Surat Keenam Belas
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺍَﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻗَﺎﻝَ ﻟَﻬُﻢُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻗَﺪْ ﺟَﻤَﻌُﻮﺍ ﻟَﻜُﻢْ ﻓَﺎﺧْﺸَﻮْﻫُﻢْ ﻓَﺰَﺍﺩَﻫُﻢْ ﺍ۪ﻳﻤَﺎﻧًﺎ ﻭَ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻮَﻛ۪ﻴﻞُ
Surat ini memperoleh rahasia
فَقُولَا ﻟَﻪُ قَوْلًا ﻟَﻴِّﻨًﺎ
dan tidak ditulis dengan keras.
Jawaban atas pertanyaan yang datang dari banyak orang, secara terang-terangan maupun maknawi.
Memberikan jawaban ini tidak menyenangkan bagiku; aku tidak menginginkannya. Aku telah mengikat segala urusanku pada tawakal kepada Allah سُبْحَانَهُ. Namun, karena aku tidak dibiarkan tenteram dalam keadaan dan alamku sendiri, dan wajahku dipalingkan kepada dunia, terpaksa aku menjelaskan lima pokok dengan bahasa Said Lama, bukan Said Baru. Hal ini kulakukan bukan demi diriku, melainkan untuk menyelamatkan sahabat-sahabat serta Sözler-ku dari prasangka dan gangguan para pencinta dunia, serta menjelaskan keadaan yang sebenarnya kepada sahabat-sahabatku, para pencinta dunia, dan para penguasa.
POKOK PERTAMA
Dikatakan:
"Mengapa engkau menarik diri dari politik dan sama sekali tidak mendekatinya?"
Jawaban:
Said Lama, sembilan atau sepuluh tahun yang lalu, sedikit masuk ke dalam politik. Dengan pikiran, "Mungkin melalui politik aku akan berkhidmah kepada agama dan ilmu," ia bersusah payah dengan sia-sia. Ia melihat bahwa jalan itu meragukan, penuh kesulitan, dan berlebihan bagiku; jalan itu juga menghalangi khidmah yang paling dibutuhkan serta berbahaya. Sebagian besar berupa kebohongan, dan ada kemungkinan tanpa sadar menjadi alat campur tangan orang asing.
Selain itu, orang yang masuk politik menjadi pendukung atau penentang. Jika menjadi pendukung, karena aku bukan pegawai maupun anggota parlemen, berpolitik bagiku merupakan sesuatu yang berlebihan dan tidak berguna. Aku tidak dibutuhkan, sehingga tidak perlu mencampuri dengan sia-sia. Jika memasuki politik penentangan, aku akan terlibat dengan pikiran atau kekuatan. Jika dengan pikiran, aku tidak dibutuhkan. Sebab, persoalan-persoalannya telah jelas dan setiap orang mengetahuinya seperti aku. Berbicara kosong dengan sia-sia tidak berarti. Jika menentang dengan kekuatan dan menimbulkan peristiwa, ada kemungkinan masuk ke dalam ribuan dosa demi tujuan yang tercapainya masih meragukan. Karena satu orang, banyak orang tertimpa bencana. Selain itu, masuk ke dalam dosa dan menjerumuskan orang-orang yang tidak bersalah ke dalam dosa berdasarkan satu atau dua kemungkinan dari sepuluh kemungkinan tidak diterima oleh nuraniku. Dengan berkata demikian, Said Lama meninggalkan surat kabar, politik, dan percakapan duniawi serta politik, bersama rokok.
Bukti yang pasti tentang hal ini: Selama delapan tahun sejak waktu itu, aku tidak membaca atau mendengarkan satu surat kabar pun. Silakan seseorang tampil dan mengatakan bahwa aku pernah membaca atau mendengarkannya. Padahal, delapan tahun sebelumnya Said Lama mungkin membaca delapan surat kabar sehari.
Selain itu, selama lima tahun keadaanku diawasi dengan penuh perhatian. Siapa yang melihat tanda politik, hendaknya mengatakannya. Padahal, pada orang seperti aku—mudah bergejolak, tanpa rasa takut, tidak terikat, serta dengan kaidah
ﺍِﻧَّﻤَﺎ ﺍﻟْﺤ۪ﻴﻠَﺔُ ﻓ۪ﻰ ﺗَﺮْﻙِ ﺍﻟْﺤِﻴَﻞِ
menemukan siasat terbesar dalam sikap tanpa siasat—suatu pemikiran tidak akan tersembunyi selama delapan tahun; bahkan delapan hari pun tidak. Jika ia memiliki hasrat dan keinginan terhadap politik, hal itu akan mengeluarkan suara seperti peluru meriam tanpa memerlukan pemeriksaan atau pencarian.
