Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Bagian 3

Teka-Teki · Bahasa Indonesia

Atau, zarah itu harus diberi ilmu yang meliputi seluruh makhluk tersebut dan kekuatan yang sanggup menyusun mereka semua, agar dapat menjadi sarana bagi seluruh susunan mereka.
Jadi, jika hubungan dengan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq terputus, kita harus mengakui ilah-ilah sebanyak zarah tanah. Ini adalah takhayul yang mustahil di dalam hal yang mustahil seribu kali lipat.
Namun, ketika zarah-zarah itu menjadi petugas, semuanya sangat mudah. Sebagaimana seorang prajurit biasa dari seorang sultan agung dapat memindahkan penduduk suatu negeri, menyatukan dua laut, dan menawan seorang raja atas nama serta dengan kekuatan rajanya, demikian pula atas Perintah Sultan dari azali hingga abadi, seekor lalat menjatuhkan seorang Namrud dan seekor semut merusak serta merobohkan istana seorang Firaun. Sebutir biji ara memikul sebatang pohon ara.
Selain itu, pada setiap zarah terdapat dua saksi benar lagi yang menunjukkan bahwa Sang Pembuat harus ada dan Dia Esa.
Salah satunya: Sekalipun tak berdaya sama sekali, setiap zarah memikul tugas-tugas yang sangat besar dan beraneka ragam. Dan meskipun tidak bernyawa, zarah itu menyesuaikan geraknya dengan tata umum secara tertib, yang menunjukkan kesadaran menyeluruh. Jadi, setiap zarah bersaksi melalui bahasa tak berdayanya bahwa Sang Qadîr Mutlak pasti harus ada, dan bersaksi bagi Keesaan-Nya dengan memperhatikan tata alam.

ﻛَﻤَﺎ ﺍَﻥَّ ﻓ۪ﻰ ﻛُﻞِّ ﺫَﺭَّﺓٍ ﺷَﺎﻫِﺪَﺍﻥِ ﻋَﻠٰﻰ ﺍَﻧَّﻪُ ﻭَﺍﺟِﺐٌ ﻭَﺍﺣِﺪٌ ﻛَﺬٰﻟِﻚَ ﻓ۪ﻰ ﻛُﻞِّ ﺣَﻰٍّ ﻟَﻪُ ﺍٰﻳَﺘَﺎﻥِ ﻋَﻠٰﻰ ﺍَﻧَّﻪُ ﺍَﺣَﺪٌ ﺻَﻤَﺪٌ


Ya, pada setiap makhluk hidup terdapat satu cap Ahadiyah dan satu tanda agung Sifat Shamad. Sebab, satu makhluk hidup sekaligus menunjukkan dalam cerminnya Asma yang manifestasi-manifestasinya terlihat di sebagian besar kainat. Seakan-akan menjadi titik pusat berkumpulnya cahaya, ia menunjukkan Tajalli Ismul A'zham Sang Hayy lagi Qayyûm. Karena menunjukkan semacam bayangan Ahadiyah Zat di balik tabir Nama Muhyî, ia membawa cap Ahadiyah.
Selain itu, karena makhluk hidup itu ibarat contoh kecil kainat dan buah pohon ciptaan, dipenuhinya sekaligus kebutuhan-kebutuhannya yang sebanyak kainat dengan mudah dalam lingkup hidupnya yang kecil menunjukkan tanda agung Sifat Shamad. Yakni, keadaan itu menunjukkan bahwa ia memiliki Rabb yang Perhatian-Nya kepadanya dapat menggantikan segala sesuatu, dan Pandangan-Nya dapat menempati kedudukan segala sesuatu. Seluruh benda tidak dapat menggantikan satu Perhatian-Nya.

ﻧَﻌَﻢْ ﻳَﻜْﻔ۪ﻰ ﻟِﻜُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﺷَﻲْﺀٌ ﻋَﻦْ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻭَ لَا ﻳَﻜْﻔ۪ﻰ ﻋَﻨْﻪُ ﻛُﻞُّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻭَ ﻟَﻮْ ﻟِﺸَﻲْﺀٍ ﻭَﺍﺣِﺪٍ


Keadaan itu juga menunjukkan bahwa Rabb-nya tidak membutuhkan apa pun, tidak ada sesuatu pun yang berkurang dari khazanah-Nya, dan tidak ada sesuatu pun yang berat bagi Kudrat-Nya.

Inilah semacam tanda agung yang menunjukkan bayangan Sifat Shamad...
Jadi, pada setiap makhluk hidup terdapat cap Ahadiyah dan tanda agung Sifat Shamad. Ya, setiap makhluk hidup membaca

ﻗُﻞْ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﺣَﺪٌ ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟﺼَّﻤَﺪُ

melalui bahasa kehidupannya. Selain dua cap ini, masih ada beberapa jendela penting. Karena sudah diuraikan di tempat lain, di sini disingkat.
Karena setiap zarah kainat ini membuka tiga jendela dan dua lubang seperti itu, dan kehidupan juga membuka dua pintu sekaligus menuju Keesaan Wâjibul Wujûd, engkau dapat membandingkan bagaimana lapisan-lapisan makhluk, dari zarah hingga matahari, menyebarkan cahaya makrifat Zat Dzul-Jalâl.
Dari sini, pahami dan bandingkanlah tingkat-tingkat kemajuan rohani dalam makrifatullah serta derajat-derajat merasa hadir di hadapan-Nya.

Lem'a Kelima

Sebagaimana satu pena cukup untuk menulis sebuah buku jika buku itu berupa tulisan tangan, jika buku itu dicetak, diperlukan pena-pena sebanyak hurufnya, yakni huruf-huruf besi, agar buku itu dapat dicetak dan terwujud. Jika sebagian besar buku itu tertulis dengan tulisan yang sangat halus di dalam beberapa hurufnya—seperti Surah Yâsîn yang ditulis di dalam kata Yâsîn—seluruh huruf besi berukuran kecil itu diperlukan dalam satu huruf tersebut agar dapat dicetak.
Tepat demikian pula, jika engkau mengatakan bahwa kitab kainat ini adalah tulisan Pena kudrat Allah سُبْحَانَهُ Yang Shamad dan surat Zat yang bersifat Ahadiyah, engkau menempuh jalan yang mudah hingga tingkat pasti, dan masuk akal hingga tingkat mesti. Jika engkau menisbatkannya kepada tabiat dan sebab-sebab, engkau menempuh jalan yang sulit hingga tidak mungkin, rumit hingga mustahil, dan penuh takhayul yang tidak dapat diterima oleh angan-angan apa pun. Dalam jalan itu, bagi tabiat, harus terdapat miliaran percetakan logam dan pabrik maknawi yang tak terbatas dalam setiap bagian tanah, setiap tetes air, dan setiap bagian udara, agar dapat menjadi tempat munculnya susunan karya-karya seni berbunga dan berbuah yang tak terhitung.

Atau, engkau harus menganggap ada ilmu yang meliputi segala sesuatu dan kekuatan untuk melakukan segala sesuatu di dalamnya, agar dapat menjadi sumber nyata karya-karya seni ini.
Sebab, setiap bagian tanah, air, dan udara dapat menjadi asal kebanyakan tanaman. Padahal susunan setiap tanaman—baik berbuah maupun berbunga—begitu tertib, begitu terukur, begitu berbeda satu sama lain, dan begitu berlainan sifatnya, sehingga masing-masing membutuhkan pabrik maknawi atau percetakan tersendiri yang hanya khusus baginya.
Jadi, jika tabiat beralih dari alat penggaris menjadi sumber yang menghasilkan, ia harus memiliki mesin-mesin bagi seluruh benda dalam setiap benda. Dasar gagasan memuja tabiat ini merupakan takhayul sedemikian rupa sehingga para penggemar takhayul pun malu karenanya. Lihat dan ambillah pelajaran dari bagaimana orang-orang sesat yang menganggap diri mereka berakal memilih kebodohan yang penuh ocehan tak terbatas!
Kesimpulannya:

Sebagaimana setiap huruf sebuah buku menunjukkan dirinya hanya sebesar satu huruf dan menunjukkan bahwa dirinya ada dengan satu cara saja, tetapi menjelaskan penulisnya dengan sepuluh kata dan menunjukkan penulisnya dari banyak segi. Misalnya, ia berkata, "Penulisku memiliki tulisan yang indah, penanya merah, ia begini dan begitu."
Tepat demikian pula, setiap huruf kitab besar alam ini menunjukkan dirinya sebatas ukurannya dan memperlihatkan dirinya sebatas rupanya. Namun, ia menjelaskan Asma Sang Pengukir Yang Azali sepanjang sebuah kasidah, menunjukkan Asma itu dengan jari-jari telunjuk sebanyak sifat yang dimilikinya, dan bersaksi bagi Musamma (pemilik nama) Asma tersebut.
Jadi, bahkan orang bodoh yang berkilah dengan menyesatkan serta menyangkal dirinya sendiri dan seluruh kainat seharusnya tetap tidak sampai menyangkal Sang Pembuat Dzul-Jalâl.

