ﺍِﻧَّﻤَٓﺎ ﺍَﻣْﺮُﻩُٓ ﺍِﺫَٓﺍ ﺍَﺭَﺍﺩَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺍَﻥْ ﻳَﻘُﻮﻝَ ﻟَﻪُ ﻛُﻦْ ﻓَﻴَﻜُﻮﻥُ ٭ ﻭَﻣَٓﺎ ﺍَﻣْﺮُ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔِ اِلَّا ﻛَﻠَﻤْﺢِ ﺍﻟْﺒَﺼَﺮِ ﺍَﻭْ ﻫُﻮَ ﺍَﻗْﺮَﺏُ
. Dengan mengatakan ini, Dia mengumumkan Kesempurnaan Kudrat-Nya serta menjelaskan bahwa dibandingkan dengan Kudrat-Nya, kebangkitan dan kiamat sangat mudah serta tanpa kesulitan. Melalui Al-Qur'an yang bahasanya merupakan mukjizat, Dia menyatakan bahwa Perintah Penciptaan-Nya memuat Kudrat serta Kehendak, seluruh benda sangat tunduk dan taat kepada Perintah-Perintah-Nya, serta Dia melakukan pekerjaan-pekerjaan hanya dengan satu Perintah untuk menyatakan kemudahan mutlak dalam Penciptaan-Nya, sebab Dia menciptakan tanpa menyentuh langsung serta tanpa menangani. Inti pembahasan:
Sebagian ayat mengumumkan Seni Penciptaan yang sangat indah serta Kesempurnaan Hikmah yang paling tinggi pada benda-benda, terutama pada awal penciptaannya. Kelompok lainnya menjelaskan betapa benda-benda itu mudah dan cepat diciptakan, betapa mereka tunduk serta tanpa kesulitan, terutama ketika diciptakan kembali dan dihadirkan ulang.
SINAR KETIGA
Wahai nafsu penuh bisikan yang telah melampaui batasnya! Engkau berkata:
Ayat-ayat seperti
ﺑِﻴَﺪِﻩ۪ ﻣَﻠَﻜُﻮﺕُ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ٭ ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﺩَٓﺍﺑَّﺔٍ اِلَّا ﻫُﻮَ ﺍٰﺧِﺬٌ ﺑِﻨَﺎﺻِﻴَﺘِﻬَﺎ٭ ﻭَ ﻧَﺤْﻦُ ﺍَﻗْﺮَﺏُ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﻣِﻦْ ﺣَﺒْﻞِ ﺍﻟْﻮَﺭ۪ﻳﺪِ
memperlihatkan Kedekatan Ilahi hingga tingkat tertinggi. Adapun
ﻭَ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥَ ٭ ﺗَﻌْﺮُﺝُ ﺍﻟْﻤَﻠٰٓﺌِﻜَﺔُ ﻭَﺍﻟﺮُّﻭﺡُ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﻓ۪ﻰ ﻳَﻮْﻡٍ ﻛَﺎﻥَ ﻣِﻘْﺪَﺍﺭُﻩُ ﺧَﻤْﺴ۪ﻴﻦَ ﺍَﻟْﻒَ ﺳَﻨَﺔٍ
, ucapan yang terdapat dalam hadis, "Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq berada di balik tujuh puluh ribu tirai", serta hakikat-hakikat seperti mikraj, memperlihatkan betapa jauhnya kita hingga tingkat tertinggi. Aku menginginkan penjelasan yang akan mendekatkan rahasia rumit ini kepada pemahaman. Jawaban:
Kalau begitu, dengarkanlah: Pertama, pada akhir Sinar Pertama kita berkata: Melalui cahayanya yang tidak terikat serta pantulannya yang tanpa materi, matahari lebih dekat kepadamu daripada pupil matamu, yang merupakan jendela ruhmu serta cermin baginya. Namun, karena engkau terikat dan terkurung dalam materi, engkau sangat jauh darinya. Engkau hanya dapat bersentuhan dengan sebagian pantulan serta bayangannya, dan berbicara dengan sejenis pantulan serta kilau terbatasnya. Engkau dapat mendekati warna-warnanya yang seperti sekelompok sifatnya, serta sinar dan tempat tampaknya yang seperti sekelompok namanya. Jika engkau ingin mendekati kedudukan asal matahari dan berbicara secara langsung dengan matahari itu sendiri, engkau harus melepaskan diri dari sangat banyak ikatan serta melewati sangat banyak tingkat yang menyeluruh. Seakan-akan, dengan melepaskan diri secara maknawi, engkau harus membesar sebesar bola bumi, meluas dalam ruh seperti udara, naik setinggi bulan, lalu berhadapan dengannya seperti bulan purnama. Setelah itu, engkau dapat menyatakan bahwa engkau berbicara langsung dengannya tanpa tirai serta mendekatinya hingga suatu tingkat. Demikian pula, Sang Jalîl Yang Penuh Kesempurnaan, Sang Jamîl Tiada Banding, Sang Wâjibul Wujûd, Sang Mûjid (Yang Mengadakan) seluruh yang ada, Sang Matahari Yang Mahakekal, Sang Sultan Azali dan Abadi, lebih Dekat kepadamu daripada dirimu sendiri. Engkau jauh tanpa batas dari-Nya.
Jika engkau memiliki kekuatan, terapkanlah rincian perumpamaan itu. Kedua: Misalnya,
ﻭَ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞُ الْاَعْلٰى
, di antara banyak nama seorang raja, nama "panglima" tampak dalam banyak lingkup yang saling berada di dalam satu sama lain. Dari lingkup menyeluruh panglima tertinggi, melalui marsekal dan jenderal, hingga kapten serta kopral, nama itu tampak dan memiliki pantulan dalam lingkup luas dan sempit, menyeluruh dan juz'i. Dalam tugas militernya, seorang prajurit menjadikan unsur kepemimpinan yang terbatas yang tampak pada kedudukan kopral sebagai tempat rujukan. Ia bersentuhan serta berhubungan dengan panglima tertingginya melalui pantulan nama yang terbatas ini. Jika ia ingin bersentuhan melalui nama yang asli serta berbicara dengannya melalui gelar itu, ia harus naik dari tingkat kopral hingga tingkat menyeluruh panglima tertinggi. Jadi, melalui nama, keputusan, hukum, ilmu, telepon, serta pengaturannya, raja itu sangat dekat kepada prajurit tersebut. Jika raja itu bercahaya dan termasuk wali abdal, ia juga sangat dekat melalui kehadiran dirinya sendiri. Tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi serta menjadi penghalang. Namun, prajurit itu sangat jauh. Ribuan tingkat menjadi penghalang dan ribuan tirai memisahkan. Namun, kadang-kadang ia berbelas kasih, menerima seorang prajurit ke hadapannya di luar kebiasaan, serta memberinya karunia.
Demikian pula, Zat Dzul-Jalâl, yang memiliki Perintah "kün feyekûn" dan yang matahari serta bintang menjadi seperti prajurit penerima Perintah-Nya, lebih Dekat kepada segala sesuatu daripada segala sesuatu lainnya, sedangkan segala sesuatu jauh tanpa batas dari-Nya. Jika seseorang ingin masuk tanpa tirai ke hadapan Kebesaran-Nya, ia harus melewati tujuh puluh ribu tirai yang gelap dan bercahaya, yakni yang bersifat fisik, berkaitan dengan makhluk, Asma, serta Sifat. Ia harus naik melewati ribuan tingkat Tajalli yang khusus dan menyeluruh dari setiap Nama, melewati lapisan Sifat-Sifat-Nya yang sangat tinggi, hingga naik ke Arasy Teragung-Nya yang menjadi tempat tampaknya Ismul A'zham. Jika tidak ada Tarikan serta Karunia-Nya, ia harus berusaha dan menempuh jalan rohani selama ribuan tahun. Misalnya, jika engkau ingin mendekati-Nya melalui Nama Khâliq, engkau perlu memiliki hubungan dengan-Nya sebagai Khâliq-mu secara khusus, kemudian sebagai Khâliq seluruh manusia, lalu dengan Gelar Khâliq seluruh makhluk hidup, dan kemudian melalui Nama Khâliq seluruh yang ada. Jika tidak, engkau tetap berada dalam bayangan dan hanya menemukan manifestasi yang terbatas. Suatu peringatan:
Karena kelemahannya, raja dalam perumpamaan itu menempatkan perantara seperti marsekal dan jenderal pada tingkat-tingkat nama panglimanya. Namun, Sang Qadîr Mutlak, yang
ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﻣَﻠَﻜُﻮﺕُ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ
, tidak membutuhkan perantara. Perantara-perantara itu hanya bersifat lahir; mereka merupakan tirai Kemuliaan serta Keagungan. Dalam ubudiyah, rasa takjub, kelemahan, serta keadaan membutuhkan, mereka menjadi penyeru serta penonton Kerajaan Rububiyah-Nya. Mereka tidak membantu-Nya dan tidak dapat menjadi sekutu Kerajaan Rububiyah.
SINAR KEEMPAT
Wahai nafsuku yang malas! Hakikat salat, yang merupakan sejenis mikraj, ialah diterimanya engkau ke hadapan Zat Yang Jalîl Dzul-Jamâl dan Sang Ma'bûd Yang Jamîl Dzul-Jalâl semata-mata karena Rahmat, seperti dalam perumpamaan sebelumnya seorang prajurit diterima ke hadapan raja semata-mata karena karunia. Dengan mengatakan "Allahu Ekber", engkau melewati dua dunia secara maknawi dan dalam bayangan, atau melalui niat, melepaskan diri dari ikatan benda-benda fisik, naik ke suatu tingkat ubudiyah yang menyeluruh, atau ke bayangan maupun gambarannya, serta dimuliakan dengan sejenis kehadiran di hadapan-Nya. Ini merupakan wujud nyata yang agung, sesuai kemampuan masing-masing orang, dari sapaan ﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﻌْﺒُﺪُ. Seakan-akan, melalui pengulangan "Allahu Ekber, Allahu Ekber" dalam gerakan-gerakan salat, terdapat isyarat tentang melewati tingkat-tingkat, maju secara maknawi, serta naik dari perkara-perkara juz'i ke lingkup yang menyeluruh. Hal itu juga merupakan sebutan singkat bagi Kesempurnaan Kebesaran-Nya di luar pengetahuan kita. Seakan-akan, setiap "Allahu Ekber" menunjukkan dilaluinya satu anak tangga mikraj. Bahkan, mendapat satu bayangan atau sinar dari hakikat salat ini, secara maknawi, melalui niat, dalam pikiran, atau dalam bayangan, merupakan kebahagiaan yang besar. Karena rahasia inilah, "Allahu Ekber" sangat banyak diucapkan dalam haji.