POKOK KEDUA
Mengapa Said Baru begitu kuat menghindari politik?
Jawaban:
Agar tidak mengorbankan usaha serta upaya memperoleh kehidupan yang kekal, yang melampaui miliaran tahun, melalui campur tangan yang tidak perlu dan berlebihan terhadap satu atau dua tahun kehidupan dunia yang belum pasti...
Selain itu, ia dengan kuat menjauhi politik demi khidmah iman dan Al-Qur'an, yang paling penting, paling dibutuhkan, paling murni, dan paling sesuai dengan hakikat. Sebab, ia berkata:
Aku menua dan tidak tahu berapa tahun lagi aku akan hidup. Maka, pekerjaan yang paling penting bagiku ialah berusaha bagi kehidupan yang kekal. Sarana paling utama untuk memperoleh kehidupan yang kekal dan kunci kebahagiaan abadi adalah iman; aku harus berusaha untuk itu.
Namun, karena dari segi ilmu aku diwajibkan oleh syariat untuk berkhidmah agar juga memberi manfaat kepada manusia, aku ingin berkhidmah. Akan tetapi, khidmah itu dapat berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan dunia; hal itu tidak sanggup kulakukan. Selain itu, pada masa penuh badai, khidmah yang kukuh tidak dapat dijalankan. Karena itu, aku meninggalkan segi tersebut dan memilih khidmah iman yang paling penting, paling dibutuhkan, dan paling aman. Aku membiarkan pintu itu terbuka agar hakikat iman yang kuperoleh bagi diriku dan obat ruhani yang kucoba pada nafsuku dapat sampai ke tangan orang lain. Mudah-mudahan Allah سُبْحَانَهُ menerima khidmah ini dan menjadikannya penebus dosa-dosaku yang dahulu.
Tidak seorang pun, baik mukmin maupun kafir, siddiq maupun pengingkar agama, berhak menentang khidmah ini, selain setan yang terkutuk. Sebab, tidak beriman tidak menyerupai hal-hal lain. Dalam kezaliman, kefasikan, dan dosa besar mungkin terdapat suatu kenikmatan setani yang terkutuk. Namun, dalam tidak beriman sama sekali tidak ada segi kenikmatan. Ia adalah kepedihan di dalam kepedihan, gelap di dalam gelap, azab di dalam azab.
Meninggalkan usaha bagi kehidupan yang kekal tanpa batas seperti ini dan khidmah kepada cahaya suci seperti iman, lalu pada usia tua terjun ke permainan politik yang tidak perlu dan berbahaya, bagi orang seperti aku yang tidak terikat, sendirian, dan harus mencari penebus bagi dosa-dosanya yang dahulu, betapa bertentangan dengan akal, betapa bertentangan dengan hikmah, dan betapa merupakan kegilaan; bahkan orang gila pun dapat memahaminya.
Jika engkau bertanya mengapa khidmah Al-Qur'an dan iman mencegahku, aku berkata: Hakikat iman dan Al-Qur'an masing-masing berkedudukan sebagai berlian. Jika aku tercemar politik, orang awam yang dapat diperdaya akan memikirkan berlian-berlian di tanganku, "Apakah ini bukan propaganda politik untuk memperoleh pendukung?" Mereka dapat memandang berlian-berlian itu sebagai botol biasa. Ketika itu, dengan menyentuh politik, aku menzalimi berlian-berlian tersebut dan berkedudukan sebagai orang yang menurunkan nilainya.
Wahai para pencinta dunia! Mengapa kalian mengusikku? Mengapa kalian tidak membiarkanku dalam keadaanku sendiri?
Jika kalian berkata:
Para syekh kadang-kadang mencampuri urusan kami. Kadang-kadang engkau pun disebut syekh.
Aku pun berkata:
Wahai tuan-tuan! Aku bukan syekh; aku adalah guru. Buktinya: Selama empat tahun aku berada di sini, jika aku memberikan tarekat kepada satu orang saja, kalian berhak merasa curiga. Sebaliknya, kepada setiap orang yang mendatangiku aku berkata: Iman diperlukan, Islam diperlukan; sekarang bukan masa tarekat.
