersaksi bagi Kesempurnaan⁠-⁠Nya yang tiada batas, dan tidak ada kekurangan ataupun cacat pada⁠-⁠Nya dari segi apa pun; dan karena mengingkari janji, berkata tidak benar, berdusta, dan menipu merupakan sifat, kekurangan, serta cacat yang paling buruk—tentu dan pasti Sang Qadîr Dzul-Jalâl, Sang Hakîm Dzul-Kamâl, Sang Rahîm Dzul-Jamâl itu akan memenuhi janji⁠-⁠Nya, membuka pintu kebahagiaan abadi, serta memasukkan kalian, wahai ahli iman, ke surga yang merupakan tanah air asal ayah kalian, Adam.

KALIMAT KESEBELAS

ﻭَ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺍﻟْﻤَﺼ۪ﻴﺮُ

Yakni, manusia yang dikirim ke dunia, negeri ujian ini, untuk berniaga serta bertugas dengan tugas-tugas penting, setelah menjalankan perniagaan, menyelesaikan tugas, serta menuntaskan khidmahnya, akan kembali kepada Sang Khâliq Dzul-Jalâl yang mengirim mereka, dan bertemu dengan Maulâ Yang Mahamulia. Yakni, mereka akan meninggalkan negeri fana ini dan dimuliakan di hadirat Kebesaran⁠-⁠Nya dalam negeri yang kekal. Yakni, mereka akan selamat dari kegaduhan sebab-sebab serta tabir gelap para perantara, lalu tanpa tabir bertemu dengan Rabb mereka Yang Rahîm di pusat Kerajaan⁠-⁠Nya yang abadi. Setiap orang akan langsung mengetahui serta menemukan siapa Sang Khâliq, Ma'bûd, Rabb, Sang Pemilik, serta Penguasanya sendiri.

Kata ini memberikan kabar gembira yang melampaui seluruh kabar gembira demikian, dan berkata:

Wahai manusia! Tahukah engkau ke mana engkau pergi dan ke mana engkau dibawa? Sebagaimana dikatakan pada akhir Kalimat Ketiga Puluh Dua: Seribu tahun kehidupan bahagia di dunia tidak sebanding dengan satu jam kehidupan di surga; bahkan seribu tahun kehidupan di surga itu tidak sebanding dengan satu jam memandang Keindahan Sang Jamîl Dzul-Jalâl. Engkau pergi menuju lingkup Rahmat serta derajat hadir di hadapan⁠-⁠Nya. Keelokan serta keindahan pada kekasih-kekasih majasi yang mengikat, memikat, serta membuat kalian rindu, dan pada seluruh makhluk dunia, merupakan semacam bayangan dari manifestasi Keindahan⁠-⁠Nya serta keelokan Asma⁠-⁠Nya. Seluruh surga dengan segala kelembutannya merupakan satu manifestasi Rahmat⁠-⁠Nya; seluruh rasa rindu, cinta, tarikan, serta daya pikat merupakan sekilau cahaya Kecintaan⁠-⁠Nya. Kalian pergi menuju hadirat Sang Ma'bûd yang tidak pernah lenyap, Sang Kekasih yang tidak pernah sirna, dan dipanggil ke surga, tempat jamuan abadi⁠-⁠Nya. Karena itu, masuklah melalui pintu kubur dengan tersenyum, bukan dengan menangis.

Kata ini juga memberikan kabar gembira demikian, dan berkata:

Wahai manusia! Jangan menyangka serta memikirkan bahwa kalian pergi menuju keadaan lenyap, tidak ada, nihil, gelap, terlupakan, membusuk, tercerai, serta tenggelam dalam segala yang beraneka. Kalian pergi bukan menuju yang fana, melainkan menuju yang kekal. Kalian dibawa bukan menuju keadaan tidak ada, melainkan menuju wujud yang kekal. Kalian masuk bukan ke alam yang gelap, melainkan ke alam cahaya. Kalian pergi menuju Sang Pemilik dan Penguasa Hakiki serta kembali ke ibu kota kerajaan Sang Sultan Azali. Kalian tidak akan tenggelam dalam segala yang beraneka, melainkan akan bernapas dalam lingkup Keesaan. Kalian mengarah bukan kepada perpisahan, melainkan kepada pertemuan.

BAGIAN KEDUA

Isyarat singkat untuk meneguhkan tauhid dengan dalil pada segi Ismul A'zham.