Sebab, pada dasarnya haji yang mulia merupakan ubudiyah pada tingkat yang menyeluruh bagi setiap orang. Sebagaimana seorang prajurit pada hari khusus seperti hari raya pergi ke perayaan raja seperti seorang jenderal dalam lingkup jenderal, serta menerima karunianya, demikian pula seorang haji, betapa pun biasa orangnya, menghadap Rabb-nya dengan Gelar Rabb Yang 'Azhîm atas seluruh penjuru bumi, seperti seorang wali yang telah melewati tingkat-tingkat. Ia dimuliakan dengan ubudiyah yang menyeluruh. Tentu, tingkat-tingkat Rububiyah yang menyeluruh, yang terbuka dengan kunci haji, serta cakrawala Keagungan Keilahian yang tampak dalam pandangannya melalui teropong haji; lingkup-lingkup ubudiyah, tingkat-tingkat Kebesaran, serta cakrawala Tajalli yang semakin luas dalam hati dan bayangannya melalui syiar-syiar haji, memberikan kehangatan, rasa takjub, kedahsyatan, serta rasa gentar terhadap Rububiyah. Semua itu dapat ditenangkan dengan "Allahu Ekber, Allahu Ekber". Dengan ucapan itu pula, tingkat-tingkat yang terbuka dan disaksikan atau yang digambarkan dalam pikiran itu dapat diumumkan. Setelah haji, makna ini terdapat pada salat Id, salat memohon hujan, salat gerhana bulan dan matahari, serta salat berjemaah, dalam berbagai tingkat yang luhur dan menyeluruh. Karena rahasia inilah syiar-syiar Islam penting, sekalipun termasuk perkara sunah.
ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﻣَﻦْ ﺟَﻌَﻞَ ﺧَﺰَﺍﺋِﻨُﻪُ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﻜَﺎﻑِ ﻭَ ﺍﻟﻨُّﻮﻥِ ﻓَﺴُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺑِﻴَﺪِﻩ۪ ﻣَﻠَﻜُﻮﺕُ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻭَﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥَ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ﺭَﺑَّﻨَﺎ لَا ﺗُﺆَﺍﺧِﺬْﻧَٓﺎ ﺍِﻥْ ﻧَﺴ۪ﻴﻨَٓﺎ ﺍَﻭْ ﺍَﺧْﻄَﺎْﻧَﺎ ٭ ﺭَﺑَّﻨَﺎ لَا ﺗُﺰِﻍْ ﻗُﻠُﻮﺑَﻨَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺍِﺫْ ﻫَﺪَﻳْﺘَﻨَﺎ ﻭَﻫَﺐْ ﻟَﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﻟَﺪُﻧْﻚَ ﺭَﺣْﻤَﺔً ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻮَﻫَّﺎﺏُ ﻭَﺻَﻞِّ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠٰﻰ ﺭَﺳُﻮﻟِﻚَ الْاَكْرَمِ ﻣَﻈْﻬَﺮِ ﺍِﺳْﻤِﻚَ الْاَعْظَمِ ﻭَ ﻋَﻠٰٓﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺍَﺻْﺤَﺎﺑِﻪ۪ ﻭَ ﺍِﺧْﻮَﺍﻧِﻪ۪ ﻭَ ﺍَﺗْﺒَﺎﻋِﻪ۪ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﻳَﺎ ﺍَﺭْﺣَﻢَ ﺍﻟﺮَّﺍﺣِﻤ۪ﻴﻦَ
LAMPIRAN KECIL
Sang Qadîr Yang Alîm serta Sang Pembuat Yang Hakîm memperlihatkan Kudrat dan Hikmah-Nya, serta bahwa tidak ada kebetulan yang mencampuri Pekerjaan-Nya, melalui susunan dan keteraturan yang ditunjukkan oleh Kebiasaan-Kebiasaan-Nya yang berbentuk hukum. Demikian pula, melalui kejadian yang menyimpang dari hukum, keajaiban Kebiasaan-Nya, perubahan bentuk, perbedaan ciri khas setiap individu, serta perubahan waktu muncul dan turun, Dia memperlihatkan Masyîah (kehendak Allah سُبْحَانَهُ), Kehendak-Nya, Diri-Nya sebagai Pelaku yang memilih, Pilihan-Nya, serta bahwa Dia tidak berada di bawah ikatan apa pun. Dengan merobek tirai keseragaman serta memberitahukan bahwa segala sesuatu, pada setiap saat, dalam setiap keadaan serta dalam setiap bagiannya membutuhkan-Nya dan tunduk kepada Rububiyah-Nya, Dia menghilangkan kelalaian serta mengalihkan pandangan manusia dan jin dari sebab-sebab kepada Sang Pencipta Sebab-Sebab. Penjelasan-penjelasan Al-Qur'an tertuju pada dasar ini. Misalnya, di sebagian besar tempat, beberapa pohon berbuah menghasilkan buah pada satu tahun. Yakni, buah diberikan ke tangan mereka dari khazanah Rahmat, lalu mereka memberikannya. Pada tahun berikutnya, meskipun seluruh sebab lahir tersedia, mereka tidak menerima serta memberikan buah. Contoh lainnya, berbeda dengan urusan-urusan lain yang diperlukan, waktu turunnya hujan begitu berubah-ubah, sehingga termasuk dalam lima perkara gaib.
Sebab, tempat terpenting dalam keberadaan dimiliki kehidupan serta rahmat. Karena hujan merupakan sumber kehidupan serta rahmat semata, tentu air kehidupan dan air rahmat itu tidak akan masuk ke dalam aturan keseragaman, yang menimbulkan kelalaian serta menjadi tirai. Sebaliknya, Zat Dzul-Jalâl, Sang Pemberi Nikmat Yang Muhyî, Yang Rahmân dan Rahîm, secara langsung memegangnya dalam Tangan-Nya tanpa tirai, agar Dia selalu membiarkan pintu doa serta syukur terbuka. Contoh lainnya, pemberian rezeki serta wajah tertentu terjadi dengan cara yang tidak diduga, seperti hasil suatu karunia khusus. Betapa indahnya hal itu memperlihatkan Masyîah serta Pilihan Rabbani. Bandingkan pula Syuunat Ilahi seperti mengalihkan angin serta menundukkan awan dengan semua ini.
Kalimat Kesepuluh Surat Kedua Puluh
ﻭَ ﻫُﻮَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ
Yakni, tidak satu pun dapat menjadi berat bagi-Nya. Sebanyak apa pun benda dalam lingkup yang mungkin ada, Dia dapat mengenakan wujud kepadanya dengan amat mudah. Begitu mudah serta ringan bagi-Nya sehingga menurut rahasia
ﺍِﻧَّﻤَٓﺎ ﺍَﻣْﺮُﻩُٓ ﺍِﺫَٓﺍ ﺍَﺭَﺍﺩَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺍﻟﺦ
, seakan-akan Dia hanya memerintah, lalu ia dibuat.
Sebagaimana seorang pembuat yang amat cakap bekerja dengan amat mudah seperti mesin begitu tangannya menyentuh pekerjaan, untuk mengungkapkan kecepatan serta kecakapannya itu dikatakan, "Pekerjaan serta karya itu begitu tunduk kepadanya sehingga seakan-akan dengan perintah dan sentuhannya, pekerjaan terjadi serta karya terwujud."
Demikian pula, untuk mengisyaratkan betapa segala sesuatu sepenuhnya tunduk serta patuh kepada Kudrat Sang Qadîr Dzul-Jalâl, dan betapa Kudrat itu bekerja tanpa beban serta dengan amat mudah, Dia berfirman
ﺍِﻧَّﻤَٓﺎ ﺍَﻣْﺮُﻩُٓ ﺍِﺫَٓﺍ ﺍَﺭَﺍﺩَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺍَﻥْ ﻳَﻘُﻮﻝَ ﻟَﻪُ ﻛُﻦْ ﻓَﻴَﻜُﻮﻥُ
. Dari rahasia-rahasia tak terhitung hakikat agung ini, kami akan menjelaskan lima rahasia dalam lima butir hikmah: PERTAMA: Dibandingkan dengan Kudrat Ilahi, yang terbesar mudah seperti yang terkecil. Menciptakan seluruh anggota satu jenis tanpa beban serta ringan seperti menciptakan satu individu. Menciptakan surga mudah seperti menciptakan musim semi. Menciptakan musim semi ringan seperti menciptakan satu bunga.
Pada akhir Kalimat Kesepuluh mengenai kebangkitan, serta dalam pembahasan kebangkitan pada penjelasan Dasar Kedua Kalimat Kedua Puluh Sembilan mengenai malaikat, ruh yang kekal, dan kebangkitan, "rahasia bercahaya", "rahasia tembus pandang", "rahasia berhadapan", "rahasia keseimbangan", "rahasia keteraturan", serta "rahasia kepatuhan" telah diteguhkan melalui enam perumpamaan yang menjelaskan serta meneguhkan rahasia ini. Telah ditunjukkan bahwa bagi Kudrat Ilahi, bintang-bintang mudah seperti zarah-zarah; individu-individu tak terhitung diciptakan tanpa beban serta ringan seperti satu individu. Karena keenam rahasia itu telah diteguhkan dalam kedua Kalimat tersebut, kami merujukkan kepadanya serta mencukupkan dengan uraian singkat di sini. KEDUA: Dalil pasti serta hujah bersinar bahwa segala sesuatu sama bagi Kudrat Ilahi ialah:
Dalam penciptaan hewan serta tumbuhan, kita melihat dengan mata sendiri bahwa di tengah kemurahan serta jumlah yang tak terhitung, terdapat ketelitian dan keindahan karya yang amat tinggi.
Di tengah keadaan yang amat bercampur serta berbaur, terlihat ciri pembeda serta pemisahan yang amat jelas.
Di tengah jumlah yang amat melimpah serta cakupan yang amat luas, terdapat nilai karya serta keindahan ciptaan yang amat tinggi.
Meskipun dibuat dengan karya yang amat indah serta memerlukan banyak perangkat dan waktu, mereka diciptakan dengan kemudahan serta kecepatan yang amat tinggi. Seakan-akan mukjizat-mukjizat karya itu terwujud sekaligus dan dari tidak ada.
Kegiatan Kudrat yang kita saksikan pada setiap musim di muka bumi ini pasti menunjukkan bahwa bagi Kudrat yang menjadi sumber tindakan-tindakan tersebut, yang terbesar mudah seperti yang terkecil. Individu-individu tak terhitung diciptakan serta diurus dengan ringan seperti satu individu. KETIGA: Bagi Kudrat Sang Pembuat Yang Qadîr, yang memerintah melalui pengelolaan serta tindakan yang terlihat dalam kainat ini, keseluruhan terbesar mudah seperti bagian terkecil. Menciptakan suatu himpunan dengan banyak anggota mudah seperti menciptakan satu anggota. Pada satu anggota yang paling biasa pun dapat ditunjukkan nilai karya yang paling tinggi. Rahasia Hikmah hakikat ini berasal dari tiga sumber:
Pertama: Bantuan wâhidiyah.