Lem'a Keenam

Sebagaimana Sang Khâliq Dzul-Jalâl meletakkan cap Ahadiyah-Nya pada kepala setiap individu makhluk-Nya dan pada wajah setiap bagian karya seni-Nya—seperti sebagian yang telah engkau lihat dalam Lem'a-Lem'a sebelumnya—Dia juga meletakkan dengan sangat terang banyak cap Ahadiyah pada setiap jenis, berbagai meterai Wâhidiyah pada setiap keseluruhan, hingga beragam tanda agung Keesaan pada alam seluruhnya. Di antara sekian banyak cap, meterai, dan tanda agung itu, kami akan menunjukkan sebuah cap dan sebuah meterai yang diletakkan pada halaman permukaan bumi di musim semi. Demikianlah:
Sang Pengukir Yang Azali menghimpun dan menyebarkan sedikitnya tiga ratus ribu jenis tanaman dan hewan di muka bumi pada musim panas dan musim semi, di tengah campur baur yang tak terbatas, dengan amat jelas membedakan dan mengenali masing-masing serta dengan tata dan pemisahan yang sangat baik. Ini merupakan cap Tauhid yang terang dan nyata, bersinar seperti musim semi.
Ya, di tengah dihidupkannya bumi yang mati pada musim semi, Dia mengadakan tiga ratus ribu contoh kebangkitan dengan tertib sempurna. Dia menulis pada halaman bumi, saling bercampur, individu-individu dari tiga ratus ribu jenis yang berbeda, tanpa kesalahan, tanpa kelalaian, tanpa kekeliruan, tanpa kekurangan, dengan sangat terukur, tersusun, tertib, dan sempurna.

Siapa pun yang memiliki kesadaran sebesar zarah tentu harus memahami bahwa ini merupakan cap yang khas bagi Zat Dzul-Jalâl, Sang Qadîr Dzul-Kamâl, dan Sang Hakîm Dzul-Jamâl, yang memiliki Kudrat tanpa batas, Ilmu yang meliputi segalanya, dan Kehendak yang akan mengatur kainat.
Al-Qur'an Al-Hakîm menyatakan:

ﻓَﺎﻧْﻈُﺮْ ﺍِﻟٰٓﻰ ﺍٰﺛَﺎﺭِ ﺭَﺣْﻤَﺖِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻛَﻴْﻒَ ﻳُﺤْﻴِﻰ الْاَرْضَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ ﺍِﻥَّ ﺫٰﻟِﻚَ ﻟَﻤُﺤْﻴِﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﺗٰﻰ ﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ


Ya, dibandingkan dengan Kudrat Pencipta yang membuat dan menunjukkan tiga ratus ribu contoh kebangkitan dalam beberapa hari ketika menghidupkan bumi, tentu membangkitkan manusia mudah bagi-Nya. Misalnya, apakah kepada seseorang yang menunjukkan mukjizat dengan mengangkat Gunung Gelincik dan Gunung Sübhan melalui satu isyarat akan dikatakan, "Dapatkah engkau mengangkat batu besar di lembah ini yang menghalangi jalan kami?" Demikian pula, apakah kepada Sang Qadîr Yang Hakîm, Sang Karîm Yang Rahîm, yang mengadakan langit, gunung, dan bumi dalam enam hari serta dari waktu ke waktu mengisi dan mengosongkannya, akan dikatakan dengan menganggapnya sulit terlaksana, "Dapatkah Engkau mengangkat dari atas kami lapisan tanah ini yang menghalangi jalan kami menuju jamuan-Mu yang disiapkan dan dihamparkan dari sisi alam abadi? Dapatkah Engkau meratakan bumi dan membuat kami melewatinya?" Engkau telah melihat sebuah cap Tauhid di muka bumi ini pada musim panas.

Sekarang lihatlah: pada Pengaturan agung di muka bumi saat musim semi yang dilakukan dengan penuh Penglihatan dan Hikmah itu, tampak sangat jelas sebuah meterai Wâhidiyah. Sebab, tata yang sempurna, indahnya seni secara sempurna, dan sempurnanya ciptaan yang tampak dalam tindakan-tindakan ini, di tengah bentangan yang mutlak luas, bersama keluasan itu dengan laju yang mutlak cepat, dan bersama laju itu dalam limpahan yang mutlak banyak, merupakan meterai yang hanya dapat dimiliki oleh Pemilik Ilmu dan Kudrat yang tak terbatas.
Ya, kita melihat ada tindakan mengadakan, mengatur, dan bekerja di seluruh muka bumi dalam bentangan yang mutlak luas.
Di dalam keluasan itu, pekerjaan berlangsung dengan laju yang mutlak cepat.
Bersama laju dan keluasan itu, terlihat limpahan yang mutlak banyak ketika individu-individu diperbanyak.
Bersama limpahan, keluasan, dan laju itu, terlihat kemudahan yang mutlak.
Bersama limpahan, mudah, cepat, dan luasnya itu, pada setiap jenis dan setiap individu tampak tata yang mutlak serta seni yang sangat istimewa.

Mengadakan pembedaan yang sangat sempurna di tengah campur baur yang tak terbatas; karya-karya yang sangat berharga di tengah jumlah yang amat melimpah; kesesuaian sepenuhnya dalam lingkup yang amat luas; serta karya-karya indah penuh seni dengan amat mudah; serta menunjukkan seni yang menakjubkan dan pekerjaan yang menampakkan mukjizat dalam sekejap, di setiap tempat, dengan satu cara, pada setiap individu, tentu, tentu merupakan meterai Zat yang tidak berada di suatu tempat pun, namun hadir dan melihat di setiap tempat. Sebagaimana tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya, tidak ada sesuatu pun yang berat bagi-Nya. Zarah dan bintang sama saja bagi Kudrat-Nya.
Misalnya, aku menghitung tandan-tandan yang tergantung pada sebatang sulur anggur setebal dua jari, yang kulihat ibarat sebutir buah dari tandan mukjizat-Nya dalam kebun Kemurahan Sang Rahîm Dzul-Jamâl: jumlahnya seratus lima puluh lima. Aku menghitung buah pada satu tandan: sekitar seratus dua puluh. Aku berpikir dan berkata: Jika batang anggur ini merupakan keran air madu dan terus mengalirkan air, air itu hanya akan cukup bagi tandan-tandan yang menyusui ratusan pompa kecil sirup Rahmat ini di tengah panas seperti ini. Padahal terkadang ia hanya mendapat sedikit kelembapan. Jadi, Yang melakukan pekerjaan ini harus mampu melakukan segala sesuatu.

ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﻣَﻦْ ﺗَﺤَﻴَّﺮَ ﻓ۪ﻰ ﺻُﻨْﻌِﻪِ ﺍﻟْﻌُﻘُﻮﻝُ

Lem'a Ketujuh

Lihatlah bagaimana engkau dapat melihat meterai-meterai Zat Yang Ahad lagi Shamad pada halaman bumi dengan sedikit perhatian. Angkatlah kepala, bukalah mata, dan lihatlah kitab besar kainat ini! Engkau akan melihat bahwa pada kainat secara keseluruhan terbaca meterai Keesaan dengan kejelasan yang sebanding dengan besarnya. Sebab, seperti bagian dan anggota sebuah pabrik, istana, atau kota yang tertib, makhluk-makhluk ini saling menyokong, mengulurkan tangan pertolongan satu sama lain, dan menjawab permintaan kebutuhan satu sama lain dengan berkata, "Lebbeyk! Baiklah." Mereka bergandeng tangan dan bekerja dengan tertib. Mereka berpadu untuk melayani makhluk hidup.

Mereka bahu-membahu menaati Sang Pengatur Yang Hakîm dengan mengarah kepada satu tujuan.
Ya, mulai dari matahari dan bulan, malam dan siang, musim dingin dan musim panas, hingga datangnya tanaman membantu hewan-hewan yang membutuhkan dan lapar, bergegasnya hewan membantu manusia yang lemah dan mulia, bahkan melesatnya zat-zat makanan membantu anak-anak dan buah-buah yang lembut dan rapuh, hingga bergeraknya zarah-zarah makanan membantu sel-sel tubuh, gerak mereka menurut suatu kaidah saling menolong menunjukkan kepada siapa pun yang tidak sepenuhnya buta bahwa mereka bergerak dengan Kekuatan satu Pendidik yang sangat Pemurah, dengan Perintah satu Pengatur yang sangat Bijaksana.
Saling menyokong, saling membantu, saling menjawab, saling merangkul, tunduk, dan tertib yang berlangsung dalam kainat ini bersaksi dengan pasti bahwa mereka diatur melalui susunan satu Pengatur dan diarahkan melalui Pengaturan satu Pendidik.