KALIMAT PERTAMA

Dalam

لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ

terdapat tauhid bahwa Allah سُبْحَانَهُ satu-satunya Sesembahan dan satu-satunya yang disembah. Kami mengisyaratkan hujah yang amat kuat bagi derajat ini demikian:

Pada wajah kainat ini, terutama pada lembaran bumi, terlihat kegiatan yang amat teratur. Kita menyaksikan penciptaan yang penuh Hikmah. Dengan ainulyaqin kita melihat pemberian bentuk yang amat teratur, yakni membuka bentuk yang sesuai serta memberi rupa kepada setiap sesuatu. Kita juga melihat pemberian serta anugerah yang amat penuh Kasih, Kemurahan, dan Rahmat. Karena itu, keadaan serta sifat ini pasti meneguhkan, bahkan membuat kita merasakan, bahwa Zat Dzul-Jalâl yang Fa'âl, Khallâq, Fattâh, serta Wahhâb wajib ada dan Esa.

Ya, segala yang ada terus-menerus lenyap serta diperbarui. Hal ini menunjukkan bahwa mereka merupakan manifestasi Asma suci Sang Pembuat Yang Qadîr, bayangan cahaya Asma⁠-⁠Nya, hasil tindakan⁠-⁠Nya, ukiran serta lembaran pena Takdir dan Kudrat, serta cermin Keindahan Kesempurnaan⁠-⁠Nya.

Sebagaimana Sang Pemilik kainat menunjukkan tauhid dalam hakikat agung serta derajat tauhid luhur ini melalui seluruh kitab suci dan suhuf yang dikirim⁠-⁠Nya, seluruh ahli hakikat serta manusia sempurna juga menunjukkan derajat tauhid yang sama melalui kajian saksama serta apa yang mereka singkap. Kainat pun, bersama keadaan tidak berdaya serta rasa membutuhkannya, mengisyaratkan derajat tauhid yang sama melalui kesaksian mukjizat karya yang terus berlangsung, keajaiban daya, serta khazanah kekayaan yang diperolehnya.

Jadi, Sang Saksi Azali dengan seluruh kitab serta suhuf⁠-⁠Nya, orang-orang yang menyaksikan dengan seluruh kajian saksama serta apa yang mereka singkap, dan alam yang disaksikan dengan seluruh keadaannya yang teratur serta urusannya yang penuh hikmah, bersepakat melalui ijmak dalam derajat tauhid itu.

Orang yang tidak mengakui Dia Yang Wâhid lagi Ahad akan mengakui sesembahan yang tiada batas, atau seperti seorang sofis yang bodoh, akan mengingkari bahwa dirinya serta kainat ada.

KALIMAT KEDUA

ﻭَﺣْﺪَﻩُ

Kata ini menunjukkan suatu derajat tauhid dengan jelas. Kami mengisyaratkan hujah yang amat kuat, yang juga meneguhkan derajat ini dengan kadar terbesar, demikian:

Setiap kali kita membuka mata dan mengarahkan pandangan kepada wajah kainat, hal pertama yang terlihat ialah tatanan yang umum serta sempurna, dan keseimbangan yang menyeluruh serta teliti. Kita melihat bahwa segala sesuatu berada dalam tatanan yang cermat, keseimbangan yang teliti, serta ukuran.

Ketika kita memandang sedikit lebih cermat, perhatian kita tertarik oleh pengaturan serta penyeimbangan yang terus diperbarui. Yakni, ada Dia yang mengubah tatanan itu secara teratur dan memperbarui keseimbangan itu dengan menimbang. Setiap sesuatu menjadi model yang diberi amat banyak bentuk yang teratur serta seimbang.

Ketika kita semakin cermat, terlihat Hikmah serta Keadilan di balik pengaturan dan penyeimbangan itu. Dalam setiap gerak, Hikmah serta hal yang bermanfaat diperhatikan, suatu haq serta manfaat diupayakan.

Ketika kita semakin cermat, apa yang ditunjukkan oleh suatu Kudrat dalam kegiatan yang amat penuh Hikmah, serta manifestasi Ilmu yang amat menyeluruh dan meliputi setiap urusan segala sesuatu, menarik pandangan sadar kita.

Jadi, tatanan serta keseimbangan dalam segala yang ada ini memperlihatkan kepada mata kita pengaturan serta penyeimbangan yang berlaku umum bagi semuanya. Pengaturan serta penyeimbangan itu memperlihatkan Hikmah dan Keadilan yang umum; Hikmah serta Keadilan itu memperlihatkan Kudrat dan Ilmu. Jadi, Sang Qadîr atas segala sesuatu serta Sang Alîm atas segala sesuatu tampak bagi akal di balik tabir-tabir ini.