Kedua: Kemudahan kesatuan.
Ketiga: Tajalli ahadiyah.
Sumber pertama, bantuan wâhidiyah: Yakni, jika setiap sesuatu serta seluruh benda adalah milik satu Zat, dari segi wâhidiyah Dia dapat menghimpun kekuatan seluruh benda di belakang setiap sesuatu. Seluruh benda juga diurus dengan mudah seperti satu benda. Untuk mendekatkan rahasia ini pada pemahaman melalui perumpamaan, kami berkata:
Misalnya, jika suatu negeri mempunyai satu padisyah, melalui hukum kesatuan kekuasaan itu sang padisyah dapat menghimpun kekuatan rohani satu pasukan di belakang setiap prajurit. Karena dapat melakukannya, satu prajurit itu dapat menawan seorang raja serta memerintah di atas raja tersebut atas nama padisyahnya. Melalui rahasia kesatuan kekuasaan, sang padisyah juga dapat mengurus seluruh pasukan serta seluruh
petugasnya seperti mempekerjakan dan mengurus satu prajurit serta satu petugas. Seakan-akan melalui rahasia kesatuan kekuasaan, ia dapat mengirim setiap orang dan segala sesuatu untuk membantu satu individu. Setiap individu juga dapat bersandar pada kekuatan sebesar seluruh individu, yakni memperoleh bantuan darinya.
Jika tali kesatuan kekuasaan itu terlepas dan keadaan berubah menjadi kacau tanpa kendali, ketika itu setiap prajurit segera kehilangan kekuatan yang tak terhitung, jatuh dari kedudukan berpengaruh yang tinggi, lalu menjadi seorang biasa. Mengurus serta mempekerjakan mereka menimbulkan kesulitan sebanyak jumlah individu.
Demikian pula,
ﻭَﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞُ الْاَعْلٰى
, karena Sang Pembuat kainat ini Wâhid, Dia menghimpun Asma yang ditujukan kepada seluruh benda untuk setiap sesuatu. Dia menciptakannya dengan karya yang tiada batas serta dalam bentuk berharga. Jika diperlukan, Dia memandang satu sesuatu melalui seluruh benda, membuat seluruh benda memandangnya, memberikan bantuan, serta menjadikannya kuat. Melalui rahasia wâhidiyah itu, Dia juga menciptakan, mengelola, serta mengurus seluruh benda seperti satu benda.
Melalui rahasia bantuan wâhidiyah ini, dalam kainat terlihat sifat yang amat tinggi serta luhur dalam karya dan nilai, di tengah jumlah yang amat melimpah serta harga yang amat murah.
Sumber kedua, kemudahan kesatuan: Yakni, pekerjaan yang berlangsung melalui satu pusat, satu tangan, serta satu hukum dengan cara kesatuan memberikan kemudahan yang amat besar. Jika dibagikan kepada banyak pusat, banyak hukum, serta banyak tangan, kesulitan timbul.
Misalnya, jika dasar perlengkapan seluruh prajurit satu pasukan dibuat dari satu pusat, dengan satu hukum, serta dengan perintah seorang panglima teragung, hal itu mudah seperti melengkapi satu prajurit. Jika perlengkapan mereka dibuat di pabrik serta pusat yang berbeda-beda, seluruh pabrik militer yang diperlukan untuk melengkapi satu pasukan juga diperlukan untuk perlengkapan satu prajurit. Jadi, jika bersandar pada kesatuan, satu pasukan mudah seperti satu prajurit. Jika tidak ada kesatuan, satu prajurit menimbulkan kesulitan seperti satu pasukan dari segi dasar perlengkapannya.
Pada segi kesatuan, jika bahan kehidupan diberikan kepada buah-buah satu pohon dengan bersandar pada satu pusat, satu hukum, serta satu akar, ribuan buah mudah seperti satu buah. Jika setiap buah dihubungkan kepada pusat yang berbeda serta bahan kehidupannya dikirim dari tempat yang berbeda, setiap buah menimbulkan kesulitan sebesar seluruh pohon. Sebab, bahan kehidupan yang diperlukan seluruh pohon juga diperlukan setiap buah.
Seperti kedua perumpamaan ini,
ﻭَﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞُ الْاَعْلٰى
, karena Sang Pembuat kainat ini Wâhid lagi Ahad, Dia bekerja dengan kesatuan. Karena bekerja dengan kesatuan, seluruh benda mudah seperti satu benda. Dia juga dapat menjadikan satu benda sama berharga dengan seluruh benda dari segi karya. Dengan menciptakan individu-individu tak terhitung dalam bentuk amat berharga, melalui bahasa jumlah melimpah yang tak terhitung serta harga murah yang tiada batas ini, Dia menunjukkan Kemurahan mutlak-Nya, menampakkan Kedermawanan-Nya yang tak terhitung, serta Penciptaan-Nya yang tiada batas.
Sumber ketiga, Tajalli ahadiyah: Yakni, karena Sang Pembuat Dzul-Jalâl bukan tubuh serta tidak bersifat jasmani, waktu dan tempat tidak dapat membatasi-Nya. Alam serta tempat tidak dapat turut campur dalam apa yang disaksikan-Nya ataupun Kehadiran-Nya. Perantara-perantara serta benda tidak dapat menarik tabir di depan tindakan-Nya. Perhatian-Nya tidak pecah serta tidak terbagi. Satu sesuatu tidak menghalangi sesuatu yang lain. Dia melakukan tindakan tak terhitung seperti satu tindakan. Karena itu, sebagaimana Dia memuat secara makna satu pohon besar dalam satu benih, Dia juga dapat memuat satu alam dalam satu individu. Seluruh alam berputar seperti satu individu melalui Kudrat-Nya. Sebagaimana kami jelaskan rahasia ini dalam Kalimat-Kalimat lain, kami berkata:
Sebagaimana gambaran matahari, yang pada suatu kadar tidak terikat karena bersifat cahaya, tercermin dalam setiap benda mengilap serta bersinar. Jika ribuan atau jutaan cermin menghadap cahayanya, pada setiap cermin terdapat pantulan gambarannya sendiri tanpa terbagi, seperti pada satu cermin. Jika cermin itu mempunyai kemampuan, matahari dapat menunjukkan pengaruh-pengaruhnya dalam cermin tersebut dengan keagungannya. Satu sesuatu tidak dapat menghalangi sesuatu yang lain. Matahari masuk dengan mudah ke ribuan cermin seperti ke satu cermin, serta ke ribuan tempat seperti ke satu tempat. Setiap tempat memperoleh pantulan matahari itu sebesar ribuan tempat.
ﻭَﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞُ الْاَعْلٰى
Sang Pembuat Dzul-Jalâl kainat ini mempunyai Tajalli dengan seluruh Sifat-Nya yang berupa cahaya serta seluruh Asma-Nya yang bercahaya, melalui rahasia perhatian ahadiyah sedemikian rupa sehingga meskipun Dia tidak berada dalam tempat mana pun, Dia hadir serta melihat di setiap tempat. Perhatian-Nya tidak terbagi. Pada saat yang sama, di setiap tempat, Dia melakukan setiap pekerjaan tanpa beban serta tanpa saling berdesakan.
Melalui rahasia bantuan wâhidiyah, kemudahan kesatuan, serta Tajalli ahadiyah ini, ketika seluruh makhluk dinisbatkan kepada Sang Pembuat Yang Esa, seluruh makhluk itu mudah serta ringan seperti satu makhluk. Setiap makhluk juga dapat sama berharga dengan seluruh makhluk dari segi keindahan karya. Sebagaimana adanya rincian karya tak terhitung pada setiap individu, di tengah jumlah makhluk yang melimpah tak terhitung, menunjukkan hakikat ini.
Jika makhluk-makhluk itu tidak langsung dinisbatkan kepada Sang Pembuat Yang Esa, setiap makhluk akan menimbulkan kesulitan sebesar seluruh makhluk, dan
nilai seluruh makhluk jatuh serta turun menjadi sebesar satu makhluk. Dalam keadaan itu, tidak satu pun akan terwujud; atau, sekalipun terwujud, ia menjadi tidak berharga serta turun menjadi nihil.
Karena rahasia ini, kaum sofis, yang merupakan para filsuf yang melangkah paling jauh, memalingkan wajah dari jalan haq serta memandang jalan kufur dan kesesatan. Mereka melihat bahwa jalan syirik seratus ribu kali lebih sulit daripada jalan haq serta tauhid, dan amat tidak masuk akal. Karena itu, mereka terpaksa mengingkari bahwa segala sesuatu ada, lalu melepaskan akal mereka. KEEMPAT: Bagi Kudrat Zat Yang Qadîr yang mengelola melalui tindakan-tindakan yang terlihat dalam kainat ini, menciptakan surga mudah seperti menciptakan musim semi; menciptakan musim semi mudah seperti menciptakan satu bunga. Keindahan karya serta kelembutan ciptaan satu bunga dapat lembut dan berharga sebesar satu musim semi. Rahasia hakikat ini terdiri dari tiga hal:
Pertama: Sang Pembuat wajib ada serta bebas dari materi.
Kedua: Hakikat Diri-Nya berbeda serta Dia tidak terikat batas.
Ketiga: Dia tidak menempati ruang serta tidak terbagi.
Rahasia Pertama: Bahwa wajib ada serta bebas dari materi menjadi sebab kemudahan tak terhitung dan keringanan tiada batas merupakan rahasia yang amat mendalam. Kami akan mendekatkannya pada pemahaman melalui perumpamaan. Yaitu:
Tingkatan-tingkatan wujud berbeda, dan alam-alam wujud berlainan. Karena berlainan, satu zarah dari tingkatan wujud yang kukuh dalam wujudnya sebesar satu gunung pada tingkatan wujud yang lebih ringan daripada tingkatan tersebut, serta dapat memuat gunung itu.
Misalnya, daya ingat sebesar biji sesawi dalam kepala, yang berasal dari alam yang disaksikan, memuat wujud sebesar satu perpustakaan dari alam makna. Cermin sebesar kuku dari alam luar memuat satu kota besar dari tingkatan alam rupa dalam wujud. Seandainya cermin dari alam luar serta daya ingat itu mempunyai kesadaran dan daya mencipta, dengan kekuatan wujud luar mereka yang amat kecil, mereka dapat melakukan pengelolaan serta perubahan tak terhitung dalam wujud rohani serta wujud gambaran itu.