Bersamaan dengan itu, Pertolongan yang sempurna dalam Hikmah yang menyeluruh, yang dengan jelas tampak dalam seni benda-benda; Rahmat yang luas, yang bersinar dalam Pertolongan itu; serta rezeki-rezeki yang dihamparkan di atas Rahmat itu dan disebarkan untuk memberi makan setiap makhluk hidup yang membutuhkan rezeki dengan cara yang sesuai kebutuhannya, dan diberinya makanan secara menyeluruh, merupakan meterai Tauhid yang begitu terang sehingga siapa pun yang akalnya belum sepenuhnya padam memahaminya, dan siapa pun yang belum sepenuhnya buta melihatnya. Ya, suatu tabir Hikmah yang menunjukkan Tujuan, Kesadaran, dan Kehendak telah meliputi seluruh kainat. Di atas tabir Hikmah itu terhampar tabir Pertolongan yang menunjukkan Kelembutan, dihias dan diperindahnya ciptaan, serta Kebaikan. Di atas tabir Pertolongan yang berhias itu, suatu jubah Rahmat meliputi kainat, memperlihatkan kilau-kilau membuat Diri-Nya dicintai dan dikenal, memberi nikmat dan memuliakan. Di atas tabir Rahmat menyeluruh yang bercahaya itu, terhampar suatu hidangan rezeki bagi semua, yang menunjukkan Kasih, Kebaikan, Kemurahan, Kasih Sayang yang sempurna, Didikan yang baik, dan Kelembutan Rububiyah.
Ya, makhluk-makhluk ini, dari zarah hingga matahari, baik individu maupun jenis, kecil maupun besar, dikenakan sebuah baju megah dari kain Hikmah yang berhias hasil dan tujuan, faedah dan manfaat.

Di atas baju rupa yang menunjukkan Hikmah itu, jubah Pertolongan yang berhias bunga Kelembutan dan Kebaikan dipotong sesuai ukuran setiap benda. Pada jubah Pertolongan yang berhias itu disematkan lencana-lencana Rahmat yang bercahaya dengan kilau membuat Diri-Nya dicintai, memuliakan, mengasihi, dan memberi nikmat. Bersamaan dengan diberikannya lencana-lencana bercahaya dan bertatah itu, di muka bumi terbentang suatu hidangan rezeki bagi semua, yang cukup bagi seluruh kelompok makhluk hidup dan memenuhi seluruh kebutuhan mereka.
Pekerjaan ini, seterang matahari, menunjuk dan memperlihatkan Zat Dzul-Jamâl Yang Hakîm, Karîm, Rahîm, dan Ar-Razzâq tanpa batas.
Benarkah begitu? Apakah segala sesuatu membutuhkan rezeki?
Ya, sebagaimana seorang individu membutuhkan rezeki dan hidup yang berlanjut, kita melihat bahwa seluruh makhluk di alam, terutama jika hidup, baik yang umum maupun yang juz'i, keseluruhan maupun bagian, memiliki banyak keperluan dan banyak kebutuhan, secara jasmani dan maknawi, agar ada, bertahan, hidup, dan terus hidup. Mereka bergantung pada dan membutuhkan hal-hal yang paling rendah sekalipun tidak terjangkau oleh tangan mereka, dan kekuatan mereka tidak cukup bagi keinginan mereka yang paling kecil sekalipun.

Dalam keadaan itu, kita melihat bahwa segala keperluan serta rezeki jasmani dan maknawi mereka,

ﻣِﻦْ ﺣَﻴْﺚُ لَا ﻳَﺤْﺘَﺴِﺐُ

, diberikan ke tangan mereka dari tempat-tempat yang tidak disangka-sangka, dengan tertib sempurna, pada waktu yang tepat, dengan cara yang layak, dan dengan Hikmah sempurna. Apakah bergantung dan butuhnya makhluk, serta pertolongan dan bantuan gaib dengan cara ini, tidak memperlihatkan, seterang matahari, Sang Pendidik Yang Hakîm Dzul-Jalâl dan Sang Pengatur Yang Rahîm Dzul-Jamâl?

Lem'a Kedelapan

Sebagaimana satu jenis benih yang ditanam di sebuah ladang menunjukkan bahwa ladang itu pasti berada di bawah kuasa pemilik benih, dan benih itu pun berada di bawah kuasa pengelola ladang. Demikian pula, lahan karya seni yang disebut unsur-unsur ini, bersama wâhidiyah dan sifatnya yang sederhana, meluas dan meliputi segalanya; sedangkan tanaman dan hewan yang disebut makhluk-makhluk ini, yang merupakan buah Rahmat, mukjizat Kudrat, dan kata-kata Hikmah, bersama kemiripan dan keserupaannya, tersebar di banyak tempat, ada dan menetap di segala penjuru. Semua itu menunjukkan dengan cara sedemikian rupa bahwa mereka berada di bawah Kendali satu Sang Pembuat yang menunjukkan mukjizat, seolah-olah setiap bunga, buah, dan hewan merupakan cap, meterai, dan tanda agung Sang Pembuat itu. Di mana pun ditemukan, masing-masing berkata melalui bahasa keadaannya, "Zat yang aku menjadi cap-Nya, tempat ini pun karya seni-Nya. Zat yang aku menjadi meterai-Nya, tempat ini pun surat-Nya.

Zat yang aku menjadi tanda agung-Nya, tanah airku ini pun tenunan-Nya."
Jadi, siapa pun yang tidak buta melihat bahwa Rububiyah atas makhluk paling rendah khusus bagi Yang menggenggam seluruh unsur di bawah Kendali-Nya; dan mengatur serta mengurus hewan paling sederhana hanya khusus bagi Yang mendidik seluruh hewan, tanaman, dan karya seni dalam genggaman Rububiyah-Nya.
Ya, setiap individu berkata melalui bahasa kemiripan dan keserupaannya dengan individu-individu lain, "Yang memiliki seluruh jenisku dapat memilikiku; selain itu, tidak." Setiap jenis berkata bersama jenis-jenis lain, melalui bahasa tersebarnya mereka di muka bumi, "Yang memiliki seluruh permukaan bumi dapat memilikiku; selain itu, tidak." Bumi berkata melalui bahasa hubungannya bersama planet-planet lain dengan satu matahari serta saling menyokongnya dengan langit, "Yang memiliki seluruh kainat dapat memilikiku; selain itu, tidak."
Ya, andaikan seseorang berkata kepada sebuah apel yang memiliki kesadaran, "Engkau karya seniku," apel itu akan berkata kepadanya melalui bahasa keadaannya, "Diam! Jika engkau sanggup membuat seluruh apel di seluruh muka bumi, bahkan dapat menguasai seluruh tanaman berbuah yang sejenis dengan kami dan tersebar di bumi, bahkan seluruh hadiah Ar-Rahmân yang datang dari khazanah Rahmat dengan kapal, barulah mengaku memiliki rububiyah atasku." Apel itu akan berkata demikian dan menampar mulut orang bodoh itu.

Lem'a Kesembilan

Kami telah menunjuk sebagian cap, meterai, dan tanda agung pada bagian dan yang juz'i, pada keseluruhan dan yang umum, pada alam seluruhnya, kehidupan, makhluk hidup, dan tindakan menghidupkan. Sekarang kami akan menunjuk satu cap di antara cap-cap tak terhitung pada jenis-jenis makhluk.
Ya, sebagaimana buah-buah tak terhitung dari sebuah pohon berbuah dirawat dengan satu didikan dan satu hukum Keesaan dari satu pusat, sehingga beban, kesulitan, dan biaya menjadi begitu mudah sampai sama dengan satu buah yang dirawat melalui banyak pengelola. Jadi, banyak pengelola dan banyak pusat membutuhkan, untuk setiap buah, beban, biaya, dan perangkat sebanyak seluruh pohon. Perbedaannya hanya dalam sifat.
Seperti halnya membuat perlengkapan tentara yang diperlukan seorang prajurit membutuhkan pabrik-pabrik sebanyak seluruh pabrik yang diperlukan pasukan.
Jadi, jika pekerjaan beralih dari satu pengelola kepada banyak pengelola, bebannya bertambah—dari segi jumlah—sebanyak individu yang ada. Kemudahan luar biasa yang terlihat nyata pada setiap jenis tentu merupakan hasil mudah dan ringannya pekerjaan yang datang dari Keesaan dan Tauhid. Kesimpulannya,

sebagaimana cocok dan miripnya seluruh jenis dari satu golongan serta seluruh individu dari satu jenis dalam anggota-anggota pokok membuktikan bahwa mereka merupakan karya-karya satu Sang Pembuat—sebab, Pena yang satu dan kesatuan cap menghendaki demikian—mudahnya pekerjaan secara mutlak dan tanpa beban yang terlihat ini pun mengharuskan, hingga tingkat pasti, bahwa mereka merupakan karya-karya Sang Pembuat Yang Wâhid. Jika tidak, kesulitan yang mencapai tingkat tidak mungkin akan membawa golongan itu lenyap dan jenis itu tidak ada.
Kesimpulannya:

Jika dinisbatkan kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, segala sesuatu menjadi semudah satu benda. Jika dinisbatkan kepada sebab-sebab, setiap benda menjadi sesulit segala sesuatu. Karena demikian, sangat murahnya benda-benda yang terlihat di kainat dan limpahan tak terbatas di hadapan mata ini menunjukkan cap Keesaan seterang matahari. Jika buah-buah yang kita peroleh begitu berlimpah ini bukan milik Sang Wâhid lagi Ahad, sekalipun kita menyerahkan seluruh dunia, kita tidak dapat memakan satu delima pun.

