Surat Keempat Belas
Tidak ditulis.
Surat Kelima Belas
ﺑِﺎﺳْﻤِﻪ۪ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻭَ ﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪
Saudaraku yang mulia! Pertanyaan pertamamu ialah:
Mengapa para sahabat tidak dapat menyingkap siapa para perusak melalui pandangan kewalian, sehingga berakhir pada gugurnya tiga Khulafaur Rasyidin sebagai syahid? Padahal, para sahabat yang lebih rendah kedudukannya dikatakan lebih tinggi daripada para wali besar.
Jawaban:
Dalam hal ini terdapat dua bagian.
Bagian Pertama: Pertanyaan diselesaikan dengan menjelaskan suatu rahasia kewalian yang halus. Sebagai berikut:
Kewalian para sahabat adalah kewalian yang disebut kewalian besar, yang berasal dari pewarisan kenabian; tanpa melalui jalan perantara, langsung beralih dari yang lahiriah menuju hakikat dan mengarah kepada terbukanya kedekatan Allah سُبْحَانَهُ kepada makhluk. Jalan kewalian itu amat pendek, tetapi amat tinggi. Keajaibannya sedikit, tetapi keistimewaannya banyak. Penglihatan batin dan karamah sedikit terlihat di sana.
Selain itu, sebagian besar karamah para wali tidak terjadi melalui pilihan mereka. Dari arah yang tidak mereka duga, suatu keajaiban muncul dari mereka sebagai ikram (karunia) dari Allah سُبْحَانَهُ. Sebagian besar penglihatan batin dan karamah ini pun muncul pada masa perjalanan ruhani, ketika mereka melalui tahap perantara tarekat; karena sampai taraf tertentu terlepas dari sifat manusia biasa, mereka mengalami keadaan-keadaan di luar kebiasaan.
Adapun para sahabat, melalui pantulan, daya tarik, dan ramuan mujarab pergaulan dengan Nabi ﷺ, tidak harus menempuh lingkaran besar perjalanan ruhani dalam tarekat. Dengan satu langkah dan satu pergaulan, mereka dapat beralih dari yang lahiriah menuju hakikat.
Misalnya, ada dua jalan untuk mencapai Lailatulqadar pada malam kemarin:
Pertama: Berjalan dan berkeliling selama setahun hingga tiba pada malam itu. Untuk memperoleh kedekatan ini, harus ditempuh jarak setahun. Inilah jalan para penempuh perjalanan ruhani, yang dijalani oleh kebanyakan ahli tarekat.
Kedua: Melepaskan diri dari selubung tubuh materi yang terikat waktu, naik secara ruhani dengan melepaskan ikatan itu, lalu melihat Lailatulqadar malam kemarin bersama malam Id lusa hadir seperti hari ini. Sebab, ruh tidak terikat waktu. Ketika perasaan manusia naik ke derajat ruh, masa kini meluas. Waktu yang bagi orang lain merupakan masa lalu dan masa depan berkedudukan sebagai masa kini baginya.
Menurut perumpamaan ini, untuk beralih kepada Lailatulqadar malam kemarin, seseorang naik ke tingkatan ruh dan melihat masa lalu pada derajat masa kini. Dasar rahasia yang sulit dipahami ini ialah terbukanya kedekatan Allah سُبْحَانَهُ kepada makhluk.
Misalnya, matahari dekat kepada kita, sebab cahaya, panas, dan gambarnya berada dalam cermin serta tangan kita. Namun, kita jauh darinya. Jika dari segi cahayanya kita merasakan kedekatannya, memahami hubungan kita dengan gambarnya yang berupa bayangan dalam cermin, dan melalui sarana itu mengenalnya; jika kita mengetahui cahaya, panas, dan keadaannya, kedekatannya terbuka bagi kita dan kita mengenal serta berhubungan dengannya di dekat kita.
Jika dari sudut pandang jauhnya diri kita, kita ingin mendekati dan mengenalnya, kita harus menempuh banyak perjalanan pikiran dan jalan akal: melalui hukum-hukum sains, pikiran kita naik ke langit dan membayangkan matahari di sana; kemudian, setelah melalui kajian ilmiah yang panjang memahami cahaya dan panas dalam hakikat dirinya serta tujuh warna dalam cahayanya, barulah kita dapat memperoleh kedekatan maknawi yang diperoleh orang pertama dengan sedikit tafakur dalam cerminnya sendiri.
Seperti perumpamaan ini, kenabian dan kewalian dalam pewarisan kenabian mengarah kepada terbukanya rahasia kedekatan Allah سُبْحَانَهُ kepada makhluk. Adapun kewalian lainnya, sebagian besar berjalan di atas dasar usaha mendekat kepada Allah سُبْحَانَهُ. Ia harus menempuh perjalanan ruhani melalui banyak tingkatan.