Jika kalian berkata:
Engkau disebut Said-i Kürdî. Mungkin dalam dirimu terdapat pemikiran mencintai ras, dan itu tidak sesuai dengan kepentingan kami.
Aku pun berkata:
Wahai tuan-tuan! Tulisan Said Lama dan Said Baru terbuka. Aku menunjukkannya sebagai saksi bahwa, melalui ketetapan yang pasti
اَلْاِسْلَامِيَّةُ ﺟَﺒَّﺖِ ﺍﻟْﻌَﺼَﺒِﻴَّﺔَ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔَ,
sejak dahulu aku memandang kebangsaan negatif dan cinta ras sebagai racun yang mematikan, karena keduanya merupakan suatu penyakit Eropa. Aku berpikir bahwa Eropa memasukkan penyakit itu ke dalam Islam agar menimbulkan pecah belah, menceraikannya, dan membuatnya siap ditelan. Murid-muridku serta orang-orang yang berhubungan denganku mengetahui bahwa sejak dahulu aku berusaha mengobati penyakit Eropa tersebut.
Karena demikian, wahai tuan-tuan, mengapa setiap peristiwa dijadikan dalih untuk menyusahkanku? Menyusahkanku dalam setiap peristiwa duniawi seperti menghukum dan menyusahkan seorang prajurit di barat karena hubungan ketentaraan ketika seorang prajurit di timur berbuat salah, atau menghukum pemilik toko di Baghdad karena hubungan perdagangan ketika seorang pedagang di Istanbul melakukan kejahatan: Menurut aturan apa hal itu dilakukan? Nurani mana yang memutuskannya? Manfaat apa yang menghendakinya?
POKOK KETIGA
Sahabat-sahabat yang memikirkan keadaan serta kenyamananku dan merasa heran akan kesabaran serta diamku menghadapi setiap musibah memiliki pertanyaan berikut: "Bagaimana engkau menahan kesusahan dan kesempitan yang menimpamu? Padahal, dahulu engkau sangat mudah marah dan menjaga kehormatan; engkau tidak dapat menahan penghinaan yang paling kecil pun?"
Jawaban:
Dengarkan dua peristiwa dan kisah kecil, lalu peroleh jawabannya:
Kisah Pertama: Dua tahun yang lalu, seorang pejabat, tanpa sebab dan tanpa kehadiranku, mengatakan kata-kata yang meremehkan serta menghina diriku. Kemudian hal itu disampaikan kepadaku. Selama sekitar satu jam aku terpengaruh dengan watak Said Lama. Lalu, dengan Rahmat Allah سُبْحَانَهُ, suatu hakikat datang ke hati, menghilangkan kesempitan, dan membuatku memaafkan orang itu. Hakikat tersebut ialah:
Aku berkata kepada nafsuku: Jika penghinaan dan kekurangan yang ia sebutkan berkaitan dengan diri serta nafsuku, semoga Allah سُبْحَانَهُ meridainya karena ia menyebut aib nafsuku. Jika ia berkata benar, ia mengarahkanku untuk mendidik nafsuku dan membantu menyelamatkanku dari kesombongan. Jika ia berkata bohong, ia membantu menyelamatkanku dari riya dan ketenaran palsu yang menjadi dasar riya. Ya, aku belum berdamai dengan nafsuku, sebab aku belum mendidiknya. Jika seseorang mengatakan atau memperlihatkan bahwa ada kalajengking di leher atau di dadaku, aku seharusnya merasa senang kepadanya, bukan kesal.
Jika penghinaan orang itu berkaitan dengan sifatku sebagai orang yang berkhidmah kepada iman dan Al-Qur'an, hal itu bukan urusanku. Aku menyerahkan orang itu kepada Sang Pemilik Al-Qur'an Yang Mempekerjakanku. Dia Azîz dan Hakîm.
Jika semata-mata berupa mencaci, menghina, dan merusak namaku, itu pun bukan urusanku. Karena aku diasingkan, menjadi tawanan, terasing, dan tidak bebas bertindak, berusaha memulihkan kehormatanku sendiri bukanlah tugasku. Sebaliknya, tugas itu menjadi milik penguasa desa tempat aku menjadi tamu dan diawasi, kemudian penguasa distrik, lalu provinsi. Penghinaan terhadap tawanan yang berada di tangan seseorang menjadi urusan pemiliknya; dialah yang membela.
Karena hakikatnya demikian, hatiku merasa tenteram. Aku berkata
ﻭَﺍُﻓَﻮِّﺽُ ﺍَﻣْﺮ۪ٓﻯ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﺑَﺼ۪ﻴﺮٌ ﺑِﺎﻟْﻌِﺒَﺎﺩِ.