Jadi, semakin kukuh wujud, semakin besar kekuatan; sesuatu yang sedikit menjadi seperti sesuatu yang banyak. Terutama, jika setelah mencapai kukuh sepenuhnya, wujud bebas dari materi serta tidak masuk di bawah batas, ketika itu satu manifestasinya yang kecil dapat memutar banyak alam dari tingkatan-tingkatan wujud lain yang ringan.
ﻭَﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞُ الْاَعْلٰى
Sang Pembuat Dzul-Jalâl kainat ini adalah Wâjibul Wujûd. Yakni, Wujud-Nya melekat pada Zat-Nya sendiri, azali, abadi; mustahil Dia tidak ada, mustahil Dia sirna; serta merupakan yang paling kukuh, paling mendasar, paling kuat, dan paling sempurna di antara tingkatan-tingkatan wujud. Tingkatan-tingkatan wujud lainnya seperti bayangan yang amat lemah dibandingkan dengan Wujud-Nya. Wujud Yang Wajib Ada begitu kukuh serta hakiki, dan wujud makhluk yang mungkin ada begitu ringan serta lemah, sehingga banyak pengkaji yang saksama seperti Muhyiddin Ibnu Arabi menurunkan tingkatan-tingkatan wujud lain sampai derajat sangkaan dan khayalan, lalu berkata
لَا ﻣَﻮْﺟُﻮﺩَ اِلَّا ﻫُﻮَ
. Yakni, mereka memutuskan bahwa dibandingkan dengan Wujud Yang Wajib Ada, hal-hal lain tidak seharusnya disebut wujud; mereka tidak layak mendapat sebutan wujud.
Dibandingkan dengan Kudrat Wâjibul Wujûd yang wajib ada serta melekat pada Zat-Nya sendiri, wujud makhluk yang baru serta tidak berasal dari dirinya sendiri, serta wujud makhluk yang mungkin ada yang tidak tetap serta tidak kuat, tentu amat mudah dan ringan. Menghidupkan serta mengadili seluruh ruh pada kebangkitan teragung mudah seperti daun, bunga, serta buah yang dihimpun dan disebarkan-Nya dalam satu musim semi, bahkan dalam satu kebun, bahkan pada satu pohon.
Rahasia Kedua: Bahwa hakikat Diri-Nya berbeda serta Dia tidak terikat batas menjadi sebab kemudahan ialah demikian:
Sang Pembuat kainat tentu bukan dari jenis kainat. Hakikat Diri-Nya tidak menyerupai hakikat apa pun. Karena itu, penghalang serta batas dalam lingkup kainat tidak dapat menghadang-Nya ataupun membatasi tindakan-Nya. Dia dapat mengelola serta memutar seluruh kainat sekaligus. Jika pengelolaan serta tindakan yang terlihat pada wajah kainat diserahkan kepada kainat, hal itu akan menimbulkan kesulitan dan kekacauan sedemikian besar sehingga tidak ada keteraturan yang tersisa, serta tidak satu pun tetap ada, bahkan tidak dapat terwujud.
Misalnya, jika kecakapan karya pada kubah-kubah melengkung diserahkan kepada batu-batu dalam kubah itu, dan pengurusan batalion yang menjadi tugas perwira diserahkan kepada para prajurit, semuanya tidak akan terwujud, atau mengambil keadaan tanpa tatanan di tengah banyak kesulitan serta kekacauan. Namun, jika penataan batu-batu dalam kubah itu diserahkan kepada seorang tukang yang bukan dari jenis batu, dan pengurusan para prajurit dalam batalion diserahkan kepada seorang perwira yang mempunyai sifat perwira dari segi tingkatan, karya menjadi mudah serta pengaturan dan pengurusan menjadi ringan. Sebab, batu-batu serta prajurit-prajurit saling menghalangi; sedangkan tukang serta perwira dapat memandang dan mengurus setiap titik tanpa hambatan.
ﻭَﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞُ الْاَعْلٰى
Hakikat Suci Wâjibul Wujûd bukan dari jenis hakikat makhluk yang mungkin ada. Justru seluruh hakikat kainat merupakan sinar Nama Al-Haqq, yang termasuk Asma-Nya Yang Indah bagi Hakikat Diri-Nya itu. Karena Hakikat-Nya yang Suci adalah Wâjibul Wujûd, bebas dari materi, serta berbeda dari seluruh hakikat, Dia tidak mempunyai yang serupa, contoh, ataupun bandingan. Tentu bagi Kudrat Azali Zat Dzul-Jalâl itu, mengurus serta memelihara seluruh kainat mudah seperti satu musim semi, bahkan satu pohon. Menciptakan kebangkitan teragung, negeri akhirat, surga, serta neraka mudah seperti menghidupkan kembali pada musim semi pohon-pohon yang mati pada musim gugur.
Rahasia Ketiga: Rahasia bahwa tidak menempati ruang serta tidak terbagi menjadi sebab kemudahan yang amat besar ialah demikian:
Karena Sang Pembuat Yang Qadîr suci dari tempat, tentu melalui Kudrat-Nya Dia dianggap hadir di setiap tempat. Karena tidak ada pecah ataupun terbagi, tentu Dia dapat mengarahkan seluruh Asma-Nya kepada setiap sesuatu. Karena Dia hadir di setiap tempat serta mengarahkan perhatian kepada setiap sesuatu, makhluk, perantara-perantara, serta benda tidak menghalangi ataupun menunda tindakan-Nya. Justru, meskipun sama sekali tidak diperlukan, seandainya diperlukan, seperti kawat listrik, cabang pohon, serta pembuluh manusia, benda-benda menjadi sarana kemudahan, perantara sampainya kehidupan, serta sebab cepatnya tindakan. Jauh dari menunda, membatasi, menghalangi, serta mencampuri, justru mereka menjadi sarana memudahkan, mempercepat, serta menyampaikan.
Jadi, dari segi patuh serta tunduk, segala sesuatu menjadi sarana kemudahan bagi pengelolaan Kudrat Sang Qadîr Dzul-Jalâl, meskipun tidak diperlukan, seandainya diperlukan.
Kesimpulannya:
Sang Pembuat Yang Qadîr menciptakan setiap sesuatu dengan cara yang sesuai baginya, tanpa beban, tanpa harus menangani dengan usaha, dengan cepat serta mudah. Dia menciptakan keseluruhan-keseluruhan dengan mudah seperti masing-masing bagian. Dia menciptakan masing-masing bagian dengan karya indah seperti keseluruhan-keseluruhan.
Ya, siapa pun yang menciptakan keseluruhan-keseluruhan, langit, serta bumi, tentu Dia pula yang menciptakan masing-masing bagian dan individu makhluk hidup dalam langit serta bumi; tidak dapat selain Dia. Sebab, bagian-bagian kecil itu merupakan buah, benih, serta contoh kecil dari keseluruhan-keseluruhan tersebut.
Siapa pun yang menciptakan bagian-bagian itu, Dia pula yang menciptakan unsur-unsur yang meliputinya, langit, serta bumi. Sebab, kita melihat bahwa dibandingkan dengan keseluruhan-keseluruhan, setiap bagian merupakan benih serta salinan kecil. Karena itu, unsur-unsur yang menyeluruh,
langit, serta bumi harus berada di tangan Zat yang menciptakan bagian-bagian tersebut. Dengan demikian, melalui kaidah Hikmah-Nya serta ukuran Ilmu-Nya, Dia dapat memuat inti, makna, serta contoh makhluk-makhluk yang menyeluruh dan meliputi itu dalam bagian-bagian yang merupakan contoh kecil tersebut.
Ya, dari segi keajaiban karya serta ciptaan, bagian-bagian tidak tertinggal dari keseluruhan; bunga-bunga tidak lebih rendah daripada bintang-bintang; benih-benih tidak berada di bawah pohon-pohon. Bahkan, pohon rohani yang merupakan ukiran Takdir dalam benih lebih menakjubkan daripada pohon bertubuh yang merupakan tenunan Kudrat dalam kebun. Penciptaan manusia juga lebih menakjubkan daripada penciptaan alam.
Sebagaimana jika Al-Qur'an hikmah ditulis dengan zarah eter di atas satu zarah yang tidak terbagi, ia dapat lebih penting dari segi nilai daripada Al-Qur'an keagungan yang ditulis dengan bintang-bintang pada wajah langit, demikian pula ada banyak bagian kecil yang melampaui keseluruhan dari segi mukjizat karya. KELIMA: Dalam penjelasan-penjelasan sebelumnya, pada suatu kadar kami telah menunjukkan rahasia serta hikmah kemudahan tak terhitung, kecepatan yang amat tinggi, dan kecepatan tindakan yang tiada batas yang terlihat dalam penciptaan makhluk, serta penciptaan benda-benda dengan kemudahan yang tiada batas. Benda-benda terwujud dengan kecepatan tiada batas serta kemudahan tak terhitung ini memberikan keyakinan pasti kepada orang-orang yang mendapat petunjuk demikian:
Bagi Kudrat Zat yang menciptakan makhluk, surga-surga mudah seperti musim-musim semi, musim-musim semi seperti kebun-kebun, dan kebun-kebun seperti bunga-bunga. Menurut rahasia
ﻣَﺎ ﺧَﻠْﻘُﻜُﻢْ وَلَا ﺑَﻌْﺜُﻜُﻢْ اِلَّا ﻛَﻨَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ
, kebangkitan serta hidup kembali umat manusia mudah seperti mematikan dan menghidupkan satu jiwa. Menurut penjelasan tegas
ﺍِﻥْ ﻛَﺎﻧَﺖْ اِلَّا ﺻَﻴْﺤَﺔً ﻭَﺍﺣِﺪَﺓً ﻓَﺎِﺫَﺍﻫُﻢْ ﺟَﻤ۪ﻴﻊٌ ﻟَﺪَﻳْﻨَﺎ ﻣُﺤْﻀَﺮُﻭﻥَ
, menghidupkan seluruh manusia dalam kebangkitan mudah seperti menghimpun satu pasukan yang berpencar untuk beristirahat dengan satu bunyi terompet.
Kecepatan tak terhitung serta kemudahan tiada batas ini dengan jelas merupakan dalil pasti serta hujah yang meyakinkan bagi Kesempurnaan Kudrat Sang Pembuat dan bahwa segala sesuatu mudah bagi-Nya. Meskipun demikian, dalam pandangan orang sesat, benda-benda diberi bentuk serta diciptakan dengan Kudrat Sang Pembuat—yang mudah sampai derajat pasti terjadi—justru disamakan dengan terbentuk sendiri, yang seribu kali mustahil. Yakni, karena mereka melihat sebagian benda biasa terwujud dengan amat mudah, mereka menyangka benda itu terbentuk sendiri, padahal diberi bentuk. Yakni, mereka mengira bahwa benda-benda itu tidak diciptakan, tetapi terwujud sendiri.