Bagian Kedua: Yang menyebabkan peristiwa-peristiwa itu dan menggerakkan kerusakan bukan hanya beberapa orang Yahudi; menyingkap mereka saja tidak akan dapat mencegah kerusakan.
Sebab, dengan masuknya banyak bangsa yang berbeda ke dalam Islam, banyak arus dan pemikiran yang saling bertentangan serta berlawanan bercampur. Khususnya, kebanggaan sebagian mereka terhadap bangsa terluka sangat parah oleh pukulan Umar (ra), sehingga mereka, karena wataknya, menunggu kesempatan membalas dendam. Sebab, agama lama mereka telah dibatalkan, dan pemerintahan serta kerajaan lama yang menjadi sumber kehormatan mereka telah dihancurkan. Perasaan mereka condong untuk membalas dendam terhadap kekuasaan Islam, dengan sadar atau tanpa sadar. Karena itu, dikatakan bahwa sebagian orang munafik yang cerdas dan licik seperti orang Yahudi memanfaatkan keadaan masyarakat tersebut.
Jadi, mencegah peristiwa-peristiwa itu dapat dilakukan dengan memperbaiki kehidupan masyarakat dan berbagai pemikiran pada masa itu, bukan dengan menyingkap satu atau dua perusak.
Jika dikatakan:
Perintah Umar (ra) dari atas mimbar kepada panglimanya yang bernama Sariyah, yang berada pada jarak sebulan perjalanan, dengan berkata
ﻳَﺎ ﺳَﺎﺭِﻳَﺔُ ﺍَﻟْﺠَﺒَﻞَ ﺍَﻟْﺠَﺒَﻞَ,
membuat Sariyah mendengarnya dan menjadi sebab kemenangan melalui pengarahan pasukan; perintah yang mengandung karamah ini menunjukkan betapa tajam pandangannya. Namun, mengapa dengan pandangan kewalian yang tajam itu ia tidak melihat Firuz, pembunuh yang berada di dekatnya?
Jawaban:
Kami menjawab dengan jawaban yang diberikan Ya'qub aleyhisselâm. {(Catatan kaki):
ﺯِ ﻣِﺼْﺮَﺵْ ﺑُﻮﻯِ ﭘ۪ﻴﺮَﺍﻫَﻦْ ﺷِﻨ۪ﻴﺪ۪ﻯ ﭼِﺮَﺍ ﺩَﺭْ ﭼَﺎﻩِ ﻛَﻨْﻌَﺎﻧَﺶْ ﻧَﺪ۪ﻳﺪ۪ﻯ ﺑَﮕُﻔْﺖْ ﺍَﺣْﻮَﺍﻝِ ﻣَﺎ ﺑَﺮْﻕِ ﺟِﻬَﺎﻧَﺴْﺖْ ﺩَﻣ۪ﻰ ﭘَﻴْﺪَﺍ ﻭُ ﺩ۪ﻳﮕَﺮْ ﺩَﻡْ ﻧِﻬَﺎﻧَﺴْﺖْ ﮔَﻬ۪ﻰ ﺑَﺮْ ﻃَﺎﺭُﻡِ ﺍَﻋْﻠٰﻰ ﻧِﺸ۪ﻴﻨَﻢْ ﮔَﻬ۪ﻰ ﺑَﺮْ ﭘُﺸْﺖِ ﭘَﺎﻯِ ﺧُﻮﺩْ ﻧَﺒ۪ﻴﻨَﻢْ
} Yakni, Ya'qub ditanya, "Mengapa engkau mencium aroma baju yang datang dari Mesir, tetapi tidak melihat Yusuf dalam sumur Kanaan yang berada di dekatmu?" Ia menjawab, "Keadaan kami seperti kilat: kadang-kadang tampak, kadang-kadang tersembunyi. Ada waktu ketika kami seakan-akan duduk di tempat tertinggi dan melihat segala arah. Ada waktu pula ketika kami tidak melihat bagian atas kaki kami sendiri."
Kesimpulannya:
Meskipun manusia adalah pelaku yang memiliki pilihan, menurut rahasia
ﻭَﻣَﺎ ﺗَﺸَٓﺎﺅُﻥَ اِلَّٓا ﺍَﻥْ ﻳَﺸَٓﺎﺀَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ,
Kehendak Allah سُبْحَانَهُ adalah dasar dan Takdir berkuasa. Kehendak Allah سُبْحَانَهُ membuat kehendak manusia mundur dan menjalankan ketetapan
ﺍِﺫَﺍ ﺟَﺎﺀَ ﺍﻟْﻘَﺪَﺭُ ﻋُﻤِﻰَ ﺍﻟْﺒَﺼَﺮُ.