Lem'a Kesepuluh

Sebagaimana kehidupan yang menunjukkan Tajalli Keindahan merupakan bukti Ahadiyah, bahkan semacam Tajalli Keesaan, kematian yang menampakkan Tajalli Keagungan pun merupakan bukti Wâhidiyah.
Ya, misalnya

ﻭَ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞُ الْاَعْلٰى

, sebagaimana gelembung-gelembung sungai besar yang berkilau dan mengalir menghadap matahari, serta benda-benda bening berkilau di muka bumi, bersaksi bagi matahari dengan menunjukkan pantulan dan cahayanya; bersama tenggelam dan perginya tetesan dan benda-benda bening itu, tampaknya matahari yang tetap berlangsung dengan megah, tampaknya cahayanya, dan terus bersinarnya tanpa kekurangan pada kelompok-kelompok tetesan dan kumpulan benda bening baru yang datang setelahnya, bersaksi dengan pasti bahwa matahari-matahari kecil berupa bayangan, sinar-sinar, dan cahaya-cahaya yang padam dan menyala, berubah dan diperbarui, datang dan bersinar, merupakan tampaknya satu matahari yang tetap ada, terus-menerus, tinggi, dan kilauannya tidak sirna.

Jadi, sebagaimana tetesan-tetesan berkilau itu menunjukkan adanya matahari dengan muncul dan datangnya mereka, mereka juga menunjukkan tetap adanya matahari, terus berlangsungnya, dan tunggalnya, dengan tenggelam dan sirnanya mereka.
Tepat demikian pula, sebagaimana makhluk-makhluk yang terus mengalir ini bersaksi melalui wujud dan kehidupan mereka bahwa Wâjibul Wujûd pasti harus ada serta bagi Ahadiyah-Nya, mereka juga bersaksi melalui sirna dan matinya mereka bahwa Dia Azali, Kekal, dan memiliki Ahadiyah.
Ya, bersama bergantinya malam dan siang, musim dingin dan musim panas, abad dan masa, karya-karya seni yang indah dan makhluk-makhluk yang halus terus berganti dan diperbarui di tengah tenggelam dan lenyapnya. Sebagaimana mereka tentu menunjukkan bahwa Pemilik Keindahan yang Luhur, Kekal, dan terus bertajalli itu ada, Kekal, dan Esa, sirna dan matinya karya-karya seni itu bersama sebab-sebab lahir yang rendah juga menunjukkan tidak berartinya sebab-sebab tersebut dan bahwa mereka merupakan tabir. Keadaan ini membuktikan dengan pasti bahwa seni-seni, ukiran-ukiran, dan manifestasi-manifestasi ini merupakan seni yang terus diperbarui, ukiran yang berganti, cermin yang bergerak, cap yang datang berurutan, dan meterai yang berubah dengan Hikmah, milik Sang Jamîl Dzul-Jalâl, yang seluruh Asma-Nya Suci dan Indah. Kesimpulannya,

sebagaimana kitab besar kainat ini mengajarkan kepada kita tanda-tanda dalam ciptaan mengenai Wujud dan Keesaan Allah سُبْحَانَهُ, ia juga bersaksi bagi seluruh Sifat Kesempurnaan, Keindahan, dan Keagungan Zat Dzul-Jalâl itu, serta membuktikan Kesempurnaan Zat-Nya yang tanpa cacat dan kekurangan. Sebab, jelas bahwa sempurnanya suatu karya menunjukkan sempurnanya tindakan yang menjadi asal dan sumber karya itu. Sempurnanya tindakan menunjukkan sempurnanya nama; sempurnanya nama menunjukkan sempurnanya sifat; sempurnanya sifat menunjukkan sempurnanya keadaan Diri; dan sempurnanya keadaan itu menunjukkan sempurnanya Zat pemilik Syuun tersebut, melalui pemahaman langsung, secara pasti dan jelas.
Misalnya, sebagaimana ukiran dan hiasan yang sempurna dari sebuah istana tanpa cacat menunjukkan, di baliknya, sempurnanya tindakan seorang ahli. Sempurnanya tindakan-tindakan itu menunjukkan sempurnanya gelar dan nama yang menunjukkan derajat ahli pelakunya. Sempurnanya nama dan gelar itu menunjukkan sempurnanya sifat-sifat sang ahli dalam seninya. Sempurnanya seni dan sifat itu menunjukkan sempurnanya kemampuan dan bakat bawaan sang pemilik seni, yang disebut keadaan-keadaan diri.

Sempurnanya keadaan-keadaan serta kemampuan bawaan itu menunjukkan sempurnanya hakikat pribadi sang ahli...
Tepat demikian pula, seni dalam karya-karya alam yang terlihat dan makhluk-makhluk alam yang tertib ini, yang tanpa cacat dan retak serta menampakkan rahasia

ﻫَﻞْ ﺗَﺮٰﻯ ﻣِﻦْ ﻓُﻄُﻮﺭٍ

, melalui apa yang terlihat menunjukkan sempurnanya Tindakan dari Pembuat yang memiliki Kudrat. Sempurnanya Tindakan itu dengan jelas menunjukkan sempurnanya Asma Pelaku Dzul-Jalâl tersebut. Sempurnanya Asma itu dengan pasti menunjukkan dan bersaksi bagi sempurnanya Sifat Musamma Dzul-Jamâl dari Asma itu. Sempurnanya Sifat itu dengan yakin menunjukkan dan bersaksi bagi sempurnanya Syuun Zat Dzul-Kamâl yang memiliki Sifat itu. Sempurnanya Syuun itu dengan haqqulyaqin (yakin melalui kenyataan) menunjukkan sempurnanya Zat pemilik Syuun itu sedemikian rupa sehingga memperlihatkan bahwa segala jenis kesempurnaan yang tampak dalam seluruh kainat merupakan tanda-tanda Kesempurnaan, lambang-lambang Keagungan, dan isyarat-isyarat Keindahan Zat Dzul-Kamâl, yang dibandingkan dengan Kesempurnaan-Nya hanya berupa bayangan lemah yang redup.

Lem'a Kesebelas Yang Sekuat Matahari-Matahari

Junjungan kita Muhammad al-Amîn ﷺ, yang dijelaskan dalam Kalimat Kesembilan Belas, merupakan tanda teragung kitab besar itu ﷺ, Ismul A'zham dalam Al-Qur'an besar itu ﷺ, benih dan buah paling bercahaya dari pohon kainat itu ﷺ, matahari istana alam itu ﷺ, bulan purnama bercahaya dunia Islam ﷺ, penyeru Kerajaan Rububiyah Ilahi ﷺ, dan pengungkap penuh hikmah bagi teka-teki kainat ﷺ. Dengan sayap kerasulan yang menaungi seluruh nabi dan sayap-sayap Islam yang melindungi seluruh dunia Islam, beliau terbang pada lapisan-lapisan hakikat. Beliau membawa di belakangnya seluruh nabi dan rasul, seluruh wali dan orang-orang yang benar, seluruh orang-orang suci dan para peneliti hakikat, menunjukkan Keesaan dengan seluruh kekuatan, serta membuka dan menunjukkan jalan menuju arasy Ahadiyah. Adakah angan-angan keliru dan keraguan yang sanggup menutup dan menjadi tabir bagi iman kepada Allah سُبْحَانَهُ yang beliau tunjukkan serta Keesaan Ilahi yang beliau buktikan?
Karena dalam Kalimat Kesembilan Belas dan Surat Kesembilan Belas kami telah menjelaskan dan menerangkan secara ringkas, hingga suatu tingkat, empat belas tetes dari air kehidupan makrifat bukti yang tegas itu ﷺ dan sembilan belas isyarat beserta berbagai jenis mukjizat sosok yang menampakkan mukjizat itu ﷺ, di sini kami cukupkan dengan isyarat ini. Kami menutup dengan suatu salawat mulia yang menunjuk dasar-dasar yang meneguhkan bukti tegas Keesaan itu ﷺ dan bersaksi bagi kebenarannya.

ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠٰﻰ ﻣَﻦْ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟﻮُﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻙَ ﻭَ ﻭَﺣْﺪَﺍﻧِﻴَّﺘِﻚَ ﻭَ ﺷَﻬِﺪَ ﻋَﻠٰﻰ جَلَالِكَ ﻭَ ﺟَﻤَﺎﻟِﻚَ ﻭَ ﻛَﻤَﺎﻟِﻚَ ﺍﻟﺸَّﺎﻫِﺪُ ﺍﻟﺼَّﺎﺩِﻕُ ﺍﻟْﻤُﺼَﺪَّﻕُ ﻭَ ﺍﻟْﺒُﺮْﻫَﺎﻥُ ﺍﻟﻨَّﺎﻃِﻖُ ﺍﻟْﻤُﺤَﻘَّﻖُ ﺳَﻴِّﺪُ الْاَنْبِيَاءِ ﻭَ ﺍﻟْﻤُﺮْﺳَﻠ۪ﻴﻦَ ﺍﻟْﺤَﺎﻣِﻞُ ﺳِﺮَّ ﺍِﺟْﻤَﺎﻋِﻬِﻢْ ﻭَ ﺗَﺼْﺪ۪ﻳﻘِﻬِﻢْ ﻭَ ﻣُﻌْﺠِﺰَﺍﺗِﻬِﻢْ ﻭَ ﺍِﻣَﺎﻡُ الْاَوْلِيَاءِ ﻭَ ﺍﻟﺼِّﺪِّﻳﻘ۪ﻴﻦَ ﺍﻟْﺤَﺎﻭ۪ﻯ ﺳِﺮَّ ﺍِﺗِّﻔَﺎﻗِﻬِﻢْ ﻭَ ﺗَﺤْﻘ۪ﻴﻘِﻬِﻢْ ﻭَ ﻛَﺮَﺍﻣَﺎﺗِﻬِﻢْ ﺫُﻭ ﺍﻟْﻤُﻌْﺠِﺰَﺍﺕِ ﺍﻟْﺒَﺎﻫِﺮَﺓِ ﻭَ ﺍﻟْﺨَﻮَﺍﺭِﻕِ ﺍﻟﻈَّﺎﻫِﺮَﺓِ ﻭَ الدَّلَائِلِ ﺍﻟْﻘَﺎﻃِﻌَﺔِ ﺍﻟْﻤُﺤَﻘَّﻘَﺔِ ﺍﻟْﻤُﺼَﺪَّﻗَﺔِ ﻟَﻪُ ﺫُﻭ ﺍﻟْﺨِﺼَﺎﻝِ ﺍﻟْﻐَﺎﻟِﻴَﺔِ ﻓِﻰ ﺫَﺍﺗِﻪِ ﻭَ الْاَخْلَاقِ ﺍﻟْﻌَﺎﻟِﻴَﺔِ ﻓِﻰ ﻭَﻇ۪ﻴﻔَﺘِﻪِ ﻭَ ﺍﻟﺴَّﺠَﺎﻳَﺎ ﺍﻟﺴَّﺎﻣِﻴَﺔِ ﻓِﻰ ﺷَﺮ۪ﻳﻌَﺘِﻪِ ﺍﻟْﻤُﻜَﻤَّﻠَﺔِ ﺍﻟْﻤُﻨَﺰَّﻫَﺔِ ﻟَﻪُ ﻋَﻦِ الْخِلَافِ ﻣَﻬْﺒِﻂُ ﺍﻟْﻮَﺣْﻰِ ﺍﻟﺮَّﺑَّﺎﻧِﻰِّ ﺑِﺎِﺟْﻤَﺎﻉِ ﺍﻟْﻤُﻨْﺰِﻝِ ﻭَ ﺍﻟْﻤُﻨْﺰَﻝِ ﻭَ ﺍﻟْﻤُﻨْﺰَﻝِ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺳَﻴَّﺎﺭُ ﻋَﺎﻟَﻢِ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐِ ﻭَ ﺍﻟْﻤَﻠَﻜُﻮﺕِ ﻣُﺸَﺎﻫِﺪُ الْاَرْوَاحِ ﻭَ ﻣُﺼَﺎﺣِﺐُ ﺍﻟْﻤَﻠٰﺌِﻜَﺔِ ﺍَﻧْﻤُﻮﺫَﺝُ ﻛَﻤَﺎﻝِ ﺍﻟْﻜَﺎﺋِﻨَﺎﺕِ ﺷَﺨْﺼًﺎ ﻭَ ﻧَﻮْﻋًﺎ ﻭَ ﺟِﻨْﺴًﺎ ﴾ﺍَﻧْﻮَﺭُ ﺛَﻤَﺮَﺍﺕِ ﺷَﺠَﺮَﺓِ ﺍﻟْﺨِﻠْﻘَﺔِ﴿ ﺳِﺮَﺍﺝُ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ﺑُﺮْﻫَﺎﻥُ ﺍﻟْﺤَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ ﺗِﻤْﺜَﺎﻝُ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﺔِ ﻣِﺜَﺎﻝُ ﺍﻟْﻤَﺤَﺒَّﺔِ ﻛَﺸَّﺎﻑُ ﻃِﻠْﺴِﻢِ ﺍﻟْﻜَﺎﺋِﻨَﺎﺕِ دَلَّالُ ﺳَﻠْﻄَﻨَﺔِ ﺍﻟﺮُّﺑُﻮﺑِﻴَّﺔِ ﺍﻟْﻤُﺮْﻣِﺰُ ﺑِﻌُﻠْﻮِﻳَّﺔِ ﺷَﺨْﺼِﻴَّﺘِﻪِ ﺍﻟْﻤَﻌْﻨَﻮِﻳَّﺔِ ﺍِﻟٰﻰ ﺍَﻧَّﻪُ ﻧُﺼْﺐُ ﻋَﻴْﻦِ ﻓَﺎﻃِﺮِ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻢِ ﻓِﻰ ﺧَﻠْﻖِ ﺍﻟْﻜَﺎﺋِﻨَﺎﺕِ ﺫُﻭ ﺍﻟﺸَّﺮ۪ﻳﻌَﺔِ ﺍﻟَّﺘ۪ﻰ ﻫِﻰَ ﺑِﻮُﺳْﻌَﺔِ ﺩَﺳَﺎﺗ۪ﻴﺮِﻫَﺎ ﻭَ ﻗُﻮَّﺗِﻬَﺎ ﺗُﺸ۪ﻴﺮُ ﺍِﻟٰﻰ ﺍَﻧَّﻬَﺎ ﻧِﻈَﺎﻡُ ﻧَﺎﻇِﻢِ ﺍﻟْﻜَﻮْﻥِ ﻭَ ﻭَﺿْﻊُ ﺧَﺎﻟِﻖِ ﺍﻟْﻜَﺎﺋِﻨَﺎﺕِ ﻧَﻌَﻢْ ﺍِﻥَّ ﻧَﺎﻇِﻢَ ﺍﻟْﻜَﺎﺋِﻨَﺎﺕِ ﺑِﻬٰﺬَﺍ ﺍﻟﻨِّﻈَﺎﻡِ الْاَتَمِّ الْاَكْمَلِ ﻫُﻮَ ﻧَﺎﻇِﻢُ ﻫٰﺬَﺍ ﺍﻟﺪّ۪ﻳﻦِ ﺑِﻬٰﺬَﺍ ﺍﻟﻨِّﻈَﺎﻡِ الْاَحْسَنِ الْاَجْمَلِ ﺳَﻴِّﺪُﻧَﺎ ﻧَﺤْﻦُ ﻣَﻌَﺎﺷِﺮَ ﺑَﻨِﻰ ﺍٰﺩَﻡَ ﻭَ ﻣُﻬْﺪ۪ﻳﻨَﺎ ﺍِﻟَﻰ الْاِيمَانِ ﻧَﺤْﻦُ ﻣَﻌَﺎﺷِﺮَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨ۪ﻴﻦَ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺑْﻦِ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺑْﻦِ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟْﻤُﻄَّﻠِﺐِ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍَﻓْﻀَﻞُ ﺍﻟﺼَّﻠَﻮَﺍﺕِ ﻭَ ﺍَﺗَﻢُّ ﺍﻟﺘَّﺴْﻠ۪ﻴﻤَﺎﺕِ ﻣَﺎ ﺩَﺍﻣَﺖِ الْاَرْضُ ﻭَ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕُ ﻓَﺎِﻥَّ ﺫٰﻟِﻚَ ﺍﻟﺸَّﺎﻫِﺪَ ﺍﻟﺼَّﺎﺩِﻕَ ﺍﻟْﻤُﺼَﺪَّﻕَ ﻳَﺸْﻬَﺪُ ﻋَﻠٰﻰ ﺭُﺅُﺱِ الْاَشْهَادِ ﻣُﻨَﺎﺩِﻳًﺎ ﻭَ ﻣُﻌَﻠِّﻤًﺎ لِاَجْيَالِ ﺍﻟْﺒَﺸَﺮِ ﺧَﻠْﻒَ الْاَعْصَارِ ﻭَ الْاَقْطَارِ ﻧِﺪَﺍﺀً ﻋُﻠْﻮِﻳًّﺎ ﺑِﺠَﻤ۪ﻴﻊِ ﻗُﻮَّﺗِﻪِ ﻭَ ﺑِﻐَﺎﻳَﺔِ ﺟِﺪِّﻳَّﺘِﻪِ ﻭَ ﺑِﻨِﻬَﺎﻳَﺔِ ﻭُﺛُﻮﻗِﻪِ ﻭَ ﺑِﻘُﻮَّﺓِ ﺍِﻃْﻤِﺌْﻨَﺎﻧِﻪِ ﻭَ ﺑِﻜَﻤَﺎﻝِ ﺍِﻳﻤَﺎﻧِﻪِ ﺑِﺎَﺷْﻬَﺪُ ﺍَﻥْ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﺣْﺪَﻩُ لَا ﺷَﺮ۪ﻳﻚَ ﻟَﻪُ

Lem'a Kedua Belas Yang Sekuat Matahari-Matahari

Lem'a Kedua Belas dari Kalimat Kedua Puluh Dua ini merupakan lautan hakikat sedemikian rupa sehingga seluruh dua puluh dua Kalimat hanyalah dua puluh dua tetesnya, dan sumber cahaya sedemikian rupa sehingga dua puluh dua Kalimat ini hanyalah dua puluh dua kilau dari matahari itu. Ya, masing-masing dari dua puluh dua Kalimat tersebut adalah satu kilau dari satu bintang ayat yang bersinar di langit Al-Qur'an, satu tetes dari sungai sebuah ayat yang mengalir dari lautan Al-Furqân, dan satu mutiara dari satu ayat di antara ayat-ayat yang masing-masing merupakan peti permata dalam khazanah teragung Kitabullah.
Kalam Allah سُبْحَانَهُ yang sedikit dijelaskan dalam Tetesan Keempat Belas dari Kalimat Kesembilan Belas itu turun dari Ismul A'zham, Arasy Teragung, dan Tajalli teragung Rububiyah. Dengan lingkup dan derajat yang begitu luas dan tinggi hingga menghubungkan azali dengan abadi, menghubungkan bumi dengan Arasy, ia berulang kali mengatakan

لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ

dengan seluruh kekuatan dan seluruh kepastian ayat-ayatnya, menjadikan seluruh kainat saksi dan membuatnya bersaksi. Ya,

لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ ﺑَﺮَﺍﺑَﺮْ ﻣ۪ﻴﺰَﻧَﺪْ ﻋَﺎﻟَﻢْ

.
Ya, jika engkau memandang Al-Qur'an itu dengan mata hati yang sehat, engkau akan melihat bahwa keenam arahnya begitu bersinar dan bening sehingga tidak ada gelap, kesesatan, keraguan dan kebimbangan, ataupun tipu daya yang dapat menemukan celah untuk masuk ke dalamnya dan ke dalam lingkupnya yang terjaga.