Aku menganggap peristiwa itu seolah-olah tidak terjadi dan melupakannya. Namun, sayangnya, kemudian diketahui bahwa Al-Qur'an tidak memaafkannya...
Kisah Kedua: Pada tahun ini aku mendengar bahwa terjadi suatu peristiwa. Meskipun aku hanya mendengar secara ringkas bahwa peristiwa itu terjadi setelah kejadiannya, aku diperlakukan seolah-olah terlibat sungguh-sungguh di dalamnya. Lagi pula, aku tidak berkirim kabar; kalaupun melakukannya, sangat jarang aku menulis suatu persoalan iman kepada seorang sahabat. Bahkan, selama empat tahun aku menulis satu surat saja kepada saudaraku. Selain aku mencegah diriku bergaul, para pencinta dunia pun mencegahku. Aku hanya dapat bertemu satu atau dua sahabat sekali seminggu. Adapun tamu yang datang ke desa, satu atau dua orang dalam sebulan kadang-kadang berbincang denganku satu atau dua menit mengenai persoalan akhirat.
Dalam keadaan perantauan ini, terasing, sendirian, tanpa siapa pun, di desa yang tidak sesuai bagi orang sepertiku untuk bekerja mencari nafkah, aku dihalangi dari segala sesuatu dan setiap orang. Bahkan, empat tahun lalu aku membuat sebuah masjid yang rusak diperbaiki. Karena memiliki surat pengangkatan imam dan penceramah dari negeriku, selama empat tahun aku menjadi imam di masjid itu—semoga Allah سُبْحَانَهُ menerima—tetapi pada Ramadan yang diberkahi lalu ini aku tidak dapat pergi ke masjid. Kadang-kadang aku melaksanakan salat sendirian. Aku kehilangan pahala dua puluh lima kali lipat dan kebaikan salat berjamaah.
Terhadap kedua peristiwa yang menimpaku ini, aku menunjukkan kesabaran dan ketabahan yang sama dengan sikapku terhadap perlakuan pegawai itu dua tahun lalu. İnşâallah, aku akan terus menjaganya. Aku juga berpikir dan berkata:
Jika gangguan, kesempitan, dan tekanan para pencinta dunia terhadapku ini ditujukan kepada nafsuku yang beraib serta penuh kekurangan, aku memaafkan mereka. Mungkin melalui semua itu nafsuku memperbaiki keadaannya, dan semua itu menjadi penebus dosa baginya. Aku telah banyak menikmati kesenangan rumah singgah dunia; jika merasakan sedikit penderitaannya, aku tetap bersyukur.
Jika para pencinta dunia menekanku karena segi khidmahku kepada iman dan Al-Qur'an, pembelaannya bukan tugasku; aku menyerahkannya kepada Sang Azîz Yang Jabbâr.
Jika maksud mereka merusak simpati masyarakat terhadap diriku untuk menghancurkan ketenaran palsu yang tidak berdasar, menyebabkan riya, dan merusak ikhlas, rahmat bagi mereka... Sebab, aku menduga bahwa memperoleh simpati masyarakat dan ketenaran dalam pandangan orang merugikan orang sepertiku. Orang-orang yang berhubungan denganku mengetahui bahwa aku tidak menginginkan penghormatan terhadap diriku, bahkan membencinya. Aku bahkan telah menegur seorang sahabat yang berharga dan penting mungkin lima puluh kali karena penghormatannya yang berlebihan.
Jika maksud mereka merusak namaku, menjatuhkanku dalam pandangan masyarakat, dan merendahkanku berkaitan dengan hakikat iman serta Al-Qur'an yang kuterangkan, hal itu sia-sia. Sebab, bintang-bintang Al-Qur'an tidak dapat ditutupi tabir. Orang yang menutup mata hanya membuat dirinya tidak melihat; ia tidak dapat menjadikan malam bagi orang lain.
POKOK KEEMPAT
Jawaban atas beberapa pertanyaan yang penuh prasangka:
Pertama:
Para pencinta dunia berkata kepadaku, "Dengan apa engkau hidup? Bagaimana engkau menghidupi diri tanpa bekerja? Di negeri kami, kami tidak menginginkan orang yang duduk malas dan hidup dari usaha orang lain."