Jika Takdir berbicara, kemampuan manusia tidak berbicara; kehendak bebas manusia terdiam. Makna pertanyaan kedua kalian:
Apa hakikat peperangan yang dimulai pada masa Ali (ra)? Sebutan apa yang dapat kita berikan kepada orang-orang yang berperang, serta yang terbunuh dan membunuh dalam perang itu?
Jawaban:
Peperangan antara Ali dan Talhah, Zubair, serta Aisyah As-Siddiqah radhiyallahu ta'ala anhum ajma'in, yang disebut Peristiwa Jamal, merupakan pertarungan antara keadilan murni dan keadilan relatif. Sebagai berikut:
Ali berijtihad dengan menjadikan keadilan murni sebagai dasar dan berusaha berjalan di atas dasar itu seperti pada masa Abu Bakar dan Umar. Adapun lawan-lawannya berijtihad di atas dasar keadilan relatif, yang disebut "memilih keburukan yang lebih ringan": Kemurnian Islam pada masa Abu Bakar dan Umar memungkinkan keadilan murni, tetapi seiring berlalunya waktu berbagai bangsa yang Islamnya lemah masuk ke dalam kehidupan masyarakat Islam, sehingga menerapkan keadilan murni menjadi sangat sulit. Karena beda pendapat dalam ijtihad memasuki politik, hal itu menghasilkan peperangan.
Karena ijtihad dilakukan semata-mata demi Allah سُبْحَانَهُ dan manfaat Islam, lalu peperangan lahir dari ijtihad, tentu dapat kita katakan bahwa yang membunuh dan yang terbunuh sama-sama penghuni surga dan sama-sama memperoleh pahala. Meskipun ijtihad Ali tepat dan pihak lawannya keliru, mereka tetap tidak layak mendapat azab. Sebab, orang yang berijtihad, jika menemukan haq, memperoleh dua pahala. Jika tidak menemukannya, ia memperoleh satu pahala sebagai pahala ijtihad yang merupakan suatu jenis ibadah. Ia dimaafkan atas kekeliruannya.
Seorang ahli yang meneliti hakikat, yang sangat terkenal di antara kami dan perkataannya menjadi hujah, berkata dalam bahasa Kurdi:
ﮊ۪ﻯ ﺷَﺮِّ ﺻَﺤَﺎﺑَﺎﻥْ ﻣَﻜَﻪ ﻗَﺎﻝُ ﻭ ﻗ۪ﻴﻞْ ﻟَﻮْﺭَﺍ ﺟَﻨَّﺘ۪ﻴﻨَﻪ ﻗَﺎﺗِﻞُ ﻭ ﻫَﻢْ ﻗَﺘ۪ﻴﻞْ
Yakni, jangan berbincang sia-sia tentang peperangan para sahabat. Sebab, yang membunuh dan yang terbunuh sama-sama penghuni surga.
Penjelasan keadilan murni dan keadilan relatif ialah sebagai berikut: Menurut makna isyarat ayat
ﻣَﻦْ ﻗَﺘَﻞَ ﻧَﻔْﺴًﺎ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻧَﻔْﺲٍ ﺍَﻭْ ﻓَﺴَﺎﺩٍ ﻓِﻰ الْاَرْضِ ﻓَﻜَﺎَﻧَّﻤَﺎ ﻗَﺘَﻞَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﺟَﻤ۪ﻴﻌًﺎ,
hak seorang yang tidak bersalah tidak dibatalkan, bahkan demi seluruh manusia. Satu orang pun tidak dikorbankan demi keselamatan umum. Dalam Pandangan Belas Kasih Allah سُبْحَانَهُ, hak adalah hak; kecil atau besarnya tidak dipandang. Yang kecil tidak dibatalkan demi yang besar. Hidup dan hak seseorang tidak dikorbankan demi keselamatan suatu kelompok tanpa persetujuannya. Jika ia setuju atas nama semangat pengorbanan, itu persoalan lain.
Adapun keadilan relatif, ia mengorbankan bagian demi keselamatan keseluruhan. Demi kelompok, ia tidak mempertimbangkan hak seorang individu. Atas nama keburukan yang lebih ringan, ia berusaha melakukan suatu jenis keadilan relatif. Namun, jika keadilan murni dapat diterapkan, keadilan relatif tidak boleh ditempuh; jika ditempuh, itu adalah kezaliman.