Kita juga memandang awal serta akhir segala sesuatu, terutama pada jenis makhluk hidup. Kita melihat bahwa permulaan, asal, serta akar mereka, juga buah dan hasil mereka, berada dalam bentuk sedemikian rupa sehingga seakan-akan benih serta asal mereka memuat seluruh perangkat makhluk tersebut dalam bentuk suatu uraian serta rancangan. Pada hasil serta buahnya, seluruh makna makhluk hidup itu kembali disarikan lalu berkumpul di dalamnya, dan ia meninggalkan riwayat hidupnya di sana. Kita melihat seakan-akan benih yang menjadi asalnya merupakan himpunan kaidah-kaidah penciptaannya, sedangkan buah serta hasilnya merupakan daftar perintah-perintah penciptaannya. Kemudian kita memandang bagian luar serta dalam makhluk hidup itu. Terlihat pengelolaan Kudrat yang amat penuh Hikmah serta pemberian bentuk dan pengaturan oleh Kehendak yang menembus segalanya. Yakni, suatu Daya serta Kudrat menciptakan, dan suatu Perintah serta Kehendak mengenakan bentuk.

Pada segala yang ada, ketika memperhatikan awalnya, kita menyaksikan buku petunjuk suatu Ilmu; ketika memperhatikan akhirnya, kita menyaksikan rancangan serta pernyataan Sang Pembuat; ketika memandang luarnya, kita menyaksikan pakaian karya yang amat indah serta serasi dari Sang Pelaku Yang Bebas Memilih dan Yang Berkehendak; ketika memandang dalamnya, kita menyaksikan mesin yang amat teratur dari Sang Qadîr.

Keadaan serta sifat ini pasti dan dengan jelas mengumumkan bahwa tidak satu pun, pada waktu dan tempat mana pun, dapat berada di luar genggaman Kekuasaan Sang Pembuat Dzul-Jalâl Yang Tunggal. Setiap sesuatu serta seluruh benda, bersama seluruh urusannya, diatur dalam genggaman Kekuasaan Sang Qadîr Yang Berkehendak. Mereka diperindah dengan Pengaturan serta Karunia Ar-Rahmân Ar-Rahîm, dan dihiasi dengan hiasan dari Al-Hannân Al-Mannân.

Ya, bagi orang yang mempunyai kesadaran di kepala serta mata di wajahnya, tatanan, keseimbangan, pengaturan, serta penyeimbangan dalam kainat dan segala yang ada ini menunjukkan pada derajat Keesaan satu Zat yang tunggal, tiada banding, Wâhid, Ahad, Qadîr, Murîd, Alîm, serta Hakîm.

Ya, dalam setiap sesuatu ada kesatuan. Kesatuan menunjukkan satu. Misalnya, matahari yang menjadi lampu dunia itu satu; karena itu, Pemilik dunia juga Esa. Misalnya, udara, api, serta air yang menjadi pelayan makhluk hidup di muka bumi masing-masing merupakan satu kesatuan; karena itu, Dia yang mempekerjakan serta menundukkan mereka untuk kita juga Esa.

KALIMAT KETIGA

لَا ﺷَﺮ۪ﻳﻚَ ﻟَﻪُ

Karena Bagian Pertama Kalimat Ketiga Puluh Dua telah meneguhkan kata ini dengan cara yang amat kuat serta gemilang, kami merujukkannya ke sana. Tidak dapat ada penjelasan yang melampauinya; penjelasan lebih lanjut tidak diperlukan dan tidak diberikan.

KALIMAT KEEMPAT

ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚُ

Yakni, dari bumi sampai Arasy, dari tanah sampai Pleiades, dari zarah sampai planet, dari azali sampai abadi, setiap makhluk, langit serta bumi, dunia serta akhirat, segala sesuatu adalah milik⁠-⁠Nya. Derajat Kepemilikan teragung adalah milik⁠-⁠Nya dalam bentuk tauhid terbesar.

Suatu hujah besar bagi derajat Kepemilikan teragung serta kedudukan tauhid tertinggi ini, pada saat yang menyenangkan serta dalam kenangan yang menyenangkan, dimasukkan ke pikiran orang tidak berdaya ini dalam ungkapan Arab. Untuk menghormati kenangan yang menyenangkan itu, kami akan mencatat ungkapan Arab yang sama, kemudian menuliskan maknanya.

ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚُ لِاَنَّ ﺫَﺍﻙَ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻢَ ﺍﻟْﻜَﺒ۪ﻴﺮَ ﻛَﻬٰﺬَﺍ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻢِ ﺍﻟﺼَّﻐ۪ﻴﺮِ ٠ ﻣَﺼْﻨُﻮﻋَﺎ ﻗُﺪْﺭَﺗِﻪ۪ ﻣَﻜْﺘُﻮﺑَﺎ ﻗَﺪَﺭِﻩ۪ ٠ ﺍِﺑْﺪَﺍﻋُﻪُ ﻟِﺬَﺍﻙَ ﺻَﻴَّﺮَﻩُ ﻣَﺴْﺠِﺪًﺍ ٠ ﺍ۪ﻳﺠَﺎﺩُﻩُ ﻟِﻬٰﺬَﺍ ﺻَﻴَّﺮَﻩُ ﺳَﺎﺟِﺪًﺍ ﺍِﻧْﺸَﺎﺅُﻩُ ﻟِﺬَﺍﻙَ ﺻَﻴَّﺮَ ﺫَﺍﻙَ ﻣِﻠْﻜًﺎ ٠ ﺍ۪ﻳﺠَﺎﺩُﻩُ ﻟِﻬٰﺬَﺍ ﺻَﻴَّﺮَﻩُ ﻣَﻤْﻠُﻮﻛًﺎ ٠ ﺻَﻨْﻌَﺘُﻪُ ﻓ۪ﻰ ﺫَﺍﻙَ ﺗَﻈَﺎﻫَﺮَﺕْ ﻛِﺘَﺎﺑًﺎ ٠ ﺻِﺒْﻐَﺘُﻪُ ﻓ۪ﻰ ﻫٰﺬَﺍ ﺗَﺰَﺍﻫَﺮَﺕْ ﺧِﻄَﺎﺑًﺎ ٠ ﻗُﺪْﺭَﺗُﻪُ ﻓ۪ﻰ ﺫَﺍﻙَ ﺗُﻈْﻬِﺮُ ﺣِﺸْﻤَﺘَﻪُ ٠ ﺭَﺣْﻤَﺘُﻪُ ﻓ۪ﻰ ﻫٰﺬَﺍ ﺗُﻨَﻈِّﻢُ ﻧِﻌْﻤَﺘَﻪُ ٠ ﺣِﺸْﻤَﺘُﻪُ ﻓ۪ﻰ ﺫَﺍﻙَ ﺗَﺸْﻬَﺪُ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻮَﺍﺣِﺪُ ٠ ﻧِﻌْﻤَﺘُﻪُ ﻓ۪ﻰ ﻫٰﺬَﺍ ﺗُﻌْﻠِﻦُ ﻫُﻮَ الْاَحَدُ ٠ ﺳِﻜَّﺘُﻪُ ﻓ۪ﻰ ﺫَﺍﻙَ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻜُﻞِّ وَالْاَجْزَاءِ ٠ ﺧَﺎﺗَﻤُﻪُ ﻓ۪ﻰ ﻫٰﺬَﺍ ﻓِﻰ ﺍﻟْﺠِﺴْﻢِ ﻭَ الْاَعْضَاءِ

Uraian Pertama:

ﺫَﺍﻙَ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻢَ ﺍﻟْﻜَﺒ۪ﻴﺮَ ﺍﻟﺦ

Yakni, alam besar yang disebut kainat ini serta alam kecil yang disebut manusia, yang merupakan contohnya dalam ukuran kecil, menunjukkan dalil-dalil Keesaan pada alam luar serta diri sendiri, yang ditulis dengan pena Kudrat dan Takdir.

Ya, contoh karya yang teratur dalam kainat terdapat dalam ukuran kecil pada manusia. Sebagaimana karya dalam lingkup besar itu bersaksi bagi Sang Pembuat Yang Wâhid, karya mikroskopis dalam ukuran kecil pada manusia ini juga mengisyaratkan Sang Pembuat itu serta menunjukkan Keesaan⁠-⁠Nya.

Sebagaimana manusia ini merupakan surat dari Rabb yang amat bermakna serta syair Takdir yang teratur, kainat ini juga merupakan syair Takdir teratur yang ditulis dengan pena Takdir yang sama, tetapi dalam ukuran besar.

Mungkinkah sesuatu selain Dia Yang Wâhid lagi Ahad turut campur pada cap Keesaan di wajah manusia ini, yang berhubungan dengan seluruh manusia melalui tanda-tanda pembeda tak terhitung, serta pada segel Keesaan di atas kainat, yang membuat seluruh makhluk bahu-membahu, bergandeng tangan, dan bekerja bersama?