Sebab, di atasnya terdapat cap i'jaz, di bawahnya bukti dan dalil, di belakangnya tempat bersandarnya berupa wahyu Rabb semata, di depannya kebahagiaan dua negeri, di kanannya ia menanyai akal dan memperoleh pembenarannya, di kirinya ia menjadikan hati nurani saksi dan menetapkan tunduknya. Di dalamnya, dengan jelas, terdapat Hidayah Ar-Rahmân yang murni; di permukaannya, terlihat nyata, terdapat cahaya-cahaya iman yang tulus; dan buah-buahnya, yang terlihat dengan ainulyaqin (yakin melalui penglihatan), adalah orang-orang suci dan para peneliti hakikat, para wali dan orang-orang benar yang berhias kesempurnaan manusia. Jika engkau menempelkan telinga pada dada bahasa alam gaib itu dan mendengarkan, engkau akan mendengar dari kedalaman suatu suara langit yang sangat ramah dan meyakinkan, amat serius dan luhur, serta dilengkapi bukti. Suara itu mengatakan dan mengulangi

لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ

dengan kepastian sedemikian rupa sehingga menyampaikan dan melimpahkan kepadamu pengetahuan yang yakin, seperti ainulyaqin, bahwa ucapannya berada pada derajat haqqulyaqin.
Kesimpulannya:

Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, dan Al-Furqân yang paling teguh, yang masing-masing merupakan matahari:
Yang satu, sebagai bahasa alam yang disaksikan, di tengah seribu mukjizat dan dengan pembenaran seluruh nabi serta orang-orang suci, menunjuk dengan jari-jari Islam dan kerasulan kepada suatu hakikat yang beliau tunjukkan dengan seluruh kekuatan...
Yang lain, sebagai bahasa alam gaib, di tengah empat puluh segi i'jaz dan dengan pembenaran seluruh tanda ciptaan di alam, menunjuk dengan jari-jari kebenaran dan hidayah kepada hakikat yang sama, yang ditunjukkannya dengan penuh kesungguhan... Tidakkah hakikat itu lebih terang daripada matahari dan lebih nyata daripada siang?
Wahai manusia kecil yang membangkang dan berlumur kesesatan! {(Catatan kaki): Seruan ini ditujukan kepada orang yang berusaha menyingkirkan Al-Qur'an.} Bagaimana engkau dapat melawan matahari-matahari ini dengan lentera kepalamu yang lebih redup daripada kunang-kunang? Bagaimana engkau dapat merasa tidak membutuhkan mereka? Bagaimana engkau berusaha memadamkan mereka dengan tiupan? Cih, cih, akalmu yang ingkar itu! Bagaimana engkau dapat menyangkal perkataan dan pernyataan yang disampaikan dua bahasa alam gaib dan alam yang disaksikan itu atas Nama serta demi Rabb seluruh alam, Pemilik kainat ini? Wahai yang malang, lebih tak berdaya dan lebih hina daripada lalat! Siapakah engkau sehingga berani berusaha mendustakan Pemilik Dzul-Jalâl kainat ini?

Penutup

Wahai sahabat yang akalnya sadar dan hatinya terjaga! Jika engkau telah memahami Kalimat Kedua Puluh Dua ini dari awal hingga di sini, peganglah dua belas Lem'a itu sekaligus. Dengan menemukan lampu hakikat yang sekuat ribuan lampu listrik, berpeganglah pada ayat-ayat Al-Qur'an yang datang terulur dari Arasy Teragung. Naikilah Buraq taufik, mendakilah di langit-langit hakikat, naiklah menuju arasy makrifatullah. Katakan

ﺍَﺷْﻬَﺪُ ﺍَﻥْ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّٓا ﺍَﻧْﺖَ ﻭَﺣْﺪَﻙَ لَا ﺷَﺮ۪ﻳﻚَ ﻟَﻚَ

. Dan dengan mengatakan

لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﺣْﺪَﻩُ لَا ﺷَﺮ۪ﻳﻚَ ﻟَﻪُ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚُ ﻭَ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻳُﺤْﻴ۪ﻰ ﻭَ ﻳُﻤ۪ﻴﺖُ ﻭَ ﻫُﻮَ ﺣَﻰٌّ لَا ﻳَﻤُﻮﺕُ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮُ ﻭَ ﻫُﻮَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ

, nyatakanlah Keesaan di atas kepala seluruh makhluk kainat dan di masjid besar alam.

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ﺭَﺑَّﻨَﺎ لَا ﺗُﺆَﺍﺧِﺬْﻧَٓﺎ ﺍِﻥْ ﻧَﺴ۪ﻴﻨَٓﺎ ﺍَﻭْ ﺍَﺧْﻄَﺎْﻧَﺎ ﺭَﺑَّﻨَﺎ وَلَا ﺗَﺤْﻤِﻞْ ﻋَﻠَﻴْﻨَٓﺎ ﺍِﺻْﺮًﺍ ﻛَﻤَﺎ ﺣَﻤَﻠْﺘَﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻠِﻨَﺎ ﺭَﺑَّﻨَﺎ وَلَا ﺗُﺤَﻤِّﻠْﻨَﺎ ﻣَﺎ لَا ﻃَﺎﻗَﺔَ ﻟَﻨَﺎ ﺑِﻪ۪ ﻭَﺍﻋْﻒُ ﻋَﻨَّﺎ ﻭَﺍﻏْﻔِﺮْﻟَﻨَﺎ ﻭَﺍﺭْﺣَﻤْﻨَﺎ ﺍَﻧْﺖَ ﻣَﻮْﻟٰﻴﻨَﺎ ﻓَﺎﻧْﺼُﺮْﻧَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡِ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮ۪ﻳﻦَ ٭ ﺭَﺑَّﻨَﺎ لَا ﺗُﺰِﻍْ ﻗُﻠُﻮﺑَﻨَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺍِﺫْ ﻫَﺪَﻳْﺘَﻨَﺎ ﻭَﻫَﺐْ ﻟَﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﻟَﺪُﻧْﻚَ ﺭَﺣْﻤَﺔً ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻮَﻫَّﺎﺏُ ٭ ﺭَﺑَّﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺟَﺎﻣِﻊُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻟِﻴَﻮْﻡٍ لَا ﺭَﻳْﺐَ ﻓ۪ﻴﻪِ ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ لَا ﻳُﺨْﻠِﻒُ ﺍﻟْﻤ۪ﻴﻌَﺎﺩَ ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠٰﻰ ﻣَﻦْ ﺍَﺭْﺳَﻠْﺘَﻪُ ﺭَﺣْﻤَﺔً ﻟِﻠْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ ﻭَ ﻋَﻠٰٓﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺻَﺤْﺒِﻪ۪ ﺍَﺟْﻤَﻌ۪ﻴﻦَ ﻭَﺍﺭْﺣَﻤْﻨَﺎ ﻭَ ﺍﺭْﺣَﻢْ ﺍُﻣَّﺘَﻪُ ﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻚَ ﻳَﺎ ﺍَﺭْﺣَﻢَ ﺍﻟﺮَّﺍﺣِﻤ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﻭَ ﺍٰﺧِﺮُ ﺩَﻋْﻮٰﻳﻬُﻢْ ﺍَﻥِ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ

Surat Kedua Puluh Empat

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻳَﻔْﻌَﻞُ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻣَﺎ ﻳَﺸَٓﺎﺀُ ﻭَ ﻳَﺤْﻜُﻢُ ﻣَﺎ ﻳُﺮ۪ﻳﺪُ

Pertanyaan: Bagaimana pemeliharaan penuh kasih, pengurusan yang membawa manfaat, serta anugerah penuh cinta yang dituntut oleh Ar-Rahîm, Al-Hakîm, dan Al-Wadûd, di antara Asma Allah سُبْحَانَهُ yang paling agung, dapat disesuaikan dengan kematian dan menjadi tidak ada, sirna dan perpisahan, musibah dan kesulitan yang dahsyat serta menakutkan? Baiklah, karena manusia pergi menuju kebahagiaan abadi, kita pandang baik ia melewati jalan kematian. Namun, kasih serta belas kasih mana yang terdapat, Hikmah serta manfaat mana yang ditemukan, karunia serta belas kasih mana yang dapat berada dalam keadaan jenis-jenis pohon dan tumbuhan beserta bunganya yang halus, lembut, dan hidup, serta kelompok-kelompok hewan yang layak ada, mencintai kehidupan, dan merindukan hidup kekal, terus dimusnahkan tanpa menyisakan satu pun; dilenyapkan dengan amat cepat tanpa membiarkan mereka membuka mata; dibuat bekerja dengan susah payah tanpa membiarkan mereka bernapas; diubah melalui musibah tanpa membiarkan satu pun tenteram; dimatikan tanpa mengecualikan satu pun; sirna tanpa satu pun tetap; serta berpisah tanpa satu pun puas?