Imam Ali radhiyallahu anhu berkata bahwa keadilan murni dapat diterapkan seperti pada masa Abu Bakar dan Umar, lalu membangun khilafah Islam di atas dasar itu. Adapun pihak yang berhadapan dan menentangnya berkata, "Ia tidak dapat diterapkan; banyak kesulitannya," lalu berijtihad di atas keadilan relatif. Sebab-sebab lain yang diperlihatkan sejarah bukanlah sebab hakiki, melainkan dalih.
Jika engkau berkata:
Dalam khilafah Islam, meskipun Imam Ali memiliki kemampuan yang luar biasa, kecerdasan yang menakjubkan, dan kelayakan yang tinggi, mengapa ia kurang berhasil dibandingkan para pendahulunya?
Jawaban:
Tokoh yang diberkahi itu layak bagi tugas-tugas lain yang jauh lebih penting daripada politik dan kerajaan. Jika ia memperoleh keberhasilan politik yang sempurna dan kerajaan sepenuhnya, ia tidak akan layak memperoleh gelar sarat makna "Raja Kewalian". Padahal, ia memperoleh kerajaan maknawi yang jauh di atas khilafah lahiriah dan politik, serta berkedudukan sebagai guru bagi semua; bahkan, kerajaan maknawinya tetap ada sampai kiamat.
Adapun peperangan Imam Ali dengan para pendukung Muawiyah dalam Peristiwa Siffin merupakan peperangan antara khilafah dan kerajaan. Yakni, Imam Ali menjadikan hukum agama, hakikat Islam, serta akhirat sebagai dasar, dan demi semuanya itu ia mengorbankan sebagian aturan kerajaan serta tuntutan politik yang tanpa belas kasih. Muawiyah dan para pendukungnya, untuk memperkuat kehidupan masyarakat Islam melalui politik kerajaan, meninggalkan hukum asal yang tegas dan berpegang kepada keringanan; karena mengira diri mereka terpaksa dalam dunia politik, mereka memilih keringanan itu dan jatuh dalam kekeliruan.
Adapun perjuangan Hasan dan Husain melawan Bani Umayyah merupakan peperangan antara agama dan kebangsaan. Yakni, karena Bani Umayyah mendasarkan negara Islam pada kebangsaan Arab dan menempatkan ikatan Islam di belakang ikatan kebangsaan, mereka menimbulkan kerugian dari dua segi:
Pertama: Mereka melukai perasaan bangsa-bangsa lain dan membuat mereka menjauh.
Kedua: Dasar-dasar ras dan kebangsaan, karena tidak mengikuti keadilan serta haq, melakukan kezaliman. Mereka tidak berjalan di atas keadilan. Sebab, penguasa yang mencintai rasnya mengutamakan orang sebangsanya dan tidak dapat berlaku adil. Menurut ketetapan yang pasti
اَلْاِسْلَامِيَّةُ ﺟَﺒَّﺖِ ﺍﻟْﻌَﺼَﺒِﻴَّﺔَ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔَ لَا ﻓَﺮْﻕَ ﺑَﻴْﻦَ ﻋَﺒْﺪٍ ﺣَﺒَﺸِﻰٍّ ﻭَﺳَﻴِّﺪٍ ﻗُﺮَﻳْﺸِﻰٍّ ﺍِﺫَﺍ ﺍَﺳْﻠَﻤَﺎ,
ikatan kebangsaan tidak boleh ditempatkan menggantikan ikatan agama; jika ditempatkan, keadilan tidak dijalankan dan sikap berpihak kepada haq hilang.
Husain menjadikan ikatan agama sebagai dasar dan berjuang melawan mereka dengan alasan yang benar hingga memperoleh kedudukan syahid.
Jika dikatakan:
Meskipun begitu benar dan sesuai dengan hakikat, mengapa ia tidak berhasil? Selain itu, mengapa Takdir dan Rahmat Allah سُبْحَانَهُ mengizinkan mereka mengalami akhir yang tragis?
Jawaban:
Bukan pada para pendukung dekat Husain, melainkan pada bangsa-bangsa lain yang bergabung dengan jamaahnya, terdapat pemikiran membalas dendam terhadap bangsa Arab karena kebanggaan mereka terhadap bangsa terluka; hal ini mencederai jalan Husain dan para pendukungnya yang murni serta cemerlang, dan menjadi sebab kekalahan mereka.