Jawaban:
Aku hidup dengan hemat dan berkah. Aku tidak mau berutang budi kepada siapa pun selain Ar-Razzâq-ku, dan telah bertekad untuk tidak melakukannya. Ya, orang yang hidup dengan seratus para sehari, bahkan empat puluh para, tidak mau berutang budi kepada orang lain. Aku sama sekali tidak ingin menjelaskan persoalan ini. Karena penjelasannya mungkin memberi kesan sombong dan ananiyah (keakuan), menyampaikannya sangat tidak menyenangkan bagiku. Namun, karena para pencinta dunia bertanya dengan penuh prasangka, aku pun berkata:
Sejak kecil, tidak menerima harta orang, sekalipun berupa zakat; tidak menerima gaji—hanya selama satu atau dua tahun di Darulhikmah Al-Islamiyah aku terpaksa menerimanya karena desakan sahabat-sahabatku, dan uang itu pun kami kembalikan secara maknawi kepada bangsa—serta tidak berutang budi demi penghidupan dunia merupakan kaidah hidupku sepanjang umur. Orang-orang negeriku dan orang-orang yang mengenalku di tempat lain mengetahui hal ini. Selama pengasinganku lima tahun ini, banyak sahabat berusaha keras agar aku menerima hadiah mereka, tetapi aku tidak menerimanya.
Jika dikatakan, "Kalau demikian, bagaimana engkau menghidupi diri?" aku berkata:
Aku hidup dengan berkah dan ikram dari Allah سُبْحَانَهُ. Meskipun nafsuku layak mendapat setiap penghinaan dan pengkhianatan, sebagai karamah khidmah Al-Qur'an aku memperoleh berkah dalam urusan bekal, yang merupakan ikram dari Allah سُبْحَانَهُ. Menurut rahasia
ﻭَ ﺍَﻣَّﺎ ﺑِﻨِﻌْﻤَﺔِ ﺭَﺑِّﻚَ ﻓَﺤَﺪِّﺙْ,
dengan mengingat anugerah-anugerah Allah سُبْحَانَهُ kepadaku, aku akan menyampaikan beberapa contohnya sebagai suatu jenis syukur maknawi. Meskipun merupakan syukur maknawi, aku takut membuat orang merasakan riya dan kesombongan, sehingga berkah yang diberkahi itu terputus. Sebab, memperlihatkan berkah tersembunyi dengan berbangga menyebabkan berkah itu terputus. Namun, apa daya, aku terpaksa menyampaikannya.
Salah satunya: Selama enam bulan ini, satu kile gandum yang setara dengan tiga puluh enam roti telah mencukupiku. Masih ada dan belum habis. Berapa lama ia akan mencukupi {(Catatan kaki):
Bertahan selama satu tahun.} aku tidak tahu.
Kedua: Pada Ramadan yang diberkahi ini, hanya dua rumah mengirim makanan kepadaku, dan keduanya membuatku sakit. Aku memahami bahwa aku dilarang memakan makanan orang lain. Adapun selebihnya, selama seluruh Ramadan, menurut berita dan kesaksian keluarga yang diberkahi yang mengurus penghidupanku serta pemilik rumah itu, Abdullah Çavuş, seorang sahabatku yang setia, tiga roti dan satu kiyye (berarti kilo) beras telah mencukupiku. Bahkan, beras itu baru habis lima belas hari setelah Ramadan.
Ketiga: Di gunung, selama tiga bulan satu kiyye mentega mencukupi diriku dan tamu-tamuku, dengan syarat dimakan bersama roti setiap hari. Bahkan, ada seorang tamuku yang diberkahi bernama Süleyman. Rotiku maupun rotinya hampir habis. Saat itu hari Rabu; aku berkata kepadanya, "Pergilah mengambil roti untuk dibawa kemari." Dalam jarak dua jam di sekeliling kami tidak ada orang yang darinya roti dapat diperoleh. Ia berkata, "Aku ingin berdoa bersamamu di gunung ini pada malam Jumat." Aku pun berkata, "Tevekkelnâ alallah, tinggallah."