Marilah, pandanglah derajat-derajat kebodohan yang tiada batas: Ia menjadikan dalil suatu Kudrat yang tiada batas sebagai dalil bahwa Kudrat itu tidak ada, lalu membuka pintu hal-hal mustahil yang tiada batas. Sebab, dalam keadaan itu, sifat-sifat sempurna seperti Kudrat yang tiada batas serta Ilmu yang meliputi segalanya, yang diperlukan Sang Pembuat seluruh alam, harus diberikan kepada setiap zarah setiap makhluk, agar dapat terbentuk sendiri.
KALIMAT KESEBELAS
ﻭَ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺍﻟْﻤَﺼ۪ﻴﺮُ
Yakni, akan kembali dari negeri fana ke negeri yang kekal; akan pergi ke pusat kerajaan abadi Dia Yang Tidak Berawal serta Kekal; akan pergi dari banyaknya sebab-sebab ke lingkup Kudrat Dia Yang Wâhid Dzul-Jalâl; akan beralih dari dunia ke akhirat. Tempat kembali kalian ialah hadirat-Nya; tempat berlindung kalian ialah Rahmat-Nya, dan demikian seterusnya...
Ada banyak hakikat seperti itu yang diungkapkan kata ini. Di antara hakikat-hakikat tersebut, hakikat yang menyatakan bahwa kalian akan kembali ke surga dengan kebahagiaan abadi telah diteguhkan begitu pasti melalui dua belas hujah pasti yang meyakinkan dalam Kalimat Kesepuluh, serta enam dasar yang memuat banyak dalil pasti dalam Kalimat Kedua Puluh Sembilan, sehingga tidak memerlukan penjelasan lain. Dengan kepastian seperti matahari yang terbenam akan terbit kembali keesokan paginya, kedua Kalimat itu telah meneguhkan bahwa:
Kehidupan, matahari rohani dunia ini, setelah terbenam bersama hancurnya dunia, juga akan terbit secara kekal pada pagi kebangkitan. Sebagian jin serta manusia akan memperoleh kebahagiaan abadi, dan sebagian lainnya kesengsaraan abadi. Karena Kalimat Kesepuluh serta Kalimat Kedua Puluh Sembilan telah meneguhkan hakikat ini sepenuhnya, kami merujukkan pembahasan kepadanya dan hanya berkata:
Sebagaimana telah diteguhkan dengan pasti dalam penjelasan sebelumnya, Sang Pembuat Yang Hakîm kainat ini serta Sang Khâliq Yang Rahîm manusia ini, Pemilik Ilmu yang meliputi segalanya dan tiada batas, Kehendak menyeluruh yang tak terhitung, serta Kudrat mutlak yang tiada batas, telah menjanjikan surga dan kebahagiaan abadi kepada ahli iman di antara umat manusia melalui seluruh kitab serta Firman samawi-Nya. Karena Dia telah berjanji, tentu Dia akan melakukannya. Sebab, mustahil Dia mengingkari janji-Nya. Tidak memenuhi janji merupakan kekurangan yang amat buruk. Dia Yang Sempurna Mutlak bebas dan suci dari kekurangan. Tidak melakukan apa yang dijanjikan berarti tidak mampu melakukannya karena tidak mengetahui atau karena tidak berdaya. Padahal, karena tidak mengetahui serta tidak berdaya mustahil bagi Sang Qadîr Mutlak dan Sang Alîm atas segala sesuatu itu, mengingkari janji pun mustahil.
Seluruh nabi, wali, orang suci, serta ahli iman, terutama Kebanggaan Alam ﷺ, juga terus mengharap, memohon, berdoa, serta meminta kepada Sang Rahîm Yang Karîm kebahagiaan abadi yang telah dijanjikan-Nya. Mereka juga memintanya bersama seluruh Asma Allah سُبْحَانَهُ Yang Indah. Sebab, kebanyakan Asma Allah سُبْحَانَهُ Yang Indah, seperti terutama Kasih serta Rahmat-Nya, Keadilan serta Hikmah-Nya, Nama Ar-Rahmân, Ar-Rahîm, Âdil (Yang Mahaadil), serta Al-Hakîm, Pemeliharaan serta Penguasaan-Nya, Kerajaan-Nya, dan Nama Rabb serta Allah سُبْحَانَهُ, menuntut serta mengharuskan alam akhirat dan kebahagiaan abadi, serta bersaksi dan menunjukkan bahwa semua itu akan terwujud. Bahkan, sebagaimana diteguhkan dalam Kalimat Kesepuluh, seluruh makhluk dengan seluruh hakikatnya mengisyaratkan negeri akhirat.
Firman teragung, Al-Qur'an Al-Hakîm, juga menunjukkan serta mengajarkan hakikat itu melalui ribuan ayat dan bukti nyata, serta hujah-hujahnya yang benar dan pasti. Sang Kekasih Yang Paling Mulia ﷺ, yang menjadi kebanggaan umat manusia, dengan bersandar pada ribuan mukjizat yang terang, sepanjang hidup beliau dan dengan seluruh kekuatan beliau telah mengajarkan, meneguhkan, mengumumkan, melihat, serta memperlihatkan hakikat itu.
TAMBAHAN KALIMAT KESEPULUH SURAT KEDUA PULUH
ﺑِﺎﺳْﻤِﻪ۪ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻭَﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪ ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ اَلَا ﺑِﺬِﻛْﺮِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺗَﻄْﻤَﺌِﻦُّ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮﺏُ ٭ ﺿَﺮَﺏَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ مَثَلًا رَجُلًا ﻓ۪ﻴﻪِ ﺷُﺮَﻛَٓﺎﺀُ ﻣُﺘَﺸَﺎﻛِﺴُﻮﻥَ
Pertanyaan:
Di banyak tempat engkau telah berkata, "Dalam kesatuan ada kemudahan yang amat besar; dalam segala yang banyak serta syirik, ada kesulitan yang amat besar. Dalam kesatuan ada kemudahan sampai derajat pasti terjadi; dalam syirik ada kesulitan sampai derajat mustahil terjadi." Namun, kesulitan serta hal-hal mustahil yang engkau tunjukkan juga berlaku pada sisi kesatuan. Misalnya, engkau berkata, "Jika zarah-zarah tidak bertugas, pada setiap zarah harus terdapat ilmu yang meliputi segalanya, atau kudrat mutlak, atau mesin-mesin dan percetakan-percetakan rohani yang tak terhitung. Hal ini seratus kali mustahil." Padahal, sekalipun zarah-zarah itu merupakan petugas Ilahi, mereka juga harus menjadi tempat semua itu agar dapat menjalankan tugas-tugas teratur yang tak terhitung. Aku meminta penjelasannya.
Jawaban:
Dalam banyak Kalimat, kami telah menjelaskan serta meneguhkan bahwa jika seluruh makhluk dinisbatkan kepada Sang Pembuat Yang Esa, semuanya mudah serta ringan seperti satu makhluk. Jika dinisbatkan kepada banyak sebab serta alam, satu lalat menimbulkan kesulitan sebesar langit; satu bunga sebesar musim semi; satu buah sebesar satu kebun. Karena persoalan ini telah dijelaskan serta diteguhkan dalam Kalimat-Kalimat lain, kami merujukkan kepadanya. Di sini kami hanya akan menjelaskan tiga perumpamaan melalui tiga isyarat yang akan membuat jiwa merasa tenteram terhadap hakikat tersebut:
Perumpamaan Pertama: Misalnya, jika satu zarah kecil yang tembus pandang serta mengilap dibiarkan sendiri, cahaya sebesar kepala korek tidak dapat berada di dalamnya dan ia tidak dapat menjadi sumber cahaya itu. Sebagai miliknya sendiri, sesuai ukuran tubuh serta hakikatnya,
ia hanya dapat mempunyai cahaya kecil seperti zarah. Namun, jika zarah itu terhubung dengan matahari, membuka mata menghadapnya, serta memandangnya, ia dapat memuat matahari besar itu dengan cahaya, tujuh warna, panas, bahkan jaraknya, serta memperoleh semacam pantulan terbesarnya. Jadi, jika zarah itu dibiarkan sendiri, ia hanya dapat bekerja sebesar zarah. Jika dianggap sebagai petugas, bagian yang terhubung, serta cermin matahari, seperti matahari ia dapat menunjukkan sebagian contoh kecil dari tindakan matahari.
ﻭَﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞُ الْاَعْلٰى
Jika setiap makhluk, bahkan setiap zarah, dinisbatkan kepada segala yang banyak, syirik, sebab-sebab, alam, serta dirinya sendiri, setiap zarah dan makhluk harus memiliki ilmu yang meliputi segalanya serta kudrat mutlak, atau mesin-mesin dan percetakan-percetakan rohani yang tak terhitung harus terbentuk di dalamnya, agar dapat menjalankan tugas-tugas menakjubkan yang dipercayakan kepadanya.
Jika zarah-zarah itu dinisbatkan kepada Dia Yang Wâhid lagi Ahad, setiap karya serta zarah terhubung kepada-Nya dan menjadi petugas-Nya. Hubungan ini membuatnya memperoleh Tajalli. Melalui Tajalli yang diterimanya serta hubungan itu, ia bersandar pada Ilmu dan Kudrat yang tiada batas. Melalui rahasia hubungan serta sikap bersandar tersebut, dengan Kekuatan Sang Khâliq-nya, ia melakukan pekerjaan dan tugas jutaan kali lebih besar daripada kekuatannya sendiri.
Perumpamaan Kedua: Misalnya, ada dua saudara. Yang satu berani serta percaya kepada dirinya sendiri. Yang lain mempunyai semangat membela dan mencintai bangsanya. Saat perang, orang yang percaya kepada dirinya sendiri tidak bergabung dengan negara, tetapi ingin bertindak seorang diri. Ia harus membawa sumber-sumber kekuatannya pada pinggangnya. Ia terpaksa mengangkut perlengkapan serta amunisinya sesuai kekuatannya sendiri. Sebesar kekuatan pribadi yang kecil itu, ia hanya dapat bertarung dengan seorang kopral pasukan musuh; ia tidak dapat berbuat lebih banyak.
Saudara yang lain tidak percaya kepada dirinya sendiri serta mengetahui bahwa dirinya tidak berdaya dan tidak kuat. Ia bergabung dengan padisyah serta terdaftar sebagai prajurit. Melalui hubungan itu, satu pasukan besar menjadi tempatnya bersandar. Dengan sikap bersandar tersebut, ia terjun ke medan perang dengan kekuatan rohani yang, melalui perhatian padisyah, dapat menghimpun kekuatan rohani satu pasukan di belakangnya. Ia bertemu dengan seorang marsekal besar sang raja dalam pasukan musuh yang kalah, lalu berkata atas nama padisyahnya sendiri, "Aku menawanmu, kemarilah!" Ia menawan serta membawanya.