Adapun hikmah akhir yang tragis dari sudut pandang Takdir ialah: Hasan dan Husain, keluarga serta keturunan mereka, dipersiapkan untuk suatu kerajaan maknawi. Menggabungkan kerajaan dunia dengan kerajaan maknawi amat sulit. Karena itu, Takdir membuat mereka kecewa terhadap dunia dan memperlihatkan wajah buruk dunia, agar hati mereka tidak lagi terikat kepadanya. Mereka dijauhkan dari kerajaan sementara dan lahiriah, tetapi mereka ditunjuk bagi kerajaan maknawi yang cemerlang dan terus ada; alih-alih menjadi gubernur biasa, mereka menjadi tempat rujukan para wali kutub. Pertanyaan ketiga kalian:
Kalian berkata, "Apa hikmah perlakuan yang tragis dan kejam terhadap tokoh-tokoh yang diberkahi itu?"
Jawaban:
Sebagaimana kami jelaskan sebelumnya, dalam kerajaan Bani Umayyah, lawan Husain, terdapat tiga dasar yang menyebabkan penindasan tanpa belas kasih:
Pertama: Salah satu kaidah politik tanpa belas kasih, "Orang-orang dikorbankan agar pemerintah selamat dan keamanan tetap terjaga."
Kedua: Karena kerajaan mereka bertumpu pada ras dan kebangsaan, salah satu kaidah kebangsaan yang kejam, "Segala sesuatu dikorbankan demi keselamatan bangsa."
Ketiga: Karena dalam sebagian mereka, seperti Yazid, terdapat dorongan persaingan dalam tradisi Bani Umayyah terhadap Bani Hasyim, mereka menunjukkan kesiapan untuk penindasan tanpa kasih sayang.
Sebab keempat juga terdapat pada para pendukung Husain. Karena Bani Umayyah menjadikan kebangsaan Arab sebagai dasar, menyebut orang-orang dari bangsa lain "memalik" dan memandang mereka sebagai budak, serta menghancurkan kebanggaan mereka terhadap bangsa, bangsa-bangsa lain bergabung dengan jamaah Husain dengan niat membalas dendam dan kacau. Hal itu semakin mengusik fanatisme kebangsaan Bani Umayyah, lalu menjadi sebab tragedi yang terkenal, yang amat kejam dan tanpa belas kasih.
Keempat sebab tersebut adalah sebab lahiriah. Jika dipandang dari Takdir, hasil-hasil akhirat, kerajaan ruhani, dan kemajuan maknawi yang diperoleh Husain serta kerabatnya melalui tragedi itu begitu berharga, sehingga kesusahan yang mereka alami dalam tragedi tersebut menjadi amat ringan dan murah. Seperti seorang prajurit yang gugur sebagai syahid saat disiksa selama satu jam; ia memperoleh tingkatan yang baru dapat dicapai orang lain dengan bekerja selama sepuluh tahun. Jika setelah menjadi syahid prajurit itu dapat ditanya, ia akan berkata, "Dengan sesuatu yang sedikit, aku memperoleh sangat banyak hal." Makna pertanyaan keempat kalian:
Pada akhir zaman, setelah Isa aleyhisselâm membunuh Dajal, sebagian besar manusia masuk ke dalam agama haq. Padahal, dalam riwayat disebutkan, "Selama di bumi masih ada orang yang berkata Allah Allah سُبْحَانَهُ, kiamat tidak terjadi." Setelah secara umum beriman seperti ini, bagaimana mereka kembali secara umum menuju kufur?
Jawaban:
Dalam hadis sahih diriwayatkan "bahwa Isa aleyhisselâm akan datang, mengamalkan syariat Islam, dan membunuh Dajal"; orang-orang yang imannya lemah menganggapnya jauh dari kemungkinan. Jika hakikatnya dijelaskan, tidak tersisa alasan untuk menganggapnya jauh dari kemungkinan. Sebagai berikut:
Makna yang diungkapkan hadis itu dan hadis-hadis tentang Sufyan serta Mahdi ialah: Pada akhir zaman dua arus paham tanpa agama akan menjadi kuat:
Pertama: Di bawah tabir kemunafikan, seseorang yang dahsyat bernama Sufyan, yang akan mengingkari kerasulan Ahmad ﷺ, memimpin orang-orang munafik dan berusaha menghancurkan syariat Islam. Menghadapinya, seorang tokoh bercahaya dari Ahlulbait bernama Muhammad Mahdi, yang terhubung dengan silsilah bercahaya keluarga Nabi ﷺ dan memimpin para ahli kewalian serta orang-orang yang telah mencapai kesempurnaan, akan membunuh dan membubarkan arus kemunafikan yang merupakan pribadi maknawi Sufyan itu.
Adapun arus kedua: Suatu arus seperti Namrud, yang lahir dari filsafat kaum naturalis dan materialis, pada akhir zaman semakin tersebar melalui filsafat materi dan memperoleh kekuatan hingga mencapai derajat mengingkari keilahian. Seperti orang liar yang tidak mengakui seorang raja dan tidak menerima bahwa perwira serta prajurit dalam pasukan adalah tentara raja itu, lalu memberikan suatu jenis kerajaan dan kekuasaan kepada setiap orang, setiap prajurit.