Kemudian, meskipun sama sekali tidak ada hubungan dan alasan, kami berdua berjalan naik ke puncak suatu gunung. Ada sedikit air dalam kendi. Kami memiliki sedikit gula dan teh. Aku berkata, "Saudaraku, buatlah sedikit teh." Ia mulai melakukannya, sedangkan aku duduk di bawah pohon aras yang menghadap lembah dalam. Dengan sedih aku berpikir: Kami memiliki sepotong roti berjamur; malam ini hanya cukup bagi kami berdua. Bagaimana kami akan menjalani dua hari, dan apa yang akan kukatakan kepada orang berhati bersih ini? Ketika sedang berpikir, tiba-tiba aku menoleh seakan-akan kepalaku dipalingkan; aku melihat sebuah roti besar pada pohon aras, di antara dahan-dahannya, memandang kami. Aku berkata, "Süleyman, kabar gembira! Allah سُبْحَانَهُ memberi kita rezeki." Kami mengambil roti itu dan melihat bahwa tidak ada burung atau hewan liar yang menyentuhnya. Selama dua puluh atau tiga puluh hari tidak ada manusia yang naik ke puncak itu. Roti tersebut mencukupi kami berdua selama dua hari. Ketika kami memakannya dan hampir habis, Süleyman yang lurus, seorang sahabat setiaku selama empat tahun, datang naik dari bawah membawa roti.
Keempat: Jas yang kukenakan ini kubeli dalam keadaan bekas tujuh tahun lalu. Selama lima tahun aku mencukupi kebutuhan pakaian, pakaian dalam, sepatu, dan kaus kaki dengan empat setengah lira. Berkah hidup hemat dan Rahmat Allah سُبْحَانَهُ telah mencukupiku.
Ada banyak hal seperti contoh-contoh ini, dan banyak segi Berkah Allah سُبْحَانَهُ. Penduduk desa ini mengetahui sebagian besarnya. Namun, jangan sekali-kali mengira aku menyebutkannya untuk berbangga; justru aku terpaksa. Jangan pula menganggap semua itu dasar bagi kebaikan diriku. Berkah-berkah ini adalah anugerah kepada sahabat-sahabat tulus yang mendatangiku, atau ikram bagi khidmah Al-Qur'an, atau manfaat penuh berkah dari hidup hemat, atau rezeki keempat kucing yang berada di sisiku dan berzikir "Yâ Rahîm, Yâ Rahîm"; rezeki mereka datang dalam bentuk berkah dan aku pun memperoleh manfaat darinya. Ya, jika engkau mendengarkan gumaman sedih mereka dengan teliti, engkau memahami bahwa mereka mengucapkan "Yâ Rahîm, Yâ Rahîm".
Pembahasan kucing mengingatkan kepada ayam. Aku memiliki seekor ayam. Pada musim dingin ini, seperti mesin telur, hampir tanpa jeda setiap hari ia membawa sebutir telur kepadaku dari khazanah Rahmat. Bahkan, suatu hari ia membawa dua butir telur dan aku merasa takjub. Aku bertanya kepada sahabat-sahabatku, "Apakah dapat terjadi seperti ini?" Mereka berkata, "Mungkin suatu anugerah dari Allah سُبْحَانَهُ." Ayam ini juga memiliki anak kecil yang menetas pada musim panas. Pada awal Ramadan yang mulia, anak ayam itu mulai bertelur dan terus berlangsung selama empat puluh hari. Anak ayam itu kecil, dan hal ini terjadi pada musim dingin serta pada Ramadan; keadaan yang diberkahi ini tidak lagi meninggalkan keraguan pada diriku maupun orang-orang yang melayaniku bahwa hal itu merupakan ikram dari Rabb. Selain itu, ketika induknya berhenti, ia segera mulai, sehingga tidak membiarkanku tanpa telur.
Pertanyaan Kedua yang Penuh Prasangka:
Para pencinta dunia berkata: Bagaimana kami dapat percaya bahwa engkau tidak akan mencampuri dunia kami? Jika kami membiarkanmu bebas, mungkin engkau mencampuri dunia kami. Selain itu, bagaimana kami mengetahui bahwa engkau tidak berbuat licik? Bagaimana kami mengetahui bahwa engkau tidak sedang berbuat licik dengan memperlihatkan diri sebagai orang yang meninggalkan dunia, secara lahiriah tidak mengambil harta orang, tetapi mengambilnya secara tersembunyi?
Jawaban:
Keadaan dan sikapku pada Pengadilan Militer Luar Biasa dua puluh tahun yang lalu, serta pada masa sebelum Kebebasan, yang diketahui banyak orang, dan pembelaanku dalam pengadilan militer pada waktu itu yang bernama "İki Mekteb-i Musibetin Şehadetnamesi" (Sertifikat Dua Sekolah Musibah), menunjukkan dengan pasti bahwa aku menjalani hidup dengan cara yang tidak merendahkan diri kepada kelicikan, bahkan kepada tipu daya yang paling kecil.