Rahasia serta hikmah keadaan ini ialah:
Orang pertama yang bertindak tanpa ikatan hanya dapat melakukan pekerjaan amat kecil karena harus membawa sendiri sumber kekuatan serta perlengkapannya. Adapun petugas ini tidak harus membawa sendiri sumber kekuatannya; justru pasukan serta
padisyah yang membawanya. Seperti menghubungkan alatnya melalui kawat kecil kepada kawat telegraf serta telepon yang sudah ada, orang ini menghubungkan dirinya kepada kekuatan tak terhitung itu melalui hubungan tersebut.
ﻭَﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞُ الْاَعْلٰى
Jika setiap makhluk serta zarah langsung dinisbatkan kepada Dia Yang Wâhid lagi Ahad dan terhubung kepada-Nya, melalui kekuatan hubungan itu serta daya dan perintah Pemiliknya, semut meruntuhkan istana Firaun di atas kepala Firaun dan menjungkirbalikkannya. Lalat membunuh Namrud serta melemparkannya ke neraka. Mikroba memasukkan penindas paling sewenang-wenang ke kubur. Benih pinus sebesar biji gandum menjadi bengkel serta mesin bagi pohon pinus sebesar gunung. Zarah udara dapat bekerja secara teratur serta indah dalam pekerjaan dan terwujudnya seluruh bunga serta buah yang berbeda-beda. Seluruh kemudahan ini jelas berasal dari tugas serta hubungan itu.
Jika pekerjaan berubah menjadi tanpa ikatan, diserahkan kepada sebab-sebab, segala yang banyak, serta diri mereka sendiri, dan jalan syirik ditempuh, ketika itu setiap sesuatu hanya dapat bekerja sebesar ukuran tubuh serta kadar kesadarannya.
Perumpamaan Ketiga: Misalnya, ada dua kawan. Mereka ingin menulis semacam geografi dengan statistik tentang keadaan suatu negeri yang belum pernah mereka lihat.
Yang satu bergabung dengan padisyah negeri itu serta masuk ke kantor telegraf dan telepon. Dengan kawat seharga sepuluh para, ia menghubungkan alat teleponnya kepada kawat negara. Ia berbicara, berkomunikasi, serta memperoleh informasi dari setiap tempat. Ia membuat karya yang indah, amat teratur, serta sempurna mengenai statistik geografi.
Kawan yang lain harus berkelana terus-menerus selama lima puluh tahun, melihat setiap tempat serta mendengar setiap peristiwa dengan kesulitan; atau membelanjakan jutaan lira untuk memiliki jaringan kawat serta telepon sebesar jaringan negara dan mempunyai telegraf seperti padisyah. Barulah ia dapat membuat karya sempurna seperti kawan pertama.
Demikian pula,
ﻭَﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞُ الْاَعْلٰى
, jika benda-benda serta makhluk-makhluk tak terhitung dinisbatkan kepada Dia Yang Wâhid lagi Ahad, melalui hubungan itu setiap sesuatu menjadi tempat manifestasi. Dengan menjadi tempat Tajalli Matahari Azali itu, ia terhubung kepada hukum Hikmah-Nya, kaidah Ilmu-Nya, serta hukum Kudrat-Nya. Dengan Daya serta Kekuatan Ilahi, ia memperoleh manifestasi dari Rabb yang seperti mempunyai mata yang melihat segala sesuatu, wajah yang memandang ke setiap tempat, serta perkataan yang berlaku dalam setiap pekerjaan.
Jika hubungan itu terputus, sesuatu tersebut juga terputus dari seluruh benda dan terbatas pada kecilnya ukuran tubuhnya. Dalam keadaan itu, ia harus memiliki keilahian mutlak agar dapat menjalankan pekerjaan yang dilakukannya dalam keadaan sebelumnya.
Kesimpulannya,
dalam jalan kesatuan serta iman ada kemudahan dan keringanan sampai derajat pasti terjadi. Dalam syirik serta sebab-sebab ada kesulitan dan kesukaran sampai derajat mustahil terjadi. Sebab, satu pelaku memberi keadaan tertentu kepada banyak benda tanpa beban serta menghasilkan suatu hasil. Jika mengambil keadaan itu serta menghasilkan hasil tersebut diserahkan kepada banyak benda itu, barulah dengan banyak beban serta gerak keadaan itu dapat diambil dan hasil itu diperoleh.
Misalnya, sebagaimana dikatakan dalam Surat Ketiga, keadaan langit yang memikat serta disukai berarti menggerakkan pasukan bintang di lapangan langit di bawah komando matahari serta bulan, lalu memberi perjalanan dan aliran gemilang yang bertasbih pada setiap malam serta tahun. Hasil bumi yang luhur serta penuh hikmah berarti terwujudnya manfaat-manfaat besar seperti pergantian musim. Jika keadaan serta hasil itu dinisbatkan kepada kesatuan, Sang Sultan Azali dengan mudah menunjuk seorang prajurit seperti bola bumi sebagai panglima bagi benda-benda langit untuk keadaan serta hasil tersebut. Setelah menerima perintah, bumi bangkit berzikir serta menari seperti seorang Mevlevi karena gembira menjalankan tugas; dengan sedikit biaya, keadaan indah itu tercapai dan hasil penting tersebut terwujud.
Jika dikatakan kepada bumi, "Engkau diam, jangan turut campur!" lalu memperoleh hasil serta keadaan itu diserahkan kepada langit, dan berpaling dari kesatuan kepada segala yang banyak serta syirik, jutaan bintang yang ribuan kali lebih besar daripada bola bumi harus bergerak setiap hari serta tahun, dan menempuh jarak miliaran tahun dalam dua puluh empat jam serta satu tahun.
Kesimpulan Maksud:
Al-Qur'an serta ahli iman menisbatkan karya-karya tak terhitung kepada Sang Pembuat Yang Wâhid. Mereka langsung menisbatkan setiap pekerjaan kepada-Nya. Mereka menempuh serta mengarahkan kepada jalan yang mudah sampai derajat pasti terjadi. Adapun ahli syirik serta orang yang melampaui batas menisbatkan satu karya kepada sebab-sebab tak terhitung, lalu menempuh jalan yang sulit sampai derajat mustahil terjadi. Karena itu, seluruh karya dalam jalan Al-Qur'an setara dengan satu karya dalam jalan kesesatan. Bahkan, seluruh benda berasal dari satu Zat jauh lebih ringan serta mudah daripada satu benda berasal dari benda-benda tak terhitung. Sebagaimana seorang perwira mengatur seribu prajurit dengan mudah seperti satu prajurit, jika pengaturan satu prajurit diserahkan kepada seribu perwira, hal itu menjadi sulit sebesar seribu prajurit serta menimbulkan kekacauan.
Ayat agung ini menghantam pendirian ahli syirik dengan hakikat tersebut dan meruntuhkannya:
ﺿَﺮَﺏَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ مَثَلًا رَجُلًا ﻓ۪ﻴﻪِ ﺷُﺮَﻛَٓﺎﺀُ ﻣُﺘَﺸَﺎﻛِﺴُﻮﻥَ وَرَجُلًا ﺳَﻠَﻤًﺎ ﻟِﺮَﺟُﻞٍ ﻫَﻞْ ﻳَﺴْﺘَﻮِﻳَﺎﻥِ مَثَلًا ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺑَﻞْ ﺍَﻛْﺜَﺮُﻫُﻢْ لَا ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠٰﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺑِﻌَﺪَﺩِ ﺫَﺭَّﺍﺕِ ﺍﻟْﻜَﺎﺋِﻨَﺎﺕِ ﻭَ ﻋَﻠٰٓﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺻَﺤْﺒِﻪ۪ ﺍَﺟْﻤَﻌ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﻳَٓﺎ ﺍَﺣَﺪُ ﻳَﺎ ﻭَﺍﺣِﺪُ ﻳَﺎ ﺻَﻤَﺪُ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ ﻭَﺣْﺪَﻩُ لَا ﺷَﺮ۪ﻳﻚَ ﻟَﻪُ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚُ ﻭَ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻭَ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ ﻳُﺤْﻴ۪ﻰ ﻭَ ﻳُﻤ۪ﻴﺖُ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮُ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ ﻫُﻮَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻴْﺊٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ ٭ ﻳَﺎ ﻣَﻦْ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺍﻟْﻤَﺼ۪ﻴﺮُ ﺑِﺤَﻖِّ ﺍَﺳْﺮَﺍﺭِ ﻫٰﺬِﻩِ ﺍﻟْﻜَﻠِﻤَﺎﺕِ ﺍِﺟْﻌَﻞْ ﻧَﺎﺷِﺮَ ﻫٰﺬِﻩِ ﺍﻟﺮِّﺳَﺎﻟَﺔِ ﻭَ ﺭُﻓَﻘَﺎﺋَﻪُ ﻭَ ﺻَﺎﺣِﺒَﻬَﺎ ﺳَﻌ۪ﻴﺪًﺍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﻮَﺣِّﺪ۪ﻳﻦَ ﺍﻟْﻜَﺎﻣِﻠ۪ﻴﻦَ ﻭَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺼِّﺪّ۪ﻳﻘ۪ﻴﻦَ ﺍﻟْﻤُﺤَﻘِّﻘ۪ﻴﻦَ ﻭَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨ۪ﻴﻦَ ﺍﻟْﻤُﺘَّﻘ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ٭ ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺑِﺤَﻖِّ ﺳِﺮِّ ﺍَﺣَﺪِﻳَّﺘِﻚَ ﺍِﺟْﻌَﻞْ ﻧَﺎﺷِﺮَ ﻫٰﺬَﺍ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻧَﺎﺷِﺮًﺍ لِاَسْرَارِ ﺍﻟﺘَّﻮْﺣ۪ﻴﺪِ ﻭَ ﻗَﻠْﺒَﻪُ ﻣَﻈْﻬَﺮًﺍ لِاَنْوَارِ الْا۪يمَانِ ﻭَ ﻟِﺴَﺎﻧَﻪُ ﻧَﺎﻃِﻘًﺎ ﺑِﺤَﻘَﺎﺋِﻖِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ٭ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ٭ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ
Bagian Kedua Kalimat Kedua Puluh Dua
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺧَﺎﻟِﻖُ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻭَﻛ۪ﻴﻞٌ ٭ ﻟَﻪُ ﻣَﻘَﺎﻟ۪ﻴﺪُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ ﻭَ الْاَرْضِ ٭ ﻓَﺴُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺑِﻴَﺪِﻩ۪ ﻣَﻠَﻜُﻮﺕُ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻭَﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥَ ٭ ﻭَﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ اِلَّا ﻋِﻨْﺪَﻧَﺎ ﺧَﺰَٓﺍﺋِﻨُﻪُ ﻭَﻣَﺎ ﻧُﻨَﺰِّﻟُﻪُٓ اِلَّا ﺑِﻘَﺪَﺭٍ ﻣَﻌْﻠُﻮﻡٍ ٭ ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﺩَٓﺍﺑَّﺔٍ اِلَّا ﻫُﻮَ ﺍٰﺧِﺬٌ ﺑِﻨَﺎﺻِﻴَﺘِﻬَﺎ ﺍِﻥَّ ﺭَﺑّ۪ﻰ ﻋَﻠٰﻰ ﺻِﺮَﺍﻁٍ ﻣُﺴْﺘَﻘ۪ﻴﻢٍ
PENGANTAR
Mengenai iman kepada Allah سُبْحَانَهُ, pusat terbesar rukun-rukun iman, dalam Risalah Katre (Titik Air) kami telah menjelaskan secara ringkas bahwa setiap makhluk ini menunjukkan dan bersaksi melalui lima puluh lima bahasa atas keharusan Wujud serta Keesaan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Dalam Risalah Nokta (Titik), kami juga menyebut empat bukti menyeluruh di antara dalil keharusan Wujud serta Keesaan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, masing-masing sekuat seribu bukti. Karena dalam sekitar dua belas risalah berbahasa Arab saya telah menyebut ratusan bukti pasti yang menunjukkan keharusan Wujud serta Keesaan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, kini kita akan mencukupkan diri dengan semuanya dan tidak masuk ke pemeriksaan mendalam. Dalam Kalimat Kedua Puluh Dua ini, kita hanya akan berusaha memperlihatkan dari matahari iman kepada Allah سُبْحَانَهُ dua belas Lem'a yang telah saya tulis secara ringkas dalam Risaletü'n-Nur.