Demikian pula, orang-orang dalam arus yang mengingkari Allah سُبْحَانَهُ itu, masing-masing seperti Namrud kecil, memberi nafsu mereka kekuasaan sebagai Rabb. Adapun Dajal, tokoh terbesar yang memimpin mereka dan mengalami keajaiban-keajaiban dahsyat berupa kejadian spiritisme serta magnetisme, melangkah lebih jauh: Ia membayangkan kekuasaan lahiriahnya yang memaksa sebagai suatu jenis rububiyah dan mengumumkan keilahiannya. Telah diketahui betapa pengakuan keilahian dari manusia lemah, yang dikalahkan seekor lalat dan tidak dapat menciptakan sehelai sayap lalat pun, merupakan kelucuan yang amat bodoh.
Pada saat seperti ini, ketika arus itu tampak sangat kuat, agama Nasrani yang sejati, yang merupakan pribadi maknawi Isa aleyhisselâm, akan muncul; yakni, turun dari langit Rahmat Allah سُبْحَانَهُ. Agama Kristen yang ada sekarang menjadi jernih di hadapan hakikat itu, melepaskan diri dari takhayul serta perubahan yang merusak, dan berpadu dengan hakikat Islam; secara maknawi, Kristen akan berubah menjadi suatu jenis Islam. Dengan mengikuti Al-Qur'an, pribadi maknawi agama Nasrani itu berada pada kedudukan pengikut, sedangkan Islam pada kedudukan yang diikuti; akibat bergabungnya ini, agama haq memperoleh kekuatan yang amat besar.
Agama Nasrani dan Islam, yang kalah melawan arus paham tanpa agama ketika terpisah, melalui persatuan menjadi mampu mengalahkan dan membubarkan arus itu. Seorang Pemberi Berita Yang Benar, dengan bersandar pada Janji Sang Qadîr atas segala sesuatu, telah memberitahukan bahwa pribadi Isa aleyhisselâm, yang berada di alam langit dengan tubuh manusianya, akan memimpin arus agama haq tersebut. Karena ia telah memberitahukannya, hal itu benar; karena Sang Qadîr atas segala sesuatu telah berjanji, tentu Dia akan melakukannya.
Ya, Sang Hakîm Dzul-Jalâl setiap waktu mengirim para malaikat dari langit ke bumi, dan pada waktu tertentu menempatkan mereka dalam rupa manusia, seperti Jibril muncul dalam rupa "Dihyah". Dia mengirim makhluk ruhani dari alam ruh dan membuat mereka muncul dalam bentuk manusia; bahkan, Dia mengirim ruh banyak wali yang telah wafat ke dunia dengan tubuh berupa gambaran. Maka, demi akhir yang baik dan amat penting bagi agama Isa, mengirim Isa aleyhisselâm ke dunia tidaklah jauh dari Hikmah Sang Hakîm itu—bukan saja karena ia masih hidup dan berada di langit dunia dengan tubuhnya; bahkan seandainya ia telah pergi ke sudut paling jauh alam akhirat dan benar-benar mati, mengenakan kembali tubuh kepadanya lalu mengirimnya ke dunia demi hasil yang besar ini pun tidaklah jauh dari Hikmah-Nya. Justru karena Hikmah-Nya menghendaki demikian, Dia berjanji; dan karena Dia berjanji, tentu Dia akan mengirimnya.
Ketika Isa aleyhisselâm datang, tidak harus setiap orang mengetahui bahwa ia benar-benar Isa. Orang-orang yang dekat dengannya dan kalangan pilihannya mengenalinya melalui cahaya iman. Tidak semua orang akan mengenalinya dengan kepastian yang terang.
Pertanyaan:
Dalam riwayat disebutkan, "Dajal memiliki surga palsu dan melemparkan orang-orang yang mengikutinya ke sana. Ia juga memiliki neraka palsu dan melemparkan orang-orang yang tidak mengikutinya ke sana. Bahkan, ia menjadikan satu telinga tunggangannya seperti surga dan satu telinga seperti neraka. Tubuhnya sebesar ini, sebesar itu..." Ada gambaran-gambaran demikian?