Jika ada tipu daya, selama lima tahun ini aku akan mengajukan permohonan kepada kalian dengan menjilat. Orang yang menipu membuat dirinya disukai, tidak menarik diri; ia senantiasa berusaha memperdaya dan menipu. Padahal, menghadapi serangan dan kritik paling besar terhadapku, aku tidak merendahkan diri menjadi hina. Aku berkata "Tevekkeltü alallah" dan membelakangi para pencinta dunia.
Selain itu, orang yang mengetahui akhirat dan menyingkap hakikat dunia, jika berakal, tidak menyesal dan tidak kembali mengurus dunia. Setelah berusia lima puluh tahun, orang yang tidak terikat dan sendirian tidak mengorbankan kehidupannya yang kekal demi satu atau dua tahun celoteh serta kepura-puraan dunia. Jika mengorbankannya, ia bukan orang licik, melainkan orang gila yang bodoh. Apa yang dapat dilakukan orang gila yang bodoh sehingga ia harus diusik?
Adapun kecurigaan bahwa secara lahiriah aku meninggalkan dunia tetapi secara batin mencarinya, menurut rahasia
ﻭَﻣَٓﺎ ﺍُﺑَﺮِّﺉُ ﻧَﻔْﺴ۪ٓﻰ ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻨَّﻔْﺲَ لَاَمَّارَةٌ ﺑِﺎﻟﺴُّٓﻮﺀِ,
aku tidak membebaskan nafsuku dari kesalahan; nafsuku menginginkan setiap keburukan. Namun, dalam dunia yang fana dan rumah singgah sementara ini, pada usia tua, dalam umur singkat, merusak kehidupan yang kekal dan terus ada serta kebahagiaan abadi demi sedikit kenikmatan bukanlah tindakan orang berakal. Karena bukan tindakan orang berakal dan berkesadaran, nafsu ammarahku, mau atau tidak, telah mengikuti akal.
Pertanyaan Ketiga yang Penuh Prasangka:
Para pencinta dunia berkata: Apakah engkau mencintai kami? Apakah engkau menyukai kami? Jika mencintai, mengapa engkau menjauh karena kesal dan tidak bergaul dengan kami?
Jika tidak menyukai, engkau menentang kami; kami menghancurkan para penentang kami?
Jawaban:
Jangankan mencintai kalian, jika aku mencintai dunia kalian, aku tidak akan menarik diri dari dunia. Aku tidak menyukai kalian ataupun dunia kalian. Namun, aku tidak mencampurinya. Sebab, aku memiliki tujuan lain; pokok-pokok lain telah memenuhi hatiku dan tidak meninggalkan ruang untuk memikirkan hal lain. Tugas kalian mengawasi perbuatan, bukan hati! Sebab, kalian menginginkan pemerintahan dan keamanan kalian. Ketika aku tidak bertindak mencampuri urusan kalian, hak apa yang kalian miliki untuk berkata, "Hati pun harus mencintai kami," padahal kalian sama sekali tidak layak? Jika kalian mencampuri hati...
Ya, sebagaimana dalam musim dingin ini aku mengharapkan dan menginginkan musim semi, tetapi tidak dapat menentukannya dengan kehendakku atau berusaha mendatangkannya, demikian pula aku mengharapkan membaiknya keadaan dunia, berdoa, dan menginginkan perbaikan para pencinta dunia. Namun, aku tidak dapat menentukannya dengan kehendakku, sebab tidak sanggup. Aku tidak dapat berusaha secara nyata, sebab bukan tugasku dan aku tidak memiliki kemampuan.
Pertanyaan Keempat yang Mengandung Keraguan:
Para pencinta dunia berkata: Kami telah mengalami begitu banyak bencana sehingga tidak lagi percaya kepada siapa pun. Bagaimana kami dapat percaya kepadamu bahwa jika kesempatan berada di tanganmu, engkau tidak mencampuri sebagaimana yang engkau inginkan?
Jawaban:
Pokok-pokok sebelumnya memberi kalian rasa percaya. Selain itu, di negeriku, di antara murid dan kerabatku, di tengah orang-orang yang mendengarkanku, serta dalam peristiwa-peristiwa yang mengguncang, aku tidak mencampuri dunia kalian. Maka, orang yang berada di negeri rantau, sendirian, seorang diri, terasing, lemah, tak berdaya, dengan seluruh kekuatannya mengarah kepada akhirat, terputus dari pergaulan serta kabar, dan hanya dari jauh bersahabat dengan sebagian pencinta akhirat melalui hubungan iman serta akhirat, yang terasa asing bagi setiap orang lain dan dipandang asing oleh mereka, tentu menjadi orang gila berlipat jika ia mencampuri dunia kalian yang tanpa hasil dan berbahaya.