Lem'a Pertama
Tauhid terbagi dua. Misalnya, ketika beragam barang seorang pribadi besar datang ke suatu pasar serta kota, dengan dua cara dapat diketahui bahwa semuanya miliknya. Yang satu ialah secara ringkas dan awam: "Barang sebesar ini tidak mungkin dimiliki siapa pun selain dirinya." Namun, di bawah pengawasan orang awam seperti itu, banyak pencurian dapat terjadi. Banyak orang dapat mengaku sebagai pemilik sebagian barang. Cara kedua ialah membaca tulisan pada setiap bungkusan, mengenali tanda tangan pada setiap gulungan, serta mengetahui segelnya pada setiap pengumuman, lalu mengatakan, "Segala sesuatu milik pribadi itu." Dalam keadaan ini, setiap benda memperlihatkan pribadi itu secara maknawi. Demikian pula, tauhid juga memiliki dua jenis. Yang satu: Tauhid yang awam serta lahiriah: "Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq itu Esa; Dia tidak memiliki sekutu serta bandingan; kainat ini milik-Nya." Yang kedua: Tauhid sejati; dengan melihat cap Kudrat, segel Rububiyah, serta ukiran Pena-Nya pada setiap benda, orang membuka jendela langsung dari setiap benda menuju Cahaya-Nya. Dengan keyakinan yang hampir setingkat menyaksikan langsung, ia membenarkan dan beriman akan Keesaan-Nya, bahwa segala sesuatu keluar dari Tangan Kudrat-Nya, serta bahwa dalam Keilahian-Nya, Rububiyah-Nya, serta Kerajaan-Nya, Dia sama sekali tidak memiliki sekutu atau penolong dari segi mana pun; ia juga memperoleh suatu keadaan terus berada di Hadirat-Nya.
Dalam Kalimat ini, kita akan menyebut sinar-sinar yang memperlihatkan tauhid sejati yang murni dan luhur itu.
Suatu peringatan dalam Butir Hikmah Pertama
Wahai orang lalai yang memuja asbab! Asbab adalah tabir, karena Kemuliaan serta Kebesaran menuntut demikian. Namun, yang melakukan pekerjaan ialah kudrat Allah سُبْحَانَهُ Yang Shamad, karena Tauhid serta Keagungan menuntut demikian dan mengharuskan-Nya berdiri sendiri. Petugas-petugas Sang Sultan Azali bukan pelaksana Tindakan-Tindakan Kekuasaan Rububiyah, melainkan penyeru Kekuasaan itu serta pengawas yang memandang Rububiyah tersebut. Petugas-petugas serta perantara-perantara itu ada untuk memperlihatkan Kemuliaan Kudrat serta Kemegahan Rububiyah, agar tidak terlihat bahwa Kudrat langsung melakukan urusan-urusan rendah. Dia tidak menjadikan petugas sekutu Kekuasaan-Nya karena tak berdaya serta membutuhkan, seperti sultan manusia yang tak berdaya dan selalu serba kurang. Jadi, asbab ditempatkan agar Kemuliaan Kudrat terjaga di hadapan pandangan lahir akal. Sebab, seperti dua sisi cermin, setiap benda memiliki sisi "mulk", yang menyerupai sisi cermin berwarna, yang dapat menjadi tempat berbagai warna serta keadaan. Sisi yang lain ialah "malakut", yang menyerupai sisi cermin berkilau. Pada sisi mulk serta lahir terdapat keadaan-keadaan yang bertentangan dengan Kemuliaan serta Kesempurnaan kudrat Allah سُبْحَانَهُ Yang Shamad. Asbab ditempatkan agar menjadi tempat kembali serta dasar keadaan-keadaan tersebut. Namun, pada sisi malakut serta hakikat, segala sesuatu transparan dan indah.
Hal itu sesuai bagi Kudrat untuk langsung melakukan pekerjaan, dan tidak bertentangan dengan Kemuliaan-Nya. Karena itu, asbab semata-mata lahiriah; mereka tidak memiliki pengaruh nyata dalam malakut serta hakikat. Hikmah lain dari asbab lahir ialah: agar keluhan yang tidak adil serta keberatan yang batil tidak diarahkan kepada Âdil Yang Mutlak, asbab ditempatkan sebagai sasaran keluhan serta keberatan tersebut. Sebab, kekurangan keluar dari mereka dan berasal dari ketidakmampuan mereka menerima. Mengenai rahasia ini, diriwayatkan suatu perumpamaan maknawi sebagai contoh yang halus: Azrail, aleyhisselâm, mengatakan kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, "Dalam tugas mengambil ruh, hamba-hamba-Mu akan mengeluhkan saya dan merasa tersinggung oleh saya." Melalui bahasa Hikmah, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq mengatakan kepadanya, "Aku akan meletakkan tabir musibah serta penyakit di antara engkau dan hamba-hamba-Ku, agar keluhan diarahkan kepada semuanya dan mereka tidak tersinggung olehmu." Lihatlah, sebagaimana penyakit adalah tabir serta tempat kembalinya keburukan yang disangka terdapat pada ajal, hikmah serta keindahan yang secara nyata terdapat pada pengambilan ruh berkaitan dengan tugas Azrail, aleyhisselâm. Demikian pula, Azrail sendiri juga adalah tabir.
Ia merupakan pengawas tugas itu serta tabir bagi Kudrat Ilahi, agar menjadi tempat kembalinya sebagian keadaan yang secara lahir tampak tanpa belas kasih dan tidak sesuai dengan Kesempurnaan Rahmat dalam pengambilan ruh. Ya, Kemuliaan serta Kebesaran menuntut agar asbab menjadi penjaga tabir Tangan Kudrat dalam pandangan akal. Tauhid serta Keagungan menuntut agar asbab menarik tangannya dari pengaruh nyata.
Lem'a Kedua
Perhatikan taman kainat ini, kebun bumi ini, dan wajah indah langit ini yang dihiasi bintang-bintang! Engkau akan melihat bahwa Sang Pembuat Dzul-Jalâl, Sang Fâthir Dzul-Jamâl, memiliki cap yang khusus bagi Sang Khâliq segala sesuatu pada setiap karya di antara karya-karya seni yang terhampar dan tersebar itu; memiliki meterai yang khusus bagi Sang Pembuat segala sesuatu pada setiap makhluk-Nya; dan memiliki tanda agung yang tidak dapat ditiru pada lapisan-lapisan makhluk yang tertulis di lembaran malam dan siang, musim panas dan musim semi, yang masing-masing merupakan maklumat Pena Kudrat. Sekarang, sebagai contoh, kami akan menyebutkan beberapa cap, meterai, dan tanda agung itu.
Misalnya, di antara cap-cap-Nya yang tak terhitung, di antara banyak cap yang Dia letakkan pada kehidupan, lihatlah cap ini: "Dia membuat segala sesuatu dari satu hal, dan membuat satu hal dari segala sesuatu." Sebab, dari air mani dan juga dari air biasa yang diminum, Dia membuat tak terhitung banyaknya anggota dan perangkat tubuh hewan. Mengubah satu hal menjadi segala sesuatu tentu merupakan pekerjaan Sang Qadîr Mutlak.
Dan yang mengubah berbagai zat dari makanan tak terbatas yang disantap—baik makanan hewani maupun nabati—menjadi satu tubuh tertentu dengan tertib sempurna, menenun kulit yang khas darinya, dan membuat perangkat-perangkat sederhana darinya, tentu adalah Sang Qadîr atas segala sesuatu dan Sang Alîm Yang Mutlak.
Ya, Sang Khâliq bagi kematian dan kehidupan mengatur kehidupan di bengkel dunia ini dengan Hikmah-Nya, melalui suatu hukum perintah yang menunjukkan mukjizat, sedemikian rupa sehingga menerapkan dan menjalankan hukum itu hanya khusus bagi Zat yang menggenggam seluruh kainat di bawah genggaman Kekuasaan-Nya.
Jika akalmu belum padam dan hatimu belum buta, engkau memahami bahwa membuat segala sesuatu dari satu hal dengan amat mudah dan tertib, serta dengan seni membuat satu hal dari segala sesuatu dengan ukuran dan tata yang sempurna, merupakan cap yang khusus bagi Sang Pembuat segala sesuatu dan khas bagi Sang Khâliq segala sesuatu.
Misalnya, engkau melihat seseorang yang terbiasa membuat hal-hal menakjubkan. Dari satu dirham kapas, ia menenun seratus gulung kain wol, sutra, atau berbagai kain lain seperti kain katun, dan sekaligus membuat banyak makanan seperti halwa dan baklava dari kapas itu. Kemudian engkau melihat orang itu mengambil besi dan batu, madu dan minyak, air dan tanah ke dalam telapak tangannya, lalu membuat emas yang indah.
Tentu engkau akan memutuskan dengan pasti bahwa orang itu memiliki suatu seni yang khusus baginya; seluruh unsur bumi tunduk pada perintahnya, dan segala yang lahir dari tanah mengikuti ketentuannya.
Ya, Tajalli Kudrat dan Hikmah dalam kehidupan seribu tingkat lebih menakjubkan daripada contoh ini. Inilah satu cap saja di antara banyak cap pada kehidupan...