Jawaban: Melalui lima petunjuk tersirat yang menunjukkan pendorong serta tuntutan, dan lima isyarat yang menunjukkan tujuan serta manfaat, kami akan berusaha membuat orang memandang dari jauh hakikat agung yang amat luas, amat mendalam, serta amat tinggi, yang memecahkan pertanyaan ini.

BAGIAN PERTAMA

Lima petunjuk tersirat.

PETUNJUK TERSIRAT PERTAMA

Sebagaimana dikatakan dalam penutup-penutup Kalimat Kedua Puluh Enam, seorang pembuat yang cakap menjadikan orang malang sebagai model dengan upah yang sesuai baginya, untuk membuat pakaian berharga yang dihiasi permata serta ukiran. Untuk menunjukkan karya serta kecakapannya sendiri, ia mengukur, memotong, memendekkan, serta memanjangkan pakaian itu di atas orang malang tersebut; juga menyuruhnya duduk, bangkit, serta mengambil beragam sikap. Apakah orang malang itu mempunyai hak apa pun untuk berkata kepada pembuat tersebut, "Mengapa engkau mengusik, mengganti, serta mengubah pakaian yang memperindahku ini, dan mengganggu istirahatku dengan menyuruhku bangkit serta duduk dengan susah payah?"

Demikian pula, Sang Pembuat Dzul-Jalâl menjadikan hakikat setiap jenis makhluk sebagai model. Untuk menunjukkan Kesempurnaan karya-Nya melalui ukiran Asma-Nya, Dia mengenakan kepada setiap sesuatu, terutama makhluk hidup, pakaian wujud yang dihiasi indra, lalu membuat ukiran di atasnya dengan pena Qada dan Takdir serta menunjukkan manifestasi Asma-Nya. Kepada setiap makhluk, Dia juga memberikan kesempurnaan, kenikmatan, serta limpahan sebagai upah dengan cara yang sesuai baginya. Adakah sesuatu mempunyai hak untuk berkata kepada Sang Pembuat Dzul-Jalâl yang mempunyai rahasia

ﻣَﺎﻟِﻚُ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚِ ﻳَﺘَﺼَﺮَّﻑُ ﻓ۪ﻰ ﻣُﻠْﻜِﻪ۪ ﻛَﻴْﻒَ ﻳَﺸَٓﺎﺀُ

, "Engkau membuatku susah, mengganggu istirahatku"? Hâşâ!

Ya, makhluk tidak mempunyai hak terhadap Wâjibul Wujûd dari segi apa pun dan tidak dapat menuntut hak. Justru hak mereka ialah menunaikan hak tingkatan-tingkatan wujud yang diberikan-Nya dengan senantiasa bersyukur serta memuji. Sebab, seluruh tingkatan wujud yang diberikan adalah kenyataan yang terjadi; masing-masing memerlukan sebab. Namun, tingkatan yang tidak diberikan adalah kemungkinan. Kemungkinan berarti belum ada, serta tiada batas. Yang tidak ada tidak memerlukan sebab. Tidak dapat ada sebab bagi yang tiada batas.

Misalnya, mineral tidak dapat berkata, "Mengapa kami tidak menjadi tumbuhan?" Mereka tidak dapat mengeluh. Justru karena memperoleh wujud mineral, kewajiban mereka adalah bersyukur kepada Sang Fâthir-nya. Tumbuhan tidak dapat mengeluh dengan berkata, "Mengapa aku tidak menjadi hewan?" Justru karena memperoleh kehidupan bersama wujud, kewajibannya adalah

bersyukur. Hewan pun tidak dapat mengeluh dengan berkata, "Mengapa aku tidak menjadi manusia?" Justru karena diberi permata ruh yang berharga bersama kehidupan serta wujud, kewajibannya adalah bersyukur. Dan bandingkanlah seterusnya demikian.

Wahai manusia yang mengeluh! Engkau tidak dibiarkan tidak ada; engkau mengenakan nikmat wujud, merasakan kehidupan, tidak tetap tanpa kehidupan, tidak menjadi hewan, menemukan nikmat Islam, tidak tetap dalam kesesatan, serta melihat nikmat sehat dan selamat, dan demikian seterusnya...

Wahai orang yang tidak bersyukur! Dari mana lagi engkau memperoleh hak sehingga, tanpa bersyukur sebagai balasan bagi tingkatan-tingkatan wujud yang Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq berikan kepadamu sebagai nikmat semata, engkau mengeluhkan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq serta tidak mensyukuri nikmat dengan keinginan batil karena nikmat tinggi yang berupa kemungkinan dan belum ada, yang belum engkau peroleh serta tidak engkau layak terima, tidak diberikan kepadamu? Seandainya seseorang naik ke tingkatan tinggi seperti puncak menara, memperoleh kedudukan besar, serta melihat nikmat besar pada setiap anak tangga, tetapi tidak bersyukur kepada pemberi nikmat itu dan berkata, "Mengapa aku tidak dapat naik lebih tinggi daripada menara itu?" lalu mengeluh, menangis, serta meratap, bahkan orang yang kehilangan akal pun memahami betapa ia berlaku tidak adil, tidak mensyukuri nikmat, dan melakukan kebodohan besar.

Wahai manusia lalai yang tidak berkanaah dan rakus, tidak berhemat dan boros, serta mengeluh tanpa hak! Ketahuilah dengan pasti bahwa kanaah adalah syukur yang menghasilkan keuntungan; keserakahan adalah kufur nikmat yang membawa kerugian. Hemat adalah hormat yang baik serta bermanfaat terhadap nikmat. Boros adalah sikap meremehkan nikmat yang buruk serta merugikan. Jika engkau berakal, biasakanlah kanaah dan berusahalah rida. Jika tidak mampu menanggung, katakan "Yâ Sabûr!" dan mintalah sabar; ridalah terhadap bagianmu, jangan mengeluh. Ketahuilah siapa yang engkau keluhkan kepada siapa, lalu diamlah. Jika tetap ingin mengeluh, keluhkan dirimu sendiri kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, sebab kekurangan terdapat padanya.

PETUNJUK TERSIRAT KEDUA

Sebagaimana dikatakan pada akhir persoalan terakhir Surat Kedelapan Belas, salah satu Hikmah Sang Khâliq Dzul-Jalâl terus mengganti serta memperbarui makhluk melalui Kegiatan-Nya dalam memelihara dan menguasai segala sesuatu, dengan cara yang menimbulkan rasa takjub serta gentar, ialah:

Sebagaimana kegiatan serta gerak pada makhluk berasal dari selera, rasa rindu, kenikmatan, serta cinta, bahkan dapat dikatakan bahwa dalam setiap kegiatan ada sejenis kenikmatan, bahkan setiap kegiatan merupakan sejenis kenikmatan. Kenikmatan juga mengarah kepada kesempurnaan, bahkan merupakan sejenis kesempurnaan.

Karena kegiatan menunjukkan kesempurnaan, kenikmatan, serta keindahan, dan karena Wâjibul Wujûd, Kesempurnaan Mutlak serta Dia Yang Sempurna Dzul-Jalâl, mencakup segala jenis Kesempurnaan dalam Zat, Sifat, dan Tindakan-Nya, tentu Dia mempunyai Kasih Suci yang tak terhitung serta Cinta Murni yang tiada batas. Semua itu sesuai dengan cara yang layak bagi Zat Wâjibul Wujûd yang wajib ada dan suci, sesuai dengan Diri-Nya yang tidak membutuhkan apa pun serta Kekayaan mutlak-Nya, dan sesuai dengan Kesempurnaan mutlak serta Zat-Nya yang suci. Tentu ada Semangat Suci tak terhitung yang berasal dari Kasih Suci serta Cinta Murni itu. Ada pula Kegembiraan Suci tak terhitung yang berasal dari Semangat Suci tersebut. Dari Kegembiraan Suci itu juga ada—jika ungkapan ini diperbolehkan—Kenikmatan Suci yang tak terhitung.

Bersama Kenikmatan Suci itu, melalui Belas Kasih-Nya yang tak terhitung, dalam kegiatan Kudrat-Nya, kemampuan makhluk-makhluk-Nya keluar dari yang tersimpan menuju yang nyata serta mencapai sempurna. Dari rasa puas serta kesempurnaan makhluk itu timbul—jika ungkapan ini diperbolehkan—Rasa Puas Suci dan Rasa Bangga Suci yang tak terhitung, milik Zat Yang Rahmân serta Rahîm, yang menuntut kegiatan tak terhitung dengan cara tak terhitung. Kegiatan tak terhitung itu menuntut pergantian, perubahan, peralihan, serta perusakan tak terhitung. Perubahan serta pergantian tak terhitung itu juga menuntut kematian serta menjadi tidak ada, sirna serta perpisahan.