POKOK KELIMA
Tentang lima persoalan kecil:
Pertama: Para pencinta dunia berkata kepadaku: Mengapa engkau tidak menerapkan pada dirimu tata cara peradaban, cara hidup, dan cara berpakaian kami? Jadi, engkau menentang kami.
Aku pun berkata:
Wahai tuan-tuan! Dengan hak apa kalian menuntutku mengikuti tata cara peradaban kalian? Padahal, seolah-olah mencabut hak-hak sipilku, secara tidak adil selama lima tahun kalian membuatku tinggal di desa dengan larangan berkirim kabar dan bergaul. Kalian membiarkan setiap orang yang diasingkan tinggal di kota bersama sahabat serta kerabatnya, lalu memberi mereka surat izin. Namun, tanpa sebab kalian mengucilkanku dan tidak membiarkanku bertemu seorang pun dari negeriku, kecuali satu atau dua orang. Jadi, kalian tidak menganggapku sebagai anggota bangsa atau rakyat. Bagaimana kalian menuntut hukum peradaban kalian diterapkan kepadaku? Kalian menjadikan dunia penjara bagiku. Hal-hal seperti ini tidak dituntut dari orang dalam penjara. Kalian menutup pintu dunia bagiku; aku pun mengetuk pintu akhirat dan Rahmat Allah سُبْحَانَهُ membukanya. Bagaimana cara dan kebiasaan dunia yang kacau dituntut dari orang yang berada di pintu akhirat? Ketika kalian membebaskanku, mengembalikanku ke negeriku, dan memberi hak-hakku, barulah kalian dapat meminta penerapan cara kalian.
Persoalan Kedua: Para pencinta dunia berkata: Kami memiliki lembaga resmi yang mengajarkan hukum agama dan hakikat Islam kepada kami. Dengan wewenang apa engkau menerbitkan ajaran agama? Karena engkau dihukum pengasingan, engkau tidak berhak mencampuri urusan ini.
Jawaban:
Haq dan hakikat tidak dapat dimonopoli! Bagaimana iman dan Al-Qur'an dapat dimonopoli? Kalian dapat memonopoli cara dan hukum dunia kalian. Namun, hakikat iman dan asas Al-Qur'an tidak dapat dimasukkan secara resmi dan dengan imbalan ke dalam bentuk urusan dunia. Sebaliknya, rahasia-rahasia yang merupakan pemberian Allah سُبْحَانَهُ itu dan limpahannya dapat datang melalui niat tulus serta melepaskan diri dari dunia dan kenikmatan nafsu.
Selain itu, ketika aku berada di negeriku, lembaga resmi kalian itu juga menerimaku sebagai penceramah dan mengangkatku. Aku menerima tugas penceramah itu, tetapi meninggalkan gajinya. Aku memiliki surat pengangkatannya. Dengan surat pengangkatan penceramah dan imam, aku dapat bertugas di mana pun, sebab pengasinganku tidak adil. Selain itu, karena orang-orang yang diasingkan telah dikembalikan, surat-surat pengangkatanku yang dahulu tetap berlaku.
Kedua, hakikat-hakikat iman yang kutulis langsung kutujukan kepada nafsuku sendiri. Aku tidak mengundang setiap orang. Sebaliknya, orang-orang yang ruhnya membutuhkan dan hatinya terluka mencari serta menemukan obat-obat Al-Qur'an itu. Hanya demi penghidupanku, sebelum muncul huruf baru, aku mencetak satu risalahku tentang kebangkitan. Bahkan, gubernur lama yang tidak adil terhadapku tidak dapat mengusik risalah ini, karena setelah memeriksanya ia tidak menemukan segi yang dapat dikritik.
Persoalan Ketiga: Karena para pencinta dunia memandangku dengan curiga, sebagian sahabatku secara lahiriah melepaskan hubungan denganku, bahkan mengkritikku, agar tampak menyenangkan bagi para pencinta dunia. Padahal, para pencinta dunia yang licik menganggap sikap melepaskan hubungan dan menjauh dariku itu sebagai suatu jenis riya serta sikap tanpa nurani, bukan sebagai kesetiaan kepada mereka; mereka pun memandang buruk sahabat-sahabatku itu.