Lem'a Ketiga
Lihatlah makhluk-makhluk hidup yang berkeliling di kainat yang terus mengalir ini, di antara makhluk-makhluk yang terus bergerak ini! Engkau akan melihat bahwa pada setiap makhluk hidup terdapat banyak meterai yang Sang Hayy lagi Qayyûm letakkan. Salah satu meterai itu ialah:
Makhluk hidup itu, misalnya manusia ini, seakan-akan merupakan contoh kecil kainat, buah pohon ciptaan, dan benih alam ini yang merangkum kebanyakan contoh dari berbagai jenis makhluk di alam. Seolah-olah makhluk hidup itu adalah setetes yang disaring dari seluruh kainat dengan timbangan yang amat peka.
Jadi, menciptakan makhluk hidup ini dan menjadi Rabb baginya mengharuskan seluruh kainat berada dalam genggaman Kekuasaan-Nya.
Jika akalmu belum tenggelam dalam angan-angan yang keliru, engkau memahami bahwa menjadikan satu kata Kudrat, misalnya "lebah madu", semacam daftar kecil bagi kebanyakan benda; menuliskan kebanyakan persoalan kitab kainat ini pada satu halaman, misalnya "manusia"; memasukkan rancangan pohon ara yang besar ke dalam satu titik, misalnya "biji ara" yang kecil; menunjukkan pada satu huruf, misalnya "hati manusia", bekas-bekas seluruh Asma yang bertajalli dan meliputi halaman-halaman alam yang besar ini; menuliskan tulisan sebanyak satu perpustakaan pada "daya ingat manusia" yang hanya menempati ruang sebesar sebutir lentil, serta memasukkan daftar terperinci segala peristiwa di alam ke dalam daya yang kecil itu, tentu, tentu merupakan meterai yang khas bagi Sang Khâliq segala sesuatu dan khusus bagi Rabb Dzul-Jalâl kainat ini.
Jika satu saja dari sekian banyak meterai Rabb pada makhluk hidup menunjukkan cahayanya demikian dan membuat tanda-tanda-Nya terbaca seperti ini, sekiranya engkau dapat melihat seluruh meterai itu sekaligus, tidakkah engkau akan berkata
ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﻣَﻦِ ﺍﺧْﺘَﻔٰﻰ ﺑِﺸِﺪَّﺓِ ﺍﻟﻈُّﻬُﻮﺭِ
?
Lem'a Keempat
Lihat dan perhatikanlah makhluk-makhluk beraneka warna dan karya-karya seni yang beragam, yang berenang di lautan langit dan tersebar di muka bumi ini! Engkau akan melihat bahwa pada masing-masing terdapat tanda-tanda agung Matahari Azali yang tidak dapat ditiru. Sebagaimana cap-cap-Nya tampak pada kehidupan dan meterai-meterai-Nya pada makhluk hidup—dan kita telah melihat satu atau dua di antaranya—Dia juga memiliki tanda-tanda agung pada Tindakan menghidupkan. Karena perumpamaan mendekatkan makna-makna yang dalam kepada pemahaman, kami akan menunjukkan hakikat ini dengan sebuah perumpamaan.
Misalnya, mulai dari planet-planet hingga tetesan air, hingga potongan kaca yang kecil dan zarah salju yang berkilau, tampak suatu tanda dari citra dan pantulan matahari ini, suatu jejak bercahaya yang khas bagi matahari.
Jika engkau tidak menerima bahwa matahari-matahari kecil yang terlihat dalam benda-benda tak terhingga itu merupakan tampaknya matahari melalui kilauan pantulannya serta tampaknya bayangannya, engkau harus jatuh ke dalam kegilaan yang luar biasa dan kebodohan tanpa batas: menganggap ada matahari alami yang nyata dan berdiri sendiri pada setiap tetes, setiap potongan kaca yang terkena sinar, dan setiap zarah bening yang menghadap cahaya.
Demikian pula, dalam hal "menghidupkan", yakni "memberi kehidupan", yang merupakan salah satu Tajalli Bercahaya Matahari Azali, pada setiap makhluk hidup terdapat tanda agung yang sedemikian rupa sehingga, andaikan seluruh asbab berkumpul dan masing-masing menjadi pelaku yang bebas memilih, mereka tetap tidak dapat menirunya. Sebab, setiap makhluk hidup yang merupakan mukjizat Kudrat itu menjadi titik pusat berkumpulnya Asma-Nya, yang masing-masing ibarat sinar Matahari Azali itu.
Jika ukiran seni yang menakjubkan, susunan Hikmah yang luar biasa, dan Tajalli Rahasia Ahadiyah yang tampak pada makhluk hidup itu tidak dinisbatkan kepada Zat Yang Ahad lagi Shamad, engkau harus menganggap bahwa dalam setiap makhluk hidup, bahkan dalam seekor lalat dan sekuntum bunga, tersembunyi kudrat pencipta yang tak terbatas, terdapat ilmu yang meliputi segala sesuatu, dan ada kehendak mutlak yang sanggup mengatur kainat; bahkan Sifat-Sifat lainnya yang khusus bagi Wâjibul Wujûd juga berada di dalamnya.
Itu mengharuskanmu jatuh ke tingkat kesesatan yang paling dungu dan takhayul yang paling bodoh, seolah-olah memberi keilahian kepada setiap zarah bunga dan lalat itu. Sebab, zarah-zarah benda itu, terutama jika berupa benih, diberi suatu keadaan sehingga zarah itu memperhatikan makhluk hidup yang ia menjadi bagiannya dan mengambil posisi sesuai tata makhluk itu. Bahkan, seakan-akan memperhatikan seluruh jenis makhluk hidup tersebut, ia mengambil sifat seperti tumbuh sayap-sayap kecil agar dapat menanam diri di setiap tempat yang berguna bagi kelangsungan jenisnya dan menegakkan panji jenisnya. Bahkan, ia mengambil posisi yang akan terus menjaga hubungannya dengan segala makhluk yang terkait dengannya dan dibutuhkannya, serta hubungannya dalam memperoleh rezeki.
Jika zarah itu bukan petugas Sang Qadîr Mutlak dan hubungannya dengan Sang Qadîr Mutlak terputus, zarah itu harus diberi mata yang melihat segala sesuatu dan kesadaran yang meliputi segala sesuatu. Kesimpulannya,
jika matahari-matahari kecil dan beragam warna dalam tetesan dan zarah kaca ini tidak dinisbatkan kepada tampaknya matahari melalui kilauan pantulannya serta tampaknya bayangannya, kita harus menerima matahari-matahari tak terhingga sebagai ganti satu matahari. Kita harus menerima takhayul yang mustahil di dalam hal yang mustahil. Tepat demikian pula, jika segala sesuatu tidak dinisbatkan kepada Sang Qadîr Mutlak, kita harus jatuh ke dalam ocehan kegilaan: mengakui ilah-ilah tak terhingga, bahkan sebanyak zarah kainat, sebagai ganti satu Allah سُبْحَانَهُ; menganggap ada suatu hal mustahil yang berada di dalam seratus lapis hal yang mustahil.
Kesimpulannya: Dari setiap zarah, tiga jendela terbuka menuju cahaya Keesaan Matahari Azali dan keharusan Wujud-Nya:
Jendela Pertama: Sebagaimana setiap zarah, ibarat seorang prajurit, memiliki hubungan dalam setiap lingkup ketentaraannya, yakni regu, kompi, batalion, resimen, divisi, dan pasukannya; memiliki tugas menurut hubungan itu, dan bergerak sesuai tata lingkup tugas itu...
Demikian pula, misalnya zarah mati dalam pupil matamu memiliki hubungan dan tugas dalam matamu, kepalamu, tubuhmu, juga dalam pembuluh vena, arteri, dan saraf lain yang melayani aliran darah, rasa, dan gerak melalui daya menghasilkan, menarik, menolak, dan membentuk; juga dalam jenismu, dan seterusnya.
Hal ini dengan jelas menunjukkan kepada mata yang tidak buta bahwa zarah itu merupakan karya seni Sang Qadîr Yang Azali, petugas yang diberi tugas oleh-Nya, dan berada di bawah Pengaturan-Nya.
Jendela Kedua: Setiap zarah di udara dapat mengunjungi setiap bunga dan setiap buah. Ia juga dapat masuk dan bekerja dalam setiap bunga dan buah. Jika zarah yang berkeliaran itu bukan petugas yang tunduk kepada Sang Qadîr Mutlak yang melihat dan mengetahui segala sesuatu, zarah itu harus mengetahui perangkat dan cara dibuatnya seluruh buah dan bunga, seni mereka masing-masing, keterampilan menjahit rupa-rupa yang dikenakan kepada mereka, serta seni menjahit yang sempurna dan menyeluruh. Zarah ini menunjukkan satu sinar dari cahaya Tauhid, seperti matahari. Bandingkan cahaya dengan udara, dan air dengan tanah.
Memang, asal utama benda-benda adalah empat zat ini: menurut ilmu alam baru, hidrogen, oksigen, karbon, dan nitrogen; unsur-unsur ini merupakan bagian dari unsur-unsur yang dahulu disebut. Jendela Ketiga: Sepotong tanah yang terdiri dari zarah-zarah dapat menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya setiap tanaman berbunga dan berbuah.
Jika engkau mengisi sebuah mangkuk dengan zarah-zarah itu, benih-benih kecil dari segala jenis tanaman berbunga dan berbuah di seluruh dunia—benih-benih itu, seperti air mani hewan, bukan benda-benda yang berbeda; sebagaimana air mani berupa satu jenis air, benih-benih itu pun tersusun dari karbon, nitrogen, hidrogen, dan oksigen, serupa satu sama lain dalam hakikatnya, berbeda dalam sifatnya, dan hanya diberi rancangan asalnya oleh Pena Qadar, semata-mata secara maknawi—jika benih-benih itu kita letakkan bergantian ke dalam mangkuk tersebut, engkau percaya bahwa masing-masing akan muncul dengan perangkat, rupa, dan keadaan yang menakjubkan, seakan-akan hal itu sudah terjadi.
Jika zarah-zarah itu bukan petugas dan pelaksana perintah dari Zat yang mengetahui setiap keadaan dan posisi segala sesuatu, yang sanggup memberi setiap benda wujud yang layak baginya serta segala yang diperlukan wujudnya, dan bagi Kudrat-Nya segala sesuatu tunduk dengan amat mudah, maka di dalam setiap zarah tanah itu harus terdapat pabrik-pabrik dan percetakan-percetakan maknawi sebanyak seluruh tanaman berbunga dan berbuah. Dengan demikian, ia dapat menjadi asal berbagai makhluk yang perangkat dan rupanya berbeda dan berjauhan satu sama lain.