Jawaban:
Pribadi lahiriah Dajal seperti manusia. Karena sombong, menjadi seperti Firaun, dan melupakan Allah سُبْحَانَهُ, ia merupakan setan bodoh dan manusia licik yang memberi nama keilahian kepada kekuasaannya yang lahiriah dan memaksa. Namun, arus besar paham tanpa agama yang merupakan pribadi maknawinya amat besar. Gambaran-gambaran dahsyat tentang Dajal dalam riwayat menunjuk kepada arus itu. Suatu waktu gambar panglima tertinggi Jepang dilukiskan dengan satu kaki berada di Samudra Pasifik dan kaki lainnya pada Benteng Port Arthur, yang berjarak sepuluh hari perjalanan. Melalui gambaran panglima Jepang yang kecil seperti ini, pribadi maknawi pasukannya diperlihatkan.
Adapun surga palsu Dajal adalah hiburan dan kemewahan peradaban yang memikat. Tunggangannya adalah sarana seperti kereta api, yang pada salah satu ujungnya terdapat tungku; kadang-kadang ia melemparkan orang-orang yang tidak mengikutinya ke dalam api. Satu telinga tunggangan itu, yakni ujung lainnya, dihias seperti surga; ia mendudukkan para pengikutnya di sana. Kereta api, yang merupakan tunggangan penting peradaban yang penuh nafsu dan kejam, memang membawa surga palsu bagi orang-orang yang hidup dalam nafsu serta dunia. Bagi para pemeluk agama dan umat Islam yang malang, di tangan peradaban ia membawa bahaya seperti penjaga neraka, lalu membuat mereka tertawan dan sengsara.
Melalui munculnya agama Nasrani yang sejati dan perubahannya menjadi Islam, cahaya agama itu tersebar kepada sebagian besar manusia di dunia. Namun, menjelang terjadinya kiamat, suatu arus paham tanpa agama muncul kembali dan menang. Menurut kaidah "El-hükmü li'l-ekser", di bumi tidak akan tersisa orang yang berkata "Allah Allah" سُبْحَانَهُ; yakni, "Allah Allah" سُبْحَانَهُ tidak lagi diucapkan dalam bentuk jamaah penting yang memiliki kedudukan penting di bumi.
Adapun ahli haq yang tinggal sedikit atau dikalahkan tetap ada hingga kiamat. Hanya saja, tepat sebelum kiamat terjadi, sebagai suatu rahmat agar tidak menyaksikan kedahsyatan kiamat, ruh ahli iman dicabut terlebih dahulu; kiamat menimpa orang-orang kafir. Makna pertanyaan kelima kalian:
Apakah ruh-ruh yang tetap ada akan terpengaruh oleh peristiwa-peristiwa kiamat?
Jawaban:
Mereka akan terpengaruh sesuai dengan derajatnya. Mereka terpengaruh sebagaimana para malaikat, menurut keadaannya masing-masing, terpengaruh oleh tajalli Kuasa yang menundukkan. Seperti orang yang berada di tempat hangat, ketika melihat orang-orang di luar menggigil dalam salju dan badai, terpengaruh dari segi akal serta nurani. Demikian pula, isyarat Al-Qur'an menunjukkan bahwa ruh-ruh yang tetap ada dan memiliki kesadaran, karena berhubungan dengan kainat, terpengaruh sesuai dengan derajatnya oleh peristiwa-peristiwa besar kainat; bagi penghuni azab, pengaruh itu berupa kepedihan, sedangkan bagi penghuni kebahagiaan berupa rasa takjub dan heran, bahkan dari satu segi berupa kegembiraan. Sebab, Al-Qur'an Al-Hakîm senantiasa menyebut keajaiban kiamat dalam bentuk ancaman. Ia berkata, "Kalian akan melihatnya!" Padahal, orang-orang yang melihatnya dengan tubuh manusia ialah mereka yang mencapai kiamat. Jadi, ruh-ruh yang tubuhnya membusuk dalam kubur pun memiliki bagian dari ancaman Al-Qur'an tersebut.
Makna pertanyaan keenam kalian:
ﻛُﻞُّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻫَﺎﻟِﻚٌ اِلَّا ﻭَﺟْﻬَﻪُ
Apakah ayat ini meliputi akhirat, surga, neraka, dan para penghuninya, atau tidak?
Jawaban:
Persoalan ini telah dibahas oleh banyak ahli yang meneliti hakikat, ahli kasyaf, dan ahli kewalian. Dalam persoalan ini, merekalah yang patut berbicara. Selain itu, ayat ini sangat luas dan memiliki banyak tingkatan. Sebagian besar ahli yang meneliti hakikat berkata: Ia tidak meliputi alam yang kekal. Sebagian lain berkata: Secara seketika, mereka pun mengalami suatu jenis kehancuran dalam waktu sangat singkat; waktunya begitu singkat sehingga mereka tidak merasakan bahwa mereka telah lenyap lalu kembali.