Pada suatu waktu, manfaat-manfaat yang ditunjukkan ilmu filsafat manusia mengenai tujuan karya-karya tampak amat remeh dalam pandanganku. Dari itu aku mengetahui bahwa ilmu filsafat tersebut menuju kesia-siaan. Karena itulah, para filsuf yang melangkah jauh jatuh dalam kesesatan alam, atau menjadi sofis, atau mengingkari Pilihan serta Ilmu Sang Pembuat, atau menyebut Sang Khâliq "Zat yang mencipta karena keniscayaan hakikat-Nya sendiri".

Ketika itu, Rahmat Ilahi mengirim Nama Al-Hakîm untuk membantuku dan menunjukkan kepadaku tujuan-tujuan besar karya-karya. Yakni, setiap karya merupakan surat dari Rabb yang dipelajari oleh seluruh makhluk yang sadar. Tujuan ini mencukupiku selama satu tahun.

Kemudian keajaiban-keajaiban dalam karya terbuka, dan tujuan itu mulai tidak mencukupi. Tujuan lain yang jauh lebih besar diperlihatkan. Aku mengetahui bahwa tujuan-tujuan terpenting setiap karya mengarah kepada Sang Pembuat-nya: menyampaikan Kesempurnaan karya-Nya, ukiran Asma-Nya, hiasan permata Hikmah-Nya, serta hadiah Rahmat-Nya kepada pandangan-Nya, dan menjadi cermin Keindahan serta Kesempurnaan-Nya. Tujuan ini mencukupiku cukup lama.

Kemudian, dalam kegiatan yang menimbulkan rasa takjub pada karya serta penciptaan benda, dalam perubahan dan pergantian yang amat cepat, mukjizat Kudrat serta Syuunat Rububiyah

tampak. Ketika itu, tujuan ini pun mulai tidak mencukupi. Aku mengetahui bahwa pendorong serta tuntutan sebesar tujuan tersebut juga diperlukan.

Ketika itu, tuntutan-tuntutan dalam Petunjuk Tersirat Kedua ini serta tujuan-tujuan dalam isyarat-isyarat berikut diperlihatkan. Aku diberi tahu dengan yakin bahwa "Kegiatan Kudrat serta perjalanan dan aliran benda-benda dalam kainat begitu bermakna sehingga melalui kegiatan itu, Sang Pembuat Yang Hakîm membuat jenis-jenis kainat berbicara." Seakan-akan makhluk yang bergerak di langit dan bumi serta gerak mereka merupakan kata-kata dalam percakapan mereka, dan bergerak merupakan suatu percakapan.

Jadi, gerak serta sirna yang berasal dari kegiatan merupakan perkataan-perkataan tasbih. Kegiatan dalam kainat pun adalah cara kainat serta jenis-jenisnya berbicara dan dibuat berbicara tanpa suara.

PETUNJUK TERSIRAT KETIGA

Benda-benda tidak menuju sirna serta tidak ada; justru mereka beralih dari lingkup Kudrat ke lingkup Ilmu, pergi dari alam yang disaksikan ke alam gaib, dan mengarah dari alam perubahan serta musnah ke alam cahaya serta hidup kekal. Dari segi hakikat, keindahan serta kesempurnaan dalam benda-benda adalah milik Asma Allah سُبْحَانَهُ, dan merupakan ukiran serta manifestasinya. Karena Asma itu kekal serta manifestasinya terus berlangsung, tentu ukirannya diperbarui, disegarkan, serta diperindah. Mereka tidak menuju tidak ada serta musnah; hanya ciri-ciri khusus mereka yang bersifat relatif berubah. Hakikat, sifat dasar, serta jati diri mereka dalam bentuk gambaran, yang menjadi landasan keelokan dan keindahan, serta tempat limpahan dan kesempurnaan, tetap kekal.

Pada yang tidak berjiwa, keelokan serta keindahan dalam mereka langsung milik Asma Allah سُبْحَانَهُ. Kemuliaan bagi Asma itu, pujian tercatat bagi Asma itu, keindahan milik Asma itu, dan cinta mengarah kepada Asma itu. Pergantian cermin-cermin itu tidak merugikan Asma tersebut.

Jika mereka berjiwa tetapi tidak termasuk makhluk berakal, sirna serta perpisahan mereka bukan menjadi tidak ada dan musnah. Justru mereka terbebas dari wujud jasmani serta kegaduhan tugas kehidupan, lalu menyerahkan buah-buah tugas yang diperoleh kepada ruh-ruh mereka yang kekal. Ruh-ruh kekal tersebut juga terus berlangsung dengan bersandar pada masing-masing Asma Allah سُبْحَانَهُ, bahkan pergi menuju kebahagiaan yang sesuai bagi dirinya.

Jika makhluk-makhluk berjiwa itu berakal, perjalanan mereka memang menuju alam yang kekal, landasan kebahagiaan abadi serta kesempurnaan jasmani dan rohani, serta menuju kediaman lain dan negeri lain Sang Pembuat Yang Hakîm, seperti alam barzakh, alam rupa, dan alam ruh, yang lebih indah serta lebih bercahaya daripada dunia.

Itu merupakan perjalanan, bukan kematian, menjadi tidak ada, sirna, ataupun perpisahan; justru mencapai kesempurnaan.

Kesimpulannya:

Karena Sang Pembuat Dzul-Jalâl ada serta kekal, dan Sifat serta Asma-Nya terus ada selamanya, tentu manifestasi dan ukiran Asma itu diperbarui dalam keadaan tetap ada secara maknawi. Mereka bukan rusak serta musnah, lenyap serta sirna. Diketahui bahwa dari segi kemanusiaannya, manusia berkaitan dengan kebanyakan makhluk. Ia menikmati kebahagiaan mereka dan menderita karena kehancuran mereka. Terutama makhluk hidup, khususnya umat manusia, dan lebih khusus lagi orang-orang sempurna yang dicintai serta dikaguminya: Ia lebih menderita karena kepedihan mereka serta lebih bahagia karena kebahagiaan mereka. Bahkan, seperti ibu yang penuh kasih, ia mengorbankan kebahagiaan serta ketenteramannya sendiri demi kebahagiaan mereka.

Setiap mukmin, sesuai derajatnya, melalui cahaya Al-Qur'an serta rahasia iman dapat berbahagia karena seluruh makhluk bahagia, tetap kekal, selamat dari menjadi nihil, serta menjadi surat-surat berharga dari Rabb. Ia dapat memperoleh cahaya sebesar dunia. Setiap orang mengambil manfaat dari cahaya ini sesuai derajatnya. Jika ia orang sesat, bersama kepedihannya sendiri, ia menderita karena seluruh makhluk hancur, musnah, serta secara lahiriah lenyap; jika makhluk itu berjiwa, ia menderita karena kepedihan mereka. Yakni, kufurnya mengisi dunianya dengan tidak ada dan menumpahkannya ke atas kepalanya; sebelum pergi ke neraka, ia sudah menuju neraka.

PETUNJUK TERSIRAT KEEMPAT

Sebagaimana kami katakan di banyak tempat, seorang padisyah mempunyai lingkup pengaturan yang berbeda-beda, yang timbul dari beragam gelar serta sifat, seperti sultan, khalifah, hakim, dan panglima. Demikian pula, Asma Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Yang Indah mempunyai beragam Tajalli yang tak terhitung. Beraneka serta berbedanya makhluk berasal dari beraneka Tajalli tersebut.

Menurut rahasia bahwa setiap pemilik kesempurnaan serta keindahan secara fitrah ingin melihat dan memperlihatkan keindahan serta kesempurnaannya, Asma yang berbeda itu pun, karena tetap ada selamanya, menghendaki agar senantiasa tampak demi Zat Yang Mahasuci. Yakni, mereka ingin melihat ukirannya; ingin melihat serta memperlihatkan manifestasi Keindahan dan pantulan Kesempurnaan Asma itu dalam cermin ukiran masing-masing; ingin memperbarui kitab besar kainat serta surat-surat beragam makhluk dari saat ke saat, yakni menulisnya kembali dengan penuh makna, yakni menulis ribuan surat berbeda pada satu lembaran. Mereka menuntut setiap surat ditampakkan kepada pandangan yang menyaksikan dari Zat Yang Suci, Pemilik Asma Yang Mahasuci,

sekaligus diperlihatkan kepada pandangan seluruh makhluk yang sadar untuk dipelajari serta dibaca. Pandanglah syair penuh hakikat yang mengisyaratkan hakikat ini:

Lembaran kitab alam ialah jenis-jenis yang tak terhitung.

Huruf serta katanya pun individu-individu yang tiada batas.

Ditulis pada tempat kerja hakikat Lauh Mahfuz,

Setiap makhluk dalam alam adalah lafal bermakna yang bertubuh.

ﺗَﺎَﻣَّﻞْ ﺳُﻄُﻮﺭَ ﺍﻟْﻜَﺎﺋِﻨَﺎﺕِ ﻓَﺎِﻧَّﻬَﺎ ٭ ﻣِﻦَ الْمَـلَاِ الْاَعْلٰى ﺍِﻟَﻴْﻚَ ﺭَﺳَٓﺎﺋِﻞُ

PETUNJUK TERSIRAT KELIMA

Dua butir hikmah.