Adapun keadaan lenyap sama sekali yang diputuskan sebagian ahli kasyaf yang berpikiran berlebihan bukanlah hakikat. Sebab, karena Zat Allah سُبْحَانَهُ Yang Mahasuci kekal dan terus ada, tentu Sifat dan Asma-Nya pun kekal serta terus ada. Karena Sifat dan Asma-Nya terus ada dan kekal, tentu segala yang kekal serta para penghuni alam yang kekal, yang merupakan cermin, tajalli, ukiran, dan tempat munculnya Sifat serta Asma itu, dengan pasti tidak dapat lenyap sama sekali.
Dari limpahan Al-Qur'an Al-Hakîm, sekarang dua pokok terlintas dalam pikiran; kami akan menuliskannya secara ringkas:
Pertama: Allah سُبْحَانَهُ adalah Sang Qadîr Mutlak; dibandingkan dengan Kudrat dan Kehendak-Nya, keadaan tidak ada dan keadaan berwujud seperti dua tempat, dan dengan sangat mudah Dia mengirim sesuatu ke sana serta membawanya kembali. Jika menghendaki, Dia mengembalikannya dari sana dalam sehari atau sesaat. Selain itu, keadaan lenyap sama sekali memang tidak ada, sebab ada Ilmu Yang Meliputi segala sesuatu. Tidak ada pula tempat di luar lingkup Ilmu Allah سُبْحَانَهُ untuk melemparkan sesuatu ke sana. Adapun keadaan tidak ada dalam lingkup Ilmu ialah tidak ada secara lahiriah, suatu sebutan yang menjadi tabir bagi wujud dalam Ilmu. Bahkan, sebagian ahli yang meneliti hakikat menyebut segala yang ada dalam Ilmu itu "a'yân tsâbitah".
Maka, lenyap berarti untuk sementara melepaskan pakaian lahiriah dan masuk ke dalam wujud maknawi serta wujud dalam Ilmu. Yakni, segala yang hancur dan fana meninggalkan wujud lahiriahnya; hakikat diri mereka mengenakan wujud maknawi, keluar dari lingkup Kudrat, dan masuk ke lingkup Ilmu.
Kedua: Sebagaimana kami jelaskan dalam banyak Kalimat, setiap sesuatu, menurut makna yang menunjuk kepada dirinya sendiri dan dari segi yang mengarah kepada dirinya, adalah bukan apa-apa. Ia tidak memiliki wujud yang mandiri dan tetap dengan dirinya sendiri. Ia juga tidak memiliki hakikat yang berdiri hanya dengan dirinya sendiri. Namun, dari segi yang mengarah kepada Allah سُبْحَانَهُ, yakni menurut makna yang menunjuk kepada-Nya, ia bukan sesuatu yang tidak berarti. Sebab, padanya terdapat Asma Yang Kekal dengan tajalli yang terlihat. Ia tidaklah tanpa wujud, sebab membawa bayangan Wujud Yang Kekal. Ia memiliki hakikat, tetap, dan juga tinggi. Sebab, ia merupakan suatu jenis bayangan yang tetap dari Asma Yang Kekal dengan tajalli yang muncul padanya.
Selain itu,
ﻛُﻞُّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻫَﺎﻟِﻚٌ اِلَّا ﻭَﺟْﻬَﻪُ
merupakan pedang untuk memutus ikatan manusia dengan segala selain Allah سُبْحَانَهُ; ketetapannya mengarah kepada hal-hal fana dalam dunia, untuk memutus ikatan terhadap segala yang fana di dunia yang tidak diperhitungkan demi Allah سُبْحَانَهُ. Jadi, jika sesuatu demi Allah سُبْحَانَهُ, menurut makna yang menunjuk kepada-Nya, dan demi Wajah-Nya, ia tidak termasuk segala selain Allah سُبْحَانَهُ untuk dipenggal kepalanya dengan pedang
ﻛُﻞُّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻫَﺎﻟِﻚٌ اِلَّا ﻭَﺟْﻬَﻪُ.
Kesimpulannya:
Jika demi Allah سُبْحَانَهُ dan menemukan Allah سُبْحَانَهُ, tidak tersisa yang lain untuk dipenggal kepalanya. Jika tidak menemukan Allah سُبْحَانَهُ dan tidak memandang demi Dia, segala sesuatu adalah yang lain. Pedang
ﻛُﻞُّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻫَﺎﻟِﻚٌ اِلَّا ﻭَﺟْﻬَﻪُ
harus digunakan, tabir harus dirobek, agar Dia ditemukan!..
ﺍَﻟْﺒَﺎﻗ۪ﻰ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﺒَﺎﻗ۪ﻰ
Bedîüzzaman Said Nursî